Showing posts with label Nasional. Show all posts
Showing posts with label Nasional. Show all posts

04/05/2016

Peringatan KH.Hasyim Muzadi untuk HTI

KH HASYIM MUZADI MEMPERINGATKAN HIZBUTTAHRIR INDONESIA ( HTI )

1. Hari rabu 4 mei 2016 jam 12.00 sd jam 14.15 pimp pusat Hizbuttahrir berkunjung ke kediaman KH.Hasyim muzadi di pesantren depok untuk mendiskusikan masalah keagamaan dan kebangsaan .


2. Disampaikan kepada HTI hendaknya jangan ada sedikitpun keinginan serta tema2 perjuangan HTI seperti " penegakan hilafah" , "tidak setuju NKRI dan pancasila" yg dapat  dikesankan HTI akan membuat negara baru . Sebenarnya HTI cukup mengisi indonesia dg syareat islam rahmatan lil alamin , bukan membuat negara indonesia baru .


3. Dengan adanya membuat tema-tema negara baru,  HTI sama artinya dg mempersenjatai musuh islam ( islamo pobia ) untuk menggunakan kekuasaan negara indonesia guna menyerang HTI dan juga islam . 


4.Pancasila telah diterima kaum muslimin indonesia melalui proses panjang ( -+ 40 th ) maka jangan dipersoalkan lagi . Dimulai dari perjuangan bersenjata :
DI/TII , permesta/PRRI , perjuangan konstitusional melalui konstituante , sampai NU menjadi partai politik , bergabung dg PPP , semuanya tidak ada yg cocok untuk kaum muslimin ,.... akhirnya tahun 1984 menetapkan pancasila sbg asas negara dan islam ahlussunnah sbg idiologi NU sebagaimana tertera dalam khittoh nu . Hendaknya proses panjang ini tidak dicederai .


5. NU/ANSOR  jangan menyelesaikan masalah HTI dg cara kekerasan karena akan terkesan NU/ANSOR  mendiamkan akan timbulnya PKI di indonesia dilain sisi ganas kepada sesama muslim .
Saya yakin PKI jauh lebih berbahaya dari HTI , baik ukuran agama maupun ukuran negara . Bahkan bisa terkesan pengalihan masalah dari PKI ke HTI .


6. Penyelesaian HTI oleh NU/ANSOR hendaknya dimulai dg musyawarah agar NU dapat menjadi pemimpin umat islam indonesia.

7. Semoga himbauan saya didengar HTI . Tidak perlu khilafah , terimalah NKRI dan pancasila .


8.  NU/ANSOR  jangan terkecoh kepada islamo pobhia .


(
A hasyim muzadi pesantren mahasiswa alhikam depok)

02/05/2016

Perjanjian Green Hilton, HARTA SUKARNO HARTA NKRI

Harta Karun NKRI dan Perjanjian Green Hilton
Harta karun milik bangsa Indonesia yang sering disebut dana revolusi, dana amanah, atau apapun itu yang tercantum dalam The Green Hilton Memorial Agreement Geneva menjadi misteri sampai saat ini. 

The Green Hilton Memorial Agreement Geneva yang menyebabkan terbunuhnya Presiden Amerika Serikat John Fitzgerald Kennedy 22 November 1963. Inilah perjanjian yang kemudian menjadi pemicu dijatuhkannya Bung Karno dari kursi kepresidenan oleh jaringan CIA yang menggunakan ambisi Soeharto. Perjanjian itu bernama The Green Hilton Memorial Agreement Geneva. Akta termahal di dunia ini diteken oleh John F Kennedy selaku Presiden AS, Ir Soekarno selaku Presiden RI dan William Vouker yang mewakili Swiss. Perjanjian segitiga ini dilakukan di Hotel Hilton Geneva pada 14 November 1963 sebagai kelanjutan dari MOU yang dilakukan tahun 1961.

Harta tersebut diangkut VOC ke Belanda, Direbut Jerman lalu dikuasai Amerika ketika menang perang dunia ke-2. Semuanya itu bermula dari kisah kerakusan para raja-raja yang ada di nusantara dulu pada era penjajahan Belanda. Para raja-raja menurut literatur yang saya peroleh, lebih senang menyimpan batangan emasnya pada De Javasche Bank (DJB), bank sentral pemerintah kolonial Belanda di Jakarta yang kemudian menjadi Bank Indonesia sekarang. Tetapi banyak juga memang kekayaan harta nenek moyang itu dirampas oleh VOC secara paksa. Harta-harta inilah kemudian diangkut ke negeri Ratu Yuliana (ketika itu). Setelah Belanda kalah perang dengan Jerman, maka Nazi membawa kekayaan itu ke negaranya. Pada Perang Dunia II, Jerman kalah perang dengan Amerika, Harta itu pun diangkut ke Amerika yang kemudian dijadikan modal untuk mendirikan The FED. Inilah yang kemudian mengapa sebagian besar para tetua kita mengklaim bahwa Indonesia punya saham di FED, namun tidak pernah diakui keberadaannya. Mendengar kabar buruk tersebutlah kemudian mendorong Bung Karno selaku Presiden RI untuk melakukan perundingan dengan petinggi Amerika dan Eropa. Bung Karno berhasil mendapatkan pengakuan bahwa harta itu memang berasal dari bangsa Indonesia, tetapi mengabaikan kewajiban bagi negara itu untuk mengembalikannya. Sebab, bagi mereka itu merupakan harta rampasan perang. Hasil kesepakatan itu dinamai “Hilton Agreement” yang terjadi pada tahun 1961.

Banyak pengamat Amerika melihat perjanjian yang kini dikenal dengan nama "The Green Hilton Agreement" itu sebagai sebuah kesalahan bangsa Amerika. Tetapi bagi Indonesia, itulah sebuah kemenangan besar yang diperjuangkan Bung Karno. Sebab volume batangan emas tertera dalam lembaran perjanjian itu terdiri dari 17 paket sebanyak 57.150 ton lebih emas murni. Pada dokumen lain yang tidak dipublikasi disebutkan, atas penggunaan kolateral tersebut AS harus membayar fee sebesar 2,5% setahun kepada Indonesia. Hanya saja, ketakutan akan muncul pemimpinan yang korup di Indonesia, maka pembayaran fee tersebut bersifat tertutup.

Berdasarkan fakta yang dijumpai di lapangan, harta ini sudah pernah mau dicairkan pada 1986-1987 tapi gagal, lalu pada awal 2000 oleh Megawati ketika menjadi Presiden mencoba untuk mencairkan harta Bung Karno di UBS Swiss, tetapi tidak berhasil, karena Mega tidak tau rekening khusus Bapaknya di FED ini. Sebab sejak awal Bung Karno menyatakan bahwa keluarganya tidak ada yang paham tentang rekening khusus ini.

Dengar-dengar ketika krisis menerpa AS dan dunia akhir-akhir ini, pemerintah Obama mencoba meyakinkan dunia melalui titah Puas di Vatikan bahwa AS berhak mencairkan harta ini. Atas dasar untuk kepentingan ummat manusia, agaknya hati Vatikan mulai luluh. Konon kabarnya, Vatikan telah memberikan restu itu tanpa mengabaikan bantuan kepada rakyat Indonesia. Menurut sebuah sumber di Vatikan, ketika Presiden AS menyampaikan niat tersebut kepada Vatikan, Puas sempat bertanya apakah Indonesia telah menyetujuinya. Kabarnya, AS hanya memanfaatkan fakta MOU antara negara G-20 di Inggris dimana Presiden Indonesia SBY ikut menandatangani suatu kesepakatan untuk memberikan otoritas kepada keuangan dunia IMF dan World Bank untuk mencari sumber pendanaan alternatif. Konon kabarnya, Vatikan berpesan agar Indonesia diberi bantuan. Mungkin bantuan IMF sebesar USD 2,7 milyar dalam fasilitas SDR (Special Drawing Rights) kepada Indonesia pertengahan 2 tahun lalu merupakan realisasi dari kesepakatan ini, sehingga ada isyu yang berkembang bahwa bantuan tersebut tidak perlu dikembalikan. Oleh Bank Indonesia memang bantuan IMF sebesar itu dipergunakan untuk memperkuat cadangan devisa negara.

14 November 1963 bisa dibilang tanggal keramat berkat perjanjian bersejarah antara dua presiden paling kharismatik pada jaman itu. Presiden Indonesia Soekarno - yang dikenal sebagai Ahmed Sukarno di luar negeri - sepakat tandatangani The Green Hilton Agreement dengan Presiden Amerika John F Kennedy. Dengan penuh kebanggan Sukarno menyerahkan sekitar 57.147 ton emas murni 24 karat kepada State Treasury. Itulah harta nasional dan konon titipan/amanat dari kerajaan-kerajaan Asia.

Tahun 1967 dinyatakan sah oleh pemerintah Amerika, tapi sayangnya pada 24 November 1963 Kennedy tewas dibantai dan pada 1965 Sukarno digulingkan dari istana. Presiden Johnson, penerus Kennedy, membatalkan perjanjian. Yaitu perjanjian cetak dollar dengan dukungan emas tersebut. Sejak itu nasib 57.147 ton emas amat misterius, nyangkut dalam kekuasaan The Fed (Federal Reserves) bank sentral Amerika.

Saking rahasia dan misteriusnya sampai tidak ada entri khusus dalam "wikipedia" tentang The Green Hilton Agreement. Mainstream media juga tutup mulut. Indikasi kuat wikipedia dan mainstream media tidak jujur alias alat propaganda Amerika dkk belaka.

Ada pula informasi emas tersebut disimpan di Swis karena bank Swis UBS yang jadi penampung sekaligus penengah. Namun disimpan di manapun tetap itu titipan alias amanat yang wajib kembali kepada pemilik. Sebagian kecil milik Indonesia, sebagian besar milik negara lain. Bukannya dikekepin 39 tahun terus diputar untuk keuntungan pemegang barang.

Keberadaan emas bukan khayalan. Terbukti pada 2003 dibuka lembaga OITS di Thailand sebagai wujud pengakuan. Dihandel oleh Dr.Ray C Dam melalui "International Combined Colleteral Accounts" sebagai pasangan "Global Debt Facility". Semacam pengakuan hutang antar bangsa. Lembaga ini diakui PBB (UN). Sayangnya belum cair dana kepada pemilik malah keburu ribut.

Tercatat nama-nama terkait pencairan dana simpanan emas internasional, termasuk emas di luar amanat Bung Karno yaitu Ferdinan Marcos, adalah: Dr.Edison Damanik, Neil Keenan, Michael Meiring, Steve Scott, Joseph Daraman, Wilfredo Saurin alias Yohanes Riady. Nama-nama ini bukan jaminan pemegang amanat yang sah. Malah Wilfredo Saurin masuk blacklist penipuan sertifikat emas. Konon harta karun trilyun dollar itu telah banyak makan korban nyawa dan penipuan harta serta pemalsuan sertifikat bon emas.

Presiden SBY belakangan dikabarkan menyerahkan urusan emas tersebut kepada IMF dan World Bank sesuai saran kelompok negara G20. Kemudian Indonesia memperoleh hibah $2,8 milyar dari IMF. Nah pertanyaannya adalah: Apa benar hibah ini wujud kompromi untuk melupakan 57147 ton emas bernilai trilyun dollar?

Mungkin SBY sudah patah hati karena yakin bakal gagal menuntut dikembalikannya emas amanat Bung Karno. Mungkin kalkulasi politiknya mengatakan percuma melawan negara besar yang amat berkuasa. Mungkin kalkulasi ekonominya paham betul emas tersebut dikuasai jaringan bankir internasional aliansi kalangan pengusaha, kerajaan, agama. Maka SBY cari aman, biarlah kecipratan sedikit lumayan.

Ada pula informasi yang terdengar ganjil. Salah satu syarat pencairan emas konon adalah menunggu persetujuan Sri Paus (The Pope), petinggi Katolik di Vatikan, Roma Itali. Bila ini benar maka kian membingungkan. Apa kaitan Sri Paus dengan Bank Sentral Amerika (THE FED) dan simpanan Emas? Apakah Vatikan pemegang saham terbesar The Fed yang dikuasai swasta sejak dulu kala?

Semua misteri itu mungkin hanya Presiden SBY, Wapres Boediono, dan bekas Direktur World Bank Sri Mulyani yang mampu mengungkap. Itu pun kalau berani! Kalau berani membela rakyat Indonesia sekaligus menunaikan amanat Bung Karno 49 tahun yang silam.

*SBY received free $2,8 billions IMF loan to forget $1 trillion gold bullion?

www.thosepeoples.com/2012/04/green-hilton-memorial-agreement.html

*OITC conflict of gold reserves by Ray C Dam on wikipedia entry:

http://en.wikipedia.org/wiki/User_talk:Executor-usa

*The green hilton treaty files:

www.bibliotecapleyades.net/sociopolitica/sociopol_globalbanking167.htm

30/03/2016

Demokrasi Tahlilan dan Demokrasi Pancasila

Jikalau kita ingin melihat pelaksanaan Pancasila yang benar dan tepat maka lihatlah orang tahlilan. Inilah filosofi Pancasila yang berada di Tahlilan ala NU. Satu, orang tahlil itu pasti baca surat Al-Ikhlas yang berbunyi Qulhu Allahu ahad Allahus shomad. Itulah KETUHANAN YANG MAHA ESA dan di dalam tahlil pasti baca itu. Yang artinya Tuhan itu satu.
Kedua, orang tahlil di lingkungan NU itu, siapa pun boleh datang dan ikut, tidak ada seleksi, tidak ada pertanyaan, "kamu bisa tahlil enggak? Kalau enggak bisa, disuruh keluar. Di NU tidak seperti itu,”. Bahkan nonmuslim pun boleh masuk dan orang yang membid'ah-bid'ahkan tahlil pun dipersilakan ikut, kalau mau. Tidak ada yang dibeda-bedakan. Itulah KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB
Dan kalau dilihat di kampung-kampung, orang tahlil itu duduknya bersila semua. Tidak dibedakan duduknya seorang pejabat, kiai, santri dan orang biasa. Semuanya sila, rata. Itulah PERSATUAN INDONESIA terdapat dalam sila ke tiga pancasila. Duduknya sila semua.
Setelah itu, menjelang dimulai, di sanalah mereka mencari pemimpin, mereka saling tuding menuding. Satunya bilang jenengan saja yang mimpin dan yang lainnya juga bilang jenengan yang lebih pantas,”
Di sanalah terjadi musyawarah kecil-kecilan mencari seorang pemimpin tahlil. Setelah kepilih satu yang memimpin tahlil. Itulah KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAT KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN/PERWAKILAN
Setelah tahlil selesai, berkat nya keluar. Semuanya mendapatkan berkat yang sama tanpa ada berbedaan baik tampilan dan isinya semuanya sama. KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA .

23/02/2016

Gus Jari "Isa Habibulloh" Membantah

Investigasi Kepada “nabi abal2”, Gus Jari
Di Pondok Pesantren Kahuripan Ash Shirot Gempol Karangpakis Kabuh Jombang.
Agaknya kita sebagai bangsa Indonesia sudah tidak terkejut lagi dengan munculnya nabi abal2 (palsu) karena saking banyaknya, mungkin negara kita termasuk penghasil nabi abal2 terbanyak di dunia.
Beberapa hari ini di medsos kita disibukkan dengan munculnya orang yang bernama Gus Jari asal Gempol, Karang Pakis, Kabuh, Jombang, Jawa Timur, yang diberitakan sebagai orang yang telah mengaku sebagai nabi.
Hal ini menyebabkan saya harus melakukan investigasi secara langsung agar bisa melihat dari dekat baik sosok orangnya, ajarannya, gerakannya dan pengikutnya.
Pada hari Ahad, 21 Februari 2016 saya bersama Bapak Drs. Imam Sanusi (Ketua FKUB –Forum Kerukunan Umat Beragama- Kabupaten Kediri) dengan ditemani sopir melakukan investigasi ke Gus Jari di kediamannya di Pon. Pes. Kahuripan Ash Shiroth Gempol, Karangpakis, Kabuh, Jombang. Saya berangkat dari rumah sekitar jam 16.15 WIB dan sampai di Gempol Kabuh sekitar 17.40 WIB. Tidak terlalu sulit untuk mencari desa tersebut meski agak masuk ke dalam dan melewati jalanan yang di samping kanan kirinya areal persawahan.
Sampai di desa Gempol, saya tidak langsung ke rumah Gus Jari, tapi mampir dulu di Warung Kopi yang terletak sekitar 50 meter dari rumahnya, untuk ngopi sekaligus untuk mencari data skunder dari tetangganya.
Menurut tetangganya, di kampungnya itu tidak ada satu pun orang yang menjadi pengikut Gus Jari, tapi pengikutnya berasal dari luar daerah yang dalam waktu sebulan ada 2 kali pertemuan untuk pengajian.
Dari penjelasan tetangganya, Gus Jari itu berprofesi sebagai paranormal yang biasa menerima pasien untuk konsultasi problem sehari-hari. Gus Jari juga berhasil membangun masjid cukup bagus serta pondok pesantren di samping rumahnya. Tetangganya tidak banyak yang tahu aktifitas Gus Jari secara detail, malah tahunya kebanyakan dari televisi.
Setelah saya selesai berbicang di warung kopi tersebut, saya berjalan menuju rumah Gus Jari. Pintu gerbang pondoknya memang cukup unik, bermotifkan burung garuda sedang mencengkram bumi dan ada bintangnya. Di bawahnya tertulis : Pondok Pesantren Kahuripan Ash Shiroth lalu di bawahnya tergantung tulisan :”Fafirru Illallah” dan terjemahnya dalam bahasa Jawa. Di Pondoknya tersebut ada masjid yang bernama Ash Shirothol Mustaqim, yang menjelang shalat biasanya diputar lantunan Ayat2 Al Qur’an dari pengeras suara sebagaimana masjid pada umumnya.
Setelah saya memasuki komplek pondok pesantren, saya terus berjalan menuju masjid sambil mengamati situasi dan lingkungan, tiba-tiba saya disapa oleh sosok orang paruh baya dari samping rumahya: “Assalamu ‘alaikum “
Saya jawab : “Wa ‘alaikumussalam”. Apa benar anda Gus Jari ?” Saya bertanya demikian untuk memastikan karena sebelumnya saya belum tahu wajah Gus Jari, kecuali dari TV. “Nanti setelah maghrib saya bisa ketemu Anda? “ tanya saya . “O ya silahkan”, jawab Gus Jari.
Kemudian saya menuju masjid Ash Shirothol Mustaqim untuk shalat maghrib, dari masjid dikumandangkan adzan dan setelah adzan dilantunkan pujian shalawat sebagaimana masjid pada umumnya. Selang tidak lama, dilantunkannya iqamat sebagai tanda bahwa shalat berjama’ah dimulai, yang bertindak sebagai imam adalah Bapak Turmudzi, kerabat dekat Gus Jari.  Gus Jari juga nampak ikut shalat berjama’ah di masjid itu. Setelah shalat maghrib selesai, para jama’ah membaca wirid bersama-sama dengan suara jahr (keras) sebagaimana di masjid lain pada umumnya.
Selesai itu, saya menemui Gus Jari di masjid, lalu saya diajak menuju rumahnya. Sampai di rumahnya, saya dipersilahkan duduk, saya melihat di meja tamu ada rokok GG Surya 12 dan koreknya. Lalu saya mengeluarkan rokok GG Surya 16 dari saku baju saya. Saya mulai menyalakan rokok dan Gus Jari pun juga menyalakan rokok. Setelah hp untuk merekam saya siapkan secara tersembunyi, maka saya mulai dialog dengan Gus Jari (yang berumur 44 tahun, mempunyai 2 putra) sebagai berikut :
Gus Jari: “Apa tujuan Anda datang ke sini ?”.
Saya : “Untuk tabayun dengan Anda?”
Gus Jari : “O ya silahkan. Sekarang ini tertutupnya zaman rekayasa, terbukanya zaman realita, siapapun yang merekayasa keadaan akan hancur”
Saya : “ Bagaimana Anda bisa diberitakan telah mengaku sebagai Nabi?
Gus Jari : “ Itu semua rekayasa agar terjual beritanya di masyarakat. Saya hanya mendapat petunjuk dari Allah lalu direkayasa oleh mereka”.
Saya :” Ceritakan perjalanan hidup Anda !”.
Gus Jari : Apa yang saya alami ini bukan rekayasa tapi realita, sejak 1978 sampai 1985 saya ini seorang penggembala kambing. Lalu saya belajar ilmu-ilmu syari’ah selama 7 tahun, saya mondok di Pondok Pesantren At Taufiq Sambong Jombang dan di Tambakberas Jombang. Setelah itu saya mendapat petunjuk untuk belajar ilmu thariqat, hakikat sampai ma’rifat, sampai saya menjalani puasa tirakat 11 tahun, sampai ketemulah saya dengan Ma’rifat Lillah dan Ma’rifat Billah itu”.
Saya : “ Di Tambakberas di mana?
Gus Jari : “Saya kuliah di STIT yang waktu masih bernama STIT tapi tidak sampai selesai. Ijazah terakhir saya hanya Aliyah”
Saya : “Siapa guru spritual anda ?”
Gus Jari : “Kyai Ebes Tarmuji Brangkal Mojokerto, dia dulu berguru kepada Mbah Mangli Magelang dan Kyai As’ad Situbondo, Anda lihat apa beliau-beliau ini salah?”
Saya : “Lalu bagaimana ceritanya Anda sampai menjadi berita besar seperti ini?”
Gus Jari : “Ini realita bukan rekayasa, pada malam Jum’at Legi tahun 2005, haq billah, saya berani bersumpah, saya melihat cahaya bersinar memasuki tubuh saya lalu ada lafazh “’Isa Habibullah” kalau di Jawa disebut Raden Arya. Lalu saya lanjutkan shalat Tahajud, saya mendengar panggilan “ Yasin 7 kali “ kemudian ada panggilan : “Wahai Isa” sampai 7 kali lalu dilanjutkan Yasin sampai diteruskan 5 ayat.” Maksud dari “Isa diturunkannya kembali bukan jasadnya tapi nurnya”.
Saya : “Mungkin dari kisah ini yang menyebabkan Anda dianggap telah mengaku sebagai Nabi”
Gus Jari : “Kalau ada yang memelintir pengalaman spiritual saya ini, maka akan saya tuntut. Saat inilah tertutupnya zaman rekayasa terbukanya zaman realita. Yang memelintir itu teman saya sendiri yang kerja di Kemenag Jombang. Saya terus dipojokkan oleh MUI dan Kemenag Jombang. Di sini mereka saya bilangi “Kalau kalian menilai saya jangan seperti itu, tapi cari dulu orang yang Ahli Ilmu Ghaib, wong belum dilihat oleh Ahli Ilmu Ghaib saja sudah terburu-buru menilai saya”
Saya :”Di masjid Anda ada sebongkah batu itu apa maksudnya? Dari mana batu itu”.
Gus Jari : “ Batu itu simbol “Sileme  gabus, muncul e watu item”, Silem wong gedabrus2 muncul wong ahli saestu” (tenggelamnya orang yang banyak ngomong penuh rekayasa, munculnya orang-orang yang sungguhan). Batu itu saya dapatkan melalui tirakat di Gunung Lawu.”
Saya : “Apa karena menceritakan pengalaman spiritual di atas kepada sembarang orang sehingga Anda diberitakan mengaku sebagai nabi? ”
Gus Jari : “Tidak. Saya tidak menceritakan kepada sembarang orang. Tapi ada orang yang memlintir hal itu, dia adalah teman saya sendiri, namanya Ilham, ia bekerja di Kemenag Jombang, dia itu teman saya, teman mondok saya dan teman sekolah saya, kalau saya kasih tahu dengan bahasa rekayasa dia menerima tapi kalau saya kasih tahu dengan bahasa realita dia memlintir. Kemarin dia di sini dia ketakutan, karena saya patahkan argumentasinya. Orang-orang MUI Jombang itu belum pernah ketemu saya, belum klarifikasi ke saya, sudah bicara ngawur. Itu karena membaca berita plintiran itu”
Memang pengalaman spiritual saya ini harus saya sampaikan, ini sudah waktunya, walaupun pemerintah tidak mendukung saya tapi masyarakat kecil yang menjadi senjata, akan berbondong2 membela saya, karena meyakini inilah yang akan menjadi Ratu Adil. Anda beruntung masih dapat menemui Ratu Adil. Kelak nanti akan sulit menemui saya, ha ha ha ha ha. Kalau saya bohong, saya tidak akan mungkin bisa menyampaikan. Saya punya bukti data otentik, berdasarkan lelaku, wahyu dan apapun yang telah saya terima.”
Saya : “Dengar2 Anda dulu juga pernah aktif di NU? Apa pernah menjadi pengurus NU?”
Gus Jari : “Lo, saya ini orang NU sejak kecil. Saya juga pernah menjadi Pengurus MWC NU Kecamatan Kabuh. lalu bagaimana saya kok dianggap sesat seperti ini.”
Saya : “Di masjid dan rumah Anda ada gambar Semar. Itu apa maksudnya?”
Gus Jari : Saya ini 15 tahun menyamar dan akhirnya Semar sudah saya letakkan menjadi Ismoyo yang berisi ‘Isa Habibulloh’, ini saya terbuka saja, tapi ya hanya nur nya saja. Tugasnya meneruskan ajaran Nabi Muhammad, tidak membawa ajaran baru. Adapun mereka menuduh saya sebagai nabi palsu, itu karena mereka belum pernah ke sini dan belum tahu saya.”
Saya :”Saya ulangi lagi pertanyaan saya :Apa Anda mengaku menjadi nabi?
Gus Jari : “Tidak. Siapa yang mengaku menjadi nabi?”
Sampai di sini, kemudian saya pamitan untuk pulang.
Dari dialog saya dengan Gus Jari di atas, maka ada beberapa catatan yang perlu saya sampaikan :
1. Perlu diteliti lebih lanjut tentang kualitas kejujuran Gus Jari.
2. Bisa dipastikan bahwa Gus Jari berprofesi sebagai paranormal, yang cenderung mengunggulkan diri pribadinya untuk meyakinkan orang lain.
3. Gus Jari nampak sebagai pengamal ilmu hakekat yang pada umumnya suka menyampaikan cerita-cerita seperti itu dan cerita-cerita seperti itu memang biasa menjadi materi obrolan para pengamal ilmu hakekat. Yang dimaksud dengan Ilmu Hakekat di sini adalah ilmu klenik.
4. Jika pengalaman spiritual yang diceritakan Gus Jari di atas benar-benar terjadi, maka perlu diteliti lebih lanjut apakah hal itu memang benar sebagai petunjuk dari Allah atau hanya permainan syetan belaka.
5. Pengalaman spiritual atau ilmu sirri memang tidak boleh diceritakan secara terbuka, karena rentan menjadi fitnah, sedangkan Gus Jari menceritakannya secara terbuka dengan penuh percaya diri,
6. Gus Jari memang membantah keras bahwa dia telah mengaku menjadi nabi. Tapi dia secara tidak langsung telah menganggap dirinya sebagai calon Ratu Adil.
7. Keyakinan Gus Jari bahwa Nabi Isa diturunkan kembali ke dunia hanya berupa nur (cahaya) saja juga bertentangan dengan hadits-hadits shahih dan mutawatir yang secara jelas menegaskan bahwa Nabi Isa akan diturunkan kembali ruh dan jasadnya secara nyata.
8. Jajaran struktural NU khususnya PCNU Jombang khususnya Aswaja NU Center Jombang perlu mengadakan pemantauan lebih lanjut kepada Gus Jari, mengingat Gus Jari juga pernah menjadi Pengurus MWC NU Kabuh, berdasarkan pengakuannya.
9. Pihak-pihak terkait harus tetap menjunjung tinggi kearifan dalam menyikapi kasus Gus Jari ini, agar lebih tepat dalam mengambil sikap.
Apa yang saya laporkan ini dan analisis saya di atas memang belum lengkap tapi minimal dapat dijadikan data tambahan dan pertimbangan. Investigasi dan dialog berikutnya perlu dilaksanakan oleh pihak-pihak terkait tentunya dengan melibatkan Para Ahli dan Ulama khususnya yang menguasai bidang ilmu aqidah dan tashawwuf.
Wallahu A’lam.
(Ach.Cholili)

Jombang Dan Kegilaan Didalamnya

Duduk jombang nek gak iso ngetokno wong-wong edan.
Sopo sing gak eruh produk-produk dan kualitase wong Jombang....
Pancen jombang iku joss....
Indonesia tanpa jombang mungkin tidak seru, para pendekar pendekar dan ksatria-ksatrianya bertebaran di muka bumi NKRI, nah...jika Indonesia ini diibaratkan rumah, maka Kabupaten Jombang adalah sebuah sudut kecil yang berada di rumah itu. Namun justru dari sudut kecil itulah selalu muncul letupan-letupan mengejutkan dan mampu membetot perhatian seisi rumah. Kadang letupan itu hanya berupa asap. Muncul lalu menghilang. Bisa juga letupan itu berupa bara. Menganga, menghangatkan, memanaskan sekaligus mencemaskan.
Paling baru, letupan dari sudut kecil itu bernama Jari, usianya 40 tahun. Dia tinggal di Dusun Gempol, Desa Karangpakis, Kecamatan Kabuh. Kemunculan Jari ini entah sebagai asap atau bara. Pastinya, kemunculan bapak dua anak ini juga membetot perhatian. Pandang mata seisi rumah tertumbuk kepadanya. Ada yang was-was, ada yang nyinyir, ada pula yang kepanasan, sehingga ingin segera menyiramnya dengan air. Maklum saja, ketika kata-kata sesat sedang fasih
dirapalkan di negeri ini, Jari justru mendongak dan mengaku sebagai nabi. Dia mengerek bendera dengan embel-embel nabi tanda akhir zaman bergelar Isa Habibullah atau Isa Kekasih Allah. Ceritanya, suatu hari di malam Jumat Legi tahun 2004, Jari sedang menjalankan ibadah salat malam. Ketika terbenam dalam sujud, dia mendengar bacaan Surat Yasin berulang-ulang. Dada Jari seperti dihantam godam. Dari kejadian itu, dia menafsirkan bahwa wahyu kenabian telah hinggap pada dirinya. Dari dusun kecil di pinggiran hutan Kecamatan Kabuh, dia membangun pesantren. Lewat dusun terpencil itu pula Jari meneriakkan kenabiannya. Teriakan itu tidak keras, namun gemanya merambat kemana-mana. Menerobos jalan raya, melintasi gedung tinggi, masuk ke ruang MUI, membentur kursi gubernur, hingga mangitari meja menteri. Tentu saja, Menteri Agama akhirnya bersuara untuk menanggapi. Atas fenomena itu, komentar yang mengalir dari banyak orang pun beragam. Namun nada dasarnya tetap seragam, semisal 'ada apa lagi dengan Jombang?' atau 'Jombang memang aneh'. Bahkan lebih ekstrim lagi, munculnya Jari akan menambah daftar panjang deretan 'orang gila' yang lahir dari sudut ruang bernama Jombang. Soal banyaknya 'orang gila' yang lahir dari Jombang,

KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur mengakuinya. Akan tetapi, justru hal itu menjadi kebanggan tersendiri bagi Gus Dur terhadap tanah kelahirannya. Saya masih ingat, dalam sebuah ceramah pengajian di alun-alun Jombang tahun 2002, mantan presiden ini menyebut setidaknya ada tujuh 'orang gila' yang lahir dari rahim Jombang. Ya, kota santri telah menyumbang tujuh 'orang gila' untuk Indonesia. Siapa saja mereka?
Berada di urutan pertama adalah Gus Dur sendiri. Semua orang tahu, bagaimana sepak terjang cucu pendiri NU ini selama hidup. Ketika orde baru sedang kuat-kuatnya, Gus Dur justru mengibarkan bendera perlawanan. Peta pemikiran Gus Dur juga sulit ditebak, dan tidak jarang memantik kontroversi. Semisal, mengubah Assalamu'alaikum menjadi selamat pagi. Gus Dur memang aneh. Hanya Gus Dur presiden yang meninggalkan istana dengan mengenakan celana kolor.
Selanjutnya 'orang gila' yang menempati urutan kedua adalah Nurcholis Madjid atau Cak Nur. Tokoh pembaruan pemikiran Isapan ini lahir di Dusun Mojoanyar, Desa Mojotengah, Kecamatan Bareng, Jombang. Menjelang pemilu 1971, Cak Nur membuat geger Indonesia terkait pandangannya tentang politik dan keislaman. Cak Nur melontarkan gagasan ‘Islam yes, Partai Islam no’. Padahal saat itu partai Islam sedang naik daun.
Lantas, siapa 'orang gila' urutan ketiga dari Jombang?
Gus Dur dalam pengajian itu menyebut nama Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun. Pria kelahiran Desa Mentoro, Kecamatan Sumobito ini dikenal sebagai sosok yang multidimensi. Maka tidak berlebihan jika Gus Mus (KH Mustofa Bisri) menjuluki Cak Nun seperti tertulis dalam selarik puisinya; santri tanpa sarung, haji tanpa peci, kiai tanpa sorban, dai tanpa mimbar, mursyid tanpa tarekat, sarjana tanpa wisuda, guru tanpa sekolahan, aktivis tanpa LSM, pendemo tanpa spanduk, politisi tanpa partai, wakil rakyat tanpa dewan, pemberontak tanpa senjata, ksatria tanpa kuda, saudara tanpa hubungan darah. Masih segar dalam ingatan kita saat Presiden Soeharto meletakkan jabatannya pada 21 Mei 1998. Di depan kamera televisi disaksikan jutaan rakyat Indonesia, Soeharto menyatakan dalam bahasa Jombangan “Ora dadi presiden ora patheken”. Nah, siapa lagi yang mengajari orang kuat di era orde baru itu, kalau bukan 'orang gila' dari Jombang.
Sementara urutan keempat adalah Wardah Hafidz. Anak tokoh Masyumi asal Desa/Kecamatan Sumobito. Wardah dikenal sebagai emaknya kaum miskin kota di DKI Jakarta. Ketika tukang becak digusur, Wardah tampil membela, begitu juga ketika pemulung dan PKL (Pedagang Kaki Lima) diobrak-abrik. 'Orang gila' urutan keempat ini selalu pasang badan. Wardah pernah memantik kontroversi. Dia mencalonkan seorang tukang becak bernama Rasdullah untuk menjadi walikota DKI. Saat mendaftar Rasdullah hanya membawa sapu lidi, yang akan digunakan membersihkan koruptor. Singkat kata, hanya Wardah yang bisa membikin Sutiyoso (walikota DKI Jakarta, saat itu), pusing kepala.
Kelima, yang masuk daftar 'orang gila' versi Gus Dur adalah Salman Hafidz. Dia merupakan kakak kandung Wardah Hafidz. Bersama kelompoknya yang tergabung dalam Komando Jihad, Salman melakukan pembajakan pesawat Garuda DC-9 Woyla jurusan Palembang-Medan, pada 28 Maret 1981. Salman dkk menuntut agar para rekannya yang ditahan usai peristiwa Cicendo di Bandung, Jawa Barat, dibebaskan. Aksi kelompok ini bisa digagalkan tentara. Salman sendiri akhirnya dieksekusi. Aksi kelompok ini kemudian dikenal sebagai teror pertama di Indonesia.
Keenam adalah Asmuni, pria kelahiran Desa/Kecamatan Diwek, Jombang. Asmuni bukan pelawak dadakan. Namun tumbuh dari proses alam, dari panggung komedi kehidupan rakyat, hingga menjadi ikon Srimulat. Semua orang pasti ingat, blangkon, kumis ala hitler, ungkapan menggelitik 'hil yang mustahal' hingga tertawa ha ha ha ha ha sebanyak lima kali. Semua itu adalah khas Asmuni. Bahkan di ujung usianya, dalam kondisi digerogoti penyakit, Asmuni masih bisa melemparkan humor-humor segarnya.
Orang ketujuh yang masuk daftar 'orang gila' kelahiran Jombang adalah Abu Bakar Ba'asyir, pendiri Majelis Mujahidin Indonesia (MMI). Arek Mojoagung Jombang ini banyak dikait-kaitkan dengan gerakan terorisme. Ba'asyir merupakan salah seorang pendiri Pondok Pesantren Islam Al Mu'min, Sukoharjo Jawa Tengah. Bagi saya, tujuh tokoh yang disebut oleh Gus Dur itu
hanyalah contoh. Karena masih banyak lagi tokoh yang memenuhi etalase Jombang. Mereka muncul dari arah yang berbeda. Ada dari kiri, kiri habis, tengah, kanan, hingga dari kanan habis. Bahkan ada pula dari mereka yang sudah tersobek dari lembar sejarah. Semaun misalnya. Dia adalah pendiri PKI (Partai Komunis Indonesia). Lahir di Curahmalang, Kecamatan Sumobito, Jombang. Karena bahaya 'merahnya' nama Semaun tersobek dari lembar sejarah.

Di wilayah kesenian, ada Cak Durasim, yang namanya diabadikan menjadi gedung di Surabaya. Di tangan arek Jombang ini, ludruk menjadi ancaman bagi Jepang. 'Pasemonnya' tajam melebihi bambu runcing. Pasemonnya yang paling terkenal adalah 'Pagupon Omahe Doro, Melok Nipon Tambah Sengsoro'. Karena kata-kata itu pula, Cak Durasim ditangkap Jepang. Dia syahid di tangan penjajah. Di Jombang sendiri, nama Cak Durasim kemudian diabadikan menjadi nama jalan.
Ada juga Gombloh, pelantun lagu 'Kebyar Kebyar'. Penyanyi legendaris ini lahir di Desa Kepatihan, Jombang Kota. Aksi 'gila' Gombloh adalah ketika honornya dari nyanyi dibelikan BH. Pakaian dalam itu kemudian dinaikkan becak dan dibagikan kepada penghuni lokalisasi Gang Dolly. Setelah era Gombloh, masih ada penyanyi yang lahir dari Kota Santri. Dia adalah Nur Halimah, penyanyi dangdut yang bertetangga dengan Cak Nur.
Ada lagi? Tentu saja masih banyak 'orang aneh' dari Jombang.
Sebut saja Choirun Nasikhin, warga Desa Nglele, Kecamatan Sumobito. Pada tahun 1994, Choirun membuat gempar Indonesia. Dia 'nunut' pesawat Garuda untuk menunaikan ibadah haji ke tanah suci. Sejak itu Choirun dijuluki Haji Nunut.
Rentang belasan tahun kemudian muncul nama Ponari, dukun cilik bersenjata batu petir. Puluhan orang memadati rumahnya untuk mencari kesembuhan.
Di wilayah kriminal, Jombang menyorongkan nama Very Idham Henyansah atau Ryan, ke pentas nasional. Pria gemulai ini melakukan pembunuhan sadis pada tahun 2008. Tidak tanggung-tanggung, korbannya tembus 11 orang.
Jombang juga tidak lelah melahirkan tokoh-tokoh yang memiliki pemikiran brilian untuk negeri ini. Maka tidak heran dari rahim Jombang lahir tiga Pahlawan Nasional. Yakni, Hadlratus Syeikh Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah, serta KH Wahid Hasyim. Dua nama pertama itu sekaligus pendiri organisasi keagamaan terbesar se-Nusantara sampai hari ini: Nahdlatul Ulama (NU), bersama KH Bisri Syansuri.
Dewasa ini, nama arek Jombang makin bertebaran di pentas regional dan nasional. Sebut saja Muhaimin Iskandar (mantan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi), kemudian Jenderal Timur Pradopo (mantan Kapolri), Imam Utomo (mantan Gubernur Jawa Timur), Choirul Anam atau Cak Anam (mantan Ketua GP Ansor Jawa Timur), tidak ketinggalan pula Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul.
Zaman terus bergerak, roda sejarah tak henti berputar. Keyakinan saya, Jombang masih produktif melahirkan 'orang-orang gila' yang akan disumbangkan untuk Indonesia. Oleh karenanya, setelah fenomena 'Nabi Isa', mari kita tunggu letupan apa lagi yang bakal muncul dari sudut kecil di rumah besar bernama Indonesia ini.(copas WA Group Jombang diaspora)