16/11/2016
IMAM KOPOK
DOSA NGERASANI MELEBIHI ZINA
28/07/2016
WIRAI
06/06/2016
MUSLIHUN
MUSLIHUN
Saat ngaji dalam peringatan tujuh hari meninggalnya Mursyid Thariqoh sekaligus Pengasuh Pesantren Darul Ulum Rejoso, KH Dimyati Romli, Senin (23/5/2016), Dr KH Mustain Syafiie mengaku sangat merasa kehilangan. ’’Kita kehilangan salah satu orang soleh yang menjadi penjaga keamanan daerah,’’ kata pakar tafsir Quran Pesantren Tebuireng ini.
’’Siapa yang meragukan kesolehan Kiai Dim. Apalagi beliau mursyid,’’ tambahnya.
Orang soleh, kata Kiai Mustain, menjadi jaminan keamanan suatu daerah. ’’Makanya kita harus berterima kasih kepada orang-orang soleh. Sebab ada merekalah daerah kita aman,’’ jelasnya.
Ciri orang soleh itu adalah alim dan ahli ibadah. ’’Juga bermanfaat bagi sekitarnya,’’ jelasnya lantas mengutip ayat Wa ma kana rabbuka li yuhlikal qura bi zulmin wa ahluha muslihun. Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya muslihun/orang-orang yang berbuat kebaikan. [QS. HUD: 117].
Kiai Mustain cerita, suatu ketika, Nabi diatas gunung Uhud bersama Abu Bakar dan tiga sahabat. Tiba-tiba gunung Uhud bergetar karena gempa. Nabi langsung bilang, diamlah wahai Uhud. Diatasmu ada Rosulullah, Assidiq dan tiga sahabat yang akan syahid.
"Gunung Uhud langsung diam. Langsung diam. Tiga sahabat yang disebut Nabi itu akhirnya memang mati syahid," kata Kiai Mustain.
Saat jadi Gubernur Mesir, Amr bin Ash pernah kirim surat pada khalifah Umar.
Amr bin Ash melaporkan bahwa setiap tahun sungai Nil selalu meminta tumbal. Kalau tidak diberi tumbal, tidak mengalir. Amr bin Ash tidak mampu mencegah itu. Makanya lapor Umar.
’’Setan itu hanya bisa mempermainkan manusia jika manusianya percaya. Karena manusia percaya tumbal, akhirnya beneran harus ditumbali,’’ jelasnya.
Setelah menerima surat dari Amr bin Ash, Khalifah Umar lantas membalas kepada Amr bin Ash. Dalam surat balasannya ada surat lagi yang disuruh melempar ke sungai Nil.
Isi suratnya adalah. Wahai sungai Nil, jika kamu mengalir karena dirimu sendiri, maka tidak mengalir tidak apa apa. Tapi jika kamu mengalir karena Allah, maka mengalirlah.
"Akhirnya sungai Nil mengalir dan tidak pernah minta tumbal lagi,’’ jelasnya...
Pertanyaannya, bagaimana agar anak-anak kita menjadi generasi yang soleh/solehah? Tentu saja jawabnya adalah, masukkan mereka ke pesantren..
#AyoMondok
(Rojiful Mamduh)
05/06/2016
MAUT
MAUT
Saat ngaji dalam peringatan tujuh hari meninggalnya Mursyid Thariqoh sekaligus Pengasuh Pesantren Darul Ulum Rejoso, KH Dimyati Romli, Senin (23/6/2016), Dr KH Mustain Syafiie mengatakan bahwa maut tak bisa ditolak.
’’Tidak diundang pun, kematian pasti datang,’’ kata pakar tafsir Quran Pesantren Tebuireng ini.
Hal itu berbeda dengan yang lain. ’’Kalau selain kematian, masio dipasangi spanduk gurung mesti teko. Masio kuntul dibarisno sak Jawa Timur yo gurung mesti teko,’’ ucap mantan anggota DPR RI dari Partai Demokrat ini disambut tawa ribuan jamaah yang hadir.
Di Cina, kata Kiai Mustain, ada terapi kematian. Orang hidup, dipacaki seperti orang mati. Lalu dimasukkan peti mati. Kemudian diuneni dengan bahasa-bahasa psikologi. ’’Terapi mati seperti ini berhasil membuat orang-orang yang brengsek jadi baik. Orang yang brengsek seperti apapun, ikut terapi ini akhirnya berubah jadi baik. Tingkat keberhasilannya mencapai 90 persen,’’ jelasnya.
Hal itu mempraktekkan dawuh Nabi Muhammad SAW, kafa bil mauti waidon. Cukuplah kematian sebagai nasehat. ’’Kita orang Islam hapal itu, tapi tidak di elmuni. Justru yang ngelmuni adanya di Cina. Saya kira toriqah mampu membuat kurikulum seperti itu,’’ paparnya.
’’Apalagi pertanyaan malaikat Munkar Nakir sudah lama bocor,’’ tambahnya kembali disambut ger-geran.
Pertanyaan di kubur yang pertama, siapa tuhanmu. Kedua, siapa nabimu. Ketiga, apa agamamu. ’’Kiro-kiro pertanyaan ini yang nanti bikin masalah. Sebab ketika ditanya apa agamamu, ada yang jawab, agama saya Islam Nusantara,’’ ucapnya kembali disambut ger-geran. ’’Jawabe malaikat, koen melok Mukmatar nang Jombang yo kok jawab Islam Nusantara,’’ lanjut Kiai Mustain yang kembali disambut ger-geran.
Profesor Eimer di Amerika, kata Kiai Mustain, pernah meneliti 500 orang yang mati suri.
’’Orang yang mati suri itu disuruh menceritakan apa yang dialami selama mati. Ternyata ada tiga jawaban yang disampaikan oleh hampir seluruhnya,’’ kata Kiai Mustain.
Pertama, orang yang mati suri itu merasa dibawa oleh makhluk cahaya memasuki lorong. ’’Makhluk cahaya. Mungkin ini istilah mereka untuk mendefinisikan malaikat. Sebab malaikat diciptakan dari nur/cahaya,’’ jelasnya.
Kedua, mereka ditunjukkan rekaman perbuatan mereka selama hidup di dunia. ’’Mereka melihat tayangan semua hal yang dilakukan. Ini sudah disebutkan dalam QS An Naziat. Yauma yatazakkarul insanu ma sa’a. Pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya (QS An Naziat 35),’’ jelasnya.
Ketiga, orang-orang yang mati suri itu ternyata semuanya ingin kembali ke dunia. Alquran juga telah mengingatkan hal ini. ’’ Ya laitana nuroddu wala nukazzibu biayati robbina wanakuna minal mukminin (Kiranya kami dikembalikan ke dunia dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman (QS Al-An’am 27),’’ ucap Kiai Mustain.
’’Mumpung kita belum memasuki lorong, mari kita persiapkan diri kita,’’ pungkas Kiai Mustain.
27/05/2016
NYANTHOL
NYENTEL
Saat ngaji di acara Jumat Bahagia IPNU IPPNU di masjid Hidyatullah yang diikuti siswa dan wali murid MI Miftahul Maarif Pagak Sumberejo Kecamatan/Kabupaten Jombang (13/5/2016), Mbah Bolong menceritakan kiai yang tiba-tiba keluar malam hari. Diam-diam, dia diikuti dan diintip santrinya.
’’Sampean dadi wong tuwo yo sing ati-ati lho Bu. Sebab anak mesti ngintip. Oh bapak ibu lek tanggal tuwek kok seneng muring-muring. Ngunuku ditiru. Bapak ibu lek mangan kok tangan kiwo. Ora ndungo. Negeneku ditiru anak. Sing uwati-ati nok ngarepe anak. Sebab anak iku niru,’’ paparnya.
Bapak ibu guru juga demikian. Harus ekstra hati-hati dalam berucap dan berperilaku. Sebab siswa juga meniru. Makanya ada pepatah, guru kencing berdiri, murid kencing berlari.
Mbah Bolong melanjutkan, Kiai itu masuk kuburan mengambil tiga kelompok tengkorak. Tengkorak pertama ditusuk telinga kanan tidak masuk. Lalu di bilang mardud/ditolak. Tengkorak kedua ditusuk telinga kanan tembus telinga kiri. Juga dibilang mardud. Tengkorak ketiga ditusuk telinga kanan berhasil masuk kemudian berhenti di tengah. Lalu dibilang maqbul.
Santrinya lalu bertanya, apa maksud mardud dan maqbul.
Pertama, yang ditusuk tak bisa masuk itu ditolak. Karena saat hidupnya, tidak mau di ngajeni. ’’Kalau ada orang ngaji diremehno. Dia ngomong sendiri,’’ tuturnya.
Kedua, yang ditusuk tembus itu ditolak karena saat ngaji, dia bablas ora nyantol. ’’Mergo opo? Akeh-akehe mergo turu. Yo ngaji, yo sekolah, tapi nang nggon ngaji, nang sekolah, turu. Dadi orang nyentel,’’ ucapnya.
Ketiga, yang ditusuk masuk kemudian berhenti ditengah, itu diterima karena kalau dingajeni nyentel. ’’Nyentel mergo dicatet. Makane lek sekolah, lek ngaji, sampean catet,’’ pesannya.
Agar cerdas dan tidak mudah lupa pelajaran, ada lima hal yang menurut Mbah Bolong mesti dilakukan.
1. Dawamul wudlu. Selalu punya wudlu. Sebab wudlu itu cahaya dan ilmu itu cahaya.’’Kalau selalu punya wudlu, insya Allah rezeki juga gampang. Saya sendiri, tidak bisa ceramah kalau tidak punya wudlu,’’ bebernya.
2. Siwakan/sikatan. ’’Tapi lek sikatan ojo bareng ngengek, iku malah nggarai lalian.
3. Tidak makan kecuali dalam keadaan baik. "Jadi ora sampek kelaparan, juga ora kewareken."
4. Selalu bertakwa, baik ada orang maupun tidak.
5. Shalat malam walaupun dua rakaat. ’’Shalat malam ini membuat kita cerdas dan sehat, tidak mudah sakit,’’ pungkasnya.
(Rojiful Mamduh)
24/05/2016
Wong Kang Soleh Kumpulono
ULAMA
Saat tausiah dalam pertemuan pengurus ranting NU Desa Candimulyo Kecamatan Jombang di rumah Pak Rojif Nglundo Utara Selasa Legi (26/4/2016), Ketua Ranting H Muklas menuturkan bahwa memuliakan atau mengunjungi ulama itu seperti memuliakan dan mengunjungi Nabi. Siapa yang memuliakan Nabi, akan dimuliakan Allah. Siapa yang dimuliakan Allah, akan masuk surga.
’’Kita di NU ini niat ikut ulama, niat kumpul ulama, niat memuliakan ulama. Sebab ulama niku pewarise kanjeng Nabi,’’ ucapnya. Apalagi pendiri NU KH Hasyim Asy’ari dawuh, siapa saja yang mengurusi NU akan dianggap santrinya. ’’Kalau sudah jadi santri Mbah Hasyim, akan didoakan khusnul khotimah,’’ paparnya.
Rois Syuriah Ranting NU, KH Mulyono, menambahkan, orang yang bahagia itu memiliki empat tanda. Pertama, istrinya solehah. Istri solehah itu tandane, kalau dipandang menyenangkan. Kalau disuruh mau taat, kalau ditinggal bisa menjaga harta dan harga dirinya. (Menurutku perlu ditambahi satu lagi, kalau dipegang bisa membangkitkan tegangan.. hehehe).
Kedua, tanda bahagia itu anak keturunannya apik-apik. Untuk ini orang tua perlu banyak berdoa, tirakat dan meridloi anak. Wali Kota Mojokerto KH Mas’ud Yunus pernah menyarankan agar tiap anak usai shalat dikirimi satu fatihah. Saat sampai ayat iyyaka na’budu wa iyyaka nastain, dibaleni 11 kali sambil mbatin doa untuk si anak.
Ketiga, tanda bahagia itu rezekinya di daerah/negaranya sendiri. Masio di daerah/negara orang lain, tapi kalau istri dan anak diajak, insya Allah juga tetap bahagia.
’’Keempat, tandane bahagia niku kalau yang digumbuli tiyang soleh,’’ tuturnya. Lha aktif di NU itu, niatnya adalah golek gumbulan wong sing soleh. Kalau gumbulane orang soleh, akan saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran.
’’Kalau gumbul orang soleh, ngomong sak omong pasti yang dibahas ilmu. Ilmu itulah yang akan ngangkat derajat kita dan membuat kita semakin baik,’’ tuturnya.
Namun ada lima hal yang membuat kita sulit jadi orang soleh. ’’Yoiku qonaah bil jahli alias neriman jadi orang bodoh tegese orang gelem ngaji. Lalu rakus dengan dunia. Ketiga, pelit mensedekahkan hartanya. Keempat amal dengan maksud riya atau pamer. Serta yang kelima ujub atau membanggakan dirinya sendiri,’’ paparnya.
(Rojiful Mamduh)
21/05/2016
Bahtsul Masail Tentang Malam Nisfu Sya'ban
Keputusan Lembaga Bahtsul Masail
Nahdlatul Ulama Kota Surabaya
Di Masjid At Taqwa Penjaringansari Rungkut Surabaya, 29 Juni 2008
AMALIYAH MALAM NISHFU SYA'BAN
(PP. Manba'ul Falah Rungkut Menanggal)
Diskripsi Masalah:
Pada malam paruh kedua dari bulan Sya’ban, banyak dari kalangan umat Islam yang berduyun-duyun ke masjid, mushalla dan surau untuk melaksanakan kegiatan keagamaan yang rutin dijalani setiap malam Nishfu Sya’ban. Salah satu kegiatannya adalah melakukan salat sunah sebanyak dua rakaat atau lebih.
Ada juga dari mereka yang membaca surat Yaasin secara bersama-sama sebanyak 3 kali. Biasanya dari masing-masing pembacaan surat Yasin tersebut diniatkan untuk memperoleh rezeki yang halal, untuk umur panjang yang barokah, serta untuk mendapatkan husnul khatimah. Adapula diantara masyarakat yang melengkapi kegiatan tersebut dengan bersedekah.
Pertanyaan:
a. Adakah tuntunan secara umum dan khusus untuk melakukan ibadah pada malam Nishfu Sya’ban?
b. Apa sebenarnya keistimewaan malam Nishfu Sya’ban dibanding dengan malam-malam yang lain?
c. Apa dasar ulama dalam penetapan pembacaan surat Yasin pada malam Nishfu Sya’ban beserta macam-macam niatnya?
d. Apa hukum melakukan shalat sunnah pada malam Nishfu Sya’ban?
Jawaban 29 a:
Dalam syari’at Islam terdapat tuntunan (dalil-dalil) untuk beribadah pada malam Nishfu Sya’ban.
Dasar Pengambilan Hukum:
عَنْ مُعَاذِ بن جَبَلٍ عَن ِالنَّبِيِّ e قَالَ: يَطَّلِعُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيْعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ (رواه الطبراني في الكبير والأوسط قَالَ الهيثمى ورجالهما ثقات. ورواه الدارقطنى وابنا ماجه وحبان فى صحيحه عن ابى موسى وابن ابى شيبة وعبد الرزاق عن كثير بن مرة والبزار).
“Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah memperhatikan hambanya (dengan penuh rahmat) pada malam Nishfu Sya’ban, kemudian Ia akan mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan musyachin (orang munafik yang menebar kebencian antar sesama umat Islam)”. (HR Thabrani fi Al Kabir no 16639, Daruquthni fi Al Nuzul 68, Ibnu Majah no 1380, Ibnu Hibban no 5757, Ibnu Abi Syaibah no 150, Al Baihaqi fi Syu’ab al Iman no 6352, dan Al Bazzar fi Al Musnad 2389. Peneliti hadis Al Haitsami menilai para perawi hadis ini sebagai orang-orang yang terpercaya. Majma’ Al Zawaid 3/395)
عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ فَقَدْتُ النَّبِيَّ e ذَاتَ لَيْلَةٍ فَخَرَجْتُ أَطْلُبُهُ فَإِذَا هُوَ بِالْبَقِيعِ رَافِعٌ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَ يَا عَائِشَةُ أَكُنْتِ تَخَافِيْنَ أَنْ يَحِيْفَ اللهُ عَلَيْكِ وَرَسُولُهُ قَالَتْ قَدْ قُلْتُ وَمَا بِي ذَلِكَ وَلَكِنِّي ظَنَنْتُ أَنَّكَ أَتَيْتَ بَعْضَ نِسَائِكَ فَقَالَ إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَنْزِلُ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَغْفِرُ ِلأَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعَرِ غَنَمِ كَلْبٍ
“Aisyah berkata “Pada suatu malam, saya kehilangan Rasulullah. Setelah saya keluar mencarinya, ternyata beliau ada di Baqi’ seraya menengadahkan kepalanya ke langit, beliau berkata “Apakah kamu takut Allah dan Rasulnya mengabaikanmu?”. Aisyah berkata “Saya tidak memiliki ketakutan itu, saya mengira engkau mengunjungi sebagian di antara istri-istri engkau”. Nabi berkata “Sesungguhnya (rahmat) Allah turun ke langit yang paling bawah pada malam Nishfu Sya’ban dan Ia mengampuni dosa-dosa yang melebihi dari jumlah bulu kambing milik suku Kalb”. (HR Turmudzi no 670, dan Ibnu Majah no 1379)
تحفة الأحوذي شرح سنن الترمذي ج 2 ص 277
فَهَذِهِ اْلأَحَادِيثُ بِمَجْمُوعِهَا حُجَّةٌ عَلَى مَنْ زَعَمَ أَنَّهُ لَمْ يَثْبُتْ فِي فَضِيْلَةِ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ شَيْءٌ وَاللهُ تَعَالَى أَعْلَمُ .
“Hadits-hadits di atas secara keseluruhan merupakan sebuah hujjah yang membantah anggapan sebagian ulama yang berpendapat bahwa tidak ada satupun dalil kuat yang menjelaskan tentang keutamaan malam nishfu Sya’ban”. (Tuchfah al-Achwadzi Syarh Sunan al-Tirmidzi, II/277)
Jawaban 29 b:
Di antara keistimewaan malam Nishfu Sya’ban adalah sebagai berikut:
1. Menurut Imam Syafi’i, malam Nishfu Sya’ban adalah salah satu malam yang mustajabah.
2. Menurut ‘Atha bin Yasar, malam Nishfu Sya’ban adalah malam yang paling utama setelah Lailatul Qadar.
3. Menurut sahabat ‘Ikrimah, yang dimaksud dengan ayat
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ () فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ {الدخان :3-4}
surat al Dukhan ayat 3-4, malam tersebut adalah malam Nishfu Sya’ban, akan tetapi pendapat ini ditentang oleh jumhur ulama, dan yang dimaksud dengan ليلة مباركة adalah Lailatul Qadar.
4. Menurut ulama yang lain, malam Nishfu Sya’ban adalah malam laporan amal tahunan kepada Allah SWT.
Dasar Pengambilan Hukum:
فيض القدير ج 6 ص 50
قَالَ الشَّافِعِى بَلَغَنَا أنَّ الدُّعَاءَ يُسْتَجَابُ فِى خَمْسِ لَيَالٍ أوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبَ وَلَيْلَةِ نِصْفِ شَعْبَانَ وَلَيْلَتَىِ اْلعِيْدِ وَلَيْلَةِ الْجُمْعَةِ.
“Imam Syafii berkata: Telah sampai kepada kami bahwa doa dikabulkan dalam lima malam, yaitu awal malam bulan Rajab, malam Nishfu Sya’ban, dua malam hari raya dan malam Jumat”. (Faidl al-Qadír, VI/50)
نزهة المجالس ج 1 ص 158
قَالَ عَطَاءُ بْنُ يَسَارٍ مَا بَعْدَ لَيْلَةِ الْقَدْرِ أَفْضَلُ مِنْ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ وَهِىَ مِنَ اللَّيَالِى الَّتِى يُسْتَجَابُ فِيْهَا الدُّعَاءُ. قَالَ النَّوَوِى عَطَاءُ بْنُ يَسَارٍ مِنَ التَّابِعِيْنَ .
“Yasar bin Atho’ berkata : Tidak ada malam yang lebih utama setelah Lailatul Qadar dibandingkan dengan Nishfu Sya’ban. Ia merupakan salah satu malam yang mustajabah”. (Nuzhah al-Maj á lis, I/158)
تفسير القرطبى ج 16 ص 85
وَقَالَ عِكْرِيْمَةُ هِىَ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ يُبْرَمُ فِيْهَا أَمْرُ السَّنَةِ وَيُنْسَخُ اْلأَحْيَاءُ مِنَ اْلأَمْوَاتِ وَيُكْتَبُ الْحَاجُّ فَلاَ يُزَادُ فِيْهِمْ أَحَدٌ وَلاَ يُنْقَصُ مِنْهُمْ أَحَدٌ وَرَوَى عُثْمَانُ بْنُ الْمُغِيْرَةِ قَالَ قَالَ النَّبِىَ e تُقْطَعُ اْلأَجَالُ مِنْ شَعْبَانَ إلَى شَعْبَانَ حَتَّى أَنَّ الرَّجُلَ لَيَنْكِحُ وَيُوْلَدُ لَهُ وَقَدْ خُرِجَ اسْمُهُ فِى الْمَوْتَى. وَقَالَ اْلقَاضِى أبُوْ بَكْرِ بْنِ الْعَرَبي وَجُمْهُوْرُ الْعُلَمَاءُ عَلَى أنَّهَا لَيْلَةُ اْلقَدْرِ.
“Ikrimah berpendapat bahwa yang dimaksud Lailah Al Mubarakah itu adalah malam nishfu sya’ban. Di malam itu Allah menentukan semua urusan dalam peristiwa setahun, menghapus nama-nama orang dari daftar calon orang meninggal dan mencatat nama-nama orang yang akan melaksanakan haji tanpa ditambah atau dikurangi. Utsman bin Mughirah meriwayatkan hadis, Rasulullah e bersabda, “Ajal ditentukan dari satu Sya’ban ke bulan Sya’ban berikutnya, hingga seseorang menikah, dikaruniai anak dan namanya dikeluarkan dari orang-orang yang akan meninggal” (HR Ibnu Abi Dunya dan Al Dailami). Qadli Abu Bakar bin Al Araby berkata : Para Ulama’ mengatakan bahwa malam tersebut adalah Lailatul Qadar”. (Tafsir al-Qurtúbi, XVI/85)
حاشية الجمل ج 8 ص 323
(قَوْلُهُ: تُعْرَضُ اْلأَعْمَالُ) أَيْ تُعْرَضُ عَلَى اللهِ تَعَالَى وَكَذَا تُعْرَضُ فِي لَيْلَةِ نِصْفِ شَعْبَانَ وَفِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ، فَاْلأَوَّلُ عَرْضٌ إجْمَالِيٌّ بِاعْتِبَارِ اْلأُسْبُوْعِ، وَالثَّانِي بِاعْتِبَارِ السَّنَةِ
“Amal-amal tersebut diperlihatkan kepada Allah, begitu pula pada malam Nishfu Sya’ban dan Lailatul Qadar. Yang pertama (Senin-Kamis) merupakan laporan amal mingguan. Yang kedua dan ketiga (Nishfu Sya’ban dan Lailatul Qadar) merupakan laporan amal tahunan”. (Chásyiyah al-Jamal, VIII/323)
Jawaban 29 c:
Pembacaan surat Yasin pada malam Nishfu Sya’ban beserta macam-macam niatnya merupakan hasil ijtihad para ulama.
Dasar Pengambilan Hukum:
أسنى المطالب فى أحاديث مختلفة المراتب ص 234
وَأَمَّا قِرَاءَةُ سُوْرَةِ يس لَيْلَتَهَا بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَالدُعَاءِ الْمَشْهُوْرِ فَمِنْ تَرْتِيْبِ بَعْضِ أهْلِ الصَّلاَحِ مِنْ عِنْدِ نَفْسِهِ قِيْلَ هُوَ الْبُوْنِى وَلَا بَأْسَ بِمِثْلِ ذَلِكَ.
“Adapun pembacaan surat Yasin pada malam Nishfu Sya’ban setelah Maghrib merupakan hasil ijtihad sebagian ulama, konon ia adalah Syeikh Al Buni, dan hal itu bukanlah suatu hal yang buruk”. (Asná al-Mathálib, 234)
فتح الملك المجيد للشيخ أحمد الديربى ص 19
(وَمِنْ خَوَاصِ سُوْرَةِ يس) كَمَا قَالَ بَعْضُهُمْ أنْ تَقْرَأَهَا لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ الأُوْلَى بِنِيَّةِ طُوْلِ اْلعُمْرِ وَالثَّانِيَةُ بِنيَّةِ دَفْعِ الْبَلاَءِ وَالثَّالِثَةُ بِنِيَّةِ اْلإسْتِغْنَاءِ عَنِ النَّاسِ.
“Diantara keistimewaan surat Yasin, sebagaimana menurut sebagian para Ulama, adalah dibaca pada malam Nishfu Sya’ban sebanyak 3 kali. Yang pertama dengan niat meminta panjang umur, kedua niat terhindar dari bencana dan ketiga niat agar tidak bergantung kepada orang lain”. (Fatchu al-Malik al-Majíd, 19)
تلخيص فتاوى ابن زياد ص 301
(مَسْئَلَةٌ) حَدِيْثُ يس لِمَا قُرِئَتْ لَهُ لاَ أَصْلَ لَهُ وَلَمْ أَرَ مَنْ عَبَّرَ بِأَنَّهُ مَوْضُوْعٌ فَيَحْتَمِلُ أنَهُ لاَ أصْلَ لَهُ فِى الصِّحَّةِ وَالَّذِىْ أعْتَقِدُهُ جَوَازُ رِوَايَتِهِ بِصِيْغَةِ التَّمْرِيْضِ نَحْوُ بَلَغَنَا كَمَا يَفْعَلُهُ أصْحَابُ الشَّيْخِ اِسْمَعيِلَ اْلَجْبَرِتى اهـ.
“Hadits yang berbunyi “Surat Yasin dapat dibaca sesuai dengan niat tujuannya” merupakan hadis yang tidak ada dasarnya, tetapi saya tidak menemui ulama yang mengatakannya sebagai hadis palsu. Bisa jadi yang dimaksud adalah hadis tersebut tidak shohih. Saya meyakini bahwa boleh meriwayatkan hadis tersebut dengan redaksi riwayat yang tidak tegas, seperti telah sampai pada kami sebagaimana yang dilakukan oleh murid-murid Syeikh Ismail Al Jabraty dari Yaman.” (Talkhísh Fatáwá Ibnu Ziyád, 301)
Jawaban 29 d:
Hukum melakukan shalat sunnah mutlak pada malam Nishfu Sya’ban adalah mustahab (disunnahkan) karena Rasulullah e pernah melaksanakan shalat tersebut. Sementara jika shalat tersebut diniati nishfu sya’ban maka hukumnya haram, karena tidak ada tuntunan ibadah salat nishfu sya’ban. Bentuk salat sunah yang boleh dikerjakan pada malam Nishfu Sya’ban adalah salat sunah mutlak, salat Hajat, salat Tasbih, dan shalat apapun yang telah dilakukan oleh Rasulullah e.
Catatan:
Kedudukan hukum mustahab adalah satu tingkat di bawah hukum sunnah.
Dasar Pengambilan Hukum:
ذكريات ومناسبات لسيد محمد بن علوى الملكى ص 155-156
عَنِ الْعَلاَءِ بْنِ الْحَارِثِ اَنَّ عَائِشَةَ قَالَتْ: قَامَ رَسُوْلُ اللهِ e مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى فَأَطَالَ السُّجُودَ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ قَدْ قُبِضَ، فَلَمَّا رَأَيْتُ ذَلِكَ قُمْتُ حَتَّى حَرَّكْتُ إِبْهَامَهُ فَتَحَرَّكَ فَرَجَعَ، فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ السُّجُودِ وَفَرَغَ مِنْ صَلاَتِهِ قَالَ: يَا عَائِشَةُ أَوْ يَا حُمَيْرَاءُ أَظَنَنْتِ أَنَّ النَّبِيَّ e قَدْ خَاسَ بِكِ؟ قُلْتُ: لاَ وَاللهِ يَا رَسُوْلَ اللهِ وَلَكِنِّي ظَنَنْتُ أَنْ قُبِضْتَ طُوْلَ سُجُوْدِكَ، قَالَ: أَتَدْرِي أَيَّ لَيْلَةٍ هَذِهِ؟ قُلْتُ: اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: هَذِهِ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَطَّلِعُ عَلَى عِبَادِهِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِلْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَرْحَمُ الْمُسْتَرْحِمِيْنَ وَيُؤَخِّرُ أَهْلَ الْحِقْدِ كَمَا هُمْ، رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ. وَقَالَ هَذَا مُرْسَلٌ جَيِّدٌ وَيُحْتَمَلُ أَنْ يَكُوْنَ الْعَلاَءُ أَخَذَهُ مِنْ مَكْحُوْلٍ
“Dari 'Ala' bin Charits bahwa Aisyah berkata: “Rasulullah bangun di tengan malam kemudian beliau salat, kemudian sujud sangat lama, sampai saya menyangka bahwa beliau wafat. Setelah itu saya bangun dan saya gerakkan kaki Nabi dan ternyata masih bergerak. Kemudian Rasul bangkit dari sujudnya setelah selesai melakukan shalatnya, Nabi berkata “Wahai Aisyah, apakah kamu mengira Aku berkhianat padamu?”, saya berkata “Demi Allah, tidak, wahai Rasul, saya mengira engkau telah tiada karena sujud terlalu lama.” Rasul bersabda “Tahukauh kamu malam apa sekang ini?” Saya menjawab “Allah dan Rasulnya yang tahu”. Rasulullah bersabda “ini adalah malam Nishfu Sya’ban, sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memperhatikan hamba-hamba-Nya pada malam Nishfu Sya’ban, Allah akan mengampuni orang-orang yang meminta ampunan, mengasihi orang-orang yang meminta dikasihani, dan Allah tidak akan memprioritaskan orang-orang yang pendendam”. (HR Al Baihaqi fi Syuab Al Iman no 3675, menurutnya hadits ini Mursal yang baik)
Catatan:
1. Letak ke-mursal-an hadits tersebut karena Al ‘Ala’ bin Al Charits adalah seorang Tabiin yang tidak pernah berjumpa dengan Aisyah, prediksi Al Baihaqi menyebutkan Al ‘Ala’ memperoleh hadits tersebut dari gurunya, Makchul. Imam Achmad menilai Al ‘Ala’ sebagai orang yang sahih haditsnya. Abu Chatim berkata: Tidak ada murid Makchul yang lebih terpercaya dari pada Al ‘Ala’. Ibnu Hajar menyebut Al ‘Ala’ sebagai orang yang jujur dan berilmu fikih, tetapi ia dituduh pengikut Qadariyah. (Mausu’ah Ruwat Al Hadits)
2. Para Imam Madzhab, seperti Imam Syafii dan Imam Ahmad bin Hanbal mengkategorikan hadis Mursal sebagai hadis yang dapat diterima (Hadis Maqbul) bila memenuhi beberapa persyaratan, diantaranya Sahabat atau Tabiin yang digugurkan dari sanad merupakan seorang yang dikenal kredibilitasnya, tidak bertentangan dengan hadis lain yang lebih shahih, dan lain sebagainya, sebagaimana yang tercantum dalam kitab-kitab Ulumul Hadits.
مجموع فتاوى ابن تيمية ج 2 ص 469
وَسُئِلَ عَنْ صَلاَةِ نِصْفِ شَعْبَانَ؟ (الْجَوَابُ) فَأَجَابَ: إذَا صَلَّى اْلإِنْسَانُ لَيْلَةَ النِّصْفِ وَحْدَهُ أَوْ فِيْ جَمَاعَةٍ خَاصَّةٍ كَمَا كَانَ يَفْعَلُ طَوَائِفُ مِنْ السَّلَفِ فَهُوَ أَحْسَنُ. وَأَمَّا اْلاِجْتِمَاعُ فِي الْمَسَاجِدِ عَلَى صَلاَةٍ مُقَدَّرَةٍ. كَاْلاِجْتِمَاعِ عَلَى مِائَةِ رَكْعَةٍ بِقِرَاءَةِ أَلْفٍ: {قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ} دَائِمًا. فَهَذَا بِدْعَةٌ لَمْ يَسْتَحِبَّهَا أَحَدٌ مِنَ اْلأَئِمَّةِ. وَاللهُ أَعْلَمُ.
“Ibnu Taimiyah ditanyai soal shalat pada malam nishfu Sya’ban. Ia menjawab: Apabila seseorang shalat sunah muthlak pada malam nishfu Sya’ban sendirian atau berjamaah, sebagaimana dilakukan oleh segolongan ulama salaf, maka hukumnya adalah baik. Adapun kumpul-kumpul di masjid dengan shalat yang ditentukan, seperti salat seratus raka’at dengan membaca surat al Ikhlash sebanyak seribu kali, maka ini adalah perbuata bid’ah yang sama sekali tidak dianjurkan oleh para ulama”. (Majmú' Fatáwá Ibnu Taymiyyah, II/469)
فيض القدير ج 2 ص 302
(تَنْبِيْهٌ) قَالَ المَجْدُ ابْنُ تَيْمِيَّةَ لَيْلَةُ نِصْفِ شَعْبَانَ رُوِىَ فِى فَضْلِهَا مِنَ اْلأَخْبَارِ وَاْلأثَارِ مَا يَقْتَضِى أنَّهَا مُفَضَّلَةٌ وَمِنَ السَّلَفِ مَنْ خَصَّهَا بِالصَّلاَةِ فِيْهَا
“Ibnu Taimiyah berkata : Dari beberapa hadis dan pandapat para sahabat menunjukkan bahwa malam Nishfu Sya’ban memiliki keutamaan tersendiri. Sebagian ulama Salaf melaksanakan salat sunah secara khusus di malam tersebut”. (Faidl al-Qadír, II/302)
اعانة الطالبين ج 1 ص 271
قَالَ العَلاَّمَةُ الْكُرْدِى وَاخْتَلَفَ اْلعُلَمَاءُ فِيْهَا فَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ لَهَا طُرُقٌ إذَا اجْتُمِعَتْ وَصَلَ الْحَدِيْثُ إلَى حَدٍّ يُعْمَلُ بِهِ فِى فَضَائِلِ اْلأَعْمَالِ وَمِنْهُمْ مَنْ حَكَمَ عَلَى حَدِيْثِهَا بِالْوَضْعِ وَمِنْهُمُ النَّوَوِى وَتَبِعَ الشَّارِحُ فِى كُتُبِهِ.
“Syeikh Al Kurdy berkata : Para Ulama berbeda pendapat mengenai hadis-hadis yang berhubungan dengan salat sunah malam Nishfu Sya’ban, diantara para ulama ada yang mengatakan bahwa hadis tersebut (meskipun Dloif) memiliki banyak jalur riwayat, yang secara keseluruhan (akumulasi) hadis tersebut boleh dilaksanakan dalam hal Fadlailul A’mal (naik peringkat menjadi hadis hasan lighairihi). Diantara ulama yang lain menghukuminya sebagai hadis palsu, seperti Imam Nawawi dan Syekh Zainuddin Al Malibary”. (I'ánah al-Thálibín, I/271)
Nisfu Sya'ban, MAN AROFA NAFSAHU
Man Arofa Nafsahu
Membaca Diri
Mari kita bertanya siapa diri kita...
Mari kita merenung untuk apa hidup kita..
Sekian tahun kita.. berpijak di bumi Tuhan..
Memperkosa dan mensiasati bumi seisinya...
Tanpa bertanya bahwa kita adalah khalifahNya..
Tiba tiba binal dan tertawa..
Lupa apa sebenarnya tujuan hidup..
Ataukah kita hanya jelmaan nafsu dan tabiat belaka..
Mengkudeta firman-firman Tuhan dan bercermin rayuan setan..
Bertahun-tahun kita hidup di pesantren..
Selama itu pula apa yang telah kita dapatkan..
Puluhan ilmu kita pelajari..
Sebanyak itu pulakah pengetahuan kita..
Tidak !
Kita belum tahu apa-apa
Kita masih bodoh tak tahu siapa Alloh
Nahwu kita pelajari..
Tapi mengapa tata bicara kita simpang siur..
Balaghoh-mantiq kita pelajari..
Tapi mengapa bicara kita saling menyakitkan..
Fikih kita pelajari..
Tapi mengapa salat kita laksana kucing kebakaran...
Tajwid kita pelajari..
Tapi mengapa bacaan Quran kita tak mengenal rambu-rambu..
Tasawwuf pun kita pelajari..
Tapi mengapa takabbur, hasud, dan ghibah masih menjadi hoby kita..
Inikah diri kita
Kita bodoh..
Sekali bicara berapa banyak hati yang terluka..
Sekali melangkah berapa banyak yang tertindas..
Oh begitukah kita..
Kawan..
mengapa kita tak pernah membaca identitas kita..
#Lutfi Ridho
19/05/2016
Kunci Keberhasilan Dakwah Wali Sepuluh Menurut Syekh Abul Fadhol Senori Tuban"
"Kunci Keberhasilan Dakwah Wali Sepuluh Menurut Syekh Abul Fadhol Senori Tuban"
Syekh Abul Fadhol Senori Tuban, salah seorang ulama yang sangat dihormati di zamannya, guru para kyai besar di Nusantara, pernah menulis tentang hikayat wali 10 (Wali Songo + Syekh Siti Jenar) berjudul "Ahla Musamarah fi Hikayat Auliya' 'Asyrah". Dalam kitab tersebut, Syekh Abul Fadhol menyoroti bahwa faktor utama keberhasilan dakwah wali 10 dalam mengislamkan masyarakat Nusantara yang kala itu mayoritas beragama Hindu/Budha adalah karena: (1) Mereka berdakwah dengan akhlak mulia yang penuh akan kebijaksanaan (hikmah), (2) Mereka menggunakan tutur kata yang baik nan indah (mau’idzah hasanah), (3) Mereka berkenan untuk dengan berdialog dengan penuh kesantunan (mujadalah bil-lati hiya ahsan).
Adapun langkah-langkah riil Wali 10 dalam menyebarkan Islam di bumi Nusantara adalah sebagai berikut:
1. Dakwah melalui pendidikan. Dakwah melalui pendidikan dilakukan para wali 10 untuk menyebarkan ajaran agama Islam, dengan cara mendirikan pesantren, mengadakan pengajian dan ceramah keagamaan dan lain sebagainya. Dakwah pendidikan Islam yang dijalankan oleh para wali 10 didasarkan kepada tiga pokok agama Islam, yaitu: Syari’at, Thariqat, dan Hakekat, sebagaimana yang telah dicontohkan antara lain oleh Maulana Malik Ibrahim, Raden Rahmat atau Sunan Ampel, Maulana Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati dan lain sebagainya.
2. Dakwah melalui kaderisasi. Dakwah melalui kaderisasi dilakukan oleh para wali 10 dengan tujuan untuk menghasilkan generasi penerus yang konsisten menjalankan syariat, riyadhah, dan menjauhi segala kemungkaran, sehingga mereka mampu menjadi pemimpin umat yang mengayomi sekaligus disegani oleh masyarakatnya. Dengan begitu, mereka akan mampu mengajak masyarakatnya untuk memeluk agama Islam. Dakwah Islam Nusantara melalui kaderisasi ini dilakukan oleh para wali 10 dan ulama setelahnya, sebagaimana yang dilakukan oleh Sunan Ampel dan Pamannya yakni Maulana Ishaq dalam mendidik serta mengkader anak-anak dan murid-muridnya supaya mampu menjadi pemimpin umat.
3. Dakwah melalui kesantunan bersikap dan bertutur kata. Melalui kesantunan sikap dan tutur kata, para wali 10 hendak mengenalkan kepada masyarakat bahwa agama Islam adalah agama yang ramah dan santun. Oleh karena masyarakat Nusantara berikut nenek moyangnya memiliki watak dasar ramah dan santun, maka ajaran Islam yang dibawa oleh wali 10 tersebut secara cepat diterima oleh masyarakat. Dengan kesantunan dalam berdakwah, masyarakat sepenuh hati menyatakan Islam kepada para wali songo tanpa ada paksaan apalagi kekerasan.
4. Dakwah melalui jaringan. Dalam berdakwah, wali 10 membangun jejaring dakwah yang kokoh, sistematis, dan terorganisir. Jaringan kyai-santri terbangun sedemikian kuat, sehingga ketika ada sebuah fatwa mengenai sebuah persoalan yang dikeluarkan oleh para wali, maka para santri-santrinya yang tersebar di seantero Nusantara akan sigap dan tanggap dalam mematuhi fatwa kyai-kyainya. Jejaring dakwah kyai-santri yang dibangun oleh para wali berabad-abad lalu ini begitu kokoh, dan hingga sekarang keberadaannya masih bisa dirasakan dan masih setia dalam mengawal peradaban Islam Nusantara dan menjaga Kesatuan Negara Republik Indonesia.
5. Dakwah melalui budaya. Dakwah melalui budaya merupakan salah satu langkah dakwah wali 10 yang berhasil mengajak masyarakat Nusantara berbondong-bondong memeluk Islam. Penggunaan wayang dan sastra Jawa sebagai sarana dakwah, pembangunan masjid sesuai dengan arsitektur bangunan Nusantara, dan penerimaan terhadap budaya lokal lain yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam merupakan contoh daripada bentuk dakwah riil para wali melalui budaya.
6. Dakwah melalui politik. Tujuan daripada langkah dakwah wali 10 melalui politik adalah untuk menjunjung tinggi kalimat Allah (I’laa’ Kalimatillah) dan mensyiarkan ajaran agama Islam. Para wali dan para ulama Nusantara terdahulu faham betul bahwa politik dan kekuasaan sangat berpengaruh terhadap agama rakyat kecil, sehingga ketika seorang raja memeluk agama Islam, maka besar kemungkinan rakyatnya dengan mudah akan mengikutinya. Oleh karenanya, pemimpin ideal bagi umat Islam, selain harus memiliki ilmu para ulama (Ilmu al-‘Ulama) dan kebijaksanaan para bijak bestari (Hikmat al-Hukama’), juga harus memahami dunia perpolitikan kerajaan berserta tipu muslihatnya (Siyasat al-Muluk) supaya mereka tidak mudah ditipu oleh musuh-musuhnya.
Kepada Wali Songo, Syekh Siti Jenar, dan Syekh Abul Fadhol, mari kita haturkan Surat Al-Fatihah... Lahumul Fatihah..
Bahan bacaan: Syekh Abul Fadhol Senori, Ahla Musamarah fi Hikayat Auliya' 'Asyrah.
11/05/2016
10 Manfaat Menziarahi Makam Nabi
10 (Sepuluh) Faedah Menziarahi Makam Rasulullah
قال بعضهم ولزائر قبر النبي صلى الله عليه وسلم عشر كرامات
Sebagian ulama mengatakan bahwa orang yang menziarahi makam Rasulullah SAW berhak menerima 10 (sepuluh) kehormatan dari Allah.
إحداهن يعطى أرفع المراتب
1. akan diberikan derajat tertinggi di sisi Allah.
الثانية يبلغ أسنى المطالب
2. akan disampaikan pada cita-cita tertinggi.
الثالثة قضاء المآرب
3. akan dipenuhi kebutuhannya
الرابعة بذل المواهب
4. akan diberikan banyak anugerah Allah
الخامسة الأمن من المعاطب
5. akan diselamatkan dari bencana
السادسة التطهير من المعايب
6. akan dilindungi dari aib
السابعة تسهيل المصاعب
7. akan dimudahkan dalam kesulitan
الثامنة كفاية النوائب
8. akan diringankan bebanmya dalam musibah
التاسعة حس العواقب
9. dapat merasakan apa yang akan terjadi
العاشرة رحمة رب المشارق والمغارب
10. akan mendapat limpahan rahmat Allah
Sayang sekali kalau kaum muslimin melewatkan kesempatan emas tersebut mengingat banyak sekali keutamaan yang Allah sediakan untuk kaum muslimin yang menziarahi makam Rasulullah.
Dalil:
Kitab I'anatut Tholibin
05/05/2016
Dialog Iblis dan Fir'aun
ORANG YANG LEBIH BURUK DARI IBLIS DAN FIR'AUN
Suatu hari Iblis mendatangi Fir'aun dan berkata, "Apakah kau mengenaliku?"
"Ya," sahut Fir"aun.
"Kau telah mengalahkanku dalam satu hal." Sambung iblis
"Apa itu?" Tanya Fir'aun penasaran.
"Kelancanganmu mengaku sebagai tuhan. Sungguh, aku lebih tua darimu, juga lebih berpengetahuan dan lebih kuat ketimbang dirimu. Tapi aku tidak berani melakukannya."
"Kau benar. Tapi aku akan bertobat," kata Fira’un.
"Jangan buru-buru begitu," bujuk Iblis la'natullah 'alaih, "Penduduk Mesir sudah menerimamu sebagai tuhan. Jika kau bertobat, mereka akan meninggalkanmu, merangkul musuh-musuhmu, dan menghancurkan kekuasaanmu, hingga kau tesungkur dalam kehinaan."
"Kau benar," jawab Fir’aun, "Tapi, apakah kau tahu siapa penghuni muka bumi ini yang lebih buruk dari kita berdua?"
Kata Iblis, "Ya. Orang yang tidak mau menerima permintaan maaf orang lain. Orang itu lebih buruk dariku dan darimu."
Dikisahkan dari kitab an-Nawadir karya Syekh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah al-Mishri al-Qulyubi asy-Syafi‘i halaman. 57 (cetakan surabaya haramain)
01/05/2016
Habib Lutfi Bin Yahya: Syariat, Tarekat, Hakekat dan Ma'rifat
Tidak benar jika mengaku bertarekat tetapi meninggalkan syariat, karena tarekat adalah buah dari syariat. Jadi, kalau bertarekat harus melalui pintunya dahulu, yaitu syariat.
Syariat lah yang mengatur kehidupan kita, dengan menggunakan hukum. Dari mulai akidah, keimanan, keislaman, sehingga kita beriman kepada ALLAH, Malaikat, Kltab ALLAH, Rasul, hari akhir serta takdir baik dan buruk. Dan syariat pula mengetahui rukun Islam, yaitu dua kalimat syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji. Serta keutamaan shalat, juga hubungan antara manusia, seperti jual-bell, pernikahan, dan lain-lainnya.
Setelah menjalankan syariat dengan balk, kita bertarekat, sebagai jalan menuju kepada ALLAH ﷻ. Jadi, jika diartikan secara sederhana jalan menuju kepada ALLAH disebut tarekat. Bertarekat perlu dibimbing oleh para Mursyid, yang akan mengantar murid darl mengerti sampai mengenal ALLAH hingga nantinya "dikenal" ALLAH ﷻ, yang artinya dekat dan disayang oleh ALLAH ﷻ. Amalan utama tarekat adalah berdzikir.
Dan juga, yang juga perlu dipahami, pengertlan tarekat tidak terbatas hal itu. Yang dltuntut oleh tarekat di jalan ALLAH adalah perilaku yang mulia dari para pengikut tarekat. Terutama mem-bersihkan kotoran-kotoran yang ada dl dalam batin dan lahirnya, sehingga secara lahir dan batin kita bersih dalam menuju ke jalan ALLAH.
Sebagai contoh berwudhu. Wudhu adalah peraturan syariat, guna menjalankan shalat dan lain-lainnya. Biasanya kita hanya berwudhu untuk mendapatkan keutamaan wudhu, serta sebagai syarat untuk menjalankan shalat.
Sedangkan tarekat menuntut buah (hasil) dari wudhu di dalam kehidupan kita. Berapa kali kita membasuh muka ketika berwudhu, berapa kali kita membasuh tangan setiap hari untuk menjalankan ibadah. Dari situ kita coba aplikasikan dalam kehldupan kita masing-maslng.
Darl hasil wudhu, kita cari buahnya yaitu lebih berakhlak, lebih rendah hati, lebih beradab, sehingga ada peningkatan dari hari ke hari. Itulah buahnya (hasilnya), sehingga kita semakin dekat kepada ALLAH. Sebab, justru di hadapan ALLAH, kita semakin menundukkan kepala. Karena semua itu adalah pemberian-NYA semata-mata. Kalau bukan karena pemberian-NYA, bagaimana bisa mengerti segala yang kita miliki ini.
Begitu juga, kita pun diberi pemahaman oleh ALLAH terhadap junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ atas limpahan rahmat kepadanya, sehingga kita menjadi pengikutnya yang setia. Untuk itulah kita selalu memuji Rasulullah ﷺ dengan tujuan supaya kita lebih dekat kepada Rasulullah. Dengan begitu, sosok Rasulullah akan menjadi idola bagi kita dalam menapaki kehidupan hingga akhir hayat.
Bertarekat akan memupuk sikap rendah hati kita kepada Para Wali, Ulama serta Guru-Guru kita yang telah memberikan pemahaman tentang kebenaran ajaran syariat dan tarekat. Itu baru dari segi membersihkan muka secara lahiriah dan bathiniah, hal itu akan mencegah tangan kita dari berbuat maksiat. Kita akan selalu diperingatkan untuk tidak mengambil yang bukan milik kita apalagi melakukan korupsi, misalnya yang sangat merugikan rakyat. Sebab tangan kita sudah disucikan setiap hari. Kalau kita bisa mempelajari banyak hal dari wudhu saja, insyaALLAH masalah korupsi itu bisa diberantas. Lalu telinga kita yang digunakan untuk mendengarkan suatu yang baik. Kita tidak akan menyampaikan yang kita dengar kalau informasi itu justru akan memancing masalah atau memanaskan situasi, apalagi menimbulkan perpecahan dan kekacauan. Tentu saja, hal itu berlaku pula bagi mata kita, kedua kaki kita, dan anggota badan lainnya. Itulah hasil karya, hasil didikan, yang mendapatkan bimbingan dari ALLAH.
Mengapa kita harus berwudhu ketika akan mendirlkan shalat !? Berwudhu tidak hanya membersihkan kotoran lahiriah kita, tetapi pada hakikatnya juga membersihkan kotoran batiniah. Al-Qur'an menyebutkan bahwa shalat mencegah dari kemungkaran dan kerusakan, karena kita sudah memahami makna wudhu dan shalat itu secara tarekat.
Bagi para murid yang ingin belajar tarekat, saya anjurkan, mulailah dari seorang guru yang dipercaya. Tapi sebaliknya, bagi guru yang ingin ditaati muridnya, cobalah didik para murid itu seperti timba yang mendekati sumurnya, bukan sumuryang mendekati timbanya. Maka akan terbentuklah kewibawaan guru terhadap muridnya. Bagi murid, saya anjurkan untuk belajar hanya pada satu guru.
Sebagai contoh mudahnya, kalau air teh dicampur susu lalu dicampur lagi dengan kopi atau lainnya, meskipun halal, apa jadinya? Bagaimana rasanya? Jadi kalau ingin minum teh, minum saja teh tanpa dicampur dengan lainnya. Nikmati minum teh dengan gula, kemudian cari manfaatnya bagi tubuh. Begitu juga kalau ingin minum kopi, susu, atau lainnya. Itu hanya sebagai perumpamaan. Jadi, kalau ingin belajar tarekat, jangan sekadar melihat organisasi itu besar Meski organisasi tarekat itu kecil, kalau lebih berpengaruh terhadap jiwa kita, sehingga iebih mendekatkan diri kepada ALLAH, tidak perlu ragu lagl untuk mengikutinya.
.
- Habib Muhammad Luthfi bin Yahya (Rois Am Jam'iyyah Ahlith Thariqah al-Mu'tabaroh an-Nahdliyyah)
28/04/2016
Bergaullah Dengan Orang Saleh
Batal Masuk Neraka Karena Sahabat Saleh
Assalamu'alaikum wr. wb.
Sahabat, ketahuilah bahwa teman yang baik itu akan membawa seseorang pada kebaikan. Dan sebaliknya, teman yang buruk hanya akan menjerumuskan kepada kemaksiatan. Itulah hikmah yang terkandung dalam kisah di bawah ini. Berkatberteman dengan orang saleh, seseorang yang akan masuk neraka akhirnya diampuni dan dimasukkan ke dalam surga.
Berikut KisahnyaDi dalam Kitab Durratun Nashihin karya Syekh Utsman bin Hasan bin Ahmad Asy Syakir Al Khaubawiyiyi diceritakan bahwa ada dua orang yang bersahabat karib di dunia. Namun, ketika meninggal dunia, keduanya mendapatkan perlakuan yang tidak sama.
Satu orang dari keduanya adalah orang saleh yang meninggal dunia dengan tenang. Seumur hidupnya diisi dengan amal ibadah dan perbuatan baik. Sementara itu, yang satunya banyak menghabiskan waktunya di dunia dengan perbuatan maksiat dan melanggar perintah Allah SWT.
Dijelaskan dalam kitab tersebut, ketika orang saleh itu meninggal dunia, ia diterima oleh Malaikat Ridwan dengan rasa hormat.
Sambil membungkuk, Malaikat Ridwan berkata,
"Silahkan Tuan masuk surga yang merupakan hak Tuan. Saya antarkan sampai ke pintu gerbangnya."
Menolong SahabatDengan rasa penuh suka cita, orang saleh itu melangkah menuju surga. Namun, tiba-tiba ia tersentak kaget, lalu menghentikan langkahnya. Ia mendengar suara yang sudah sangat dikenalnya,
"Sahabatku, tolongah aku. Atas nama persahabatan kita yang akrab, selamatkanlah aku dari neraka, "begitu suara itu yang terus menerus memanggil orang saleh tersebut.
Karena merasa prihatin dengan apa yang dialami oleh sahabatnya itu, orang saleh tersebut akhirnya tidak mau masuk ke surga. Ia malah minta untuk diantarkan ke neraka.
"Antarkanlah saya ke neraka, "pinta orang saleh itu kepada Malaikat Ridwan.
Mendengar pernyataan itu, Malaikat Ridwan terperanjat kaget. Dan dengan keras dia menolak permintaan orang saleh itu.
"Bagaimana saya akan membawa Tuan ke neraka, padahal saya diperintahkan mengantar Tuan ke surga? Silahkan Tuan, tidak usah ragu-ragu. Surga yang indah itu milik Tuan dan saya akan melayani Tuan secara baik-baik, "jelas Malaikat Ridwan meyakinkan orang saleh tersebut.
"Aku tidak membutuhkan surga maupun pelayananmu. Bawalah saya ke neraka, "ujar orang saleh itu dengan suara agak keras.
Karena merka saling bersitegang dengan pendiriannya masing-masing, maka terdengarlah sebuah suara gaib Yang Maha Agung.
"Wahai malaikatku, sebenarnya Aku telah mengetahui apa yang tersembunyi di balik dada hambaKu yang saleh ini.amun, agar lebih jelas bagimu, tanyakan sendiri kepadanya kenapa ia memilih neraka daripada surga, "kata suara itu.
Malaikat Ridwan segera memenuhi perintah itu dan bertanya,
"Mengapa Tuan lebih menyukai neraka daipada surga?"
"Engkau lihat orang yang sedang diseret-seret menuju neraka itu? Ia adalah sahabatku selama hidup di dunia. Ia menjerit-jerit minta tolong agar aku membebaskannya dari ancaman neraka. Aku sadar sepenuhnya, tidak mungkin aku yang lemah ini menyelamatkannya dari neraka dan membawanya ke surga. Karena itu, lebih baik aku yang ke neraka agar dapat bersama-sama dengannya, "ujar orang saleh itu.
Mendengar jawaban ini, Malaikat Ridwan semakin kaget dan terharu.
Kemudian terdengarlah suara gaib kembali.
"Wahai hambaKu yang saleh, dengan segala kelemahanmu, engkau rela masuk neraka untuk bersama-sama dengan sahabatmu yang telah menemanimu sebentar saja di dunia. Padahal, sepanjang umurmu, engkau begitu taat dan berbakti kepadaKu, memujaKu sebagai Tuhanmu. Bagaimana Aku rela membiarkanmu masuk neraka? Karena itulah Aku hadiahkan sahabatmu itu untukmu, dan ajaklah dia masuk surga bersamamu. Inilah ganjaran yang sepadan bagimu, "terang suara itu.
Maka, dengan ke-Maha Pengampunan Allah SWT kepada makhlukNya itu, kedua sahabat karib tersebut akhirnya diantarkan ke surga dan masuk ke dalamnya. Ahli maksiat itu mendapatkan hikmah berupa kenikmatan lantaran dirinya berkumpul dan bersahabat dengan orang saleh semasa hidupnya di dunia.
Wallahu A'lam....
Wassalamu'alaikum wr. wb.
24/04/2016
Ngopi Disik Tipis Tipis
"KABAR GEMBIRA BAGI PENCINTA KOPI, DAN BAGI YANG TIDAK SUKA JANGAN BERLEBIHAN DALAM MENGINGKARINYA, SEBAB BAU KOPI MENARIK MALAIKAT UNTUK MEMINTAKAN AMPUNAN BAGI PEMINUM KOPI SERTA TEMPAT YANG BERBAU KOPI TIDAK DISUKAI PARA JIN"
Suatu ketika as-Sayyid Ahmad bin Ali Bahr al-Qadimi jumpa dengan Nabi Muhammad Saw. dalam keadaan terjaga. Ia berkata kepada Nabi Saw.: “Wahai Rasulullah, aku ingin mendengar hadits darimu tanpa perantara.”
Nabi Muhammad Saw. kemudian bersabda: “Aku akan memberimu 3 hadits ;
1. Selama bau biji kopi ini masih tercium aromanya di mulut seseorang, maka selama itu pula malaikat akan beristighfar (memintakan ampun) untukmu.
2. Barangsiapa yang menyimpan tasbih untuk digunakan berdzikir maka Allah akan mencatatnya sebagai orang yang banyak berdzikir, baik ia gunakan tasbihnya atau tidak.
3. Barangsiapa yang duduk bersama waliyullah yang hidup atau yang sudah wafat maka pahalanya sama saja dengan ia menyembah Allah di seluruh penjuru bumi.”
Al-Habib Abubakar bin Abdullah al-Atthas berkata: “Sesungguhnya tempat yang ditinggalkan dalam keadaan sepi atau kosong maka jin akan menempatinya. Sedangkan tempat yang biasa digunakan untuk membuat hidangan kopi maka para jin takkan bisa menempati dan mendekatinya.”
(Lihat dalam kitab Tadzir an-Nas halaman 177 dan at-Tadzkir al-Mushthafa li Aulad al-Musthafa wa Ghairahum min Man Ijtbahu Allahu Washthafa karya al-Habib Abubakar al-Atthas bin Abdullah bin Alwi bin Zain al-Habsyi halaman 117)
23/04/2016
SAQAR
SAQAR
Saat ngaji di Masjid Karang Pon Desa Alang-Alang Caruban Kecamatan Jogoroto, Sabtu (16/4/2016), KH Nur Habibillah cerita isro mikroj Nabi Muhammad SAW.
Ketika berhadapan dengan Allah, Nabi sujud tidak bangun-bangun. ’’Akhirnya, Allah menyuruh bangun dan mengucapkan assalamu alaika ayyuhan nabiyyu warahmatullahi wabarakatuh.’’(keselamatan, rahmad dan barakoh tercurah untukmu wahai Nabi.
Nabi kemudian menjawab. Assalamu alaina wa ala ibadillahissolihin. Keselamatan untuk kami dan hamba-hamba yang soleh.
Sampai akhirnya, Allah memberi perintah agar umat manusia melaksanakan shalat lima waktu. ’’Itu berarti, kalau kita ingin selamat, dan dapat rahmat serta barokah dari Allah, harus mau shalat,’’ paparnya.
Shalat lima waktu, kata Gus Nur Habibillah, masing-masing punya manfaat. Dan punya mudlarat jika ditinggalkan. ’’Orang yang meninggalkan shalat subuh, maka dia tidak akan memiliki keceriaan wajah.’’
Orang yang meninggalkan shalat Dhuhur, akan kehilangan keberkahan rezeki.
Orang yang meninggalkan shalat Asar, akan kehilangan kekuatan fisik.
Orang yang meninggalkan shalat Magrib tidak akan bisa mengambil buahnya punya keturunan.
Orang yang meninggalkan shalat Isya, tidak akan beristirahat dengan tenang.
’’Shalat itu, akan lebih enteng kalau mau jamaah. Makanya ayo masjide diiseni. Wis mari dibangun. Mari diresmikno. Engko ndang dimbarno kosong,’’ ulasnya.
Gus Nur Habibillah meminta, kalau ada anak kecil ikut shalat, atau menghabiskan waktu di masjid, jangan mudah dimarahi. ’’Jamaah sing apik iku lek jumlahe arek enom luwih akeh tinimbang sing tuwek. Mergo arek cilik iku masa depane sing ngiseni masjid.
Jamaah selawe. Arek enome 20. Wong tuweke 5. Mati lima kari, 20. Tapi lek arek enome 5, wong tuweke 20, mati 20 kari 5,’’ bebernya.
Orang yang tidak mau shalat, kata Gus Nur Habibillah, akan manggon neraka khusus. Namanya neraka saqor.
"Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqor (neraka)?"
Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin. Dan kami membicarakan hal-hal yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya. Dan kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian". (QS. Al-Mudassir 42-47)
Zaman Nabi, kata Gus Nur Habibillah, ada orang mati yang disholati, ternyata di kepalanya ada ular. Ular itu mau dipukul, tapi dilarang oleh Nabi.
’’Saat ditanya Nabi, ular itu bilang, dia hanya hendak menggigit mayit tersebut sampai kiamat. Karena mayit tersebut saat hidupnya tidak pernah shalat,’’ paparnya
20/04/2016
Hapuskan Dengkimu, Jangan Jadi Muslim Yang Fasik
SYAREAT DAN HAKIKAT HARUS BERJALAN BERIRINGAN
[ Ini bantahan KH Nawawi Sidogiri pada pengaku hakikat tapi tidak shalat]
Selepas ashar tadi, beberapa tamu sowan ke 'dalem' Hadratussaikh KH Nawawi Abd Jalil,pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri,Pasuruan, Jawa Timur. Ditengah dialog kiai dengan salah satu tamunya, sampailah pada pembahasan tentang orang-orang yang mengaku mengamalkan hakikat tapi tidak melaksanakan shalat. kiai sempat miris jika ada masyarakat yang terjangkit cara pandang semacam ini, terlebih jika orang itu adalah alumni pondok pesantren Sidogiri.
" mereka itu berdalil ' Aqim Ashhalata Lizikri' , sehingga menurut mereka kalau udah iling (red; ingat) Allah berarti gak usah shalat" cerita kiai .kiai kemudian berargumen " dalam ayat itu , Aqim adalah fiil amar, perintah , perintah untuk as-shalata (red; shalat), tujuannya untuk mengingat Allah, jadi dalam ayat ini gak ada yang namanya menghilangkan shalat, justru pertama-tama yang diperintahkan adalah shalat" .
beliau juga memaparkan beberapa argumen secara aqli terkait kasus ini, kalau memang mereka benar mengapa variable nya hanya shalat saja. " ya kalau begitu gak usah makan, cukup ingat makan saja kenyang, " tutur kiai nawawi
Dalam kesempatan tersebut kiai nawawi juga memberikan nasehat bahwa yang kita lakukan didunia akan menjadi tolak ukur kita di akhirat kelak. jika di akhirat ingin masuk surga, manusia harus melakukan amal yang menjadi bekal mereka ke surga, seperti shalat, puasa, zakat. lagi-lagi tentu nasehat beliau ini nyambung dengan kasus diatas yang dengan semangat sekali beliau menjelaskannya.
sejalan dengan yang dikatakan Imam Malik rahimahullah , "Siapa yang menjalani tasawwuf tanpa dibekali pemahaman terhadap syariat, ia telah menjadi zindik. Sebaliknya, siapa yang membekali diri dengan fikih (syariat) tapi tidak menjalani tasawwuf (tidak membersihkan hati), maka menjadi fasik. Nah siapa yang menggabungkan keduanya, ia telah mencapai hakikat.
semoga tulisan ini bermanfaat, silahkan share , mudah-mudahan menjadi tembahan ilmu buat kita semua.
Tulisan Imam Malik ini membuktikan bhwa banyaknya muslim saat ini berbanding terbalik dengan kualitas keimanan yang dimilikinya, Banyak ber KTP Islam tp sebenarnya adalah Fasik.
15/04/2016
Mbah Fadhol: Sebuah Legenda Pitutur
Mbah Moen sering ngendiko
" sepiro sholehe anak , tergantung sepiro sholihah ibu'e "
Syeh Abul Fadlol Senori adalah salah satu guru Mbah Moen, kisah singkat beliau
Mbah Denok bisa dibilang Ibu yang aneh, Ibu yang lebih memilih anaknya menjadi Ulama besar daripada memilih kekayaan yang sudah didepan mata.
Seorang Ibu yang bertahan dalam kemiskinan, ibu yang selalu berpuasa demi masa depan anak yang saat itu baru dikandungnya.
Hari itu beliau mencuci beras di sungai, entah karena lemah badannya yang gemetar menahan lapar, sehingga beras itu tumpah, atau karena tak sengaja tersenggol beliau yang sibuk mencuci pakaian.
Subhanallah bukan lagi berwujud beras, tetapi emas berkelipan itu sangat mengagetkan, namun hati yany senantiasa sadar akan keberadaan Allah itu segera menarik kesimpulan, bahwa dirinya sedang mengalami ujian, serta merta beliau menangis memohon ampun, bibir pucatnya berucap perlahan, hatinya bergetar, Wahai Tuhanku bukan ini yang aku pinta, emas ini bagiku bukanlah harapan, hamba hanya memohon kepadaMu jadikanlah janin dalam kandunganku ini lahir menjadi Ulama, jadikanlah ia kekasihMu dan panutan.
Mbah Denok itu adalah Ibu Mbah Abdus Syakur, seorang Ulama kuno yang mumpuni disegala bidang keilmuan.
Selanjutnya Mbah Syakur menurunkan dua orang putera dari janda Kyai Abdul Aziz yaitu Mbah Abul Fadlol senori dan Mbah Abul Khoir suwedang.
Keduanya adalah Ulama besar, Mbah Abul Fadlol terkenal sesudah wafatnya dengan berbagai kitab karangan yang menembus dunia pesantren Timur Tengah, sedangkan Mbah Abul Khoir lebih menonjol dalam bidang Tashowwuf dan Ulama Fiqih yang sangat kuat memegang priinsip di ujung zaman.
Mbah Abul Fadlol pada masa remajanya berguru kepada Mbah Hasyim Asy'ari Tebu ireng. Jangan ditanya soal apa yang telah beliau kuasai, karena semenjak kecil beliau telah suka melantunkan sya,i sya,ir yang terdapat di dalam kitab Ihya dengan hanya mendengar saja dari pengajian bapaknya.
Mbah Abul Fadlol tidak hanya mumpuni dalam bidang Ilmu Agama saja, tetapi entah dari mana ilmu itu beliau dapat, dizaman radio masih langka, beliau telah mampu membuat radio amatir, tentang ilmu kimia juga begitu, dengan caranya sendiri, beliau mampu membuat minyak wangi yang baunya tidak seperti bau minyak wangi pada umumnya, bahkan beliau telah mampu membuat syrup obat batuk yang konon sangat mujarab.
Beliau juga menguasai bahasa mandarin, konon beliau pernah bekerja di semarang sebagai kuli membuat jalan.Beliau memang tidak pernah menyukai kekayaan, setiap kerja yang dirintis laris, tiba tiba beliau tinggalkan begitu saja, dari mulai menjadi penjual tembakau, polangan, jual kain dan pekerjaan terakhirnya adalah sebagai reparasi radio dan jam tangan.
Jiwa Nasionalisme yang tinggi beliau warisi dari gurunya, yaitu Mbah Hasyim, pada setiap upacara 17 Agustus di kecamatan, beliau sempatkan dirinya pakai celana, sepatu dan ikut upacar di lapangan.Dan juga jangan tanya organisasi apa yang beliau ikuti dan istiqomahkan, NU adalah kebanggaan beliau sampai beliau diwafatkan.
Sumber cerita dari menantunya Mbah Abul Fadlol sendiri, yaitu Kyai Minanurraohman
......................
Dalam keseharian beliau sanngat sederhana dan bersahaja, saking sederhananya ketika ta'ziah dalam wafatnya KH. Zuber Sarang beliau sempat dicueki atau tidak dihormati oleh orang karena songkok hitam yang dipakai tidak lagi hitam tapi telah berubah warna menjadi merah. Baju yang di kenakan lusuh, hingga orang acuh memandangnya.
Orang-orang baru tahu kalau itu adalah Mbah Dlol yang sangat terkenal itu. Setelah tanpa sengaja mBah Maimun Zuber memergokinya di tengah jalan. Karuan saja KH. Maimun langsung menciumi tangan beliau dan menempatkannya pada tempat yang layak
..............
Sering sekali mbah maimun memuji sang guru ketika mengaji adapun dalam tausiyah-tausiyah beliau.
"Ojo isin dadi wong jowo, delok toh Mbah Fadhol Senori. ora tahu ngaji ning arab, tapi geneyo koq iso Alim ngalahno sing ning Arab. Alime koyok ngono, karangane kitab pirang-pirang."
---------------
(By copas dr Ustdz Zam).




