Showing posts with label Tausiyyah. Show all posts
Showing posts with label Tausiyyah. Show all posts

16/09/2016

WARIS

WARIS


Saat ngaji rutinan Senin (12/9/2016), Pengasuh PP Al Muhibbin Bahrul Ulum Tambakberas KH Jamaludin Ahmad sempat menceritakan pentingnya pembagian warisan. ’’Saat Kiai Fattah, mertua saya meninggal, yang sambutan pada peringatan tujuh harinya adalah KH Bisri Syansuri (salah satu pendiri NU dan pendiri Pesantren Mambaul Maarif Denanyar),’’ kata Kiai Jamal.
’’Kiai Fattah ini menantunya Kiai Bisri. Tapi Kiai Fattah meninggal lebih dulu dari pada Kiai Bisri,’’ jelasnya.

’’Saat sambutan tujuh harinya itu, Kiai Bisri memerintahkan keluarga menyelesaikan pembagian warisnya sebelum peringatan 40 hari,’’ paparnya.

Keluarga, kata Kiai Jamal, akhirnya bekerja keras menjalankan amanah tersebut. ’’Tepat 40 harinya, pembagian waris akhirnya selesai,’’ jelasnya. ’’Semuanya diwaris. Sampai-sampai pakaian Kiai Fattah yang masih layak pakai pun diwaris,’’ tambahnya.

Hal itu menunjukkan pentingnya pembagian waris. ’’Kiai Bisri itu ahli fikih, ahli syariah, dan beliau sangat mementingkan pembagian waris. Berarti perkara waris ini sangat penting,’’ tandasnya.

Lalu apa hikmahnya pembagian warisan? Kiai Jamal lantas menceritakan pakdenya yakni KH Shodiq pendiri Pesantren Mambaul Huda Genukwatu Ngoro Jombang.

’’Suatu ketika, saya diajak Kiai Shodiq ziarah makam sahabatnya di Tulungagung,’’ kata Kiai Jamal. Selama di makam, Kiai Shodiq menangis. Kiai Jamal pun bertanya kenapa Kiai Shodiq menangis. ’’Koncoku wis dicepaki kasur sutra permadani, Mal. Wis dicepaki panganan sing uwenak-uwenak. Tapi tangane dibondo (diikat) sehingga tidak bisa ndemok (nyentuh),’’ cerita Kiai Jamal menirukan jawaban Kiai Shodiq. Kiai Shodiq menangis karena kasihan sahabatnya belum bisa menikmati nikmat yang diberikan Allah di taman surga yakni alam barzah.

Selesai dari makam, Kiai Shodiq mengajak Kiai Jamal menemui keluarga temannya tersebut.Kiai Shodiq bertanya apakah warisannya sudah dibagi. ’’Sudah dua tahun meninggal ternyata warisannya belum dibagi,’’ tuturnya. Akhirnya sama Kiai Shodiq diminta mengumpulkan semua anggota keluarga. Untuk diberi tahu cara pembagian warisnya. Pembagian waris pun akhirnya dilakukan.         

Semoga ini mengingatkan kepada keluarga kita yang telah meninggal.

Dan apakah sudah dibagi warisannya???
(Rojiful Mamduh)

07/09/2016

GUS ROJIH 1: LURU SHOLAWAT

Gus Rojih 1 LURU SALAWAT 
 Saat ngaji dalam majelis zikir dan salawat Rijalul Ansor di Masjid Agung Baitul Mukminin Jombang, Sabtu (3/9/2016), Gus Rojih Ubab cucu Mbah Maemun Zubair Sarang cerita betapa butuhnya manusia terhadap salawat. Ayat perintah salawat, QS Al Ahzab 56 diawali dengan penegasan bahwa Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Baru kemudian Allah memerintahkan Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. Kenapa dalam ayat itu disebutkan lebih dulu bahwa Allah dan malaikat bersalawat kepada Nabi, baru memerintahkan agar orang-orang beriman bersalawat kepada Nabi? Kenapa Allah tidak langsung memerintahkan agar orang-orang beriman bersalawat kepada Nabi? ’’Ini menunjukkan bahwa Kanjeng Nabi Muhammad itu tidak butuh salawat. Yang butuh salawat itu kita sendiri,’’ kata Gus Rojih Ubab. Dengan penegasan bahwa Allah bersalawat kepada Nabi, itu menunjukkan bahwa salawat Allah telah dicurahkan kepada Nabi. Jika ada manusia ingin kecipratan salawat Allah, maka harus membaca salawat kepada Nabi. ’’Jadi kita harus banyak baca salawat kepada Nabi agar kita dapat salawat dari Allah,’’ paparnya.   Orang yang banyak baca salawat, kata Gus Rojih, akan banyak ketemplekan apik. ’’Jadi kalau ingin apik, perbanyaklah baca salawat,’’ bebernya. Jika ingin masjid apik, maka perbanyaklah dipakai baca salawat. ’’Jika ingin rumah apik, juga banyaklah dipakai baca salawat,’’ sarannya.  ’’Jika ingin anak senang baca salawat, maka orang tua harus banyak baca salawat. Jika ingin anak senang baca Quran, maka orang tua harus sering baca Quran. Jika ingin anak senang baca kitab, maka orang tua harus sering baca kitab,’’ tambahnya.  
 (Rojiful mamduh)

28/07/2016

WIRAI

WIRAI   
Saat disowani pengurus GP Ansor Cabang Jombang Senin (18/7/2016), Rois Syuriah PCNU KH Abdul Nashir Fattah sempat cerita soal wirai. ’’Sak iki opo isik ono wong wirai? Wong pancen abot,’’ tuturnya.   Tingkatan wirai yang paling rendah, kata Kiai Nasir, adalah wirai adli. ’’Yakni manut opo ae dawuhe ulama,’’ tuturnya. Orang seperti ini, sekarang sulit dicari. Sebab sekarang ini, orang cenderung memilih ulama yang sesuai selera. ’’Gak cocok karo dawuhe ulama siji, yo ngalih golek dawuhe ulama liyo,’’ ucapnya.   Kiai Nasir cerita, Saat zaman Imam Ahmad bin Hambal. Ada wanita yang bekerja memintal benang. Nah, terkadang, wanita ini memintal dengan memanfaatkan penerangan lampu milik tetanggannya. Karena cahaya lampu si tetangga sampai di halaman rumahnya.   Perempuan ini tanya kepada Imam Ahmad bin Hambal, apakah hal itu boleh? ’’ Imam Ahmad menjawab tidak boleh. Dan perempuan itu taat. Karena memang sangat wirai,’’ kata Kiai Nasir.   Tingkatan wirai yang kedua adalah wirai muttaqi. Orang ini menjaga diri agar benar-benar hanya mengonsumsi yang halal. Kiai Nasir lantas mencontohkan Ibrahim bin Adham. Setelah menunaikan ibadah haji di Makkah dan Madinah, Ibrahim lantas melanjutkan ke Baitul Maqdis yang juga termasuk tempat sucinya umat Islam. ’’Afdolnya kita memang harus ke tiga tempat suci itu,’’ kata Kiai Nasir.   Sebelum berangkat ke Palestina, Ibrahim bin Adham membeli kurma. Ketika kurma ditimbang, ternyata ada satu kurma yang jatuh. Ibrahim menganggap yang jatuh itu sudah miliknya. Dia pun mengambil dan memakannya.   Di Baitul Maqdis, kata Kiai Nasir, ada qubbah yang manusia hanya diperbolehkan ibadah pagi sampai sore. Malam hari, tempat itu dikosongkan karena dipakai ibadah malaikat. Sejak pagi sampai sore, Ibrahim ibadah disitu. Sore hari, petugas obrak-obrak untuk mengosongkan tempat tersebut. Namun para petugas tidak melihat Ibrahim bin Adham.   Sehingga ketika pintu ditutup, Ibrahmim bin Adham masih didalamnya. Tak lama berselang, Ibrahim mendengar percakapan malaikat. Malaikat 1: Apa ini Ibrahim bin Adham yang doanya selalu menembus langit? Malaikat 2: Itu dulu. Sekarang tidak lagi. Malaikat 1: Kenapa? Malaikat 2: Karena dia makan kurma jatuh yang dianggap miliknya. Padahal itu bukan miliknya. Mendengar itu, Ibrahim bin Adham langsung pulang. Dia kembali ke rumahnya di Syria. Untuk menyiapkan bekal kembali ke Madinah. Di Madinah, dia menemui penjual kurma tempat dia dulu membeli.   Penjualnya ternyata telah ganti anaknya. Si penjual yang dulu telah meninggal dunia. Ibrahim lantas menceritakan keinginannya. Dan dia minta agar satu biji kurma itu dihalalkan. Sang anak tersebut bilang, bagianku aku halalkan. Tapi aku masih punya ibu dan saudara. Ibrahim lantas mendatangi ibu dan saudaranya untuk minta dihalalkan. ’’Setelah itu, doa Ibrahim bin Adham kembali menembus langit,’’ kata Kiai Nasir.   Cak Ghufron sempat tanya. "Wirai yang paling tinggi dos pundi Kiai?" "Sing paling tinggi wirai tasdiqi. Kasarane, seumpomo wetenge kemasukan barang sing gak halal, langsung dimuntahno. Ojo kok sing haram. Sing subhat ae gak gelem," jawab Kiai Nasir. (Rojiful Mamduh)

11/06/2016

AZAB NARKOBA

AZAB NARKOBA

Saat zikir akbar dan salawat sambut Ramadan di Masjid Agung Baitul Mukminin Kamis (2/6/2016), Ketua Rijalul Ansor GP Ansor Jombang, Gus Latif Malik menyampaikan bahwa dia yakin bacaan-bacaan salawat yang dikumandangan bisa menyelamatkan Jombang dari azab.

"Sebab Allah berjanji tidak akan mengazab suatu kaum, jika kaum itu masih mau mengucapkan salawat untuk Nabi Muhammad sallahu alaihi wa salam," ucap pengasuh PP Al-Muhajirin III Bahrul Ulum Tambkberas ini lantas mengutip ayat Wama kanallahu liyuazzibahum wa anta fihim. Wama kanallahu muazzibahum wa hum yastagfirun.. Allah tidak akan menyiksa mereka (kaum) selama kamu (Muhammad) ada di tengah mereka. Dan Allah tidak akan mengazab mereka, sementara mereka memohon ampun.” (QS. al-Anfal: 33).

Sebelumnya, saat peringatan Isro Mikroj di tempat yang sama, Jumat (6/5/2016), Wabup Hj Mundjidah Wahab meminta agar KH Husein Ilyas memberikan tausiah terkait upaya memberantas narkoba. Sebab pada 2014, Jombang masuk peringkat 10 besar peredaran narkoba terbanyak di Jatim. Pada 2015, tingkat peredarannya semakin besar. Sehingga Jombang menjadi peringkat lima.

Saat tausiah, KH Husein Ilyas Mojokerto justru memaparkan fadilah salawat. "Kalau di Jombang banyak yang baca salawat, pasti narkoba akan hilang sendiri," tuturnya.

Untuk itulah, Ketua Takmir Masjid Agung Baitul Mukminin Jombang, H Baidlowi Saleh, mempersilahkan siapapun mengadakan salawatan di masjid Alun-alun.

"Siapapun dan dari kelompok manapun, kalau mau mengadakan salawatan di masjid agung pasti kami persilahkan," tegasnya.  

Allahumma solli wa sallim wa barik ala sayyidina Muhammad wa ala alihi wasohbihi ajmain..

Ya Allah, mudah-mudahan semua Anggota grup ini, beserta keluarganya, leluhurnya dan keturunannya, Panjenengan paringi rahmad, keselamatan dan barokah, seperti rahmad, keselamatan dan barokah yg Engkau berikan kepada Nabi Muhammad beserta keluarga dan sahabatnya..

(Rojiful Mamduh)

06/06/2016

MUSLIHUN

MUSLIHUN

Saat ngaji dalam peringatan tujuh hari meninggalnya Mursyid Thariqoh sekaligus Pengasuh Pesantren Darul Ulum Rejoso, KH Dimyati Romli, Senin (23/5/2016), Dr KH Mustain Syafiie mengaku sangat merasa kehilangan. ’’Kita kehilangan salah satu orang soleh yang menjadi penjaga keamanan daerah,’’ kata pakar tafsir Quran Pesantren Tebuireng ini.

’’Siapa yang meragukan kesolehan Kiai Dim. Apalagi beliau mursyid,’’ tambahnya.

Orang soleh, kata Kiai Mustain, menjadi jaminan keamanan suatu daerah. ’’Makanya kita harus berterima kasih kepada orang-orang soleh. Sebab ada merekalah daerah kita aman,’’ jelasnya.

Ciri orang soleh itu adalah alim dan ahli ibadah. ’’Juga bermanfaat bagi sekitarnya,’’ jelasnya lantas mengutip ayat Wa ma kana rabbuka li yuhlikal qura bi zulmin wa ahluha muslihun. Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya muslihun/orang-orang yang berbuat kebaikan. [QS. HUD: 117].

Kiai Mustain cerita, suatu ketika, Nabi diatas gunung Uhud bersama Abu Bakar dan tiga sahabat. Tiba-tiba gunung Uhud bergetar karena gempa. Nabi langsung bilang, diamlah wahai Uhud. Diatasmu ada Rosulullah, Assidiq dan tiga sahabat yang akan syahid.

"Gunung Uhud langsung diam. Langsung diam. Tiga sahabat yang disebut Nabi itu akhirnya memang mati syahid," kata Kiai Mustain.

Saat jadi Gubernur Mesir, Amr bin Ash pernah kirim surat pada khalifah Umar.

Amr bin Ash melaporkan bahwa setiap tahun sungai Nil selalu meminta tumbal. Kalau tidak diberi tumbal, tidak mengalir. Amr bin Ash tidak mampu mencegah itu. Makanya lapor Umar.

’’Setan itu hanya bisa mempermainkan manusia jika manusianya percaya. Karena manusia percaya tumbal, akhirnya beneran harus ditumbali,’’ jelasnya.

Setelah menerima surat dari Amr bin Ash, Khalifah Umar lantas membalas kepada Amr bin Ash. Dalam surat balasannya ada surat lagi yang disuruh melempar ke sungai Nil.

Isi suratnya adalah. Wahai sungai Nil, jika kamu mengalir karena dirimu sendiri, maka tidak mengalir tidak apa apa. Tapi jika kamu mengalir karena Allah, maka mengalirlah.

"Akhirnya sungai Nil mengalir dan tidak pernah minta tumbal lagi,’’ jelasnya...

Pertanyaannya, bagaimana agar anak-anak kita menjadi generasi yang soleh/solehah? Tentu saja jawabnya adalah, masukkan mereka ke pesantren..

 

#AyoMondok

(Rojiful Mamduh)

05/06/2016

MAUT

    MAUT

Saat ngaji dalam peringatan tujuh hari meninggalnya Mursyid Thariqoh sekaligus Pengasuh Pesantren Darul Ulum Rejoso, KH Dimyati Romli, Senin (23/6/2016), Dr KH Mustain Syafiie mengatakan bahwa maut tak bisa ditolak.

’’Tidak diundang pun, kematian pasti datang,’’ kata pakar tafsir Quran Pesantren Tebuireng ini.

Hal itu berbeda dengan yang lain. ’’Kalau selain kematian, masio dipasangi spanduk gurung mesti teko. Masio kuntul dibarisno sak Jawa Timur yo gurung mesti teko,’’ ucap mantan anggota DPR RI dari Partai Demokrat ini disambut tawa ribuan jamaah yang hadir.
 
Di Cina, kata Kiai Mustain, ada terapi kematian. Orang hidup, dipacaki seperti orang mati. Lalu dimasukkan peti mati. Kemudian diuneni dengan bahasa-bahasa psikologi. ’’Terapi mati seperti ini berhasil membuat orang-orang yang brengsek jadi baik. Orang yang brengsek seperti apapun, ikut terapi ini akhirnya berubah jadi baik. Tingkat keberhasilannya mencapai 90 persen,’’ jelasnya.

Hal itu   mempraktekkan dawuh Nabi Muhammad SAW, kafa bil mauti waidon. Cukuplah kematian sebagai nasehat. ’’Kita orang Islam hapal itu, tapi tidak di elmuni. Justru yang ngelmuni adanya di Cina. Saya kira toriqah mampu membuat kurikulum seperti itu,’’ paparnya.

’’Apalagi pertanyaan malaikat Munkar Nakir sudah lama bocor,’’ tambahnya kembali disambut ger-geran.

Pertanyaan di kubur yang pertama, siapa tuhanmu.  Kedua, siapa nabimu. Ketiga, apa agamamu. ’’Kiro-kiro pertanyaan ini yang nanti bikin masalah. Sebab ketika ditanya apa agamamu, ada yang jawab, agama saya Islam Nusantara,’’ ucapnya kembali disambut ger-geran. ’’Jawabe malaikat, koen melok Mukmatar nang Jombang yo kok jawab Islam Nusantara,’’ lanjut Kiai Mustain yang kembali disambut ger-geran.

Profesor Eimer di Amerika, kata Kiai Mustain, pernah meneliti 500 orang yang mati suri.

’’Orang yang mati suri itu disuruh menceritakan apa yang dialami selama mati. Ternyata ada tiga jawaban yang disampaikan oleh hampir seluruhnya,’’ kata Kiai Mustain.

Pertama, orang yang mati suri itu merasa dibawa oleh makhluk cahaya memasuki lorong. ’’Makhluk cahaya. Mungkin ini istilah mereka untuk mendefinisikan malaikat. Sebab malaikat diciptakan dari nur/cahaya,’’ jelasnya.

Kedua, mereka ditunjukkan rekaman perbuatan mereka selama hidup di dunia. ’’Mereka melihat tayangan semua hal yang dilakukan. Ini sudah disebutkan dalam QS An Naziat. Yauma yatazakkarul insanu ma sa’a. Pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya (QS An Naziat 35),’’ jelasnya.

Ketiga, orang-orang yang mati suri itu ternyata semuanya ingin kembali ke dunia. Alquran juga telah mengingatkan hal ini. ’’ Ya laitana nuroddu wala nukazzibu biayati robbina wanakuna minal mukminin (Kiranya kami dikembalikan ke dunia  dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman (QS Al-An’am 27),’’ ucap Kiai Mustain.

’’Mumpung kita belum memasuki lorong, mari kita persiapkan diri kita,’’ pungkas Kiai Mustain.

02/06/2016

UCUL

 UCUL

Saat ngaji kitab riyadus solihin di Islamic Center Unipdu, Rabu (25/5/2016), Gus Ufik menjelaskan bahwa Allah sangat senang dengan orang yg taubat.

"Kalau ada orang naik unta melewati padang pasir. Semua bekal ada diatas unta tersebut, lalu tiba2 untanya ucul, hilang. Orang Itu sedih atau tidak?" tanya Gus Ufik.

Tentu saja pasti sangat sedih.

"Kalau tiba2 unta itu kembali, apa orang itu senang?" lanjutnya.

Tentu saja amat sangat senang sekali.

"Kalau ada orang taubat, senang nya Allah itu melebihi senangnya orang tersebut," tegasnya.

Di zaman Nabi Musa pernah terjadi paceklik. Kekeringan melanda hingga sulit sekali menemukan air.

Bani Israil melakukan berbagai macam cara untuk meminta kepada Allah agar diturunkan hujan. Berulang kali mereka meminta tapi tidak ada jawaban.

Hingga akhirnya Nabi Musa mengumpulkan umat nya di tanah lapang untuk berdoa.

  Setelah berkumpul, Nabi Musa lalu menangis dan bermunajat, “Ya Allah, jikalau kedudukanku buruk di sisi-Mu maka aku meminta kepadamu untuk menurunkan hujan Demi Kemuliaan Nabiyul Ummi yang telah Engkau janjikan untuk di utus di akhir zaman.”

Kemudian Allah SWT Mewahyukan kepadanya, “Wahai Musa, kedudukanmu di sisi-Ku tidaklah buruk, bagi-Ku engkau begitu mulia. Namun ada seorang hamba diantara kalian yang menentangku selama 40 tahun.

Jika kalian mengeluarkannya, akan Ku Turunkan hujan kepada kalian."

Setelah itu Nabi Musa  berkata, “Wahai hamba yang bermaksiat kepada Tuhannya selama 40 tahun, keluarlah! Karenamu Allah mencegah hujan dari kami.”

Orang yang bermaksiat itu mendengar ucapan Nabi Musa, dan dia mengetahui bahwa dirinyalah yang dimaksud.

Dia berkata pada dirinya, “Apa yang harus aku lakukan. Jika aku masih tetap berada diantara mereka, Allah akan mencegah hujan itu karenaku. Namun jika aku keluar, maka terbukalah semua aibku dihadapan Bani Israil.”

Akhirnya dia memasukkan kepalanya ke dalam pakaian seraya merintih, “Duhai Tuhanku, aku bermaksiat kepada-Mu dengan segala kemampuan-Ku. Aku berani menentang-Mu dengan kebodohanku. Dan kini aku datang dengan segala penyesalan untuk bertaubat kepada-Mu. Maka terimalah taubatku. Dan jangan engkau cegah air hujan itu dari mereka karenaku…”

Belum selesai doa dari hamba ini, tiba-tiba datang kabut putih menutupi langit dan seketika itu turun air hujan dengan derasnya.

Nabi Musa bertanya kepada Allah, “Tuhanku, Engkau menurunkan hujan sementara belum ada seorang pun yang keluar dari kami?

Allah menjawab, “Sesungguhnya seorang yang membuat-Ku mencegah air hujan, dia lah yang membuat-Ku menurunkannya.”

Nabi Musa berkata, “Tuhanku, jelaskan kepadaku tentang hal itu.”

Allah menjawab, “Wahai Musa, Aku menutupi aibnya ketika dia bermaksiat. Bagaimana Aku akan membongkar aibnya ketika dia telah bertaubat?”

"Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan sungai-sungai."
(QS Nuh: 10-12)

31/05/2016

HUDAN

HUDAN

Saat ngaji rutinan jumat legi di masjid Agung Baitul Mukminin Jombang (6/5/2016), pakar tafsir Quran Pesantren Tebuireng Dr KH Mustain Syafiie menyampaikan pergeseran yg belakangan terjadi.

Dulu, saat Kiai kampung menyampaikan bahwa besok puasa Rojab.

Lalu menceritakan fadilahnya bahwa saat di akhirat semua orang kehausan, orang yg puasa Rojab kelak akan diberi minum dari bengawan Rojab.  Air bengawan itu lebih manis dari madu. Dan lebih putih dari susu. Yang meminumnya tak akan kehausan selamanya.

"Dengar seperti itu, besoknya semua langsung puasa," ucapnya.

"Keterbatasan ilmu mereka menjadi sebab terbukanya hidayah. Sehingga amal ibadahnya terus bertambah. Posone tambah akeh. Tambah akeh," tuturnya.

Sekarang sebaliknya. "Hapal Alquran, sarjana syariah pisan. Dikandani ngunu takon sik hadise sohih opo ora. Akhire ora poso2. Kasarane kakean cangkem," ucap Kiai Mustain disambut tawa para hafid yg didistribusikan ke desa2 yg mengikuti pengajian tersebut.

"Kepintarannya, justru menjadi hijab, yang menghalangi hidayah. Sehingga ibadahnya ora bertambah2," paparnya.

Waktu seminar di Tambakberas Sabtu (28/5/2016), Rektor UIN Malang, Prof Mudjia Raharjo cerita pernah ketemu orang Yahudi yang ahli tentang Islam.

Dia ini hapal Quran. Dan yakin dengan kebenaran Alquran.

"Saat ditanya kenapa tidak memeluk Islam, dia justru mengutip ayat Quran; innaka la tahdi man ahbabta, wa lakinnAllah yahdi man yasya’ (QS Al-Qashash 56)," kata Prof Mudjia.

"Engkau tidak bisa memberi petunjuk pada siapa yang engkau kehendaki, tetapi Allah  memberikan hidayah pada siapa saja yang Dia kehendaki."

Tak heran jika Sayyidina Ali di kitab nasoihul ibad memberi peringatan..

Man zada ilman, wa lam yazdad hudan, lam yazdad minallahi illa bu'dan..

Orang yg bertambah ilmunya, tp ora tambah hidayahnya. Orang itu hanya akan semakin jauh dari Allah SWT...

Semoga Allah memberikn hidayah pada kita semua..

27/05/2016

NYANTHOL

NYENTEL

Saat ngaji di acara Jumat Bahagia IPNU IPPNU di masjid Hidyatullah yang diikuti siswa dan wali murid MI Miftahul Maarif Pagak Sumberejo Kecamatan/Kabupaten Jombang (13/5/2016), Mbah Bolong menceritakan kiai yang tiba-tiba keluar malam hari. Diam-diam, dia diikuti dan diintip santrinya.
 
’’Sampean dadi wong tuwo yo sing ati-ati lho Bu. Sebab anak mesti ngintip. Oh bapak ibu lek tanggal tuwek kok seneng muring-muring. Ngunuku ditiru. Bapak ibu lek mangan kok tangan kiwo. Ora ndungo. Negeneku ditiru anak. Sing uwati-ati nok ngarepe anak. Sebab anak iku niru,’’ paparnya.
 
Bapak ibu guru juga demikian. Harus ekstra hati-hati dalam berucap dan berperilaku. Sebab siswa juga meniru. Makanya ada pepatah, guru kencing berdiri, murid kencing berlari.
 
Mbah Bolong melanjutkan, Kiai itu masuk kuburan mengambil tiga kelompok tengkorak. Tengkorak pertama ditusuk telinga kanan tidak masuk. Lalu di bilang mardud/ditolak. Tengkorak kedua ditusuk telinga kanan tembus telinga kiri. Juga dibilang mardud. Tengkorak ketiga ditusuk telinga kanan berhasil masuk kemudian berhenti di tengah. Lalu dibilang maqbul.
 
Santrinya lalu bertanya, apa maksud mardud dan maqbul.

Pertama, yang ditusuk tak bisa masuk itu ditolak. Karena saat hidupnya, tidak mau di ngajeni. ’’Kalau ada orang ngaji diremehno. Dia ngomong sendiri,’’ tuturnya.
 
Kedua, yang ditusuk tembus itu ditolak karena saat ngaji, dia bablas ora nyantol. ’’Mergo opo? Akeh-akehe mergo turu. Yo ngaji, yo sekolah, tapi nang nggon ngaji, nang sekolah, turu. Dadi orang nyentel,’’ ucapnya.
 
Ketiga, yang ditusuk masuk kemudian berhenti ditengah, itu diterima karena kalau dingajeni nyentel. ’’Nyentel mergo dicatet. Makane lek sekolah, lek ngaji, sampean catet,’’ pesannya.
 
Agar cerdas dan tidak mudah lupa pelajaran, ada lima hal yang menurut Mbah Bolong mesti dilakukan.

1.      Dawamul wudlu. Selalu punya wudlu. Sebab wudlu itu cahaya dan ilmu itu cahaya.’’Kalau selalu punya wudlu, insya Allah rezeki juga gampang. Saya sendiri, tidak bisa ceramah kalau tidak punya wudlu,’’ bebernya.

 2. Siwakan/sikatan. ’’Tapi lek sikatan ojo bareng ngengek, iku malah nggarai lalian.

3. Tidak makan kecuali dalam keadaan baik. "Jadi ora sampek kelaparan, juga ora kewareken."

 4. Selalu bertakwa, baik ada orang maupun tidak.

5. Shalat malam walaupun dua rakaat. ’’Shalat malam ini membuat kita cerdas dan sehat, tidak mudah sakit,’’ pungkasnya.     

(Rojiful Mamduh)

21/05/2016

Bahtsul Masail Tentang Malam Nisfu Sya'ban

Keputusan Lembaga Bahtsul Masail
Nahdlatul Ulama Kota Surabaya
Di Masjid At Taqwa Penjaringansari Rungkut Surabaya, 29 Juni 2008
      AMALIYAH MALAM NISHFU SYA'BAN
(PP. Manba'ul Falah Rungkut Menanggal)
Diskripsi Masalah:    
Pada malam paruh kedua dari bulan Sya’ban, banyak dari kalangan umat Islam yang berduyun-duyun ke masjid, mushalla dan surau untuk melaksanakan kegiatan keagamaan yang rutin dijalani setiap malam Nishfu Sya’ban. Salah satu kegiatannya adalah melakukan salat sunah sebanyak dua rakaat atau lebih.
Ada juga dari mereka yang membaca surat Yaasin secara bersama-sama sebanyak 3 kali. Biasanya dari masing-masing pembacaan surat Yasin tersebut diniatkan untuk memperoleh rezeki yang halal, untuk umur panjang yang barokah, serta untuk mendapatkan husnul khatimah. Adapula diantara masyarakat yang melengkapi kegiatan tersebut dengan bersedekah.
Pertanyaan:
a.       Adakah tuntunan secara umum dan khusus untuk melakukan ibadah pada malam Nishfu Sya’ban?
b.      Apa sebenarnya keistimewaan malam Nishfu Sya’ban dibanding dengan malam-malam yang lain?
c.       Apa dasar ulama dalam penetapan pembacaan surat Yasin pada malam Nishfu Sya’ban beserta macam-macam niatnya?
d.      Apa hukum melakukan shalat sunnah pada malam Nishfu Sya’ban?

Jawaban 29 a:
Dalam syari’at Islam terdapat tuntunan (dalil-dalil) untuk beribadah pada malam Nishfu Sya’ban.
Dasar Pengambilan Hukum:
عَنْ مُعَاذِ بن جَبَلٍ عَن ِالنَّبِيِّ e قَالَ: يَطَّلِعُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيْعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ (رواه الطبراني في الكبير والأوسط قَالَ الهيثمى ورجالهما ثقات. ورواه الدارقطنى وابنا ماجه وحبان فى صحيحه عن ابى موسى وابن ابى شيبة وعبد الرزاق عن كثير بن مرة والبزار).
“Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah memperhatikan hambanya (dengan penuh rahmat) pada malam Nishfu Sya’ban, kemudian Ia akan mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan musyachin (orang munafik yang menebar kebencian antar sesama umat Islam)”. (HR Thabrani fi Al Kabir no 16639, Daruquthni fi Al Nuzul 68, Ibnu Majah no 1380, Ibnu Hibban no 5757, Ibnu Abi Syaibah no 150, Al Baihaqi fi Syu’ab al Iman no 6352, dan Al Bazzar fi Al Musnad 2389. Peneliti hadis Al Haitsami menilai para perawi hadis ini sebagai orang-orang yang terpercaya. Majma’ Al Zawaid 3/395)
عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ فَقَدْتُ النَّبِيَّ e ذَاتَ لَيْلَةٍ فَخَرَجْتُ أَطْلُبُهُ فَإِذَا هُوَ بِالْبَقِيعِ رَافِعٌ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَ يَا عَائِشَةُ أَكُنْتِ تَخَافِيْنَ أَنْ يَحِيْفَ اللهُ عَلَيْكِ وَرَسُولُهُ قَالَتْ قَدْ قُلْتُ وَمَا بِي ذَلِكَ وَلَكِنِّي ظَنَنْتُ أَنَّكَ أَتَيْتَ بَعْضَ نِسَائِكَ فَقَالَ إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَنْزِلُ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَغْفِرُ ِلأَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعَرِ غَنَمِ كَلْبٍ
“Aisyah berkata “Pada suatu malam, saya kehilangan Rasulullah. Setelah saya keluar mencarinya, ternyata beliau ada di Baqi’ seraya menengadahkan kepalanya ke langit, beliau berkata “Apakah kamu takut Allah dan Rasulnya mengabaikanmu?”. Aisyah  berkata “Saya tidak memiliki ketakutan itu, saya mengira engkau mengunjungi sebagian di antara istri-istri engkau”. Nabi berkata “Sesungguhnya (rahmat) Allah turun ke langit yang paling bawah pada malam Nishfu Sya’ban dan Ia mengampuni dosa-dosa yang melebihi dari jumlah bulu kambing milik suku Kalb”. (HR Turmudzi no 670, dan Ibnu Majah no 1379)
تحفة الأحوذي شرح سنن الترمذي ج 2 ص 277
فَهَذِهِ اْلأَحَادِيثُ بِمَجْمُوعِهَا حُجَّةٌ عَلَى مَنْ زَعَمَ أَنَّهُ لَمْ يَثْبُتْ فِي فَضِيْلَةِ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ شَيْءٌ وَاللهُ تَعَالَى أَعْلَمُ .
“Hadits-hadits di atas secara keseluruhan merupakan sebuah hujjah yang membantah anggapan sebagian ulama yang berpendapat bahwa tidak ada satupun dalil kuat yang menjelaskan tentang keutamaan malam nishfu Sya’ban”. (Tuchfah al-Achwadzi Syarh Sunan al-Tirmidzi, II/277)
Jawaban 29 b:
Di antara keistimewaan malam Nishfu Sya’ban adalah sebagai berikut:
1.      Menurut Imam Syafi’i, malam Nishfu Sya’ban adalah salah satu malam yang mustajabah.
2.      Menurut ‘Atha bin Yasar, malam Nishfu Sya’ban adalah malam yang paling utama setelah Lailatul Qadar.
3.      Menurut sahabat ‘Ikrimah, yang dimaksud dengan ayat
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ () فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ {الدخان :3-4}
surat al Dukhan ayat 3-4, malam tersebut adalah malam Nishfu Sya’ban, akan tetapi pendapat ini ditentang oleh jumhur ulama, dan yang dimaksud dengan ليلة مباركة  adalah Lailatul Qadar.
4.      Menurut ulama yang lain, malam Nishfu Sya’ban adalah malam laporan amal tahunan kepada Allah SWT.
Dasar Pengambilan Hukum:
فيض القدير ج 6 ص 50
قَالَ الشَّافِعِى بَلَغَنَا أنَّ الدُّعَاءَ يُسْتَجَابُ فِى خَمْسِ لَيَالٍ أوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبَ وَلَيْلَةِ نِصْفِ شَعْبَانَ وَلَيْلَتَىِ اْلعِيْدِ وَلَيْلَةِ الْجُمْعَةِ.
“Imam Syafii berkata: Telah sampai kepada kami bahwa doa dikabulkan dalam lima malam, yaitu awal malam bulan Rajab, malam Nishfu Sya’ban, dua malam hari raya dan malam Jumat”. (Faidl al-Qadír, VI/50)
نزهة المجالس ج 1 ص 158
قَالَ عَطَاءُ بْنُ يَسَارٍ مَا بَعْدَ لَيْلَةِ الْقَدْرِ أَفْضَلُ مِنْ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ وَهِىَ مِنَ اللَّيَالِى الَّتِى يُسْتَجَابُ فِيْهَا الدُّعَاءُ. قَالَ النَّوَوِى عَطَاءُ بْنُ يَسَارٍ مِنَ التَّابِعِيْنَ .
“Yasar bin Atho’ berkata : Tidak ada malam yang lebih utama setelah Lailatul Qadar dibandingkan dengan Nishfu Sya’ban. Ia merupakan salah satu malam yang mustajabah”. (Nuzhah al-Maj á lis, I/158)
تفسير القرطبى ج 16 ص 85
وَقَالَ عِكْرِيْمَةُ هِىَ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ يُبْرَمُ فِيْهَا أَمْرُ السَّنَةِ وَيُنْسَخُ اْلأَحْيَاءُ مِنَ اْلأَمْوَاتِ وَيُكْتَبُ الْحَاجُّ فَلاَ يُزَادُ فِيْهِمْ أَحَدٌ وَلاَ يُنْقَصُ مِنْهُمْ أَحَدٌ وَرَوَى عُثْمَانُ بْنُ الْمُغِيْرَةِ قَالَ قَالَ النَّبِىَ e تُقْطَعُ اْلأَجَالُ مِنْ شَعْبَانَ إلَى شَعْبَانَ حَتَّى أَنَّ الرَّجُلَ لَيَنْكِحُ وَيُوْلَدُ لَهُ وَقَدْ خُرِجَ اسْمُهُ فِى الْمَوْتَى. وَقَالَ اْلقَاضِى أبُوْ بَكْرِ بْنِ الْعَرَبي وَجُمْهُوْرُ الْعُلَمَاءُ عَلَى أنَّهَا لَيْلَةُ اْلقَدْرِ.
“Ikrimah berpendapat bahwa yang dimaksud Lailah Al Mubarakah itu adalah malam nishfu sya’ban. Di malam itu Allah menentukan semua urusan dalam peristiwa setahun, menghapus nama-nama orang dari daftar calon orang meninggal dan mencatat nama-nama orang yang akan melaksanakan haji tanpa ditambah atau dikurangi. Utsman bin Mughirah meriwayatkan hadis, Rasulullah e  bersabda, “Ajal ditentukan dari satu Sya’ban ke bulan Sya’ban berikutnya, hingga seseorang menikah, dikaruniai anak dan namanya dikeluarkan dari orang-orang yang akan meninggal” (HR Ibnu Abi Dunya dan Al Dailami). Qadli Abu Bakar bin Al Araby berkata : Para Ulama’ mengatakan bahwa malam tersebut adalah Lailatul Qadar”. (Tafsir al-Qurtúbi, XVI/85)
حاشية الجمل ج 8 ص 323
(قَوْلُهُ: تُعْرَضُ اْلأَعْمَالُ) أَيْ تُعْرَضُ عَلَى اللهِ تَعَالَى وَكَذَا تُعْرَضُ فِي لَيْلَةِ نِصْفِ شَعْبَانَ وَفِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ، فَاْلأَوَّلُ عَرْضٌ إجْمَالِيٌّ بِاعْتِبَارِ اْلأُسْبُوْعِ، وَالثَّانِي بِاعْتِبَارِ السَّنَةِ
“Amal-amal tersebut diperlihatkan kepada Allah, begitu pula pada malam Nishfu Sya’ban dan Lailatul Qadar. Yang pertama (Senin-Kamis) merupakan laporan amal mingguan. Yang kedua dan ketiga (Nishfu Sya’ban dan Lailatul Qadar) merupakan laporan amal tahunan”. (Chásyiyah al-Jamal, VIII/323)
Jawaban 29 c:
Pembacaan surat Yasin pada malam Nishfu Sya’ban beserta macam-macam niatnya merupakan hasil ijtihad para ulama.
Dasar Pengambilan Hukum:
أسنى المطالب فى أحاديث مختلفة المراتب ص 234
وَأَمَّا قِرَاءَةُ سُوْرَةِ يس لَيْلَتَهَا بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَالدُعَاءِ الْمَشْهُوْرِ فَمِنْ تَرْتِيْبِ بَعْضِ أهْلِ الصَّلاَحِ مِنْ عِنْدِ نَفْسِهِ قِيْلَ هُوَ الْبُوْنِى وَلَا بَأْسَ بِمِثْلِ ذَلِكَ.
“Adapun pembacaan surat Yasin pada malam Nishfu Sya’ban setelah Maghrib merupakan hasil ijtihad  sebagian ulama, konon ia adalah Syeikh Al Buni, dan hal itu bukanlah suatu hal yang buruk”. (Asná al-Mathálib, 234)
فتح الملك المجيد للشيخ أحمد الديربى ص 19
(وَمِنْ خَوَاصِ سُوْرَةِ يس) كَمَا قَالَ بَعْضُهُمْ أنْ تَقْرَأَهَا لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ الأُوْلَى بِنِيَّةِ طُوْلِ اْلعُمْرِ وَالثَّانِيَةُ بِنيَّةِ دَفْعِ الْبَلاَءِ وَالثَّالِثَةُ بِنِيَّةِ اْلإسْتِغْنَاءِ عَنِ النَّاسِ.
“Diantara keistimewaan surat Yasin, sebagaimana menurut sebagian para Ulama, adalah dibaca pada malam Nishfu Sya’ban sebanyak 3 kali. Yang pertama dengan niat meminta panjang umur, kedua niat terhindar dari bencana dan ketiga niat agar tidak bergantung kepada orang lain”. (Fatchu al-Malik al-Majíd, 19)
تلخيص فتاوى ابن زياد ص 301
(مَسْئَلَةٌ) حَدِيْثُ يس لِمَا قُرِئَتْ لَهُ لاَ أَصْلَ لَهُ وَلَمْ أَرَ مَنْ عَبَّرَ بِأَنَّهُ مَوْضُوْعٌ فَيَحْتَمِلُ أنَهُ لاَ أصْلَ لَهُ فِى الصِّحَّةِ وَالَّذِىْ أعْتَقِدُهُ جَوَازُ رِوَايَتِهِ بِصِيْغَةِ التَّمْرِيْضِ نَحْوُ بَلَغَنَا كَمَا يَفْعَلُهُ أصْحَابُ الشَّيْخِ اِسْمَعيِلَ اْلَجْبَرِتى اهـ.
“Hadits yang berbunyi “Surat Yasin dapat dibaca sesuai dengan niat tujuannya” merupakan hadis yang tidak ada dasarnya, tetapi saya tidak menemui ulama yang mengatakannya sebagai hadis palsu. Bisa jadi yang dimaksud adalah hadis tersebut tidak shohih. Saya meyakini bahwa boleh meriwayatkan hadis tersebut dengan redaksi riwayat yang tidak tegas, seperti telah sampai pada kami sebagaimana yang dilakukan oleh murid-murid Syeikh Ismail Al Jabraty dari Yaman.” (Talkhísh Fatáwá Ibnu Ziyád, 301)
Jawaban 29 d:
Hukum melakukan shalat sunnah mutlak pada malam Nishfu Sya’ban adalah mustahab (disunnahkan) karena Rasulullah e pernah melaksanakan shalat tersebut. Sementara jika shalat tersebut diniati nishfu sya’ban maka hukumnya haram, karena tidak ada tuntunan ibadah salat nishfu sya’ban. Bentuk salat sunah yang boleh dikerjakan pada malam Nishfu Sya’ban adalah salat sunah mutlak, salat Hajat, salat Tasbih, dan shalat apapun yang telah dilakukan oleh Rasulullah e.
Catatan:
Kedudukan hukum mustahab adalah satu tingkat di bawah hukum sunnah.
Dasar Pengambilan Hukum:
ذكريات ومناسبات لسيد محمد بن علوى الملكى ص 155-156
عَنِ الْعَلاَءِ بْنِ الْحَارِثِ اَنَّ عَائِشَةَ قَالَتْ: قَامَ رَسُوْلُ اللهِ e مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى فَأَطَالَ السُّجُودَ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ قَدْ قُبِضَ، فَلَمَّا رَأَيْتُ ذَلِكَ قُمْتُ حَتَّى حَرَّكْتُ إِبْهَامَهُ فَتَحَرَّكَ فَرَجَعَ، فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ السُّجُودِ وَفَرَغَ مِنْ صَلاَتِهِ قَالَ: يَا عَائِشَةُ أَوْ يَا حُمَيْرَاءُ أَظَنَنْتِ أَنَّ النَّبِيَّ e قَدْ خَاسَ بِكِ؟ قُلْتُ: لاَ وَاللهِ يَا رَسُوْلَ اللهِ وَلَكِنِّي ظَنَنْتُ أَنْ قُبِضْتَ طُوْلَ سُجُوْدِكَ، قَالَ: أَتَدْرِي أَيَّ لَيْلَةٍ هَذِهِ؟ قُلْتُ: اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: هَذِهِ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَطَّلِعُ عَلَى عِبَادِهِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِلْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَرْحَمُ الْمُسْتَرْحِمِيْنَ وَيُؤَخِّرُ أَهْلَ الْحِقْدِ كَمَا هُمْ، رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ. وَقَالَ هَذَا مُرْسَلٌ جَيِّدٌ وَيُحْتَمَلُ أَنْ يَكُوْنَ الْعَلاَءُ أَخَذَهُ مِنْ مَكْحُوْلٍ
“Dari 'Ala' bin Charits bahwa Aisyah berkata: “Rasulullah bangun di tengan malam kemudian beliau salat, kemudian sujud sangat lama, sampai saya menyangka bahwa beliau wafat. Setelah itu saya bangun dan saya gerakkan kaki Nabi dan ternyata masih bergerak. Kemudian Rasul bangkit dari sujudnya setelah selesai melakukan shalatnya, Nabi berkata “Wahai Aisyah, apakah kamu mengira Aku berkhianat padamu?”, saya berkata “Demi Allah, tidak, wahai Rasul, saya mengira engkau telah tiada karena sujud terlalu lama.” Rasul bersabda “Tahukauh kamu malam apa sekang ini?” Saya menjawab “Allah dan Rasulnya yang tahu”. Rasulullah bersabda “ini adalah malam Nishfu Sya’ban, sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memperhatikan hamba-hamba-Nya pada malam Nishfu Sya’ban, Allah akan mengampuni orang-orang yang meminta ampunan, mengasihi orang-orang yang meminta dikasihani, dan Allah tidak akan memprioritaskan orang-orang yang pendendam”. (HR Al Baihaqi fi Syuab Al Iman no 3675, menurutnya hadits ini Mursal yang baik)
Catatan:
1.      Letak ke-mursal-an hadits tersebut karena Al ‘Ala’ bin Al Charits adalah seorang Tabiin yang tidak pernah berjumpa dengan Aisyah, prediksi Al Baihaqi menyebutkan Al ‘Ala’ memperoleh hadits tersebut dari gurunya, Makchul. Imam Achmad menilai Al ‘Ala’ sebagai orang yang sahih haditsnya. Abu Chatim berkata: Tidak ada murid Makchul yang lebih terpercaya dari pada Al ‘Ala’. Ibnu Hajar menyebut Al ‘Ala’ sebagai orang yang jujur dan berilmu fikih, tetapi ia dituduh pengikut Qadariyah. (Mausu’ah Ruwat Al Hadits)
2.      Para Imam Madzhab, seperti Imam Syafii dan Imam Ahmad bin Hanbal mengkategorikan hadis Mursal sebagai hadis yang dapat diterima (Hadis Maqbul) bila memenuhi beberapa persyaratan, diantaranya Sahabat atau Tabiin yang digugurkan dari sanad merupakan seorang yang dikenal kredibilitasnya, tidak bertentangan dengan hadis lain yang lebih shahih, dan lain sebagainya, sebagaimana yang tercantum dalam kitab-kitab Ulumul Hadits.
مجموع فتاوى ابن تيمية ج 2 ص 469
وَسُئِلَ عَنْ صَلاَةِ نِصْفِ شَعْبَانَ؟ (الْجَوَابُ) فَأَجَابَ: إذَا صَلَّى اْلإِنْسَانُ لَيْلَةَ النِّصْفِ وَحْدَهُ أَوْ فِيْ جَمَاعَةٍ خَاصَّةٍ كَمَا كَانَ يَفْعَلُ طَوَائِفُ مِنْ السَّلَفِ فَهُوَ أَحْسَنُ. وَأَمَّا اْلاِجْتِمَاعُ فِي الْمَسَاجِدِ عَلَى صَلاَةٍ مُقَدَّرَةٍ. كَاْلاِجْتِمَاعِ عَلَى مِائَةِ رَكْعَةٍ بِقِرَاءَةِ أَلْفٍ: {قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ} دَائِمًا. فَهَذَا بِدْعَةٌ لَمْ يَسْتَحِبَّهَا أَحَدٌ مِنَ اْلأَئِمَّةِ. وَاللهُ أَعْلَمُ.
“Ibnu Taimiyah ditanyai soal shalat pada malam nishfu Sya’ban. Ia menjawab: Apabila seseorang shalat sunah muthlak pada malam nishfu Sya’ban sendirian atau berjamaah, sebagaimana dilakukan oleh segolongan ulama salaf, maka hukumnya adalah baik. Adapun kumpul-kumpul di masjid dengan shalat yang ditentukan, seperti salat seratus raka’at dengan membaca surat al Ikhlash sebanyak seribu kali, maka ini adalah perbuata bid’ah yang sama sekali tidak dianjurkan oleh para ulama”. (Majmú' Fatáwá Ibnu Taymiyyah, II/469)
فيض القدير ج 2 ص 302
(تَنْبِيْهٌ) قَالَ المَجْدُ ابْنُ تَيْمِيَّةَ لَيْلَةُ نِصْفِ شَعْبَانَ رُوِىَ فِى فَضْلِهَا مِنَ اْلأَخْبَارِ وَاْلأثَارِ مَا يَقْتَضِى أنَّهَا مُفَضَّلَةٌ وَمِنَ السَّلَفِ مَنْ خَصَّهَا بِالصَّلاَةِ فِيْهَا
“Ibnu Taimiyah berkata : Dari beberapa hadis dan pandapat para sahabat menunjukkan bahwa malam Nishfu Sya’ban memiliki keutamaan tersendiri. Sebagian ulama Salaf melaksanakan salat sunah secara khusus di malam tersebut”. (Faidl al-Qadír, II/302)
اعانة الطالبين ج 1 ص 271
قَالَ العَلاَّمَةُ الْكُرْدِى وَاخْتَلَفَ اْلعُلَمَاءُ فِيْهَا فَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ لَهَا طُرُقٌ إذَا اجْتُمِعَتْ وَصَلَ الْحَدِيْثُ إلَى حَدٍّ يُعْمَلُ بِهِ فِى فَضَائِلِ اْلأَعْمَالِ وَمِنْهُمْ مَنْ حَكَمَ عَلَى حَدِيْثِهَا بِالْوَضْعِ وَمِنْهُمُ النَّوَوِى وَتَبِعَ الشَّارِحُ فِى كُتُبِهِ.
“Syeikh Al Kurdy berkata : Para Ulama berbeda pendapat mengenai hadis-hadis yang berhubungan dengan salat sunah malam Nishfu Sya’ban, diantara para ulama ada yang mengatakan bahwa hadis tersebut (meskipun Dloif) memiliki banyak jalur riwayat, yang secara keseluruhan (akumulasi) hadis tersebut boleh dilaksanakan dalam hal Fadlailul A’mal (naik peringkat menjadi hadis hasan lighairihi). Diantara ulama yang lain menghukuminya sebagai hadis palsu, seperti Imam Nawawi dan Syekh Zainuddin Al Malibary”. (I'ánah al-Thálibín, I/271)

19/05/2016

EPISTEME

 
EPISTEME
 
Saat ngaji dalam rangka 40 harinya Nyai Hj Fatimah Soleh (ibunda Gus Irfan Soleh, ketua yayasan Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas), Kamis (12/5/2016), KH Marzuki Mustamar menuturkan bahwa dalam kajian filsafat ada sejumlah istilah.
 
Diantaranya ontologi. Yakni wilayah material yang dibahas.
Kedua, epistemology. Yakni wilayah metodologi atau sistematika dalam menjangkau  material tersebut.
Ketiga, aksiologi. Yakni wilayah kegunaan atau aplikasi dari material tersebut.
 
Salah epistemology, bisa menyebabkan salah pemahaman. Hingga berujung kesalahan langkah/aksi.

’’Untuk mempelajari agama, secara epistemology, yang paling pas adalah belajar ke pesantren,’’ kata Kiai Marzuki.
 
Belajar agama yang paling tepat, kata Kiai Marzuki, adalah belajar kepada Nabi Muhammad SAW.
Nabi Muhammad belajar kepada Jibril dengan berhadap-hadapan. Ketemu langsung.

Kenapa harus ketemu langsung berhadapan? "Ngunekno shod kudu karo mecucu. Lek gak ketemu langsung opo ngerti mecucune sak piro?"
 
Sebelum wafat, Nabi mengajarkan ilmu agamanya kepada para sahabat. Juga dengan ketemu langsung. Makanya belajar kepada sahabat, sama dengan belajar kepada Nabi.
 
Para sahabat sebelum wafat, mengajarkan ilmu agamanya kepada para tabiin. Juga dengan ketemu langsung. Belajar kepada tabiin, sama dengan belajar kepada sahabat dan Nabi.
 
Sebelum tabiin wafat, mereka mengajarkan ilmunya kepada tabiit tabiin. Juga dengan ketemu langsung. Sampai akhirnya ilmu itu sampai kepada para kiai pesantren.

’’Jadi belajar ilmu agama kepada para kiai, sama dengan belajar kepada Nabi. Sebab cara mempelajari agama yang dipraktekkan di pesantren itu, sama dengan yang dilakukan Nabi. Isi ajaran agama yang diulangno kiai, juga sama seperti yg diajarkan Nabi,’’ tuturnya.
 
Makanya Nabi dawuh, siapa yang memuliakan ulama, sama dengan memuliakan Nabi. Dan siapa memuliakan Nabi, maka akan dimuliakan Allah. Siapa dimuliakan Allah, akan masuk surga.
 
’’ Makanya kalau ingin agamanya selamet, masukkan anak ke pesantren,’’ ucapnya.
 
Sekarang ini, lanjut Kiai Marzuki, banyak pemahaman yang salah kaprah. ’’Sampean lihat di internet, banyak fatwa-fatwa yang tidak sesuai. Kenapa? Ya karena belajarnya tidak ke pesantren,’’ ucapnya.
 
Beliau lantas memberikan sembilan contoh.

1.
Ada kelompok yang mengatakan bahwa kotoran babi tidak najis. Kotoran hewan tidak najis. Dasar mereka, saat Nabi sujud di Kakbah, pernah dilempari kotoran oleh Abu Jahal. Tapi Nabi terus saja sujud. Tidak membatalkan sujudnya. Itu kan berarti kotoran tidak najis?

Menanggapi itu, Kiai Marzuki menuturkan, bahwa peristiwa itu tak bisa dijadikan dasar hukum. ’’Itu peristiwa saat Nabi masih di Makkah. Ayatul ahkam dan hadisul ahkam, itu setelah di Madinah.   Ayat-ayat dan hadits-hadist yang bisa dijadikan hukum, itu yang di Madinah,’’  paparnya.
 
Di Kitab Bukhori, kata Kiai Marzuki, ada hadist bahwa suatu ketika Nabi buang hajat. Lalu minta sahabat mengambilkan tiga batu. Kemudian diambilkan dua batu dan satu kotoran kering. Nabi hanya mau memakai yang dua batu. ’’Ini salah satu yang dijadikan dasar oleh para ulama kita bahwa kotoran itu najis. Kering saja najis. Apalagi basah’’ ucapnya.
Bersambung----

#AyoMondok
(Rojif)

18/05/2016

NISFU SYA'BAN

NISFU SYA'BAN

KH Taufiqurahman Muchit, pengasuh PP Sunan Ampel Jombang dalam pengajian di Masjid Al-Fattah Candimulyo, Jombang (31/5/2015) menyampaikan bahwa dalam kitab Ghunyah (pesugihan) karangan Syekh Abd Qodir Jaelani disebutkan bahwa saat nisfu syakban, takdir selama setahun ditulis. Malam nisfu syakban tahun 2016 ini akan jatuh pada Sabtu  21 Mei.

Pada malam nisfu syakban itu, dianjurkan shalat 2 rakaat. Tiap rakaat usai fatikhah baca surat Alikhlas 6x. Usai salam, baca yasin pertama kemudian doa.

Shalat lagi 2 rakaat dengan baca Alikhlas 6x. Usai salam baca yasin lagi kemudian doa. Demikian sampai 3x.

Doa yg dibaca saat nisfu syakban intinya minta agar takdir-takdir  yang jelek tahun ini dihapus.

 Ya Allah, jika tahun ini Engkau takdirkan mati, hapuslah.

Jika Engkau takdirkan sakit, hapuslah.

Jika Engkau takdirkan kena bencana/kecelakaan, hapuslah.

Jika Engkau takdirkan rugi, hapuslah.

Jika Engkau takdirkan cerai, hapuslah, dll.

Kiai Taufiq juga menyatakan bahwa malam nisfu syakban ini adalah malam ditulisnya ketentuan setahun. Sedangkan dok-nya (diputuskannya) yakni saat malam lailatul qodar. ’’Makanya orang yang menghidupkan nisfu syakban, bakal bisa ketemu lailatul qadar. Sedangkan yang tidak menghidupkan malam nisfu syakban,  bakal sulit ketemu lailatul qadar,’’ kata Kiai Taufiq.

Beliau bercerita, suatu ketika ditanya pakdenya yang orang Lamongan. Kapan lailatul qodar jatuh Ramadan tahun itu?

Dia lantas bilang, saya meyakini jatuh pada malam ini...

Tapi tahun itu, si Pakde tidak menghidupkan nisfu syakban.

Akhirnya, pada mlm yang dibilang Kiai Taufiq sebaga malam lailatul qadar itu, si Pakde mapak.

Dia sengaja ngajak sembilan anaknya itikaf di masjid agar dapat lailatul qodar.

Pada tengah malam, turun hujan. Sehingga satu keluarga ini tertidur dan baru bangun saat subuh. Sehingga tidak menangi lailatul qodar. Karena lailatul qodar itu tengah malam sampai subuh. Awalnya, dia tidak yakin malam itu benar lailatul qadar. Karena pada malam lailatul qadar tidak ada hujan. Namun hujan malam itu sebenarnya turun hanya sebentar.

Kiai Taufiq lantas minta si Pakde mengecek air laut pada pagi pasca lailatul qadar itu. Karena disebutkan, pada pagi setelah lailatul qadar, air laut jadi tawar selama beberapa saat karena baru diinjak malaikat.

Pagi itu, si Pakde mengecek air laut dan ternyata sempat tawar. Kiai Taufik lantas minta diambilkan air tersebut. Si Pakde jadi semakin nyesel tertidur malamnya.

Ini menunjukkan, kata kiai taufik, orang yang tidak menghidupkan nisfu syakban, tak akan bisa dapat lailatul qadar, walaupun sudah mapak.

 Oia, setelah ritual malam nisfu syakban, besoknya dianjurkan puasa, sebagai rangkaian menghidupkan nisfu syakban.

’’Orang yang puasa sehari di bulan syakban dibebaskan dari siksa kubur,’’ tutur Kiai Taufiq.

Saat pengajian Hikam di PP Al Muhibbin Bahrul Ulum Tambak Beras (1/6/2015), Kiai Jamaludin Ahmad menerangkan bahwa  Shalat 2 rakaat malam nisfu syakban lebih utama daripada ibadah selama 400 ratus tahun yang dilakukan umat sebelum Muhammad.

Itulah sebabnya,  Nabi Isa dan Nabi Musa pernah mengatakan ingin jadi umat Muhammad. Umat Muhammad ibadah sedikit, diganjar akeh.

Kapan waktunya shalat 2 rakaat nisfu syakban itu? ’’Mulai habis magrib sampai sebelum subuh,’’ kata Kiai Jamal.  Tapi shalatnya tidak boleh jamaah. Dan niatnya niat shalat sunat mutlak.

Beliau lantas mengutip sebuah hadits, siapa menghidupkan malam nisfu syakban dengan amal-amal sholeh, maka hatinya tidak akan mati saat semua hati mati. ’’Tanda hati mati sing pertama ora gelo/sedih kehilangan ibadah. Kepindo, ora menyesal melakukan maksiat/dosa,’’ jelasnya.

17/05/2016

TOLONG BAWA AKU KE SURGA

"Tolong Bawa Aku ke Syurga"

Mengunjungi seorang teman yang sedang kritis sakitnya, dia menggenggam erat tangan saya, lalu menarik ke mukanya, dan membisikkan sesuatu.

Dalam airmata berlinang dan ucapan yg terbata-bata... dia berkata,
"Jika kamu tidak melihat aku di syurga, tolong tanya pada Allah di mana aku, tolonglah aku ketika itu..."

Dia langsung terisak menangis, lalu saya memeluknya dan meletakkan muka saya di bahunya.
Sayapun berbisik, "S'moga Allah mengijabahnya... Aamiin.
Aku juga mohon kepadamu jika kau tdk melihatku di syurga, tolong kau tanyakan aku juga..."

Kami pun menangis bersama, entah berapa lama....

Ketika saya meninggalkan Rumah Sakit, saya terkenang akan pesan beliau....

Sebenarnya pesan itu pernah di sampaikan oleh seorang ulama besar, Ibnu Jauzi, yg berkata kepada sahabatnya sambil menangis:

"Jika kamu tidak menemui aku di syurga bersama kamu, maka tolonglah tanya kepada Allah tentang aku: Wahai Rabb kami, Si Fulan sewaktu di dunia selalu mengingatkan kami tentang Engkau, maka masukkanlah dia bersama kami di Syurga."

Ibnu Jauzi berpesan begini bersandar kepada sebuah hadits:

"Apabila penghuni syurga telah masuk ke dalam syurga lalu mereka tidak menemukan sahabat-sahabat mereka yg selalu bersama mereka dahulu di dunia, maka mereka pun bertanya kepada Allah,
"Ya Rabb... kami tidak melihat sahabat-sahabat kami yang sewaktu di dunia bersholat bersama kami, berpuasa bersama kami dan berjuang bersama kami."

Maka Allah berfirman,  "Pergilah ke neraka, lalu keluarkanlah sahabat-sahabatmu yang di hatinya ada iman, walau hanya sebesar zarrah."
(Ibnu Mubarak dlm kitab Az Zuhd)

Maka wahai Sahabat-sahabatku,

Di dalam bersahabat, pilih lah mereka yg bisa membantu kita take sekedar ikatan di dunia, tetapi hingga akhirat.

Carilah sahabat-sahabat yg senantiasa berbuat amal sholeh, yg sholat berjamaah, berpuasa dan sentiasa berpesan agar meningkatkan keimanan, serta berjuang untuk menegakkan Agama Islam.

Carilah teman yg mengajak ke majelis ilmu, mengajak berbuat kebaikan, bersama untuk kerja pada kebaikan, serta selalu berpesan dgn kebenaran.

Teman yg dicari karena urusan bisnis, pekerjaan, teman nonton bola, teman memancing, teman shopping, teman FB untuk bercerita hal politik, teman whatsapp utk menceritakan hal dunia, akan berpisah pada garis mati dan masing-masing hanya akan membawa amal diri sendiri.

Tetapi teman yg bertakwa, akan mencari kita untuk bersama ke Syurga.

Simaklah diri, apakah ada teman yg seperti ini dalam kehidupan kita...atau yg ada mungkin lebih buruk dari kita.

Ayo berubah sekarang, kurangi waktu dgn teman yg hanya condong pada dunia. Carilah teman yg membawa kita bersama ke syurga, karena kita tidak bisa mengharapkan pahala ibadah kita saja untuk masuk Syurga Allah.

Perbanyaklah usaha... In syaa Allah satu darinya akan tersangkut dan membawa kita ke Pintu Syurga.

Al-Hasan Al-Bashri berkata:

"Perbanyaklah sahabat-sahabat mukminmu, karena mereka memiliki syafa'at pada hari kiamat.”

Pejamkan mata, berpikirlah... siapa agaknya di antara teman-teman kita yg akan mencari dan mengajak kita bersama-sama ke Syurga-Nya.

Jika tidak, mulailah hari ini mencari teman ke syurga sebagai suatu misi pribadi.

In syaa Allah kepada siapa saja kita boleh menyampaikan pesan ini.

--------
Sahabat-sahabatku yang Disayang Allah... tolong tanyakan kepada Allah, jika aku tiada bersamamu nanti di Syurga-NYA...��

WARISAN IBU

WARISAN IBU

Teori terdahulu menyebutkan karakteristik dan sifat2 bawaan seorang anak diwariskan dari ibu dan bapaknya dalam proporsi 50 : 50. Artinya, ayah dan ibu memberikan sumbangan yang sebanding dan setara dalam diri seorang anak.

Akan tetapi, penelitian biologi molekuler terbaru menemukan bahwa seorang ibu mewariskan 75% unsur genetikanya kepada anak, sedangkan bapak hanya 25%. Oleh karena itu, sifat baik, kecerdasan, dan kesolehan seorang anak sangat ditentukan oleh sifat baik, kecerdasan dan kesolehan ibunya.

Apa yang disabdakan Rasulullah Muhammad SAW, ternyata memiliki kesesuaian dengan fakta ini.

Ketika seorang sahabat bertanya kepada Baginda Nabi, mana yang harus diprioritaskan seorang anak, apakah ibunya atau ayahnya, beliau pun menjawab, “Ibumu, ibumu, ibumu...lalu Ayah mu”. Proporsinya tiga berbanding satu ( 3 : 1 )

Mari kita lihat lebih jauh. Di dalam sel-sel manusia terdapat sebuah organel yang memiliki fungsi sangat strategis, namanya mitokondria.

Organel berbentuk bulat lonjong ini berongga, selaputnya terdiri atas dua lapis membran. Membran dalam bertonjolan ke dalam rongga (matriks) dan mengandung banyak enzim pernapasan.

Tugas utama mitokondria adalah memproduksi bahan kimia tubuh bernama ATP (adenosin triphosphat). Energi yang dihasilkan dari reaksi ATP inilah yang kemudian menjadi sumber energi bagi manusia.

Mitokondria bersifat semiotonom krn 40% kebutuhan protein dan enzim dihasilkan sendiri oleh gennya.

Mitokondria adalah salah satu bagian sel yang memiliki DNA sendiri, selebihnya dihasilkan gen di inti sel.

Sekali lagi, dan ini sangat menarik, mitokondria hanya diwariskan oleh ibu, tidak oleh bapak. Mengapa? Krn mitokondria berasal dr sel telur bukan dari sel sperma. Itulah sebabnya, investasi seorang ibu dalam diri anak mencapai 75%.

Kita dapat berkata, inilah “organel cinta” seorang ibu yang menghubungkan kita dengan Allah dan kesemestaan.

Tanpa kehadiran mitokondria, hidup menjadi hampa, tidak ada energi yang mampu menggelorakan semangat.

Tanpa mitokondria, kita tdk dpt melihat, mendengar, hingga akhirnya tdk bs membaca, mencerna dan merasa.

Oleh karena itu, kita jangan heran jika kontak batin antara ibu dan anaknya sangat kuat dan intens. Jarak sejauh apapun tidak bisa menghalangi sensitivitas hati seorang ibu.

Hal ini memperlihatkan adanya energi cinta yang menembus dimensi. Teori superstring yang kita ambil dr ilmu fisika bs sedikit memperjelas hal ini. Para ilmuwan di MIT, yang tergabung dalam kelompok 18, menemukan sebuah supersimetri, yaitu sebuah persamaan matematika yang menciptakan ruang di alam semesta tt terdiri atas 57 bentuk dalam 248 dimensi. Konsep supersimetri menyebutkan, andai dunia ini dibagi2 menjadi bentuk apapun, sebenarnya hanya ada satu titik yang melingkupinya.

Artinya, ilmu pengetahuan menemukan bahwa jarak itu tdk bs membatasi jiwa dan ruh yang bersemayam dalam satu titik yang sama.

Jika kita menggunakan konsep ini, dimana pun berada, hati seorang ibu selalu berada di titik yang sama.

Itulah sebabnya, apa yang dirasakan anak dan apa yang dirasakan ibu, bioelektriknya berada pada titik yang sama.

Mitokondrianya berada dalam posisi yang sama sehingga titik pertemuannya pun sama. Dengan kata lain, perasaan seorang ibu kepada anaknya bagaikan perasaan dia terhadap dirinya sendiri.

صلوا علي النبي محمد

FITNAH

FITNAH.

“Kyai, maafkanlah saya yang telah memfitnah pak  kyai dan ajarkan saya sesuatu yang bisa menghapuskan kesalahan saya ini.” Aku berusaha menjaga lisanku, tak ingin  sedikitpun menyebarkan kebohongan dan menyinggung perasaan kyai.

Kyai Husain terkekeh. “Apa kau serius?” Katanya.

Aku menganggukkan kepalaku dengan penuh keyakinan. “Saya serius, Kyai. Saya benar-benar ingin menebus kesalahan saya.”

Kyai Husain terdiam beberapa saat. Ia tampak berfikir. Aku sudah membayangkan sebuah doa yang akan diajarkan Kyai Husain kepadaku, yang jika aku membacanya beberapa kali maka Allah akan mengampuni dosa-dosaku. Aku juga membayangkan sebuah laku, atau tirakat, atau apa saja yang bisa menebus kesalahan dan menghapuskan dosa-dosaku. Beberapa jenak kemudian, Kyai Husain mengucapkan sesuatu yang benar-benar di luar perkiraanku. Di luar perkiraanku—

“Apakah kau punya sebuah kemoceng di rumahmu?” Aku benar-benar heran Kyai Husain justru menanyakan sesuatu yang tidak relevan untuk permintaanku tadi.

“Maaf, Kyai?” Aku berusaha memperjelas maksud kyai Husain.

Kyai Husain tertawa, seperti kyai Husain yang biasanya. Diujung tawanya, ia sedikit terbatuk. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, ia menghampiriku, “Ya, temukanlah sebuah kemoceng di rumahmu,” katanya.

Tampaknya Kyai Husain benar-benar serius dengan permintaannya. “Ya, saya punya sebuah kemoceng di rumah, Kiai. Apa yang harus saya lakukan dengan kemoceng itu?”

Kyai Husain tersenyum.

“Besok pagi, berjalanlah dari rumahmu ke pondokku,” katanya, “Berjalanlah sambil mencabuti bulu-bulu dari kemoceng itu. Setiap kali kau mencabut sehelai bulu, ingat-ingat perkataan burukmu tentang aku, lalu jatuhkan di jalanan yang kau lalui.”

Aku hanya bisa mengangguk. Aku tak akan membantahnya. Barangkali maksud kyai Husain adalah agar aku merenungkan kesalahan-kesalahanku. Dan dengan menjatuhkan bulu-bulunya satu per satu, maka kesalahan-kesalahan itu akan gugur diterbangkan waktu…

“Kau akan belajar sesuatu darinya,” kata kyai Husain. Ada senyum yang sedikit terkembang di wajahku.

***

Keesokan harinya, aku menemui Kyai Husain dengan sebuah kemoceng yang sudah tak memiliki sehelai bulupun pada gagangnya. Aku segera menyerahkan gagang kemoceng itu pada beliau.

“Ini, Kyai, bulu-bulu kemoceng ini sudah saya jatuhkan satu per satu sepanjang perjalanan. Saya berjalan lebih dari 5 km dari rumah saya ke pondok ini. Saya mengingat semua perkataan buruk saya tentang Kiai. Saya menghitung betapa luasnya fitnah-fitnah saya tentang Kiai yang sudah saya sebarkan kepada begitu banyak orang. Maafkan saya, kyai. Maafkan saya…”

Kyai Husain mengangguk-angguk sambil tersenyum. Ada kehangatan yang aku rasakan dari raut mukanya. “Seperti aku katakana kemarin, aku sudah memaafkanmu. Barangkali kau hanya khilaf dan hanya mengetahui sedikit tentangku. Tetapi kau harus belajar seusatu…,” katanya.

Aku hanya terdiam mendengar perkataan Kyai Husain yang lembut, menyejukkan hatiku.

“Kini pulanglah…” kata Kyai Husain.

Aku baru saja akan segera beranjak untuk pamit dan mencium tangannya, tetapi Kiai Husain melanjutkan kalimatnya, “Pulanglah dengan kembali berjalan kaki dan menempuh jalan yang sama dengan saat kau menuju pondokku tadi…”
Aku terkejut mendengarkan permintaan kyai Husain kali ini, apalagi mendengarkan “syarat” berikutnya: “Di sepanjang jalan kepulanganmu, pungutlah kembali bulu-bulu kemoceng yang tadi kaucabuti satu per satu. Esok hari, laporkan kepadaku berapa banyak bulu yang bisa kau kumpulkan.”

Aku terdiam. Aku tak mungkin menolak permintaan Kyai Husain.

“Kau akan mempelajari sesuatu dari semua ini,” tutup Kyai Husain.

***

Sepanjang perjalanan pulang, aku berusaha menemukan bulu-bulu kemoceng yang tadi kulepaskan di sepanjang jalan. Hari yang terik. Perjalanan yang melelahkan. Betapa sulit menemukan bulu-bulu itu. Mereka tentu saja telah tertiup angin, atau menempel di sebuah kendaraan yang sedang menuju kota yang jauh, atau tersapu ke mana saja ke tempat yang kini tak mungkin aku ketahui.

Tapi aku harus menemukan mereka! Aku harus terus mencari ke setiap sudut jalanan, ke gang-gang sempit, ke mana saja!

Aku terus berjalan.

Setelah berjam-jam, aku berdiri di depan rumahku dengan pakaian yang dibasahi keringat. Nafasku berat. Tenggorokanku kering. Di tanganku, kugenggam lima helai bulu kemoceng yang berhasil kutemukan di sepanjang perjalanan.

Hari sudah menjelang petang. Dari ratusan yang kucabuti dan kujatuhkan dalam perjalanan pergi, hanya lima helai yang berhasil kutemukan dan kupungut lagi di perjalanan pulang. Ya, hanya lima helai. Lima helai.

***

Hari berikutnya aku menemui Kyai Husain dengan wajah yang murung. Aku menyerahkan lima helai bulu kemoceng itu pada Kyai Husain. “Ini, Kyai, hanya ini yang berhasil saya temukan.” Aku membuka genggaman tanganku dan menyodorkannya pada Kyai Husain.

Kyai Husain terkekeh. “Kini kau telah belajar sesuatu,”katanya.

Aku mengernyitkan dahiku. “Apa yang telah aku pelajari, Kyai?” Aku benar-benar tak mengerti.

“Tentang fitnah-fitnah itu,” jawab kyai Husain.

Tiba-tiba aku tersentak. Dadaku berdebar. Kepalaku mulai berkeringat.

“Bulu-bulu yang kaucabuti dan kaujatuhkan sepanjang perjalanan adalah fitnah-fitnah yang kausebarkan. Meskipun kau benar-benar menyesali perbuatanmu dan berusaha memperbaikinya, fitnah-fitnah itu telah menjadi bulu-bulu yang beterbangan entah kemana. Bulu-bulu itu adalah kata-katamu. Mereka dibawa angin waktu ke mana saja, ke berbagai tempat yang tak mungkin bisa kau duga-duga, ke berbagai wilayah yang tak mungkin bisa kauhitung!” 

Tiba-tiba aku menggigil mendengarkan kata-kata Kiai Husain. Seolah-olah ada tabrakan pesawat yang paling dahsyat di dalam kepalaku. Seolah-olah ada hujan mata pisau yang menghujam jantungku. Aku ingin menangis sekeras-kerasnya. Aku ingin mencabut lidahku sendiri.

“Bayangkan salah satu dari fitnah-fitnah itu suatu saat kembali pada dirimu sendiri… Barangkali kau akan berusaha meluruskannya, karena kau benar-benar merasa bersalah telah menyakiti orang lain dengan kata-katamu itu. Barangkali kau tak tak ingin mendengarnya lagi. Tetapi kau tak bisa menghentikan semua itu! Kata-katamu yang telah terlanjur tersebar dan terus disebarkan di luar kendalimu, tak bisa kau bungkus lagi dalam sebuah kotak besi untuk kau kubur dalam-dalam sehingga tak ada orang lain lagi yang mendengarnya. Angin waktu telah mengabadikannya.”
“Fitnah-fitnah itu telah menjadi dosa yang terus beranak-pinak tak ada ujungnya. Agama menyebutnya sebagai dosa jariyah. Dosa yang terus berjalan diluar kendali pelaku pertamanya. Maka tentang fitnah-fitnah itu, meskipun aku atau siapapun saja yang kau fitnah telah memaafkanmu sepenuh hati, fitnah-fitnah itu terus mengalir hingga kau tak bisa membayangkan ujung dari semuanya. Bahkan meskipun kau telah meninggal dunia, fitnah-fitnah itu terus hidup karena angin waktu telah membuatnya abadi. Maka kau tak bisa menghitung lagi berapa banyak fitnah-fitnah itu telah memberatkan timbangan keburukanmu kelak.”

Tangisku benar-benar pecah. Aku tersungkur di lantai.
“Astagfirulloh hal-adzhim… Astagfirullohal-adzhim…
Astagfirulloh hal-adzhim…”
Aku hanya bisa terus mengulangi istighfar. Dadaku gemuruh. Air mata menderas dari kedua ujung mataku.

“Ajari saya apa saja untuk membunuh fitnah-fitnah itu, Kyai. Ajari saya! Ajari saya! Astagfirulloohal-adzhim…” Aku terus menangis menyesali apa yang telah aku perbuat.

Kyai Husain tertunduk. Beliau tampak meneteskan air matanya.“ Aku telah memaafkanmu setulus hatiku, Nak,” katanya, “Kini, aku hanya bisa mendoakanmu agar Allah mengampunimu, mengampuni kita semua. Kita harus percaya bahwa Allah, dengan kasih sayangnya, adalah zat yang maha terus menerus menerima taubat manusia… Innallooha tawwaabur-rahiim...”

Aku disambar halilintar jutaan megawatt yang mengguncangkan batinku! Aku ingin mengucapkan sejuta atau semiliar istighfar untuk semua yang sudah kulakukan! Aku ingin membacakan doa-doa apa saja untuk menghentikan fitnah-fitnah itu!

11/05/2016

Prof.Mahfud MD dan pendapatnya tentang Do'a

DO'A 

Diceritakan oleh Prof. Mahfud MD pada awal Ramadhan, empat tahun yg lalu pada ceramah malam pertama tarawih yg  diberikan beliau ketika masih Ketua MK.

Ceritanya adalah mengenai seorang lelaki tua tukang becak yg sanggup menyekolahkan anak2nya hingga menjadi orang. Di atas kertas, sebenarnya muskil baginya untuk bisa mengantarkan anak2nya sekolah hingga perguruan tinggi. Namun kemustahilan itu toh terlampaui juga.

Mahfud, yg mengenal lelaki itu, tentu saja penasaran. "Bagaimana bisa Bapak sanggup melakukan semua itu, apa yg sudah Bapak lakukan untuk anak2?!" kurang lebih, begitu pertanyaannya pada lelaki itu.

Dengan bahasa Jawa halus, lelaki itu menjawab tatag, "Saya hanya berusaha menjalankan pekerjaan saya dgn sebaik2nya, Pak."

"Mosok hanya itu, Pak?" Mahfud masih penasaran. Ia berharap ada rahasia lain yg disimpan oleh lelaki itu.

Karena didesak, dengan wajah malu2 akhirnya lelaki sepuh itu menjawab, "Sejak masih muda, saya rutin mengamalkan sebuah doa, Pak," ujarnya.

"Wah, doa apa itu?" Mahfud jadi kian penasaran.

"Nganu, Pak, doanya cuma pendek saja. Lha wong saya saja tidak banyak belajar agama," aku si lelaki pengayuh becak, sembari tersipu.

"Panjang dan pendeknya doa itu tidak masalah, Pak. Wah, tapi doanya bagaimana ya, itu?!" Pokoknya Mahfud semakin penasaran.

"Setiap kali saya mengayuh becak, sejak muda dulu, pada setiap kayuhan saya selalu membaca doa ini, 'lawala wala kuwata'. Nggih, ming mekaten," ujar si pengayuh becak. Kali ini raut mukanya penuh kebanggaan.

Mahfud MD. kontan tercenung. Sbg lulusan pondok, ia tahu bahwa yg dimaksud oleh lelaki tua pengayuh becak itu sebenarnya adalah bacaan 'hauqalah', yg aslinya berbunyi "laa haula wala quwwata illa billah" (tiada daya upaya kecuali karena Allah). Hanya, karena lelaki tua itu tak pernah belajar mengaji, maka ia hanya mengingat bacaan itu dalam redaksi yg lain, semampu yg didengarnya saja.

Tapi bayangkan, sungguh Allah memang Maha Pemurah dan Maha Pengasih, ujar Mahfud. "Bahkan sebuah dzikir yang redaksinya keliru pun diijabah-Nya," kelakar Mahfud dalam ceramahnya.

Sahabat...
Memang, bukankah nilai sebuah doa tak terletak pada susunan redaksionalnya?! Bukankah Yang Kuasa tak mungkin keliru mendengar atau memahami maksud hambaNya?!

Tapi kita, yg fakir ini, masih saja gemar mempertengkarkan soal kemasan dan redaksional, sehingga sering jadi kehilangan esensi (niat dan ketulusan hati yaitu terbebas dari riyak dan sombong).

Sadar akan Allah diatas segalanya, termasuk dalam hal diterimanya/tidak suatu amal Ibadah.... yg tidak sesuai dimata kita belum tentu tidak sesuai di mata Allah... bersihkan hati kita dari perasangka buruk dan mudah menghakimi orang lain, sebaiknya kita lebih waspada apakah amalan yg Allah beri kekuatan untuk kita lakukan sudah diterima atau belum dari pada kita sibuk memikirkan amalan orang lain. Wallahu a'lam. Semoga bermanfaat.

Barakallah

Hakikat doa itu bukan pada bahasanya, bukan pula pada lafalnya,
tapi... pada tulusnya hati pengucapnya.

05/05/2016

Dialog Iblis dan Fir'aun

ORANG YANG LEBIH BURUK DARI IBLIS DAN FIR'AUN

Suatu hari Iblis mendatangi Fir'aun dan berkata, "Apakah kau mengenaliku?"

"Ya," sahut Fir"aun.

"Kau telah mengalahkanku dalam satu hal." Sambung iblis

"Apa itu?" Tanya Fir'aun penasaran.

"Kelancanganmu mengaku sebagai tuhan. Sungguh, aku lebih tua darimu, juga lebih berpengetahuan dan lebih kuat ketimbang dirimu. Tapi aku tidak berani melakukannya."

"Kau benar. Tapi aku akan bertobat," kata Fira’un.

"Jangan buru-buru begitu," bujuk Iblis la'natullah 'alaih, "Penduduk Mesir sudah menerimamu sebagai tuhan. Jika kau bertobat, mereka akan meninggalkanmu, merangkul musuh-musuhmu, dan menghancurkan kekuasaanmu, hingga kau tesungkur dalam kehinaan."

"Kau benar," jawab Fir’aun, "Tapi, apakah kau tahu siapa penghuni muka bumi ini yang lebih buruk dari kita berdua?"

Kata Iblis, "Ya. Orang yang tidak mau menerima permintaan maaf orang lain. Orang itu lebih buruk dariku dan darimu."

Dikisahkan dari kitab an-Nawadir karya Syekh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah al-Mishri al-Qulyubi asy-Syafi‘i halaman. 57 (cetakan surabaya haramain)