Showing posts with label Jombang. Show all posts
Showing posts with label Jombang. Show all posts

10/11/2016

Turba ke-6 Di Ranting Jombang

Turba di Ranting Jombang ini dilaksanakan pada hari Kamis, 10/11/2016 di Masjid Baiturrahim. Agendanya selain silaturrahmi dengan masyarakat setempat, juga pelaksanaan sesi foto bagi anggota yang sudah stor data tapi belum foto. Tercatat ada 30 orang lebih yang melaksanakan sesi foto. Jumlah yang terbilang banyak, apalagi selama ini Ranting Jombang fakum.

Menurut M. Fathoni Mahsun, ketua PAC Ansor Jombang Kota, perlunya Ansor hadir di Ranting Jombang adalah untuk melakukan penguatan terhadap civil society agar lebih bisa mewarnai lingkungannya. Mengingat lingkungan Ranting Jombang yang dekat pasar dan di tengah kota, yg sifatnya urban.

14/06/2016

Penggalan Peristiwa Ansor Jombang Ketika NU Kembali ke Khittah

Tadarus Sejarah Ansor  #2



            Bertemu dengan sesepuh Ansor adalah peristiwa istimewa bagiku, dari beliau-beliau itu aku selalu bertanya tentang Ansor di Jombang pada masanya. Aku terkadang tidak perduli kalau dibilang cerewet dan sok ingin tahu, kenyataannya beliau-beliau itu malah bercerita dengan suka ria.
            Salah satu kesempatan yang datang adalah, ketika momen Safari Ramadhan yang diselenggarakan oleh PAC Ansor Jombang Kota, di Dusun Banjarkerep, Desa Banjardowo, Selasa, 14/6/2016.  Waktu itu acara sudah dimulai, bacaan tahlil sebagai pembuka acara pun sudah rampung. Dari jalan depan Masjid Nurul Jannah, tempat penyelanggaraan safari, datang seorang lelaki berjenggot panjang yang sudah memutih, serta mengenakan setelan kemeja dan sarung biru. H. Masrur sebagai protokol acara spontan menyapanya, dalam keadaan tangan masih memegang mikrofon. “Hai Cak Sulkhan, wah ini pendekarnya NU ini” begitu sapanya dengan nada akrab.
            Sepintas lalu H. Masrur mengenalkan bahwa Mbah Sulkhan, yang disapanya dengan panggilan Cak itu adalah senior yang menggeretnya ke Ansor. Saya suprais mendengarnya. Lalu setelah sambutan dari ta’mir dan Ketua PAC Ansor Jombang Kota, H. Masrur pun kemudian memberi waktu kepada beliau untuk juga memberikan sambutan. Dari materi yang disampaikannya, terdengar berbobot, “pasti ini bukan kader sembarangan,” pikirku.
            Setelah acara seremonial usai, kami terlibat obrolan santai. Secara kebetulan Mbah Sulkhan duduk bersebelahan denganku. “Njenengan aktif di Ansor tahun berapa?” tanyaku. Beliau menjawab tahun 1986 masuk di Cabang. Titi mangsa ini kemudian diperkuat dengan pengakuan H. Masrur yang di ajak masuk ke kepengurusan cabang oleh Mbah Sulkhan pada tahun 1986. “Saya ini termasuk anak muda yang masih nyambung dengan orang tua-tua (kader Ansor generasi tua, Pen),” Terang H. Masrur. Sejenak kemudian H. Masur melanjutkan ceritanya, “Dulu Ketua Ansornya Pak Tajul Arifin, beliau ini Sekretarisnya, lha saya bagian ngetik surat, sekaligus yang mengantarkannya.” Mmm..., pantas omongannya lumayan berbobot, batinku, wong mantan sekretaris cabang.
            “Dulu pada masa saya, Mojoagung terasa dekat,” Kata Mbah Sulkhan. Kenapa bisa demikian, karena ada teman dari Mojoagung yang mengajar di SMPN 4, yang kebetulan berada di kawasan Desa Banjardowo. Sehingga kalau ada apa-apa tinggal titip surat ke Mojoagung. Perlu diketahui bahwa Pak Tajul, Ketua Ansor Jombang terhitung sejak 1984, rumahnya di Mojoagung. Selain itu kalau dibutuhkan bertemu, naik sepedah ontel pun terasa ringan.
            Masa kepengurusan Pak Tajul inilah disebut-sebut sebagai masa baru. Setelah saya tanya, kenapa? Jawabnya, karena masa ini adalah masa transisi ketika NU mencanangkan kembali ke khittah. Memang pada muktamar NU ke-27 tahun 1984, secara resmi NU kembali ke Khittah 1926, ditandai dengan keluarnya  NU dari PPP. “Sebelum Pak Tajul juga ada kepengurusan Ansor, Ketuanya dijabat Pak Hafidz Maksum,” jelas Mbah Sulkhan.
            Peristiwa kembalinya NU ke khittah ini ternyata membawa konsekwensi yang tidak ringan, karena memunculkan dua friksi di tubuh NU, termasuk Ansor di dalamnya. Ada yang pro terhadap khittah, dan ada yang tidak setuju khittah. Yang tidak setuju khittah tetap bertahan di PPP. Akibatnya, untuk menjadi pengurus Ansor pun harus melewati pemilihan yang sangat ketat, karena di dalam Ansor Jombang sendiri juga mancul dua friksi tersebut.
“Dulu untuk menjadi wakil ketua pun harus dipilih.”
“Maksudnya?, dipilih sebagaimana memilih ketua begitu?” tanyaku penasaran.
“Iya. Jadi yang duduk di kepengurusan harian, semuanya dipilih.”
“Dulu kalau kita punya jago yang gak lolos menjadi sekretaris, kita jagokan lagi menjadi wakil ketua, ha ha ha.” H. Masrur menambahkan.
Ooo..., jadi ini yang di maksud Mbah Sulkhan dalam sambutannya tadi, bahwa Ansor selalui mengiringi perkembangan negeri ini, termasuk perkembangan politik.  Barangkali inilah takdir politik Ansor. Namun menurut beliau, walaupun kader-kader Ansor masa itu selalu berbeda cara pikir, karena berbeda orientasi politik, tapi mudah untuk ketemu dan menyatu kembali.
Saya sebenarnya masih ingin tanya lebih banyak lagi, tapi waktu kami terbatas, adzan magrib sudah berkumandang sejak beberapa menit lalu, sedangkan Mbah Sulkhan belum sempat merokok, dari dalam masjid sepertinya muadzin sudah siap-siap qomat. Walhasil, lelaki yang juga pernah menjadi Komandan Banser pada masa Kepemimpinan Gus Fad, yang menjadi pentolan pasukan berani mati waktu di berangkatkan ke Jakarta ini, menyempat-nyempatkan merokok walau sak sedotan. Hemmm, Banser memang berani mati, tapi gak berani kalau rokoknya sampai mati. Hehe.

M. Fathoni Mahsun
Kader Ansor Jombang

24/04/2016

Ngopi Disik Tipis Tipis


"KABAR GEMBIRA BAGI PENCINTA KOPI, DAN BAGI YANG TIDAK SUKA JANGAN BERLEBIHAN DALAM MENGINGKARINYA, SEBAB BAU KOPI MENARIK MALAIKAT UNTUK MEMINTAKAN AMPUNAN BAGI PEMINUM KOPI SERTA TEMPAT YANG BERBAU KOPI TIDAK DISUKAI PARA JIN"

Suatu ketika as-Sayyid Ahmad bin Ali Bahr al-Qadimi jumpa dengan Nabi Muhammad Saw. dalam keadaan terjaga. Ia berkata kepada Nabi Saw.: “Wahai Rasulullah, aku ingin mendengar hadits darimu tanpa perantara.”

Nabi Muhammad Saw. kemudian bersabda: “Aku akan memberimu 3 hadits ;

1. Selama bau biji kopi ini masih tercium aromanya di mulut seseorang, maka selama itu pula malaikat akan beristighfar (memintakan ampun) untukmu.

2. Barangsiapa yang menyimpan tasbih untuk digunakan berdzikir maka Allah akan mencatatnya sebagai orang yang banyak berdzikir, baik ia gunakan tasbihnya atau tidak.

3. Barangsiapa yang duduk bersama waliyullah yang hidup atau yang sudah wafat maka pahalanya sama saja dengan ia menyembah Allah di seluruh penjuru bumi.”

Al-Habib Abubakar bin Abdullah al-Atthas berkata: “Sesungguhnya tempat yang ditinggalkan dalam keadaan sepi atau kosong maka jin akan menempatinya. Sedangkan tempat yang biasa digunakan untuk membuat hidangan kopi maka para jin takkan bisa menempati dan mendekatinya.”

(Lihat dalam kitab Tadzir an-Nas halaman 177 dan at-Tadzkir al-Mushthafa li Aulad al-Musthafa wa Ghairahum min Man Ijtbahu Allahu Washthafa karya al-Habib Abubakar al-Atthas bin Abdullah bin Alwi bin Zain al-Habsyi halaman 117)

15/04/2016

Pemuda Yang Baik menikah Dengan Pemudi Yang Baik

Pejuang Hanya Menikahi Pejuang
Najmuddin Ayyub (Gubernur Tikrit) belum menikah dalam waktu yang lama.
Saudaranya Asaduddin Syirokuh bertanya kepadanya: wahai saudaraku kenapa engkau belum menikah?

Najmuddin Ayyub: aku tidak mendapati wanita yang pantas bagiku.

Asaduddin : maukah aku lamarkan wanita untukmu?

Najmuddin: siapa?

Asaduddin: putri raja syah putri sultan muhammad bin malik syah sultan saljuki atau putri mentri raja.

Najmuddin: mereka gak cocok/pantas untukku.

Asaduddin: trus siapa yang cocok untukmu?

Najmuddin: sesungguhnya aku ingin istri sholihah yang menuntunku ke surga dan melahirkan untukku anak yang dia mendidiknya dengan bagus sampai dewasa dan menjadi penunggang kuda dan mengembalikan baitul maqdis (palestina) ke tangan muslimin.
Ini kesabaran Najmuddin.
Asaduddin tidak heran omongan saudaranya kemudian berkata: darimana engkau dapati wanita yang demikian?

Najmuddin menjawab: barangsiapa yang ikhlas niat karena Allah , Allah akan beri kepadanya.

maka disuatu hari Najmuddin duduk bersama syaikh di masjid di Tikrit berbincang bersamanya, maka datanglah wanita muda memanggil syaikh dari balik penutup, maka syaikh minta ijin kepada Najmuddin untuk berbicara kepada pemudi itu.

Najmuddin mendengar syaikh berbicara: kenapa engkau menolak pemuda yang aku kirim kerumahmu untuk melamarmu?

pemudi: wahai syaikh sebaik-baik pemuda adalah dia tadi yang tampan, punya kedudukan, akan tetapi tidak pantas untukku.

Syaikh: apa yang engkau inginkan?

Pemudi: wahai tuan Syaikh, aku ingin pemuda yang menuntunku ke surga dan melahirkan untukku anak yang menjadi penunggang kuda mengembalikan baitul maqdis (palestina) ke tangan muslimin.

Allahu Akbar kata-kata yang sama yang diucapkan Najmuddin kepada saudaranya asaduddin , menolak putri sultan dan putri mentri padahal punya kedudukan dan kecantikan.
Demikian pemudi ini menolak pemuda yang punya kedudukan dan tampan serta kaya.

Semua ini karena apa yang keduanya inginkan orang yang menuntun ke surga dan melahirkan penunggang kuda yang mengembalikan baitul maqdis ke tangan muslimin.

Maka berdirilah Najmuddin dan memanggil Syaikh , wahai Syaikh aku ingin menikahi pemudi itu.

Syaikh: pemudi ini miskin di kampung ini.

Najmuddin: pemudi ini yang aku inginkan.

Najmuddin Ayyub menikahi wanita ini yang muda dan wanita yang baik , dengan perbuatan yang ikhlas niatnya karena Allah , Allah anugerahkan kepadanya karena niatnya.

Maka wanita itu melahirkan untuk Najmuddin anak yang menjadi penunggang kuda yang mengembalikan baitul maqdis ke tangan muslimin, ketahuilah dia adalah SHOLAHUDDIN AL AYYUBI.

Inilah warisan kita dan ini yang wajib kita ajarkan kepada anak-anak kita.

12/04/2016

KOMUNITAS PEDULI WAKAF

Artikel Setengah Malam
"KPW" (KOMUNITAS PEDULI WAKAF)

komunitas ini
merupakan bagian dari kepeduliaan terhadap berbagai masalah terkait harta wakaf yang terjadi. Realita banyaknya kasus klaim terhadap harta wakaf terjadi.
“Ada banyak kasus Klaim wakaf di jombang Kecenderungan terjadi, Klaim tersebut muncul ketika tanah wakaf sudah terbangun fasilitas baik pendidikan,mushollah, Masjid,panti asuhan,dan bangunan-bangunan lainnya"Bagian Dari Integral  Modal Pembangunan umat dan Bangsa. faktanya di kemudian hari terjadi keributan, baik antara yang menerima wakaf, maupun ahli warisnya yang memberi wakaf ( keluarga Waqif). tanah bisa menjadi perekat dan perangkat terbangunnya kehidupan antar umat beragama.berbangsa,dan bernegara
"Jika sebuah bangunan atau rumah ibadah digusur atau dirubuhkan maka itu berpotensi timbul konflik antar umat beragama,
hanya karena masalah tanah konflik antar umat bisa pecah. Untuk itu, marilah kita semua menyadari begitu pentingnya pengadministrasian tanah wakaf.
yang menjadi pertanyaan
Bagaimana kita generasi pelanjut memutus itu.......?
pengadministrasian tanah wakaf itu penting, sehingga tidak hilang.Niat jariahnya putus, kitalah yang paling berdosa
Untuk itu, agar setiap tanah wakaf segera diurus administrasinya.
ini persoalan yang penting terkait tanah wakaf,
Jangan sampai lagi ada bangunan rumah ibadah yang digusur, karna ini rawan konflik baik antara penerima wakaf maupun ahli warisnya yang memberikan ( keluarga waqif )........
Banyak tanah atau harta benda wakaf  memberi peluang atau memudahkan pihak lain mengklaim. perlindungan terhadap status tanah wakaf menjadi penting. Upaya ini akan dilakukan KPW( komunitas peduli wakaf ),yang membantu masyarakat terkait masalah harta benda wakaf, bahkan dalam penanganan Hukum ( advokad wakaf).
“Kalau perlu gratis tidak dipungut biaya" perlindungan tanah wakaf yang dijalankan KPW perlu disosialisasikan. Ini agar masyarakat tahu bagaimana menjaga tanah wakaf.
“Seperti bagaimana mengurus sertifikat ke notaris dan kelengkapan surat surat"dan itu harus di
sinergi antara badan yang peduli wakaf dan pemerintah yang dibutuhkan guna melindungi wakaf secara maksimal.

Aman wae

11/04/2016

Pesan Gus Qoyyum Kepada Pejabat, Orang Kaya Dan Ulama

Agar menang pilkada, Gus Qoyyum Lasem memberikan dua wiridan. ’’Para calon kepala daerah yang menang, banyak yang baca ini,’’ tuturnya saat tausiah dalam haul Pendiri Pesantren Mambaul Maarif Denanyar sekaligus salah satu pendiri NU, KH Bisri Syansuri, Jumat (8/4/2016).

Wiridan pertama yakni: walik grembyang ono susah ono gampang kana maal usri yusro…

Wiridan kedua yakni: cos pleng, cos pleng, cos pleng ya rohman ya rohim…

’’Kalau dari semua calon ada satu yang baca ini, pasti dia yang jadi. Tapi kalau semua calon baca ini, pasti semuanya tidak jadi,’’ ucap Gus Qoyum disambut tawa jamaah lantaran dideretan hadirin terdapat Gus Halim dan Gus Ipul yang santer dikabarkan bakal sama-sama maju pilgub 2018.

Gus Qoyyum menambahkan, sekarang ini banyak ulama yang anaknya tidak jadi ulama. Sementara orang bodoh, banyak yang anaknya jadi ulama.

Hal itu, kata Gus Qoyyum, disebabkan karena banyak ulama yang ngelokno orang bodoh. Ngerasani orang bodoh. Serta menyakiti hati orang bodoh.

Sehingga kecerdasan yang mestinya menurun kepada anaknya, oleh Allah dipindah kepada keturunan orang bodoh tersebut..

Orang kaya yang keturunannya melarat juga dipicu hal semacam itu.

Mentang-mentang kaya, dia ngelokno orang miskin, ngerasani orang miskin, menyakiti hati orang miskin. Sehingga kekayaan yang mestinya menurun kepada anaknya, oleh Allah dipindah kepada keturunan orang miskin tersebut..

’’Makanya walaupun alim, jangan mencela orang bodoh. Walaupun kaya, jangan mencela orang miskin,’’ pesannya.
(*Abdurrosyid)

10/04/2016

Puisi WS.RENDRA untuk Politisi

Pengakuan Menur dan Vina ini seakan menegaskan apa yang pernah disampaikan Rendra dalam puisinya "Bersatulah Pelacur - Pelacur Kota Jakarta". Meskipun tidak seekstrem yang digambarkan penyair itu.

Bersatulah Pelacur - Pelacur Kota Jakarta

Katakan kepada mereka
Bagaimana kau dipanggil ke kantor menteri
Bagaimana ia bicara panjang lebar kepadamu
Tentang perjuangan nusa bangsa
Dan tiba-tiba tanpa ujung pangkal
Ia sebut kau inspirasi revolusi
Sambil ia buka kutangmu

Dan kau Dasima
Khabarkan pada rakyat
Bagaimana para pemimpin revolusi
Secara bergiliran memelukmu
Bicara tentang kemakmuran rakyat dan api revolusi
Sambil celananya basah
Dan tubuhnya lemas
Terkapai disampingmu
Ototnya keburu tak berdaya

Politisi dan pegawai tinggi
Adalah caluk yang rapi
Kongres-kongres dan konferensi
Tak pernah berjalan tanpa kalian
Kalian tak pernah bisa bilang ‘tidak’
Lantaran kelaparan yang menakutkan
Kemiskinan yang mengekang
Dan telah lama sia-sia cari kerja
Ijazah sekolah tanpa guna

Para kepala jawatan
Akan membuka kesempatan
Kalau kau membuka kesempatan
Kalau kau membuka paha
Sedang diluar pemerintahan
Perusahaan-perusahaan macet
Lapangan kerja tak ada

Revolusi para pemimpin
Adalah revolusi dewa-dewa
Mereka berjuang untuk syurga
Dan tidak untuk bumi
Revolusi dewa-dewa
Tak pernah menghasilkan
Lebih banyak lapangan kerja
Bagi rakyatnya
Kalian adalah sebahagian kaum penganggur yang mereka ciptakan
................."

Dari puisi yang ditulis akhir 1960 itu tergambar jelas betapa kehidupan politik memang berkait dengan prostitusi. Puisi yang mampu menembus zaman dan sampai saat ini masih relevan.

GERAKAN KEMBALI KEMASJID, Sebuah Solusi Mengatasi Problematika Ummat

GERAKAN KEMBALI KEMASJID

Sungguh ironis bila kita mendapati masjid – masjid yang berdiri megah, di bangun dengan dana yang tidak sedikit, dengan gaya arsitektur yang mengagumkan namun dalam kesehariannya hanya terisi satu shof saja. Sunyi dari lantunan ayat suci yang di baca oleh jama’ah dan aktivitas ibadah lainnya.

Alangkah indahnya bila setiap masjid yang didirikan tidak saja di bangun untuk sebuah hiasan belaka. Alangkah berkahnya bila masjid – masjid besar dan kecil yang ada, selalu di penuhi dengan jama’ah yang melaksanakan aktivitas ibadahnya. Sungguh, mungkin negeri ini akan jauh dari bencana. Karena keberkahan yang terpancar dari ketakwaan umatnya. Seperti apapun bentuknya, masjid harus di rawat dan ‘dihidupkan’ kegiatannya. Menggiatkan berbagai aktivitas keagamaan yang didasari oleh semangat penghambaan kepada Allah SWT. Menjadi sentra pemberdayaan dan pembinaan umat. Yang akhirnya masjid akan memainkan fungsi nya sebagai salah satu pilar kebangkitan umat.apalagi mengaman kan aset-aset masjid termasuk mengawal pengurusan sertifikat WAKAF, cukup banyak alternatif yang dapat dilakukan oleh masjid ( para pengelolanya).  Seperti  diketahui bahwa  hampir semua  masjid, lebih-lebih  masjid-masjid besar, mempunyai tanah wakaf yang cukup luas.  Tanah wakaf ini sangat potensial untuk dikelola dan dikembangkan  dengan  baik dan menghasilkan  cukup banyak modal.  Dengan  pengelolaan yang transparan, baik menegementnya,  hasil income dan pengeluarannya, maupun pemanafaatan serta program prioritasnya,  tanah wakaf akan  benar-benar menjadi dana umat sebagaimana  keinginan dan tujuan  yang terkandung dalam wakaf itu sendiri. Audit publik mutlak diperlukan dan keterlibatan  publik dalam   pemanfaatnanya juga  sangat dianjurkan. Pengelolaan yang  tidak jelas,  pemanfaatn yang cenderung konsumtif, dan pertanggung jawaban yang semu sudah saatnya untuk  ditinggalkan.  Kalau hal ini dilakukan  maka  dana dari wakaf ini akan sangat  potensial untuk dijadikan modal utama dalam rangka melaksanakan  aktifitas sebagaimana yang di inginkan tersebut, tentunya disamping dana-dana lain, seperti  sumbangan dan partisipasi  umat,  dana zakat, infaq dan shadaqah dan lainnya.  Dengan dana yang cukup, masjid akan dapat memberikan sumbangan nyata bagi umat ini, termasuk pemberian pinjaman modal bagi para pedagang kecil, pemberian beasiswa bagi yang tidak mampu, sampai  kepada  pembinaan kelompok ekonomi lemah.

Kemakmuran masjid sangat tergantung pada tinggi dan rendahnya sumber daya manusia yang mengelolanya. Karena itu perlu adanya pengelolaan manajemen kemasjidan. Pengelolaan masjid kedepan butuh orang-orang yang visioner serta telateh dalam berbagai bidang. Optimalisasi fungsi masjid baik pada tingkat intensifikasi maupun ekstensifikasi sangat tergantung pada sejauh mana kita telah mempersiapkan pemuda dan remaja yang memiikih ghirah yang tinggi untuk memakmurkan masjid. Dari aspek histories pada masa Rasulullah SAW, peranan masjid bukanlah semata-mata sebagai tempat ibadah,apa lagi hanya sebagai tempat shalat jum`at yang hanya dilakukan seminggu sekali, akan tetapi juga sebagai Pusat Dakwah, Pendidikan, social, budaya, ekonomi dan politik. Dengan demikian masjid tidak hanya dipakai sebagai kebutuhan spiritual saja.

Dalam situasi apapun idealnya masjid dapat dijadikan pusat aktifitas masyarakat dalam rangka menumbuh kembangkan harmonisasi ummat dengan baik yang pada akhirnya melahirkan gagasan baru dalam pengingkatan kwalitas keagamaan dan kontribusi dalam pembangunan masjid. perlu di kaji kembali pentingnya membangun lembaga ekonomi serta lembaga pendidikan di masjid.
(Aman Wae)

29/03/2016

Pengetahuan Dasar Paralegal

Pengetahuan Dasar Tentang Paralegal

Istilah PARALEGAL ditujukan kepada seseorang yang bukan advokat namun memiliki pengetahuan dibidang hukum, baik hukum materiil maupun hukum acara dengan pengawasan advokat atau prganisasi bantuan hukum yang berperan membantu masyarakat pencari keadilan. Paralegal ini bisa bekerja sendir di dalam komunitasnya atau bekerja untuk organisasi bantuan hukum atau firma hukum.

Karena sifatnya membantu penanganan kasus atau perkara, maka paralegal sering juga disebut dengan asisten hukum. dalam praktik sehari-hari, peran paralegal sangat penting untuk menjadi jembatan bagi masyarakat pencari keadilan dengan advokat dan aparat penegak hukum lainnya untuk penyelesaian masalah hukum yang dialami individu maupun kelompok masyarakat.

Paralegal adalah seorang yang bukan sarjana hukum tetapi mempunyai pengetahuan, keterampilan dan pemahaman dasar tentang hukum dan hak asasi manusia yang mendayagunakan pengetahuannya itu untuk memfasilitasi ikhtiar perwujudan hak-hak asasi masyarakat miskin/komunitasnya.Kegiatan paralegal pada satu sisi bergerak di dalam hubungan-hubungan hukum sebagai fungsi yang menjembatani komunitas yang mengalami ketidakadilan atau pelanggaran HAM dengan sistem hukum yang berlaku, sementara pada sisi lain bergerak di dalam hubungan-hubungan sosial dalam fungsi-fungsi mediasi, advokasi dan pedampingan masyarakat.

LINGKUP KERJA

Dalam konteks pemberian bantuan hukum, paralegal menjalankan peran-peran sebagai berikut:

Memfasilitasi dan memotifasi masyarakat untuk mengorganisir dirinya dalam menghadapi masalah-masalah mereka,       disamping membantu mereka untuk membentuk organisasi mereka sendiri,
Melakukan analisi sosial, yang dimaksudkan untuk membantu paralegal dan masayarakt agar memahami sifat struktural dari perkara sehingga dapat menemukan bagaimana jalan pemecahan terhadap persoalan-persoalan.
Membimbing, melakukan mediasi (perantara), yaitu memberikan bimbingan dan nasehat hukum serta melakukan mediasi dalam perselisihan yang timbul diantara anggota masyarakat,
Jaringan kerja, yaitu menjalin hubungan kerja dengan organisasi-organisasi da kelompok lain serta individu-individu (wartawan, peneliti, dll) guna mendapatkan dukungan terhadap masalah-masalah yang dihadapi masyarakat.

Advokasi, yaitu melakukan advokasi sengan mengangkat persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat kepermukaan, sehingga diperhatikan oleh para pembuat keputusan dan dapat mempengaruhi keputusan mereka. Dalam hal tertentu yang dimungkinkan oleh hukum dan peraturan yang berlaku. paralegal dapat mewakili, mendampingi dan/atau memberikan bantuan hukum pada masyarakat atau perseorangan dalam penyelesaian kasus dihadapan pemerintah, pengadilan atau forum-forum peradilan lainnya.
Mendidik dan melakukan penyadaran, yaitu meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai hak-hak mereka, memberikan informasi tentang hukum-hukum tertentu yang dapat melindungi mereka, memberikan informasi megenai program pengembangan dan kesejahteraan masyarakat yang dilaksanakan pemerintah dan bagaimana cara untuk berpartisipasi dalam melaksanakan program-program tersebut,

Peran, Tugas dan Ketrampilan Paralegal

Peran dan Tugas utama paralegal adalah :
Mengupayakan peningkatan kemampuan masyarakat – terutama masyarakat miskin - dalam mengupayakan keadilan dalam posisi yang setara dengan kekuasaan di tingkat lokal

Hal tersebut dapat dijabarkan melalui Peran sebagai :
• Pendidik dan motivator masyarakat dalam meningkatkan perilaku sadar hukum melalui kegiatan promosi, sosialisasi dan pelatihan
• Kader Pro Justice (keadilan) – Kader Bantuan Hukum melalui pendampingan masyarakat dalam mengupayakan keadilan
• Organisator yang menerapkan prinsip-prinsip pengembangan kelembagaan Posko Bantuan Hukum Berbasis Masyarakat yang mandiri dan berkelanjutan.

Ketrampilan umum yang diperlukan
• Memahami logika hukum
• Aplikasi pilihan beragam bentuk pilihan penyelesaian sengketa melalui proses litigasi maupun non litigasi
• Tehnik-tehnik fasilitasi sosialisasi dan promosi kegiatan sadar hukum
• Tehnik pengelolaan Posko bantuan hukum sebagai organisme masyarakat yang mendiri dan beBHMnjut
• Tehnik mengelola dan memanfaatkan jejaring

Tugas Paralegal
• Melaksanakan program-program pendidikan sehingga kelompok masyarakat yang dirugikan (disadvantaged people) menyadari hak-haknya ;
• Memfasilitasi terbentuknya organisasi rakyat sehingga mereka bisa menuntut dan memperjuangkan hak-hak mereka ;
• Melakukan penyelidikan awal terhadap kasus – kasus yang terjadi sebelum ditangani pengacara dan memberikan pertimbangan alternatif pilihan penyelesaian perkara
• Membantu masyarakat dalam membuat pernyataan-pernyataan (gugatan/pembelaan), mengumpulkan bukti-bukti yang dibutuhkan dan informasi lain yang relevan dengan kasus yang dihadapi.
• Mengelola Posko Bantuan Hukum secara mandiri dan berlanjut
• Melakukan tugas administratif menyangkut pendokumentasian kasus perkembangan posko, dsb

Sikap yang harus dibangun paralegal
• Keterpanggilan dan kemauan yang didasari rasa ingin tahu
• Percaya diri namun rendah hati
• Berani namun tenang dan hati-hati
• Proaktif, bersemangat namun kritis dan reflektif
• Kreatif yang diimbangi dengan evaluasi diri dan empati
• Menghargai prestasi diri ( kepuasan batin ) dan orang lain
• Terus berupaya untuk belajar
• Dan seluruhnya dilakukan dengan dedikasi serta tanggung jawab

Sumber Belajar
• Memahami Undang-undang dan peraturan
• Banyak membaca, berbagi pengalaman
• Mencermati proses persidangan
• Memanfaatkan kontak dan jejaring
• Berinteraksi dengan sumber-sumber pendampingan semisal sesama paralegal dan fasilitator
• Mengikuti beragam pelatihan yang relevan

( Maghfuri Ridlwan)

NU lah Pemilik Warga terbanyak didunia

Hidup NU

Dari Denny Siregar
--------------------☆

EMAK LU ROBOT...

Apa yang sulit bagi Nahdlatul Ulama sekarang ini dalam menguasai NKRI ?

Hampir tidak ada. Dengan umat yang diperkirakan berjumlah 50 juta orang ( bahkan ada yang mengatakan 80 juta ), NU bisa melakukan apa saja, termasuk makar.

Dalam bidang ekonomi, NU sangat mungkin merebut "pasar" MUI dalam mengeluarkan fatwa halal dan haram. MUI hanyalah sebuah organisasi saja, dan jika dibandingkan dengan organisasi NU bagaikan bumi dan langit.

Tetapi NU tidak melakukan itu. Mereka tidak mencari uang dengan cara2 seperti itu, padahal ketika mereka membentuk badan fatwa sertifikasi halal banyak yang akan beralih ke NU. Siapa yang melarang emangnya ? NU bisa saja berdalih bahwa ini khusus untuk umatnya. Dan ketika NU mau melakukan itu, habis sudah pendapatan MUI yang terbesar dan kering kerontanglah mereka spt unta kehausan di padang.

NU juga bisa saja membuat fatwa2 bahwa aliran A sesat, aliran B menyimpang dsb-nya. Dan berkillah lagi, ini untuk warga NU saja. Lalu siapa yg bisa melarang ? NU tidak begitu. Mereka membiarkan semua berjalan apa adanya, tidak takut akidah umatnya tergerus apalagi cuma dengan mie instan. Malah kalau ada non muslim yang membagi2kan mie instan, mereka akan dengan senang hati datang. Kapan lagi dapat gratisan ?

NU sebagai pembela NKRI, bisa saja membenturkan dirinya dengan HTI, Majeliss Mujahidin dan organisasi2 Islam gurem lainnya yang menguasai khilafah. GP Ansor dan Banser punya kemampuan untuk itu. Tapi untuk apa ? NU tetap berjalan pada koridor hukum dan undang2. Mereka melawan dengan cara yang sangat soft dan smart, membuat Islam Nusantara sebagai tandingan dari Islam Radikal yang diusung para pecinta khilafah.

Siapa yang bisa menjaga gereja2 dan perayaan hari besar umat non muslim, selain NU ? Tanpa ada NU, mungkin sudah banyak bom berletusan yang menjadikan gesekan besar antar umat beragama. Kita bisa seperti Suriah, Afghanistan dan Irak. Bahkan salah seorang anggotanya syahid ketika melindungi sebuah gereja dari bom.

NU-lah pelopor gerakan pluralisme dengan berdakwah, menunjukkan wajah Islam yang penuh rahmat di gereja2. Tidak ada rasa takut bahwa automurtad seperti propaganda bodoh yg terus dilancarkan. NU pula-lah yang menjaga budaya asli Islam Indonesia sehingga tidak terkontaminasi budaya arab.

Begitu kuat dan tenangnya NU bergerak, sehingga langkahnya terasa tidak terdengar. NU seperti singa yang tidak perlu mengaum, ketika dirasa tidak ada bahaya. Beda dengan anjing yang selalu menggonggong bahkan ketika orang sekedar lewat saja.

Karena itu temanku, kalau mau melihat bagaimana Islam di Indonesia, lihatlah NU ( dan Muhammadiyah ). Masih selamatnya kita di Indonesia ini tidak lepas dari besarnya peran mereka menjaga kita tetap utuh.

Jangan lihat yang organisasi2 gurem itu. Mereka harus teriak keras2 supaya diperhatikan NU.

Mereka berteriak, "kami umat Islam.." padahal mereka kecil saja. Mereka teriak, "kami mayoritas.." NU ketawa saja. Elu ? Mayoritas ? Emak lu robot...

Sayang, NU ga tertarik dengan teriakan2 minta perhatian  mereka. Bahkan cenderung menyindir2 kebodohan mereka dalam beragama dengan gaya yang masih santun, sarungan, kopiahan dan cangkrukan sambil ngudut dan ngopi.

Mari kita angkat secangkir kopi untuk NU. Mereka layak mendapatkan itu.

23/02/2016

Gus Jari "Isa Habibulloh" Membantah

Investigasi Kepada “nabi abal2”, Gus Jari
Di Pondok Pesantren Kahuripan Ash Shirot Gempol Karangpakis Kabuh Jombang.
Agaknya kita sebagai bangsa Indonesia sudah tidak terkejut lagi dengan munculnya nabi abal2 (palsu) karena saking banyaknya, mungkin negara kita termasuk penghasil nabi abal2 terbanyak di dunia.
Beberapa hari ini di medsos kita disibukkan dengan munculnya orang yang bernama Gus Jari asal Gempol, Karang Pakis, Kabuh, Jombang, Jawa Timur, yang diberitakan sebagai orang yang telah mengaku sebagai nabi.
Hal ini menyebabkan saya harus melakukan investigasi secara langsung agar bisa melihat dari dekat baik sosok orangnya, ajarannya, gerakannya dan pengikutnya.
Pada hari Ahad, 21 Februari 2016 saya bersama Bapak Drs. Imam Sanusi (Ketua FKUB –Forum Kerukunan Umat Beragama- Kabupaten Kediri) dengan ditemani sopir melakukan investigasi ke Gus Jari di kediamannya di Pon. Pes. Kahuripan Ash Shiroth Gempol, Karangpakis, Kabuh, Jombang. Saya berangkat dari rumah sekitar jam 16.15 WIB dan sampai di Gempol Kabuh sekitar 17.40 WIB. Tidak terlalu sulit untuk mencari desa tersebut meski agak masuk ke dalam dan melewati jalanan yang di samping kanan kirinya areal persawahan.
Sampai di desa Gempol, saya tidak langsung ke rumah Gus Jari, tapi mampir dulu di Warung Kopi yang terletak sekitar 50 meter dari rumahnya, untuk ngopi sekaligus untuk mencari data skunder dari tetangganya.
Menurut tetangganya, di kampungnya itu tidak ada satu pun orang yang menjadi pengikut Gus Jari, tapi pengikutnya berasal dari luar daerah yang dalam waktu sebulan ada 2 kali pertemuan untuk pengajian.
Dari penjelasan tetangganya, Gus Jari itu berprofesi sebagai paranormal yang biasa menerima pasien untuk konsultasi problem sehari-hari. Gus Jari juga berhasil membangun masjid cukup bagus serta pondok pesantren di samping rumahnya. Tetangganya tidak banyak yang tahu aktifitas Gus Jari secara detail, malah tahunya kebanyakan dari televisi.
Setelah saya selesai berbicang di warung kopi tersebut, saya berjalan menuju rumah Gus Jari. Pintu gerbang pondoknya memang cukup unik, bermotifkan burung garuda sedang mencengkram bumi dan ada bintangnya. Di bawahnya tertulis : Pondok Pesantren Kahuripan Ash Shiroth lalu di bawahnya tergantung tulisan :”Fafirru Illallah” dan terjemahnya dalam bahasa Jawa. Di Pondoknya tersebut ada masjid yang bernama Ash Shirothol Mustaqim, yang menjelang shalat biasanya diputar lantunan Ayat2 Al Qur’an dari pengeras suara sebagaimana masjid pada umumnya.
Setelah saya memasuki komplek pondok pesantren, saya terus berjalan menuju masjid sambil mengamati situasi dan lingkungan, tiba-tiba saya disapa oleh sosok orang paruh baya dari samping rumahya: “Assalamu ‘alaikum “
Saya jawab : “Wa ‘alaikumussalam”. Apa benar anda Gus Jari ?” Saya bertanya demikian untuk memastikan karena sebelumnya saya belum tahu wajah Gus Jari, kecuali dari TV. “Nanti setelah maghrib saya bisa ketemu Anda? “ tanya saya . “O ya silahkan”, jawab Gus Jari.
Kemudian saya menuju masjid Ash Shirothol Mustaqim untuk shalat maghrib, dari masjid dikumandangkan adzan dan setelah adzan dilantunkan pujian shalawat sebagaimana masjid pada umumnya. Selang tidak lama, dilantunkannya iqamat sebagai tanda bahwa shalat berjama’ah dimulai, yang bertindak sebagai imam adalah Bapak Turmudzi, kerabat dekat Gus Jari.  Gus Jari juga nampak ikut shalat berjama’ah di masjid itu. Setelah shalat maghrib selesai, para jama’ah membaca wirid bersama-sama dengan suara jahr (keras) sebagaimana di masjid lain pada umumnya.
Selesai itu, saya menemui Gus Jari di masjid, lalu saya diajak menuju rumahnya. Sampai di rumahnya, saya dipersilahkan duduk, saya melihat di meja tamu ada rokok GG Surya 12 dan koreknya. Lalu saya mengeluarkan rokok GG Surya 16 dari saku baju saya. Saya mulai menyalakan rokok dan Gus Jari pun juga menyalakan rokok. Setelah hp untuk merekam saya siapkan secara tersembunyi, maka saya mulai dialog dengan Gus Jari (yang berumur 44 tahun, mempunyai 2 putra) sebagai berikut :
Gus Jari: “Apa tujuan Anda datang ke sini ?”.
Saya : “Untuk tabayun dengan Anda?”
Gus Jari : “O ya silahkan. Sekarang ini tertutupnya zaman rekayasa, terbukanya zaman realita, siapapun yang merekayasa keadaan akan hancur”
Saya : “ Bagaimana Anda bisa diberitakan telah mengaku sebagai Nabi?
Gus Jari : “ Itu semua rekayasa agar terjual beritanya di masyarakat. Saya hanya mendapat petunjuk dari Allah lalu direkayasa oleh mereka”.
Saya :” Ceritakan perjalanan hidup Anda !”.
Gus Jari : Apa yang saya alami ini bukan rekayasa tapi realita, sejak 1978 sampai 1985 saya ini seorang penggembala kambing. Lalu saya belajar ilmu-ilmu syari’ah selama 7 tahun, saya mondok di Pondok Pesantren At Taufiq Sambong Jombang dan di Tambakberas Jombang. Setelah itu saya mendapat petunjuk untuk belajar ilmu thariqat, hakikat sampai ma’rifat, sampai saya menjalani puasa tirakat 11 tahun, sampai ketemulah saya dengan Ma’rifat Lillah dan Ma’rifat Billah itu”.
Saya : “ Di Tambakberas di mana?
Gus Jari : “Saya kuliah di STIT yang waktu masih bernama STIT tapi tidak sampai selesai. Ijazah terakhir saya hanya Aliyah”
Saya : “Siapa guru spritual anda ?”
Gus Jari : “Kyai Ebes Tarmuji Brangkal Mojokerto, dia dulu berguru kepada Mbah Mangli Magelang dan Kyai As’ad Situbondo, Anda lihat apa beliau-beliau ini salah?”
Saya : “Lalu bagaimana ceritanya Anda sampai menjadi berita besar seperti ini?”
Gus Jari : “Ini realita bukan rekayasa, pada malam Jum’at Legi tahun 2005, haq billah, saya berani bersumpah, saya melihat cahaya bersinar memasuki tubuh saya lalu ada lafazh “’Isa Habibullah” kalau di Jawa disebut Raden Arya. Lalu saya lanjutkan shalat Tahajud, saya mendengar panggilan “ Yasin 7 kali “ kemudian ada panggilan : “Wahai Isa” sampai 7 kali lalu dilanjutkan Yasin sampai diteruskan 5 ayat.” Maksud dari “Isa diturunkannya kembali bukan jasadnya tapi nurnya”.
Saya : “Mungkin dari kisah ini yang menyebabkan Anda dianggap telah mengaku sebagai Nabi”
Gus Jari : “Kalau ada yang memelintir pengalaman spiritual saya ini, maka akan saya tuntut. Saat inilah tertutupnya zaman rekayasa terbukanya zaman realita. Yang memelintir itu teman saya sendiri yang kerja di Kemenag Jombang. Saya terus dipojokkan oleh MUI dan Kemenag Jombang. Di sini mereka saya bilangi “Kalau kalian menilai saya jangan seperti itu, tapi cari dulu orang yang Ahli Ilmu Ghaib, wong belum dilihat oleh Ahli Ilmu Ghaib saja sudah terburu-buru menilai saya”
Saya :”Di masjid Anda ada sebongkah batu itu apa maksudnya? Dari mana batu itu”.
Gus Jari : “ Batu itu simbol “Sileme  gabus, muncul e watu item”, Silem wong gedabrus2 muncul wong ahli saestu” (tenggelamnya orang yang banyak ngomong penuh rekayasa, munculnya orang-orang yang sungguhan). Batu itu saya dapatkan melalui tirakat di Gunung Lawu.”
Saya : “Apa karena menceritakan pengalaman spiritual di atas kepada sembarang orang sehingga Anda diberitakan mengaku sebagai nabi? ”
Gus Jari : “Tidak. Saya tidak menceritakan kepada sembarang orang. Tapi ada orang yang memlintir hal itu, dia adalah teman saya sendiri, namanya Ilham, ia bekerja di Kemenag Jombang, dia itu teman saya, teman mondok saya dan teman sekolah saya, kalau saya kasih tahu dengan bahasa rekayasa dia menerima tapi kalau saya kasih tahu dengan bahasa realita dia memlintir. Kemarin dia di sini dia ketakutan, karena saya patahkan argumentasinya. Orang-orang MUI Jombang itu belum pernah ketemu saya, belum klarifikasi ke saya, sudah bicara ngawur. Itu karena membaca berita plintiran itu”
Memang pengalaman spiritual saya ini harus saya sampaikan, ini sudah waktunya, walaupun pemerintah tidak mendukung saya tapi masyarakat kecil yang menjadi senjata, akan berbondong2 membela saya, karena meyakini inilah yang akan menjadi Ratu Adil. Anda beruntung masih dapat menemui Ratu Adil. Kelak nanti akan sulit menemui saya, ha ha ha ha ha. Kalau saya bohong, saya tidak akan mungkin bisa menyampaikan. Saya punya bukti data otentik, berdasarkan lelaku, wahyu dan apapun yang telah saya terima.”
Saya : “Dengar2 Anda dulu juga pernah aktif di NU? Apa pernah menjadi pengurus NU?”
Gus Jari : “Lo, saya ini orang NU sejak kecil. Saya juga pernah menjadi Pengurus MWC NU Kecamatan Kabuh. lalu bagaimana saya kok dianggap sesat seperti ini.”
Saya : “Di masjid dan rumah Anda ada gambar Semar. Itu apa maksudnya?”
Gus Jari : Saya ini 15 tahun menyamar dan akhirnya Semar sudah saya letakkan menjadi Ismoyo yang berisi ‘Isa Habibulloh’, ini saya terbuka saja, tapi ya hanya nur nya saja. Tugasnya meneruskan ajaran Nabi Muhammad, tidak membawa ajaran baru. Adapun mereka menuduh saya sebagai nabi palsu, itu karena mereka belum pernah ke sini dan belum tahu saya.”
Saya :”Saya ulangi lagi pertanyaan saya :Apa Anda mengaku menjadi nabi?
Gus Jari : “Tidak. Siapa yang mengaku menjadi nabi?”
Sampai di sini, kemudian saya pamitan untuk pulang.
Dari dialog saya dengan Gus Jari di atas, maka ada beberapa catatan yang perlu saya sampaikan :
1. Perlu diteliti lebih lanjut tentang kualitas kejujuran Gus Jari.
2. Bisa dipastikan bahwa Gus Jari berprofesi sebagai paranormal, yang cenderung mengunggulkan diri pribadinya untuk meyakinkan orang lain.
3. Gus Jari nampak sebagai pengamal ilmu hakekat yang pada umumnya suka menyampaikan cerita-cerita seperti itu dan cerita-cerita seperti itu memang biasa menjadi materi obrolan para pengamal ilmu hakekat. Yang dimaksud dengan Ilmu Hakekat di sini adalah ilmu klenik.
4. Jika pengalaman spiritual yang diceritakan Gus Jari di atas benar-benar terjadi, maka perlu diteliti lebih lanjut apakah hal itu memang benar sebagai petunjuk dari Allah atau hanya permainan syetan belaka.
5. Pengalaman spiritual atau ilmu sirri memang tidak boleh diceritakan secara terbuka, karena rentan menjadi fitnah, sedangkan Gus Jari menceritakannya secara terbuka dengan penuh percaya diri,
6. Gus Jari memang membantah keras bahwa dia telah mengaku menjadi nabi. Tapi dia secara tidak langsung telah menganggap dirinya sebagai calon Ratu Adil.
7. Keyakinan Gus Jari bahwa Nabi Isa diturunkan kembali ke dunia hanya berupa nur (cahaya) saja juga bertentangan dengan hadits-hadits shahih dan mutawatir yang secara jelas menegaskan bahwa Nabi Isa akan diturunkan kembali ruh dan jasadnya secara nyata.
8. Jajaran struktural NU khususnya PCNU Jombang khususnya Aswaja NU Center Jombang perlu mengadakan pemantauan lebih lanjut kepada Gus Jari, mengingat Gus Jari juga pernah menjadi Pengurus MWC NU Kabuh, berdasarkan pengakuannya.
9. Pihak-pihak terkait harus tetap menjunjung tinggi kearifan dalam menyikapi kasus Gus Jari ini, agar lebih tepat dalam mengambil sikap.
Apa yang saya laporkan ini dan analisis saya di atas memang belum lengkap tapi minimal dapat dijadikan data tambahan dan pertimbangan. Investigasi dan dialog berikutnya perlu dilaksanakan oleh pihak-pihak terkait tentunya dengan melibatkan Para Ahli dan Ulama khususnya yang menguasai bidang ilmu aqidah dan tashawwuf.
Wallahu A’lam.
(Ach.Cholili)

Jombang Dan Kegilaan Didalamnya

Duduk jombang nek gak iso ngetokno wong-wong edan.
Sopo sing gak eruh produk-produk dan kualitase wong Jombang....
Pancen jombang iku joss....
Indonesia tanpa jombang mungkin tidak seru, para pendekar pendekar dan ksatria-ksatrianya bertebaran di muka bumi NKRI, nah...jika Indonesia ini diibaratkan rumah, maka Kabupaten Jombang adalah sebuah sudut kecil yang berada di rumah itu. Namun justru dari sudut kecil itulah selalu muncul letupan-letupan mengejutkan dan mampu membetot perhatian seisi rumah. Kadang letupan itu hanya berupa asap. Muncul lalu menghilang. Bisa juga letupan itu berupa bara. Menganga, menghangatkan, memanaskan sekaligus mencemaskan.
Paling baru, letupan dari sudut kecil itu bernama Jari, usianya 40 tahun. Dia tinggal di Dusun Gempol, Desa Karangpakis, Kecamatan Kabuh. Kemunculan Jari ini entah sebagai asap atau bara. Pastinya, kemunculan bapak dua anak ini juga membetot perhatian. Pandang mata seisi rumah tertumbuk kepadanya. Ada yang was-was, ada yang nyinyir, ada pula yang kepanasan, sehingga ingin segera menyiramnya dengan air. Maklum saja, ketika kata-kata sesat sedang fasih
dirapalkan di negeri ini, Jari justru mendongak dan mengaku sebagai nabi. Dia mengerek bendera dengan embel-embel nabi tanda akhir zaman bergelar Isa Habibullah atau Isa Kekasih Allah. Ceritanya, suatu hari di malam Jumat Legi tahun 2004, Jari sedang menjalankan ibadah salat malam. Ketika terbenam dalam sujud, dia mendengar bacaan Surat Yasin berulang-ulang. Dada Jari seperti dihantam godam. Dari kejadian itu, dia menafsirkan bahwa wahyu kenabian telah hinggap pada dirinya. Dari dusun kecil di pinggiran hutan Kecamatan Kabuh, dia membangun pesantren. Lewat dusun terpencil itu pula Jari meneriakkan kenabiannya. Teriakan itu tidak keras, namun gemanya merambat kemana-mana. Menerobos jalan raya, melintasi gedung tinggi, masuk ke ruang MUI, membentur kursi gubernur, hingga mangitari meja menteri. Tentu saja, Menteri Agama akhirnya bersuara untuk menanggapi. Atas fenomena itu, komentar yang mengalir dari banyak orang pun beragam. Namun nada dasarnya tetap seragam, semisal 'ada apa lagi dengan Jombang?' atau 'Jombang memang aneh'. Bahkan lebih ekstrim lagi, munculnya Jari akan menambah daftar panjang deretan 'orang gila' yang lahir dari sudut ruang bernama Jombang. Soal banyaknya 'orang gila' yang lahir dari Jombang,

KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur mengakuinya. Akan tetapi, justru hal itu menjadi kebanggan tersendiri bagi Gus Dur terhadap tanah kelahirannya. Saya masih ingat, dalam sebuah ceramah pengajian di alun-alun Jombang tahun 2002, mantan presiden ini menyebut setidaknya ada tujuh 'orang gila' yang lahir dari rahim Jombang. Ya, kota santri telah menyumbang tujuh 'orang gila' untuk Indonesia. Siapa saja mereka?
Berada di urutan pertama adalah Gus Dur sendiri. Semua orang tahu, bagaimana sepak terjang cucu pendiri NU ini selama hidup. Ketika orde baru sedang kuat-kuatnya, Gus Dur justru mengibarkan bendera perlawanan. Peta pemikiran Gus Dur juga sulit ditebak, dan tidak jarang memantik kontroversi. Semisal, mengubah Assalamu'alaikum menjadi selamat pagi. Gus Dur memang aneh. Hanya Gus Dur presiden yang meninggalkan istana dengan mengenakan celana kolor.
Selanjutnya 'orang gila' yang menempati urutan kedua adalah Nurcholis Madjid atau Cak Nur. Tokoh pembaruan pemikiran Isapan ini lahir di Dusun Mojoanyar, Desa Mojotengah, Kecamatan Bareng, Jombang. Menjelang pemilu 1971, Cak Nur membuat geger Indonesia terkait pandangannya tentang politik dan keislaman. Cak Nur melontarkan gagasan ‘Islam yes, Partai Islam no’. Padahal saat itu partai Islam sedang naik daun.
Lantas, siapa 'orang gila' urutan ketiga dari Jombang?
Gus Dur dalam pengajian itu menyebut nama Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun. Pria kelahiran Desa Mentoro, Kecamatan Sumobito ini dikenal sebagai sosok yang multidimensi. Maka tidak berlebihan jika Gus Mus (KH Mustofa Bisri) menjuluki Cak Nun seperti tertulis dalam selarik puisinya; santri tanpa sarung, haji tanpa peci, kiai tanpa sorban, dai tanpa mimbar, mursyid tanpa tarekat, sarjana tanpa wisuda, guru tanpa sekolahan, aktivis tanpa LSM, pendemo tanpa spanduk, politisi tanpa partai, wakil rakyat tanpa dewan, pemberontak tanpa senjata, ksatria tanpa kuda, saudara tanpa hubungan darah. Masih segar dalam ingatan kita saat Presiden Soeharto meletakkan jabatannya pada 21 Mei 1998. Di depan kamera televisi disaksikan jutaan rakyat Indonesia, Soeharto menyatakan dalam bahasa Jombangan “Ora dadi presiden ora patheken”. Nah, siapa lagi yang mengajari orang kuat di era orde baru itu, kalau bukan 'orang gila' dari Jombang.
Sementara urutan keempat adalah Wardah Hafidz. Anak tokoh Masyumi asal Desa/Kecamatan Sumobito. Wardah dikenal sebagai emaknya kaum miskin kota di DKI Jakarta. Ketika tukang becak digusur, Wardah tampil membela, begitu juga ketika pemulung dan PKL (Pedagang Kaki Lima) diobrak-abrik. 'Orang gila' urutan keempat ini selalu pasang badan. Wardah pernah memantik kontroversi. Dia mencalonkan seorang tukang becak bernama Rasdullah untuk menjadi walikota DKI. Saat mendaftar Rasdullah hanya membawa sapu lidi, yang akan digunakan membersihkan koruptor. Singkat kata, hanya Wardah yang bisa membikin Sutiyoso (walikota DKI Jakarta, saat itu), pusing kepala.
Kelima, yang masuk daftar 'orang gila' versi Gus Dur adalah Salman Hafidz. Dia merupakan kakak kandung Wardah Hafidz. Bersama kelompoknya yang tergabung dalam Komando Jihad, Salman melakukan pembajakan pesawat Garuda DC-9 Woyla jurusan Palembang-Medan, pada 28 Maret 1981. Salman dkk menuntut agar para rekannya yang ditahan usai peristiwa Cicendo di Bandung, Jawa Barat, dibebaskan. Aksi kelompok ini bisa digagalkan tentara. Salman sendiri akhirnya dieksekusi. Aksi kelompok ini kemudian dikenal sebagai teror pertama di Indonesia.
Keenam adalah Asmuni, pria kelahiran Desa/Kecamatan Diwek, Jombang. Asmuni bukan pelawak dadakan. Namun tumbuh dari proses alam, dari panggung komedi kehidupan rakyat, hingga menjadi ikon Srimulat. Semua orang pasti ingat, blangkon, kumis ala hitler, ungkapan menggelitik 'hil yang mustahal' hingga tertawa ha ha ha ha ha sebanyak lima kali. Semua itu adalah khas Asmuni. Bahkan di ujung usianya, dalam kondisi digerogoti penyakit, Asmuni masih bisa melemparkan humor-humor segarnya.
Orang ketujuh yang masuk daftar 'orang gila' kelahiran Jombang adalah Abu Bakar Ba'asyir, pendiri Majelis Mujahidin Indonesia (MMI). Arek Mojoagung Jombang ini banyak dikait-kaitkan dengan gerakan terorisme. Ba'asyir merupakan salah seorang pendiri Pondok Pesantren Islam Al Mu'min, Sukoharjo Jawa Tengah. Bagi saya, tujuh tokoh yang disebut oleh Gus Dur itu
hanyalah contoh. Karena masih banyak lagi tokoh yang memenuhi etalase Jombang. Mereka muncul dari arah yang berbeda. Ada dari kiri, kiri habis, tengah, kanan, hingga dari kanan habis. Bahkan ada pula dari mereka yang sudah tersobek dari lembar sejarah. Semaun misalnya. Dia adalah pendiri PKI (Partai Komunis Indonesia). Lahir di Curahmalang, Kecamatan Sumobito, Jombang. Karena bahaya 'merahnya' nama Semaun tersobek dari lembar sejarah.

Di wilayah kesenian, ada Cak Durasim, yang namanya diabadikan menjadi gedung di Surabaya. Di tangan arek Jombang ini, ludruk menjadi ancaman bagi Jepang. 'Pasemonnya' tajam melebihi bambu runcing. Pasemonnya yang paling terkenal adalah 'Pagupon Omahe Doro, Melok Nipon Tambah Sengsoro'. Karena kata-kata itu pula, Cak Durasim ditangkap Jepang. Dia syahid di tangan penjajah. Di Jombang sendiri, nama Cak Durasim kemudian diabadikan menjadi nama jalan.
Ada juga Gombloh, pelantun lagu 'Kebyar Kebyar'. Penyanyi legendaris ini lahir di Desa Kepatihan, Jombang Kota. Aksi 'gila' Gombloh adalah ketika honornya dari nyanyi dibelikan BH. Pakaian dalam itu kemudian dinaikkan becak dan dibagikan kepada penghuni lokalisasi Gang Dolly. Setelah era Gombloh, masih ada penyanyi yang lahir dari Kota Santri. Dia adalah Nur Halimah, penyanyi dangdut yang bertetangga dengan Cak Nur.
Ada lagi? Tentu saja masih banyak 'orang aneh' dari Jombang.
Sebut saja Choirun Nasikhin, warga Desa Nglele, Kecamatan Sumobito. Pada tahun 1994, Choirun membuat gempar Indonesia. Dia 'nunut' pesawat Garuda untuk menunaikan ibadah haji ke tanah suci. Sejak itu Choirun dijuluki Haji Nunut.
Rentang belasan tahun kemudian muncul nama Ponari, dukun cilik bersenjata batu petir. Puluhan orang memadati rumahnya untuk mencari kesembuhan.
Di wilayah kriminal, Jombang menyorongkan nama Very Idham Henyansah atau Ryan, ke pentas nasional. Pria gemulai ini melakukan pembunuhan sadis pada tahun 2008. Tidak tanggung-tanggung, korbannya tembus 11 orang.
Jombang juga tidak lelah melahirkan tokoh-tokoh yang memiliki pemikiran brilian untuk negeri ini. Maka tidak heran dari rahim Jombang lahir tiga Pahlawan Nasional. Yakni, Hadlratus Syeikh Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah, serta KH Wahid Hasyim. Dua nama pertama itu sekaligus pendiri organisasi keagamaan terbesar se-Nusantara sampai hari ini: Nahdlatul Ulama (NU), bersama KH Bisri Syansuri.
Dewasa ini, nama arek Jombang makin bertebaran di pentas regional dan nasional. Sebut saja Muhaimin Iskandar (mantan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi), kemudian Jenderal Timur Pradopo (mantan Kapolri), Imam Utomo (mantan Gubernur Jawa Timur), Choirul Anam atau Cak Anam (mantan Ketua GP Ansor Jawa Timur), tidak ketinggalan pula Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul.
Zaman terus bergerak, roda sejarah tak henti berputar. Keyakinan saya, Jombang masih produktif melahirkan 'orang-orang gila' yang akan disumbangkan untuk Indonesia. Oleh karenanya, setelah fenomena 'Nabi Isa', mari kita tunggu letupan apa lagi yang bakal muncul dari sudut kecil di rumah besar bernama Indonesia ini.(copas WA Group Jombang diaspora)