Showing posts with label pahlawan islam. Show all posts
Showing posts with label pahlawan islam. Show all posts

11/05/2016

Tafsir Yang Tak Pernah Selesai

Tafsir yang tak pernah selesai

Memulai menulis Tafsir adalah bagaikan memenuhi jamuan ilahi. Begitu nikmatnya hingga ada sejumlah ulama yang tak sempat menyelesaikannya. Mereka keburu dipanggil oleh Allah Swt.

Kita mulai kisah pertama dengan seorang ulama besar bermazhab Syafi'i. Namanya Jalaluddin Mahalli. Ahli fiqh dan ushul al-Fiqh dari Mesir ini memulai menulis tafsirnya dari pertengahan al-Qur'an, yaitu surat al-Kahfi sampai surat an-Nas. Lalu beliau menulis tafsir surat al-Fatihah. Beliau wafat tahun 1459, tanpa sempat menyelesaikan dari surat al-Baqarah sampai al-Isra.

Enam tahun kemudian, seorang muridnya yang bernama Jalaluddin al-Suyuthi, melanjutkan penulisan tafsir sang guru. Dengan mengikuti corak dan pendekatan yang sama, beliau menulis tafsir surat al-baqarah hingga surat al-Isra. Kerja lanjutan ini diselesaikan dalam 40 hari.  Sejak itu dunia Islam mengenal kitab tafsir dua Jalal, yaitu tafsir jalalain. Ini kitab tafsir yang sangat populer di dunia pesantren.

Kisah kedua. Syekh Muhammad Abduh memberikan kuliah Tafsirnya di Mesir. Muridnya yang bernama Syekh Rasyid Ridha mengumpulkan catatan tersebut dan mengusulkan untuk menerbitkannya dalam surat kabar. Semula sang guru menolak, namun akhirnya menyetujui. Abduh sempat menyampaikan kuliah-kuliah tafsirnya dari surah al-Fatihah sampai surah an-Nisa ayat 125 kemudian beliau wafat, dan Rasyid Ridha selanjutnya menafsirkan ayat-ayat al-Qur'an sendirian sampai dengan ayat 51 surah Yusuf. Rasyid Ridha meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil  pada tahun 1935. Tafsir al-Manar yang merupakan kolaborasi guru dan murid ini terhenti pada jilid 12. Dan tidak ada yang menyelesaikannya sampai sekarang.

Kisah ketiga. Muhammad Abu Zahrah seorang ulama terkemuka dari Mesir. Banyak sekali menulis berbagai kitab yang dijadikan rujukan para pelajar dan mahasiswa. Beliau menulis kitab Ushul al-Fiqh, sejarah mazhab dan biografi sejumlah imam mazhab. Yang tidak banyak dibahas adalah beliau juga menulis kitab Tafsir.  Sayang sebelum sempat menyelesaikannya beliau keburu wafat. Beliau wafat saat memegang pena tengah menulis tafsir surat al-Naml ayat 19. Tafsirnya kemudian diterbitkan dengan judul Zahrat at-Tafasir sebanyak 10 jilid. Belum ada yang meneruskan beliau menyelesaikan kitab tafsir ini.

Para ulama di atas telah berupaya mencurahkan waktu, tenaga dan pikiran mereka untuk menjelaskan kandungan ayat al-Qur'an. Kita sekarang memiliki banyak sekali menu hidangan ayat ilahi dari berbagai kitab tafsir yang ditulis oleh para ulama.

Keragaman penafsiran menjadi sebuah keniscayaan. Semakin banyak kitab tafsir yang kita baca akan semakin dalam kita memahami ayat ilahi. Semakin luas kajian kita, semakin kita tak mudah terpuaskan hanya dengan membaca satu kitab tafsir. Sayang saat ini banyak kalangan yang hanya mau mengikuti satu penafsiran saja dan dengan enteng menyalahkan penafsiran ulama lainnya.

Tafsir memang tidak akan pernah selesai. Akan selalu muncul penafsiran baru, dari kitab tafsir baru yang ditulis oleh para mufassir generasi berikutnya. Bismillah...

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama
Australia - New Zealand

20/04/2016

Hapuskan Dengkimu, Jangan Jadi Muslim Yang Fasik

SYAREAT DAN HAKIKAT HARUS BERJALAN BERIRINGAN
[ Ini bantahan KH Nawawi Sidogiri pada pengaku hakikat tapi tidak shalat]

Selepas ashar tadi, beberapa tamu sowan ke 'dalem' Hadratussaikh KH Nawawi Abd Jalil,pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri,Pasuruan, Jawa Timur. Ditengah dialog kiai dengan salah satu tamunya, sampailah pada pembahasan tentang orang-orang yang mengaku mengamalkan hakikat tapi tidak melaksanakan shalat. kiai sempat miris jika ada masyarakat yang terjangkit cara pandang semacam ini, terlebih jika orang itu adalah alumni pondok pesantren Sidogiri.

" mereka itu berdalil  ' Aqim Ashhalata Lizikri' , sehingga menurut mereka kalau udah iling (red; ingat) Allah berarti gak usah shalat"  cerita kiai .kiai kemudian berargumen " dalam ayat itu , Aqim adalah fiil amar, perintah , perintah untuk as-shalata (red; shalat), tujuannya untuk mengingat Allah, jadi dalam ayat ini gak ada yang namanya menghilangkan shalat, justru pertama-tama yang diperintahkan adalah shalat" .

beliau juga memaparkan beberapa argumen secara aqli terkait kasus ini, kalau memang mereka benar mengapa variable nya hanya shalat saja. " ya kalau begitu gak usah makan, cukup ingat makan saja kenyang, " tutur kiai nawawi

Dalam kesempatan tersebut kiai nawawi juga memberikan nasehat bahwa yang kita lakukan didunia akan menjadi tolak ukur kita di akhirat kelak. jika di akhirat ingin masuk surga, manusia harus melakukan amal yang menjadi bekal mereka ke surga, seperti shalat, puasa, zakat. lagi-lagi tentu nasehat beliau ini nyambung dengan kasus diatas yang dengan semangat sekali beliau menjelaskannya.

sejalan dengan yang dikatakan Imam Malik rahimahullah , "Siapa yang menjalani tasawwuf tanpa dibekali pemahaman terhadap syariat, ia telah menjadi zindik. Sebaliknya, siapa yang membekali diri dengan fikih (syariat) tapi tidak menjalani tasawwuf (tidak membersihkan hati), maka menjadi fasik. Nah siapa yang menggabungkan keduanya, ia telah mencapai hakikat.

semoga tulisan ini bermanfaat, silahkan share , mudah-mudahan menjadi tembahan ilmu buat kita semua.

Tulisan Imam Malik ini membuktikan bhwa banyaknya muslim saat ini berbanding terbalik dengan kualitas keimanan yang dimilikinya,  Banyak ber KTP Islam tp sebenarnya adalah Fasik.

17/04/2016

Kemuliaan Seorang Guru

(Diceritakan oleh seorang Alumni Darul Musthofa, Tarim, Hadhromaut, Yaman)
Selagi aku masih duduk di Daruzzahro, Guru Mulia Al Habib Umar bin Hafidz pernah berkata kepada salah satu putri beliau:

“Darul Mustofa dan Daruzzahro ini bukanlah kepunyaan kita, sekalipun ayah yang mendirikannya tetapi sejatinya adalah kepunyaan Kakek kita Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam beserta putri kecintaan beliau ibu kita Sayyidah Fatimah Azzahro Radhiyallohu ‘Anha, maka sekali-sekali kamu jangan berbuat seenaknya di dalamnya, harus tunduk dengan segala macam peraturannya, jangan memakan hak-hak tamu Azzahro sebelum mereka semua telah habis makan kecuali sisa-sisa puing makanan dari mereka. Ingat !! peran kita di sini hanya sebagai pembantu, khaddam, dan pelayan yang melayani rumah ini beserta tamu-tamunya”.

Pada suatu hari, saat jam istirahat, aku hendak pergi ke kamar kecil, tetapi aku melihat putri kecil putri bungsu Habib Umar bin Hafidz duduk seorang diri di salah satu tangga Daruzzahro sambil memegang perut, maka aku pun menghampirinya dan bertanya:
“Ada apa denganmu wahai putri mulia?“

Maka dengan polosnya ia menjawab bahwa ia dalam keadaan lapar dari tadi, sebab sebelum pergi ke sekolah tidak sempat bersarapan terlebih dahulu, khawatir terlambat ucapnya.

Spontan aku membalas ucapannya dan berujar:

“Mengapa yang mulia tidak mengambil sepotong roti di ruang makan Darruzzahro saja?”.

Ia hanya menggeleng sambil tersenyum.

“Atau pulang sebentar ke rumah mengambil sarapan?”, tawarku kembali.

Ia pun tetap membalasnya dengan gelengan.

Aku semakin keheranan: “Bukankah engkau putri guru mulia kami (Habib Umar bin Hafidz)? Pemilik Daruzzahro ini wahai yang mulia?”.

Maka ia pun menceritakan pesan sang ayah untuk putra putri dan seluruh keluarga. Mendengarnya, aku tercengang dan terkejut, ku rasakan sudut mataku mulai berembun, hatiku bergetar mendengar penuturannya. Tidak hanya sampai di situ, putri kecil guru mulia mengejutkanku dengan perkara lain. Merasa kasihan dan tak tega, aku pun merogoh saku baju dan mengambil selembar uang di dalamnya:

“Jika begitu ku mohon ambilah ini sebagai hadiah dariku, dan belilah sedikit makanan untuk mengganjal perut yang mulia”, ucapku penuh harap sambil menyodorkan selembar uang itu ke hadapannya.

Ia tersenyum ramah, mata beningnya menatapku lembut dan ia menolak halus pemberianku dengan menggeleng-gelengkan kepalanya, namun aku terus merayu dan memohon agar dia bersedia menerimanya, tetapi putri kecil guru mulia tetap bersikeras untuk tidak menerimanya dan terus mengindahkan tangannya dari tanganku, melihat usahaku tiada henti, dengan polosnya ia berkata:
“Maafkan aku saudaraku, bukannya menolak pemberianmu, dan ingin melukai perasaanmu, akan tetapi ayah mengajarkan kami untuk tidak memberatkan orang lain dan tidak berharap belas kasih manusia selain belas kasih Allah Subhanahu wa Ta’ala, simpanlah uang itu, karena engkau lebih memerlukannya ketimbang aku, lagi pula kalau ayahanda mengetahui pasti beliau tidak akan menyetujuinya”.

Tes tes… ku rasakan air mataku mulai berjatuhan di pipiku, aku memperhatikannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ku lihat kerudungnya nampak kumal, pakaiannya pun terlihat lusuh, ia hanya menggunakan keresek putih untuk alat-alat sekolahnya, kakinya penuh debu tanpa mengenakan sandal, aku terdiam terpaku tak mampu berkata sekalimat pun sampai putri guru mulia berlalu dari hadapanku sambil berlari-lari kecil dengan wajah yang tetap riang.

Aku menelan ludah susah payah, gemetar jiwaku menatap bayangnya yang perlahan menghilang dari pandanganku, hatiku bergetar hebat, pendidikan macam apa ini yang membuat anak sebelia dia memiliki hati sedemikian mulia. Sambil berderai air mata ku segerakan langkahku menuju kamar. Sesampainya di kamar ku membenamkan kepalaku di bantal dan pecah tangisku seketika, bagaimana tidak?
Jiwaku hancur lembur dihantam akhlak mulia sebegitu luhur, benar benar kami ini murid yang tak tau diri, jauh kami merantau dari negara kami hanya demi menimba ilmu serta mengambil keberkahan dari Guru Mulia beserta Sang Istri, malam-malam kami tidur dengan nyenyak, tidak pernah sedikitpun kekurangan air dan makanan, bahkan kami menganggap tempat ini seperti rumah kami sendiri, terkadang kami berbuat semaunya, makan dengan kenyang dan menggunakan kipas angin dan AC sepuasnya, tetapi guru mulia yang mendirikan tempat ini pun merasa tidak memilikinya dan tidak berlaku seenaknya.

Hatiku benar-benar serasa dicambuk rasa malu yang begitu dalam, teramat malu atas ketidaktahuan kami, atas sedikitnya perhatian dan kepedulian kami. Guru mulia beserta keluarga begitu memuliakan para pelajarnya melebihi penghormatan kami kepada beliau. Huhuhu… aku terus saja menangis.

Sampai akhirnya terdengar suara peringatan waktu istirahat segera berakhir. Aku pun menghentikan tangisanku dan menyeka air mata.

Masih dengan mata yang sembab aku bangkit berdiri dan berniat mengambil air wudhu. Saat ku lewati ruang makan Daruzzahro, sungguh ku menyaksikan pemandangan yang kembali sangat membuat hatiku miris. Ku lihat tangan mungil putri mulia memunguti beberapa pecahan roti yang tersisa dari bekas sarapan sebagian pelajar tadi pagi.

Melihatnya aku membuang pandangan karena tak sanggup menyaksikannya. Kejadian tersebut sangat membekas di hatiku sehingga aku merenungkannya selama berhari-hari. Semenjak itu aku jadi jarang ikut makan bersama dengan teman-teman lainnya, kecuali menunggu mereka telah usai semua, dan aku mulai bermujahadah melunturkan kesombongan yang ada di diriku.

Terkadang aku sengaja memakan roti yang sudah kering dan keras yang sudah ku hancurkan sebelumnya, atau memakan bekas-bekas nasi yang akan dibuang,

atau makan bersama kawan tetapi dengan suapan yang terbatas, ketika kenyang hanya 3 suap, jika memang dalam keadaan lapar hanya 9 suap, semua itu sengaja ku lakukan agar diriku yang sangat payah ini dapat merasakan kerasnya menuntut ilmu tanpa memanjakan diri sedikitpun,

terlebih-lebih setiap mengingat kejadian di atas hatiku sangat malu terhadap Sang Guru. Kami hanya seorang murid dan hanya menumpang di tempat ini, harusnya kami yang menjadi pelayan bukannya memanjakan diri terus menerus...

15/04/2016

Mbah Fadhol: Sebuah Legenda Pitutur

Mbah Moen sering ngendiko

" sepiro sholehe anak , tergantung sepiro sholihah ibu'e "

Syeh Abul Fadlol Senori adalah salah satu guru Mbah Moen, kisah singkat beliau

Mbah Denok bisa dibilang Ibu yang aneh, Ibu yang lebih memilih anaknya menjadi Ulama besar daripada memilih kekayaan yang sudah didepan mata.

Seorang Ibu yang bertahan dalam kemiskinan, ibu yang selalu berpuasa demi masa depan anak yang saat itu baru dikandungnya.

Hari itu beliau mencuci beras di sungai, entah karena lemah badannya yang gemetar menahan lapar, sehingga beras itu tumpah, atau karena tak sengaja tersenggol beliau yang sibuk mencuci pakaian.

Subhanallah bukan lagi berwujud beras, tetapi emas berkelipan itu sangat mengagetkan, namun hati yany senantiasa sadar akan keberadaan Allah itu segera menarik kesimpulan, bahwa dirinya sedang mengalami ujian, serta merta beliau menangis memohon ampun, bibir pucatnya berucap perlahan, hatinya bergetar, Wahai Tuhanku bukan ini yang aku pinta, emas ini bagiku bukanlah harapan, hamba hanya memohon kepadaMu jadikanlah janin dalam kandunganku ini lahir menjadi Ulama, jadikanlah ia kekasihMu dan panutan.

Mbah Denok itu adalah Ibu Mbah Abdus Syakur, seorang Ulama kuno yang mumpuni disegala bidang keilmuan.

Selanjutnya Mbah Syakur menurunkan dua orang putera dari janda Kyai Abdul Aziz yaitu Mbah Abul Fadlol senori dan Mbah Abul Khoir suwedang.

Keduanya adalah Ulama besar, Mbah Abul Fadlol terkenal sesudah wafatnya dengan berbagai kitab karangan yang menembus dunia pesantren Timur Tengah, sedangkan Mbah Abul Khoir lebih menonjol dalam bidang Tashowwuf dan Ulama Fiqih yang sangat kuat memegang priinsip di ujung zaman.

Mbah Abul Fadlol pada masa remajanya berguru kepada Mbah Hasyim Asy'ari Tebu ireng. Jangan ditanya soal apa yang telah beliau kuasai, karena semenjak kecil beliau telah suka melantunkan sya,i sya,ir yang terdapat di dalam kitab Ihya dengan hanya mendengar saja dari pengajian bapaknya.

Mbah Abul Fadlol tidak hanya mumpuni dalam bidang Ilmu Agama saja, tetapi entah dari mana ilmu itu beliau dapat, dizaman radio masih langka, beliau telah mampu membuat radio amatir, tentang ilmu kimia juga begitu, dengan caranya sendiri, beliau mampu membuat minyak wangi yang baunya tidak seperti bau minyak wangi pada umumnya, bahkan beliau telah mampu membuat syrup obat batuk yang konon sangat mujarab.

Beliau juga menguasai bahasa mandarin, konon beliau pernah bekerja di semarang sebagai kuli membuat jalan.Beliau memang tidak pernah menyukai kekayaan, setiap kerja yang dirintis laris, tiba tiba beliau tinggalkan begitu saja, dari mulai menjadi penjual tembakau, polangan, jual kain dan pekerjaan terakhirnya adalah sebagai reparasi radio dan jam tangan.

Jiwa Nasionalisme yang tinggi beliau warisi dari gurunya, yaitu Mbah Hasyim, pada setiap upacara 17 Agustus di kecamatan, beliau sempatkan dirinya pakai celana, sepatu dan ikut upacar di lapangan.Dan juga jangan tanya organisasi apa yang beliau ikuti dan istiqomahkan, NU adalah kebanggaan beliau sampai beliau diwafatkan.

Sumber cerita dari menantunya Mbah Abul Fadlol sendiri, yaitu Kyai Minanurraohman

......................

Dalam keseharian beliau sanngat sederhana dan bersahaja, saking sederhananya ketika ta'ziah dalam wafatnya KH. Zuber Sarang beliau sempat dicueki atau tidak dihormati oleh orang karena songkok hitam yang dipakai tidak lagi hitam tapi telah berubah warna menjadi merah. Baju yang di kenakan lusuh, hingga orang acuh memandangnya.
Orang-orang baru tahu kalau itu adalah Mbah Dlol yang sangat terkenal itu. Setelah tanpa sengaja mBah Maimun Zuber memergokinya di tengah jalan. Karuan saja KH. Maimun langsung menciumi tangan beliau dan menempatkannya pada tempat yang layak

..............

Sering sekali mbah maimun memuji sang guru ketika mengaji adapun dalam tausiyah-tausiyah beliau.

"Ojo isin dadi wong jowo, delok toh Mbah Fadhol Senori. ora tahu ngaji ning arab, tapi geneyo koq iso Alim ngalahno sing ning Arab. Alime koyok ngono, karangane kitab pirang-pirang."
---------------
(By copas dr Ustdz Zam).

Pemuda Yang Baik menikah Dengan Pemudi Yang Baik

Pejuang Hanya Menikahi Pejuang
Najmuddin Ayyub (Gubernur Tikrit) belum menikah dalam waktu yang lama.
Saudaranya Asaduddin Syirokuh bertanya kepadanya: wahai saudaraku kenapa engkau belum menikah?

Najmuddin Ayyub: aku tidak mendapati wanita yang pantas bagiku.

Asaduddin : maukah aku lamarkan wanita untukmu?

Najmuddin: siapa?

Asaduddin: putri raja syah putri sultan muhammad bin malik syah sultan saljuki atau putri mentri raja.

Najmuddin: mereka gak cocok/pantas untukku.

Asaduddin: trus siapa yang cocok untukmu?

Najmuddin: sesungguhnya aku ingin istri sholihah yang menuntunku ke surga dan melahirkan untukku anak yang dia mendidiknya dengan bagus sampai dewasa dan menjadi penunggang kuda dan mengembalikan baitul maqdis (palestina) ke tangan muslimin.
Ini kesabaran Najmuddin.
Asaduddin tidak heran omongan saudaranya kemudian berkata: darimana engkau dapati wanita yang demikian?

Najmuddin menjawab: barangsiapa yang ikhlas niat karena Allah , Allah akan beri kepadanya.

maka disuatu hari Najmuddin duduk bersama syaikh di masjid di Tikrit berbincang bersamanya, maka datanglah wanita muda memanggil syaikh dari balik penutup, maka syaikh minta ijin kepada Najmuddin untuk berbicara kepada pemudi itu.

Najmuddin mendengar syaikh berbicara: kenapa engkau menolak pemuda yang aku kirim kerumahmu untuk melamarmu?

pemudi: wahai syaikh sebaik-baik pemuda adalah dia tadi yang tampan, punya kedudukan, akan tetapi tidak pantas untukku.

Syaikh: apa yang engkau inginkan?

Pemudi: wahai tuan Syaikh, aku ingin pemuda yang menuntunku ke surga dan melahirkan untukku anak yang menjadi penunggang kuda mengembalikan baitul maqdis (palestina) ke tangan muslimin.

Allahu Akbar kata-kata yang sama yang diucapkan Najmuddin kepada saudaranya asaduddin , menolak putri sultan dan putri mentri padahal punya kedudukan dan kecantikan.
Demikian pemudi ini menolak pemuda yang punya kedudukan dan tampan serta kaya.

Semua ini karena apa yang keduanya inginkan orang yang menuntun ke surga dan melahirkan penunggang kuda yang mengembalikan baitul maqdis ke tangan muslimin.

Maka berdirilah Najmuddin dan memanggil Syaikh , wahai Syaikh aku ingin menikahi pemudi itu.

Syaikh: pemudi ini miskin di kampung ini.

Najmuddin: pemudi ini yang aku inginkan.

Najmuddin Ayyub menikahi wanita ini yang muda dan wanita yang baik , dengan perbuatan yang ikhlas niatnya karena Allah , Allah anugerahkan kepadanya karena niatnya.

Maka wanita itu melahirkan untuk Najmuddin anak yang menjadi penunggang kuda yang mengembalikan baitul maqdis ke tangan muslimin, ketahuilah dia adalah SHOLAHUDDIN AL AYYUBI.

Inilah warisan kita dan ini yang wajib kita ajarkan kepada anak-anak kita.