10/11/2016
TERUNGKAP, PEMBUNUH JENDERAL MALABBY
21/05/2016
Ansor dan Semangat Resolusi Jihad
Ansor dan Semangat Resolusi Jihad
Suatu hari di warung kopi, di daerah Ploso, Jombang, kami terlibat obrolan ringan dengan lelaki berusia udzur. Lelaki itu biasa dipanggil Mbah Jo, entah siapa nama aslinya.
Beliau tiba-tiba bercerita tentang masa perang revolusi. Dalam balutan kulit yg sudah tidak kencang lagi, ternyata ingatannya masih jernih ketika bertutur tentang pertempuran 10 Nopember 1945.
Kebetulan ketika itu kami berlima baru saja selesai memancing di sungai Brantas bersama Mbah Jo.
"Dulu di bulan Oktober 1945, terjadi perdebatan yang sangat sengit menerjemahkan seruan Mbah Hasyim tentang kewajiban berjihad bagi setiap muslim pada jarak masyafatul qosri," begitu Mbah Jo mengawali pembicaraan. Perhatian kami mulai tercuri. Menurut beliau, seruan ini akhirnya disambut kalangan luas.
Rapat yang dilaksanakan di kantor MWC NU Kecamatan Tembelang yang saat ini di tempati oleh KUA Tembelang itu, juga membahas strategi pertempuran mempertahankan kemerdekaan RI.
Seruan jihad tersebut tersebar cepat di masyarakat. "Kami para pemuda mendengar langsung dari siaran radio RRI Jombang atas perintah jihad Mbah Hasyim Asy'ari." Jelas mantan komandan Brigade Hizbulloh di bawah pimpinan Kyai Wahab Hasbullah itu, sambil menyeruput kopi nya. Seruan ini sebagaimana kita ketahui tersiar melalui radio sebelum seruan perang dari dr. Moestopo, Gubernur Suryo, juga Bung Tomo.
"Trus bagaimana reaksi pemuda-Pemuda saat itu Mbah?", Tak sabar Afif, salah satu peserta obrolan, menyela pembicaraan karena Mbah Jo berkisah agak terbata-bata, karena usia yang tidak bisa lagi muda.
Mbah Jo pun melanjutkan, "Tersusunlah rundown serangan guna menghalau kedatangan pasukan Sekutu yang akan mendarat di Tanjung Perak Surabaya."
Seakan masih belum puas meneruskan ceritanya, Mbah Jo masih terus bertutur. Menurutnya berita akan datangnya sekutu
disambut dengan semangat yang berkobar di dada. Para santri serta para kyai NU, bahkan sudah siap mengorbankan darah dan nyawanya.
Selain itu peran Mbah Wahab selaku Panglima pertempuran sangat menentukan. Karena beliau terbilang cermat menyusun personil dan strategi, demi menyukseskan sebuah gerakan bersejarah yang terkenal dengan sebutan resolusi jihad. Kesemuanya itu dilakukan demi mempertahankan harga diri Bangsa dan NKRI serta untuk menegakkan Ahlus Sunnah Wal Jamaah. "Kuwi ngunu jaman biyen le, saiki wis ora ngunu maneh", pungkasnya dengan menghisap Gudang Garam Kretek Merahnya.
Sebagai sayap kepemudaan NU, Ansor seyogyanya mewarisi jiwa patriotisme tersebut. Kini,
Banyak kita jumpai diskusi-diskusi kecil terkait upaya pembebasan Ansor dari penjajahan dalam bentuk lain.
Salah satunya adalah pembebasan organisasi dari ketergantungan pada partai politik, karena hal tersebut dipandang mengganggu kemandirian organisasi. Ketergantungan pada partai mengakibatkan
Ansor bagaikan kerbau dicocok Hidungnya, harus taat dan patuh kepada siapa yang memberi makan.
Memang belum berhasil sepenuhnya, namun harapanya ada darah perjuangan yang mengalir dari Syuhada-Syuhada dan Pejuang-Pejuang seperti Mbah Wahab dalam generasi GP.Ansor, sehingga mampu mengembalikan marwah GP. Ansor sebagai OKP yang mandiri, merdeka, berdaulat, adil dan makmur berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
M. Lutfi Ridho
16/05/2016
Memanfaatkan Malam Nisyfu Sya'ban
Memaksimalkan Sholat pada Malam Nishfu Sya'ban
Pertanyaan:
Adakah hadis yang menjelaskan tentang salat di Malam Nishfu Sya'ban?
Jawaban:
Malam Nishfu Sya'ban dilakukan pertama kali oleh para Tabi'in (generasi setelah Sahabat Nabi) di Syam Syria, seperti Khalid bin Ma'dan (perawi dalam Bukhari dan Muslim), Makhul (perawi dalam Bukhari dan Muslim), Luqman bin 'Amir (al-Hafidz Ibnu Hajar menilainya 'jujur') dan sebagainya, mereka mengagungkannya dan beribadah di malam tersebut. Dari mereka inilah kemudian orang-orang mengambil keutamaan Nishfu Sya'ban. Ketika hal ini menjadi populer di berbagai Negara, maka para ulama berbeda-beda dalam menyikapinya, ada yang menerima diantaranya adalah para ulama di Bashrah (Irak). Namun kebanyakan ulama Hijaz (Makkah dan Madinah) mengingkarinya seperti Atha', Ibnu Abi Mulaikah, dan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dari ulama Madinah dan pendapat beberapa ulama Malikiyah mengatakan: "Semuanya adalah bid'ah".
Ulama Syam berbeda-beda dalam melakukan ibadah malam Nishfu Sya'ban. Pertama, dianjurkan dilakukan secara berjamaah di masjid-masjid. Misalnya Khalid bin Ma'dan, Luqman bin Amir dan lainnya, mereka memakai pakaian terbaiknya, memakai minyak wangi, memakai celak mata dan berada di masjid. Hal ini disetujui oleh Ishaq bin Rahuwaih (salah satu Imam Madzhab yang muktabar), dan beliau mengatakan tentang ibadah malam Nishfu Sya'ban di masjid secara berjamaah: "Ini bukan bid'ah". Dikutip oleh Harb al-Karmani dalam kitabnya al-Masail. Kedua, dimakruhkan untuk berkumpul di masjid pada malam Nishfu Sya'ban untuk shalat, mendengar cerita-cerita dan berdoa. Namun tidak dimakruhkan jika seseorang salat (sunah mutlak) sendirian di malam tersebut. Ini adalah pendapat al-Auza'i, imam ulama Syam, ahli fikih yang alim. Inilah yang paling tepat, InsyaAllah. (Syaikh al-Qasthalani dalam Mawahib al-Ladunniyah II/259 yang mengutip dari Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Lathaif al-Ma'arif 151)
Dalil-Dalil Hadis Nishfu Sya'ban
Hadis Pertama
عَنْ مُعَاذِ بن جَبَلٍ عَن النَّبِيِّ قَالَ يَطَّلِعُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيْعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ (رواه الطبراني في الكبير والأوسط قال الهيثمى ورجالهما ثقات. ورواه الدارقطنى وابنا ماجه وحبان فى صحيحه عن ابى موسى وابن ابى شيبة وعبد الرزاق عن كثير بن مرة والبزار)
“Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Allah memperhatikan hambanya (dengan penuh rahmat) pada malam Nishfu Sya’ban, kemudian Ia akan mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan musyahin (orang munafik yang menebar kebencian antar sesama umat Islam)”. (HR Thabrani fi Al Kabir no 16639, Daruquthni fi Al Nuzul 68, Ibnu Majah no 1380, Ibnu Hibban no 5757, Ibnu Abi Syaibah no 150, Al Baihaqi fi Syu’ab al Iman no 6352, dan Al Bazzar fi Al Musnad 2389. Peneliti hadis Al Haitsami menilai para perawi hadis ini sebagai orang-orang yang terpercaya. Majma’ Al Zawaid 3/395)
Ulama Wahabi, Nashiruddin al-Albani yang biasanya menilai lemah (dlaif) atau palsu (maudlu') terhadap amaliyah yang tak sesuai dengan ajaran mereka, kali ini ia tak mampu menilai dlaif hadis tentang Nishfu Sya'ban, bahkan ia berkata tentang riwayat diatas: "Hadis ini sahih" (Baca as-Silsilat ash-Shahihah 4/86)
إِنَّ اللهَ لَيَطَّلِعُ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيْعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ (صحيح) اهـ السلسلة الصحيحة للالباني (4/ 86)
Hadis Kedua
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ اِنَّ اللهَ تَعَالَى يَدْنُوْ مِنْ خَلْقِهِ فَيَغْفِرُ لِمَنِ اسْتَغْفَرَ إِلاَّ الْبَغِيَّ بِفَرْجِهَا وَالْعَشَّارَ (رواه الطبراني في الكبير وابن عدي عن عثمان بن أبي العاص وقال الشيخ المناوي ورجاله ثقات اهـ التيسير بشرح الجامع الصغير 1/551)
"Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya (rahmat) Allah mendekat kepada hambanya (di malam Nishfu Sya'ban), maka mengampuni orang yang meminta ampunan, kecuali pelacur dan penarik upeti" (HR al-Thabrani dalam al-Kabir dan Ibnu 'Adi dari Utsman bin Abi al-'Ash. Syaikh al-Munawi berkata: Perawinya terpercaya. Baca Syarah al-Jami' ash-Shaghir 1/551)
Hadis Ketiga
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ يَنْزِلُ اللهُ تَعَالَى لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِكُلِّ نَفْسٍ إِلاَّ إِنْسَانًا فِي قَلْبِهِ شَحْنَاءُ أَوْ مُشْرِكًا بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ (قال الحافظ ابن حجر هذا حديث حسن أخرجه الدارقطني في كتاب السنة عن عبد الله بن سليمان على الموافقة وأخرجه ابن خزيمة في كتاب التوحيد عن أحمد بن عبد الرحمن بن وهب عن عمه اهـ الأمالي 122)
“Rasulullah Saw bersabda: (Rahmat) Allah turun di malam Nishfu Sya’ban maka Allah akan mengampuni semua orang kecuali orang yang di dalam hatinya ada kebencian kepada saudaranya dan orang yang menyekutukan Allah" (al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: "Hadis ini hasan. Diriwa-yatkan oleh Daruquthni dalam as-Sunnah dan Ibnu
Khuzaimah dalam at-Tauhid, Baca al-Amali 122)
Mengenai salatnya, Ulama ahli fikih dan hadis sepakat bahwa hadis tentang salat dengan niat 'salat sunah malam Nishfu Sya'ban' adalah hadis maudlu' (palsu), sebagai-mana salat 'Raghaib' di awal bulan Rajab. Namun jika seseorang melakukan salat sunah mutlak seperti salat Hajat atau salat Tasbih, maka diperbolehkan. Hal ini berdasarkan hadis dari Aisyah bahwa Rasulullah Saw melakukan salat sunah mutlak di malam tersebut (HR Al Baihaqi fi Syu'ab Al Iman no 3675, menurutnya hadits ini Mursal yang baik)
عَنِ الْعَلاَءِ بْنِ الْحَارِثِ اَنَّ عَائِشَةَ قَالَتْ: قَامَ رَسُوْلُ اللهِ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى فَأَطَالَ السُّجُودَ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ قَدْ قُبِضَ، فَلَمَّا رَأَيْتُ ذَلِكَ قُمْتُ حَتَّى حَرَّكْتُ إِبْهَامَهُ فَتَحَرَّكَ فَرَجَعَ، فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ السُّجُودِ وَفَرَغَ مِنْ صَلاَتِهِ قَالَ: يَا عَائِشَةُ أَوْ يَا حُمَيْرَاءُ أَظَنَنْتِ أَنَّ النَّبِيَّ قَدْ خَاسَ بِكِ؟ قُلْتُ: لاَ وَاللهِ يَا رَسُوْلَ اللهِ وَلَكِنِّي ظَنَنْتُ أَنْ قُبِضْتَ طُوْلَ سُجُوْدِكَ، قَالَ: أَتَدْرِي أَيَّ لَيْلَةٍ هَذِهِ؟ قُلْتُ: اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: هَذِهِ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَطَّلِعُ عَلَى عِبَادِهِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِلْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَرْحَمُ الْمُسْتَرْحِمِيْنَ وَيُؤَخِّرُ أَهْلَ الْحِقْدِ كَمَا هُمْ، رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ. وَقَالَ هَذَا مُرْسَلٌ جَيِّدٌ وَيُحْتَمَلُ أَنْ يَكُوْنَ الْعَلاَءُ أَخَذَهُ مِنْ مَكْحُوْلٍ وَاللهُ أَعْلَمُ (شعب الإيمان للبيهقي)
“Dari 'Ala' bin Harits bahwa Aisyah berkata: “Rasulullah bangun di tengan malam kemudian beliau salat, kemudian sujud sangat lama, sampai saya menyangka bahwa beliau wafat. Setelah itu saya bangun dan saya gerakkan kaki Nabi dan ternyata masih bergerak. Kemudian Rasul bangkit dari sujudnya setelah selesai melakukan shalatnya, Nabi berkata “Wahai Aisyah, apakah kamu mengira Aku berkhianat padamu?”, saya berkata “Demi Allah, tidak, wahai Rasul, saya mengira engkau telah tiada karena sujud terlalu lama.” Rasul bersabda “Tahukauh kamu malam apa sekang ini?” Saya menjawab “Allah dan Rasulnya yang tahu”. Rasulullah bersabda “ini adalah malam Nishfu Sya’ban, sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memperhatikan hamba-hamba-Nya pada malam Nishfu Sya’ban, Allah akan mengampuni orang-orang yang meminta ampunan, mengasihi orang-orang yang meminta dikasihani, dan Allah tidak akan memprioritaskan orang-orang yang pendendam”. (HR Al Baihaqi fi Syuab Al Iman no 3675, menurutnya hadits ini Mursal yang baik)
Begitu pula beberapa fatwa Ulama, diantaranya: (1) “Ibnu Taimiyah ditanya soal shalat pada malam nishfu Sya’ban. Ia menjawab: Apabila seseorang shalat sunah muthlak pada malam nishfu Sya’ban sendirian atau berjamaah, sebagaimana dilakukan oleh segolongan ulama salaf, maka hukumnya adalah baik. Adapun kumpul-kumpul di masjid dengan shalat yang ditentukan, seperti salat seratus raka’at dengan membaca surat al Ikhlash sebanyak seribu kali, maka ini adalah perbuata bid’ah yang sama sekali tidak dianjurkan oleh para ulama”. (Majmú' Fatáwá Ibnu Taymiyyah, II/469)
(2) “Ibnu Taimiyah berkata: Dari beberapa hadis dan pandapat para sahabat menunjukkan bahwa malam Nishfu Sya’ban memiliki keutamaan tersendiri. Sebagian ulama Salaf melaksanakan salat sunah secara khusus di malam tersebut”. (Faidl al-Qadír, Syaikh al-Munawi, II/302)
(Aswaja NU Center PWNU Jatim)
14/04/2016
Pangeran Diponegoro
Adapun nama lengkapnya adalah Kyai Haji (KH) Bendoro Raden Mas Abdul Hamid Ontowiryo Mustahar Herucokro Senopati Ing Alogo Sayyidin Pranotogomo Amirul Mu’minin Khalifatullah Tanah Jawi Pangeran Diponegoro Pahlawan Goa Selarong.
“Kalau tidak ada kyai dan pondok pesantren, maka patriotisme bangsa Indonesia sudah hancur berantakan.”
Tidak hanya Diponegoro anak bangsa yang dididik para ulama menjadi tokoh bangsa.
Punya santri banyak, salah satunya bernama Suwardi Suryaningrat.
Sayangnya, sejarah Ki Hajar mengaji al-Quran tidak pernah diterangkan di sekolah-sekolah, yang diterangkan hanya Ing Ngarso Sun Tulodo,
Malah-malah, ketika Indonesia merdeka, ada sayyid warga Kauman Semarang yang mengajak bangsa kita untuk bersyukur.
Hati ikhlasku penuh
Akan karuniaMu
Tanah air pusaka
Indonesia merdeka
Syukur aku sembahkan
Ke hadiratMu tuhan.
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka Nusa dan Bangsa
Hari lahirnya Bangsa Indonesia
Merdeka
Sekali merdeka tertap merdeka
Selama hayat masih dikandung badan
Kita tetap setia, tetap setia
Mempertahankan Indonesia
Kita tetap setia, tetap setia
Membela Negara kita.
Akhirnya, Bung Hatta menjadi wakil presiden pertama.
“Kamu mondok di sini nggak usah berpikir macam-macam, yang penting ngaji dan sekolah. Tak usah berpikir besok jadi apa, yang akan menjadikan Gusti Allah."
Tidak usah dipikir, yang menjadikan Gusti Allah.
“Nek ngaji kok nempel wongtuo, ora temu-temuo.”
(Jika mengaji masih bersama dengan orangtua, tidak akan cepat dewasa).
Itu yang ngendiko (berkata) Kyai Mahrus Ali.
Gus Mus Dan Wajah Keislamannya
GUS MUS & WAJAH ISLAM
Gus Mus tidak pernah berbicara "kami umat Islam..." seakan beliau mewakili seluruh umat Islam.
Gus Mus sendiri takut apakah benar beliau muslim ? Sebab muslim artinya manusia yang secara total berserah diri kepada Tuhan, dan berserah diri mempunyai makna yg sangat dalam. Ketika seseorang berserah diri, maka ia mengemban sifat2 tuhan dalam dirinya yang berinti pada menjadikan diri berfungsi kepada manusia lain.
"Benarkah aku sudah berserah diri ? Bukankah aku masih terbungkus keinginan duniawi ? Siapakah aku mengaku2 bahwa aku seorang muslim ?"
Begitulah ciri2 manusia yang mempunyai ilmu pengetahuan, memfungsikan akal dan melemahkan nafsunya. Bukan meng-klaim, karena iblis paling handal kalau masalah mengklaim dirinya paling taat, paling hebat, paling dekat kepada Tuhan.
Tidak perlu berjenggot lebat hanya supaya mengikuti Nabi-nya, karena memang bukan budaya tempat kelahirannya. Mengikuti bersifat tauladan dan tauladan ada di sikap bukan lambang.
Tidak mudah mencari manusia seperti Gus Mus di dalam Islam, tapi sejatinya mereka banyak hanya tidak tampak. Mereka terselip diantara tembok-tembok kemunafikan menjadi penyeimbang. Mereka tidak ingin mencari kejayaan, karena sejatinya kejayaan hanya pengakuan dari manusia dan manusia adalah tempatnya fitnah. Merekalah yang menjaga negara ini supaya tetap tentram, sejuk dan selalu toleran.
Jangan pernah lagi melihat wajah Islam dari ISIS, karena ISIS hanyalah setan yg di-propagandakan. Jangan melihat Isllam dari FPI, karena Islam tidak pernah memegang pentungan. Lihatlah wajah Islam dari Gus Mus, karena sejatinya begitulah para wali bergerak, berbicara dan bersikap.
Melihat Gus Mus di mata Najwa kemarin malam, saya tersenyum. Setidaknya ada wakil yang menampakkan sesungguhnya bagaimana ketika beragama itu dengan berakal.
Sayang Gus Mus sudah berhenti merokok, mungkin saya juga akan seperti beliau jika sudah setua beliau. Tetapi saya yakin, beliau masih tetap setia dengan secangkir kopinya.
Karena kopi bukan hanya secangkir minuman. Ia adalah filosofi hidup yang dalam dimana rasa pahit dan manis disatukan dan yang abadi adalah kenikmatan.
Selamat ngopi, Gus Mus...
17/03/2016
Pola Pikir ASWAJA
07/03/2016
Ruang Lingkup ASWAJA
- Akidah Ahlussunnah Waljamaah
- Fiqh Ahlussunnah Waljamaah
- Akhlak Ahlussunnah Waljamaah
Sejarah Perkembangan Paham Aswaja
Sejarah Perkembangan Paham Aswaja
- Periode Nabi
Pengertian ASWAJA
Istilah “Ahlusunnah Waljamaah”adalah sebuah istilah yang dieja-Indonesiakan dan kata Ahlusunnah Waljamaah” اهل السنه والجماعه.Ia merupakan rangkaian dari kata-kata:






