Showing posts with label Aswaja. Show all posts
Showing posts with label Aswaja. Show all posts

10/11/2016

TERUNGKAP, PEMBUNUH JENDERAL MALABBY

Kyai Mas Ahmad Marzuqi yg lebih dikenal dengan Mbah Koncer adalah sosok misterius terbunuhnya Jenderal Mallaby. Berikut BC yang kami terima dari santri beliau saat selesai diskusi mengenang Hari Pahlawan 10 Nopember.

Asslmkm wr.wb #Edisi Mengenang# Monggo kirim hadiyah Al-Fatihah, Yaasiin, dan Tahlil kagem para pahlawan dan masyayih qta, ter khusus dumateng Yai Mas Ahmad Marzuqi(Mbah Koncer)Pimpinan Tentara Hizbulloh Sby. Romoipun Yai Mas Abd Wahid Naufal Alm., mertuaipun Yai Mas Ahmad Nawawi lan mertuaipun Yai Mas Luqman Hakim Alm. Yang telah membunuh Jendral Mallaby, tp berhubung beliau seorang sufi, maka beliau tidak berkenan dimasukkan sejarah. Sebagaimana poro sesepuh dan Yai2 Dresmo yang tidak berkenan di bangunkan monumen pahlawan di tanah Dresmo karena mereka para sufi yang sangat ikhlas. Ngapunten cerita ini qlo dapat dg bertanya lansung dateng Yai Mas Wahid Naufal Alm. Satu mobil ketika mau Ceramah agama ke daerah Gresik. Ngapunten poro Mas, poro Yai, qlo ngelancangi, menawi mboten kerso atawin lepat qlo nyuwun gunging samudro pangaksami, dalam hati qlo mboten wonten niat aneh2, namung kepingin mengajak teman2 santri Al-Haqiqi mengenang Beliau2, cz menurut qlo ini sejarah yg mungkin teman2 belum ketahui, monggo yang percaya Film Sang Kyai, yg membunuh jendral Mallaby adalah Harun, santri tebuireng, tp menggah qlo ingkah leres Pahlawan yang membunuh Jendral mallaby adalah Mbah Koncer. Karena dr MI dlu di buku sejarah yang tertulis ada 2 fersi, pertama Mallaby terbunuh tapi tidak di ketahui pembunuhnya, versi kedua Mallaby kebingungan karena tentaranya kocar-kacir sehingga dia bunuh diri. Ngapunten ampun dados penggalih, intinya tujuan qlo ngeshare niki monggo kirim do'a dumateng poro pahlawan, terutama Mbah Koncer. Matursuwun. Wasslmkm wr.wb.

21/05/2016

Ansor dan Semangat Resolusi Jihad

Ansor dan Semangat Resolusi Jihad

Suatu hari di warung kopi, di daerah Ploso, Jombang, kami terlibat obrolan ringan dengan lelaki berusia udzur. Lelaki itu biasa dipanggil Mbah Jo, entah siapa nama aslinya.

Beliau tiba-tiba bercerita tentang masa perang revolusi. Dalam balutan kulit yg sudah tidak kencang lagi, ternyata ingatannya masih jernih ketika bertutur tentang pertempuran 10 Nopember 1945.
Kebetulan ketika itu kami berlima baru saja selesai memancing di sungai Brantas bersama Mbah Jo.

"Dulu di bulan Oktober 1945, terjadi perdebatan yang sangat sengit menerjemahkan seruan Mbah Hasyim tentang kewajiban berjihad bagi setiap muslim pada jarak masyafatul qosri," begitu Mbah Jo mengawali pembicaraan. Perhatian kami mulai tercuri. Menurut beliau, seruan  ini akhirnya disambut kalangan luas.

Rapat yang dilaksanakan di kantor MWC NU Kecamatan Tembelang yang saat ini di tempati oleh KUA Tembelang itu, juga membahas strategi pertempuran mempertahankan kemerdekaan RI.

Seruan jihad tersebut tersebar cepat di masyarakat. "Kami para pemuda mendengar langsung dari siaran radio RRI Jombang atas perintah jihad Mbah Hasyim Asy'ari." Jelas mantan komandan Brigade Hizbulloh di bawah pimpinan Kyai Wahab Hasbullah itu, sambil menyeruput kopi nya. Seruan ini sebagaimana kita ketahui tersiar melalui radio sebelum seruan perang dari dr. Moestopo, Gubernur Suryo, juga Bung Tomo.

"Trus bagaimana reaksi pemuda-Pemuda saat itu Mbah?", Tak sabar Afif, salah satu peserta obrolan, menyela pembicaraan karena Mbah Jo berkisah agak terbata-bata, karena usia yang tidak bisa lagi muda.
Mbah Jo pun melanjutkan,  "Tersusunlah rundown serangan guna menghalau kedatangan pasukan Sekutu yang akan mendarat di Tanjung Perak Surabaya."

Seakan masih belum puas meneruskan ceritanya, Mbah Jo masih terus bertutur. Menurutnya berita akan datangnya sekutu
disambut dengan semangat yang berkobar di dada. Para santri serta para kyai NU, bahkan sudah siap mengorbankan darah dan nyawanya.

Selain itu peran Mbah Wahab selaku Panglima pertempuran sangat menentukan. Karena beliau terbilang cermat menyusun personil dan strategi, demi menyukseskan sebuah gerakan bersejarah yang terkenal dengan sebutan resolusi jihad. Kesemuanya itu dilakukan demi mempertahankan harga diri Bangsa dan NKRI serta untuk menegakkan  Ahlus Sunnah Wal Jamaah. "Kuwi ngunu jaman biyen le, saiki wis ora ngunu maneh", pungkasnya dengan menghisap Gudang Garam Kretek Merahnya.

Sebagai sayap kepemudaan NU, Ansor seyogyanya mewarisi jiwa patriotisme tersebut. Kini,
Banyak kita jumpai diskusi-diskusi kecil terkait upaya pembebasan Ansor dari penjajahan dalam bentuk lain.

Salah satunya adalah pembebasan organisasi dari ketergantungan pada partai politik, karena hal tersebut dipandang mengganggu kemandirian organisasi. Ketergantungan pada partai mengakibatkan
Ansor bagaikan kerbau dicocok Hidungnya, harus taat dan patuh kepada siapa yang memberi makan.

Memang belum berhasil sepenuhnya, namun harapanya  ada darah perjuangan yang mengalir dari Syuhada-Syuhada dan  Pejuang-Pejuang seperti Mbah Wahab dalam generasi GP.Ansor, sehingga mampu  mengembalikan marwah GP. Ansor sebagai OKP  yang mandiri, merdeka, berdaulat, adil dan makmur berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

M. Lutfi Ridho

16/05/2016

Memanfaatkan Malam Nisyfu Sya'ban

Memaksimalkan Sholat pada Malam Nishfu Sya'ban

Pertanyaan:
Adakah hadis yang menjelaskan tentang salat di Malam Nishfu Sya'ban?

Jawaban:
Malam Nishfu Sya'ban dilakukan pertama kali oleh para Tabi'in (generasi setelah Sahabat Nabi) di Syam Syria, seperti Khalid bin Ma'dan (perawi dalam Bukhari dan Muslim), Makhul (perawi dalam Bukhari dan Muslim), Luqman bin 'Amir (al-Hafidz Ibnu Hajar menilainya 'jujur') dan sebagainya, mereka mengagungkannya dan beribadah di malam tersebut. Dari mereka inilah kemudian orang-orang mengambil keutamaan Nishfu Sya'ban. Ketika hal ini menjadi populer di berbagai Negara, maka para ulama berbeda-beda dalam menyikapinya, ada yang menerima diantaranya adalah para ulama di Bashrah (Irak). Namun kebanyakan ulama Hijaz (Makkah dan Madinah) mengingkarinya seperti Atha', Ibnu Abi Mulaikah, dan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dari ulama Madinah dan pendapat beberapa ulama Malikiyah mengatakan: "Semuanya adalah bid'ah".

Ulama Syam berbeda-beda dalam melakukan ibadah malam Nishfu Sya'ban. Pertama, dianjurkan dilakukan secara berjamaah di masjid-masjid. Misalnya Khalid bin Ma'dan, Luqman bin Amir dan lainnya, mereka memakai pakaian terbaiknya, memakai minyak wangi, memakai celak mata dan berada di masjid. Hal ini disetujui oleh Ishaq bin Rahuwaih (salah satu Imam Madzhab yang muktabar), dan beliau mengatakan tentang ibadah malam Nishfu Sya'ban di masjid secara berjamaah: "Ini bukan bid'ah". Dikutip oleh Harb al-Karmani dalam kitabnya al-Masail. Kedua, dimakruhkan untuk berkumpul di masjid pada malam Nishfu Sya'ban untuk shalat, mendengar cerita-cerita dan berdoa. Namun tidak dimakruhkan jika seseorang salat (sunah mutlak) sendirian di malam tersebut. Ini adalah pendapat al-Auza'i, imam ulama Syam, ahli fikih yang alim. Inilah yang paling tepat, InsyaAllah. (Syaikh al-Qasthalani dalam Mawahib al-Ladunniyah II/259 yang mengutip dari Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Lathaif al-Ma'arif 151)

Dalil-Dalil Hadis Nishfu Sya'ban

Hadis Pertama
عَنْ مُعَاذِ بن جَبَلٍ عَن النَّبِيِّ  قَالَ يَطَّلِعُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيْعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ (رواه الطبراني في الكبير والأوسط قال الهيثمى ورجالهما ثقات. ورواه الدارقطنى وابنا ماجه وحبان فى صحيحه عن ابى موسى وابن ابى شيبة وعبد الرزاق عن كثير بن مرة والبزار)

“Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Allah memperhatikan hambanya (dengan penuh rahmat) pada malam Nishfu Sya’ban, kemudian Ia akan mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan musyahin (orang munafik yang menebar kebencian antar sesama umat Islam)”. (HR Thabrani fi Al Kabir no 16639, Daruquthni fi Al Nuzul 68, Ibnu Majah no 1380, Ibnu Hibban no 5757, Ibnu Abi Syaibah no 150, Al Baihaqi fi Syu’ab al Iman no 6352, dan Al Bazzar fi Al Musnad 2389. Peneliti hadis Al Haitsami menilai para perawi hadis ini sebagai orang-orang yang terpercaya. Majma’ Al Zawaid 3/395)

Ulama Wahabi, Nashiruddin al-Albani yang biasanya menilai lemah (dlaif) atau palsu (maudlu') terhadap amaliyah yang tak sesuai dengan ajaran mereka, kali ini ia tak mampu menilai dlaif hadis tentang Nishfu Sya'ban, bahkan ia berkata tentang riwayat diatas: "Hadis ini sahih" (Baca as-Silsilat ash-Shahihah 4/86)

إِنَّ اللهَ لَيَطَّلِعُ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيْعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ (صحيح) اهـ  السلسلة الصحيحة للالباني (4/ 86)

Hadis Kedua

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ  اِنَّ اللهَ تَعَالَى يَدْنُوْ مِنْ خَلْقِهِ فَيَغْفِرُ لِمَنِ اسْتَغْفَرَ إِلاَّ الْبَغِيَّ بِفَرْجِهَا وَالْعَشَّارَ (رواه الطبراني في الكبير وابن عدي عن عثمان بن أبي العاص وقال الشيخ المناوي ورجاله ثقات اهـ التيسير بشرح الجامع الصغير 1/551)

"Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya (rahmat) Allah mendekat kepada hambanya (di malam Nishfu Sya'ban), maka mengampuni orang yang meminta ampunan, kecuali pelacur dan penarik upeti" (HR al-Thabrani dalam al-Kabir dan Ibnu 'Adi dari Utsman bin Abi al-'Ash. Syaikh al-Munawi berkata: Perawinya terpercaya. Baca Syarah al-Jami' ash-Shaghir 1/551)

Hadis Ketiga

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ  يَنْزِلُ اللهُ تَعَالَى لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِكُلِّ نَفْسٍ إِلاَّ إِنْسَانًا فِي قَلْبِهِ شَحْنَاءُ أَوْ مُشْرِكًا بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ (قال الحافظ ابن حجر هذا حديث حسن أخرجه الدارقطني في كتاب السنة عن عبد الله بن سليمان على الموافقة وأخرجه ابن خزيمة في كتاب التوحيد عن أحمد بن عبد الرحمن بن وهب عن عمه اهـ الأمالي 122)

“Rasulullah Saw bersabda: (Rahmat) Allah turun di malam Nishfu Sya’ban maka Allah akan mengampuni semua orang kecuali orang yang di dalam hatinya ada kebencian kepada saudaranya dan orang yang menyekutukan Allah" (al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: "Hadis ini hasan. Diriwa-yatkan  oleh  Daruquthni  dalam  as-Sunnah  dan   Ibnu
Khuzaimah dalam at-Tauhid, Baca al-Amali 122)

Mengenai salatnya, Ulama ahli fikih dan hadis sepakat bahwa hadis tentang salat dengan niat 'salat sunah malam Nishfu Sya'ban' adalah hadis maudlu' (palsu), sebagai-mana salat 'Raghaib' di awal bulan Rajab. Namun jika seseorang melakukan salat sunah mutlak seperti salat Hajat atau salat Tasbih, maka diperbolehkan. Hal ini berdasarkan hadis dari Aisyah bahwa Rasulullah Saw melakukan salat sunah mutlak di malam tersebut (HR Al Baihaqi fi Syu'ab Al Iman no 3675, menurutnya hadits ini Mursal yang baik)

عَنِ الْعَلاَءِ بْنِ الْحَارِثِ اَنَّ عَائِشَةَ قَالَتْ: قَامَ رَسُوْلُ اللهِ  مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى فَأَطَالَ السُّجُودَ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ قَدْ قُبِضَ، فَلَمَّا رَأَيْتُ ذَلِكَ قُمْتُ حَتَّى حَرَّكْتُ إِبْهَامَهُ فَتَحَرَّكَ فَرَجَعَ، فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ السُّجُودِ وَفَرَغَ مِنْ صَلاَتِهِ قَالَ: يَا عَائِشَةُ أَوْ يَا حُمَيْرَاءُ أَظَنَنْتِ أَنَّ النَّبِيَّ  قَدْ خَاسَ بِكِ؟ قُلْتُ: لاَ وَاللهِ يَا رَسُوْلَ اللهِ وَلَكِنِّي ظَنَنْتُ أَنْ قُبِضْتَ طُوْلَ سُجُوْدِكَ، قَالَ: أَتَدْرِي أَيَّ لَيْلَةٍ هَذِهِ؟ قُلْتُ: اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: هَذِهِ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَطَّلِعُ عَلَى عِبَادِهِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِلْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَرْحَمُ الْمُسْتَرْحِمِيْنَ وَيُؤَخِّرُ أَهْلَ الْحِقْدِ كَمَا هُمْ، رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ. وَقَالَ هَذَا مُرْسَلٌ جَيِّدٌ وَيُحْتَمَلُ أَنْ يَكُوْنَ الْعَلاَءُ أَخَذَهُ مِنْ مَكْحُوْلٍ وَاللهُ أَعْلَمُ (شعب الإيمان للبيهقي)

“Dari 'Ala' bin Harits bahwa Aisyah berkata: “Rasulullah bangun di tengan malam kemudian beliau salat, kemudian sujud sangat lama, sampai saya menyangka bahwa beliau wafat. Setelah itu saya bangun dan saya gerakkan kaki Nabi dan ternyata masih bergerak. Kemudian Rasul bangkit dari sujudnya setelah selesai melakukan shalatnya, Nabi berkata “Wahai Aisyah, apakah kamu mengira Aku berkhianat padamu?”, saya berkata “Demi Allah, tidak, wahai Rasul, saya mengira engkau telah tiada karena sujud terlalu lama.” Rasul bersabda “Tahukauh kamu malam apa sekang ini?” Saya menjawab “Allah dan Rasulnya yang tahu”. Rasulullah bersabda “ini adalah malam Nishfu Sya’ban, sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memperhatikan hamba-hamba-Nya pada malam Nishfu Sya’ban, Allah akan mengampuni orang-orang yang meminta ampunan, mengasihi orang-orang yang meminta dikasihani, dan Allah tidak akan memprioritaskan orang-orang yang pendendam”. (HR Al Baihaqi fi Syuab Al Iman no 3675, menurutnya hadits ini Mursal yang baik)

Begitu pula beberapa fatwa Ulama, diantaranya: (1) “Ibnu Taimiyah ditanya soal shalat pada malam nishfu Sya’ban. Ia menjawab: Apabila seseorang shalat sunah muthlak pada malam nishfu Sya’ban sendirian atau berjamaah, sebagaimana dilakukan oleh segolongan ulama salaf, maka hukumnya adalah baik. Adapun kumpul-kumpul di masjid dengan shalat yang ditentukan, seperti salat seratus raka’at dengan membaca surat al Ikhlash sebanyak seribu kali, maka ini adalah perbuata bid’ah yang sama sekali tidak dianjurkan oleh para ulama”. (Majmú' Fatáwá Ibnu Taymiyyah, II/469)

(2) “Ibnu Taimiyah berkata: Dari beberapa hadis dan pandapat para sahabat menunjukkan bahwa malam Nishfu Sya’ban memiliki keutamaan tersendiri. Sebagian ulama Salaf melaksanakan salat sunah secara khusus di malam tersebut”. (Faidl al-Qadír, Syaikh al-Munawi, II/302)

(Aswaja NU Center PWNU Jatim)

14/04/2016

Pangeran Diponegoro

Kisah Pangeran Diponegoro


Untuk panjenengan yang pernah mondok, wabil khusus yang telah menjadi tokoh masyarakat
Para pejuang itu adalah seorang santri......!!!!!!
(Nukilan patriotik)
Santri pondok pesantren itu ampuh. Di tanah Jawa ini, yang paling ditakuti (penjajah) Belanda adalah santri dan tarekat (thariqah).
Ada seorang santri yang juga penganut thariqah, namanya Abdul Hamid. Ia lahir di Dusun Tegalrejo, Kecamatan Tegalrejo, Yogyakarta. Mondok pertama kali di Tegalsari, Jetis, Ponorogo kepada KH. Hasan Besari. Abdul Hamid ngaji kitab kuning kepada Kyai Taftazani Kertosuro.
Ngaji Tafsir Jalalain kepada KH. Baidlowi Bagelen yang dikebumikan di Glodegan, Bantul, Jogjakarta. Terakhir Abdul Hamid ngaji ilmu hikmah kepada KH. Nur Muhammad Ngadiwongso, Salaman, Magelang.
Di daerah eks-Karesidenan Kedu (Temanggung, Magelang, Wonosobo, Purworejo, Kebumen), nama KH. Nur Muhammad yang masyhur ada dua, yang satu KH. Nur Muhammad Ngadiwongso, Salaman, Magelang dan satunya lagi KH. Nur Muhammad Alang-alang Ombo, Pituruh, yang banyak menurunkan kyai di Purworejo.
Abdul Hamid sangat berani dalam berperang melawan penjajah Belanda selama 5 tahun, 1825-1830 M.
Abdul Hamid wafat dan dikebumikan di Makassar, dekat Pantai Losari. Abdul Hamid adalah putra Sultan Hamengkubuwono ke-III dari istri Pacitan, Jawa Timur.
Abdul Hamid patungnya memakai jubah dipasang di Alun-alun kota Magelang. Menjadi nama Kodam dan Universitas di Jawa Tengah. Terkenal dengan nama Pangeran Diponegoro.
Belanda resah menghadapi perang Diponegoro. Dalam kurun 5 tahun itu, uang kas Hindia Belanda habis, bahkan punya banyak hutang luar negeri.
Nama aslinya Abdul Hamid. Nama populernya Diponegoro.
Adapun nama lengkapnya adalah Kyai Haji (KH) Bendoro Raden Mas Abdul Hamid Ontowiryo Mustahar Herucokro Senopati Ing Alogo Sayyidin Pranotogomo Amirul Mu’minin Khalifatullah Tanah Jawi Pangeran Diponegoro Pahlawan Goa Selarong.
Maka jika Anda pergi ke Magelang dan melihat kamar Diponegoro di eks-Karesidenan Kedu, istilah sekarang di Bakorwil, ada 3 peningalan Diponegoro: al-Quran, tasbeh dan Taqrib (kitab Fath al-Qarib).
Kenapa al-Quran? Diponegoro adalah seorang Muslim. Kenapa tasbih? Diponegoro seorang ahli dzikir, dan bahkan penganut thariqah.
Habib Luthfi bin Ali bin Yahya Pekalongan mengatakan bahwa Diponegoro seorang mursyid Thariqah Qadiriyyah. Selanjutnya yang ketiga, Taqrib matan Abu Syuja’, yaitu kitab kuning yang dipakai di pesantren bermadzhab Syafi'i.
Jadi Pangeran Diponegoro bermadzhab Syafi’i. Maka, karena bermadhab Syafi’i, Diponegoro shalat Tarawih 20 rakaat, shalat Shubuh memakai doa Qunut, Jum’atan adzan dua kali, termasuk shalat Ied-nya di Masjid, bukan di Tegalan (lapangan).
Saya sangat menghormati dan menghargai orang yang berbeda madzhab dan pendapat. Akan tetapi, tolong, sejarah sampaikan apa adanya.
Jangan ditutup-tutupi bahwa Pangeran Diponegoro bermadzhab Syafi’i. Maka 3 tinggalan Pangeran Diponegoro ini tercermin dalam pondok-pondok pesantren.
Dulu ada tokoh pendidikan nasional bernama Douwes Dekker. Siapa itu Douwes Dekker? Danudirja Setiabudi.
Mereka yang belajar sejarah, semuanya kenal. (Leluhur) Douwes Dekker itu seorang Belanda yang dikirim ke Indonesia untuk merusak bangsa kita.
Namun ketika Douwes Dekker berhubungan dengan para kyai dan santri, mindset-nya berubah, yang semula ingin merusak kita justeru bergabung dengan pergerakan bangsa kita.
Bahkan kadang-kadang Douwes Dekker, semangat kebangsaannya melebihi bangsa kita sendiri.
Douwes Dekker pernah berkata dalam bukunya:
“Kalau tidak ada kyai dan pondok pesantren, maka patriotisme bangsa Indonesia sudah hancur berantakan.”
Siapa yang berbicara? Douwes Dekker, orang yang belum pernah nyantri di pondok pesantren.
Seumpanya yang berbicara saya, pasti ada yang berkomentar: "Hanya biar pondok pesantren laku."
Tapi kalau yang berbicara orang “luar”, ini temuan apa adanya, tidak dibuat-buat. Maka, kembalilah ke pesantren.
Ki Hajar Dewantara (Suwardi Suryaningrat) itu adalah santri.
Tidak hanya Diponegoro anak bangsa yang dididik para ulama menjadi tokoh bangsa.
Diantaranya, di Jogjakarta ada seorang kyai bernama Romo Kyai Sulaiman Zainudin di Kalasan Prambanan.
Punya santri banyak, salah satunya bernama Suwardi Suryaningrat.
Suwardi Suryaningrat ini kemudian oleh pemerintah diangkat menjadi Bapak Pendidikan Nasional yang terkenal dengan nama Ki Hajar Dewantara.
Jadi, Ki Hajar Dewantara itu santri, ngaji, murid seorang kyai.
Sayangnya, sejarah Ki Hajar mengaji al-Quran tidak pernah diterangkan di sekolah-sekolah, yang diterangkan hanya Ing Ngarso Sun Tulodo,
Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Itu sudah baik, namun belum komplit. Belum utuh.
Maka nantinya, untuk rekan-rekan guru, mohon diterangkan bahwa Ki Hajar Dewantara selain punya ajaran Tut Wuri Handayani, juga punya ajaran al-Quran al-Karim.
Sayyid Husein al-Mutahhar adalah cucu nabi yang patriotis.
Malah-malah, ketika Indonesia merdeka, ada sayyid warga Kauman Semarang yang mengajak bangsa kita untuk bersyukur.
Sang Sayyid tersebut menyusun lagu Syukur. Dalam pelajaran Sekolah Dasar disebutkan Habib Husein al-Mutahar yang menciptakan lagu Syukur.
Beliau adalah Pakdenya Habib Umar Muthahar SH Semarang. Jadi, yang menciptakan lagu Syukur yang kita semua hafal adalah seorang sayyid, cucu baginda Nabi Saw. Mari kita nyanyikan bersama-sama:
Dari yakinku teguh
Hati ikhlasku penuh
Akan karuniaMu
Tanah air pusaka
Indonesia merdeka
Syukur aku sembahkan
Ke hadiratMu tuhan.
Itu yang menyusun cucu Nabi, Sayyid Husein Muthahar, warga Kauman Semarang. Akhirnya oleh pemerintah waktu itu diangkat menjadi Dirjen Pemuda dan Olahraga.
Terakhir oleh pemerintah dipercaya menjadi Duta Besar di Vatikan, negara yang berpenduduk Katholik.
Di Vatikan, Habib Husein tidak larut dengan kondisi, malah justeru membangun masjid. Hebat.
Malah-malah, Habib Husein Muthahar menyusun lagu yang hampir se-Indonesia hafal semua.
Suatu ketika Habib Husein Muthahar sedang duduk, lalu mendengar adzan shalat Dzuhur.
Sampai pada kalimat hayya 'alasshalâh, terngiang suara adzan. Sampai sehabis shalat berjamaah, masih juga terngiang.
Akhirnya hatinya terdorong untuk membuat lagu yang cengkoknya mirip adzan, ada “S”nya, “A”nya, “H”nya. Kemudian pena berjalan, tertulislah:
17 Agustus tahun 45
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka Nusa dan Bangsa
Hari lahirnya Bangsa Indonesia
Merdeka
Sekali merdeka tertap merdeka
Selama hayat masih dikandung badan
Kita tetap setia, tetap setia
Mempertahankan Indonesia
Kita tetap setia, tetap setia
Membela Negara kita.
Maka peran para kyai dan para sayyid tidak sedikit dalam pembinaan patriotisme bangsa.
Jadi, Anda jangan ragu jika hendak mengirim anak-anaknya ke pondok pesantren.
Malahan, Bung Karno, ketika mau membaca teks proklamasi di Pegangsaan Timur Jakarta, minta didampingi putra kyai.
Tampillah putra seorang kyai, dari kampung Batuampar, Mayakumbung, Sumatera Barat. Siapa beliau?
H. Mohammad Hatta putra seorang kyai. Bung Hatta adalah putra Ustadz Kiai Haji Jamil, Guru Thariqah Naqsyabandiyyah Kholidiyyah.
Sayang, sejarah Bung Hatta adalah putra kyai dan putra penganut thariqah tidak pernah dijelaskan di sekolah, yang diterangkan hanya Bapak Koperasi.
Mulai sekarang, mari kita terangkan sejarah dengan utuh. Jangan sekali-kali memotong sejarah.
Jika Anda memotong sejarah, suatu saat, sejarah Anda akan dipotong oleh  Allah Swt.
Akhirnya, Bung Hatta menjadi wakil presiden pertama.
Pesan Penting Bagi Santri, Belajar dari Mbah Mahrus Aly.
Maka, jangan berkecil hati mengirim putra-putri Anda di pondok-pesantren.
Santri-santri An-Nawawi di tempat saya, saya nasehati begini:
“Kamu mondok di sini nggak usah berpikir macam-macam, yang penting ngaji dan sekolah. Tak usah berpikir besok jadi apa, yang akan menjadikan Gusti Allah."
Ketika saya dulu nyantri di Lirboyo, tak berpikir mau jadi apa, yang penting ngaji, nderes (baca al-Quran), menghafalkan nadzaman kitab dan shalat jamaah.
Ternyata saya juga jadi manusia, malahan bisa melenggang ke gedung MPR di Senayan.
Tidak usah dipikir, yang menjadikan Gusti Allah.
Tugas kita ialah melaksanakan kewajiban dari Allah Swt. Allah mewajibkan kita untuk menuntut ilmu, kita menuntut ilmu.
Jika kewajiban dari Allah sudah dilaksanakan, maka Allah yang akan menata. Jika Allah yang menata sudah pasti sip, begitu saja. Jika yang menata kita, belum tentu sip.
Perlu putra-putri Anda dalam menuntut ilmu, berpisah dengan orangtua.
KH. Mahrus Aly Lirboyo pernah dawuh:
“Nek ngaji kok nempel wongtuo, ora temu-temuo.”
(Jika mengaji masih bersama dengan orangtua, tidak akan cepat dewasa).
Maka masukkanlah ke pesantren, biar cepat dewasa pikirannya.
Itu yang ngendiko (berkata) Kyai Mahrus Ali.

Gus Mus Dan Wajah Keislamannya

GUS MUS & WAJAH ISLAM

Gus Mus tidak pernah berbicara "kami umat Islam..." seakan beliau mewakili seluruh umat Islam.

Gus Mus sendiri takut apakah benar beliau muslim ? Sebab muslim artinya manusia yang secara total berserah diri kepada Tuhan, dan berserah diri mempunyai makna yg sangat dalam. Ketika seseorang berserah diri, maka ia mengemban sifat2 tuhan dalam dirinya yang berinti pada menjadikan diri berfungsi kepada manusia lain.

"Benarkah aku sudah berserah diri ? Bukankah aku masih terbungkus keinginan duniawi ? Siapakah aku mengaku2 bahwa aku seorang muslim ?"

Begitulah ciri2 manusia yang mempunyai ilmu pengetahuan, memfungsikan akal dan melemahkan nafsunya. Bukan meng-klaim, karena iblis paling handal kalau masalah mengklaim dirinya paling taat, paling hebat, paling dekat kepada Tuhan.

Tidak perlu berjenggot lebat hanya supaya mengikuti Nabi-nya, karena memang bukan budaya tempat kelahirannya. Mengikuti bersifat tauladan dan tauladan ada di sikap bukan lambang.

Tidak mudah mencari manusia seperti Gus Mus di dalam Islam, tapi sejatinya mereka banyak hanya tidak tampak. Mereka terselip diantara tembok-tembok kemunafikan menjadi penyeimbang. Mereka tidak ingin mencari kejayaan, karena sejatinya kejayaan hanya pengakuan dari manusia dan manusia adalah tempatnya fitnah. Merekalah yang menjaga negara ini supaya tetap tentram, sejuk dan selalu toleran.

Jangan pernah lagi melihat wajah Islam dari ISIS, karena ISIS hanyalah setan yg di-propagandakan. Jangan melihat Isllam dari FPI, karena Islam tidak pernah memegang pentungan. Lihatlah wajah Islam dari Gus Mus, karena sejatinya begitulah para wali bergerak, berbicara dan bersikap.

Melihat Gus Mus di mata Najwa kemarin malam, saya tersenyum. Setidaknya ada wakil yang menampakkan sesungguhnya bagaimana ketika beragama itu dengan berakal.

Sayang Gus Mus sudah berhenti merokok, mungkin saya juga akan seperti beliau jika sudah setua beliau. Tetapi saya yakin, beliau masih tetap setia dengan secangkir kopinya.

Karena kopi bukan hanya secangkir minuman. Ia adalah filosofi hidup yang dalam dimana rasa pahit dan manis disatukan dan yang abadi adalah kenikmatan.

Selamat ngopi, Gus Mus...

17/03/2016

Pola Pikir ASWAJA

D.    POLA PIKIR ASWAJA
Nampaklah bahwa pola pikir yang diisyaratkan oleh paham Ahlussunnah Waljamaah adalah taqdim al nas dan rasional. Atau mengutamakan nas tetapi dalam memahami nas itu digunakanlah logika filsafat yang rasional.

1.      Taqdim al-Nas
Pola pikir taqdim al-Nas (mendahulukan petunjuk nas) ini terindikasikan oleh komitmen tegas Ahlussunnah Waljamaah dalam rangka purifikasi (pemurnian) ajaran Islam dari aneka upaya liberalisasi serta pemikiran bid’ah yang kian menggejala dan kompleks.
Purifikasi dimaksud tidak lain ialah menjadikan al-Quran dan al-Sunnah sebagai sumber rujukan vital dalam setiap aspek kehidupan. Yang dalam hal, ini mencakup aspek akidah, ibadah, dan aspek akhlak. Sebagaimana yang dikembangkan oleh Rasulullah SAW. dan para sahabatnya pada periode awal kelahiran Islam.
Dengan pola pikir taqdim al-Nas ini, ajaran Islam akan terhindar dari berbagai nuansa yang bersifat ekstrim. Dalam lingkup akidah, terhindar dari, pemikiran kalam liberal yang terlalu mendewa-dewakan kemampuan akal. Dalam lingkup ibadah, terlepas dari egoisme pembenaran pendapat pribadi ataupun mazhab. Dan dalam lingkup akhlak akan terhindar dari pemikiran-pemikiran mistis non Islam.
Semua aspek kehidupan, praktis akan terpayungi oleh kebenaran “mutlak”al-Quran dan al-Sunnah. Peran logika-filsafat yang menjelma dalam pemikiran kalam, tetap ternaungi oleh kebenaran “mutlak” al-Quran dan al-Sunnah. Perbedaan pendapat fiqhiyah yang memang interpretable, tetap menjadi ikhtilaf-rahmat, Pemikiran-Pemikiran tasawuf pun tetap sejalan dengan Nas. Pemikiran-pemikiran bid’ah seperti paham al ahlul dan wihdah al-wujud (inkarnasi, reinkarnasi) jelas-jelas bukan ajaran Islam; praktis akan tercounter dengan sendirinya.

2.      Rasional
Taqdim al-Nas memang menjadi komitmen pola pikir paham Ahlussunnah Waljamaah, namun secara filosofis tidak berarti menganulir atau menafikan kebenaran rasio (akal). Bahkan akal mendapat tempat yang sangat terhormat dalam paham Ahlussunnah Waljamaah, sejalan dengan penghormatan yang diberikan oleh semangat Nas itu sendiri.
Kata aqal (akal) itu sendiri dengan berbagai bentuk, banyak didengung-dengungkan dalam al-Quran, termasuk juga di dalam al-Sunnah.
Itu berarti, paham taqdim al-Nas otomatis menempatkan rasio dalam tempat yang amat terhormat. Keterhormatannya itu berarti pula memberi semangat kepada umat agar berpola pikir rasional.
Hanya saja, mengingat kemampuan akal sangat terbatas dan variatif, mustahil dapat menembus kebenaran mutlak dan hasilnya bervariasi antara akal yang satu dengan yang lain. maka secara logis pula; akal bukanlah bandingan naql (Nas). Menjadi hal yang irrasional jika sampai mensejajarkan atau membandingkan kebenaran akal dengan kebenaran naql. Sama halnya dengan membandingkan antara kemampuan manusia dengan kemampuan Tuhan.
Oleh karena itu, pola pikir yang dikembangkan dalam paham Ahlussunnah Waljamaah tidak lain ia, menempatkan rasio/akal pada tempatnya. Akal di tempatkan sebagai alat bantu untuk memahami kandungan naql. Itupun terbatas pada apa yang bisa dijangkau oleh kemampuan akal. Sehingga penggunaan ta’wil (penafsiran ayat secara metafores/majazi), dalam paham Ahlussunnah Waljamaah sangat terbatas pada ayat-ayat mutasyabihat (ayat yang maknanya mengandung perserupaan Tuhan dengan makhluk) dan ayat-ayat tertentu lainnya, dengan pana’ wil yang terbatas pula (tidak terlalu mendalam).
Dengan pola pikir yang demikian, maka paham Ahlussunnah Waljamaah justru senantiasa represetatif dalam setiap zaman, sejalan dengan representatif ajaran Islam itu sendiri sampai kapan pun dan di manapun, bahkan dalam keadaan yang bagaimana pun. Akan senantiasa aktual dan up to date.

07/03/2016

Ruang Lingkup ASWAJA

C. Ruang Lingkup ASWAJA NU
Paham Ahlussunah Waljama’ah meliputi tiga ruang lingkup yaitu : Lingkup akidah, lbadah, dan akhlak. selanjutnya, untuk membedakan lingkup-lingkup Ahlussunnah Waljamaah tersebut dengan lingkup-lingkup lain, perlu ditegaskan dengan menyebut masing masingnya menjadi :
1. Akidah Ahlussunnah waljamaah,
2. Ibadah (fiqh) Ahlussunnah Waljamaah, dan
3. Akhlak Ahlussunnah Waljamaah.


  1.         Akidah Ahlussunnah Waljamaah
Adapun institusi akidah (kalam) yang sejalan dengan paham Ahlussunnah Waljamaah ialah institusi akidah yang dicetuskan oleh al-Asy’ari dan al-Maturidi. Meski sama persis pemikiran kalam mereka berdua, tetapi pemikirannya tetap commited terhadap petunjuk naql. Keduanya sama-sama mempergunakan akal sebatas untuk memahami naql, tidak sampai mensejajarkannya apalagi memujanya. Bahkan secara terang-terangan melalui karya-karyanya, keduanya sama-sama menolak dan menentang logika Mu’tazilah yang terlalu memuja akal dan nyaris mengabaikan petunjuk naql.
Dengan demikian, maka dalam konteks historis, paham Ahlussunnah Waljamaah adalah sebuah paham yang dalam lingkup akidah mengikuti  pemikiran kalam al Asy’ari atau al-Maturidi. Yang institusinya kemudian disebut al-Asy’ariyah atau al-Maturidiyah. Dan sebagai institusi besar, keduanya tidak luput dari tokoh-tokoh pengikut yang selain menyebarkan, juga mengembangkan pemikiran kalam yang dicetuskan oleh pendirinya.
Beberapa nama tokoh yang menyebar-kembang kan pemikiran kalam al-Asy’ari dan al-Maturidi itu, tercatat nama-nama besar seperti: Al-Baqilani, al-Juwaini (imam al-Haramain), al-Isfirayini, Abu Bakar al-Qaffal, al-Qusyairi, Fahr al-Din al-Razi, Izz al-Din’Abd al Salam, termasuk al Ghazali dan al-Bazdawi. Dan pemikiran kalam yang banyak masuk serta mewarnai umat Islam di Indonesia ialah pemikiran kalam al-Asy’ari yang telah dikembangkan oleh al-Ghazali yang lebih dikenal sebagai tokoh sufistik.
Jauh (berabad-abad) pasca tokoh-tokoh tersebut, di Indonesia dikenal pula tokoh-tokoh al-Asy’ariyah (Asya’irah) seperti: Syekh al-Sanusi, Syekh al-Syarqawi, Syekh al-Bajuri, Syekh Nawawi Banten, Syekh al-Tarabilisi, Syekh al-Fatani, dan lain-lain. Yang tidak mustahil. pemikiran kalam mereka sudah berbeda dengan pemikiran kalam al-Asy’ari sendiri atau setidak-tidaknya ada nuansa lain.

  1.         Fiqh Ahlussunnah Waljamaah
Dalam konteks historis, institusi fiqh yang sejalan dengan konteks substansial paham Ahlussunnah Waljamaah ialah empat mazhab besar dalam fiqh Islam, mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Bahwa mazhab Hanafi dianut pula oleh mu’asis (pendiri) kalam at Maturidiyah, yakni Abu Mansur al-Maturidi. Sedangkan mazhab Syafi’i dianut pula oleh muassis kalam at Asy’ariyah, yakni Abu al-Hasan al-Asyari.
Tak bisa dipungkiri, bahwasanya di antara keempat fiqh tersebut satu sama lain banyak ditemui perbedaan di sana sini. Akan tetapi, perbedaan-perbedaan itu masih berada dalam koridor ikhtilaf-rahmat (perbedaan yang membawa rahmat). Abu Hanifah yang dikenal sebagai ahl al-ra’yi (banyak menggunakan akal/logika), tidak mengklaim pendapatnya sebagai terbenar. Dan ketiga Imam yang lain pun tidak pernah menyalahkan pendapat mazhab yang lain.
Keempat Imam Mazhab tersebut sama-sama commited terhadap petunjuk al-Quran dan al-Sunnah. sama-sama berpola-pikir Taqdim al-Nas ‘ala al-’aql (mendahulukan petunjuk nas daripada logika). Dalam berijtihad, mereka tidak mengedepankan akal kecuali sebatas untuk beristimbat (menggali hukum dan al Quran dan al-Hadits), tidak sampai mensejajarkan apa lagi mengabaikan nas. Dan inilah substansi paham Ahlussunnah Waljamaah.

  1.         Akhlak Ahlussunnah Waljamaah
Adapun lingkup yang ketiga ini, paham Ahlussunnah Waljamaah mengikuti wacana akhlak (tasawuf) yang dikembangkan oleh tokoh-tokoh seperti al Ghozali, al junaid, dan tokoh-tokoh lain yang sepaham termasuk Abu Yazid al-Bustami. Pemikiran akhlak mereka ini memang tidak melembaga menjadi sebuah mazhab tersendiri sebagaimana dalam lingkup akidah (kalam) dan fiqh. Namun wacana mereka itu sejalan dengan substansi paham Ahlussunnah Waljamaah serta banyak diterima dan diakui oleh mayoritas umat Islam.
Diskursus Islam kedalam lingkup akidah, ibadah, dan akhlak ini bukan berarti pemisahan yang benar-benar terpisah. Ketiga-tiganya tetap Integral dan harus diamalkan secara bersamaan oleh setiap muslim, termasuk kaum Sunni” (kaum yang berpaham Ahlussunnah Waljamaah). Maka seorang muslim dan seorang sunni yang baik, dalam berakidah, dalam beribadah sekaligus dalam berakhlaq. Seseorang baru baik akidah dan ibadahnya saja Ia belum bisa dikatakan baik, jika akhlaknya belum baik.
Oleh karena itu, maka lingkup akhlak tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia justru teramat penting dan menjadi cerminan Ihsan dalam diri seorang muslim. Jika Iman menggambarkan akidah, dan Islam menggambarkan ibadah; maka akhlak akan menggambarkan ihsan yang sekaligus mencerminkan kesempurnaan iman dan Islam pada diri seseorang. Iman ibarat akar, dan “Islam” ibarat pohonnya; maka “Ihsan” ibarat buahnya.
Mustahil sebatang pohon akan tumbuh subur tanpa akar dan pohon yang tumbuh subur serta berakar kuatpun akan menjadi tak bermakna tanpa memberikan buah secara sempurna. Mustahil seorang muslim beribadah dengan baik tanpa didasari akidah kuat, dan akidah yang kuat serta ibadah yang baik akan menjadi tak bermakna tanpa terhiasi oleh akhlak mulia.

Idealnya, ialah berakidah kuat, beribadah dengan baik dan benar, serta berakhlak mulia. Beriman kuat, berislam dengan baik dan benar, serta berihsan sejati. Maka yang demikian inilah wujud insan kamil/(the perfect man) yang dikehendaki oleh paham Ahlussunnah waljamaah.



Sejarah Perkembangan Paham Aswaja

    2.  Periode Sahabat.
Kehidupan umat Islam pasca Rasul SAW, khususnya dibaiatnya sahabat Abu Bakar al-Siddiq ra. menjadi khalifah sampai berakhirnya masa kekhatifahan sahabat Ali bin Abi Talib kw. (karamAliahu wajhah),nyaris bernuansa lain dan mulai muncul perpecahan sebagaimana yang pernah disinyalir oleh Rasul SAW sendiri dalam beberapa haditsnya.
Sampai dengan masa kekhalifahan sahabat Umar bin Al-Khattab ra., perpecahan memang belum begitu kentara. Tetapi mulai kekhalifahan sahabat Usman bin Affan ra., fenomenanya mulai nampak jelas. Dan pada masa kekhalifahan sahabat Ali bin Abi Talib kw. Perpecahan mulai menjadi sebuah kenyataan. Dampak dan perpecahan ini, pada gilirannya menjadi sumber perbedaan paham di tengah umat Islam dalam mempedomani ajaran Islam.
Sejarah mencatat, bahwasanya sejak sahabat Abu Bakar ra. dibaiat menjadi khalifah, muncul gerakan pembangkang zakat yang menjadi sendi (rukun) Islam. Di pihak lain, muncul pula gerakan anti-Islam di bawah komando nabi-nabi palsu seperti : Musailamah al-Kazzab, Aswad al-Ansi, danTuhailah bin Khuwailid.
Meluasnya wilayah pemerintahan Islam di bawah pimpinan sahabat Umar ra., pun tak urung menimbulkan dendam terpendam dan para penguasa yang ditaklukkannya. Timbullah gerakan di bawah tanah untuk menyusupkan ajaran agama mereka ke dalam ajaran Islam dengan target untuk menghancurkan Islam dari dalam. Indikasinya sangat jelas, yakni terungkapnya kisah-kisah israiliyat di dalam beberapa disiplin keilmuan, bahkan lebih nyata lagi pada kasus pembunuhan terhadap khalifah Umar ra. sendiri.
Dalam sejarah dibuktikan bahwa pembunuh Umar ra. adalah Abu Lu’luah, Hurmuzan (keduanya asal Persia/Yahudi) dan jufainah (Nasrani). Inilah indikasi nyata adanya dendam kesumat dari pihak negara-negara yang ditaklukkan sahabat Umar ra. Dan mereka ini pastilah orang-orang non-Ahlussunnah Waljamaah!
Pada masa pemerintahan Usman ra. (23-35H), nuansa perpecahan kian meningkat dan issu nepotisme pun mulai merebak. Lidah Provokator ulung Abdullah bin Saba’ (si Yahudi yang pura-pura Islam), mulai berhasil mempengaruhi dan meracuni para elit politik. Perasaan tidak puas terhadap kepemimpinan Usman semakin menjadi-jadi, kontra politik sengaja dibesar-besarkan, dan pemberontakan demi pemberontakan terjadi di Kufah, Basrah, Mesir, dan tempat-tempat lain dengan tujuan untuk menjatuhkan kepemimpinan sahabat Usman ra.
Di sisi lain, muncul pula sebuah mazhab yang di kenal dengan “wisayah” yang tidak lain didirikan oleh provokator cerdik Abdullah bin Saba Isi mazhab itu berupa doktrin bahwa Rasul SAW ditegaskan telah berwasiat kepada Ali bin Abi Thalib ra. sebagai pengganti dalam kedudukan khalifah. Maka diserukan kepada khalayak bahwa Ali-lah yang berhak menduduki jabatan khalifah, Usman dan dua pendahulunya tidak sah, bahwa perampas hak Ali.
Mazhab Wisayah itu diperkuat lagi dengan adanya paham yang disebut “Haq Ilahi” yang sama-sama dicetuskan oleh provokator licin Abdullah bin Saba Isinya ialah menyatakan bahwa kedudukan khalifah adalah hak Tuhan, dan hak Tuhan itu jatuh kepada sahabat melalui wasiat Rasul.
Dengan demikian, praktis pada masa kepemimpmnan sahabat Usman ra. ini, golongan non Ahlussunnah Waljamaah sudah mulai berani menampakkan diri.
Apalagi pada masa kekhalifahan sahabat Ali bin Abi Talib kw. Partai-partai politik mulai bermunculan dengan latar belakang perbedaan golongan (paham) yang berbeda-beda. Partai Syi’ah yang mengklaim berada di belakang Ali ra, jelas sudah menyimpang dan petunjuk al-Quran dan al-Sunnah. Mereka pun akhirnya terpecah menjadi banyak golongan yang bertumpu pada tiga golongan besar, yakni Syi’ah aI-Ghulah, Rafidah, dan Syi’ah Zaidiyyah.
Penyimpangan yang dilakukan kaum Syi’ah dengan berbagai golongan itu, antara lain:
a.       Berani memasukkan kepercayaan Yahudi dan Nasrani serta Hindu Samani dan Majusi Mani tentang paham inkarnasi (al-khulul) dan paham reinkarnasi (al tanashukh).
b.      Mengkultuskan sahabat Ali kw, seraya mengkafirkan tiga sahabat (khalifah.) sebelumnya.
c.       Menolak pendapat ljma’ dan Qiyas, serta membolehkan kawin kontrak (mut’ah).
Selain Syi’ah. partai yang cukup besar ialah partai Khawarij. Mereka adalah orang-orang yang keluar dari golongan Ali dan menyatakan sebagai pembela Usman yang pada gilirannya berhadapan dengan Syi’ah.
Jika dirunut dari masa kepemimpinan Abu Bakar ra. sampai masa kepemimpinan Ali bin Abi Talib kw. (1140 H/632-661 M), umat Islam tidak luput dari nuansa perpecahan yang berakibat pada nuansa perbedaan paham. Namun paham-paham yang muncul dan sampai keluar dari rel Ahlussunnah Waljamaah (al-Quran dan al Hadits) pada dasarnya tidak sebanding dengan jumlah mereka yang masih berada di relnya.

bersambung ...

Sejarah Perkembangan Paham Aswaja

  1. Periode Nabi
Periode Rasulullah SAW, yakni suatu masa ketika Rasul SAW masih hidup, pastilah ajaran Islam dilaksanakan secara baik dan benar, tepat benar dengan petunjuk al-Quran dan al-Sunnah dan tidak menyimpang sedikitpun. Khususnya oleh pribadi Rasul SAW sebagai suri-teladan yang terbimbing langsung melalui bimbingan Ilahiah. juga oleh para sahabat yang terbimbing dan terkontrol langsung oleh Rasulullah SAW.
Amaliah Rasul, mustahil jika sampai menyimpang dari petunjuk al-Quran. Karena amaliahnya inilah yang bakal diteladani oleh para sahabat dan umat berikutnya. Maka mustahil pula jika dia teledor dalam membimbing dan mengontrol amaliah para sahabatnya.
Selanjutnya, amaliah (fisik dan batin) Rasulullah SAW yang mempribadi dan diteladankan kepada para sahabat secara langsung serta kepada para pengikutnya sepanjang zaman secara tidak langsung, inilah yang disebut-sebut sebagai “al-Sunnah’ Dan amaliahnya yang diteladani secara langsung oleh para sahabat, yang kemudian melekat menjadi jalan hidup mereka itulah yang kemudian di sebut-sebut sebagai tariqah sababat.

Al-Sunnah yang diteladankan Rasul SAW itu pastilah benar dan tepat sesuai petunjuk al-Quran. Sedangkan tariqah para sahabat, khususnya yang secara langsung melazimi Sunnah Rasul SAW sehari-harinya, terlebih lagi sahabat empat yang pada gilirannya disebut “Khulafa’ al Rasyidin’ praktis sesuai benar dengan petunjuk al-Quran dan al-Sunnah. Inilah substansi makna Ahlussunnah Waljamaah.



Pengertian ASWAJA

Pengertian Ahlu Sunnah Wal Jamaah ( ASWAJA)

Istilah “Ahlusunnah Waljamaah”adalah sebuah istilah yang dieja-Indonesiakan dan kata Ahlusunnah Waljamaah”  اهل السنه والجماعه.Ia merupakan rangkaian dari kata-kata:
a.       Ahl (Ahlun), berarti “galongan”atau “pengikut’
b.      Al-Sunnah (al-Sunnatu), berarti “tabiat/perilaku jalan hidup/perbuatan yang  mencakup ucapan dan tindakan Rasulullah SAW.
c.       Wa, yang berarti “dan atau “serta”’
d.      Al-Jamaa’ah (al-jamaah), berarti ‘Jamaah” yakni jamaah para sahabat Rasul SAW. Maksudnya ialah perilaku atau jalan hidup para sahabat.
Dengan demikian, maka secara etimologis, istilah “Ahlusunnah Waljamaah / golongan yang senantiasa mengikuti jalan hidup Rasul SAW. dan jalan hidup para sahabatnya. Atau, golongan yang berpegang teguh pada Sunnah Rasul dan Sunnah (Tariqah) para sahabat, lebih khusus lagi, sahabat empat (Abu Bakar, Umar bin Khatab, Usman bin ‘Affan, dan Ali bin Abi Talib).
Selanjutnya, jalan hidup Rasul SAW. tidak lain ialah ekspresi nyata dari isi kandungan al-Quran. Ekspresi nyata tersebut kemudian biasa diistilahkan dengan “al- Sunnah” atau “al-Hadits’ Kemudian, al-Quran sebagai Wahyu Ilahi, terkemas sendiri dalam mushaf al-Quran al Karim”; sedangkan ekspresi nyatanya pada diri Rasul SAW. pun terkemas secara terpisah dalam “mushaf al-sunnah. al-hadits’ seperti dalam Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, sunan Al Tirmizi, Sunan al-Nasai, dan Sunan Ibnu Majah, serta Kitab-kitab al Hadits yang disusun oleh para ulama lainnya.
Sementara itu, para sahabat, khususnya sahabat empat; adalah generasi pertama dan utama dalam melazimi “Perilaku Rasulullah SAW., sehingga jalan hidup mereka praktis merupakan penjabaran nyata dan petunjuk al-Quran dan al-Sunnah. Setiap langkah hidupnya, praktis merupakan aplikasi dari norma-norma yang terkandung dan dikehendaki oleh ajaran Islam, serta mendapat petunjuk dan kontrol langsung dari baginda Rasul SAW. Oleh karena itu, jalan hidup mereka relatif terjamin kelurusannya dalam mempedomani ajaran Islam, sehingga jalan hidup mereka pulalah yang paling tepat menjadi rujukan utama setelah jalan hidup Rasul SAW.
Adapun wujud kongkritnya, Ahlussunnah Waljamaah tidak lain ialah golongan yang senantiasa berpegang teguh terhadap petunjuk al-Quran dan al Sunnah al Sahihah. Artinya dalam segala hal selalu merujuk kepada petunjuk al-Quran dan al-Sunnah.
Dengan kata lain, Ahlussunnah Waljamaah ialah golongan yang senantiasa mengikuti jejak hidup Rasul SAW. dan jejak hidup para sahabatnya, dengan senantiasa berpegang teguh kepada al-Qunan dan A-Sunnah.
عَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِفْتَرَ قَتْ الْيَهُوْدُ عَلَىءِاحْدَىوَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً, وَاَفْتَرَقَتْ النَّصَارَى عَلَى ائْنَتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً. وَتَفَرَّقَ اُمَّتِى عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً (رواه الاربعه)

“Dari sahabat Abu Hurairah ra. dia berkata, bahwasanya Rasulullah SAW. bersabda : Umat Yahudi telah pecah menjadi 71 golongan dan umat Nasrani terpecah menjadi 72 golongan. Sementara umatku bakal pecah menjadi 73 golongan” (Abu Dawud, al-Tirmizi, al-Nasa’i, Ibnu Majah).
Hadits ini, tidak secara tegas menyatakan adanya golongan yang disebut “Ahlussunnah Waljamaah”. Tetapi baru diisyaratkan bakal terpecahnya umat Rasulullah SAW menjadi 73 golongan (firqah). Maka golongan ahlussunnah Waljamaah berarti salah satu dari ke-73 golongan tersebut.
Hadits lain, yakni yang diriwayatkan dari sahabat Abdullah Ibnu Umar ra., bahwasanya Nabi SAW. beriabda:
...وَاِنَّ بَنِى اِسْرَائِيْلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ اُمَّتِى عَلَى ثَلاَثِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً. كُلُّهُمُ فِى النَّارِ اِلاَمِلَّةً وَاحِدَةً. قَالُوْا: وَمَنْ هِيَ يَارَسُوْل اللهِ؟ قَالَ: مَا اَنَا عَلَيْهِ وَاَصْحَابِي (رواه الترمذى)

“... Dan sesungguhnya kaum Bani Israil telah terpecah menjadi 72 golongan. Sementara umatku bakal terpecah menjadi 73 golongan dan semuanya masuk neraka kecuali hanya satu golongan saja. Para sahabat bertanya: Siapakah yang satu golongan itu ya Rasulullah? jawabnya: Itulah golongan yang senantiasa mengikuti jejakku dan jejak para sahabatku”. (HR. Al Tirmizi).
Dalam teks hadits ini, meskipun belum secara tegas terungkap istilah “Ahlussunnah Waljamaah”; namun maknanya sudah tersirat di dalamnya, yakni bahwa golongan yang selamat dari ancaman neraka itu adalah golongan yang senantiasa mengikuti jejak (Jalan hidup) Rasulullah SAW. dan para sahabatnya. Padahal, makna yang demikian inilah yang kita maksudkan sebagai batasan (pengertian) Ahlussunnah Waljamaah.
Dengan demikian, maka golongan Ahlussunnah Waljamaah ialah satu-satunya golongan umat Rasul yang selamat dari ancaman neraka. Hal ini lebih tegas lagi diungkapkan dalam hadits lain yang berbunyi:
وَالَّذِىْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ, لَتَفْتَرِقُ اُمَّتِى عَلىَ ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً. فَوَاحِدَةً فَى الْجَنَّةُ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُوْنَ فِى النَّارِ. قِيْلَ: مَنْ هُمْ يَارَسُوْلُ اللهِ؟ قَالَ: اَهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ (رواه الطبرانى)
(Rasulullah SAW) bersumpah: Demi zat yang menguasai jiwa Muhammad, sungguh umatku bakal terpecah, menjadi 73 golongan. Maka yang satu golongan masuk syurga, sedangkan yang 72 golongan masuk neraka. Sedang sahabat bertanya : Siapakah golongan yang masuk itu ya Rasulullah? Jawabnya Yaitu golongan Ahlussunnah Waljamaah” (HR. al-Tabrani)
Teks Hadits secara langsung menyebutkan kata “Ahlussunnah Waljamaah” sebagai satu-satunya golongan yang dinyatakan bakal masuk surga. Berdasarkan ketiga hadits tersebut,jelaslah bahwa umat Islam akan terpecah ke dalam banyak golongan, Sebagaimana umat Yahudi dan Nasrani. Di antara sekian banyak (73) golongan itu, terdapat satu golongan yang selamat dari ancaman neraka, yakni golongan yang senantiasa mengikuti jejak hidup Rasulullah SAW. dan jejak hidup para sahabatnya. Dan golongan yang selamat (masuk surga) itu tidak lain ialah golongan Ahlussunnah Waljamaah.

...فَعَلَيْكُمُ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيينَ, تَمَسَّكُوْابِهَا وَعَضُوْا عَلَيْهَا بِاالنَّوَاحِذِ (ابو داوود)


 “....Maka berpegang teguhlah kalian terhadap Sunnah-ku serta sunnah Khulafa’ al-Rasyidin yang mendapatkan petunjuk’ Pedomanilah sunnah (jalan hidup) mereka dan pegangilah erat-erat !“ (HR. Abu Dawud).