Showing posts with label Ansor. Show all posts
Showing posts with label Ansor. Show all posts

17/05/2016

Pilgub Jatim dan Make UP Harlah

Pilgub Jatim dan Aneka Harlah
 
Walaupun Pilgub Jatim masih dua tahun lagi,  tapi atmosfirnya sudah terasa beberapa waktu ini.Disadari atau tidak, warga Nahdliyin yang merupakan basis masa terkuat di Jatim sudah masuk pada pusaran Pilgub tersebut.

Hal ini karena kader-kader terbaik NU menjadi peserta kontestasi. Malah dari sekian nama yang santer dibicarakan, empat diantaranya adalah kader NU; Khofifah Indarparawansyah, Syaifulloh Yusuf, Halim Iskandar, dan Azwar Anas. Satu sisi ini positif karena peluang kader NU menjadi Gubernur di Jatim, besar, di lain sisi kalau tidak dikelola dengan baik, ini akan menimbulkan potensi konflik antar warga NU.

Seingat saya, yang menabuh genderang pertama adalah Halim dengan jargon holopis kuntul baris-nya. Semangat holopis sendiri sudah mulai didengungkan secara resmi dalam Rakernas PKB pada awal Februari 2016 lalu. Presiden RI,  Jokowi hadir ketika itu. Holopis ini kemudian menjadi jargon resmi untuk mengusung Halim di Pilgub Jatim.

Situasi kemudian terus bergulir, pada bulan Maret, Muslimat NU mengadakan puncak Harlahnya di Malang. Aroma politik langsung menyengat, kenapa puncak Harlah Muslimat diadakan di Jatim? Jawabannya sederhana, karena Khofifah kemungkinan akan maju lagi di Pilgub Jatim. Dalam kesempatan ini Presiden RI, Jokowi juga hadir.

Saking membludaknya acara ini, sampai polisi memberikan peringatan kepada warga luar Malang agar tidak berkunjung ke Malang pada hari itu, karena diprediksikan seluruh akses menuju Malang akan macet. Acara ini juga dipermanis dengan pencatatan rekor Muri; perempuan menggunakan kerudung putih terbanyak, dan deklarasi laskar anti Narkoba Muslimat NU. Tidak ada deklarasi Khofifah maju Jatim 1 memang, tapi tanpa diberitahukan kita semua sudah mafhum.

Nah, sampai di sini kader NU yang di Ansor dan Banser belum terlibat jauh. Keterlibatan ansor dan Banser hanya sebatas sebagai undangan dan pengawal rombongan Muslimat menuju Malang. Eh, tiba-tiba, tidak ada hujan tidak ada angin, PAC Ansor Jombang Kota dalam acara rutin Rijalul Ansornya, pada 15 April mengangkat tema “Fiqih siasyah dusturiyah”, yang menghadirkan “kru holopis” setempat. Acara ini yang mencuat kemudian holopisnya, bukan fiqih siyasyahnya.

Polemik kemudian muncul secara dahsyat. PAC Ansor Jombang Kota digugat, tertutama oleh struktur di atasnya,  dengan tuduhan mencederai muru’ah Ansor.

Setelah polemik dan gugat-menggugat tersebut reda, 15 hari kemudian, pada 30 April ada undangan  Harlah NU ke 93 di Taman Wilwatikta Pasuruan, sekaligus “pernyataan dukungan terhadap lahirnya Pancasila pada 1 Juni”. Yang mengundang adalah (kalau tidak salah?) PW Ansor Jatim. Rombongan Banser dan Ansor, serta NU diberangkatkan dengan upacara yang patriotik di halaman Masjid Agung Jombang, lengkap dengan deklarasi pembubaran HTI. Karena nuansa ketika itu memang sedang kuat-kuatnya perlawanan pada gerakan HTI yang menolak Pancasila dan NKRI.

Sesampainya di lokasi, semua mata tercengang. Apa benar ini Harlah NU? Kenapa yang dijalan-jalan lebih banyak bendera PDI-P nya? Partisipan PDI-P juga sudah membanjiri arena. Ini Banser sudah kadung berseragam lengkap, Ansornya juga. Kita ini tamu di acara orang, atau peserta di acara NU sendiri? Tanda tanya mulai bermunculan.

Satu-satu mulai terjawab. Walaupun kemasannya adalah Harlah NU, tapi sebenarnya ini adalah “resepsi pernikahan” Gus Ipul dengan PDI-P menyongsong Pilgub Jatim. Acara ini dihadiri juga oleh KH. Said Aqil, Ketua PBNU, dan KH. Hasan Mutawakil Alallah, Ketua PWNU Jatim. Dan juga yang tidak boleh ketinggalan, dihadiri pula oleh Presiden RI (tapi) yang ke-5, Megawati Soekarno Putri. Tidak ada yang menggugat, selain hanya gremang-gremeng. Mau menggugat ke siapa? Siape looh.

Tepat 15 hari berikutnya, PC Fatayat Jombang kolaborasi PC Ansor Jombang mengadakan Harlah, masing-masing yang ke-66 dan ke-82. Sampai di sini nampak bahwa mengadakan Harlah sudah menjadi hobi (Hehehe.., maaf). Sebagaimana dua Harlah terdahulu, Harlah yang membuat GOR Jombang penuh  ini juga dibumbui dengan kegiatan tambahan, yaitu pelantikan ranting Fatayat  se-Jombang, dan Lounching Lembaga Bantuan Hukum Ansor Jombang. Heemm…, boleh juga.

Tapi jangan lupa, bahwa Gus Ipul juga di-HADIRKAN di sini. Apakah dalam kapasitasnya sebagai Wagub? Ya, setidaknya itu tercermin dalam sambutannya di awal-awal. Tapi berikutnya, kampanye juga.

Apa bedanya menghadirkan Holopis di Rijalul Ansor dan menghadirkan Gus Ipul di Harlah Ansor? Bedanya, menghadirkan Holopis di Rijalul Ansor mencederai muru’ah Ansor, sedangkan menghadirkan Gus Ipul menyenangkan karena membawa hiburan gambus dan penyanyi Charlie. Ndak-ndak, mendatangkan Holopis berarti bermain politik yang tidak cantik, karena tidak dapat apa-apa, sedangkan mendatangkan Gus Ipul bermain politik cantik, karena dapat penyanyi dan dapat kopi.

Sahabat, saya sendiri belum menentukan pilihan akan memilih siapa pada Pilgub Jatim 2018 kelak, Holopis kah?  Gus Ipul kah? Atau calon yang lain kah. Tapi satu yang pasti, bahwa sebagai kader Nahdliyin, saya akan memilih kader Nahdliyin juga, meskipun mungkin nanti ada calon lain yang lebih baik. Selebihnya, dalam hal berpolitik, mari kita belajar berdewasa bersama, tanpa mengkerdilkan hak politik sesama.
 
M. Fathoni Mahsun

25/04/2016

Kembalikan Hari Ahad

KEMBALIKAN MENJADI "AHAD"

Kalau kita perhatikan beberapa file majalah dan koran edisi Indonesia periode tempo dulu sekitar jauh sebelum tahun 1935 sampai dengan menjelang tahun 1960, kita tidak akan menemukan nama hari bertuliskan "Minggu" selalu kita temukan dengan nama hari "Ahad". Begitu juga apabila kita melihat penanggalan kalender tempo dulu, masyarakat Indonesia tidak mengenal sebutan Minggu. Kita semua sepakat bahwa kalender atau penanggalan di Indonesia telah terbiasa-terbudaya untuk menyebut hari Ahad didalam setiap pekan (7 hari) dan telah berlaku sejak periode yang cukup lama. Bahkan telah menjadi ketetapan didalam Bahasa Indonesia. Lalu mengapa kini sebutan hari Ahad berubah menjadi hari Minggu tanpa kita semua sadari sudah tergantikan ? Kelompok dan kekuatan siapakah yang mengubahnya ? Sejak kapan penggantian Ahad menjadi Minggu ? Apa dasar penggantian Ahad menjadi Minggu ? Resmikah dan mendapat kesepakatankah pergantian nama hari tersebut ? Inilah pertanyaan yang bisa timbul setelah adanya perubahan Ahad menjadi Minggu secara halus penuh kelicikan terselubung dan terencana yang tidak disadari oleh banyak masyarakat Indonesia sejak 1960 hingga memasuki awal abad ke 20.

Kita ketahui bersama, bahwa nama-nama hari yang telah resmi dan kokoh tercantum kedalam penanggalan Indonesia sejak sebelum zaman penjajahan Belanda dahulu, adalah dengan sebutan : Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum'at, Sabtu. Nama-nama hari ini sudah menjadi kebiasaan terpola dalam semua kerajaan di Indonesia. Semua ini adalah karena jasa positif interaksi budaya secara elegan nan damai dan besarnya pengaruh masuknya agama Islam ke Indonesia yang membawa penanggalan Arab. Pengaruh positip dari agama Islam di Indonesia yang telah banyak memperkaya dan mempengaruhi kosa kata dalam bahasa Indonesia. Seperti : Ahad (al-Ahad=hari kesatu), Senin (al-Itsnayn=hari kedua), Selasa (al-Tsalaatsa'=hari ketiga), Rabu (al-Arba'aa=hari keempat), Kamis (al-Khamsatun=hari kelima), Jum'at (al-Jumu'ah=hari keenam=hari berkumpul/berjamaah), Sabtu (as-Sabat=hari ketujuh).

Dalam beberapa masukan, Minggu berasal dari bahasa Portugis dengan kata Domingo dan dalam dialek Melayu menjadi sebutan Dominggu. Ada lagi mengatakan berasal dari nama seorang tokoh agama tertentu di Indonesia bernama Domingo, lalu dipelesetkan menjadi Dominggu. Karena si Domingo mungkin sangat berjasa, maka diupayakanlah secara maksimal didalam intern terlebih dahulu hari Ahad diganti menjadi hari Minggu. Tentang adanya strategi yang mensosialisasikan Minggu pada tingkat Nasional, ini memerlukan penelitian tersendiri bagaimana hal ini bisa terjadi. Ada yang mengatakan dengan dana tertentu yang cukup besar berasal dari luar Indonesia, membuat monopoli pencetakan kalendar selama bertahun-tahun di Indonesia lalu dibagikan secara gratis atau dijual secara sangat murah. Dampaknya adalah masyarakat Indonesia secara tidak sadar kata hari Ahad telah berganti menjadi Minggu didalam penanggalan Indonesia. Tentu anda sekalian agak terhenyak dan sedikit terkejut, apakah upaya menihilkan kata hari Ahad dalam kalender Indonesia begitu penting dan strategis?

Jawabannya untuk upaya menihilkan kata Ahad bagi ummat Islam adalah penting, karena kata Ahad mengingatkan kita kepada nama Allah SWT yang Maha Ahad sama dengan Maha Tunggal, Maha Satu, Maha Esa Dia tidak beranak dan diperanakkan. Kata Ahad dalam Islam adalah sebagai bagian sifat Allah SWT yang penting mengandung makna utuh melambangkan kenyataan yang hak ke-Maha-Esa-an Allah SWT. Selanjutnya mengingatkan kita kepada Al Qur'an Surat (QS. 2:116,163 ; 3:2 ; 6:161-164 ; 9:31 ; 25:2 ; 42:11 ; 112:1-4). Menihilkan kata hari Ahad adalah upaya terselubung dari beberapa kelompok tertentu untuk menunjukkan adanya eksistensi mereka dan pengaruh kelompok tertentu bisa dan sukses mempengaruhi nama hari dalam khasanah budaya Indonesia serta unjuk sukses menggusur salah satu nama hari di Indonesia untuk jangka panjang. Bisa saja hari Senin, Selasa, Rabu dan berikutnya dalam jangka panjang dirubah kembali oleh kelompok pemaksa budaya tertentu seperti nasibnya hari Ahad dengan cara yang sama.

Apabila selama ini kita menyebut 7 (tujuh) hari dalam sebulan dengan seminggu (salah menurut Kamus Bahasa Indonesia), maka yang sangat baik dan benar dalam bahasa Indonesia adalah sepekan. Perkataan dan sebutan Minggu ini, Minggu depan, untuk memaksudkan tujuh hari ini dan kedepan, harus se-segera mungkin kita ubah ke-dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar menjadi Pekan ini, Pekan depan, hari Minggu depan yang dimaksudkan dengan nama hari, menjadi hari Ahad depan.

Penulis berharap kepada semua pembaca bisa menyadari bahwa tulisan ini bertujuan untuk mengembalikan predikat hari Ahad kembali kepada tempatnya semula, kembali kepada padanannya semula dengan nama hari lainnya. Tentu semua masyarakat Indonesia harus aktif membudayakan nama hari Ahad kembali didalam setiap surat-menyurat, dalam setiap penerbitan kalender dan dalam berbagai surat undangan lainnya, dalam berbagai tulisan dalam arti luas.

~ Ashwin Pulungan

Kejamnya Kaum Munafik

Ucapan KH. Said Aqil Dipelintir Oleh Arrahmah dan Voa-Islam

Seperti biasanya, penggembosan terhadap tokoh Nahdlatul Ulama (NU) dilakukan oleh media-media radikal untuk melancarkan serangannya. Tokoh yang sering digembosi lalu diblow up media mereka adalah KH. Said Aqil Siradj, Ketua Umum PBNU. Tujuannya tentu untuk melemahkan ormas terbesar di Indonesia tersebut karena ormas NU gencar menghadang faham radikal beragama yang diusung oleh media-medianya seperti Arrahmah.Com, Voa-Islam.Com, Nahimunkar.com, dan lain-lain.

Minggu, 12 Mei 2013 situs media islam online Arrahmah.Com menurunkan judul berita yang sangat tendensius, provokatif dan tidak sesuai dengan kenyataan: Ketua PBNU Said Aqil Siradj: Cikal bakal teroris itu rajin shalat malam, puasa dan hafal Qur'an. Di lain pihak media saudara kandungnya, Voa-Islam.Com menulis judul yang tak jauh beda: "PBNU: Cikal Bakal Teroris itu Rajin Shalat Malam, Puasa & Hafal Quran". Beberapa saat kemudian tulisan artikel tersebut di copy oleh beberapa media islam yang lain, terutama oleh media-media yang membenci terhadap Nahdlatul Ulama seperti Nahimunkar.Com dan lain-lain.

Apa yang orang fikirkan ketika membaca judul tersebut? tentu saja orang (orang awam -red.) akan menyimpulkan bahwa KH. Said Aqil Siradj itu terlalu tendensius terhadap islam, tidak menghargai agama Islam, tidak menghargai orang yang rajin shalat malam, puasa, dan hafal al-qur'an. Bahkan ada yang menyebutnya, "Apakah Said Aqil ini tidak pernah shalat malam, tidak pernah puasa, tidak hafal Al-Qur'an?". Tentu saja ini misi penyesatan terhadap umat yang dilakukan oleh media yang sangat hasud terhadap Nahdlatul Ulama, terutama ketua umumnya KH. Said Aqil Siradj.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof. Dr. K.H. Said Aqil Siradj, M.A., mengungkapkan bahwa cikal bakal pemahaman radikalisme dan terorisme sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabat. Ia pun menceritakan sosok Dzulkhuwaisir, yang begitu sombong menyuruh Rasulullah berbuat adil.

“Nanti dari umatku akan muncul seperti orang ini, hafal Qur’an, dalilnya Qur’an tapi tidak melewati tenggorokannya. Artinya tidak paham secara substansif. Mereka itu sejelek-jelek manusia bahkan lebih jelek daripada binatang. Saya tidak termasuk mereka, mereka tidak termasuk kami,” kata Said Aqil Siradj saat menjadi narasumber Dialog Ormas-ormas Islam dalam Mempertahankan NKRI, di Sahid Hotel, Jakarta Pusat, pada Sabtu (11/5/2013).

Coba kita perhatian baik-baik pernyataan Ketua PBNU Said Aqil Siradj:

“Nanti dari umatku akan muncul seperti orang ini, hafal Qur’an, dalilnya Qur’an tapi tidak melewati tenggorokannya. Artinya tidak paham secara substansif. Mereka itu sejelek-jelek manusia bahkan lebih jelek daripada binatang. Saya tidak termasuk mereka, mereka tidak termasuk kami…. Prediksi Rasulullah ini terbukti tahun 40 H, Sayyidina Ali keluar dari rumahnya mengimami shalat Shubuh dibunuh, bukan oleh orang Kristen, bukan oleh orang Katholik, bukan oleh orang Hindu, bukan oleh orang nonmuslim. Yang membunuh Abdurrahman bin Muljam, qaimul lail, shaimun nahar, hafizhul Qur’an. Yang membunuh Sayyidina Ali ini tiap hari puasa, tiap malam Tahajjud, dan hafal Qur’an.”

Apa yang dikatakan Ketua PBNU Said Aqil Siradj itu tidak tendensius bagi kaum muslimin.

Bahwa sering mendirikan shalat malam, berpuasa di siang hari, dan hafal Al-Qur’an, adalah di antara gambaran seorang muslim yang taat, itu memang benar. Namun, tidak demikian dengan Khawarij. Mereka juga sering mendirikan shalat malam, berpuasa di siang hari, dan hafal Al-Qur’an, tapi tidak memahami ajaran Al-Qur’an secara substansif. Sebagaimana dikatakan Ketua PBNU Said Aqil Siradj, mengutip sabda Nabi Muhammad SAW, “Nanti dari umatku akan muncul seperti orang ini, hafal Qur’an, dalilnya Qur’an tapi tidak melewati tenggorokannya (tidak memahami ajaran Al-Qur’an secara substansif).” Akibatnya, ya itu tadi, bahkan Sayyidina Ali, yang nota bene seorang khalifah Islam, pun dibunuh oleh Khawarij.

Apa yg dikatakan KH. Said Aqil Siradj sebagaimana dijelaskan di dalam Kitab Majma’ Az-Zawaid wa Manba’ Al-Fawaid karya Al-Hafizh Nuruddin Ali bin Abu Bakar bin Sulaiman Al-Haitsami Al-Mishri pentahqiq Muhammad Abdul Qadir Ahmad ‘Atho penerbit Darr Al-Kutub Al-Ilmiah Beirut Libanon cetakan pertama 2001/1422 H juz 6 hal. 241-242 sbb:

10400 – وعن أبي سعيد الخدري أن أبا بكر الصديق جاء إلى النبي صلى الله عليه و سلم فقال : يا رسول الله إني بواد كذا وكذا فإذا رجل متخشع حسن الهيئة يصلي . فقال له النبي صلى الله عليه و سلم : ” اذهب فاقتله ” . ص . 336

قال : فذهب إليه أبو بكر فلما رآه على تلك الحال كره أن يقتله فرجع إلى رسول الله صلى الله عليه و سلم فقال النبي صلى الله عليه و سلم لعمر : ” اذهب فاقتله ” . فذهب عمر فرآه على الحال الذي رآه أبو بكر فرجع فقال : يا رسول الله إني رأيته يصلي متخشعا فكرهت أن أقتله . قال : ” يا علي اذهب فاقتله ” . فذهب علي فلم يره فرجع علي فقال : يا رسول الله إني لم أره . قال : فقال النبي صلى الله عليه و سلم : ” إن هذا وأصحابه يقرؤون القرآن لا يجاوز تراقيهم يمرقون من الدين كما يمرق السهم من الرمية ثم لا يعودون فيه حتى يعود السهم في فوقه فاقتلوهم هم شر البرية ” رواه أحمد ورجاله ثقات
10400- Dari Abu Said Al-Khudzri, sesungguhnya Abu Bakar As-Siddiq datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, ‘Ya Rasulullah, sesungguhnya aku dilembah itu dan itu, maka seketika ada seorang lelaki sedang dalam keadaan khusyu’ shalat.’ Maka bersabdalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadanya, “Pergilah dan bunuhlah dia.” Berkata (Abu Sa’id Al-Khudzri), maka pergilah Abu Bakar dan ketika dia melihnya dalam keadaan itu (sedang shalat) maka Abu Bakar enggan membunuhnya dan kembali kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka bersabdalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Umar bin Khathab, “Pergilah dan bunuhlah dia.” Maka pergilah Umar bin Khathab, ketika dia melihnya dalam keadaan seperti itu (sedang shalat) sebagaimana yang dilihatnya oleh Abu Bakar maka dia kembali dan berkata, ‘Ya Rasulullah, aku melihatnya dia sedang khusyu’ shalat, maka aku enggan membunuhnya.’ Nabi bersabda, “Hai Ali, pergi dan bunuhlah dia.” Maka pergilah Ali dan tidak melihatnya kemudian Ali pulang dan berkata, ‘Wahai Rasulullah aku tidak melihatnya.’ Berkata (Abu Sa’id Al-Khudzri) maka Nabi Shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya ini (orang) dan teman-temannya mereka membaca Al-Quran tetapi tidak melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya kemudian mereka tidak akan kembali didalamnya sehingga anak busur bisa kembali ketempatnya, maka BUNUHLAH (PERANGILAH) MEREKA, mereka adalah SEJELEK-JELEK CIPTAAN (manusia).” (HR. Ahmad dan rijalnya kuat) [Majma’ Az-Zawaid juz 6 hal. 241]

10401– وعن أنس بن مالك قال : كان رجل على عهد رسول الله صلى الله عليه و سلم يغزو مع رسول الله صلى الله عليه و سلم فإذا رجع وحط عن راحلته عمد إلى مسجد الرسول فجعل يصلي فيه فيطيل الصلاة حتى جعل أصحاب رسول الله صلى الله عليه و سلم يرون أن له فضلا عليهم فمر يوما ورسول الله صلى الله عليه و سلم قاعد في أصحابه فقال له بعض أصحابه : يا رسول الله هو ذاك الرجل فإما أرسل إليه نبي الله صلى الله عليه و سلم وإما جاء من قبل نفسه فلما رآه رسول الله صلى الله عليه و سلم مقبلا قال : ” والذي نفسي بيده إن بين عينيه سفعة من الشيطان ” . فلما وقف على المجلس قال له رسول الله صلى الله عليه و سلم : ” أقلت في نفسك حين وقفت على المجلس : ليس في القوم خير مني ؟ ” . قال : نعم ثم انصرف فأتى ناحية من المسجد فخط خطا برجله ثم صف كعبيه فقام يصلي فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ” أيكم يقوم إلى هذا فيقتله ؟ ” . فقام أبو بكر فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ” أقتلت الرجل ؟ ” . فقال : وجدته يصلي فهبته . ص . 337

فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ” أيكم يقوم إلى هذا فيقتله ؟ ” . فقال عمر : أنا . وأخذ السيف فوجده يصلي فرجع . فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم لعمر : ” أقتلت الرجل ؟ ” . فقال : يا رسول الله وجدته يصلي فهبته . فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم : أيكم يقوم إلى هذا فيقتله ؟ ” . قال علي : أنا قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ” أنت له إن أدركته ” . فذهب علي فلم يجده قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ” أقتلت الرجل ؟ ” . قال : لم أدر أين سلك من الأرض . فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ” إن هذا أول قرن خرج في أمتي ” . قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ” لو قتلته – أو قتله – ما اختلف في أمتي اثنان إن بني إسرائيل تفرقوا على إحدى وسبعين فرقة وإن هذه الأمة – يعني أمته – ستفترق على ثنتين وسبعين فرقة كلها في النار إلا فرقة واحدة ” . قلنا : يا نبي الله من تلك الفرقة ؟ قال : ” الجماعة “

قال يزيد الرقاشي : فقلت لأنس : يا أبا حمزة فأين الجماعة ؟ قال : مع أمرائكم مع أمرائكم

رواه أبو يعلى . ويزيد الرقاشي ضعفه الجمهور وفيه توثيق لين وبقية رجاله رجال الصحيح

وقد صح قبله حديث أبي بكرة وأبي سعيد

10401- Dari Anas berkata : Ada seorang lelaki pada zaman Rasulullah berperang bersama Rasulullah dan apabila kembali (dari peperangan) segera turun dari kenderaannya dan berjalan menuju masjid nabi melakukan shalat dalam waktu yang lama sehingga kami semua terpesona dengan shalatnya sebab kami merasa shalatnya tersebut melebihi shalat kami, dan dalam riwayat lain disebutkan kami para sahabat merasa ta’ajub dengan ibadahnya dan kesungguhannya dalam ibadah, maka kami ceritakan dan sebutkan namanya kepada Rasulullah, tetapi rasulullah tidak mengetahuinya, dan kami sifatkan dengan sifat-sifatnya, Rasulullah juga tidak mengetahuinya, dan tatkala kami sednag menceritakannya lelaki itu muncul dan kami berkata kepada Rasulullah: Inilah orangnya ya Rasulullah. Rasulullah bersabda : ”Sesungguhnya kamu menceritakan kepadaku seseorang yang diwajahnya ada tanduk syetan. Maka datanglah orang tadi berdiri di hadapan sahabat tanpa memberi salam. Kemudian Rasulullah bertanya kepada orang tersebut : ” Aku bertanya kepadamu, apakah engkau merasa bahwa tidak ada orang yang lebih baik daripadamu sewaktu engkau berada dalam suatu majlis. ” Orang itu menjawab: Benar”. Kemudian dia segera masuk ke dalam masjid dan melakukan shalat dan dalam riwayat kemudian dia menuju tepi masjid melakukan shalat, maka berkata Rasulullah: ”Siapakah yang akan dapat membunuh orang tersebut ? ”. Abu Bakar segera berdiri menuju kepada orang tersebut, dan tak lama kembali. Rasul bertanya : Sudahkah engkau bunuh orang tersebut? Abu Bakar menjawab : ”Saya tidak dapat membunuhnya sebab dia sedang bersujud ”. Rasul bertanya lagi : ”Siapakah yang akan membunuhnya lagi? ”. Umar bin Khattab berdiri menuju orang tersebut dan tak lama kembali lagi. Rasul berkata: ”Sudahkah engkau membunuhnya ? Umar menjawab: ”Bagaimana mungkin saya membunuhnya sedangkan dia sedang sujud”. Rasul berkata lagi ; Siapa yang dapat membunuhnya ?”. Ali segera berdiri menuju ke tempat orang tersebut, tetapi orang terebut sudah tidak ada ditempat shalatnya, dan dia kembali ke tempat nabi. Rasul bertanya: Sudahkah engkau membunuhnya ? Ali menjawab: ”Saya tidak menjumpainya di tempat shalat dan tidak tahu dimana dia berada. ” Rasulullah saw melanjutkan: ”Sesungungguhnya ini adalah tanduk pertama yang keluar dari umatku, seandainya engkau membunuhnya, maka tidaklah umatku akan berpecah. Sesungguhnya Bani Israel berpecah menjadi 71 kelompok, dan umat ini akan terpecah menjadi 72 kelompok, seluruhnya di dalam neraka kecuali satu kelompok ”. Sahabat bertanya : ” Wahai nabi Allah, kelompk manakah yang satu itu? Rasulullah menjawab : ”Al Jama’ah”. (Majma’ Az-Zawaid juz 6 hal. 242).

Jadi, justru Ketua PBNU Said Aqil Siradj mengingatkan agar kita, kaum muslimin, memahami ajaran Al-Qur’an secara benar, sehingga tidak picik seperti Khawarij, yang akibat kepicikannya itu mereka main bunuh saja. Bahkan, seorang khalifah, yang nota bene pemimpin umat Islam, pun mereka bunuh karena kepicikan itu. Itulah yang seharusnya dimuat dan dipaparkan oleh media-media radikal yang hanya bisa memecah belah ummat islam seperti Arrahmah.Com, Voa-Islam.Com, dan Nahimunkar.Com!

20/04/2016

Hapuskan Dengkimu, Jangan Jadi Muslim Yang Fasik

SYAREAT DAN HAKIKAT HARUS BERJALAN BERIRINGAN
[ Ini bantahan KH Nawawi Sidogiri pada pengaku hakikat tapi tidak shalat]

Selepas ashar tadi, beberapa tamu sowan ke 'dalem' Hadratussaikh KH Nawawi Abd Jalil,pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri,Pasuruan, Jawa Timur. Ditengah dialog kiai dengan salah satu tamunya, sampailah pada pembahasan tentang orang-orang yang mengaku mengamalkan hakikat tapi tidak melaksanakan shalat. kiai sempat miris jika ada masyarakat yang terjangkit cara pandang semacam ini, terlebih jika orang itu adalah alumni pondok pesantren Sidogiri.

" mereka itu berdalil  ' Aqim Ashhalata Lizikri' , sehingga menurut mereka kalau udah iling (red; ingat) Allah berarti gak usah shalat"  cerita kiai .kiai kemudian berargumen " dalam ayat itu , Aqim adalah fiil amar, perintah , perintah untuk as-shalata (red; shalat), tujuannya untuk mengingat Allah, jadi dalam ayat ini gak ada yang namanya menghilangkan shalat, justru pertama-tama yang diperintahkan adalah shalat" .

beliau juga memaparkan beberapa argumen secara aqli terkait kasus ini, kalau memang mereka benar mengapa variable nya hanya shalat saja. " ya kalau begitu gak usah makan, cukup ingat makan saja kenyang, " tutur kiai nawawi

Dalam kesempatan tersebut kiai nawawi juga memberikan nasehat bahwa yang kita lakukan didunia akan menjadi tolak ukur kita di akhirat kelak. jika di akhirat ingin masuk surga, manusia harus melakukan amal yang menjadi bekal mereka ke surga, seperti shalat, puasa, zakat. lagi-lagi tentu nasehat beliau ini nyambung dengan kasus diatas yang dengan semangat sekali beliau menjelaskannya.

sejalan dengan yang dikatakan Imam Malik rahimahullah , "Siapa yang menjalani tasawwuf tanpa dibekali pemahaman terhadap syariat, ia telah menjadi zindik. Sebaliknya, siapa yang membekali diri dengan fikih (syariat) tapi tidak menjalani tasawwuf (tidak membersihkan hati), maka menjadi fasik. Nah siapa yang menggabungkan keduanya, ia telah mencapai hakikat.

semoga tulisan ini bermanfaat, silahkan share , mudah-mudahan menjadi tembahan ilmu buat kita semua.

Tulisan Imam Malik ini membuktikan bhwa banyaknya muslim saat ini berbanding terbalik dengan kualitas keimanan yang dimilikinya,  Banyak ber KTP Islam tp sebenarnya adalah Fasik.

14/04/2016

Gus Mus Dan Wajah Keislamannya

GUS MUS & WAJAH ISLAM

Gus Mus tidak pernah berbicara "kami umat Islam..." seakan beliau mewakili seluruh umat Islam.

Gus Mus sendiri takut apakah benar beliau muslim ? Sebab muslim artinya manusia yang secara total berserah diri kepada Tuhan, dan berserah diri mempunyai makna yg sangat dalam. Ketika seseorang berserah diri, maka ia mengemban sifat2 tuhan dalam dirinya yang berinti pada menjadikan diri berfungsi kepada manusia lain.

"Benarkah aku sudah berserah diri ? Bukankah aku masih terbungkus keinginan duniawi ? Siapakah aku mengaku2 bahwa aku seorang muslim ?"

Begitulah ciri2 manusia yang mempunyai ilmu pengetahuan, memfungsikan akal dan melemahkan nafsunya. Bukan meng-klaim, karena iblis paling handal kalau masalah mengklaim dirinya paling taat, paling hebat, paling dekat kepada Tuhan.

Tidak perlu berjenggot lebat hanya supaya mengikuti Nabi-nya, karena memang bukan budaya tempat kelahirannya. Mengikuti bersifat tauladan dan tauladan ada di sikap bukan lambang.

Tidak mudah mencari manusia seperti Gus Mus di dalam Islam, tapi sejatinya mereka banyak hanya tidak tampak. Mereka terselip diantara tembok-tembok kemunafikan menjadi penyeimbang. Mereka tidak ingin mencari kejayaan, karena sejatinya kejayaan hanya pengakuan dari manusia dan manusia adalah tempatnya fitnah. Merekalah yang menjaga negara ini supaya tetap tentram, sejuk dan selalu toleran.

Jangan pernah lagi melihat wajah Islam dari ISIS, karena ISIS hanyalah setan yg di-propagandakan. Jangan melihat Isllam dari FPI, karena Islam tidak pernah memegang pentungan. Lihatlah wajah Islam dari Gus Mus, karena sejatinya begitulah para wali bergerak, berbicara dan bersikap.

Melihat Gus Mus di mata Najwa kemarin malam, saya tersenyum. Setidaknya ada wakil yang menampakkan sesungguhnya bagaimana ketika beragama itu dengan berakal.

Sayang Gus Mus sudah berhenti merokok, mungkin saya juga akan seperti beliau jika sudah setua beliau. Tetapi saya yakin, beliau masih tetap setia dengan secangkir kopinya.

Karena kopi bukan hanya secangkir minuman. Ia adalah filosofi hidup yang dalam dimana rasa pahit dan manis disatukan dan yang abadi adalah kenikmatan.

Selamat ngopi, Gus Mus...

10/04/2016

Puisi WS.RENDRA untuk Politisi

Pengakuan Menur dan Vina ini seakan menegaskan apa yang pernah disampaikan Rendra dalam puisinya "Bersatulah Pelacur - Pelacur Kota Jakarta". Meskipun tidak seekstrem yang digambarkan penyair itu.

Bersatulah Pelacur - Pelacur Kota Jakarta

Katakan kepada mereka
Bagaimana kau dipanggil ke kantor menteri
Bagaimana ia bicara panjang lebar kepadamu
Tentang perjuangan nusa bangsa
Dan tiba-tiba tanpa ujung pangkal
Ia sebut kau inspirasi revolusi
Sambil ia buka kutangmu

Dan kau Dasima
Khabarkan pada rakyat
Bagaimana para pemimpin revolusi
Secara bergiliran memelukmu
Bicara tentang kemakmuran rakyat dan api revolusi
Sambil celananya basah
Dan tubuhnya lemas
Terkapai disampingmu
Ototnya keburu tak berdaya

Politisi dan pegawai tinggi
Adalah caluk yang rapi
Kongres-kongres dan konferensi
Tak pernah berjalan tanpa kalian
Kalian tak pernah bisa bilang ‘tidak’
Lantaran kelaparan yang menakutkan
Kemiskinan yang mengekang
Dan telah lama sia-sia cari kerja
Ijazah sekolah tanpa guna

Para kepala jawatan
Akan membuka kesempatan
Kalau kau membuka kesempatan
Kalau kau membuka paha
Sedang diluar pemerintahan
Perusahaan-perusahaan macet
Lapangan kerja tak ada

Revolusi para pemimpin
Adalah revolusi dewa-dewa
Mereka berjuang untuk syurga
Dan tidak untuk bumi
Revolusi dewa-dewa
Tak pernah menghasilkan
Lebih banyak lapangan kerja
Bagi rakyatnya
Kalian adalah sebahagian kaum penganggur yang mereka ciptakan
................."

Dari puisi yang ditulis akhir 1960 itu tergambar jelas betapa kehidupan politik memang berkait dengan prostitusi. Puisi yang mampu menembus zaman dan sampai saat ini masih relevan.

GERAKAN KEMBALI KEMASJID, Sebuah Solusi Mengatasi Problematika Ummat

GERAKAN KEMBALI KEMASJID

Sungguh ironis bila kita mendapati masjid – masjid yang berdiri megah, di bangun dengan dana yang tidak sedikit, dengan gaya arsitektur yang mengagumkan namun dalam kesehariannya hanya terisi satu shof saja. Sunyi dari lantunan ayat suci yang di baca oleh jama’ah dan aktivitas ibadah lainnya.

Alangkah indahnya bila setiap masjid yang didirikan tidak saja di bangun untuk sebuah hiasan belaka. Alangkah berkahnya bila masjid – masjid besar dan kecil yang ada, selalu di penuhi dengan jama’ah yang melaksanakan aktivitas ibadahnya. Sungguh, mungkin negeri ini akan jauh dari bencana. Karena keberkahan yang terpancar dari ketakwaan umatnya. Seperti apapun bentuknya, masjid harus di rawat dan ‘dihidupkan’ kegiatannya. Menggiatkan berbagai aktivitas keagamaan yang didasari oleh semangat penghambaan kepada Allah SWT. Menjadi sentra pemberdayaan dan pembinaan umat. Yang akhirnya masjid akan memainkan fungsi nya sebagai salah satu pilar kebangkitan umat.apalagi mengaman kan aset-aset masjid termasuk mengawal pengurusan sertifikat WAKAF, cukup banyak alternatif yang dapat dilakukan oleh masjid ( para pengelolanya).  Seperti  diketahui bahwa  hampir semua  masjid, lebih-lebih  masjid-masjid besar, mempunyai tanah wakaf yang cukup luas.  Tanah wakaf ini sangat potensial untuk dikelola dan dikembangkan  dengan  baik dan menghasilkan  cukup banyak modal.  Dengan  pengelolaan yang transparan, baik menegementnya,  hasil income dan pengeluarannya, maupun pemanafaatan serta program prioritasnya,  tanah wakaf akan  benar-benar menjadi dana umat sebagaimana  keinginan dan tujuan  yang terkandung dalam wakaf itu sendiri. Audit publik mutlak diperlukan dan keterlibatan  publik dalam   pemanfaatnanya juga  sangat dianjurkan. Pengelolaan yang  tidak jelas,  pemanfaatn yang cenderung konsumtif, dan pertanggung jawaban yang semu sudah saatnya untuk  ditinggalkan.  Kalau hal ini dilakukan  maka  dana dari wakaf ini akan sangat  potensial untuk dijadikan modal utama dalam rangka melaksanakan  aktifitas sebagaimana yang di inginkan tersebut, tentunya disamping dana-dana lain, seperti  sumbangan dan partisipasi  umat,  dana zakat, infaq dan shadaqah dan lainnya.  Dengan dana yang cukup, masjid akan dapat memberikan sumbangan nyata bagi umat ini, termasuk pemberian pinjaman modal bagi para pedagang kecil, pemberian beasiswa bagi yang tidak mampu, sampai  kepada  pembinaan kelompok ekonomi lemah.

Kemakmuran masjid sangat tergantung pada tinggi dan rendahnya sumber daya manusia yang mengelolanya. Karena itu perlu adanya pengelolaan manajemen kemasjidan. Pengelolaan masjid kedepan butuh orang-orang yang visioner serta telateh dalam berbagai bidang. Optimalisasi fungsi masjid baik pada tingkat intensifikasi maupun ekstensifikasi sangat tergantung pada sejauh mana kita telah mempersiapkan pemuda dan remaja yang memiikih ghirah yang tinggi untuk memakmurkan masjid. Dari aspek histories pada masa Rasulullah SAW, peranan masjid bukanlah semata-mata sebagai tempat ibadah,apa lagi hanya sebagai tempat shalat jum`at yang hanya dilakukan seminggu sekali, akan tetapi juga sebagai Pusat Dakwah, Pendidikan, social, budaya, ekonomi dan politik. Dengan demikian masjid tidak hanya dipakai sebagai kebutuhan spiritual saja.

Dalam situasi apapun idealnya masjid dapat dijadikan pusat aktifitas masyarakat dalam rangka menumbuh kembangkan harmonisasi ummat dengan baik yang pada akhirnya melahirkan gagasan baru dalam pengingkatan kwalitas keagamaan dan kontribusi dalam pembangunan masjid. perlu di kaji kembali pentingnya membangun lembaga ekonomi serta lembaga pendidikan di masjid.
(Aman Wae)

29/03/2016

Pengetahuan Dasar Paralegal

Pengetahuan Dasar Tentang Paralegal

Istilah PARALEGAL ditujukan kepada seseorang yang bukan advokat namun memiliki pengetahuan dibidang hukum, baik hukum materiil maupun hukum acara dengan pengawasan advokat atau prganisasi bantuan hukum yang berperan membantu masyarakat pencari keadilan. Paralegal ini bisa bekerja sendir di dalam komunitasnya atau bekerja untuk organisasi bantuan hukum atau firma hukum.

Karena sifatnya membantu penanganan kasus atau perkara, maka paralegal sering juga disebut dengan asisten hukum. dalam praktik sehari-hari, peran paralegal sangat penting untuk menjadi jembatan bagi masyarakat pencari keadilan dengan advokat dan aparat penegak hukum lainnya untuk penyelesaian masalah hukum yang dialami individu maupun kelompok masyarakat.

Paralegal adalah seorang yang bukan sarjana hukum tetapi mempunyai pengetahuan, keterampilan dan pemahaman dasar tentang hukum dan hak asasi manusia yang mendayagunakan pengetahuannya itu untuk memfasilitasi ikhtiar perwujudan hak-hak asasi masyarakat miskin/komunitasnya.Kegiatan paralegal pada satu sisi bergerak di dalam hubungan-hubungan hukum sebagai fungsi yang menjembatani komunitas yang mengalami ketidakadilan atau pelanggaran HAM dengan sistem hukum yang berlaku, sementara pada sisi lain bergerak di dalam hubungan-hubungan sosial dalam fungsi-fungsi mediasi, advokasi dan pedampingan masyarakat.

LINGKUP KERJA

Dalam konteks pemberian bantuan hukum, paralegal menjalankan peran-peran sebagai berikut:

Memfasilitasi dan memotifasi masyarakat untuk mengorganisir dirinya dalam menghadapi masalah-masalah mereka,       disamping membantu mereka untuk membentuk organisasi mereka sendiri,
Melakukan analisi sosial, yang dimaksudkan untuk membantu paralegal dan masayarakt agar memahami sifat struktural dari perkara sehingga dapat menemukan bagaimana jalan pemecahan terhadap persoalan-persoalan.
Membimbing, melakukan mediasi (perantara), yaitu memberikan bimbingan dan nasehat hukum serta melakukan mediasi dalam perselisihan yang timbul diantara anggota masyarakat,
Jaringan kerja, yaitu menjalin hubungan kerja dengan organisasi-organisasi da kelompok lain serta individu-individu (wartawan, peneliti, dll) guna mendapatkan dukungan terhadap masalah-masalah yang dihadapi masyarakat.

Advokasi, yaitu melakukan advokasi sengan mengangkat persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat kepermukaan, sehingga diperhatikan oleh para pembuat keputusan dan dapat mempengaruhi keputusan mereka. Dalam hal tertentu yang dimungkinkan oleh hukum dan peraturan yang berlaku. paralegal dapat mewakili, mendampingi dan/atau memberikan bantuan hukum pada masyarakat atau perseorangan dalam penyelesaian kasus dihadapan pemerintah, pengadilan atau forum-forum peradilan lainnya.
Mendidik dan melakukan penyadaran, yaitu meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai hak-hak mereka, memberikan informasi tentang hukum-hukum tertentu yang dapat melindungi mereka, memberikan informasi megenai program pengembangan dan kesejahteraan masyarakat yang dilaksanakan pemerintah dan bagaimana cara untuk berpartisipasi dalam melaksanakan program-program tersebut,

Peran, Tugas dan Ketrampilan Paralegal

Peran dan Tugas utama paralegal adalah :
Mengupayakan peningkatan kemampuan masyarakat – terutama masyarakat miskin - dalam mengupayakan keadilan dalam posisi yang setara dengan kekuasaan di tingkat lokal

Hal tersebut dapat dijabarkan melalui Peran sebagai :
• Pendidik dan motivator masyarakat dalam meningkatkan perilaku sadar hukum melalui kegiatan promosi, sosialisasi dan pelatihan
• Kader Pro Justice (keadilan) – Kader Bantuan Hukum melalui pendampingan masyarakat dalam mengupayakan keadilan
• Organisator yang menerapkan prinsip-prinsip pengembangan kelembagaan Posko Bantuan Hukum Berbasis Masyarakat yang mandiri dan berkelanjutan.

Ketrampilan umum yang diperlukan
• Memahami logika hukum
• Aplikasi pilihan beragam bentuk pilihan penyelesaian sengketa melalui proses litigasi maupun non litigasi
• Tehnik-tehnik fasilitasi sosialisasi dan promosi kegiatan sadar hukum
• Tehnik pengelolaan Posko bantuan hukum sebagai organisme masyarakat yang mendiri dan beBHMnjut
• Tehnik mengelola dan memanfaatkan jejaring

Tugas Paralegal
• Melaksanakan program-program pendidikan sehingga kelompok masyarakat yang dirugikan (disadvantaged people) menyadari hak-haknya ;
• Memfasilitasi terbentuknya organisasi rakyat sehingga mereka bisa menuntut dan memperjuangkan hak-hak mereka ;
• Melakukan penyelidikan awal terhadap kasus – kasus yang terjadi sebelum ditangani pengacara dan memberikan pertimbangan alternatif pilihan penyelesaian perkara
• Membantu masyarakat dalam membuat pernyataan-pernyataan (gugatan/pembelaan), mengumpulkan bukti-bukti yang dibutuhkan dan informasi lain yang relevan dengan kasus yang dihadapi.
• Mengelola Posko Bantuan Hukum secara mandiri dan berlanjut
• Melakukan tugas administratif menyangkut pendokumentasian kasus perkembangan posko, dsb

Sikap yang harus dibangun paralegal
• Keterpanggilan dan kemauan yang didasari rasa ingin tahu
• Percaya diri namun rendah hati
• Berani namun tenang dan hati-hati
• Proaktif, bersemangat namun kritis dan reflektif
• Kreatif yang diimbangi dengan evaluasi diri dan empati
• Menghargai prestasi diri ( kepuasan batin ) dan orang lain
• Terus berupaya untuk belajar
• Dan seluruhnya dilakukan dengan dedikasi serta tanggung jawab

Sumber Belajar
• Memahami Undang-undang dan peraturan
• Banyak membaca, berbagi pengalaman
• Mencermati proses persidangan
• Memanfaatkan kontak dan jejaring
• Berinteraksi dengan sumber-sumber pendampingan semisal sesama paralegal dan fasilitator
• Mengikuti beragam pelatihan yang relevan

( Maghfuri Ridlwan)

23/02/2016

Seruan Bagi Kaum LGBT

Gerakan Pemuda Ansor Jombang Kota berkomitmen untuk terus mengajak sahabat/i agar segera kembali kepada ajaran agama, apapun agamanya.
Jika kami dibutuhkan, kami siap membantu sahabat/i agar berkenan kembali kepada ajaran agamanya.
Jombang kami adalah kota yang tercinta bagi kami.

Adapun tugas sesama muslim adalah saling menyampaikan ajakan (dakwah) untuk menuju kebaikan. 
Rasulullah pun tugasnya hanyalah menyampaikan (Ma'ala ar-rasuli illa al-balagh).
Didalam ajakan kami, selalu dilandasi sejumlah karakter dasar komitmen kami, yaitu : lemah lembut, tidak keras dan kasar, penuh maaf, bermusyawarah (mendengar pendapat orang lain) dan kemudian bertawakal kepada Allah akan hasilnya. 
Seperti yang telah difirmankan Allah : "Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka. Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad maka bertawakalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepadanya." 
(QS. Ali Imran (3) : 159).

Semoga bermanfaat. 
Aamiin ya rabbal'alamiin.

17/02/2016

Desain Konsep Rijalul Ansor

Sejak menjadi badan semi otonom, Majlis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor (RA) keberadaannya menjadi keharusan dalam organisasi Ansor di semua tingkatan, namun bagaimana konsep kegiatan RA belum menemukan bantuknya yang baku.

Hal ini juga yang menjadi pemikiran Pengurus PAC Ansor Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang. PAC Ansor Jombang Kota, demikian PAC ini biasa disebut, pada Senin 15/2/2016 menyelenggarakan RA di Masjid Agung Baitul Mu’minin Jombang. Pesertanya terdiri dari pengurus PAC Ansor berikut jajaran Satkoryon Banser, serta Pengurus Ranting berserta Satkorpok Banser se- kecamatan Jombang.

 PAC Ansor Jombang Kota sendiri menyelenggarakan RA rutin tanggal 15 setiap bulannya “Agar mudah diingat dan penyebutannya lebih bernuansa kultural, maka kita namakan majlis ini dengan Majlis Dzikir dan sholawat Rijalul Ansor Limolasan. Secara singkat biasa disebut dengan acara Limolasan.” Jelas M. Fathoni Mahsun, selaku Ketua PAC Ansor Kecamatan Jombang, di sela-sela acara yang berlangsung hingga pukul 23.00 wib tersebut.

Sementara itu haji Masrur, selaku koordinator RA mengatakan bahwa, format RA akan selalu disempurnakan. “Mulai saat ini kita akan tunjukkan kepedulian kepada sesama kita dengan mendoakan sahabat-sahabat yang punya usaha agar lebih sukses. Selain itu bisa juga mengirim do’a kepada keluarga yang sudah meninggal, atau yang sedang sakit.” Demikian jelas pria yang akrab disapa Cak Kaji Masrur itu.


Muatan ritus amalan ala ahlisuunah wal jama’ah an-nahdliyah juga dilakukan secara bergantian. “Bulan ganjil kita adakan istigosah, bulan genap kita adakan tahlil yang masing-masing juga ditambah dengan sholawat.” Lanjut pria berkacamata tersebut.

Selain diisi dengan ritus amalan, acara Limolasan tersebut juga diisi dengan kajian persoalan-persoalan aktual. “Untuk berkembang, PAC Ansor Jombang kota butuh inspirasi untuk bergerak. Nah kajian aktual demikian kita gunakan untuk mendapatkan wacana sebagai bahan kita untuk bergerak. Tema bahasannya bisa berganti-ganti, saat ini kita bahas LGBT, bulan depan mungkin tentang dana desa, bulan depannya lagi tentang permasalahan lain lagi.” Terang Fathoni. Acara yang diselenggarakan di masjid depan alun-alun Jombang itu, membahas tentang Lesbi, Gay, Bisexual, dan Transgender  (LGBT) yang saat ini sedang ramai diperbincangkan. 

 Bahasan LGBT itu tidak sekedar wawasan di tingkat global dan nasional, tapi juga yang terjadi diseputar Jombang, untuk memunculkan kesadaran betapa bahwa permasalahan LBGT ini sudah sangat menghawatirkan. Sehingga dalam majlis tersebut juga dipikirkan aksi kongkrit apa yang perlu dilakukan. 

Dengan tambahan muatan kajian persoalan-persoalan aktual seperti ini, maka RA menjadi Majlis yang strategis untuk membahas masalah-masalah keumatan.

26/01/2016

Konferensi Ranting Tambakrejo

Notulen  LPJ & Konferensi Ranting Tambak Rejo (24/01/16)
1. Selama tahun 2012-2015 telah berhasil memutar dana sebesar Rp. 13.682.000 dg menyisakan saldo Rp.       180.000. Dana tersebut dihimpun dr para donatur.
2. Diantara kegiatan yg dilakukan: peringatan tahun baru hijriyah, peringatan idul adha (4 kali), menjadi beberapa kali panlok (halaqoh kyai muda, konfercab NU, Konfercab Ansor, dan muktamar NU), serta mengirim delegasi ke PKD Batu dan Diklat Jogoroto.
3. PR Ranting Tambak Rejo beserta PR Ranting NU Tambak Rejo mempunyai aset sawah banon 50 yg dimanfaatkan secara bergantian. Tahun ini insya Allah gilirannya PR Ansor.
4. Melihat potensi yg dimiliki, mulai dr kegiatan rutin, aset, ditambah dg masih eksisnya IPNU-IPPNU di Tambak Rejo yg menjamin pasokan kader bagi Ansor, serta potensi kesinambungan dg PR NU, dengan Perangkat Desa, dan juga Ponpes Bahrul Ulum, maka ketua PAC Ansor terpilih, M. Fathoni Mahsun mendorong Ansor Tambak Rejo untuk menjadi pilot projek / role model bagi pengembangan ranting2 lain dilingkungan PAC ANSOR Kecamatan Jombang.
5. Pengurus  demisioner Ketua:Sulaiman, S.Pd., Sekretaris: Subhin Najah, S.PdI, Bendahara: Ahmad Suhaib, SE. Pengurus baru, Ketua: M. Mumtazul Azizi, Sekretaris: Harun, Bendahara: Ahmad Suhaib.
6. Tambahan informasi: Bapak Subagyo, Penasehat Ansor Tambak Rejo sekaligus pengurus MWC NU Kecamatan Jombang memberitahu, bahwa sengketa mushola di Sambong Doran, antara warga NU dan Muhammadiyah telah dibereskan.
7. Usulan strategis: karena Tambak Rejo merupakan salah satu basis shalawat GPS yg mempunyai jamaah anak2 muda yang fanatik, maka diusulkan, para jamaah tersebut dimotivasi menghidupkan dan meramaikan Ansor dirantingnya masing2, baik yg berada di lingkungan kecamatan Jombang, atau kecamatan2 yg lain.