Showing posts with label ngaji. Show all posts
Showing posts with label ngaji. Show all posts

29/05/2016

ENTERPRENEUR

ENTERPRENEUR

Saat ngancani Mas Rijal ngantar undangan rapat ekspedisi Islam nusantara Senin (11/4/2016), di Tebuireng kebetulan diterima beberapa orang  termasuk Pak Lukman, mantan Lurah pondok Tebuireng..

Pak Lukman cerita, suatu ketika dia pernah protes kepada Kiai Syamsuri, gurunya di Pesantren Tebuireng.

"Kiai, Senin dan Kamis itu kan hari baik. Tapi kenapa di Tebuireng justru ngajinya libur pada dua hari itu?" tanya Pak Lukman pada Kiai Syamsuri.

Jawaban Kiai Syamsuri ternyata diluar dugaan.

"Husss. Sejak jaman Mbah Hasyim biyen ngajine iku libur Senin dan Kamis. Karena setiap Senin dan Kamis Mbah Hasyim itu keluar untuk dagang," kata Pak Lukman menirukan jawaban Kiai Syamsuri..

"Makanya sejak itu saya bertekad untuk dagang. Karena Mbah Hasyim sendiri ternyata juga dagang," komentarnya.

Sejak masih santri, dia pun mulai menjual kain dan pakaian. Baik kepada santri maupun kepada orang luar.

Saat ini, Pak Lukman memiliki toko pakaian An-Nur..

"Sampai sekarang, disini santri libur ngaji tiap Senin dan Kamis," sambung Gus Ghofar, Sekretaris Pesantren Tebuireng.

Dengar itu, saya baru paham kenapa guru ngaji saya di kampung, alm KH Sahlan, Katerban, Pulorejo, Ngoro, Jombang, selalu meliburkan ngaji tiap Senin dan Kamis..

Kepada Kiai Sahlan yang telah membelikan kitab2 kemudian mengajarkannya dg sorogan kepadaku, mulai Quran, sulam safinah&taufik, takrib, bidayatul hidayah, tafsir Al Ibris, tafsir Yasin Hamami, Diba, Barzanji, manakib, dll, tersebut,

Semoga Allah memberikan nikmat di kuburnya, memudahkan hisabnya, dan memasukknnya ke surga..

Serta ilmunya bermanfaat bagi kita semua..

Allahummagfir warham ummata Sayyidina Muhammad sollallahu alaihi wasallam..

24/05/2016

Wong Kang Soleh Kumpulono

ULAMA

Saat tausiah dalam pertemuan pengurus ranting NU Desa Candimulyo Kecamatan Jombang di rumah Pak Rojif Nglundo Utara Selasa Legi (26/4/2016), Ketua Ranting H  Muklas menuturkan bahwa memuliakan atau mengunjungi ulama itu seperti memuliakan dan mengunjungi Nabi. Siapa yang memuliakan Nabi, akan dimuliakan Allah. Siapa yang dimuliakan Allah, akan masuk surga.
 
’’Kita di NU ini niat ikut ulama, niat kumpul ulama, niat memuliakan ulama. Sebab ulama niku pewarise kanjeng Nabi,’’ ucapnya. Apalagi pendiri NU KH Hasyim Asy’ari dawuh, siapa saja yang mengurusi NU akan dianggap santrinya. ’’Kalau sudah jadi santri Mbah Hasyim, akan didoakan khusnul khotimah,’’ paparnya.
 
Rois Syuriah Ranting NU, KH Mulyono, menambahkan, orang yang bahagia itu memiliki empat tanda. Pertama, istrinya solehah. Istri solehah itu tandane, kalau dipandang menyenangkan. Kalau disuruh mau taat, kalau ditinggal bisa menjaga harta dan harga dirinya. (Menurutku perlu ditambahi satu lagi, kalau dipegang bisa membangkitkan tegangan.. hehehe).
 
Kedua, tanda bahagia itu anak keturunannya apik-apik. Untuk ini orang tua perlu banyak berdoa, tirakat dan meridloi anak. Wali Kota Mojokerto KH Mas’ud Yunus pernah menyarankan agar tiap anak usai shalat dikirimi satu fatihah. Saat sampai ayat iyyaka na’budu wa iyyaka nastain, dibaleni 11 kali sambil mbatin doa untuk si anak.
 
Ketiga, tanda bahagia itu rezekinya di daerah/negaranya sendiri. Masio di daerah/negara orang lain, tapi kalau istri dan anak diajak, insya Allah juga tetap bahagia.  
 
’’Keempat, tandane bahagia niku kalau yang digumbuli tiyang soleh,’’ tuturnya. Lha aktif di NU itu, niatnya adalah golek gumbulan wong sing soleh. Kalau gumbulane orang soleh, akan saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran.
 
’’Kalau gumbul orang soleh, ngomong sak omong pasti yang dibahas ilmu. Ilmu itulah yang akan ngangkat derajat kita dan membuat kita semakin baik,’’ tuturnya.
 
Namun ada lima hal yang membuat kita sulit jadi orang soleh. ’’Yoiku qonaah bil jahli alias neriman jadi orang bodoh tegese orang gelem ngaji. Lalu rakus dengan dunia. Ketiga, pelit mensedekahkan hartanya. Keempat amal dengan maksud riya atau pamer. Serta yang kelima ujub atau membanggakan dirinya sendiri,’’ paparnya.

(Rojiful Mamduh)

21/05/2016

M.Ansori, Sang Qori' Nan Merdu

M.Ansori, Sang Qori' Nan Merdu

M Ansori, 24, peserta pelatihan Alquran braille saat qiroah dalam pembukaan di Pesantren Darul Ulum, Rejoso, kemarin (17/5).
 
M Ansori, Tuna Netra yang Mahir Qiroah
Diajari Ngaji Ayah, Tak Mampu Beli Alquran Braille
 
Mata yang buta bukan penghalang untuk membaca Alquran. Banyak tuna netra yang justru mampu membaca Alquran dengan tangan dan hati. Sebagaimana pria satu ini yang mampu qiroah dengan suara merdu walaupun terlahir buta.

Sembari meraba Alquran Braille dengan tangan kanan, suara merdu mengalun memenuhi seisi ruangan.  Lagu bayati dan soba yang dibawakan dengan nada rendah seakan mengetuk hati setiap orang yang mendengarkan. ’’Yang saya baca tadi QS Al-Ahzab ayat 21-22,’’ kata M Ansori, 24, saat ditemui usai qiroah dalam pelatihan Alquran Braille yang digelar persatuan tuna netra (Pertuni) Jombang bekerjasama dengan  Yayasan Makfufin Jakarta di Pesantren Darul Ulum, Rejoso, kemarin (17/5). Pelatihan diadakan hingga Sabtu (21/5)
Pelatihan tersebut diikuti 19 peserta dari Jombang dan Probolinggo. ’’Saya dari Kraksaaan Probolinggo,’’ kata M Ansori.
Dia mengaku buta sejak lahir. ’’Saya belajar membaca Alquran dari bapak mulai usia 12 tahun,’’ ucapnya. Setiap usai maghrib, bapaknya selalu membacakan tiga ayat. Diulangi tiga sampai empat kali. ’’Alhamdulillah saya   bisa langsung hapal,’’ bebernya. Yang pertama diajarkan bapaknya yakni juz 30. Setelah itu Yasin, Waqiah, Ar-Rohman, Lukman, A-Rum dan Al-Ahzab.
’’Untuk menjaga hapalan, saya biasanya mengulang bakda Subuh,’’ ucap cowok yang baru lulus SMP Luar Biasa ini.
Untuk qiroah, dia mengaku belajar saat nyantri di Pesantren Zahrotul Islam Dringgu Probolinggo. ’’Saya mondok selama tiga tahun,’’ bebernya.
Sebelum belajar qiroah, dia diharuskan menghapal  dulu ayat-ayat yang hendak dibaca dengan naghom bayati, soba, sika, nahawan, hijaz, rosta dan lain-lain. Setelah hapal, baru dilatih melagukan. ’’Kalau tidak hapal, sulit bisa melagukan,’’ jelasnya.
Selama ini, Ansori mengaku sering diundang qiroah. Baik itu untuk acara khitanan, pernikahan maupun hajatan yang lain. ’’Alhamdulillah, akhirnya rezeki selalu ada,’’ ungkapnya.
Dia juga beberapa kali tampil dalam MTQ. Pada 2014, dia juara tiga MTQ tuna netra di Malang. Dia tampil di cabang tilawah.
Saat mondok, dia juga sempat juara satu dalam MTQ se-Kecamatan Dringgu, Probolinggo. Kala itu, MTQ diikuti oleh peserta umum.
Selain qiroah, saat ini dia juga aktif sebagai vokalis grup salawat Subbanul Muslimin Pesantren Nurul Qodim Paiton.
Untuk Alquran Braille, dia mengaku baru belajar tiga tahun, sejak 2013. ’’Alquran Braille mahal. Jadi baru bisa punya setelah mengajukan ke Yayasan Roudlotul Makfufin Jakarta,’’ beber cowok yang bercita-cita jadi guru SLB ini.
 Satu set Alquran braile seharga Rp 1,7 juta.  Tiap juz-nya setebal Alquran biasa dengan panjang dan lebar 40 cmx30 cm. Sehingga satu set yang berisi 30 juz bisa memenuhi satu lemari.

(Rojif)

01/05/2016

Habib Lutfi Bin Yahya: Syariat, Tarekat, Hakekat dan Ma'rifat

Tidak benar jika mengaku bertarekat tetapi meninggalkan syariat, karena tarekat adalah buah dari syariat. Jadi, kalau bertarekat harus melalui pintunya dahulu, yaitu syariat.
Syariat lah yang mengatur kehidupan kita, dengan menggunakan hukum. Dari mulai akidah, keimanan, keislaman, sehingga kita beriman kepada ALLAH, Malaikat, Kltab ALLAH, Rasul, hari akhir serta takdir baik dan buruk. Dan syariat pula mengetahui rukun Islam, yaitu dua kalimat syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji. Serta keutamaan shalat, juga hubungan antara manusia, seperti jual-bell, pernikahan, dan lain-lainnya.

Setelah menjalankan syariat dengan balk, kita bertarekat, sebagai jalan menuju kepada ALLAH ﷻ. Jadi, jika diartikan secara sederhana jalan menuju kepada ALLAH disebut tarekat. Bertarekat perlu dibimbing oleh para Mursyid, yang akan mengantar murid darl mengerti sampai mengenal ALLAH hingga nantinya "dikenal" ALLAH ﷻ, yang artinya dekat dan disayang oleh ALLAH ﷻ. Amalan utama tarekat adalah berdzikir.

Dan juga, yang juga perlu dipahami, pengertlan tarekat tidak terbatas hal itu. Yang dltuntut oleh tarekat di jalan ALLAH adalah perilaku yang mulia dari para pengikut tarekat. Terutama mem-bersihkan kotoran-kotoran yang ada dl dalam batin dan lahirnya, sehingga secara lahir dan batin kita bersih dalam menuju ke jalan ALLAH.

Sebagai contoh berwudhu. Wudhu adalah peraturan syariat, guna menjalankan shalat dan lain-lainnya. Biasanya kita hanya berwudhu untuk mendapatkan keutamaan wudhu, serta sebagai syarat untuk menjalankan shalat.
Sedangkan tarekat menuntut buah (hasil) dari wudhu di dalam kehidupan kita. Berapa kali kita membasuh muka ketika berwudhu, berapa kali kita membasuh tangan setiap hari untuk menjalankan ibadah. Dari situ kita coba aplikasikan dalam kehldupan kita masing-maslng.
Darl hasil wudhu, kita cari buahnya yaitu lebih berakhlak, lebih rendah hati, lebih beradab, sehingga ada peningkatan dari hari ke hari. Itulah buahnya (hasilnya), sehingga kita semakin dekat kepada ALLAH. Sebab, justru di hadapan ALLAH, kita semakin menundukkan kepala. Karena semua itu adalah pemberian-NYA semata-mata. Kalau bukan karena pemberian-NYA, bagaimana bisa mengerti segala yang kita miliki ini.

Begitu juga, kita pun diberi pemahaman oleh ALLAH terhadap junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ atas limpahan rahmat kepadanya, sehingga kita menjadi pengikutnya yang setia. Untuk itulah kita selalu memuji Rasulullah ﷺ dengan tujuan supaya kita lebih dekat kepada Rasulullah. Dengan begitu, sosok Rasulullah akan menjadi idola bagi kita dalam menapaki kehidupan hingga akhir hayat.
Bertarekat akan memupuk sikap rendah hati kita kepada Para Wali, Ulama serta Guru-Guru kita yang telah memberikan pemahaman tentang kebenaran ajaran syariat dan tarekat. Itu baru dari segi membersihkan muka secara lahiriah dan bathiniah, hal itu akan mencegah tangan kita dari berbuat maksiat. Kita akan selalu diperingatkan untuk tidak mengambil yang bukan milik kita apalagi melakukan korupsi, misalnya yang sangat merugikan rakyat. Sebab tangan kita sudah disucikan setiap hari. Kalau kita bisa mempelajari banyak hal dari wudhu saja, insyaALLAH masalah korupsi itu bisa diberantas. Lalu telinga kita yang digunakan untuk mendengarkan suatu yang baik. Kita tidak akan menyampaikan yang kita dengar kalau informasi itu justru akan memancing masalah atau memanaskan situasi, apalagi menimbulkan perpecahan dan kekacauan. Tentu saja, hal itu berlaku pula bagi mata kita, kedua kaki kita, dan anggota badan lainnya. Itulah hasil karya, hasil didikan, yang mendapatkan bimbingan dari ALLAH.

Mengapa kita harus berwudhu ketika akan mendirlkan shalat !? Berwudhu tidak hanya membersihkan kotoran lahiriah kita, tetapi pada hakikatnya juga membersihkan kotoran batiniah. Al-Qur'an menyebutkan bahwa shalat mencegah dari kemungkaran dan kerusakan, karena kita sudah memahami makna wudhu dan shalat itu secara tarekat.

Bagi para murid yang ingin belajar tarekat, saya anjurkan, mulailah dari seorang guru yang dipercaya. Tapi sebaliknya, bagi guru yang ingin ditaati muridnya, cobalah didik para murid itu seperti timba yang mendekati sumurnya, bukan sumuryang mendekati timbanya. Maka akan terbentuklah kewibawaan guru terhadap muridnya. Bagi murid, saya anjurkan untuk belajar hanya pada satu guru.
Sebagai contoh mudahnya, kalau air teh dicampur susu lalu dicampur lagi dengan kopi atau lainnya, meskipun halal, apa jadinya? Bagaimana rasanya? Jadi kalau ingin minum teh, minum saja teh tanpa dicampur dengan lainnya. Nikmati minum teh dengan gula, kemudian cari manfaatnya bagi tubuh. Begitu juga kalau ingin minum kopi, susu, atau lainnya. Itu hanya sebagai perumpamaan. Jadi, kalau ingin belajar tarekat, jangan sekadar melihat organisasi itu besar Meski organisasi tarekat itu kecil, kalau lebih berpengaruh terhadap jiwa kita, sehingga iebih mendekatkan diri kepada ALLAH, tidak perlu ragu lagl untuk mengikutinya.
.
- Habib Muhammad Luthfi bin Yahya (Rois Am Jam'iyyah Ahlith Thariqah al-Mu'tabaroh an-Nahdliyyah)

14/04/2016

Siapa Kaya Siapa Miskin

SIAPA KAYA SIAPA MISKIN...????

Suatu ketika seorang ayah dari keluarga kaya raya, bermaksud memberi pelajaran,
bagaimana kehidupan orang miskin pada anaknya.

Mereka menginap beberapa hari di rumah keluarga petani yang miskin, di sebuah dusun di tepi hutan...

Dalam perjalanan pulang sang ayah bertanya pada anaknya...!!
Ayah : "Bagaimana perjalanan kita...?"
Anak : "Oh sangat menarik ayah..."
Ayah : "Kamu melihat bagaimana orang miskin hidup...?"
Anak : "Ya ayah...."
Ayah : "Jadi, apa yang dapat kamu pelajari dari perjalanan kita ini..?"
Anak : "Yang saya pelajari....,
kita memiliki satu anjing untuk menjaga rumah kita, mereka punya empat anjing untuk berburu.
Kita punya kolam renang kecil di taman, mereka punya sungai yang tiada batas…
Kita punya lampu untuk menerangi taman kita, mereka punya bintang yang bersinar di malam hari...
Kita memiliki lahan yang kecil untuk hidup, mereka hidup bersama alam...
Kita punya pembantu untuk melayani kita, tapi mereka hidup untuk melayani orang lain...
Kita punya pagar yang tinggi untuk melindungi kita, mereka punya banyak teman yang saling melindungi..."

.....Sang ayah tercengang diam mendengar jawaban anaknya...

Lalu sang anak melanjutkan...: "Terima kasih ayah, karena ayah telah menunjukkan betapa miskinnya kita..."

Bukankah ini suatu sudut pandang yang menakjubkan...?

Bersyukurlah dengan apa yang telah kita miliki dan jangan pernah risau dengan apa yang tidak kita miliki~

11/04/2016

AKHLAK MULIA ROSULULLOH SAW

AKHLAK MULIA
Oleh: A. Mustofa Bisri

قل ان كنتم تحبون الله فاتبعوني يحببكم الله ويغفر لكم ذنوبكم  والله غفور رحيم (ال عمران:٣١ )
“Katakanlah, jika kamu benar menyintai Allah, ikutilah aku; maka Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”

Hampir semua orang beragama mengaku menyintai Allah, tapi mungkin tidak terlalu banyak yang berusaha mengikuti jejak RasulNya, kecuali dalam pengakuan.
Ini boleh jadi karena keengganan untuk lebih mengenal Rasulullah SAW sebelum mengaku mengikuti jejaknya.

Umumnya orang merasa tidak punya waktu untuk membaca sunnah Rasulullah SAW agak sedikit komplit. Umumnya, orang membaca, menulis, atau menyampaikan hadis Nabi Muhammad SAW –bahkan Al-Quran—sebatas yang sesuai dengan kecenderungan mereka yang bersangkutan. Hal ini tidak mengapa, asal tidak sampai meninggalkan atau melewatkan nilai penting --apa pula yang terpenting-- dari nilai-nila mulia Rasulullah SAW. Nilai yang apabila kita ikuti merupakan dakwah tersendiri yang pasti tidak kalah dari dakwah-dakwah kreasi kita sendiri.

Dalam kesempatan kali ini, saya akan tampilkan sifat utama Rasulullah SAW yang sesuai dengan missi utamanya. Satu dan lain hal agar kita yang di muara ini dapat sedikit melihat beningnya MataAir.   

Seperti dinyatakan oleh al-Quran sendiri dan persaksian para sahabat beliau, Panutan agung kita Nabi Muhammad SAW adalah seorang yang berakhlak sangat mulia. Imam Bukhari meriwayatkan dari shahabat Anas r.a. yang berkata:
"لم يكن رسول الله صلى الله عليه وسلم فاحشا ولا لعانا ولا سبابا .."
“Rasulullah SAW orangnya tidak keji dan kasar, tidak tukang melaknat, dan tidak suka mencaci..”
Imam Bukhari juga meriwayatkan pernyataan Masruq r.a.yang mirip pernyataan Anas:
"لم يكن رسول الله صلى الله عليه وسلم فاحشا ولا متفاخشا وانه كان يقول ان خياركم احاسنكم اخلاقا"
“Rasulullah SAW bukanlah orang yang keji dan suka bicara kotor. Beliau bersabda: ‘Sesungguhnya orang-orang terbaik di antara kalian ialah orang-orang yang paling baik pekertinya.”

Shahabat Anas yang pernah meladeni Rasulullah SAW selama sepuluh tahun tidak pernah sekali pun mendengar Rasulullah SAW membentaknya. (Lihat persaksiannya di Bukhari dan Muslim).
Bahkan Imam Bukhari meriwayatkan:
حدثنا محمد بن سلام اخبرنا عبد الوهاب عن ايوب عن عبد الله بن ابي مليكة عن عائشة رضي الله عنها ان يهود اتوا النبي صلى الله عليه وسلم فقال السام عليكم فقالت عائشة عليكم ولعنكم الله وغضب الله عليكم قال مهلا يا عائشة عليك بالزفق واياك والعنف والفحش قالت اولم تسمع ما قالوا؟ قال اولم تسمعي ما قلت رددت عليهم فيستجاب لي فيهم ولا يستجاب لهم في (وفي رواية قال رسول الله: قد قلت وعليكم)   
Orang-orang Yahudi datang kepada Rasulullah SAW dan berkata “As-saamu ‘alaikum!” (bukan Assalaamu ‘alaikum), “Kematian bagimu!”. Sayyidatina ‘Aisyah pun menyahut: “Kematiaan juga bagi kalian dan juga laknat Allah dan murka Allah!” Rasulullah SAW pun menegur: “Tenang, ‘Aisyah; jagalah kelembutan, jangan kasar dan keji!” Sayyidatina ‘Aisyah masih menjawab: “Apakah Rasulullah tidak mendengar apa yang mereka katakan?” Rasulullah bersabda: “Apakah kau tidak mendengar apa yang aku katakan? Aku telah mengembalikan doa mereka kepada mereka (Rasulullah sudah menjawab “wa’alaikum” yang artinya “bagi kalian juga”) doaku atas mereka diijabahi dan doa mereka terhadapku tidak”.

Alangkah mulianya akhlak Rasulullah! Sampai pun sikap buruk mereka yang membencinya, tidak mampu membuat beliau meradang; bahkan menasehati isterinya agar tetap bersikap lembut; tidak kasar dan keji. 

Akhlak yang mulia ini, sesuai benar dengan missi Rasulullah SAW seperti disabdakannya sendiri,

" انما بعثت لاتمم صالح الاخلاق"  
“Aku diutus semata-mata untuk menyempurnakan kebaikan akhlak.” (Imam Ahmad dari Sa’ied bin Manshur dari Abdul ‘Aziez bin Muhammad dari Muhammad bin ‘Ajlaan dari al-Qa’qaa’ bin Hakiem dar Abi Shaleh dari Abu Hurairah).

Bandingkan akhlak Rasulullah itu dengan banyak penganutnya yang gemar melaknat dan mencaci bahkan terhadap saudaranya sendiri.

Sehebat apa pun takwa orang Islam, pastilah tidak mungkin melebihi takwa Rasulullah SAW. Menyamai saja tidak. Sebesar apa pun ghierah atau semangat beragama orang Islam, pastilah tidak mungkin melebihi ghierah dan semangat beragamanya Rasulullah SAW. Menyamai saja tidak. Hanya saja dalam ghierah dan semangat beragama itu, dalam membela Allah dan agamaNya, Rasulullah SAW tidak mengikut sertakan nafsunya. Boleh jadi nafsu inilah yang membedakan; nafsu inilah yang membuat seolah-olah banyak muslim masa kini tampak lebih bersemangat dari Rasulullah sendiri. Padahal tidak.

Seandainya umat Islam mau meniru sifat mulia Rasul mereka itu dan mengikuti jejaknya, pastilah banyak persoalan-persoalan keumatan, khususnya dalam pergaulan hidup mereka sendiri, dapat dengan mudah teratasi.

Allahummahdinaa fiiman hadaiTa..

30/03/2016

Demokrasi Tahlilan dan Demokrasi Pancasila

Jikalau kita ingin melihat pelaksanaan Pancasila yang benar dan tepat maka lihatlah orang tahlilan. Inilah filosofi Pancasila yang berada di Tahlilan ala NU. Satu, orang tahlil itu pasti baca surat Al-Ikhlas yang berbunyi Qulhu Allahu ahad Allahus shomad. Itulah KETUHANAN YANG MAHA ESA dan di dalam tahlil pasti baca itu. Yang artinya Tuhan itu satu.
Kedua, orang tahlil di lingkungan NU itu, siapa pun boleh datang dan ikut, tidak ada seleksi, tidak ada pertanyaan, "kamu bisa tahlil enggak? Kalau enggak bisa, disuruh keluar. Di NU tidak seperti itu,”. Bahkan nonmuslim pun boleh masuk dan orang yang membid'ah-bid'ahkan tahlil pun dipersilakan ikut, kalau mau. Tidak ada yang dibeda-bedakan. Itulah KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB
Dan kalau dilihat di kampung-kampung, orang tahlil itu duduknya bersila semua. Tidak dibedakan duduknya seorang pejabat, kiai, santri dan orang biasa. Semuanya sila, rata. Itulah PERSATUAN INDONESIA terdapat dalam sila ke tiga pancasila. Duduknya sila semua.
Setelah itu, menjelang dimulai, di sanalah mereka mencari pemimpin, mereka saling tuding menuding. Satunya bilang jenengan saja yang mimpin dan yang lainnya juga bilang jenengan yang lebih pantas,”
Di sanalah terjadi musyawarah kecil-kecilan mencari seorang pemimpin tahlil. Setelah kepilih satu yang memimpin tahlil. Itulah KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAT KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN/PERWAKILAN
Setelah tahlil selesai, berkat nya keluar. Semuanya mendapatkan berkat yang sama tanpa ada berbedaan baik tampilan dan isinya semuanya sama. KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA .

08/03/2016

Gerhana

والحكمة في الكسوف تنبيه عباد الشمس والقمر على انهما مسخران مذللان ولو كانا الهين لدفعا النقص عن انفسهما ولما محى نورهما
Hikmah fenomena gerhana matahari dan bulan adalah peringatan kpd para penyembah matahari dan bulan bahwa keduanya (matahari rembulan) itu dapat ditaklukkan dan ditundukkan.
Jika matahari dan bulan adalah tuhan maka pastilah keduanya dapat menolak kekurangannya, dan cahayanya tidaklah dapat memudar pudar.
(Hasyiah Al-Bajuri 'ala Fathil Qarib Jilid I, hal 228).