Showing posts with label Tokoh NU. Show all posts
Showing posts with label Tokoh NU. Show all posts

16/09/2016

WARIS

WARIS


Saat ngaji rutinan Senin (12/9/2016), Pengasuh PP Al Muhibbin Bahrul Ulum Tambakberas KH Jamaludin Ahmad sempat menceritakan pentingnya pembagian warisan. ’’Saat Kiai Fattah, mertua saya meninggal, yang sambutan pada peringatan tujuh harinya adalah KH Bisri Syansuri (salah satu pendiri NU dan pendiri Pesantren Mambaul Maarif Denanyar),’’ kata Kiai Jamal.
’’Kiai Fattah ini menantunya Kiai Bisri. Tapi Kiai Fattah meninggal lebih dulu dari pada Kiai Bisri,’’ jelasnya.

’’Saat sambutan tujuh harinya itu, Kiai Bisri memerintahkan keluarga menyelesaikan pembagian warisnya sebelum peringatan 40 hari,’’ paparnya.

Keluarga, kata Kiai Jamal, akhirnya bekerja keras menjalankan amanah tersebut. ’’Tepat 40 harinya, pembagian waris akhirnya selesai,’’ jelasnya. ’’Semuanya diwaris. Sampai-sampai pakaian Kiai Fattah yang masih layak pakai pun diwaris,’’ tambahnya.

Hal itu menunjukkan pentingnya pembagian waris. ’’Kiai Bisri itu ahli fikih, ahli syariah, dan beliau sangat mementingkan pembagian waris. Berarti perkara waris ini sangat penting,’’ tandasnya.

Lalu apa hikmahnya pembagian warisan? Kiai Jamal lantas menceritakan pakdenya yakni KH Shodiq pendiri Pesantren Mambaul Huda Genukwatu Ngoro Jombang.

’’Suatu ketika, saya diajak Kiai Shodiq ziarah makam sahabatnya di Tulungagung,’’ kata Kiai Jamal. Selama di makam, Kiai Shodiq menangis. Kiai Jamal pun bertanya kenapa Kiai Shodiq menangis. ’’Koncoku wis dicepaki kasur sutra permadani, Mal. Wis dicepaki panganan sing uwenak-uwenak. Tapi tangane dibondo (diikat) sehingga tidak bisa ndemok (nyentuh),’’ cerita Kiai Jamal menirukan jawaban Kiai Shodiq. Kiai Shodiq menangis karena kasihan sahabatnya belum bisa menikmati nikmat yang diberikan Allah di taman surga yakni alam barzah.

Selesai dari makam, Kiai Shodiq mengajak Kiai Jamal menemui keluarga temannya tersebut.Kiai Shodiq bertanya apakah warisannya sudah dibagi. ’’Sudah dua tahun meninggal ternyata warisannya belum dibagi,’’ tuturnya. Akhirnya sama Kiai Shodiq diminta mengumpulkan semua anggota keluarga. Untuk diberi tahu cara pembagian warisnya. Pembagian waris pun akhirnya dilakukan.         

Semoga ini mengingatkan kepada keluarga kita yang telah meninggal.

Dan apakah sudah dibagi warisannya???
(Rojiful Mamduh)

11/06/2016

Tanya Jawab Seputar Puasa Romadhon

**EDISI NGAJI KUPING**
1. Mandi Saat Puasa
Pada waktu melaksanakan puasa, siang harinya sangat segar bila kita mandi. Namun diluar kesengajaan, ada air yang masuk ke dalam tubuh melalui lubang telinga, hidung, atau mulut. Tentu saja hal ini menimbulkan kegamangan akan sah atau tidaknya puasa kita.
Pertanyaan: Batal atau tidakkah puasanya orang tersebut?
Jawab: Tidak batal apabila mandinya dengan cara mandi yang wajar/tidak berlebihan. Sedangkan bila mandinya secara berlebihan seperti dengan menyelam, merendamkan tubuh, berkeramas dengan berlebihan, dan lain-lain maka batal puasanya.
Referensi:
شرح المقدمة الحضرمية المسمى بشرى الكريم بشرح مسائل التعليم (ص: 553)
(و) يفطر أيضاً بوصول ما ذكر لجوفه ولو (بغير مبالغة من مضمضة) أو استنشاق؛ (لتبرد أو رابعة) أو من انغماس في الماء حيث تمكن من الغسل بغيره؛ لأن ذلك جميعه غير مأمور به. والقاعدة: أن ما سبق لجوفه من غير مأمور به يفطر به، أومن مأمور به ولو مندوباً لم يفطر به. وأخذ منه أنه لو وصل إلى جوفه من أذنيه في الغسل الواجب أو المندوب ماء .. لم يفطر؛ لتولده من مأمور به، ولا نظر لإمكان إمالة رأسه بحيث لا يدخل الماء جوفه؛ لعسره. وفي (ب ج): (ولو وضع في فمه ماء بلا غرض، فسبقه .. أفطر، أو ابتلعه ناسياً .. لم يضر، أو وضعه فيه كتبرد وعطش فوصل جوفه بغير فعله، أو ابتبعه ناسياً .. لم يفطر، كما قاله شيخنا في "الشرح") اهـ
2. Menggosok Gigi
Sering kita jumpai, ketika seseorang menggosok gigi pada bulan Ramadlan, maka sikat giginya dibasahi dengan air. Hal ini sangat rawan sekali karena sangat mungkin air tersebut tertelan bersama ludah.
Pertanyaan: Apakah hal demikian dapat membatalkan puasa?
Jawab: Dapat membatalkan puasa. Maka dari itu, janganlah menelankan ludah yang sudah tercampur dengan air pada waktu sikat gigi dan setelahnya hingga habis dikeluarkan.
Referensi:
حاشية الجمل على شرح المنهج = فتوحات الوهاب بتوضيح شرح منهج الطلاب (2/ 230)
(قَوْلُهُ: أَوْ مُخْتَلِطًا بِغَيْرِهِ) مِثْلُهُ مَا لَوْ بَلَّ خَيْطًا بِرِيقِهِ وَرَدَّهُ إلَى فَمِهِ كَمَا يُعْتَادُ عِنْدَ الْفَتْلِ، وَعَلَيْهِ رُطُوبَةٌ تَنْفَصِلُ وَابْتَلَعَهَا أَوْ ابْتَلَعَ رِيقَهُ مَخْلُوطًا بِغَيْرِهِ الطَّاهِرِ كَمَنْ فَتَلَ خَيْطًا مَصْبُوغًا تَغَيَّرَ رِيقُهُ بِهِ أَيْ وَلَوْ بِلَوْنٍ أَوْ رِيحٍ فِيمَا يَظْهَرُ مِنْ إطْلَاقِهِمْ إنْ انْفَصَلَتْ عَيْنٌ مِنْهُ لِسُهُولَةِ التَّحَرُّزِ عَنْ ذَلِكَ وَمِثْلُهُ كَمَا فِي الْأَنْوَارِ مَا لَوْ اسْتَاكَ وَقَدْ غَسَلَ السِّوَاكَ وَبَقِيَتْ فِيهِ رُطُوبَةٌ تَنْفَصِلُ وَابْتَلَعَهَا وَخَرَجَ بِذَلِكَ مَا لَوْ لَمْ يَكُنْ عَلَى الْخَيْطِ مَا يَنْفَصِلُ بِفَتْلِهِ أَوْ عَصْرِهِ أَوْ لِجَفَافِهِ فَإِنَّهُ لَا يَضُرُّ اهـ. شَرْحُ م ر
3. Beristinja
Beristinjak harus dilakukan dengan maksimal supaya kotoran dapat benar-benar dibersihkan. Di sisi lain, bagi orang yang berpuasa masuknya jari kerongga dubur dapat membatalkan puasa.
Pertanyaan: Sebatas mana masuknya jari ke rongga dubur dapat membatalkan puasa?
Jawab: Adalah ketika jari-jari masuk ke bagian dalam anus. Dan jika hanya menyentuh permukaan anus, maka tidak membatalkan puasa.
Referensi:
الفتاوى الفقهية الكبرى (2/ 74)
وَمُلَخَّص عِبَارَتِهِ يَنْبَغِي لِلصَّائِمِ حِفْظُ أُصْبُعِهِ حَالَ الِاسْتِنْجَاء من مُسَرِّبَتِهِ فإنه لو دخل فيه أَدْنَى شَيْءٍ من رَأْسِ أُنْمُلَتِهِ بَطُلَ صَوْمُهُ قال السُّبْكِيّ وهو ظَاهِرٌ إنْ وَصَلَ لِلْمَكَانِ الْمُجَوَّفِ أَمَّا أَوَّل الْمُسَرِّبَةِ الْمُنْطَبِقِ فإنه لَا يُسَمَّى جَوْفًا فَلَا فِطْرَ بِالْوُصُولِ إلَيْهِ ا هـ
4. Infus, Suntik, Tetes Mata
Karena sedang sakit, meskipun sedang menjalankan puasa Ramadlan, bang Heru berusaha mengobati penyakitnya dengan disuntik, diinfus, dan tetes mata.
Pertanyaan: Batalkah puasa bang Heru?
Jawab: Tidak batal puasanya. Karena cairan yang masuk melalui suntikan, infuse, dan tetes mata hanya melewati pori pori yang tidak tembus ke rongga dalam. Berbeda dengan sesuatu yang masuk lewat hidung, telinga, kemaluan, dan mulut.
Referensi:
شرح المقدمة الحضرمية المسمى بشرى الكريم بشرح مسائل التعليم ( ج: 2ص: 68)
(الرابع: الإمساك عن دخول عين) من أعيان الدنيا وإن قلت ولم تؤكل كحجر، فيفطر بإدخاله لها، وبدخولها بنفسها مع تمكنه من دفعها (جوفاً) له وإن لم تكن فيه قوة تحيل الغذاء أو الدواء. (كباطن الأذن) وهو ما وراء المنطبق، وباطن الأنف، وهو ما وراء القصبة جميعها.
(و) باطن (الإحليل) وهو مخرج البول من الذكر، ومخرج اللبن من الثدي، وباطنه ما لا يظهر عند تحريكه، وكخريطة الدماغ من مأمومة وإن لم يصل باطنها أو جوف من نحو طعنه من نفسه أو غيره بإذنه وإن لم تصل الأمعاء.قال (سم): ويفطر بمجاوزة ما يظهر من رأس الذكر والدبر، لكنه في الدبر بشرط أن يصل إلى محل المجوف، بخلاف أول المسربه، فلا يسمى جوفاً.
5. Kondisi Flu
Seseorang yang sedang terserang penyakit flu, biasanya disertai dengan hidung tersumbat akibat dahak atau batuk berdahak. Dan sering sekali dahak tersebut ditelan kembali.
Pertanyaan: Apakah dengan menelan kembali dahak tersebut dapat membatalkan puasa?
Jawab: Diperinci sebagai berikut:
- Batal puasanya jika dahaknya bisa dikeluarkan.
- Tidak batal puasanya jika dahaknya memang tidak bisa dikeluarkan.
Referensi:
كفاية الأخيار في حل غاية الاختصار (ص: 205)
وَلَو نزلت نخامة مت رَأسه وَصَارَت فَوق الْحُلْقُوم نظر إِن لم يقدر على إخْرَاجهَا ثمَّ نزلت إِلَى الْجوف لم يفْطر وَإِن قدر على إخْرَاجهَا وَتركهَا حَتَّى نزلت بِنَفسِهَا أفطر أَيْضا لتَقْصِيره
6. Pekerja Berat
Pertanyaan: Apakah pekerja berat seperti kuli bangunan boleh membatalkan puasanya?
Jawab: Bagi pekerja berat harus melaksanakan niat puasa pada malam harinya. Dan sewaktu bekerja tersebut dia mengalami keadaan yang membahayakan kondisi badannya jika dia meneruskan puasanya, maka boleh membatalkan puasanya serta harus mengqodlo’nya di lain waktu.
Referensi:
شرح المقدمة الحضرمية المسمى بشرى الكريم بشرح مسائل التعليم (ج:2 ص: 72)
ويلزم أهل العمل المشق في رمضان كالحصادين ونحوهم تبييت النية، ثم مَنْ لحقه منهم مشقة شديدة .. أفطر، وإلا .. فلا. ولا فرق بين الأجير والغني وغيره، والمتبرع وإن وجد غيره وتأتى لهم العمل ليلاً، كما قاله الشرقاوي
7. Berpergian
Pertanyaan: Bagi orang yang sedang berpuasa dan ingin bepergian jauh, bolehkah dia membatalkan puasanya padahal ia berangkat setelah keluarnya fajar?
Jawab: tidak diperbolehkan membatalkan puasa kecuali bila dia mengalami sakit. Hal ini karena syarat diperbolehkannya tidak berpuasa bagi orang yang bepergian jauh adalah berangkatnya sebelum keluar fajar. Namun menurut Imam Muzanni, bagi musafir diperbolehkan tidak berpuasa meskipun berangkat setelah keluarnya fajar.
Referensi:
سلم التوفيق ص: 43
فلو أصبح مقيما ثم سافر فلا يفطرلأنه عبادة اجتمع فيها السفر والحضر فغلبنا الحضر وقال المزنى يجوزله الفطر لأن السبب المرخص موجود اهـ.
8. Mencicipi Makanan
Pertanyaan: Ketika sedang berpuasa, bolehkah mencicipi masakan?
Jawab: Boleh, asalkan jangan sampai menelannya.
Referensi:
تحفة المحتاج في شرح المنهاج وحواشي الشرواني والعبادي (3/ 425)
(وَ) يُسَنُّ (أَنْ يَحْتَرِزَ عَنْ الْحِجَامَةِ) وَالْفَصْدِ لِمَا مَرَّ فِيهِمَا (وَ) عَنْ (الْقُبْلَةِ) الْمَكْرُوهَةِ لِمَا مَرَّ فِيهَا بِتَفْصِيلِهَا وَأَعَادَهَا هُنَا اعْتِنَاءً بِشَأْنِهَا لِكَثْرَةِ الِابْتِلَاءِ بِهَا (وَ) عَنْ (ذَوْقِ الطَّعَامِ) وَغَيْرِهِ بَلْ يُكْرَهُ خَوْفًا مِنْ وُصُولِهِ إلَى حَلْقِهِ (وَ) عَنْ (الْعَلْكِ) بِفَتْحِ الْعَيْنِ بَلْ يُكْرَهُ أَيْضًا؛ لِأَنَّهُ يُعَطِّشُ وَيُفْطِرُ عَلَى قَوْلٍ أَمَّا بِكَسْرِهَا فَهُوَ الْمُعْلُوك وَتَصِحُّ إرَادَتُهُ لَكِنْ بِتَقْدِيرِ مَضْغٍ وَالْكَلَامُ فِي عَلْكٍ لَمْ تَنْفَصِلْ مِنْهُ عَيْنٌ بِأَنْ مُضِغَ قَبْلَ ذَلِكَ حَتَّى ذَهَبَتْ رُطُوبَتُهُ أَوْ مُضِغَ وَفِيهِ عَيْنٌ لَكِنْ لَمْ يَبْتَلِعْ مِنْ رِيقِهِ الْمَخْلُوطِ شَيْئًا.
9. Berjualan Makanan di saat Berpuasa
“Demi kebutuhan hidup” seringkali dijadikan alasan untuk membenarkan semua tindakan. Sudah tahu sedang bulan Ramadlan, masih saja ada yang buka warung jual makanan di siang hari.
Pertanyaan: Bagaimana hukumnya buka warung jual makanan di siang hari pada bulan Ramadlan?
Jawab: Tidak diperbolehkan, karena pemilik warung dan pembelinya telah bekerjasama dalam hal kemaksiatan.
إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين (3/ 29)
(قوله: بيع نحو عنب) أي كرطب. وقوله: ممن علم إلخ.من: بمعنى على، متعلقة ببيع. ومن: واقعة على المشتري، وفاعل علم وظن يعود على البائع، فالصلة جرت على غير من هي له - أي حرم بيع ما ذكر على من علم البائع أو ظن أنه يتخذه مسكر -.قال سم: ولو كافرا، لحرمة ذلك عليه، وإن كنا لا نتعرض له بشرطه. وهل يحرم نحو الزبيب لحنفي يتخذه مسكرا - كما هو قضية إطلاق العبارة - أولا، لأنه يعتقد حل النبيذ بشرطه؟ فيه نظر، ويتجه الأول، نظرا لاعتقاد البائع. وإنما حرم ما ذكر لأنه سبب لمعصية محققة أو مظنونة.
Wallohu a'lam bisshowab.....
Semoga bermanfaat......
(Dr.Badrussalam Sof, Lc.MA)

AZAB NARKOBA

AZAB NARKOBA

Saat zikir akbar dan salawat sambut Ramadan di Masjid Agung Baitul Mukminin Kamis (2/6/2016), Ketua Rijalul Ansor GP Ansor Jombang, Gus Latif Malik menyampaikan bahwa dia yakin bacaan-bacaan salawat yang dikumandangan bisa menyelamatkan Jombang dari azab.

"Sebab Allah berjanji tidak akan mengazab suatu kaum, jika kaum itu masih mau mengucapkan salawat untuk Nabi Muhammad sallahu alaihi wa salam," ucap pengasuh PP Al-Muhajirin III Bahrul Ulum Tambkberas ini lantas mengutip ayat Wama kanallahu liyuazzibahum wa anta fihim. Wama kanallahu muazzibahum wa hum yastagfirun.. Allah tidak akan menyiksa mereka (kaum) selama kamu (Muhammad) ada di tengah mereka. Dan Allah tidak akan mengazab mereka, sementara mereka memohon ampun.” (QS. al-Anfal: 33).

Sebelumnya, saat peringatan Isro Mikroj di tempat yang sama, Jumat (6/5/2016), Wabup Hj Mundjidah Wahab meminta agar KH Husein Ilyas memberikan tausiah terkait upaya memberantas narkoba. Sebab pada 2014, Jombang masuk peringkat 10 besar peredaran narkoba terbanyak di Jatim. Pada 2015, tingkat peredarannya semakin besar. Sehingga Jombang menjadi peringkat lima.

Saat tausiah, KH Husein Ilyas Mojokerto justru memaparkan fadilah salawat. "Kalau di Jombang banyak yang baca salawat, pasti narkoba akan hilang sendiri," tuturnya.

Untuk itulah, Ketua Takmir Masjid Agung Baitul Mukminin Jombang, H Baidlowi Saleh, mempersilahkan siapapun mengadakan salawatan di masjid Alun-alun.

"Siapapun dan dari kelompok manapun, kalau mau mengadakan salawatan di masjid agung pasti kami persilahkan," tegasnya.  

Allahumma solli wa sallim wa barik ala sayyidina Muhammad wa ala alihi wasohbihi ajmain..

Ya Allah, mudah-mudahan semua Anggota grup ini, beserta keluarganya, leluhurnya dan keturunannya, Panjenengan paringi rahmad, keselamatan dan barokah, seperti rahmad, keselamatan dan barokah yg Engkau berikan kepada Nabi Muhammad beserta keluarga dan sahabatnya..

(Rojiful Mamduh)

MENGUAK RAHASIA MUHAMMADIYAH SELALU NAMPAK BEDA DENGAN NAHDLATUL ULAMA (NU)

السلام عليكم

*MENGUAK RAHASIA MUHAMMADIYAH SELALU NAMPAK BEDA DENGAN NAHDLATUL ULAMA (NU)*

KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari itu sekawan, sama-sama menunut ilmu agama di Arab Saudi. Sama-sama ahli hadits dan sama-sama ahli fikih. Saat hendak pulang ke tanah air, keduanya membuat kesepakatan menyebarkan Islam menurut skil dan lingkungan masing-masing. Kiai Ahmad bergerak di bidang dakwah dan pendidikan perkotaan, karena berasal dari Kuto Ngayogyokarto. Sementara Kiai Hasyim memilih pendidikan pesantren karena wong ndeso, Jombang. Keduanya adalah orang hebat, ikhlas dan mulia.
Keduanya memperjuangkan kemerdekaan negeri ini dengan cara melandasi anak bangsa dengan pendidikan dan agama. Kiai Ahmad mendirikan organisasi Muhammadiyah dan Kiai Hasyim mendirikan Nahdlatul Ulama (NU). Saat beliau berdua masih hidup, tata ibadah yang diamalkan di masyarakat umumnya sama meski ada perbedaan yang sama sekali tidak mengganggu. Contoh kesamaan praktek ibadah kala itu antara lain:
1. Shalat Tarawih sama-sama 20 rakaat. Kiai Ahmad Dahlan sendiri disebut-sebut sebagai imam shalat Tarawih 20 rakaat di Masjid Syuhada Yogya.
2. Talqin mayit di kuburan, bahkan ziarah kubur dan kirim doa dalam Yasinan dan tahlilan.
3. Baca doa Qunut Shubuh.
4. Sama-sama gemar membaca shalawat (Diba’an).
5. Dua kali khutbah dalam shalat Ied, Iedul Fithri dan Iedul Adha.
6. Tiga kali takbir, “Allah Akbar”, dalam takbiran.
7. Kalimat iqamah (qad qamat ash-shalat) diulang dua kali.
8. Dan yang paling monumental adalah itsbat hilal, sama-sama pakai rukyah. Yang terakhir inilah yang menarik direnungkan, bukan dihakimi mana yang benar dan mana yang salah.
Semua amaliah tersebut di atas berjalan puluhan tahun dengan damai dan nikmat. Semuanya tertulis dalam kitab Fiqih Muhammadiyah yang terdiri dari 3 jilid, yang diterbitkan oleh: Muhammadiyah Bagian Taman Pustaka Jogjakarta, tahun 1343-an H. Namun ketika Muhammadiyah membentuk Majlis Tarjih, di sinilah mulai ada penataan praktek ibadah yang rupanya “harus beda” dengan apa yang sudah mapan dan digariskan oleh pendahulunya. Otomatis berbeda pula dengan pola ibadahnya kaum Nahdhiyyin. Perkara dalail (dalil-dalil), nanti difikir bareng dan dicari-carikan.
Disinyalir, tampil beda itu lebih dipengaruhi politik ketimbang karena keshahihan hujjah atau afdhaliah ibadah. Untuk ini, ada sebuah tesis yang meneliti hadits-hadits yang dijadikan rujukan Majlis Tarjih Muhammadiyah dalam menetapkan hukum atau pola ibadah yang dipilih.
Setelah uji takhrij berstandar mutawassith, kesimpulannya adalah: bahwa mayoritas hadits-hadits yang dipakai hujjah Majlis Tarjih adalah dha’if. Itu belum dinaikkan pakai uji takhrij berstandar mutasyaddid versi Ibn Ma’in. Hal mana, menurut mayoritas al-Muhadditsin, hadis dha’if tidak boleh dijadikan hujjah hukum, tapi ditoleransi sebagai dasar amaliah berfadhilah atau fadhail al-a’mal. Tahun 1995an, Penulis masih sempat membaca tesis itu di perpustakaan Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Soal dalil yang dicari-carikan kemudian tentu berefek pada perubahan praktek ibadah di masyarakat, kalau tidak disebut sebagai membingungkan. Contoh, ketika Majlis Tarjih memutuskan jumlah rakaat shalat Tarawih 8 plus 3 witir, bagaimana prakteknya?
Awal-awal instruksi itu, pakai komposisi: 4, 4, 3. Empat rakaat satu salam, empat rakaat satu salam. Ini untuk Tarawih. Dan tiga rakaat untuk Witir. Model Witir tiga sekaligus ini versi madzhab Hanafi. Sementara wong NU pakai dua-dua semua dan ditutup satu Witir. Ini versi asy-Syafi’i.
Tapi pada tahun 1987, praktek shalat Tarawih empat-empat itu diubah menjadi dua-dua. Hal tersebut atas seruan KH. Shidiq Abbas Jombang ketika halaqah di Masjid al-Falah Surabaya. Beliau tampilkan hadits dari Shahih Muslim yang meriwayatkan begitu. Karena, kualitas hadits Muslim lebih shahih ketimbang hadits empat-empat, maka semua peserta tunduk. Akibatnya, tahun itu ada selebaran keputusan Majlis Tarjih yang diedarkan ke semua masjid dan mushalla di lingkungan Muhammadiyah, bahwa praktik shalat Tarawih pakai komposisi dua-dua, hingga sekarang, meski sebagian masih ada yang tetap bertahan pada empat-empat. Inilah fakta sejarah.
Kini soal itsbat hilal pakai rukyah. Tolong, lapangkan dada sejenak, jangan emosi dan jangan dibantah kecuali ada bukti kuat. Semua ahli falak, apalagi dari Muhammadiyah pasti mengerti dan masih ingat bahwa Muhammadiyah dulu dalam penetapan hilal selalu pakai rukyah bahkan dengan derajat cukup tinggi. Hal itu berlangsung hingga era orde baru pimpinan Pak Harto. Karena orang-orang Muhammdiyah menguasai Departemen Agama, maka tetap bertahan pada rukyah derajat tinggi, tiga derajat ke atas dan sama sekali menolak hilal dua derajat. Dan inilah yang selalu dipakai pemerintah. Sementara ahli falak Nadhliyyin juga sama menggunakan rukyah tapi menerima dua derajat sebagai sudah bisa dirukyah. Dalil mereka sama, pakai hadits rukyah dan ikmal.
Oleh karena itu, tahun 90-an, tiga kali berturut-turut orang NU lebaran duluan karena hilal dua derajat nyata-nyata sudah bisa dirukyah, sementara Pemerintah-Muhammadiyah tidak menerima karena standar yang dipakai adalah hilal tinggi dan harus ikmal atau istikmal. Ada lima titik atau lebih tim rukyah gabungan menyatakan hilal terukyah, tapi tidak diterima oleh Departemen Agama, meski pengadilan setempat sudah menyumpah dan melaporkan ke Jakarta. Itulah perbedaan standar derajat hilal antara Muhammadiyah dan NU. Masing-masing bertahan pada pendiriannya.
Setelah pak Harto lengser dan Gus Dur menjadi presiden, orang-orang Muhammadiyah berpikir cerdas dan tidak mau dipermalukan di hadapan publiknya sendiri. Artinya, jika masih pakai standar hilal tinggi, sementara mereka tidak lagi menguasai pemeritahan, pastilah akan lebaran belakangan terus. Dan itu berarti lagi-lagi kalah start dan kalah cerdas. Maka segera mengubah mindset dan pola pikir soal itsbat hilal. Mereka tampil radikal dan meninggalkan cara rukyah berderajat tinggi. Tapi tak menerima hilal derajat, karena sama dengan NU.
Lalu membuat metode “wujud al-hilal”. Artinya, pokoknya hilal menurut ilmu hisab atau astronomi sudah muncul di atas ufuk, seberapapun derajatnya, nol koma sekalipun, sudah dianggap hilal penuh atau tanggal satu. Maka tak butuh rukyah-rukyahan seperti dulu, apalagi tim rukyah yang diback up pemerintah. Hadits yang dulu dielu-elukan, ayat al-Quran berisikan seruan “taat kepada Allah, RasulNya dan Ulil Amri” dibuang dan alergi didengar. Lalu dicari-carikan dalil baru sesuai dengan selera.
Populerkah metode “wujud al-hilal” dalam tradisi keilmuwan falak? Sama sekali tidak, baik ulama dulu maupun sekarang.
Di sini, Muhammdiyah membuat beda lagi dengan NU. Kalau dulu, Muhammadiyah hilal harus derajat tinggi untuk bisa dirukyah, hal mana pasti melahirkan beda keputusan dengan NU, kini membuang derajat-derajatan secara total dan tak perlu rukyah-rukyahan. Menukik lebih tajam, yang penting hilal sudah muncul berapapun derajatnya. Sementara NU tetap pada standar rukyah, meski derajat dua atau kurang sedikit. Tentu saja beda lagi dengan NU. Maka, selamanya takkan bisa disatukan, karena sengaja harus tampil beda. Dan itu sah-sah saja.
Dilihat dari fakta sejarah, pembaca bisa menilai sendiri sesungguhnya siapa yang sengaja membuat beda, sengaja tidak mau dipersatukan, siapa biang persoalan di kalangan umat?
Menyikapi lebaran dua versi, warga Muhammadiyah pasti bisa tenang karena sudah biasa diombang-ambingkan dengan perubahan pemikiran pimpinannya. Persoalannya, apakah sikap, ulah atau komentar mereka bisa menenangkan orang lain?
Perkara dalil nash atau logika, ilmu falak klasik atau neutik, rubu’ atau teropong modern sama-sama punya. Justeru, bila dalil-dalil itu dicari-cari belakangan dan dipaksakan, sungguh mudah sekali dipatahkan.
Hebatnya, semua ilmuwan Muhammadiyah yang akademis dan katanya kritis-kritis itu bungkam dan tunduk semua kepada keputusan Majlis Tarjih. Tidak ada yang mengkritik, padahal kelemahan akademik pasti ada.
(Diedit ulang dari tulisan Ust Sulaiman Timun Mas).

Semoga bermanfaat,
الفقير مسدوقي
والسلام عليكم

29/05/2016

ENTERPRENEUR

ENTERPRENEUR

Saat ngancani Mas Rijal ngantar undangan rapat ekspedisi Islam nusantara Senin (11/4/2016), di Tebuireng kebetulan diterima beberapa orang  termasuk Pak Lukman, mantan Lurah pondok Tebuireng..

Pak Lukman cerita, suatu ketika dia pernah protes kepada Kiai Syamsuri, gurunya di Pesantren Tebuireng.

"Kiai, Senin dan Kamis itu kan hari baik. Tapi kenapa di Tebuireng justru ngajinya libur pada dua hari itu?" tanya Pak Lukman pada Kiai Syamsuri.

Jawaban Kiai Syamsuri ternyata diluar dugaan.

"Husss. Sejak jaman Mbah Hasyim biyen ngajine iku libur Senin dan Kamis. Karena setiap Senin dan Kamis Mbah Hasyim itu keluar untuk dagang," kata Pak Lukman menirukan jawaban Kiai Syamsuri..

"Makanya sejak itu saya bertekad untuk dagang. Karena Mbah Hasyim sendiri ternyata juga dagang," komentarnya.

Sejak masih santri, dia pun mulai menjual kain dan pakaian. Baik kepada santri maupun kepada orang luar.

Saat ini, Pak Lukman memiliki toko pakaian An-Nur..

"Sampai sekarang, disini santri libur ngaji tiap Senin dan Kamis," sambung Gus Ghofar, Sekretaris Pesantren Tebuireng.

Dengar itu, saya baru paham kenapa guru ngaji saya di kampung, alm KH Sahlan, Katerban, Pulorejo, Ngoro, Jombang, selalu meliburkan ngaji tiap Senin dan Kamis..

Kepada Kiai Sahlan yang telah membelikan kitab2 kemudian mengajarkannya dg sorogan kepadaku, mulai Quran, sulam safinah&taufik, takrib, bidayatul hidayah, tafsir Al Ibris, tafsir Yasin Hamami, Diba, Barzanji, manakib, dll, tersebut,

Semoga Allah memberikan nikmat di kuburnya, memudahkan hisabnya, dan memasukknnya ke surga..

Serta ilmunya bermanfaat bagi kita semua..

Allahummagfir warham ummata Sayyidina Muhammad sollallahu alaihi wasallam..

26/05/2016

HUBBINNABI

HUBBINNABI
 
Saat ngaji dalam Diba Kubro Kecamatan Jombang di Jagalan Sabtu (6/5/2016), KH Fatkhurahman (Gus Tuk) Kepuh Kembeng menceritakan bahwa suatu ketika ada kekasih Allah yang sedang menyendiri di gunung. Kemudian di datangi  burung besar. Burung itu mengeluarkan kepala manusia, tangan, kaki hingga semua bagian tubuh manusia.
 
Setelah di luar, tubuh manusia itu kembali ke bentuk asal sebagai manusia utuh. Lalu dipatok burung itu lagi mulai kepalanya, hingga semua bagian tubuhnya habis. Setelah tertelan semuanya, dimuntahkan lagi seperti semula. Setelah itu ditelan lagi, utuh, kemudian di makan lagi. Demikian terus beberapa kali.
 
Orang itu lantas tanya kepada burung tersebut. Siapa orang yang di makan kemudian di muntahkan lalu di makan dan dimuntahkan berulang kali itu.
 
Si burung menjawab, orang itu adalah Abdurahman ibnu Muljam, orang Khowarij yang membunuh Sayyidina Ali. Dia rajin puasa di siang hari, dia hapal Quran dan banyak membaca Quran setiap hari. Setiap malam, dia menghabiskan waktunya untuk shalat malam hingga bengkak kakinya dan gosong jidatnya.
 
’’Namun tak ada cinta kepada Nabi dan ahli bait di hatinya,’’ kata Gus Tuk.
Padahal dalam sejumlah hadist disebutkan bahwa salah satu syarat untuk merasakan manisnya iman adalah mencintai Allah dan Nabi melebihi cinta kepada siapapun.
 
Jangankan Sayyidina Ali dan para kiai sekarang, Nabi pun oleh orang Khowarij dianggap salah.
Pendiri Khowarij, Khowarij Dzul Khuwaishiroh At Tamimi pernah mengatakan kepada Rasulullah SAW –yang ketika itu beliau sedang membagikan harta rampasan perang-, “berlaku adil lah wahai Rasulullah!”. Maka Rasulullah SAW menjawab, “celaka engkau, siapa lagi yang akan berlaku adil kalau aku tidak berlaku adil”.

Melihat hal tersebut, Umar bin Khattab berkata, “biarkan saya membunuhnya wahai Rasulullah”. Rasulullah SAW berkata, “biarkan dia! Sesungguhnya dia memiliki pengikut yang sholat kalian terasa remeh dibandingkan sholatnya. Puasa kalian terasa remeh dibandingkan dengan puasanya. Mereka terlepas dari agama sebagaimana anak panah terlepas dari busurnya……” (HR. Muslim, (2/743 dan 744)

Ciri utama Khowarij adalah menyalahkan pemimpin dan menyalahkan kiai/ulama yang punya pengikut.

Sedangkan ciri  ahlussunnah adalah adanya  cinta kepada Nabi, para sahabat, dan para ulama/kiai pewaris ilmu Nabi.
 
’’Manifestasi cinta kita kepada Nabi itu setidaknya tercermin dalam tiga hal,’’ kata Gus Tuk.
 
Pertama yakni rojuna minhu syafaatah. Kita mengharapkan syafaat Nabi di dunia dan akhirat.
Kedua, mustaquna ila rukya jamalih. Rindu melihat Nabi.
Ketiga, wisolahu wa Manama. Kita ingin bertemu Nabi, walaupun toh pertemuan itu dalam mimpi sekalipun.
 
Rindu kami padamu ya Rosul, rindu yang tak terperi..
 
Lalu bagaimana menyemaikan cinta Rosul itu kepada anak-anak? Ya ajak salawatan. Ajak kumpul ulama. Ajak ikut kegiatan NU. Masukkan ke sekolah yang ngajarkan agama dan cinta Nabi..
 
#AyoMondok   

24/05/2016

Wong Kang Soleh Kumpulono

ULAMA

Saat tausiah dalam pertemuan pengurus ranting NU Desa Candimulyo Kecamatan Jombang di rumah Pak Rojif Nglundo Utara Selasa Legi (26/4/2016), Ketua Ranting H  Muklas menuturkan bahwa memuliakan atau mengunjungi ulama itu seperti memuliakan dan mengunjungi Nabi. Siapa yang memuliakan Nabi, akan dimuliakan Allah. Siapa yang dimuliakan Allah, akan masuk surga.
 
’’Kita di NU ini niat ikut ulama, niat kumpul ulama, niat memuliakan ulama. Sebab ulama niku pewarise kanjeng Nabi,’’ ucapnya. Apalagi pendiri NU KH Hasyim Asy’ari dawuh, siapa saja yang mengurusi NU akan dianggap santrinya. ’’Kalau sudah jadi santri Mbah Hasyim, akan didoakan khusnul khotimah,’’ paparnya.
 
Rois Syuriah Ranting NU, KH Mulyono, menambahkan, orang yang bahagia itu memiliki empat tanda. Pertama, istrinya solehah. Istri solehah itu tandane, kalau dipandang menyenangkan. Kalau disuruh mau taat, kalau ditinggal bisa menjaga harta dan harga dirinya. (Menurutku perlu ditambahi satu lagi, kalau dipegang bisa membangkitkan tegangan.. hehehe).
 
Kedua, tanda bahagia itu anak keturunannya apik-apik. Untuk ini orang tua perlu banyak berdoa, tirakat dan meridloi anak. Wali Kota Mojokerto KH Mas’ud Yunus pernah menyarankan agar tiap anak usai shalat dikirimi satu fatihah. Saat sampai ayat iyyaka na’budu wa iyyaka nastain, dibaleni 11 kali sambil mbatin doa untuk si anak.
 
Ketiga, tanda bahagia itu rezekinya di daerah/negaranya sendiri. Masio di daerah/negara orang lain, tapi kalau istri dan anak diajak, insya Allah juga tetap bahagia.  
 
’’Keempat, tandane bahagia niku kalau yang digumbuli tiyang soleh,’’ tuturnya. Lha aktif di NU itu, niatnya adalah golek gumbulan wong sing soleh. Kalau gumbulane orang soleh, akan saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran.
 
’’Kalau gumbul orang soleh, ngomong sak omong pasti yang dibahas ilmu. Ilmu itulah yang akan ngangkat derajat kita dan membuat kita semakin baik,’’ tuturnya.
 
Namun ada lima hal yang membuat kita sulit jadi orang soleh. ’’Yoiku qonaah bil jahli alias neriman jadi orang bodoh tegese orang gelem ngaji. Lalu rakus dengan dunia. Ketiga, pelit mensedekahkan hartanya. Keempat amal dengan maksud riya atau pamer. Serta yang kelima ujub atau membanggakan dirinya sendiri,’’ paparnya.

(Rojiful Mamduh)

21/05/2016

Kisah Kyai Hamid Pasuruan

Kisah Kyai Hamid Pasuruan
                                  
Ada sebuah kisah, Kyai Hamid Pasuruan pernah disedekahi seorang tamu 100 ribu (mungkin sekarang bernilai 1 jutaan), lalu beliau bilang "alhamdulillah" dan diterima. Tapi menjelang dhuhur beliau lalu masuk ke ndalem beliau lgsg memanggil Suud seorang khodam abdi ndalem dan meminta diambilkan panci dengan diisi sedikit air dan kain lap. Setelah itu beliau menyerahkan uang sedekah tadi kepada Suud dan disuruh memasukkan panci. "Yai, lak teles mangke artone?" (yai ntar basah?) , "Wis talah, diutus yai kok ngunu?" (Sudahlah kamu ini di suruh yai kok gitu) Tanpa pikir panjang Suud lgsg memasukkan uang kertas 1000 rupiahan yang tebal itu ke dlm panci dan langsung basah. "Wis saiki tutupen ambek dibuntel lap" (sekarang tutuplah dengan kain) "Sampun yai" (sudah yai) "Nek ngunu wis selehno nduwur mejo pawon. Mengko bada sholat dhuhur buru bukaen, terus matur yai yo (Kalo gitu, taruh saja di atas meja dapur, nanti selepas sholat dzuhur segera buka dan laporkan ke saya).." Setelah sholat dhuhur, Suud pun bergegas ke dapur lalu membuka bungkusan panci berisi uang tadi. Tapi alangkah terkejutnya Suud krn air berisi uang banyak tadi berbau sangat busuk seperti telur kuwok (busuk) dan uangnya sudah tidak bentuk uang. Lalu bergegaslah Suud menemui Kyai Hamid "Yai .." sambil terbata-bata dan belum selesai ngomong .. "Wis suud, buangen ae isine panci iku. Sing penting weruho, yo ngunu iku rupane duit harom yen dipangan menungso ndek njero awak, ndadekno penyakit lan mudhorot ndunyo akherat" (Sudahlah suud, buang saja isi panci itu, yang penting supaya kamu tahu kalau seperti itulah rupanya uang haram jika dimakan dalam perut, menyebabkan penyakit dan bahaya duni akhirat) "Ya Allah .." "Mamulo, mengko yen wis nyambut gawe goleko barang sing halal yo. Senajan sethithik nanging halal iso ngepenakne awak ndunyo akherat"(maka dari itu nanti kalau kamu sudah bekerja carilah barang yang halal, meskipun sedikit tetapi akan mendatangkan ketenangan dunia akhirat) "Injeh yai .." (Iya yai). Wallahu A’lam. Semoga kita dijauhkan dari harta yang haram dan dilimpahi harta halal yang barokah.amin

SALAM UKHUWAH

M.Ansori, Sang Qori' Nan Merdu

M.Ansori, Sang Qori' Nan Merdu

M Ansori, 24, peserta pelatihan Alquran braille saat qiroah dalam pembukaan di Pesantren Darul Ulum, Rejoso, kemarin (17/5).
 
M Ansori, Tuna Netra yang Mahir Qiroah
Diajari Ngaji Ayah, Tak Mampu Beli Alquran Braille
 
Mata yang buta bukan penghalang untuk membaca Alquran. Banyak tuna netra yang justru mampu membaca Alquran dengan tangan dan hati. Sebagaimana pria satu ini yang mampu qiroah dengan suara merdu walaupun terlahir buta.

Sembari meraba Alquran Braille dengan tangan kanan, suara merdu mengalun memenuhi seisi ruangan.  Lagu bayati dan soba yang dibawakan dengan nada rendah seakan mengetuk hati setiap orang yang mendengarkan. ’’Yang saya baca tadi QS Al-Ahzab ayat 21-22,’’ kata M Ansori, 24, saat ditemui usai qiroah dalam pelatihan Alquran Braille yang digelar persatuan tuna netra (Pertuni) Jombang bekerjasama dengan  Yayasan Makfufin Jakarta di Pesantren Darul Ulum, Rejoso, kemarin (17/5). Pelatihan diadakan hingga Sabtu (21/5)
Pelatihan tersebut diikuti 19 peserta dari Jombang dan Probolinggo. ’’Saya dari Kraksaaan Probolinggo,’’ kata M Ansori.
Dia mengaku buta sejak lahir. ’’Saya belajar membaca Alquran dari bapak mulai usia 12 tahun,’’ ucapnya. Setiap usai maghrib, bapaknya selalu membacakan tiga ayat. Diulangi tiga sampai empat kali. ’’Alhamdulillah saya   bisa langsung hapal,’’ bebernya. Yang pertama diajarkan bapaknya yakni juz 30. Setelah itu Yasin, Waqiah, Ar-Rohman, Lukman, A-Rum dan Al-Ahzab.
’’Untuk menjaga hapalan, saya biasanya mengulang bakda Subuh,’’ ucap cowok yang baru lulus SMP Luar Biasa ini.
Untuk qiroah, dia mengaku belajar saat nyantri di Pesantren Zahrotul Islam Dringgu Probolinggo. ’’Saya mondok selama tiga tahun,’’ bebernya.
Sebelum belajar qiroah, dia diharuskan menghapal  dulu ayat-ayat yang hendak dibaca dengan naghom bayati, soba, sika, nahawan, hijaz, rosta dan lain-lain. Setelah hapal, baru dilatih melagukan. ’’Kalau tidak hapal, sulit bisa melagukan,’’ jelasnya.
Selama ini, Ansori mengaku sering diundang qiroah. Baik itu untuk acara khitanan, pernikahan maupun hajatan yang lain. ’’Alhamdulillah, akhirnya rezeki selalu ada,’’ ungkapnya.
Dia juga beberapa kali tampil dalam MTQ. Pada 2014, dia juara tiga MTQ tuna netra di Malang. Dia tampil di cabang tilawah.
Saat mondok, dia juga sempat juara satu dalam MTQ se-Kecamatan Dringgu, Probolinggo. Kala itu, MTQ diikuti oleh peserta umum.
Selain qiroah, saat ini dia juga aktif sebagai vokalis grup salawat Subbanul Muslimin Pesantren Nurul Qodim Paiton.
Untuk Alquran Braille, dia mengaku baru belajar tiga tahun, sejak 2013. ’’Alquran Braille mahal. Jadi baru bisa punya setelah mengajukan ke Yayasan Roudlotul Makfufin Jakarta,’’ beber cowok yang bercita-cita jadi guru SLB ini.
 Satu set Alquran braile seharga Rp 1,7 juta.  Tiap juz-nya setebal Alquran biasa dengan panjang dan lebar 40 cmx30 cm. Sehingga satu set yang berisi 30 juz bisa memenuhi satu lemari.

(Rojif)

20/05/2016

KEBO BINGUNG

KEBO BINGUNG

Kapan hari paling favorit untuk menikah? Di Jombang, hari itu jatuh pada malam 29 Ramadan.

Di satu kecamatan saja, pada malam itu bisa berlangsung puluhan akad nikah.

"Malam 29 Ramadan tahun 2014, di Tembelang ada 85 pasang yang nikah. Tahun 2015 turun hanya tinggal 65 pasang," kata Kepala KUA Kecamatan Tembelang yang juga aktivis Banser Jombang kota, Moh Lutfi Ridlo, saat ditemui di Kemenag Jombang, (17/5/2016).

Baca link Jaga Anak

Karena penghulu yang bagian menikahkan di Tembelang hanya dua, kemarin dia ngijabkan 33 pasang. "Saya berangkat habis Duhur, tiba kembali di rumah sudah tarhim subuh," jelasnya.

33 berkat piye nggowone Cak? "Yo ora tak gowo. Tak uncalno nang omahe arek2 Banser sing cidek lokasi ngijabno," tuturnya.

Saat pernikahan, biasannya banyak hitungan. Hitung2an ini bisa menyebabkan pernikahan batal. Utamanya bila ketemu selawe.

Atau pas dihitung pakai sandang, pangan, gedong, loro, pati. Ketemu loro atau pati.

Nah, konon, saat malam 29 Ramadan itu, semua hitung2an tadi tidak berlaku.

"Jadi bablas. Ketemu piro ae ora masalah," ucapnya.

Makanya malam itu diarani kebo bingung..

" Kebo wis bingung goblok pisan, kok yo jik di eloki ae.." Begitu pungkasnya

#ayomondok

(Rojif)

19/05/2016

Peduli Musholla

MUSOLA

Saat ngaji Jumat Legi di Masjid Agung Baitul Mukminin Jombang (24/6/2015), Kiai Mustain Syafiie menuturkan, sekarang ini ada ibadah pengiring puasa yang sering terlupakan yakni i'tikaf.

I'tikaf adalah kontemplasi, perenungan sebagai upaya mengunduh hidayah Allah dalam skala lebih besar.

Juga sarana mengumpulkan energi agar bisa beribadah lebih maksimal dan berkualitas.

"Itikaf bisa dilakukan dimana saja, termasuk di musola atau langgar," jelasnya.

Ini sesuai dengan ayat; : “Dan janganlah kamu mencampuri mereka itu sedangkan kamu beritikaf di dalam masjid.” (Qs. al-Baqarah: 187).

Lafad yang digunakan dalam ayat tersebut adalah masajid alias bentuk jamak atau plural.

"Ini dalam rangka meluaskan cakupan tempat yang dapat digunakan itikaf. Guna memudahkan pelayanan," bebernya.

Definisi masjid sesuai ayat itu adalah tempat atau bangunan khusus yang diperuntukan shalat 5 waktu. Sebagaimana fungsi mushola disini. "Kalau yang dipakai Jumat'an istilahnya ditambahi masjid jami," jelasnya.

Sedangkan mushola yang dimaksud dalam ayat ibrohima musola (QS Albaqarah 125) adalah bagian tertentu dari sebuah bangunan yang difungsikan untuk shalat. Semisal tempat salat di rumah atau di kantor.

Saat Ramadan, musola biasanya dipenuhi jamaah.

Nah, agar jamaah nyaman, musola yang ingin renovasi atau membuat tempat wudlu, bisa mengajukan ke LAZIZNU Jombang..

Besaran bantuan tiap musola Rp 5 juta.

Surat pengajuan bantuan harus ada mengetahui ketua MWCNU setempat..

Informasi lebih lanjut bisa hubungi Ketua Laziznu Jombang, Mas Didin 081332726812
(Rojif)

EPISTEME

 
EPISTEME
 
Saat ngaji dalam rangka 40 harinya Nyai Hj Fatimah Soleh (ibunda Gus Irfan Soleh, ketua yayasan Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas), Kamis (12/5/2016), KH Marzuki Mustamar menuturkan bahwa dalam kajian filsafat ada sejumlah istilah.
 
Diantaranya ontologi. Yakni wilayah material yang dibahas.
Kedua, epistemology. Yakni wilayah metodologi atau sistematika dalam menjangkau  material tersebut.
Ketiga, aksiologi. Yakni wilayah kegunaan atau aplikasi dari material tersebut.
 
Salah epistemology, bisa menyebabkan salah pemahaman. Hingga berujung kesalahan langkah/aksi.

’’Untuk mempelajari agama, secara epistemology, yang paling pas adalah belajar ke pesantren,’’ kata Kiai Marzuki.
 
Belajar agama yang paling tepat, kata Kiai Marzuki, adalah belajar kepada Nabi Muhammad SAW.
Nabi Muhammad belajar kepada Jibril dengan berhadap-hadapan. Ketemu langsung.

Kenapa harus ketemu langsung berhadapan? "Ngunekno shod kudu karo mecucu. Lek gak ketemu langsung opo ngerti mecucune sak piro?"
 
Sebelum wafat, Nabi mengajarkan ilmu agamanya kepada para sahabat. Juga dengan ketemu langsung. Makanya belajar kepada sahabat, sama dengan belajar kepada Nabi.
 
Para sahabat sebelum wafat, mengajarkan ilmu agamanya kepada para tabiin. Juga dengan ketemu langsung. Belajar kepada tabiin, sama dengan belajar kepada sahabat dan Nabi.
 
Sebelum tabiin wafat, mereka mengajarkan ilmunya kepada tabiit tabiin. Juga dengan ketemu langsung. Sampai akhirnya ilmu itu sampai kepada para kiai pesantren.

’’Jadi belajar ilmu agama kepada para kiai, sama dengan belajar kepada Nabi. Sebab cara mempelajari agama yang dipraktekkan di pesantren itu, sama dengan yang dilakukan Nabi. Isi ajaran agama yang diulangno kiai, juga sama seperti yg diajarkan Nabi,’’ tuturnya.
 
Makanya Nabi dawuh, siapa yang memuliakan ulama, sama dengan memuliakan Nabi. Dan siapa memuliakan Nabi, maka akan dimuliakan Allah. Siapa dimuliakan Allah, akan masuk surga.
 
’’ Makanya kalau ingin agamanya selamet, masukkan anak ke pesantren,’’ ucapnya.
 
Sekarang ini, lanjut Kiai Marzuki, banyak pemahaman yang salah kaprah. ’’Sampean lihat di internet, banyak fatwa-fatwa yang tidak sesuai. Kenapa? Ya karena belajarnya tidak ke pesantren,’’ ucapnya.
 
Beliau lantas memberikan sembilan contoh.

1.
Ada kelompok yang mengatakan bahwa kotoran babi tidak najis. Kotoran hewan tidak najis. Dasar mereka, saat Nabi sujud di Kakbah, pernah dilempari kotoran oleh Abu Jahal. Tapi Nabi terus saja sujud. Tidak membatalkan sujudnya. Itu kan berarti kotoran tidak najis?

Menanggapi itu, Kiai Marzuki menuturkan, bahwa peristiwa itu tak bisa dijadikan dasar hukum. ’’Itu peristiwa saat Nabi masih di Makkah. Ayatul ahkam dan hadisul ahkam, itu setelah di Madinah.   Ayat-ayat dan hadits-hadist yang bisa dijadikan hukum, itu yang di Madinah,’’  paparnya.
 
Di Kitab Bukhori, kata Kiai Marzuki, ada hadist bahwa suatu ketika Nabi buang hajat. Lalu minta sahabat mengambilkan tiga batu. Kemudian diambilkan dua batu dan satu kotoran kering. Nabi hanya mau memakai yang dua batu. ’’Ini salah satu yang dijadikan dasar oleh para ulama kita bahwa kotoran itu najis. Kering saja najis. Apalagi basah’’ ucapnya.
Bersambung----

#AyoMondok
(Rojif)

Selamat Jalan Guruku Kyai Haji Dimyati Romli

Selamat Jalan Guruku Kyai Haji Dimyati Romli

Kabar duka datang dari Jombang, Jawa Timur. Mursyid sekaligus Ketua Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso, Peterongan Jombang KH A Dimyathi Romly (72 tahun) telah berpulang ke rahmatullah.

Kiai Romly yang juga Rais Syuriyah PBNU ini wafat sekitar pukul 13.00 WIB, Rabu (18/5) setelah sebelumnya  4 hari dirawat di RS Airlangga Jombang.

Kabar ini dibenarkan oleh salah satu Pengasuh Pesantren Darul Ulum, KH Hamid Bisri dalam pesan singkatnya.

“Innalillahi wainna ilaihi raji’un, telah berpulang ke rahmatullah dengan tenang Mursyid Thariqah Al-Qadiriyah wan Naqsabandiyah sekaligus Pengasuh PP Darul ulum Rejoso Peterongan Jombang.

Semoga semua amal Mursyid sekaligus guru kami diterima dan diampuni segala kesalahan dan dosanya, husnul khotimah, dimasukkan bighoiri hisab walaa adzaab...Aamiin.”

KH Dimyathi Romly meninggalkan 7 orang anak. Kini pesantren yang dipimpinnya terbilang maju pesat.

Selain berhasil mengembangkan madrasah unggulan berbasis teknologi, sekarang universitas di pesantren tersebut (Unipdu Jombang) juga berhasil mengembangkan berbagai program studi dan jurusan.

Pemakaman rencana akan dilaksanakan hari ini pada pukul 21.00 WIB  di komplek makam keluarga di sekitar asrama Hidayah Qur’an Pesantren Darul Ulum sesuai wasiatnya sebelum meninggal.

18/05/2016

NISFU SYA'BAN

NISFU SYA'BAN

KH Taufiqurahman Muchit, pengasuh PP Sunan Ampel Jombang dalam pengajian di Masjid Al-Fattah Candimulyo, Jombang (31/5/2015) menyampaikan bahwa dalam kitab Ghunyah (pesugihan) karangan Syekh Abd Qodir Jaelani disebutkan bahwa saat nisfu syakban, takdir selama setahun ditulis. Malam nisfu syakban tahun 2016 ini akan jatuh pada Sabtu  21 Mei.

Pada malam nisfu syakban itu, dianjurkan shalat 2 rakaat. Tiap rakaat usai fatikhah baca surat Alikhlas 6x. Usai salam, baca yasin pertama kemudian doa.

Shalat lagi 2 rakaat dengan baca Alikhlas 6x. Usai salam baca yasin lagi kemudian doa. Demikian sampai 3x.

Doa yg dibaca saat nisfu syakban intinya minta agar takdir-takdir  yang jelek tahun ini dihapus.

 Ya Allah, jika tahun ini Engkau takdirkan mati, hapuslah.

Jika Engkau takdirkan sakit, hapuslah.

Jika Engkau takdirkan kena bencana/kecelakaan, hapuslah.

Jika Engkau takdirkan rugi, hapuslah.

Jika Engkau takdirkan cerai, hapuslah, dll.

Kiai Taufiq juga menyatakan bahwa malam nisfu syakban ini adalah malam ditulisnya ketentuan setahun. Sedangkan dok-nya (diputuskannya) yakni saat malam lailatul qodar. ’’Makanya orang yang menghidupkan nisfu syakban, bakal bisa ketemu lailatul qadar. Sedangkan yang tidak menghidupkan malam nisfu syakban,  bakal sulit ketemu lailatul qadar,’’ kata Kiai Taufiq.

Beliau bercerita, suatu ketika ditanya pakdenya yang orang Lamongan. Kapan lailatul qodar jatuh Ramadan tahun itu?

Dia lantas bilang, saya meyakini jatuh pada malam ini...

Tapi tahun itu, si Pakde tidak menghidupkan nisfu syakban.

Akhirnya, pada mlm yang dibilang Kiai Taufiq sebaga malam lailatul qadar itu, si Pakde mapak.

Dia sengaja ngajak sembilan anaknya itikaf di masjid agar dapat lailatul qodar.

Pada tengah malam, turun hujan. Sehingga satu keluarga ini tertidur dan baru bangun saat subuh. Sehingga tidak menangi lailatul qodar. Karena lailatul qodar itu tengah malam sampai subuh. Awalnya, dia tidak yakin malam itu benar lailatul qadar. Karena pada malam lailatul qadar tidak ada hujan. Namun hujan malam itu sebenarnya turun hanya sebentar.

Kiai Taufiq lantas minta si Pakde mengecek air laut pada pagi pasca lailatul qadar itu. Karena disebutkan, pada pagi setelah lailatul qadar, air laut jadi tawar selama beberapa saat karena baru diinjak malaikat.

Pagi itu, si Pakde mengecek air laut dan ternyata sempat tawar. Kiai Taufik lantas minta diambilkan air tersebut. Si Pakde jadi semakin nyesel tertidur malamnya.

Ini menunjukkan, kata kiai taufik, orang yang tidak menghidupkan nisfu syakban, tak akan bisa dapat lailatul qadar, walaupun sudah mapak.

 Oia, setelah ritual malam nisfu syakban, besoknya dianjurkan puasa, sebagai rangkaian menghidupkan nisfu syakban.

’’Orang yang puasa sehari di bulan syakban dibebaskan dari siksa kubur,’’ tutur Kiai Taufiq.

Saat pengajian Hikam di PP Al Muhibbin Bahrul Ulum Tambak Beras (1/6/2015), Kiai Jamaludin Ahmad menerangkan bahwa  Shalat 2 rakaat malam nisfu syakban lebih utama daripada ibadah selama 400 ratus tahun yang dilakukan umat sebelum Muhammad.

Itulah sebabnya,  Nabi Isa dan Nabi Musa pernah mengatakan ingin jadi umat Muhammad. Umat Muhammad ibadah sedikit, diganjar akeh.

Kapan waktunya shalat 2 rakaat nisfu syakban itu? ’’Mulai habis magrib sampai sebelum subuh,’’ kata Kiai Jamal.  Tapi shalatnya tidak boleh jamaah. Dan niatnya niat shalat sunat mutlak.

Beliau lantas mengutip sebuah hadits, siapa menghidupkan malam nisfu syakban dengan amal-amal sholeh, maka hatinya tidak akan mati saat semua hati mati. ’’Tanda hati mati sing pertama ora gelo/sedih kehilangan ibadah. Kepindo, ora menyesal melakukan maksiat/dosa,’’ jelasnya.

17/05/2016

FITNAH

FITNAH.

“Kyai, maafkanlah saya yang telah memfitnah pak  kyai dan ajarkan saya sesuatu yang bisa menghapuskan kesalahan saya ini.” Aku berusaha menjaga lisanku, tak ingin  sedikitpun menyebarkan kebohongan dan menyinggung perasaan kyai.

Kyai Husain terkekeh. “Apa kau serius?” Katanya.

Aku menganggukkan kepalaku dengan penuh keyakinan. “Saya serius, Kyai. Saya benar-benar ingin menebus kesalahan saya.”

Kyai Husain terdiam beberapa saat. Ia tampak berfikir. Aku sudah membayangkan sebuah doa yang akan diajarkan Kyai Husain kepadaku, yang jika aku membacanya beberapa kali maka Allah akan mengampuni dosa-dosaku. Aku juga membayangkan sebuah laku, atau tirakat, atau apa saja yang bisa menebus kesalahan dan menghapuskan dosa-dosaku. Beberapa jenak kemudian, Kyai Husain mengucapkan sesuatu yang benar-benar di luar perkiraanku. Di luar perkiraanku—

“Apakah kau punya sebuah kemoceng di rumahmu?” Aku benar-benar heran Kyai Husain justru menanyakan sesuatu yang tidak relevan untuk permintaanku tadi.

“Maaf, Kyai?” Aku berusaha memperjelas maksud kyai Husain.

Kyai Husain tertawa, seperti kyai Husain yang biasanya. Diujung tawanya, ia sedikit terbatuk. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, ia menghampiriku, “Ya, temukanlah sebuah kemoceng di rumahmu,” katanya.

Tampaknya Kyai Husain benar-benar serius dengan permintaannya. “Ya, saya punya sebuah kemoceng di rumah, Kiai. Apa yang harus saya lakukan dengan kemoceng itu?”

Kyai Husain tersenyum.

“Besok pagi, berjalanlah dari rumahmu ke pondokku,” katanya, “Berjalanlah sambil mencabuti bulu-bulu dari kemoceng itu. Setiap kali kau mencabut sehelai bulu, ingat-ingat perkataan burukmu tentang aku, lalu jatuhkan di jalanan yang kau lalui.”

Aku hanya bisa mengangguk. Aku tak akan membantahnya. Barangkali maksud kyai Husain adalah agar aku merenungkan kesalahan-kesalahanku. Dan dengan menjatuhkan bulu-bulunya satu per satu, maka kesalahan-kesalahan itu akan gugur diterbangkan waktu…

“Kau akan belajar sesuatu darinya,” kata kyai Husain. Ada senyum yang sedikit terkembang di wajahku.

***

Keesokan harinya, aku menemui Kyai Husain dengan sebuah kemoceng yang sudah tak memiliki sehelai bulupun pada gagangnya. Aku segera menyerahkan gagang kemoceng itu pada beliau.

“Ini, Kyai, bulu-bulu kemoceng ini sudah saya jatuhkan satu per satu sepanjang perjalanan. Saya berjalan lebih dari 5 km dari rumah saya ke pondok ini. Saya mengingat semua perkataan buruk saya tentang Kiai. Saya menghitung betapa luasnya fitnah-fitnah saya tentang Kiai yang sudah saya sebarkan kepada begitu banyak orang. Maafkan saya, kyai. Maafkan saya…”

Kyai Husain mengangguk-angguk sambil tersenyum. Ada kehangatan yang aku rasakan dari raut mukanya. “Seperti aku katakana kemarin, aku sudah memaafkanmu. Barangkali kau hanya khilaf dan hanya mengetahui sedikit tentangku. Tetapi kau harus belajar seusatu…,” katanya.

Aku hanya terdiam mendengar perkataan Kyai Husain yang lembut, menyejukkan hatiku.

“Kini pulanglah…” kata Kyai Husain.

Aku baru saja akan segera beranjak untuk pamit dan mencium tangannya, tetapi Kiai Husain melanjutkan kalimatnya, “Pulanglah dengan kembali berjalan kaki dan menempuh jalan yang sama dengan saat kau menuju pondokku tadi…”
Aku terkejut mendengarkan permintaan kyai Husain kali ini, apalagi mendengarkan “syarat” berikutnya: “Di sepanjang jalan kepulanganmu, pungutlah kembali bulu-bulu kemoceng yang tadi kaucabuti satu per satu. Esok hari, laporkan kepadaku berapa banyak bulu yang bisa kau kumpulkan.”

Aku terdiam. Aku tak mungkin menolak permintaan Kyai Husain.

“Kau akan mempelajari sesuatu dari semua ini,” tutup Kyai Husain.

***

Sepanjang perjalanan pulang, aku berusaha menemukan bulu-bulu kemoceng yang tadi kulepaskan di sepanjang jalan. Hari yang terik. Perjalanan yang melelahkan. Betapa sulit menemukan bulu-bulu itu. Mereka tentu saja telah tertiup angin, atau menempel di sebuah kendaraan yang sedang menuju kota yang jauh, atau tersapu ke mana saja ke tempat yang kini tak mungkin aku ketahui.

Tapi aku harus menemukan mereka! Aku harus terus mencari ke setiap sudut jalanan, ke gang-gang sempit, ke mana saja!

Aku terus berjalan.

Setelah berjam-jam, aku berdiri di depan rumahku dengan pakaian yang dibasahi keringat. Nafasku berat. Tenggorokanku kering. Di tanganku, kugenggam lima helai bulu kemoceng yang berhasil kutemukan di sepanjang perjalanan.

Hari sudah menjelang petang. Dari ratusan yang kucabuti dan kujatuhkan dalam perjalanan pergi, hanya lima helai yang berhasil kutemukan dan kupungut lagi di perjalanan pulang. Ya, hanya lima helai. Lima helai.

***

Hari berikutnya aku menemui Kyai Husain dengan wajah yang murung. Aku menyerahkan lima helai bulu kemoceng itu pada Kyai Husain. “Ini, Kyai, hanya ini yang berhasil saya temukan.” Aku membuka genggaman tanganku dan menyodorkannya pada Kyai Husain.

Kyai Husain terkekeh. “Kini kau telah belajar sesuatu,”katanya.

Aku mengernyitkan dahiku. “Apa yang telah aku pelajari, Kyai?” Aku benar-benar tak mengerti.

“Tentang fitnah-fitnah itu,” jawab kyai Husain.

Tiba-tiba aku tersentak. Dadaku berdebar. Kepalaku mulai berkeringat.

“Bulu-bulu yang kaucabuti dan kaujatuhkan sepanjang perjalanan adalah fitnah-fitnah yang kausebarkan. Meskipun kau benar-benar menyesali perbuatanmu dan berusaha memperbaikinya, fitnah-fitnah itu telah menjadi bulu-bulu yang beterbangan entah kemana. Bulu-bulu itu adalah kata-katamu. Mereka dibawa angin waktu ke mana saja, ke berbagai tempat yang tak mungkin bisa kau duga-duga, ke berbagai wilayah yang tak mungkin bisa kauhitung!” 

Tiba-tiba aku menggigil mendengarkan kata-kata Kiai Husain. Seolah-olah ada tabrakan pesawat yang paling dahsyat di dalam kepalaku. Seolah-olah ada hujan mata pisau yang menghujam jantungku. Aku ingin menangis sekeras-kerasnya. Aku ingin mencabut lidahku sendiri.

“Bayangkan salah satu dari fitnah-fitnah itu suatu saat kembali pada dirimu sendiri… Barangkali kau akan berusaha meluruskannya, karena kau benar-benar merasa bersalah telah menyakiti orang lain dengan kata-katamu itu. Barangkali kau tak tak ingin mendengarnya lagi. Tetapi kau tak bisa menghentikan semua itu! Kata-katamu yang telah terlanjur tersebar dan terus disebarkan di luar kendalimu, tak bisa kau bungkus lagi dalam sebuah kotak besi untuk kau kubur dalam-dalam sehingga tak ada orang lain lagi yang mendengarnya. Angin waktu telah mengabadikannya.”
“Fitnah-fitnah itu telah menjadi dosa yang terus beranak-pinak tak ada ujungnya. Agama menyebutnya sebagai dosa jariyah. Dosa yang terus berjalan diluar kendali pelaku pertamanya. Maka tentang fitnah-fitnah itu, meskipun aku atau siapapun saja yang kau fitnah telah memaafkanmu sepenuh hati, fitnah-fitnah itu terus mengalir hingga kau tak bisa membayangkan ujung dari semuanya. Bahkan meskipun kau telah meninggal dunia, fitnah-fitnah itu terus hidup karena angin waktu telah membuatnya abadi. Maka kau tak bisa menghitung lagi berapa banyak fitnah-fitnah itu telah memberatkan timbangan keburukanmu kelak.”

Tangisku benar-benar pecah. Aku tersungkur di lantai.
“Astagfirulloh hal-adzhim… Astagfirullohal-adzhim…
Astagfirulloh hal-adzhim…”
Aku hanya bisa terus mengulangi istighfar. Dadaku gemuruh. Air mata menderas dari kedua ujung mataku.

“Ajari saya apa saja untuk membunuh fitnah-fitnah itu, Kyai. Ajari saya! Ajari saya! Astagfirulloohal-adzhim…” Aku terus menangis menyesali apa yang telah aku perbuat.

Kyai Husain tertunduk. Beliau tampak meneteskan air matanya.“ Aku telah memaafkanmu setulus hatiku, Nak,” katanya, “Kini, aku hanya bisa mendoakanmu agar Allah mengampunimu, mengampuni kita semua. Kita harus percaya bahwa Allah, dengan kasih sayangnya, adalah zat yang maha terus menerus menerima taubat manusia… Innallooha tawwaabur-rahiim...”

Aku disambar halilintar jutaan megawatt yang mengguncangkan batinku! Aku ingin mengucapkan sejuta atau semiliar istighfar untuk semua yang sudah kulakukan! Aku ingin membacakan doa-doa apa saja untuk menghentikan fitnah-fitnah itu!

Cahaya Kubur

CAHAYA KUBUR

Saat ngaji dalam rangka 40 harinya Nyai Hj Fatimah Soleh, (ibunda KH Irfan Soleh, Ketua Umum Yayasan PP Bahrul Ulum Tambakberas) Kamis (12/5/2016), KH Husein Ilyas  Mojokerto menceritakan kisah di Kitab Tanbihul Ghofilin.

Saat mayit ditaruh kuburan, malaikat Munkar dan Nakir mendatangi mayit tersebut dari atas. Pintu kuburan bagian atas membuka. Tiba-tiba muncul cahaya yang menghalangi malaikat Munkar dan Nakir. Malaikat  lantas bertanya siapa cahaya itu. Cahaya itu bilang, dia adalah kalimah la ilaha illallah yang dicekeli oleh si mayit semasa hidup. Cahaya lantas meminta malaikat pergi. ’’Jika tidak pergi, aku akan lapor kepada Nabi Muhammad SAW. Sebab Nabi bilang, siapa yang awal dan akhir kalimahnya la ilaha illallah akan masuk surga,’’ tutur Kiai Husein menirukan ucapan cahaya.

Malaikat Munkar Nakir lantas sujud kepada Allah karena gagal menjalankan tugas. Allah lalu menyuruh mendatangi dari arah dada (posisi mayit miring menghadap kiblat). Saat malaikat hendak masuk, ternyata disitu juga ada cahaya yang menghalangi. Cahaya itu bilang, dia adalah shalat lima waktu.

’’Nabi dawuh, wong sing shalat lima waktu, diberi lima keistimewaan. Uripe ora payah. Bebas sikso kubur. Nerima catetan amal tangan kanan. Liwat jembatan hisab secepat kilat.  Dan masuk surga tanpa hisab,’’ papar Kiai Husein.

Malaikat lantas kembali dan sujud kepada Allah. Oleh Allah, disuruh mendatangi liwat belakang, arah punggung.

Ternyata disitu juga ada cahaya yang berasal dari puasa. ’’Kenapa puasa ditaruh geger/punggung?, karena puasa ini rahasia. Yang tahu puasa seseorang hanya Allah. Makanya Allah sendiri yang akan membalasnya,’’ terangnya.

Gagal lagi, malaikat lantas sujud kepada Allah. Allah kemudian memerintahkan mendatangi si mayit dari bawah, arah kaki. Ternyata di kaki ada cahaya dari sedekah. ’’Rosul dawuh, wong luman sing seneng sedekah, cidek karo menungso, cidek karo suwargo, cidek karo Allah, lan jauh soko neroko,’’ tuturnya.

Gagal lagi, malaikat sujud lagi kepada Allah. Allah lantas menyuruh mendatangi dari arah kepala. Ternyata di kepala ada cahaya dari haji. ’’Mugo-mugo kuwabeh biso haji. Kanggone wong sing mboten mampu, Jumatan niku nggeh haji,’’ ujarnya.

Karena gagal, malaikat lalu sujud kepada Allah. ’’Allah lalu dawuh, wong iku maeng ora iso mbok takoni mergo memang kekasihku. Supoyo dadi kekasihe Allah ora perlu topo. Cukup ngelakoni syariah e Allah mulai nyekeli la ilaha illallah, ngelakoni shalat, poso, zakat lan haji wis iso dadi waline Allah,’’ ungkapnya.

Tugas malaikat Munkar dan Nakir, kata Kiai Husein, belum selesai.

Keduanya lantas diperintah Allah meluaskan kuburan orang tadi hingga 70 meter. Kemudian disuruh membuka jendela surga sehingga dia bisa melihat surga. Serta disuruh membuka bau surga sehingga mayit tadi bisa mencium bau surga. ’’Widodari ketok nang jendelo iku wis podo ngintip tur awe-awe. Nang kuburan nguwasi widodadari tur mambu suwargo dadine koyok malam pertama pengantin anyar,’’ pungkas Kiai Husein.   

(Rojif)             

08/05/2016

Musker PCNU Jombang Tolak Faham anti NKRI

Hasil pleno komisi rekomendasi pada Muskercab PCNU Kabupaten Jombang menetapkan hal hal di antaranya sebagai berikut:

1. PCNU meminta kepada PBNU agar mendesak pemerintah membubarkan semua organisasi yg anti pancasila & menolak NKRI.
- PCNU mendesak kepada pemkab jombang untuk melarang keberadaan organisasi yg menolak NKRI  dan anti pancasila di Kabupaten Jombang.

04/05/2016

Peringatan KH.Hasyim Muzadi untuk HTI

KH HASYIM MUZADI MEMPERINGATKAN HIZBUTTAHRIR INDONESIA ( HTI )

1. Hari rabu 4 mei 2016 jam 12.00 sd jam 14.15 pimp pusat Hizbuttahrir berkunjung ke kediaman KH.Hasyim muzadi di pesantren depok untuk mendiskusikan masalah keagamaan dan kebangsaan .


2. Disampaikan kepada HTI hendaknya jangan ada sedikitpun keinginan serta tema2 perjuangan HTI seperti " penegakan hilafah" , "tidak setuju NKRI dan pancasila" yg dapat  dikesankan HTI akan membuat negara baru . Sebenarnya HTI cukup mengisi indonesia dg syareat islam rahmatan lil alamin , bukan membuat negara indonesia baru .


3. Dengan adanya membuat tema-tema negara baru,  HTI sama artinya dg mempersenjatai musuh islam ( islamo pobia ) untuk menggunakan kekuasaan negara indonesia guna menyerang HTI dan juga islam . 


4.Pancasila telah diterima kaum muslimin indonesia melalui proses panjang ( -+ 40 th ) maka jangan dipersoalkan lagi . Dimulai dari perjuangan bersenjata :
DI/TII , permesta/PRRI , perjuangan konstitusional melalui konstituante , sampai NU menjadi partai politik , bergabung dg PPP , semuanya tidak ada yg cocok untuk kaum muslimin ,.... akhirnya tahun 1984 menetapkan pancasila sbg asas negara dan islam ahlussunnah sbg idiologi NU sebagaimana tertera dalam khittoh nu . Hendaknya proses panjang ini tidak dicederai .


5. NU/ANSOR  jangan menyelesaikan masalah HTI dg cara kekerasan karena akan terkesan NU/ANSOR  mendiamkan akan timbulnya PKI di indonesia dilain sisi ganas kepada sesama muslim .
Saya yakin PKI jauh lebih berbahaya dari HTI , baik ukuran agama maupun ukuran negara . Bahkan bisa terkesan pengalihan masalah dari PKI ke HTI .


6. Penyelesaian HTI oleh NU/ANSOR hendaknya dimulai dg musyawarah agar NU dapat menjadi pemimpin umat islam indonesia.

7. Semoga himbauan saya didengar HTI . Tidak perlu khilafah , terimalah NKRI dan pancasila .


8.  NU/ANSOR  jangan terkecoh kepada islamo pobhia .


(
A hasyim muzadi pesantren mahasiswa alhikam depok)

01/05/2016

Habib Lutfi Bin Yahya: Syariat, Tarekat, Hakekat dan Ma'rifat

Tidak benar jika mengaku bertarekat tetapi meninggalkan syariat, karena tarekat adalah buah dari syariat. Jadi, kalau bertarekat harus melalui pintunya dahulu, yaitu syariat.
Syariat lah yang mengatur kehidupan kita, dengan menggunakan hukum. Dari mulai akidah, keimanan, keislaman, sehingga kita beriman kepada ALLAH, Malaikat, Kltab ALLAH, Rasul, hari akhir serta takdir baik dan buruk. Dan syariat pula mengetahui rukun Islam, yaitu dua kalimat syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji. Serta keutamaan shalat, juga hubungan antara manusia, seperti jual-bell, pernikahan, dan lain-lainnya.

Setelah menjalankan syariat dengan balk, kita bertarekat, sebagai jalan menuju kepada ALLAH ﷻ. Jadi, jika diartikan secara sederhana jalan menuju kepada ALLAH disebut tarekat. Bertarekat perlu dibimbing oleh para Mursyid, yang akan mengantar murid darl mengerti sampai mengenal ALLAH hingga nantinya "dikenal" ALLAH ﷻ, yang artinya dekat dan disayang oleh ALLAH ﷻ. Amalan utama tarekat adalah berdzikir.

Dan juga, yang juga perlu dipahami, pengertlan tarekat tidak terbatas hal itu. Yang dltuntut oleh tarekat di jalan ALLAH adalah perilaku yang mulia dari para pengikut tarekat. Terutama mem-bersihkan kotoran-kotoran yang ada dl dalam batin dan lahirnya, sehingga secara lahir dan batin kita bersih dalam menuju ke jalan ALLAH.

Sebagai contoh berwudhu. Wudhu adalah peraturan syariat, guna menjalankan shalat dan lain-lainnya. Biasanya kita hanya berwudhu untuk mendapatkan keutamaan wudhu, serta sebagai syarat untuk menjalankan shalat.
Sedangkan tarekat menuntut buah (hasil) dari wudhu di dalam kehidupan kita. Berapa kali kita membasuh muka ketika berwudhu, berapa kali kita membasuh tangan setiap hari untuk menjalankan ibadah. Dari situ kita coba aplikasikan dalam kehldupan kita masing-maslng.
Darl hasil wudhu, kita cari buahnya yaitu lebih berakhlak, lebih rendah hati, lebih beradab, sehingga ada peningkatan dari hari ke hari. Itulah buahnya (hasilnya), sehingga kita semakin dekat kepada ALLAH. Sebab, justru di hadapan ALLAH, kita semakin menundukkan kepala. Karena semua itu adalah pemberian-NYA semata-mata. Kalau bukan karena pemberian-NYA, bagaimana bisa mengerti segala yang kita miliki ini.

Begitu juga, kita pun diberi pemahaman oleh ALLAH terhadap junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ atas limpahan rahmat kepadanya, sehingga kita menjadi pengikutnya yang setia. Untuk itulah kita selalu memuji Rasulullah ﷺ dengan tujuan supaya kita lebih dekat kepada Rasulullah. Dengan begitu, sosok Rasulullah akan menjadi idola bagi kita dalam menapaki kehidupan hingga akhir hayat.
Bertarekat akan memupuk sikap rendah hati kita kepada Para Wali, Ulama serta Guru-Guru kita yang telah memberikan pemahaman tentang kebenaran ajaran syariat dan tarekat. Itu baru dari segi membersihkan muka secara lahiriah dan bathiniah, hal itu akan mencegah tangan kita dari berbuat maksiat. Kita akan selalu diperingatkan untuk tidak mengambil yang bukan milik kita apalagi melakukan korupsi, misalnya yang sangat merugikan rakyat. Sebab tangan kita sudah disucikan setiap hari. Kalau kita bisa mempelajari banyak hal dari wudhu saja, insyaALLAH masalah korupsi itu bisa diberantas. Lalu telinga kita yang digunakan untuk mendengarkan suatu yang baik. Kita tidak akan menyampaikan yang kita dengar kalau informasi itu justru akan memancing masalah atau memanaskan situasi, apalagi menimbulkan perpecahan dan kekacauan. Tentu saja, hal itu berlaku pula bagi mata kita, kedua kaki kita, dan anggota badan lainnya. Itulah hasil karya, hasil didikan, yang mendapatkan bimbingan dari ALLAH.

Mengapa kita harus berwudhu ketika akan mendirlkan shalat !? Berwudhu tidak hanya membersihkan kotoran lahiriah kita, tetapi pada hakikatnya juga membersihkan kotoran batiniah. Al-Qur'an menyebutkan bahwa shalat mencegah dari kemungkaran dan kerusakan, karena kita sudah memahami makna wudhu dan shalat itu secara tarekat.

Bagi para murid yang ingin belajar tarekat, saya anjurkan, mulailah dari seorang guru yang dipercaya. Tapi sebaliknya, bagi guru yang ingin ditaati muridnya, cobalah didik para murid itu seperti timba yang mendekati sumurnya, bukan sumuryang mendekati timbanya. Maka akan terbentuklah kewibawaan guru terhadap muridnya. Bagi murid, saya anjurkan untuk belajar hanya pada satu guru.
Sebagai contoh mudahnya, kalau air teh dicampur susu lalu dicampur lagi dengan kopi atau lainnya, meskipun halal, apa jadinya? Bagaimana rasanya? Jadi kalau ingin minum teh, minum saja teh tanpa dicampur dengan lainnya. Nikmati minum teh dengan gula, kemudian cari manfaatnya bagi tubuh. Begitu juga kalau ingin minum kopi, susu, atau lainnya. Itu hanya sebagai perumpamaan. Jadi, kalau ingin belajar tarekat, jangan sekadar melihat organisasi itu besar Meski organisasi tarekat itu kecil, kalau lebih berpengaruh terhadap jiwa kita, sehingga iebih mendekatkan diri kepada ALLAH, tidak perlu ragu lagl untuk mengikutinya.
.
- Habib Muhammad Luthfi bin Yahya (Rois Am Jam'iyyah Ahlith Thariqah al-Mu'tabaroh an-Nahdliyyah)

28/04/2016

Lenyapnya Marwah Pesantren

Sebelas Rumus dari Gus Mus

1) Dulu, pesantren lebih mengedepankan unsur pendidikan (tarbiyah) ketimbang pengajaran (ta’lim)-nya. Sekarang kondisinya berbalik 180 derajat. Madrasah tambah mentereng, pesantren kian menjulang. Tapi kiainya nganggur.

2) Jika hendak mengembalikan marwah pesantren kembali ke puncak kejayaannya, kiai sekarang perlu berjihad keras untuk mencapai taraf keikhlasan kiai-kiai tempo dulu. Sekarang: di mana ada kiai mandiri? Kiai sekarang ahli proposal semua.

3) Kiai dulu kalau tidak butuh apa-apa, namanya kaya. Kiai sekarang?

4) Mewacanakan konsep zuhud untuk konteks masyarakat Indonesia yang tengah begitu konsumtif dan hedon adalah laku ekstrem. Kita harus berangkat dari konsep “kecil” berupa: kesederhanaan. Sebab kesederhanaan akan melahirkan kekayaan dari dalam, bukan kekayaan dari luar.

5) Yang hilang dari para mubaligh, pendidik dan da’i sekarang adalah ruh ad da’wah (ruh dakwah) yang sejuk dan menyegarkan. Ruh dakwah yang ditebarkan oleh Nabi, Walisanga, ulama-ulama salaf, terkikis oleh perangai dakwah yang mengancam dan menakutkan. Model dakwah seperti ini tidak mengajak, tapi malah mendepak. Padahal, “aku diutus untuk mengajak, bukan untuk melaknat”, ujar salah satu hadits Nabi.

6) Ada perbedaan tajam antara makna dakwah (ajakan) dan amar (perintah). Tapi kini kedua term itu dicampur-adukkan maknanya hingga menghasilkan konsep yang rancu.

7) Nasionalisme itu bukan produk Barat. Kiai-kiai kita sejak dulu sudah menggelorakan itu pada santri-santrinya. Sebab itu, santri yang tak mencintai negerinya akan kualat oleh tuah Mbah Wahab, Mbah Hasyim Asyari, dan kiai-kiai lain yang menyimpan Indonesia dalam urat nadinya.

8) Satu di antara penyakit orang Indonesia adalah: kepentingan dulu dikedepankan, masalah dalil baru dicari belakangan.

9) Salah satu ciri khas pesantren adalah tanggung jawab ilmiah ila yawmil qiyamah.

10) Dalam mendidik, metode cerita/dongeng ditengarai masih sangat  efektif. Karena cerita tidak mengancam. Tapi begitu meresap.

11) Untuk mendidik anak, seorang Ibu punya modal terbesar: kasih sayang. Elusan telapak tangan Ibu tak bisa diganti oleh seribu elusan tangan baby sitter.

Tambakberas, 26 April 2016