Showing posts with label Berita. Show all posts
Showing posts with label Berita. Show all posts

26/04/2016

Road Show "Syaikuna" Harry Tanoe

TANGGAPAN PENGELOLA PESANTREN TUA DAN BERKHARISMA "GONTOR" DI JAWA TIMUR ATAS KELAKUAN HARRY TANOE YANG DIREKOMENDASIKAN OLEH SAID AQIL SIRADJ KETUA PB NU KE PESANTREN "AL FALAH" BANJARBARU KALIMANTAN SELATAN DAN KELAKUAN SANTRINYA DALAM MENGHORMATI ORANG KAFIR DENGAN KETERLALUAN:

Karena banyaknya pertanyaan yang masuk ke saya terkait foto di atas, maka saya merasa perlu menyampaikan sikap sbg salah seorang yang diamanati mengasuh sebuah pesantren:

Kedua pemandangan di atas sungguh sebuah ironi. Terlepas dari perdebatan fiqhiyah boleh tidaknya non-muslim masuk masjid, akan tetapi ada bbrp hal yg perlu saya kritisi:

1. Jangan merendahkan diri di hadapan non-muslim, apalagi dg reputasi pergerakan yg nyata-nyata seringkali melukai hati umat, spt penyelenggaraan miss word, dsb.

2. Santri perlu dididik tentang makna "izzah" dan "iffah" yaitu kemuliaan jati diri sebagai muslim dan kesuciannya. Ini harus diteladankan oleh kiainya, orang non-muslim spt HT mnrt saya tdk pantas dicium tangan. Santri lebih mulia.

3. Lebih miris lagi adalah pemandangan santriwati yg berebut menyalami HT dan menciumi tangannya. MasyaAllah, ini pemandangan yang menyayat hati. Selain karena faktor non-muslim, apakah dibenarkan gadis-gadis muslimah yg suci dan mulia itu mengerubuti HT seperti itu? Dimana ajaran dan syariat Islam diletakkan? Sungguh, saya malu sebagai muslim.

4. Jangan mengotori kesucian dan keikhlasan para santriwati itu. Mereka adalah amanah umat yang harus dijaga betul, di saat banyak pula gadis-gadis usia sekolah yg sdh terlibat seks bebas, narkoba dll. Para santri/wati adalah aset mahal yg dimiliki umat.

5. Sementara, di pesantren kami di Gontor Putri, dengan ribuan santriwatinya, kiai pengasuh saja tdk boleh bersentuhan berlebihan seperti itu.

6. Klo soal toleransi dan menghormati tamu, itu soal lain. Tapi tidak sampai sebegitunya. Kami biasa menerima tamu non-muslim, tionghoa, bahkan juga ada yg hindu dsb. Sudah puluhan bahkan tak terhitung lagi. Mereka datang dlm rangka bicara kerjasama yg dinamis. Kami hormati layaknya tamu secara WAJAR & SEJAJAR. Diterima di ruang pimpinan, bukan di masjid, dan santri pun menerimanya scr wajar. AlhamdulilLaah mereka sdh kami pahamkan antara menghormati tamu dan memelihara "izzah" dan "iffah".

7. Tetapi ada juga tamu-tamu non-muslim yang kami tolak datang, karena reputasinya yang sangat kelam; spt pengusaha hitam, peminum berat, tukang judi, dan keburukan-keburukan lainnya. Mhn maaf, klo yg spt ini tidak bisa kami terima.

8. Akan tetapi banyak pula, bahkan sdh puluhan non-muslim yg datang utk menyatakan keislamannya. Kami sambut hangat dan disyahadatkan di masjid disaksikan para santri, utk selanjutnya didoakan dan diberi hadiah karena mualaf. Selanjutnya kami dampingi dg guru yg akan membimbingnya ttg islam.

9. Inilah wolak-walike zaman. Dibutuhkan kecerdasan, kematangan dan tentu saja keteguhan iman para pemimpin umat, terutama yang mengasuh pesantren.

Eman-eman pesantrennya, ini benteng umat!!!

Ya Allah, tunjukilah kami jalan-Mu yang lurus. @Anang Rikza Masyhadi

TAMBAHAN: HARRY DAN SAID

Harry Tanoe boss MNC Group adalah Kafir, karena tidak mempercayai Allah Tuhan Yang Maha Esa dan Muhammad shollollohu 'alaihi wasallam sebagai nabi terakhirNya (dari 124.000 orang nabi Islam sejak awal jaman), walaupun memakai pakaian a la Muslim kebanyakan. Bahkan konon dulunya Muslim (baca: Murtadin), karena mendiang bapaknya adalah Tionghoa Muslim Surabaya, konon demikian.

Dan lihatlah si Harry Tanoe yang memakai busana khas muslimiin RI bahkan mengalungkan sajadah pula di pundaknya, dihormati sedemikian rupa di pesantren, pertengahan Rajab 1437/akhir April 2016 ini:

Harry Tan disambut dengan lantunan massal lagu pujian "Thola'al badru 'alaina ... " yang dulu dilantunkan untuk Rosululloh shollollohu 'alaihi wasallam, banyak kaum muslimiin sampai merunduk-runduk terhadapnya, diciumi tangannya oleh muslim bahkan oleh muslimah padahal kita tahu lelaki dan perempuan yang bukan mahrom dilarang bersentuhan kulit, dan tak perlu menghormati makhluk Kafir sampai sama seperti kita menghormati orangtua kita dalam Islam, dst.

Karena uang? Politik? Kekurangtahuan muslim akan Islam? Nafsu? Kombinasi semua ini plus lain-lain?

Kelakuan ini terjadi di tempat binaan Said 'Aqil Siradj ketua PB NU kontroversial sekarang yang sering membuat kerusuhan di dunia Islam RI.

Said juga kini yang mempromosikan kaum Kafir, termasuk Harry Tanoe itu tentu, dan mengatakan bahwa lebih baik memilih pemimpin KAFIR yang jujur/adil, daripada muslim yang tidak adil (zalim).

PADAHAL pendapat macam ini, adalah pendapat pendeta SYI'AH, saat kekholifahan Bani Abbasiyah (keturunan dari Al Abbas RA paman nabi Muhammad shollollohu 'alaihi wasallam), dihancurkan oleh Mongol dengan dibantu oleh pengkhianatan Syi'ah!

PADAHAL memilih pemimpin Kafir bagi muslimiin DILARANG ALLAH di lebih dari 10 ayat Al Qur'an, banyak Hadits, Atsar, Ijma', Tarikh, dst.!

Padahal juga, KEKAFIRAN ITU sendiri, JUSTRU ADALAH KEZALIMAN TERBESAR!

وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِا بْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِ     ؕ  اِنَّ الشِّرْكَ لَـظُلْمٌ عَظِيْمٌ

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, "Wahai anakku! Janganlah engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar KEZALIMAN yang BESAR."

[QS. Luqman: Ayat 13]

Aneh sekali si Said 'Aqil Siradj dan Harry Tanoe ini ...

Tetapi keduanya memang cocok satu sama lain ...

Alhamdulillah kita jadi paham siapa sebenarnya mereka ...

Apa sebenarnya hukum merendahkan diri terhadap orang kafir? Berikut fatwa salah satu Ulama panutan madzhab Syafi'i Syaikhul Islam Al Imam Ibnu Hajar Al Haitami Asy Syafi’i rahimahullah.

وسئل نفع الله تعالى بعلومه هل يجوز للمسلم ان يقبل يد الحربي المشرك وان يقوم اليه وان يصافحه وان يتخضع اليه وكل ذلك لينال منه مالية واذا قلتم بعدم الجواز فما يترتب عليه وما ذا يلزمه؟

فأجاب بقوله ﻻيجوز للمسلم ان يعظم الكافر بنوع من انواع التعظيم سواء المذكورات وغيرها ومن فعل ذلك طمعا في مال الكافر فهو آثم جاهل كيف وقد قال صلى الله عليه وسلم من تواضع لغني ﻻجل غناه ذهب ثلثا دينه فإذا كان التواضع للمسلم الغني يذهب ثلثي دينه فما بالك بالتواضع للكافر؟ والله سبحانه وتعالى اعلم

Ibnu hajar Al Haitami diberikan pertanyaan Fatwa;

Bolehkan bagi seorang muslim, Menciumi tangan kafir harbi, Juga berdiri menyambutnya dan menyalaminya dan melakukan penghormatan kepadanya yang mana hal itu di lakukan untuk memperoleh uang darinya? Jika anda berpendapat tidak boleh, Maka apa yang akan berdampak kepadanya juga yang wajib baginya?

Beliau menjawab:

Bagi orang muslim tidak boleh mengagungkan orang kafir dengan cara tersebut dan sebagainya. Barangsiapa yang melakukannya untuk memperoleh harta si kafir, Maka dia merupakan pendosa yang bodoh. Bagaimana tidak? Sedangkan Nabi Shollallahu alaihi wasallam telah bersabda; “Barangsiapa yang tawadlu’ kepada orang kaya karena kekayaannya, Maka hilanglah dua pertiga agamanya”. Jika tawadlu’ terhadap sesama muslim yang kaya saja dapat menghilangkan dua pertiga agama, Apalagi tawadlu’ terhadap orang kafir? Wallahu alam. (Al Fatawa al Fiqhiyyah al Kubro)

11/04/2016

AKHLAK MULIA ROSULULLOH SAW

AKHLAK MULIA
Oleh: A. Mustofa Bisri

قل ان كنتم تحبون الله فاتبعوني يحببكم الله ويغفر لكم ذنوبكم  والله غفور رحيم (ال عمران:٣١ )
“Katakanlah, jika kamu benar menyintai Allah, ikutilah aku; maka Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”

Hampir semua orang beragama mengaku menyintai Allah, tapi mungkin tidak terlalu banyak yang berusaha mengikuti jejak RasulNya, kecuali dalam pengakuan.
Ini boleh jadi karena keengganan untuk lebih mengenal Rasulullah SAW sebelum mengaku mengikuti jejaknya.

Umumnya orang merasa tidak punya waktu untuk membaca sunnah Rasulullah SAW agak sedikit komplit. Umumnya, orang membaca, menulis, atau menyampaikan hadis Nabi Muhammad SAW –bahkan Al-Quran—sebatas yang sesuai dengan kecenderungan mereka yang bersangkutan. Hal ini tidak mengapa, asal tidak sampai meninggalkan atau melewatkan nilai penting --apa pula yang terpenting-- dari nilai-nila mulia Rasulullah SAW. Nilai yang apabila kita ikuti merupakan dakwah tersendiri yang pasti tidak kalah dari dakwah-dakwah kreasi kita sendiri.

Dalam kesempatan kali ini, saya akan tampilkan sifat utama Rasulullah SAW yang sesuai dengan missi utamanya. Satu dan lain hal agar kita yang di muara ini dapat sedikit melihat beningnya MataAir.   

Seperti dinyatakan oleh al-Quran sendiri dan persaksian para sahabat beliau, Panutan agung kita Nabi Muhammad SAW adalah seorang yang berakhlak sangat mulia. Imam Bukhari meriwayatkan dari shahabat Anas r.a. yang berkata:
"لم يكن رسول الله صلى الله عليه وسلم فاحشا ولا لعانا ولا سبابا .."
“Rasulullah SAW orangnya tidak keji dan kasar, tidak tukang melaknat, dan tidak suka mencaci..”
Imam Bukhari juga meriwayatkan pernyataan Masruq r.a.yang mirip pernyataan Anas:
"لم يكن رسول الله صلى الله عليه وسلم فاحشا ولا متفاخشا وانه كان يقول ان خياركم احاسنكم اخلاقا"
“Rasulullah SAW bukanlah orang yang keji dan suka bicara kotor. Beliau bersabda: ‘Sesungguhnya orang-orang terbaik di antara kalian ialah orang-orang yang paling baik pekertinya.”

Shahabat Anas yang pernah meladeni Rasulullah SAW selama sepuluh tahun tidak pernah sekali pun mendengar Rasulullah SAW membentaknya. (Lihat persaksiannya di Bukhari dan Muslim).
Bahkan Imam Bukhari meriwayatkan:
حدثنا محمد بن سلام اخبرنا عبد الوهاب عن ايوب عن عبد الله بن ابي مليكة عن عائشة رضي الله عنها ان يهود اتوا النبي صلى الله عليه وسلم فقال السام عليكم فقالت عائشة عليكم ولعنكم الله وغضب الله عليكم قال مهلا يا عائشة عليك بالزفق واياك والعنف والفحش قالت اولم تسمع ما قالوا؟ قال اولم تسمعي ما قلت رددت عليهم فيستجاب لي فيهم ولا يستجاب لهم في (وفي رواية قال رسول الله: قد قلت وعليكم)   
Orang-orang Yahudi datang kepada Rasulullah SAW dan berkata “As-saamu ‘alaikum!” (bukan Assalaamu ‘alaikum), “Kematian bagimu!”. Sayyidatina ‘Aisyah pun menyahut: “Kematiaan juga bagi kalian dan juga laknat Allah dan murka Allah!” Rasulullah SAW pun menegur: “Tenang, ‘Aisyah; jagalah kelembutan, jangan kasar dan keji!” Sayyidatina ‘Aisyah masih menjawab: “Apakah Rasulullah tidak mendengar apa yang mereka katakan?” Rasulullah bersabda: “Apakah kau tidak mendengar apa yang aku katakan? Aku telah mengembalikan doa mereka kepada mereka (Rasulullah sudah menjawab “wa’alaikum” yang artinya “bagi kalian juga”) doaku atas mereka diijabahi dan doa mereka terhadapku tidak”.

Alangkah mulianya akhlak Rasulullah! Sampai pun sikap buruk mereka yang membencinya, tidak mampu membuat beliau meradang; bahkan menasehati isterinya agar tetap bersikap lembut; tidak kasar dan keji. 

Akhlak yang mulia ini, sesuai benar dengan missi Rasulullah SAW seperti disabdakannya sendiri,

" انما بعثت لاتمم صالح الاخلاق"  
“Aku diutus semata-mata untuk menyempurnakan kebaikan akhlak.” (Imam Ahmad dari Sa’ied bin Manshur dari Abdul ‘Aziez bin Muhammad dari Muhammad bin ‘Ajlaan dari al-Qa’qaa’ bin Hakiem dar Abi Shaleh dari Abu Hurairah).

Bandingkan akhlak Rasulullah itu dengan banyak penganutnya yang gemar melaknat dan mencaci bahkan terhadap saudaranya sendiri.

Sehebat apa pun takwa orang Islam, pastilah tidak mungkin melebihi takwa Rasulullah SAW. Menyamai saja tidak. Sebesar apa pun ghierah atau semangat beragama orang Islam, pastilah tidak mungkin melebihi ghierah dan semangat beragamanya Rasulullah SAW. Menyamai saja tidak. Hanya saja dalam ghierah dan semangat beragama itu, dalam membela Allah dan agamaNya, Rasulullah SAW tidak mengikut sertakan nafsunya. Boleh jadi nafsu inilah yang membedakan; nafsu inilah yang membuat seolah-olah banyak muslim masa kini tampak lebih bersemangat dari Rasulullah sendiri. Padahal tidak.

Seandainya umat Islam mau meniru sifat mulia Rasul mereka itu dan mengikuti jejaknya, pastilah banyak persoalan-persoalan keumatan, khususnya dalam pergaulan hidup mereka sendiri, dapat dengan mudah teratasi.

Allahummahdinaa fiiman hadaiTa..

Pesan Gus Qoyyum Kepada Pejabat, Orang Kaya Dan Ulama

Agar menang pilkada, Gus Qoyyum Lasem memberikan dua wiridan. ’’Para calon kepala daerah yang menang, banyak yang baca ini,’’ tuturnya saat tausiah dalam haul Pendiri Pesantren Mambaul Maarif Denanyar sekaligus salah satu pendiri NU, KH Bisri Syansuri, Jumat (8/4/2016).

Wiridan pertama yakni: walik grembyang ono susah ono gampang kana maal usri yusro…

Wiridan kedua yakni: cos pleng, cos pleng, cos pleng ya rohman ya rohim…

’’Kalau dari semua calon ada satu yang baca ini, pasti dia yang jadi. Tapi kalau semua calon baca ini, pasti semuanya tidak jadi,’’ ucap Gus Qoyum disambut tawa jamaah lantaran dideretan hadirin terdapat Gus Halim dan Gus Ipul yang santer dikabarkan bakal sama-sama maju pilgub 2018.

Gus Qoyyum menambahkan, sekarang ini banyak ulama yang anaknya tidak jadi ulama. Sementara orang bodoh, banyak yang anaknya jadi ulama.

Hal itu, kata Gus Qoyyum, disebabkan karena banyak ulama yang ngelokno orang bodoh. Ngerasani orang bodoh. Serta menyakiti hati orang bodoh.

Sehingga kecerdasan yang mestinya menurun kepada anaknya, oleh Allah dipindah kepada keturunan orang bodoh tersebut..

Orang kaya yang keturunannya melarat juga dipicu hal semacam itu.

Mentang-mentang kaya, dia ngelokno orang miskin, ngerasani orang miskin, menyakiti hati orang miskin. Sehingga kekayaan yang mestinya menurun kepada anaknya, oleh Allah dipindah kepada keturunan orang miskin tersebut..

’’Makanya walaupun alim, jangan mencela orang bodoh. Walaupun kaya, jangan mencela orang miskin,’’ pesannya.
(*Abdurrosyid)

23/02/2016

Gus Jari "Isa Habibulloh" Membantah

Investigasi Kepada “nabi abal2”, Gus Jari
Di Pondok Pesantren Kahuripan Ash Shirot Gempol Karangpakis Kabuh Jombang.
Agaknya kita sebagai bangsa Indonesia sudah tidak terkejut lagi dengan munculnya nabi abal2 (palsu) karena saking banyaknya, mungkin negara kita termasuk penghasil nabi abal2 terbanyak di dunia.
Beberapa hari ini di medsos kita disibukkan dengan munculnya orang yang bernama Gus Jari asal Gempol, Karang Pakis, Kabuh, Jombang, Jawa Timur, yang diberitakan sebagai orang yang telah mengaku sebagai nabi.
Hal ini menyebabkan saya harus melakukan investigasi secara langsung agar bisa melihat dari dekat baik sosok orangnya, ajarannya, gerakannya dan pengikutnya.
Pada hari Ahad, 21 Februari 2016 saya bersama Bapak Drs. Imam Sanusi (Ketua FKUB –Forum Kerukunan Umat Beragama- Kabupaten Kediri) dengan ditemani sopir melakukan investigasi ke Gus Jari di kediamannya di Pon. Pes. Kahuripan Ash Shiroth Gempol, Karangpakis, Kabuh, Jombang. Saya berangkat dari rumah sekitar jam 16.15 WIB dan sampai di Gempol Kabuh sekitar 17.40 WIB. Tidak terlalu sulit untuk mencari desa tersebut meski agak masuk ke dalam dan melewati jalanan yang di samping kanan kirinya areal persawahan.
Sampai di desa Gempol, saya tidak langsung ke rumah Gus Jari, tapi mampir dulu di Warung Kopi yang terletak sekitar 50 meter dari rumahnya, untuk ngopi sekaligus untuk mencari data skunder dari tetangganya.
Menurut tetangganya, di kampungnya itu tidak ada satu pun orang yang menjadi pengikut Gus Jari, tapi pengikutnya berasal dari luar daerah yang dalam waktu sebulan ada 2 kali pertemuan untuk pengajian.
Dari penjelasan tetangganya, Gus Jari itu berprofesi sebagai paranormal yang biasa menerima pasien untuk konsultasi problem sehari-hari. Gus Jari juga berhasil membangun masjid cukup bagus serta pondok pesantren di samping rumahnya. Tetangganya tidak banyak yang tahu aktifitas Gus Jari secara detail, malah tahunya kebanyakan dari televisi.
Setelah saya selesai berbicang di warung kopi tersebut, saya berjalan menuju rumah Gus Jari. Pintu gerbang pondoknya memang cukup unik, bermotifkan burung garuda sedang mencengkram bumi dan ada bintangnya. Di bawahnya tertulis : Pondok Pesantren Kahuripan Ash Shiroth lalu di bawahnya tergantung tulisan :”Fafirru Illallah” dan terjemahnya dalam bahasa Jawa. Di Pondoknya tersebut ada masjid yang bernama Ash Shirothol Mustaqim, yang menjelang shalat biasanya diputar lantunan Ayat2 Al Qur’an dari pengeras suara sebagaimana masjid pada umumnya.
Setelah saya memasuki komplek pondok pesantren, saya terus berjalan menuju masjid sambil mengamati situasi dan lingkungan, tiba-tiba saya disapa oleh sosok orang paruh baya dari samping rumahya: “Assalamu ‘alaikum “
Saya jawab : “Wa ‘alaikumussalam”. Apa benar anda Gus Jari ?” Saya bertanya demikian untuk memastikan karena sebelumnya saya belum tahu wajah Gus Jari, kecuali dari TV. “Nanti setelah maghrib saya bisa ketemu Anda? “ tanya saya . “O ya silahkan”, jawab Gus Jari.
Kemudian saya menuju masjid Ash Shirothol Mustaqim untuk shalat maghrib, dari masjid dikumandangkan adzan dan setelah adzan dilantunkan pujian shalawat sebagaimana masjid pada umumnya. Selang tidak lama, dilantunkannya iqamat sebagai tanda bahwa shalat berjama’ah dimulai, yang bertindak sebagai imam adalah Bapak Turmudzi, kerabat dekat Gus Jari.  Gus Jari juga nampak ikut shalat berjama’ah di masjid itu. Setelah shalat maghrib selesai, para jama’ah membaca wirid bersama-sama dengan suara jahr (keras) sebagaimana di masjid lain pada umumnya.
Selesai itu, saya menemui Gus Jari di masjid, lalu saya diajak menuju rumahnya. Sampai di rumahnya, saya dipersilahkan duduk, saya melihat di meja tamu ada rokok GG Surya 12 dan koreknya. Lalu saya mengeluarkan rokok GG Surya 16 dari saku baju saya. Saya mulai menyalakan rokok dan Gus Jari pun juga menyalakan rokok. Setelah hp untuk merekam saya siapkan secara tersembunyi, maka saya mulai dialog dengan Gus Jari (yang berumur 44 tahun, mempunyai 2 putra) sebagai berikut :
Gus Jari: “Apa tujuan Anda datang ke sini ?”.
Saya : “Untuk tabayun dengan Anda?”
Gus Jari : “O ya silahkan. Sekarang ini tertutupnya zaman rekayasa, terbukanya zaman realita, siapapun yang merekayasa keadaan akan hancur”
Saya : “ Bagaimana Anda bisa diberitakan telah mengaku sebagai Nabi?
Gus Jari : “ Itu semua rekayasa agar terjual beritanya di masyarakat. Saya hanya mendapat petunjuk dari Allah lalu direkayasa oleh mereka”.
Saya :” Ceritakan perjalanan hidup Anda !”.
Gus Jari : Apa yang saya alami ini bukan rekayasa tapi realita, sejak 1978 sampai 1985 saya ini seorang penggembala kambing. Lalu saya belajar ilmu-ilmu syari’ah selama 7 tahun, saya mondok di Pondok Pesantren At Taufiq Sambong Jombang dan di Tambakberas Jombang. Setelah itu saya mendapat petunjuk untuk belajar ilmu thariqat, hakikat sampai ma’rifat, sampai saya menjalani puasa tirakat 11 tahun, sampai ketemulah saya dengan Ma’rifat Lillah dan Ma’rifat Billah itu”.
Saya : “ Di Tambakberas di mana?
Gus Jari : “Saya kuliah di STIT yang waktu masih bernama STIT tapi tidak sampai selesai. Ijazah terakhir saya hanya Aliyah”
Saya : “Siapa guru spritual anda ?”
Gus Jari : “Kyai Ebes Tarmuji Brangkal Mojokerto, dia dulu berguru kepada Mbah Mangli Magelang dan Kyai As’ad Situbondo, Anda lihat apa beliau-beliau ini salah?”
Saya : “Lalu bagaimana ceritanya Anda sampai menjadi berita besar seperti ini?”
Gus Jari : “Ini realita bukan rekayasa, pada malam Jum’at Legi tahun 2005, haq billah, saya berani bersumpah, saya melihat cahaya bersinar memasuki tubuh saya lalu ada lafazh “’Isa Habibullah” kalau di Jawa disebut Raden Arya. Lalu saya lanjutkan shalat Tahajud, saya mendengar panggilan “ Yasin 7 kali “ kemudian ada panggilan : “Wahai Isa” sampai 7 kali lalu dilanjutkan Yasin sampai diteruskan 5 ayat.” Maksud dari “Isa diturunkannya kembali bukan jasadnya tapi nurnya”.
Saya : “Mungkin dari kisah ini yang menyebabkan Anda dianggap telah mengaku sebagai Nabi”
Gus Jari : “Kalau ada yang memelintir pengalaman spiritual saya ini, maka akan saya tuntut. Saat inilah tertutupnya zaman rekayasa terbukanya zaman realita. Yang memelintir itu teman saya sendiri yang kerja di Kemenag Jombang. Saya terus dipojokkan oleh MUI dan Kemenag Jombang. Di sini mereka saya bilangi “Kalau kalian menilai saya jangan seperti itu, tapi cari dulu orang yang Ahli Ilmu Ghaib, wong belum dilihat oleh Ahli Ilmu Ghaib saja sudah terburu-buru menilai saya”
Saya :”Di masjid Anda ada sebongkah batu itu apa maksudnya? Dari mana batu itu”.
Gus Jari : “ Batu itu simbol “Sileme  gabus, muncul e watu item”, Silem wong gedabrus2 muncul wong ahli saestu” (tenggelamnya orang yang banyak ngomong penuh rekayasa, munculnya orang-orang yang sungguhan). Batu itu saya dapatkan melalui tirakat di Gunung Lawu.”
Saya : “Apa karena menceritakan pengalaman spiritual di atas kepada sembarang orang sehingga Anda diberitakan mengaku sebagai nabi? ”
Gus Jari : “Tidak. Saya tidak menceritakan kepada sembarang orang. Tapi ada orang yang memlintir hal itu, dia adalah teman saya sendiri, namanya Ilham, ia bekerja di Kemenag Jombang, dia itu teman saya, teman mondok saya dan teman sekolah saya, kalau saya kasih tahu dengan bahasa rekayasa dia menerima tapi kalau saya kasih tahu dengan bahasa realita dia memlintir. Kemarin dia di sini dia ketakutan, karena saya patahkan argumentasinya. Orang-orang MUI Jombang itu belum pernah ketemu saya, belum klarifikasi ke saya, sudah bicara ngawur. Itu karena membaca berita plintiran itu”
Memang pengalaman spiritual saya ini harus saya sampaikan, ini sudah waktunya, walaupun pemerintah tidak mendukung saya tapi masyarakat kecil yang menjadi senjata, akan berbondong2 membela saya, karena meyakini inilah yang akan menjadi Ratu Adil. Anda beruntung masih dapat menemui Ratu Adil. Kelak nanti akan sulit menemui saya, ha ha ha ha ha. Kalau saya bohong, saya tidak akan mungkin bisa menyampaikan. Saya punya bukti data otentik, berdasarkan lelaku, wahyu dan apapun yang telah saya terima.”
Saya : “Dengar2 Anda dulu juga pernah aktif di NU? Apa pernah menjadi pengurus NU?”
Gus Jari : “Lo, saya ini orang NU sejak kecil. Saya juga pernah menjadi Pengurus MWC NU Kecamatan Kabuh. lalu bagaimana saya kok dianggap sesat seperti ini.”
Saya : “Di masjid dan rumah Anda ada gambar Semar. Itu apa maksudnya?”
Gus Jari : Saya ini 15 tahun menyamar dan akhirnya Semar sudah saya letakkan menjadi Ismoyo yang berisi ‘Isa Habibulloh’, ini saya terbuka saja, tapi ya hanya nur nya saja. Tugasnya meneruskan ajaran Nabi Muhammad, tidak membawa ajaran baru. Adapun mereka menuduh saya sebagai nabi palsu, itu karena mereka belum pernah ke sini dan belum tahu saya.”
Saya :”Saya ulangi lagi pertanyaan saya :Apa Anda mengaku menjadi nabi?
Gus Jari : “Tidak. Siapa yang mengaku menjadi nabi?”
Sampai di sini, kemudian saya pamitan untuk pulang.
Dari dialog saya dengan Gus Jari di atas, maka ada beberapa catatan yang perlu saya sampaikan :
1. Perlu diteliti lebih lanjut tentang kualitas kejujuran Gus Jari.
2. Bisa dipastikan bahwa Gus Jari berprofesi sebagai paranormal, yang cenderung mengunggulkan diri pribadinya untuk meyakinkan orang lain.
3. Gus Jari nampak sebagai pengamal ilmu hakekat yang pada umumnya suka menyampaikan cerita-cerita seperti itu dan cerita-cerita seperti itu memang biasa menjadi materi obrolan para pengamal ilmu hakekat. Yang dimaksud dengan Ilmu Hakekat di sini adalah ilmu klenik.
4. Jika pengalaman spiritual yang diceritakan Gus Jari di atas benar-benar terjadi, maka perlu diteliti lebih lanjut apakah hal itu memang benar sebagai petunjuk dari Allah atau hanya permainan syetan belaka.
5. Pengalaman spiritual atau ilmu sirri memang tidak boleh diceritakan secara terbuka, karena rentan menjadi fitnah, sedangkan Gus Jari menceritakannya secara terbuka dengan penuh percaya diri,
6. Gus Jari memang membantah keras bahwa dia telah mengaku menjadi nabi. Tapi dia secara tidak langsung telah menganggap dirinya sebagai calon Ratu Adil.
7. Keyakinan Gus Jari bahwa Nabi Isa diturunkan kembali ke dunia hanya berupa nur (cahaya) saja juga bertentangan dengan hadits-hadits shahih dan mutawatir yang secara jelas menegaskan bahwa Nabi Isa akan diturunkan kembali ruh dan jasadnya secara nyata.
8. Jajaran struktural NU khususnya PCNU Jombang khususnya Aswaja NU Center Jombang perlu mengadakan pemantauan lebih lanjut kepada Gus Jari, mengingat Gus Jari juga pernah menjadi Pengurus MWC NU Kabuh, berdasarkan pengakuannya.
9. Pihak-pihak terkait harus tetap menjunjung tinggi kearifan dalam menyikapi kasus Gus Jari ini, agar lebih tepat dalam mengambil sikap.
Apa yang saya laporkan ini dan analisis saya di atas memang belum lengkap tapi minimal dapat dijadikan data tambahan dan pertimbangan. Investigasi dan dialog berikutnya perlu dilaksanakan oleh pihak-pihak terkait tentunya dengan melibatkan Para Ahli dan Ulama khususnya yang menguasai bidang ilmu aqidah dan tashawwuf.
Wallahu A’lam.
(Ach.Cholili)

Jombang Dan Kegilaan Didalamnya

Duduk jombang nek gak iso ngetokno wong-wong edan.
Sopo sing gak eruh produk-produk dan kualitase wong Jombang....
Pancen jombang iku joss....
Indonesia tanpa jombang mungkin tidak seru, para pendekar pendekar dan ksatria-ksatrianya bertebaran di muka bumi NKRI, nah...jika Indonesia ini diibaratkan rumah, maka Kabupaten Jombang adalah sebuah sudut kecil yang berada di rumah itu. Namun justru dari sudut kecil itulah selalu muncul letupan-letupan mengejutkan dan mampu membetot perhatian seisi rumah. Kadang letupan itu hanya berupa asap. Muncul lalu menghilang. Bisa juga letupan itu berupa bara. Menganga, menghangatkan, memanaskan sekaligus mencemaskan.
Paling baru, letupan dari sudut kecil itu bernama Jari, usianya 40 tahun. Dia tinggal di Dusun Gempol, Desa Karangpakis, Kecamatan Kabuh. Kemunculan Jari ini entah sebagai asap atau bara. Pastinya, kemunculan bapak dua anak ini juga membetot perhatian. Pandang mata seisi rumah tertumbuk kepadanya. Ada yang was-was, ada yang nyinyir, ada pula yang kepanasan, sehingga ingin segera menyiramnya dengan air. Maklum saja, ketika kata-kata sesat sedang fasih
dirapalkan di negeri ini, Jari justru mendongak dan mengaku sebagai nabi. Dia mengerek bendera dengan embel-embel nabi tanda akhir zaman bergelar Isa Habibullah atau Isa Kekasih Allah. Ceritanya, suatu hari di malam Jumat Legi tahun 2004, Jari sedang menjalankan ibadah salat malam. Ketika terbenam dalam sujud, dia mendengar bacaan Surat Yasin berulang-ulang. Dada Jari seperti dihantam godam. Dari kejadian itu, dia menafsirkan bahwa wahyu kenabian telah hinggap pada dirinya. Dari dusun kecil di pinggiran hutan Kecamatan Kabuh, dia membangun pesantren. Lewat dusun terpencil itu pula Jari meneriakkan kenabiannya. Teriakan itu tidak keras, namun gemanya merambat kemana-mana. Menerobos jalan raya, melintasi gedung tinggi, masuk ke ruang MUI, membentur kursi gubernur, hingga mangitari meja menteri. Tentu saja, Menteri Agama akhirnya bersuara untuk menanggapi. Atas fenomena itu, komentar yang mengalir dari banyak orang pun beragam. Namun nada dasarnya tetap seragam, semisal 'ada apa lagi dengan Jombang?' atau 'Jombang memang aneh'. Bahkan lebih ekstrim lagi, munculnya Jari akan menambah daftar panjang deretan 'orang gila' yang lahir dari sudut ruang bernama Jombang. Soal banyaknya 'orang gila' yang lahir dari Jombang,

KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur mengakuinya. Akan tetapi, justru hal itu menjadi kebanggan tersendiri bagi Gus Dur terhadap tanah kelahirannya. Saya masih ingat, dalam sebuah ceramah pengajian di alun-alun Jombang tahun 2002, mantan presiden ini menyebut setidaknya ada tujuh 'orang gila' yang lahir dari rahim Jombang. Ya, kota santri telah menyumbang tujuh 'orang gila' untuk Indonesia. Siapa saja mereka?
Berada di urutan pertama adalah Gus Dur sendiri. Semua orang tahu, bagaimana sepak terjang cucu pendiri NU ini selama hidup. Ketika orde baru sedang kuat-kuatnya, Gus Dur justru mengibarkan bendera perlawanan. Peta pemikiran Gus Dur juga sulit ditebak, dan tidak jarang memantik kontroversi. Semisal, mengubah Assalamu'alaikum menjadi selamat pagi. Gus Dur memang aneh. Hanya Gus Dur presiden yang meninggalkan istana dengan mengenakan celana kolor.
Selanjutnya 'orang gila' yang menempati urutan kedua adalah Nurcholis Madjid atau Cak Nur. Tokoh pembaruan pemikiran Isapan ini lahir di Dusun Mojoanyar, Desa Mojotengah, Kecamatan Bareng, Jombang. Menjelang pemilu 1971, Cak Nur membuat geger Indonesia terkait pandangannya tentang politik dan keislaman. Cak Nur melontarkan gagasan ‘Islam yes, Partai Islam no’. Padahal saat itu partai Islam sedang naik daun.
Lantas, siapa 'orang gila' urutan ketiga dari Jombang?
Gus Dur dalam pengajian itu menyebut nama Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun. Pria kelahiran Desa Mentoro, Kecamatan Sumobito ini dikenal sebagai sosok yang multidimensi. Maka tidak berlebihan jika Gus Mus (KH Mustofa Bisri) menjuluki Cak Nun seperti tertulis dalam selarik puisinya; santri tanpa sarung, haji tanpa peci, kiai tanpa sorban, dai tanpa mimbar, mursyid tanpa tarekat, sarjana tanpa wisuda, guru tanpa sekolahan, aktivis tanpa LSM, pendemo tanpa spanduk, politisi tanpa partai, wakil rakyat tanpa dewan, pemberontak tanpa senjata, ksatria tanpa kuda, saudara tanpa hubungan darah. Masih segar dalam ingatan kita saat Presiden Soeharto meletakkan jabatannya pada 21 Mei 1998. Di depan kamera televisi disaksikan jutaan rakyat Indonesia, Soeharto menyatakan dalam bahasa Jombangan “Ora dadi presiden ora patheken”. Nah, siapa lagi yang mengajari orang kuat di era orde baru itu, kalau bukan 'orang gila' dari Jombang.
Sementara urutan keempat adalah Wardah Hafidz. Anak tokoh Masyumi asal Desa/Kecamatan Sumobito. Wardah dikenal sebagai emaknya kaum miskin kota di DKI Jakarta. Ketika tukang becak digusur, Wardah tampil membela, begitu juga ketika pemulung dan PKL (Pedagang Kaki Lima) diobrak-abrik. 'Orang gila' urutan keempat ini selalu pasang badan. Wardah pernah memantik kontroversi. Dia mencalonkan seorang tukang becak bernama Rasdullah untuk menjadi walikota DKI. Saat mendaftar Rasdullah hanya membawa sapu lidi, yang akan digunakan membersihkan koruptor. Singkat kata, hanya Wardah yang bisa membikin Sutiyoso (walikota DKI Jakarta, saat itu), pusing kepala.
Kelima, yang masuk daftar 'orang gila' versi Gus Dur adalah Salman Hafidz. Dia merupakan kakak kandung Wardah Hafidz. Bersama kelompoknya yang tergabung dalam Komando Jihad, Salman melakukan pembajakan pesawat Garuda DC-9 Woyla jurusan Palembang-Medan, pada 28 Maret 1981. Salman dkk menuntut agar para rekannya yang ditahan usai peristiwa Cicendo di Bandung, Jawa Barat, dibebaskan. Aksi kelompok ini bisa digagalkan tentara. Salman sendiri akhirnya dieksekusi. Aksi kelompok ini kemudian dikenal sebagai teror pertama di Indonesia.
Keenam adalah Asmuni, pria kelahiran Desa/Kecamatan Diwek, Jombang. Asmuni bukan pelawak dadakan. Namun tumbuh dari proses alam, dari panggung komedi kehidupan rakyat, hingga menjadi ikon Srimulat. Semua orang pasti ingat, blangkon, kumis ala hitler, ungkapan menggelitik 'hil yang mustahal' hingga tertawa ha ha ha ha ha sebanyak lima kali. Semua itu adalah khas Asmuni. Bahkan di ujung usianya, dalam kondisi digerogoti penyakit, Asmuni masih bisa melemparkan humor-humor segarnya.
Orang ketujuh yang masuk daftar 'orang gila' kelahiran Jombang adalah Abu Bakar Ba'asyir, pendiri Majelis Mujahidin Indonesia (MMI). Arek Mojoagung Jombang ini banyak dikait-kaitkan dengan gerakan terorisme. Ba'asyir merupakan salah seorang pendiri Pondok Pesantren Islam Al Mu'min, Sukoharjo Jawa Tengah. Bagi saya, tujuh tokoh yang disebut oleh Gus Dur itu
hanyalah contoh. Karena masih banyak lagi tokoh yang memenuhi etalase Jombang. Mereka muncul dari arah yang berbeda. Ada dari kiri, kiri habis, tengah, kanan, hingga dari kanan habis. Bahkan ada pula dari mereka yang sudah tersobek dari lembar sejarah. Semaun misalnya. Dia adalah pendiri PKI (Partai Komunis Indonesia). Lahir di Curahmalang, Kecamatan Sumobito, Jombang. Karena bahaya 'merahnya' nama Semaun tersobek dari lembar sejarah.

Di wilayah kesenian, ada Cak Durasim, yang namanya diabadikan menjadi gedung di Surabaya. Di tangan arek Jombang ini, ludruk menjadi ancaman bagi Jepang. 'Pasemonnya' tajam melebihi bambu runcing. Pasemonnya yang paling terkenal adalah 'Pagupon Omahe Doro, Melok Nipon Tambah Sengsoro'. Karena kata-kata itu pula, Cak Durasim ditangkap Jepang. Dia syahid di tangan penjajah. Di Jombang sendiri, nama Cak Durasim kemudian diabadikan menjadi nama jalan.
Ada juga Gombloh, pelantun lagu 'Kebyar Kebyar'. Penyanyi legendaris ini lahir di Desa Kepatihan, Jombang Kota. Aksi 'gila' Gombloh adalah ketika honornya dari nyanyi dibelikan BH. Pakaian dalam itu kemudian dinaikkan becak dan dibagikan kepada penghuni lokalisasi Gang Dolly. Setelah era Gombloh, masih ada penyanyi yang lahir dari Kota Santri. Dia adalah Nur Halimah, penyanyi dangdut yang bertetangga dengan Cak Nur.
Ada lagi? Tentu saja masih banyak 'orang aneh' dari Jombang.
Sebut saja Choirun Nasikhin, warga Desa Nglele, Kecamatan Sumobito. Pada tahun 1994, Choirun membuat gempar Indonesia. Dia 'nunut' pesawat Garuda untuk menunaikan ibadah haji ke tanah suci. Sejak itu Choirun dijuluki Haji Nunut.
Rentang belasan tahun kemudian muncul nama Ponari, dukun cilik bersenjata batu petir. Puluhan orang memadati rumahnya untuk mencari kesembuhan.
Di wilayah kriminal, Jombang menyorongkan nama Very Idham Henyansah atau Ryan, ke pentas nasional. Pria gemulai ini melakukan pembunuhan sadis pada tahun 2008. Tidak tanggung-tanggung, korbannya tembus 11 orang.
Jombang juga tidak lelah melahirkan tokoh-tokoh yang memiliki pemikiran brilian untuk negeri ini. Maka tidak heran dari rahim Jombang lahir tiga Pahlawan Nasional. Yakni, Hadlratus Syeikh Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah, serta KH Wahid Hasyim. Dua nama pertama itu sekaligus pendiri organisasi keagamaan terbesar se-Nusantara sampai hari ini: Nahdlatul Ulama (NU), bersama KH Bisri Syansuri.
Dewasa ini, nama arek Jombang makin bertebaran di pentas regional dan nasional. Sebut saja Muhaimin Iskandar (mantan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi), kemudian Jenderal Timur Pradopo (mantan Kapolri), Imam Utomo (mantan Gubernur Jawa Timur), Choirul Anam atau Cak Anam (mantan Ketua GP Ansor Jawa Timur), tidak ketinggalan pula Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul.
Zaman terus bergerak, roda sejarah tak henti berputar. Keyakinan saya, Jombang masih produktif melahirkan 'orang-orang gila' yang akan disumbangkan untuk Indonesia. Oleh karenanya, setelah fenomena 'Nabi Isa', mari kita tunggu letupan apa lagi yang bakal muncul dari sudut kecil di rumah besar bernama Indonesia ini.(copas WA Group Jombang diaspora)