Showing posts with label Fisika dan Keimanan. Show all posts
Showing posts with label Fisika dan Keimanan. Show all posts

21/05/2016

Nisfu Sya'ban, MAN AROFA NAFSAHU

Man Arofa Nafsahu
Membaca Diri

Mari kita bertanya siapa diri kita...
Mari kita merenung untuk apa hidup kita..
Sekian tahun kita..  berpijak di bumi Tuhan..
Memperkosa dan mensiasati bumi seisinya...

Tanpa bertanya bahwa kita adalah khalifahNya..
Tiba tiba binal dan tertawa..
Lupa apa sebenarnya tujuan hidup..
Ataukah kita hanya jelmaan nafsu dan tabiat belaka..
Mengkudeta firman-firman Tuhan dan bercermin rayuan setan..

Bertahun-tahun kita hidup di pesantren..
Selama itu pula apa yang telah kita dapatkan..
Puluhan ilmu kita pelajari..
Sebanyak itu pulakah pengetahuan kita..

Tidak !
Kita belum tahu apa-apa
Kita masih bodoh tak tahu siapa Alloh

Nahwu kita pelajari..
Tapi mengapa tata bicara kita simpang siur..
Balaghoh-mantiq kita pelajari..
Tapi mengapa bicara kita saling menyakitkan..
Fikih kita pelajari..
Tapi mengapa salat kita laksana kucing kebakaran...
Tajwid kita pelajari..
Tapi mengapa bacaan Quran kita tak mengenal rambu-rambu..
Tasawwuf pun kita pelajari..
Tapi mengapa takabbur, hasud, dan ghibah masih menjadi hoby kita..

Inikah diri kita

Kita bodoh..
Sekali bicara berapa banyak hati yang terluka..
Sekali melangkah berapa banyak yang tertindas..

Oh begitukah kita..

Kawan..
mengapa kita tak pernah membaca identitas kita..

#Lutfi Ridho

17/05/2016

WARISAN IBU

WARISAN IBU

Teori terdahulu menyebutkan karakteristik dan sifat2 bawaan seorang anak diwariskan dari ibu dan bapaknya dalam proporsi 50 : 50. Artinya, ayah dan ibu memberikan sumbangan yang sebanding dan setara dalam diri seorang anak.

Akan tetapi, penelitian biologi molekuler terbaru menemukan bahwa seorang ibu mewariskan 75% unsur genetikanya kepada anak, sedangkan bapak hanya 25%. Oleh karena itu, sifat baik, kecerdasan, dan kesolehan seorang anak sangat ditentukan oleh sifat baik, kecerdasan dan kesolehan ibunya.

Apa yang disabdakan Rasulullah Muhammad SAW, ternyata memiliki kesesuaian dengan fakta ini.

Ketika seorang sahabat bertanya kepada Baginda Nabi, mana yang harus diprioritaskan seorang anak, apakah ibunya atau ayahnya, beliau pun menjawab, “Ibumu, ibumu, ibumu...lalu Ayah mu”. Proporsinya tiga berbanding satu ( 3 : 1 )

Mari kita lihat lebih jauh. Di dalam sel-sel manusia terdapat sebuah organel yang memiliki fungsi sangat strategis, namanya mitokondria.

Organel berbentuk bulat lonjong ini berongga, selaputnya terdiri atas dua lapis membran. Membran dalam bertonjolan ke dalam rongga (matriks) dan mengandung banyak enzim pernapasan.

Tugas utama mitokondria adalah memproduksi bahan kimia tubuh bernama ATP (adenosin triphosphat). Energi yang dihasilkan dari reaksi ATP inilah yang kemudian menjadi sumber energi bagi manusia.

Mitokondria bersifat semiotonom krn 40% kebutuhan protein dan enzim dihasilkan sendiri oleh gennya.

Mitokondria adalah salah satu bagian sel yang memiliki DNA sendiri, selebihnya dihasilkan gen di inti sel.

Sekali lagi, dan ini sangat menarik, mitokondria hanya diwariskan oleh ibu, tidak oleh bapak. Mengapa? Krn mitokondria berasal dr sel telur bukan dari sel sperma. Itulah sebabnya, investasi seorang ibu dalam diri anak mencapai 75%.

Kita dapat berkata, inilah “organel cinta” seorang ibu yang menghubungkan kita dengan Allah dan kesemestaan.

Tanpa kehadiran mitokondria, hidup menjadi hampa, tidak ada energi yang mampu menggelorakan semangat.

Tanpa mitokondria, kita tdk dpt melihat, mendengar, hingga akhirnya tdk bs membaca, mencerna dan merasa.

Oleh karena itu, kita jangan heran jika kontak batin antara ibu dan anaknya sangat kuat dan intens. Jarak sejauh apapun tidak bisa menghalangi sensitivitas hati seorang ibu.

Hal ini memperlihatkan adanya energi cinta yang menembus dimensi. Teori superstring yang kita ambil dr ilmu fisika bs sedikit memperjelas hal ini. Para ilmuwan di MIT, yang tergabung dalam kelompok 18, menemukan sebuah supersimetri, yaitu sebuah persamaan matematika yang menciptakan ruang di alam semesta tt terdiri atas 57 bentuk dalam 248 dimensi. Konsep supersimetri menyebutkan, andai dunia ini dibagi2 menjadi bentuk apapun, sebenarnya hanya ada satu titik yang melingkupinya.

Artinya, ilmu pengetahuan menemukan bahwa jarak itu tdk bs membatasi jiwa dan ruh yang bersemayam dalam satu titik yang sama.

Jika kita menggunakan konsep ini, dimana pun berada, hati seorang ibu selalu berada di titik yang sama.

Itulah sebabnya, apa yang dirasakan anak dan apa yang dirasakan ibu, bioelektriknya berada pada titik yang sama.

Mitokondrianya berada dalam posisi yang sama sehingga titik pertemuannya pun sama. Dengan kata lain, perasaan seorang ibu kepada anaknya bagaikan perasaan dia terhadap dirinya sendiri.

صلوا علي النبي محمد

17/04/2016

Kemuliaan Seorang Guru

(Diceritakan oleh seorang Alumni Darul Musthofa, Tarim, Hadhromaut, Yaman)
Selagi aku masih duduk di Daruzzahro, Guru Mulia Al Habib Umar bin Hafidz pernah berkata kepada salah satu putri beliau:

“Darul Mustofa dan Daruzzahro ini bukanlah kepunyaan kita, sekalipun ayah yang mendirikannya tetapi sejatinya adalah kepunyaan Kakek kita Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam beserta putri kecintaan beliau ibu kita Sayyidah Fatimah Azzahro Radhiyallohu ‘Anha, maka sekali-sekali kamu jangan berbuat seenaknya di dalamnya, harus tunduk dengan segala macam peraturannya, jangan memakan hak-hak tamu Azzahro sebelum mereka semua telah habis makan kecuali sisa-sisa puing makanan dari mereka. Ingat !! peran kita di sini hanya sebagai pembantu, khaddam, dan pelayan yang melayani rumah ini beserta tamu-tamunya”.

Pada suatu hari, saat jam istirahat, aku hendak pergi ke kamar kecil, tetapi aku melihat putri kecil putri bungsu Habib Umar bin Hafidz duduk seorang diri di salah satu tangga Daruzzahro sambil memegang perut, maka aku pun menghampirinya dan bertanya:
“Ada apa denganmu wahai putri mulia?“

Maka dengan polosnya ia menjawab bahwa ia dalam keadaan lapar dari tadi, sebab sebelum pergi ke sekolah tidak sempat bersarapan terlebih dahulu, khawatir terlambat ucapnya.

Spontan aku membalas ucapannya dan berujar:

“Mengapa yang mulia tidak mengambil sepotong roti di ruang makan Darruzzahro saja?”.

Ia hanya menggeleng sambil tersenyum.

“Atau pulang sebentar ke rumah mengambil sarapan?”, tawarku kembali.

Ia pun tetap membalasnya dengan gelengan.

Aku semakin keheranan: “Bukankah engkau putri guru mulia kami (Habib Umar bin Hafidz)? Pemilik Daruzzahro ini wahai yang mulia?”.

Maka ia pun menceritakan pesan sang ayah untuk putra putri dan seluruh keluarga. Mendengarnya, aku tercengang dan terkejut, ku rasakan sudut mataku mulai berembun, hatiku bergetar mendengar penuturannya. Tidak hanya sampai di situ, putri kecil guru mulia mengejutkanku dengan perkara lain. Merasa kasihan dan tak tega, aku pun merogoh saku baju dan mengambil selembar uang di dalamnya:

“Jika begitu ku mohon ambilah ini sebagai hadiah dariku, dan belilah sedikit makanan untuk mengganjal perut yang mulia”, ucapku penuh harap sambil menyodorkan selembar uang itu ke hadapannya.

Ia tersenyum ramah, mata beningnya menatapku lembut dan ia menolak halus pemberianku dengan menggeleng-gelengkan kepalanya, namun aku terus merayu dan memohon agar dia bersedia menerimanya, tetapi putri kecil guru mulia tetap bersikeras untuk tidak menerimanya dan terus mengindahkan tangannya dari tanganku, melihat usahaku tiada henti, dengan polosnya ia berkata:
“Maafkan aku saudaraku, bukannya menolak pemberianmu, dan ingin melukai perasaanmu, akan tetapi ayah mengajarkan kami untuk tidak memberatkan orang lain dan tidak berharap belas kasih manusia selain belas kasih Allah Subhanahu wa Ta’ala, simpanlah uang itu, karena engkau lebih memerlukannya ketimbang aku, lagi pula kalau ayahanda mengetahui pasti beliau tidak akan menyetujuinya”.

Tes tes… ku rasakan air mataku mulai berjatuhan di pipiku, aku memperhatikannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ku lihat kerudungnya nampak kumal, pakaiannya pun terlihat lusuh, ia hanya menggunakan keresek putih untuk alat-alat sekolahnya, kakinya penuh debu tanpa mengenakan sandal, aku terdiam terpaku tak mampu berkata sekalimat pun sampai putri guru mulia berlalu dari hadapanku sambil berlari-lari kecil dengan wajah yang tetap riang.

Aku menelan ludah susah payah, gemetar jiwaku menatap bayangnya yang perlahan menghilang dari pandanganku, hatiku bergetar hebat, pendidikan macam apa ini yang membuat anak sebelia dia memiliki hati sedemikian mulia. Sambil berderai air mata ku segerakan langkahku menuju kamar. Sesampainya di kamar ku membenamkan kepalaku di bantal dan pecah tangisku seketika, bagaimana tidak?
Jiwaku hancur lembur dihantam akhlak mulia sebegitu luhur, benar benar kami ini murid yang tak tau diri, jauh kami merantau dari negara kami hanya demi menimba ilmu serta mengambil keberkahan dari Guru Mulia beserta Sang Istri, malam-malam kami tidur dengan nyenyak, tidak pernah sedikitpun kekurangan air dan makanan, bahkan kami menganggap tempat ini seperti rumah kami sendiri, terkadang kami berbuat semaunya, makan dengan kenyang dan menggunakan kipas angin dan AC sepuasnya, tetapi guru mulia yang mendirikan tempat ini pun merasa tidak memilikinya dan tidak berlaku seenaknya.

Hatiku benar-benar serasa dicambuk rasa malu yang begitu dalam, teramat malu atas ketidaktahuan kami, atas sedikitnya perhatian dan kepedulian kami. Guru mulia beserta keluarga begitu memuliakan para pelajarnya melebihi penghormatan kami kepada beliau. Huhuhu… aku terus saja menangis.

Sampai akhirnya terdengar suara peringatan waktu istirahat segera berakhir. Aku pun menghentikan tangisanku dan menyeka air mata.

Masih dengan mata yang sembab aku bangkit berdiri dan berniat mengambil air wudhu. Saat ku lewati ruang makan Daruzzahro, sungguh ku menyaksikan pemandangan yang kembali sangat membuat hatiku miris. Ku lihat tangan mungil putri mulia memunguti beberapa pecahan roti yang tersisa dari bekas sarapan sebagian pelajar tadi pagi.

Melihatnya aku membuang pandangan karena tak sanggup menyaksikannya. Kejadian tersebut sangat membekas di hatiku sehingga aku merenungkannya selama berhari-hari. Semenjak itu aku jadi jarang ikut makan bersama dengan teman-teman lainnya, kecuali menunggu mereka telah usai semua, dan aku mulai bermujahadah melunturkan kesombongan yang ada di diriku.

Terkadang aku sengaja memakan roti yang sudah kering dan keras yang sudah ku hancurkan sebelumnya, atau memakan bekas-bekas nasi yang akan dibuang,

atau makan bersama kawan tetapi dengan suapan yang terbatas, ketika kenyang hanya 3 suap, jika memang dalam keadaan lapar hanya 9 suap, semua itu sengaja ku lakukan agar diriku yang sangat payah ini dapat merasakan kerasnya menuntut ilmu tanpa memanjakan diri sedikitpun,

terlebih-lebih setiap mengingat kejadian di atas hatiku sangat malu terhadap Sang Guru. Kami hanya seorang murid dan hanya menumpang di tempat ini, harusnya kami yang menjadi pelayan bukannya memanjakan diri terus menerus...

02/03/2016

Kekufuran karena ketiadaan iman

Sedikit bahan bacaan : 

Seorang profesor yang atheis berbicara dalam sebuah kelas.

Profesor : "Apakah Allah menciptakan segala yang ada?"

Para mahasiswa : "Betul ! Dia pencipta segalanya."

Profesor : "Jika Allah menciptakan segalanya, berarti Allah juga menciptakan kejahatan."

(Semua terdiam. Agak kesulitan menjawab hipotesis profesor itu).

Tiba-tiba suara seorang mahasiswa memecah kesunyian.

Mahasiswa : "Prof ! Saya ingin bertanya. Apakah dingin itu ada?"

Profesor : "Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja, dingin itu ada."

Mahasiswa : "Prof ! Dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin sebenarnya adalah ketiadaan panas.

Suhu -460 degree Fahrenheit adalah ketiadaan panas sama sekali. Semua partikel menjadi diam. Tidak dapat bertindak pada suhu tersebut.

Kita menciptakan kata 'dingin' untuk mengungkapkan ketiadaan panas.

Selanjutnya! Apakah gelap itu ada ?"

Profesor : "Tentu saja ada !"

Mahasiswa : "Anda salah lagi Prof ! Gelap juga tidak ada.

Gelap adalah keadaan di mana tiada cahaya. Cahaya dapat kita pelajari. Sedangkan gelap tidak dapat dipelajari

Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk mengurai cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari panjang gelombang setiap warna.

Tapi! Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur melalui berapa besar intensitas cahaya di ruangan itu.

Kata 'gelap' dipakai manusia untuk menggambarkan ketiadaan cahaya.

Jadi! Apakah kejahatan, kemaksiatan itu ada?"

Profesor mulai bimbang tapi menjawab juga : "Tentu saja ada."

Mahasiswa : "Sekali lagi anda salah Prof ! Kejahatan itu tidak ada. Allah tidak menciptakan kejahatan atau kemaksiatan. Seperti dingin dan gelap juga.

Kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk menggambarkan ketiadaan Allah dalam dirinya.

Kejahatan adalah hasil dari tidak hadirnya Allah dalam hati manusia."

Profesor terpaku dan terdiam !

Dosa terjadi karena manusia lupa hadirkan Allah dalam hatinya..

Hadirkan Allah dalam hati pada setiap saat, maka akan selamatlah diri kita ..

Itulah IMAN ...

SESUNGGUHNYA DOSA ITU LAHIR SAAT IMAN TIDAK HADIR DALAM HATI KITA ...