Showing posts with label Rijalul Ansor. Show all posts
Showing posts with label Rijalul Ansor. Show all posts

16/11/2016

Limolasan November 2016

Pada Limolasan bulan 11/2016 diselenggarakan beberapa agenda
1. Diskusi tematik "kader Ansor di Dunia Politik" dg pembicara Farid al-Farisi (bendahara PC Ansor Jombang)
2. Pembagian voucher khitanan massal yang aakan diselenggarakan oleh Laziznu, Ansor, dan Polres Jombang pada 17 Desember 2016
3. Penyerahan santunan yang akan disalurkan pada yatim dan dhuafa' Ranting Jombang
4. Pemilihan pengurus UPZIS Ansor Jomkot dengan koordinator Luqman Hakim (Gus Maman)

14/11/2016

Pembentukan Pengurus Ranting Candimulyo

Ranting Ansor Candimulyo dari informasi yang kami himpun belum pernah terbentuk secara utuh, dalam artian ada pengurus dan anggotanya. Tetapi pada momen konfrensi Cabang biasanya ada orangnya.

Dengan berbagai upaya, akhirnya pengurus PAC Ansor Jombang Kota menemukan pihak yang tepat untuk diajak membentuk pengurus
ranting Ansor. Pada Ahad, 13/11/2016 di Masjid Baitus sholikhin, pengurus PAC Ansor Jombang Kota akhirnya bisa melakukan turba dan berhasil membentuk pengurus inti ranting, yaitu: Radian (ketua), Hanif (sekretaris), Riyanto (bendahara).

Yang memebanggakan, walaupun selama ini belum ada ranting Ansor, tapi kegiatan sholawat-istighosah-tahlil keliling rutin  dilakukan di Candimulyo, dimana banyak anggotanya dari kalangan pemuda. Anggota rutinan inilah yanga nantinya akan direkrut menjadi anggota Ansor.

13/11/2016

Turba Ranting Plosogeneng

Pada hari sabtu, 12/11/2016 dilaksanakan Turba PAC Ansor Jombang Kota ke Ranting Plosogeneng. Bertempat di rumah H. Qonadi, serta dihadiri pula oleh pengurus ranting NU setempat. Sebagaimana biasanya, pada kesempatan kali ini juga dilaksanakan pendataan anggota baru dan pemotretan.


10/11/2016

Turba ke-6 Di Ranting Jombang

Turba di Ranting Jombang ini dilaksanakan pada hari Kamis, 10/11/2016 di Masjid Baiturrahim. Agendanya selain silaturrahmi dengan masyarakat setempat, juga pelaksanaan sesi foto bagi anggota yang sudah stor data tapi belum foto. Tercatat ada 30 orang lebih yang melaksanakan sesi foto. Jumlah yang terbilang banyak, apalagi selama ini Ranting Jombang fakum.

Menurut M. Fathoni Mahsun, ketua PAC Ansor Jombang Kota, perlunya Ansor hadir di Ranting Jombang adalah untuk melakukan penguatan terhadap civil society agar lebih bisa mewarnai lingkungannya. Mengingat lingkungan Ranting Jombang yang dekat pasar dan di tengah kota, yg sifatnya urban.

04/11/2016

Turba ke Ranting Banjardowo

Rangkaian turba PAC Ansor Jombang Kota memasuki putaran ke empat, setelah sebelumnya di Ranting Sambong Dukuh pada 28/10/2016, Ranting Jabon pada 29/10/2016, Ranting Mojongapit pada 30/10/2016, kini pada 2/11/2016 giliran  Ranting Banjardowo. Tepatnya di Mushola Darul Muttaqin Dusun Sendangrejo.

Agenda di Sendangrejo ini mengunjungi pelaksanaan rutinan Rijalul Ansor Anak Ranting Ansor Sendangrejo, yang diisi dengan pembacaan tahlil, istighosah, dan diba'an. Dalam sambutannya, ketua PAC Ansor Jombang Kota mengatakan bahwa walau dalam PDPRT Ansor tidak ada istilah anak ranting, tapi hal ini sah-sah saja dilakukan, untuk mewadahi semangat sahabat-sahabat Sendangrejo.

Pertimbangan lainnya adalah karena Sendangrejo berada di ujung barat daya dari Desa Banjardowo. Sedangkan Desa Banjardowo sendiri sangat luas, terdiri dari 7 dusun. Jarak Sendangrejo dengan Polpait, dusun paling utara, sekitar 7 Km.

Dalam kesempatan ini juga dilakukan sesi pemotretan, untuk melengkapi data Sigap yang belum ada foto nya.

30/10/2016

Reformasi Pengurus Ansor Ranting Jabon

Konfrensi Pengurus Ansor Ranting Jabon Jombang dilaksanakan pada hari Sabtu, 29 Okt 2016 di Masjid Nurul Muhtadin Caruk Kulon Jabon. Dari pengurus periode sebelumnya, yaitu: M. Fathoni Mahsun (Ketua), Ahmad Abdur Rohim (sekretaris), Darobi (bendahara), Anas al-Abror (Satkorpok), selanjutnya terpilih Anas al-Abror (ketua), Koko Ardiyanto (sekretaris), Fuad Muhtadin (bendahara), Ahmad Abdur Rohim (Satkorpok), Irfan al-Hakim (rijalul ansor)

29/10/2016

Turba ke Ranting Sambong

Tindak lanjut dari konsultasi dg PC Ansor Jombang terkait akreditasi, PAC Ansor Jombang Kota melakukan turba ke ranting-ranting. Putaran pertama 28/10/2016 ke Ranting Sambong. Keluaran dari kegiatan itu menghasilkan pembukaan Rijalul Ansor Ranting Sambong dan prnambahan data anggota untuk dimasukkan ke data Sigap

18/09/2016

Ansor Jombang Bersinergi dengan Lazisnu


Pada acara Rijalul Ansor yang diselenggarakan PAC Ansor Jombang Kota, Jum'at (16/9/2016) telah diinisiasi sinergitas antara PC Ansor Jombang dengan PC Lazisnu Jombang dalam rangka menghimpun zakat, infaq, shodaqoh (ZIS) dari masyarakat, khususnya dari kader Ansor sendiri.

Sinergi ini berkaitan dengan upaya Lazisnu Jombang yang sedang berbenah untuk menata kembali tatanan dan gerak langkah organisasinya. "sejak SK turun pada Mei 2016 lalu, kita sudah melakukan dua kegiatan penting, yaitu menghimpun ZIS di bulan romadhan, dan menghimpun heman qurban." Terang Didin Ahmad Sholahuddin, Ketua PC Lazisnu Jombang. Dia menjelaskan bahwa dana yang dihimpun Lazisnu Jombang pada bulan ramadhan ini mencapai Rp. 148.000.000,-, yang dihimpun selama 20 hari.

Lazisnu Jombang, sebagaimana jamak dialami oleh Lazisnu di tempat lain, masih belum mendapatkan kepercayaan kuat dari masyarakat, apalagi jika dibanding dengan lembaga sosial lain yang sudah lebih establish. Namun apa yang dilakukan oleh Lazisnu Jombang tersebut cukup segnifikan. Terbukti dengan capaian pada bulan ramadhan tersebut Lazisnu Jombang berhasil menjadi Lazisnu terbaik di Jawa timur. Dana yang berhasil dihimpun dan disalurkan oleh kota atau kabupaten lain hanya sekitar 60-70 juta.

Dalam tataran nasional, Lazisnu Jombang mendapat peringkat 7. Menurut lelaki yang juga menjadi owner Roushon Fikri ini, yang terbaik ditingkat nasional adalah Bandung, selain itu Klaten juga bagus. Dana yang berhasil dihimpun Lazisnu Bandung mencapai 3 milyard. Kenapa Lazisnu Bandung mampu menghimpun dana yang demikian besar? Karena Bandung mempunyai unit pelayanan zakat, infaq, sodaqoh (Upzis) dimasing-masing banom NU.

Upzis ini lah yang ingin di adopsi oleh Lazisnu Jombang untuk mengembangkan sayapnya. Banom NU yang sudah menjalin kerjasama dengan Lazisnu Jombang adalah Muslimat "Jum'at lalu PC Muslimat Jombang sudah MoU dengan Lazisnu," tambah putra dari bapak Hafidz Ma'sum ini. Sehingga PAC-PAC Muslimat se-Jombang selanjutnya akan menghimpun ZIS untuk selanjutnya diserahkan ke Lazisnu. Organisasi lain yang juga menjalin kerjasama dengan Lazisnu Jombang adalah forum MKKS Tembelang, yang akan menghimpun ZIS dari sekolah-sekolah se kecamatan Tembang. Dalam waktu dekat MKKS kecamatan Gudo juga akan bergabung.

 Selain menjajaki kerjasama dengan berbagai pihak dalam rangka menghimpun sebanyak-banyaknya ZIS, Lazisnu juga memikirkan bagaimana pentasarufannya. "Kami memberikan uang saku pada santri-santri yang sedang menghafal al-Qur'an. Kalau dalam satu bulan mereka bisa menambah hafalannya satu atau dua juz, uang sakunya kita tambah, kalau tidak tambah ya tidak dikasih." Ungkap Zainuddin salah satu pengurus Lazisnu. Aksi lain yang dilakukan adalah, merekrut orang-orang untuk dilatih membuat mie di Bogasari, sebagai bentuk pemberdayaan ekonomi keumatan.

Sementara itu, Ketua PC Ansor Jombang H. Zulfikar Damam Ikhwanto mengungkapkan, bahwa di lingkungan NU masih banyak masalah yang berkaitan dengan ekonomi yang harus dicarikan solusinya. Misalnya saja yang terjadi di Jombang utara, dimana kegiatan yasinan atau tahlilan kalah menarik dengan Kautsaran, karena "berkatnya" lebih banyak. Oleh karenanya dia mengapresiasi upaya Lazisnu yang juga menyisir daerah utara Brantas.

Atas nama PC Ansor Jombang, Zulfikar juga siap untuk bekerjasama dengan Lazisnu. Di daerah lain menurutnya sudah ada Lazisnu yang bekerjasama dengan Banser dalam membagikan hewan kurban. PAC Ansor Jombang Kota sebagai bagian dari PC Ansor Jombang, melalui ketuanya M. Fathoni Mahsun juga menyatakan akan membentuk Upziz PAC Ansor Jombang Kota dalam waktu dekat.

Model kerjasama yang dimaksud adalah, Ansor menghimpun ZIS dari masyarakat, terutama dari anggotanya, lalu juga mantasarufkannya sendiri. Lazisnu hanya butuh laporannya saja. "Kami tidak butuh dapat banyak uang, karena akan bingung menyalurkannya." Jelas Didin. Menyikapi model kerjasama demikian, Subagio sekretaris MWC NU Jombang Kota menyarakan agar Lazisnu membuat format laporan yang nantinya akan digunakan oleh Upzis di masing-masing Banom NU. Gus Imdad, bendahara PAC Ansor Jombang kota, menambahkan agar Lazisnu membuat kotak-kotak amal untuk menunjukkan eksistensinya.

Sebagai langkah awal, dalam acara tersebut spontan dilakukan penghimpunan infaq, dan terkumpul dana sebesar Rp. 450.000,-. Walaupun tim Upziz PAC Ansor Jombang Kota belum terbentuk, tapi ini adalah merupakan dana awal yang sudah berhasil dihimpun oleh Upzis PAC Ansor Jombang Kota.

Sebagai tambahan, Rojif sekretaris Rijalul Ansor Jombang melemparkan usulan, bahwa kedepan ketua PC NU harus diukur dari berapa besar zakat yang disalurkan melalui Lazisnu. Sebagaimana di Kota Madya Mojokerto, Mas'ud Yunus yang ketika itu maju sebagai calon wali kota, harta kekayaannya hanya Rp. 500.000.000,- tapi zakatnya lebih banyak dari rivalnya ketika itu yang harta kekayaannya jauh lebih besar, sehingga menang.

17/09/2016

BANSER GAZA

Disela diskusi rutin PAC GP Ansor Jombang kota di musola Al-falah barat Kebon Rojo Jombang, Jumat (16/9/2016), aktivis Banser Moh Lutfi Rido menyampaikan gagasan menarik. "Pada masa khalifah Abu Bakar, nama-nama orang yg zakat diumumkan.
Orang-orang yg tidak mau zakat diperangi. Lha sekarang ini yang bertugas merangi orang-orang yg tidak mau zakat siapa?" lontarnya. Dia pun menawarkan solusi cerdas. "Saya siap membentuk Banser Gaza. Maksudnya, Banser penggerak zakat," urai Kepala Perencanaan Pelatihan Satkorcab Banser Jombang ini. Tugas Banser Gaza yakni membantu Lazisnu untuk mendata orang-orang yang wajib zakat dan yang berhak menerima zakat. Bahkan bila perlu juga ikut membantu mengambil zakat. Juga membantu pendistribusian zakat.
"Banser Gaza ini kita bekali berbagai macam kemampuan pendekatan kepada orang yg wajib zakat. Sehingga sekali mendatangi, berhasil membuat orang mau bayar zakat," papar kepala KUA Tembelang ini. Lutfi yakin, jika sukses di Jombang, Banser Gaza pasti akan diadopsi Jatim bahkan nasional. Sehingga melengkapi satuan khusus yg ada di Banser seperti Detasemen 99, Banser Lalu lintas (Balalin), Banser husada. Banser maritim (Baritim), dan lain lain.

11/06/2016

AZAB NARKOBA

AZAB NARKOBA

Saat zikir akbar dan salawat sambut Ramadan di Masjid Agung Baitul Mukminin Kamis (2/6/2016), Ketua Rijalul Ansor GP Ansor Jombang, Gus Latif Malik menyampaikan bahwa dia yakin bacaan-bacaan salawat yang dikumandangan bisa menyelamatkan Jombang dari azab.

"Sebab Allah berjanji tidak akan mengazab suatu kaum, jika kaum itu masih mau mengucapkan salawat untuk Nabi Muhammad sallahu alaihi wa salam," ucap pengasuh PP Al-Muhajirin III Bahrul Ulum Tambkberas ini lantas mengutip ayat Wama kanallahu liyuazzibahum wa anta fihim. Wama kanallahu muazzibahum wa hum yastagfirun.. Allah tidak akan menyiksa mereka (kaum) selama kamu (Muhammad) ada di tengah mereka. Dan Allah tidak akan mengazab mereka, sementara mereka memohon ampun.” (QS. al-Anfal: 33).

Sebelumnya, saat peringatan Isro Mikroj di tempat yang sama, Jumat (6/5/2016), Wabup Hj Mundjidah Wahab meminta agar KH Husein Ilyas memberikan tausiah terkait upaya memberantas narkoba. Sebab pada 2014, Jombang masuk peringkat 10 besar peredaran narkoba terbanyak di Jatim. Pada 2015, tingkat peredarannya semakin besar. Sehingga Jombang menjadi peringkat lima.

Saat tausiah, KH Husein Ilyas Mojokerto justru memaparkan fadilah salawat. "Kalau di Jombang banyak yang baca salawat, pasti narkoba akan hilang sendiri," tuturnya.

Untuk itulah, Ketua Takmir Masjid Agung Baitul Mukminin Jombang, H Baidlowi Saleh, mempersilahkan siapapun mengadakan salawatan di masjid Alun-alun.

"Siapapun dan dari kelompok manapun, kalau mau mengadakan salawatan di masjid agung pasti kami persilahkan," tegasnya.  

Allahumma solli wa sallim wa barik ala sayyidina Muhammad wa ala alihi wasohbihi ajmain..

Ya Allah, mudah-mudahan semua Anggota grup ini, beserta keluarganya, leluhurnya dan keturunannya, Panjenengan paringi rahmad, keselamatan dan barokah, seperti rahmad, keselamatan dan barokah yg Engkau berikan kepada Nabi Muhammad beserta keluarga dan sahabatnya..

(Rojiful Mamduh)

11/05/2016

Prof.Mahfud MD dan pendapatnya tentang Do'a

DO'A 

Diceritakan oleh Prof. Mahfud MD pada awal Ramadhan, empat tahun yg lalu pada ceramah malam pertama tarawih yg  diberikan beliau ketika masih Ketua MK.

Ceritanya adalah mengenai seorang lelaki tua tukang becak yg sanggup menyekolahkan anak2nya hingga menjadi orang. Di atas kertas, sebenarnya muskil baginya untuk bisa mengantarkan anak2nya sekolah hingga perguruan tinggi. Namun kemustahilan itu toh terlampaui juga.

Mahfud, yg mengenal lelaki itu, tentu saja penasaran. "Bagaimana bisa Bapak sanggup melakukan semua itu, apa yg sudah Bapak lakukan untuk anak2?!" kurang lebih, begitu pertanyaannya pada lelaki itu.

Dengan bahasa Jawa halus, lelaki itu menjawab tatag, "Saya hanya berusaha menjalankan pekerjaan saya dgn sebaik2nya, Pak."

"Mosok hanya itu, Pak?" Mahfud masih penasaran. Ia berharap ada rahasia lain yg disimpan oleh lelaki itu.

Karena didesak, dengan wajah malu2 akhirnya lelaki sepuh itu menjawab, "Sejak masih muda, saya rutin mengamalkan sebuah doa, Pak," ujarnya.

"Wah, doa apa itu?" Mahfud jadi kian penasaran.

"Nganu, Pak, doanya cuma pendek saja. Lha wong saya saja tidak banyak belajar agama," aku si lelaki pengayuh becak, sembari tersipu.

"Panjang dan pendeknya doa itu tidak masalah, Pak. Wah, tapi doanya bagaimana ya, itu?!" Pokoknya Mahfud semakin penasaran.

"Setiap kali saya mengayuh becak, sejak muda dulu, pada setiap kayuhan saya selalu membaca doa ini, 'lawala wala kuwata'. Nggih, ming mekaten," ujar si pengayuh becak. Kali ini raut mukanya penuh kebanggaan.

Mahfud MD. kontan tercenung. Sbg lulusan pondok, ia tahu bahwa yg dimaksud oleh lelaki tua pengayuh becak itu sebenarnya adalah bacaan 'hauqalah', yg aslinya berbunyi "laa haula wala quwwata illa billah" (tiada daya upaya kecuali karena Allah). Hanya, karena lelaki tua itu tak pernah belajar mengaji, maka ia hanya mengingat bacaan itu dalam redaksi yg lain, semampu yg didengarnya saja.

Tapi bayangkan, sungguh Allah memang Maha Pemurah dan Maha Pengasih, ujar Mahfud. "Bahkan sebuah dzikir yang redaksinya keliru pun diijabah-Nya," kelakar Mahfud dalam ceramahnya.

Sahabat...
Memang, bukankah nilai sebuah doa tak terletak pada susunan redaksionalnya?! Bukankah Yang Kuasa tak mungkin keliru mendengar atau memahami maksud hambaNya?!

Tapi kita, yg fakir ini, masih saja gemar mempertengkarkan soal kemasan dan redaksional, sehingga sering jadi kehilangan esensi (niat dan ketulusan hati yaitu terbebas dari riyak dan sombong).

Sadar akan Allah diatas segalanya, termasuk dalam hal diterimanya/tidak suatu amal Ibadah.... yg tidak sesuai dimata kita belum tentu tidak sesuai di mata Allah... bersihkan hati kita dari perasangka buruk dan mudah menghakimi orang lain, sebaiknya kita lebih waspada apakah amalan yg Allah beri kekuatan untuk kita lakukan sudah diterima atau belum dari pada kita sibuk memikirkan amalan orang lain. Wallahu a'lam. Semoga bermanfaat.

Barakallah

Hakikat doa itu bukan pada bahasanya, bukan pula pada lafalnya,
tapi... pada tulusnya hati pengucapnya.

30/04/2016

Mahalnya Hidayah

# MAHALNYA HIDAYAH #

Bismillah...
Kisah nyata ini pernah dituturkan oleh Habib Quraisy bin Qosim Baharun Cirebon dari kisah perjalanannya tahun 1996 silam.

Semoga menjadi pelajaran berharga bagi kita, betapa berharganya Iman dan Islam bagi kita.

Kala itu sebuah pesawat melintasi daratan benua Afrika, atmosfer dan lautannya beserta biosfernya yang rumit. Sayap pesewat nan kokoh melibas setiap awan yang ada dihadapannya. Penumpang pesawat duduk tenang di kursi empuk sambil menikmati sesuatu yang nyaman baginya sembari menunggu pesawat itu landing pada bandara tujuan selanjutnya.

Diantara penumpang pesawat itu ialah Habib Quraisy serta seorang ibu Tua berpakaian penutup jilbab disebelahnya. Usia ibu Tua itu berkisar sekitar 65 atau 70 tahun.

Di dalam perjalanan ibu Tua itu menyapa Habib Quraisy dan menanyakan tempat tujuannya dengan berbahasa arab yang fasih.

“Kemana Anda akan pergi ?” Tanya Ibu Tua itu.
“Saya akan transit ke Yordan kemudian melanjutkan perjalanan ke Yaman”. Jawab Habib.

“Dimana asal Anda ?” Tanya ibu Tua itu kembali, juga dengan bahasa arab yang sangat fasih.
Habib jawab “Saya berasal dari Indonesia”..

Mengetahui Habib Quraisy orang Indonesia, sejurus ibu Tua mentranslate bahasanya dengan bahasa Indonesia. Padahal dari perbincangannya Ia mengetahui bahwa ibu Tua itu sendiri adalah wanita kelahiran Jerman dan warga Negara Jerman. Pada gilirannya ibu Tua itu lantas berbahasa Indonesia yang amat fasih pula. Lalu bertanya lagi..

“Adik di Indonesia dimana?” Tanyanya
Habib Quraisy katakan “Saya di Jawa”.

Tak ubahnya seperti mengetahui sesuatu, Ibu itu lantas merubah dialognya dengan menggunakan bahasa Jawa yang dialegnya sangat halus dan hampir-hampir Habib Quraisy tidak paham dan Ia katakan pada Ibu itu “Luar biasa, Ibunda begitu banyak menguasai bahasa sampai bahasa Indonesia dan Jawa sekalipun, padahal Anda orang Barat”.
Ibu Tua itu hanya tersenyum bijak sambil berkata “Saya ‘Alhamdulillah’ menguasai sebelas bahasa dan duapuluh bahasa daerah”.

Silih waktu dari perbincangan Habib Quraisy bersama Ibu Tua itu mengarah kepada hal-hal yang berkaitan dengan agama. Wanita Tua itu mulai mengupas pembahasan Al Qur’an dengan indah dan mahirnya.

Habib pun penasaran atas kehebatannya menjelaskan Al Qur’an dan bertanya “Apakah Ibunda hafal Al Qur’an ?”
Beliau menjawab “Ya, saya telah menghafal Al Qur’an dan saya rasa tidak cukup hanya menghafal Al Quran sehingga saya berusaha menghapal Tafsir Jalalain dan saya pun hafal”.

Tidak sampai disitu saja, Ibu Tua itu melanjutkan bicaranya,
“Namun Al Qur’an harus bergandengan dengan hadist. Sehingga saya kemudian berupaya lagi menghafal hadist tentang hukum sehingga saya hafal kitab hadist Bulughul Marom di luar kepala”.

“Lantas saya masih belum merasa cukup, karena di dalam Islam bukan hanya ada halal dan haram, tapi harus ada fadhailul amal, maka saya pilih kitab Riyadhus Sholihin untuk saya hafal dan saya hafal”. Kata Ibu itu menuturkan pendalamannya tentang Islam kepada Habib Quraisy.

Dan lagi Ibu itu kembali bertutur “Di sisi agama ada namanya tasawuf, maka saya cendrung pada tasawuf sehingga saya memilih kitab Ihya Ulumuddin dan sampai saat ini saya sudah 50 kali mengkhatamkan membacanya.
Dan saking seringnya saya membaca Ihya Ulumuddin sampai-sampai Bab Ajaibul Qulub saya hafal di luar kepala”.

Habib Quraisy terperangah melihat kehebatan dan luar biasanya Ibu Tua itu. Namun karena tidak mau percaya begitu saja, Habib pun akhirnya mencoba mentest kebenaran perkataannya apakah benar Ia telah hafal Al Qur’an?
Apakah benar Ia menguasai Tafsir Jalalain tentang asbabunnuzul dan qaul Ibnu Abbas?

Dan setelah melalui beberapa pertanyaan, ternyata memang benar Ibu itu hafal Al Qur’an bahkan Ia mampu menjawab tafsirnya dengan mahir dan piawai.

Ketika Habib mengangkat permasalahan ihya mawat yang ada di dalam kitab Bulughul Maram Ibu Tua itu pun menjabarkannya cukup jelas.

Ketika Habib membahas tentang hadist Riyadhus Sholihin maka Ibu Tua itu menyebutka sesuai apa yang disebutkan dalam kitab Dalailul Falihin sebagai syarah kitab hadist tersebut.
Dan lagi Ia menjelaskan masalah hati psikologi berbasis kitab Ihya Ulumuddin pada pasal ajaibul qulub.

Kembali Habib dibuat heran akan kehebatan Ibu Tua itu dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Menurutnya, sejauh ini selain gurunya, Habibpun belum pernah menemukan orang sekaliber Ibu yang ada duduk di sampingnya.

Pesawat mendarat landing di airport. Ketika pesawat itu sudah benar-benar berhenti para penumpang semuanya menyiapkan diri termasuk barangnya bawaannya menuruni pesawat.
Begitu pula Ibu itu mengambil tasnya yang di ada di kabin, ϑάη karena sudah merasa kenal, Habibpun mencoba bantu mengambilkan tas itu dan menurunkan tiga tas ke lantai pesawat.

Subhanallah…!!!, ketika Ibu itu menunduk untuk mengambil tas itu ternyata keluar dari balik jilbabnya seutas kalung yang bertanda palang salib.

Seperti petir menyambar di siang bolong, Habib Quraisy menunduk dengan lemah. Ibu itu hanya tersenyum dan mengatakan “Akan saya jelaskan kepadamu nanti di hotel”.

Seperti katanya Habib akan transit dulu selama satu hari satu malam, pun Ibu Tua itu. Maka di ruang receptioner (ruang tunggu) Ia tunjukkan nomor kamarnya kepada Habib dan kemudian berjanji untuk bertemu di ruang lobi restaurant.

Sesuai kesepakatan keduanya, akhirnya mereka bertemu.
Dan kepada Habib Quraisy, Ibu itu mengatakan “Saya bukan orang Kristen, mengapa saya keluar dari Kristen ?… karena saya menganggap Kristen itu hanya dongeng belaka...
Dan kalung ini bukan berarti saya Kristen, tapi kalung ini adalah pemberian almarhumah ibu saya”.

Ibu Tua itu pun mengatakan bahwa Ia telah mempelajari beberapa agama, Kristen, Hindu juga Islam. Ia juga sempat mengungkapkan ketertarikannya mengenai keagungan yang ada di bilik wahyu Allah Swt dan hadits Nabi Muhammad SAW.

“Ibu apa agamanya sekarang ?” Habib bertanya.
Dia katakan “Saya tidak beragama”

“Seandainya Ibu masuk agama Islam, begitu membaca syahadat, ibu akan langsung mendapat titel kiyai haji”. Karena demikian luas ilmu yang ia miliki kata Habib.
Ia menjawab “Mungkin karena saya belum dapat hidayah dari Allah”

Habib Quraisy sempat menetaskan air mata bersyukur kepada Allah SWT, bagaimana orang seperti dia yang sudah hafal Al Qur’an dan lain sebagainya, belum Allah izinkan untuk beriman kepada-NYA. Sementara kita tanpa usaha apapun, telah dipilih oleh Allah SWT untuk menjadi seorang yang muslim.

Demikian kisah ajaib ini, ϑάη kepada pembaca serta orang yang turut merilis kisah ini, agar dapat mengambil iktibar betapa bersyukurnya kita telah dianugrahkan Iman....

Semoga Iman kita ini semakin bertambah kuat seiring ajal menjemput, sehingga kita termasuk orang yang husnul khotimah....

Aamiin... Aamiin... Aamiin... Yaa Robbal 'Aalamiin
(Ust. Amal Fathullah Zarkasyi, Rektor Univ. Darussalam, Gontor, Ponorogo.)

26/04/2016

Petruk Dadi Ratu

PETRUK DADI RATU

Banyak yang mengartikan lakon Petruk Dadi ratu sebagai sebuah simbol ketidak becusan seorang pemimpin, atau seorang yang tidak layak menjadi pemimpin dijadikan pemimpin wal hasil adalah kekacauan. Bisa juga di artikan sebagai khayalan yang berlebih, lha masak Petruk pengen jadi pemimpin ?, jongos mau jadi Raja.

Meski sebenaranya hal itu tidaklah tepat, karena pada dasarnya Petruk adalah bukan manusia biasa, Petruk merupakan cerminan dari salah satu pribadi Semar. Kesaktian Petruk melebihi kesaktian para Dewa dan Penguasa mayapada Baca Tentang Siapa Petruk. Lantas apa yang mendasari kemudian keluarnya lakon Petruk Dadi ratu ?, jawabannya adalah kekacauan dan ketidakseimbangan.

Segalanya berjalan sudah tidak pada fitrahnya, sudah tidak pada tempatnya. Dimana Pebisnis menjadi pejabat, dimana pemuka agama menjadi wakil rakyat, dimana pelawak menjadi wakil rakyat. Apa yang terjadi jika kuda makan sambal, bahkan doyan sambal ? yang terjadi adalah keliaran, sang kuda ngamuk. Apa yang terjadi jika kambing suka makan daging ? yang terjadi adalah kambing menjadi buas. Apa yang terjadi ketika harimau memakan rumput ? yang terjadi adalah harimau menjadi pengecut.

Dalam dunia pewayangan, saat gonjang-ganjing sudah sampai pada taraf yang sangat tidak wajar, para punakawan—Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong—mulai membangkang. Puncak pembangkangan terjadi ketika Petruk melabrak Kahyangan Jonggring Saloko (istana para penguasa), mengobrak-abrik dan mendekonstruksi tatanan yang selama ini dipakai para penguasa serta para elite untuk berselingkuh dan melakukan manipulasi.

Arjuna, sang sang pimpinan yang biasanya dilayani punakawan, dipaksa mematuhi titah Petruk, sang raja baru. Saat itulah Petruk membuka seluruh aib para penguasa. Yang perlu disingkapi dalam lakon ini adalah bukan khayalan seperti versi umum, melainkan adalah Petruk sebagai pemimpin Revolusi yang menjungkir balikan tatanan khayangan yang pada saat itu memang sudah sangat kacau. Petruk merevolusi semua tatanan agar kembali pada tempat yang semestinya.

Dan itu hanya dilakukan oleh Petruk dalam 1 malam, hal ini menyiratkan bahwa Petruk adalah pribadi yang sadar akan peranannya, setelah semua baik, semua berjalan normal, maka Petruk kembali kepada peranan awalnya menjadi seorang pengabdi.

Episode Petruk Dadi Ratu Ini ditutup dengan turunnya Semar mengatasi kondisi :

………Petruk tersenyum mengingat peristiwa itu. “Ah… hanya Hyang Widi yang perlu tahu apa isi hatiku, selain Dia aku tak perduli”

Kembali dia mengayunkan “pecok”nya membelah kayu bakar. Sambil bersenandung tembang pangkur:
“Mingkar-mingkuring angkoro, akarono karanan mardisiwi, sinawung resmining kidung, sinubo sinukarto….”

Berikut Ringkasan Kisah Petruk Dadi ratu.

Sebagai salah satu punakawan resmi mayapada. Petruk sudah mengabdi kepada puluhan”ndoro” (tuan), sejak jaman Wisnu pertama kali menitis ke dunia. Hingga saat Wisnu menitis sebagai Arjuna Sasrabahu, menitis lagi sebagai Rama Wijaya, menitis lagi sebagai Sri Kresna. Petruk tetap di sini sebagai seorang pengabdi, karena itu adalah peranan agungnya.

Petruk hanya bisa tersenyum kadang tertawa geli, dan sesekali melancarkan protes akan kelakuan “ndoro-ndoro” (tuan-tuan)-nya yang sering kali tak bisa diterima nalar. Tapi ya memang hanya itu peran Petruk di mayapada ini. Dia tidak punya wewenang lebih dari itu. Meskipun sebenarnya kesaktian Petruk tidak akan mampu ditandingi oleh tuannya yang manapun juga.

Berbeda dengan Gareng yang meledak-ledak dalam menanggapi kegilaan mayapada, berbeda pula dengan Bagong yang sok cuek dan selalu mengabaikan tatakrama. Petruk berusaha lebih realistis dalam menyikapi segala sesuatu yang terjadi. Meskipun nyeri dadanya acapkali muncul saat melihat kejadian-kejadian hasil rekayasa ndoro-ndoro nya.

Petruk sudah hafal betul dengan model paham kekuasaan di Karang Kedempel dari waktu ke waktu. Kalau mau, sebenarnya bisa saja Petruk mengamuk dan menghajar siapa saja yang dianggap bertanggung jawab atas kesemrawutan pemerintahan. Dengan kesaktiannya, apa yang tak bisa dilakukan Petruk, bahkan (dulu) pernah terjadi, Sri Kresna hampir saja musnah menjadi debu dihajar anak Kyai Semar ini.
Tapi Petruk sudah memutuskan untuk mengambil posisi sebagai punakawan yang resmi. Dia sudah bertekad tidak lagi mengambil tindakan konyol seperti yang dulu sering dia lakukan. Baginya, kemuliaan seseorang tidak terletak pada status sosial. Pengabdian tidak harus dengan menempati posisi tertentu. Melinkan pada pengabdiannya terhadap nusa dan bangsa.

Singkat cerita Petruk menjelma menjadi Prabu Kanthong Bolong, Petruk melabrak semua tatanan yang sudah terlanjur menjadi “main stream” model kekuasaan di mayapada. Dia menjungkirbalikkan anggapan umum, bahwa penguasa boleh bertindak semaunya, bahwa raja punya hak penuh untuk berlaku adil atapun tidak.

Karuan saja, Ulah Prabu Kanthong Bolong membuat resah raja-raja lain. Bahkan, kahyangan Junggring Saloka pun ikut-ikutan gelisah. Kawah Candradimuka mendidih perlambang adanya “ontran-ontran” yang membahayakan kekuasaan para dewa.

Maka secara aklamasi disepakati, skenario “mengeliminir” raja biang keresahan. Persekutuan raja dan dewa dibentuk, guna melenyapkan suara sumbang yang mengganggu tatanan keyamanan yang sudah terbentuk selama ini.

Hasilnya?, semua usaha untuk melenyapkan suara sumbang itu gagal total.Bukannya Prabu Kanthong Bolong yang mati. Tapi raja jadi-jadian Petruk ini malah mengamuk. Siapapun yang mendekat dihajarnya habis-habisan. Kresna dan Baladewa dibuat babak belur. Batara Guru sang penguasa kahyangan lari terbirit-birit.

Kesaktian dan semua ajian milik dewa-dewa dan raja-raja, seperti tak ada artinya menghadapi Prabu Kanthong Bolong. Tahta Jungring Saloka pun dikuasai raja murka ini.

Keadaan semakin semrawut. Sampai akhirnya Semar Bodronoyo turun tangan mengendalikan situasi.
“Ngger, Petruk anakku!”, Semar berujar pelan, suaranya serak dan berat seperti biasanya. “Jangan kau kira aku tidak mengenalimu, ngger!”

“Apa yang sudah kau lakukan, thole? Apa yang kau inginkan? Apakah kamu merasa hina menjadi kawulo alit? Apakah kamu merasa lebih mulia bila menjadi raja? “

“Sadarlah ngger, jadilah dirimu sendiri“.

Prabu Kanthong Bolong yang gagah dan tampan, berubah seketika menjadi Petruk. Berlutut dihadapan Semar. Dan Episode “Petruk Dadi Ratu” pun berakhir.

Petruk tersenyum mengingat peristiwa itu. “Ah… hanya Hyang Widi yang perlu tahu apa isi hatiku, selain Dia aku tak perduli”

Kembali dia mengayunkan “pecok”nya membelah kayu bakar. Sambil bersenandung tembang pangkur:
“Mingkar-mingkuring angkoro, akarono karanan mardisiwi, sinawung resmining kidung, sinubo sinukarto….”

Hahahaha dan Petruk pun tertawa kembali melakoni perannya sebagai Punakawan Resmi mayapada ini.

Dirangkum Dari Berbagai Sumber

24/04/2016

Waspadai Kaum Munafik

MEWASPADAI GENERASI     
ABDURROHMAN BIN MULJAM

Ali bin ABi Thalib K.W gugur sebagai syahid pada waktu subuh tanggal 7 Ramadhan akibat tebasan pedang salah seorang anggota sekte Khawarij yang bernama Abdurrahman bin Muljam Al Murodi. Uniknya sang pembunuh ini melakukan aksinya sambil berkata,
“Hukum itu milik Allah, wahai Ali. Bukan milikmu dan para sahabatmu.”
Tidak berhenti sampai di situ, saat melakukan aksi bejadnya ini Ibnu Muljam juga tidak berhenti mulutnya mengulang-ulang ayat 207 surat Al Baqarah yang artinya,
“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”
Tatkala khalifah Ali bin ABi Thalib akhirnya gugur, Ibnu Muljam pun dieksekusi mati dengan cara diqishas. Proses qishasnya pun bisa membuat kita tercengang karena saat tubuhnya telah diikat untuk dipenggal kepalanya, ia masih sempat berpesan kepada algojo yang mendapat tugas melakukan eksekusi,
“Jangan penggal kepalaku sekaligus. Tapi potonglah anggota tubuhku sedikit demi sedikit hingga aku bisa menyaksikan anggota tubuhku disiksa di jalan Allah.”
Demikianlah keyakinan Ibnu Muljam yang berpendapat bahwa membunuh Ali bin Abi Thalib yang nota bene salah satu sahabat yang dijamin masuk surga, menantu (suami Sayyidah Fathimah) dan saudara sepupu Rasulullah dan ayah dari Hasan dan Husein, dua pemimpin pemuda ahli surga, sebagai tindakan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Aksi yang dilakukan oleh Ibnu Muljam ini adalah realitas pahit yang kita lihat pada kehidupan ummat Islam sekarang dimana diantara para pemuda kita terdapat kelompok yang giat melakukan provokasi untuk membunuh kaum muslimin yang tidak berdosa. Kelompok ini menggunakan intimidasi dan aksi kekerasan sebagai strategi perjuangan mereka. Merekalah yang pada raut wajahnya memancarkan hidayah dan mereka juga senantiasa membaca Al Qur’an di waktu siang dan malam. Namun sesungguhnya mereka adalah kelompok yang merugi sebab karakteristik mereka tepat sebagaimana sinyalemen yang disampaikan Rasulullah dalam sebuah hadits yang artinya,
“Akan ada para lelaki yang membaca Al Qur’an tanpa melampaui tulang selangka mereka. Mereka telah keluar dari agama laksana keluarnya anak panah dari busur.”
Kebodohan mengakibatkan mereka merasa berjuang membela kepentingan agama Islam padahal hakikatnya mereka sedang memerangi Islam dan kaum muslimin.
Ibnu Muljam sejatinya adalah figur lelaki yang shalih, zahid dan bertaqwa. Bukan lelaki bengal yang buta sama sekali terhadap ilmu agama. Di wajahnya terlihat dengan nyata jejak sujud. Ia juga hapal Al Qur’an dan sekaligus sebagai guru yang berusaha mendorong orang lain untuk menghapalkannya. ‘Umar bin Khatthab pernah menugaskannya ke Mesir demi mengabulkan permohonan ‘Amr bin ‘Ash yang memohon kepada beliau untuk mengirim ke Mesir figur yang hafal Al Qur’an untuk mengajarkannya kepada penduduk Mesir. Tatkala ‘Amr bin ‘Ash meminta,
“Wahai amirulmukminin, kirimkanlah kepadaku lelaki yang hafal Al Qur’an untuk mengajari penduduk Mesir, “
‘Umar menjawab, “Saya mengirimkan untukmu seorang lelaki bernama Abdurrahman bin Muljam, salah seorang ahli Al Qur’an yang aku prioritaskan untukmu dari pada untuk diriku sendiri. Jika ia telah datang kepadamu maka siapkan rumah untuknya untuk mengajarkan Al Qur’an kepada kaum muslimin dan muliakanlah ia...!.”
Meskipun Ibnu Muljam hafal Al Qur’an, bertaqwa dan rajin beribadah namun semua itu tidak bermanfaat baginya. Ia mati dalam kondisi su’ul khatimah, tidak membawa iman dan Islam akibat kedangkalan ilmu agama yang dimilikinya dan berafiliasi dengan sekte Khawarij yang telah meracuni para pemuda muslim sehingga melakukan aksi-aksi yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur agama Islam namun justru mengklaim semua itu dalam rangka membela ajaran Allah dan Rasulullah.
Bercermin dari figur Ibnu Muljam tentu kita tidak perlu merasa aneh jika sekarang muncul kelompok-kelompok ekstrim yang mudah memvonis kafir terhadap sesama muslim yang berbeda pandangan melakukan tindakan yang sama persis dilakukan oleh Ibnu Muljam. Mereka mengklaim berjuang menegakkan agama Allah namun faktanya justru menebar ketakutan kepada ummat Islam dan menciptakan konflik internal berdarah-darah yang membuat mustahil membangun persatuan sesama kaum muslimin.
Oleh karena itu menjadi tugas bersama para ulama dan umaro’ untuk membentengi kaum muslimin di Indonesia dari ide-ide keagamaan destruktif yang dikembangkan oleh generasi pewaris Abdurrahman bin Muljam dan untuk berusaha keras menghalangi siapapun yang ingin menjadikan Indonesia sebagai ladang subur bagi tumbuhnya kelompok -
kelompok khawarij modern yang militan namun miskin ilmu.
Wallahu A’lam.

20/04/2016

Hapuskan Dengkimu, Jangan Jadi Muslim Yang Fasik

SYAREAT DAN HAKIKAT HARUS BERJALAN BERIRINGAN
[ Ini bantahan KH Nawawi Sidogiri pada pengaku hakikat tapi tidak shalat]

Selepas ashar tadi, beberapa tamu sowan ke 'dalem' Hadratussaikh KH Nawawi Abd Jalil,pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri,Pasuruan, Jawa Timur. Ditengah dialog kiai dengan salah satu tamunya, sampailah pada pembahasan tentang orang-orang yang mengaku mengamalkan hakikat tapi tidak melaksanakan shalat. kiai sempat miris jika ada masyarakat yang terjangkit cara pandang semacam ini, terlebih jika orang itu adalah alumni pondok pesantren Sidogiri.

" mereka itu berdalil  ' Aqim Ashhalata Lizikri' , sehingga menurut mereka kalau udah iling (red; ingat) Allah berarti gak usah shalat"  cerita kiai .kiai kemudian berargumen " dalam ayat itu , Aqim adalah fiil amar, perintah , perintah untuk as-shalata (red; shalat), tujuannya untuk mengingat Allah, jadi dalam ayat ini gak ada yang namanya menghilangkan shalat, justru pertama-tama yang diperintahkan adalah shalat" .

beliau juga memaparkan beberapa argumen secara aqli terkait kasus ini, kalau memang mereka benar mengapa variable nya hanya shalat saja. " ya kalau begitu gak usah makan, cukup ingat makan saja kenyang, " tutur kiai nawawi

Dalam kesempatan tersebut kiai nawawi juga memberikan nasehat bahwa yang kita lakukan didunia akan menjadi tolak ukur kita di akhirat kelak. jika di akhirat ingin masuk surga, manusia harus melakukan amal yang menjadi bekal mereka ke surga, seperti shalat, puasa, zakat. lagi-lagi tentu nasehat beliau ini nyambung dengan kasus diatas yang dengan semangat sekali beliau menjelaskannya.

sejalan dengan yang dikatakan Imam Malik rahimahullah , "Siapa yang menjalani tasawwuf tanpa dibekali pemahaman terhadap syariat, ia telah menjadi zindik. Sebaliknya, siapa yang membekali diri dengan fikih (syariat) tapi tidak menjalani tasawwuf (tidak membersihkan hati), maka menjadi fasik. Nah siapa yang menggabungkan keduanya, ia telah mencapai hakikat.

semoga tulisan ini bermanfaat, silahkan share , mudah-mudahan menjadi tembahan ilmu buat kita semua.

Tulisan Imam Malik ini membuktikan bhwa banyaknya muslim saat ini berbanding terbalik dengan kualitas keimanan yang dimilikinya,  Banyak ber KTP Islam tp sebenarnya adalah Fasik.

17/04/2016

Kemuliaan Seorang Guru

(Diceritakan oleh seorang Alumni Darul Musthofa, Tarim, Hadhromaut, Yaman)
Selagi aku masih duduk di Daruzzahro, Guru Mulia Al Habib Umar bin Hafidz pernah berkata kepada salah satu putri beliau:

“Darul Mustofa dan Daruzzahro ini bukanlah kepunyaan kita, sekalipun ayah yang mendirikannya tetapi sejatinya adalah kepunyaan Kakek kita Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam beserta putri kecintaan beliau ibu kita Sayyidah Fatimah Azzahro Radhiyallohu ‘Anha, maka sekali-sekali kamu jangan berbuat seenaknya di dalamnya, harus tunduk dengan segala macam peraturannya, jangan memakan hak-hak tamu Azzahro sebelum mereka semua telah habis makan kecuali sisa-sisa puing makanan dari mereka. Ingat !! peran kita di sini hanya sebagai pembantu, khaddam, dan pelayan yang melayani rumah ini beserta tamu-tamunya”.

Pada suatu hari, saat jam istirahat, aku hendak pergi ke kamar kecil, tetapi aku melihat putri kecil putri bungsu Habib Umar bin Hafidz duduk seorang diri di salah satu tangga Daruzzahro sambil memegang perut, maka aku pun menghampirinya dan bertanya:
“Ada apa denganmu wahai putri mulia?“

Maka dengan polosnya ia menjawab bahwa ia dalam keadaan lapar dari tadi, sebab sebelum pergi ke sekolah tidak sempat bersarapan terlebih dahulu, khawatir terlambat ucapnya.

Spontan aku membalas ucapannya dan berujar:

“Mengapa yang mulia tidak mengambil sepotong roti di ruang makan Darruzzahro saja?”.

Ia hanya menggeleng sambil tersenyum.

“Atau pulang sebentar ke rumah mengambil sarapan?”, tawarku kembali.

Ia pun tetap membalasnya dengan gelengan.

Aku semakin keheranan: “Bukankah engkau putri guru mulia kami (Habib Umar bin Hafidz)? Pemilik Daruzzahro ini wahai yang mulia?”.

Maka ia pun menceritakan pesan sang ayah untuk putra putri dan seluruh keluarga. Mendengarnya, aku tercengang dan terkejut, ku rasakan sudut mataku mulai berembun, hatiku bergetar mendengar penuturannya. Tidak hanya sampai di situ, putri kecil guru mulia mengejutkanku dengan perkara lain. Merasa kasihan dan tak tega, aku pun merogoh saku baju dan mengambil selembar uang di dalamnya:

“Jika begitu ku mohon ambilah ini sebagai hadiah dariku, dan belilah sedikit makanan untuk mengganjal perut yang mulia”, ucapku penuh harap sambil menyodorkan selembar uang itu ke hadapannya.

Ia tersenyum ramah, mata beningnya menatapku lembut dan ia menolak halus pemberianku dengan menggeleng-gelengkan kepalanya, namun aku terus merayu dan memohon agar dia bersedia menerimanya, tetapi putri kecil guru mulia tetap bersikeras untuk tidak menerimanya dan terus mengindahkan tangannya dari tanganku, melihat usahaku tiada henti, dengan polosnya ia berkata:
“Maafkan aku saudaraku, bukannya menolak pemberianmu, dan ingin melukai perasaanmu, akan tetapi ayah mengajarkan kami untuk tidak memberatkan orang lain dan tidak berharap belas kasih manusia selain belas kasih Allah Subhanahu wa Ta’ala, simpanlah uang itu, karena engkau lebih memerlukannya ketimbang aku, lagi pula kalau ayahanda mengetahui pasti beliau tidak akan menyetujuinya”.

Tes tes… ku rasakan air mataku mulai berjatuhan di pipiku, aku memperhatikannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ku lihat kerudungnya nampak kumal, pakaiannya pun terlihat lusuh, ia hanya menggunakan keresek putih untuk alat-alat sekolahnya, kakinya penuh debu tanpa mengenakan sandal, aku terdiam terpaku tak mampu berkata sekalimat pun sampai putri guru mulia berlalu dari hadapanku sambil berlari-lari kecil dengan wajah yang tetap riang.

Aku menelan ludah susah payah, gemetar jiwaku menatap bayangnya yang perlahan menghilang dari pandanganku, hatiku bergetar hebat, pendidikan macam apa ini yang membuat anak sebelia dia memiliki hati sedemikian mulia. Sambil berderai air mata ku segerakan langkahku menuju kamar. Sesampainya di kamar ku membenamkan kepalaku di bantal dan pecah tangisku seketika, bagaimana tidak?
Jiwaku hancur lembur dihantam akhlak mulia sebegitu luhur, benar benar kami ini murid yang tak tau diri, jauh kami merantau dari negara kami hanya demi menimba ilmu serta mengambil keberkahan dari Guru Mulia beserta Sang Istri, malam-malam kami tidur dengan nyenyak, tidak pernah sedikitpun kekurangan air dan makanan, bahkan kami menganggap tempat ini seperti rumah kami sendiri, terkadang kami berbuat semaunya, makan dengan kenyang dan menggunakan kipas angin dan AC sepuasnya, tetapi guru mulia yang mendirikan tempat ini pun merasa tidak memilikinya dan tidak berlaku seenaknya.

Hatiku benar-benar serasa dicambuk rasa malu yang begitu dalam, teramat malu atas ketidaktahuan kami, atas sedikitnya perhatian dan kepedulian kami. Guru mulia beserta keluarga begitu memuliakan para pelajarnya melebihi penghormatan kami kepada beliau. Huhuhu… aku terus saja menangis.

Sampai akhirnya terdengar suara peringatan waktu istirahat segera berakhir. Aku pun menghentikan tangisanku dan menyeka air mata.

Masih dengan mata yang sembab aku bangkit berdiri dan berniat mengambil air wudhu. Saat ku lewati ruang makan Daruzzahro, sungguh ku menyaksikan pemandangan yang kembali sangat membuat hatiku miris. Ku lihat tangan mungil putri mulia memunguti beberapa pecahan roti yang tersisa dari bekas sarapan sebagian pelajar tadi pagi.

Melihatnya aku membuang pandangan karena tak sanggup menyaksikannya. Kejadian tersebut sangat membekas di hatiku sehingga aku merenungkannya selama berhari-hari. Semenjak itu aku jadi jarang ikut makan bersama dengan teman-teman lainnya, kecuali menunggu mereka telah usai semua, dan aku mulai bermujahadah melunturkan kesombongan yang ada di diriku.

Terkadang aku sengaja memakan roti yang sudah kering dan keras yang sudah ku hancurkan sebelumnya, atau memakan bekas-bekas nasi yang akan dibuang,

atau makan bersama kawan tetapi dengan suapan yang terbatas, ketika kenyang hanya 3 suap, jika memang dalam keadaan lapar hanya 9 suap, semua itu sengaja ku lakukan agar diriku yang sangat payah ini dapat merasakan kerasnya menuntut ilmu tanpa memanjakan diri sedikitpun,

terlebih-lebih setiap mengingat kejadian di atas hatiku sangat malu terhadap Sang Guru. Kami hanya seorang murid dan hanya menumpang di tempat ini, harusnya kami yang menjadi pelayan bukannya memanjakan diri terus menerus...

16/04/2016

Fiqh Siyasah Dusturiyah alaa manhaj Ahlussunnah wal Jamaah

Ansor Jombang Kota Online:
"Terima kasih sahabat-sahabat atas partisipasi nya pada limolasan kali ini. Diskusi nya sangat dinamis, dan memunculkan reaksi beragam. Suksesi kepemimpinan dalam Islam dalam tinjauan sejarah sebagaimana disampaikan Gus Latif, mempunyai banyak contoh. Dalam berpolitik mereka mempunyai hajjah masing2. Penganut Khilafah mempunyai rujukan sendiri, begitu pula syiah juga mempunyai rujukan sendiri. Pelajaran nya adalah dalam hal menentukan pemimpin (politik) tidak boleh kaku-kakuan".Demikian disampaikan H.Muh.Masrur kepada Ansor Jombang Kota online.

Adapun yang hadir kali ini adalah pengusung Holopis, itu adalah dalam rangka kita mengenal mereka, bagaimana mereka ( bahasa Gus Latif) mengelaborasi ideologi keaswajaan dalam praktek politik mereka. Tentang masalah kesan, tergantung pada masing-masing kita. Tidak usah buru-buru dulu menentukan sikap, sambil kita tunggu pesaing holopis mendekat...."lanjutnya

Sementara itu sikap tersebut menuai penilaian audut pandang yang lain dari berbagai sudut keilmuan.
Kehadiran tim holopis akan memicu Cara pandang yang berbeda-beda.

Bagi para akademisi akan melihat dari prespektif kajian akademis sesuai literatur yg mereka miliki.
Bagi aktivis akan melihat dr nalar kritisnya.
Bagi politisi akan melihat dr prespektif kalah menang atas kepentingan kekuasaan. dan
Bagi tukang ngopi ya tetep akan terus ngopi.
(Aman Wae)

14/04/2016

Gus Mus Dan Wajah Keislamannya

GUS MUS & WAJAH ISLAM

Gus Mus tidak pernah berbicara "kami umat Islam..." seakan beliau mewakili seluruh umat Islam.

Gus Mus sendiri takut apakah benar beliau muslim ? Sebab muslim artinya manusia yang secara total berserah diri kepada Tuhan, dan berserah diri mempunyai makna yg sangat dalam. Ketika seseorang berserah diri, maka ia mengemban sifat2 tuhan dalam dirinya yang berinti pada menjadikan diri berfungsi kepada manusia lain.

"Benarkah aku sudah berserah diri ? Bukankah aku masih terbungkus keinginan duniawi ? Siapakah aku mengaku2 bahwa aku seorang muslim ?"

Begitulah ciri2 manusia yang mempunyai ilmu pengetahuan, memfungsikan akal dan melemahkan nafsunya. Bukan meng-klaim, karena iblis paling handal kalau masalah mengklaim dirinya paling taat, paling hebat, paling dekat kepada Tuhan.

Tidak perlu berjenggot lebat hanya supaya mengikuti Nabi-nya, karena memang bukan budaya tempat kelahirannya. Mengikuti bersifat tauladan dan tauladan ada di sikap bukan lambang.

Tidak mudah mencari manusia seperti Gus Mus di dalam Islam, tapi sejatinya mereka banyak hanya tidak tampak. Mereka terselip diantara tembok-tembok kemunafikan menjadi penyeimbang. Mereka tidak ingin mencari kejayaan, karena sejatinya kejayaan hanya pengakuan dari manusia dan manusia adalah tempatnya fitnah. Merekalah yang menjaga negara ini supaya tetap tentram, sejuk dan selalu toleran.

Jangan pernah lagi melihat wajah Islam dari ISIS, karena ISIS hanyalah setan yg di-propagandakan. Jangan melihat Isllam dari FPI, karena Islam tidak pernah memegang pentungan. Lihatlah wajah Islam dari Gus Mus, karena sejatinya begitulah para wali bergerak, berbicara dan bersikap.

Melihat Gus Mus di mata Najwa kemarin malam, saya tersenyum. Setidaknya ada wakil yang menampakkan sesungguhnya bagaimana ketika beragama itu dengan berakal.

Sayang Gus Mus sudah berhenti merokok, mungkin saya juga akan seperti beliau jika sudah setua beliau. Tetapi saya yakin, beliau masih tetap setia dengan secangkir kopinya.

Karena kopi bukan hanya secangkir minuman. Ia adalah filosofi hidup yang dalam dimana rasa pahit dan manis disatukan dan yang abadi adalah kenikmatan.

Selamat ngopi, Gus Mus...

10/04/2016

GERAKAN KEMBALI KEMASJID, Sebuah Solusi Mengatasi Problematika Ummat

GERAKAN KEMBALI KEMASJID

Sungguh ironis bila kita mendapati masjid – masjid yang berdiri megah, di bangun dengan dana yang tidak sedikit, dengan gaya arsitektur yang mengagumkan namun dalam kesehariannya hanya terisi satu shof saja. Sunyi dari lantunan ayat suci yang di baca oleh jama’ah dan aktivitas ibadah lainnya.

Alangkah indahnya bila setiap masjid yang didirikan tidak saja di bangun untuk sebuah hiasan belaka. Alangkah berkahnya bila masjid – masjid besar dan kecil yang ada, selalu di penuhi dengan jama’ah yang melaksanakan aktivitas ibadahnya. Sungguh, mungkin negeri ini akan jauh dari bencana. Karena keberkahan yang terpancar dari ketakwaan umatnya. Seperti apapun bentuknya, masjid harus di rawat dan ‘dihidupkan’ kegiatannya. Menggiatkan berbagai aktivitas keagamaan yang didasari oleh semangat penghambaan kepada Allah SWT. Menjadi sentra pemberdayaan dan pembinaan umat. Yang akhirnya masjid akan memainkan fungsi nya sebagai salah satu pilar kebangkitan umat.apalagi mengaman kan aset-aset masjid termasuk mengawal pengurusan sertifikat WAKAF, cukup banyak alternatif yang dapat dilakukan oleh masjid ( para pengelolanya).  Seperti  diketahui bahwa  hampir semua  masjid, lebih-lebih  masjid-masjid besar, mempunyai tanah wakaf yang cukup luas.  Tanah wakaf ini sangat potensial untuk dikelola dan dikembangkan  dengan  baik dan menghasilkan  cukup banyak modal.  Dengan  pengelolaan yang transparan, baik menegementnya,  hasil income dan pengeluarannya, maupun pemanafaatan serta program prioritasnya,  tanah wakaf akan  benar-benar menjadi dana umat sebagaimana  keinginan dan tujuan  yang terkandung dalam wakaf itu sendiri. Audit publik mutlak diperlukan dan keterlibatan  publik dalam   pemanfaatnanya juga  sangat dianjurkan. Pengelolaan yang  tidak jelas,  pemanfaatn yang cenderung konsumtif, dan pertanggung jawaban yang semu sudah saatnya untuk  ditinggalkan.  Kalau hal ini dilakukan  maka  dana dari wakaf ini akan sangat  potensial untuk dijadikan modal utama dalam rangka melaksanakan  aktifitas sebagaimana yang di inginkan tersebut, tentunya disamping dana-dana lain, seperti  sumbangan dan partisipasi  umat,  dana zakat, infaq dan shadaqah dan lainnya.  Dengan dana yang cukup, masjid akan dapat memberikan sumbangan nyata bagi umat ini, termasuk pemberian pinjaman modal bagi para pedagang kecil, pemberian beasiswa bagi yang tidak mampu, sampai  kepada  pembinaan kelompok ekonomi lemah.

Kemakmuran masjid sangat tergantung pada tinggi dan rendahnya sumber daya manusia yang mengelolanya. Karena itu perlu adanya pengelolaan manajemen kemasjidan. Pengelolaan masjid kedepan butuh orang-orang yang visioner serta telateh dalam berbagai bidang. Optimalisasi fungsi masjid baik pada tingkat intensifikasi maupun ekstensifikasi sangat tergantung pada sejauh mana kita telah mempersiapkan pemuda dan remaja yang memiikih ghirah yang tinggi untuk memakmurkan masjid. Dari aspek histories pada masa Rasulullah SAW, peranan masjid bukanlah semata-mata sebagai tempat ibadah,apa lagi hanya sebagai tempat shalat jum`at yang hanya dilakukan seminggu sekali, akan tetapi juga sebagai Pusat Dakwah, Pendidikan, social, budaya, ekonomi dan politik. Dengan demikian masjid tidak hanya dipakai sebagai kebutuhan spiritual saja.

Dalam situasi apapun idealnya masjid dapat dijadikan pusat aktifitas masyarakat dalam rangka menumbuh kembangkan harmonisasi ummat dengan baik yang pada akhirnya melahirkan gagasan baru dalam pengingkatan kwalitas keagamaan dan kontribusi dalam pembangunan masjid. perlu di kaji kembali pentingnya membangun lembaga ekonomi serta lembaga pendidikan di masjid.
(Aman Wae)

29/03/2016

NU lah Pemilik Warga terbanyak didunia

Hidup NU

Dari Denny Siregar
--------------------☆

EMAK LU ROBOT...

Apa yang sulit bagi Nahdlatul Ulama sekarang ini dalam menguasai NKRI ?

Hampir tidak ada. Dengan umat yang diperkirakan berjumlah 50 juta orang ( bahkan ada yang mengatakan 80 juta ), NU bisa melakukan apa saja, termasuk makar.

Dalam bidang ekonomi, NU sangat mungkin merebut "pasar" MUI dalam mengeluarkan fatwa halal dan haram. MUI hanyalah sebuah organisasi saja, dan jika dibandingkan dengan organisasi NU bagaikan bumi dan langit.

Tetapi NU tidak melakukan itu. Mereka tidak mencari uang dengan cara2 seperti itu, padahal ketika mereka membentuk badan fatwa sertifikasi halal banyak yang akan beralih ke NU. Siapa yang melarang emangnya ? NU bisa saja berdalih bahwa ini khusus untuk umatnya. Dan ketika NU mau melakukan itu, habis sudah pendapatan MUI yang terbesar dan kering kerontanglah mereka spt unta kehausan di padang.

NU juga bisa saja membuat fatwa2 bahwa aliran A sesat, aliran B menyimpang dsb-nya. Dan berkillah lagi, ini untuk warga NU saja. Lalu siapa yg bisa melarang ? NU tidak begitu. Mereka membiarkan semua berjalan apa adanya, tidak takut akidah umatnya tergerus apalagi cuma dengan mie instan. Malah kalau ada non muslim yang membagi2kan mie instan, mereka akan dengan senang hati datang. Kapan lagi dapat gratisan ?

NU sebagai pembela NKRI, bisa saja membenturkan dirinya dengan HTI, Majeliss Mujahidin dan organisasi2 Islam gurem lainnya yang menguasai khilafah. GP Ansor dan Banser punya kemampuan untuk itu. Tapi untuk apa ? NU tetap berjalan pada koridor hukum dan undang2. Mereka melawan dengan cara yang sangat soft dan smart, membuat Islam Nusantara sebagai tandingan dari Islam Radikal yang diusung para pecinta khilafah.

Siapa yang bisa menjaga gereja2 dan perayaan hari besar umat non muslim, selain NU ? Tanpa ada NU, mungkin sudah banyak bom berletusan yang menjadikan gesekan besar antar umat beragama. Kita bisa seperti Suriah, Afghanistan dan Irak. Bahkan salah seorang anggotanya syahid ketika melindungi sebuah gereja dari bom.

NU-lah pelopor gerakan pluralisme dengan berdakwah, menunjukkan wajah Islam yang penuh rahmat di gereja2. Tidak ada rasa takut bahwa automurtad seperti propaganda bodoh yg terus dilancarkan. NU pula-lah yang menjaga budaya asli Islam Indonesia sehingga tidak terkontaminasi budaya arab.

Begitu kuat dan tenangnya NU bergerak, sehingga langkahnya terasa tidak terdengar. NU seperti singa yang tidak perlu mengaum, ketika dirasa tidak ada bahaya. Beda dengan anjing yang selalu menggonggong bahkan ketika orang sekedar lewat saja.

Karena itu temanku, kalau mau melihat bagaimana Islam di Indonesia, lihatlah NU ( dan Muhammadiyah ). Masih selamatnya kita di Indonesia ini tidak lepas dari besarnya peran mereka menjaga kita tetap utuh.

Jangan lihat yang organisasi2 gurem itu. Mereka harus teriak keras2 supaya diperhatikan NU.

Mereka berteriak, "kami umat Islam.." padahal mereka kecil saja. Mereka teriak, "kami mayoritas.." NU ketawa saja. Elu ? Mayoritas ? Emak lu robot...

Sayang, NU ga tertarik dengan teriakan2 minta perhatian  mereka. Bahkan cenderung menyindir2 kebodohan mereka dalam beragama dengan gaya yang masih santun, sarungan, kopiahan dan cangkrukan sambil ngudut dan ngopi.

Mari kita angkat secangkir kopi untuk NU. Mereka layak mendapatkan itu.