08/03/2016

15 Cara Memberikan Sugesti Posisif ke Anak

Anak adalah rezeki sekaligus amanah dari Allah Tuhan Pencipta untuk kita jaga, dan untuk kita didik menjadi pribadi yang sholeh/sholehah serta taat melaksanakan perintah agama dan berakhlak baik. Nah berikut ini ada beberapa waktu dan cara memberikan sugesti posisif ke anak. Diantaranya ada 15 cara yang bisa Anda lakukan.

Di momen inilah, orang tua bisa menanamkan jangkar emosi positif bagi anak Anda, sekaligus mewaspadai agar jangan sampai malah tertanam emosi danenergi negatif yang tidak memberdayakan dan bisa menjerumuskan.

Silakan Simak dan Jangan Lupa dishare , semoga bermanfaat

1. SAAT NGANTUK.

Dimomen ini, gelombang otak anak turun dari beta ke alpha. Anak berada dalam kondisi sangat malas untuk melakukan hal lain, kecuali tidur. Ini adalah kondisi hipnosis, dan anak sangat sugestif.
Ucapkan sugesti positif dengan lembut dan penuh cinta, setengah berbisik, di dekat telinga anak Anda. Lakukan minimal 3 kali. Akhiri dengan konfirmasi ke anak. Dan, bila anak mengabaikan atau menjawabnya dengan malas-malasan, biarkan, itu tanda sugesti Anda masuk.

2. 30 MENIT PERTAMA SAAT TIDUR

Tidur lelap, yang notabene anak tidak bisa disugesti, biasanya terjadi setelah 30 menit sejak pertama tidur. Berarti di momen 30 menit pertama, anak berada dalam kondisi alpha hingga theta, yaitu kondisi rileks yang sangat sugestif. Silakan masukan sugesti positif Anda, dan jangan lupa lakukan konfirmasi ke anak.

3. SAAT BERMIMPI

Mimpi merupakan momen sugestif, ketika anak berada dalam kondisi theta. Tanda ketika anak bermimpi ada pada kelopak matanya yang bergerak seakan bola matanya berputar. Di ranah psikologi, ini disebut REM (Rapid Eye Movement).

4. SAAT MENGIGAU

Ketika tidur, sering kali anak menghadirkan fenomena mengigau. Anak berada pada gelombang theta yang sangat sugestif. Peluk anak Anda, belai dan ucapkan cinta kasih sebelum memberinya kata-kata sugestif. Ulangi dan lakukan konfirmasi dengan sangat lembut.

5. 30 MENIT SEBELUM BANGUN

Dari gelombang deltha (tidur), 30 menit lamanya kesadaran bergeser ke gelombang theta dan alpha, untuk kemudian manusia masuk ke kesadaran beta. Di momen inilah orang tua bisa menyisipkan sugesti positif dengan berbisik lembut penuh belaian.

6. SAAT FOKUS MEMBACA BUKU

Dalam momen ini anak dalam kondisi alpha. Uji dengan lembut memanggilanya. Bila ia malas, bahkan tidak menjawab atau menjawabnya dengan tanpa menoleh, itu tanda anak begitu fokus. Berikan sugesti positif tanpa perlu menyentuhnya, agar pikiran sadarnya tetap fokus ke buku. Pastikan saat Anda bicara, anak semakin fokus membaca.

7. SAAT ANAK MAIN GAME

Keasyikan main game, membuat anak sangat fokus

sehingga gerbang pikiran bawah sadarnya terbuka lebar. Coba panggil lembut untuk memastikan bahwa pikiran sadarnya tidak menghiraukan Anda. Setelah yakin, ucapkan sugesti positif tanpa perlu Anda menyentuhnya. Ulangi beberapa kali.

 8. SAAT NONTON

Kasusnya sama dengan saat main game. Pikiran anak hanya terfokus pada satu objek sehingga gerbang bawah sadarnya terbuka lebar. Biarkan anak semakin fokus, lalu masukan sugesti positif ke pikiran bawah sadarnya.

9. SAAT ASYIK MENGGAMBAR/MELUKIS/MENULIS

Dimomen seperti ini, perkuat konsentrasi dan kenyamanannya sebelum memasukkkan sugesti. Misalnya : “Diva, sayangg. Semakin kamu asyik menggambar, semakin nyaman kamu, jauh lebih nyaman dan nyaman lagi. “Lalu masukan sugesi positif Anda.

10. SAAT MELAMUN

Ketika bengong dan melamun, critical factor seseorang terbuka. Saat itulah orang tua bisa mengintervensi kesadaran anak dengan memasukan sugesti positif. Pastikan tanpa menyentuhnya agar critical factornya tetap istirahat.

11. SAAT MENGINGAT SESUATU

Proses mengingat adalah momen ketika seseorang memasuki trance ringan. Bahkan dalam hipnosis formal, mengingat bisa menjadi teknik induksi untuk memasukan orang ke kondisi trance. Ketika anak sedang mengingat sesuatu, Anda bisa memasukkan sugesti positif dengan lembut. Misalnya : “Nak, semakin kamu mengingat, semakin kamu memutuskan diri untuk mulai sekarang dan seterusnya, kamu rajin sekolah”.

12. SAAT BINGUNG

Bingung merupakan kondisi trance juga. Bingung alami terjadi, dan pada kondisi ini, gerbang bawah sadarnya terbuka. Saat gerbang bawah sadar terbuka, maka sugesti apapun bisa masuk. Termasuk sugesti positif Anda pada buah hati tercinta.

13. SAAT MENANGIS

Sel-sel air mata mampu merangsang sugestivitas manusia. Tak heran bila dalam ritual tertentu, sering digunakan asap-asapan yang memedihkan mata sehingga terjadilah trance. Dalam kondisi menangis, trance tak Cuma disebabkan oleh sel air mata, tetapi juga emosi yang fokus dan memuncak. Maka, inilah saat yang tepat bagi orangtua untuk memberi sugesti positif pada anaknya.

14. SAAT MARAH

Ini juga sama halnya dengan kondisi anak saat menangis. Emosi anak muncul. Dan saat seperti ini, sugestivitasnya tinggi. Ikuti alur marahnya, jangan dibantah, lalu masukkan sugesti positif dengan lembut.

15. SAAT SEDIH

Sedih adalah kondisi ketika anak fokus pada masalahnya. Mungkin dibarengi dengan air mata. Dalam kondisi ini, critical factor-nya lengah, dan sugesti positif bisa menerabas bebas menyentuh pikiran bawah sadarnya.

Demikian beberapa cara memberikan sugesti posisif ke anak yang dikumpulkan dari facebook Omah Tentrem Hipnoterapi Jogja, 

07/03/2016

Ruang Lingkup ASWAJA

C. Ruang Lingkup ASWAJA NU
Paham Ahlussunah Waljama’ah meliputi tiga ruang lingkup yaitu : Lingkup akidah, lbadah, dan akhlak. selanjutnya, untuk membedakan lingkup-lingkup Ahlussunnah Waljamaah tersebut dengan lingkup-lingkup lain, perlu ditegaskan dengan menyebut masing masingnya menjadi :
1. Akidah Ahlussunnah waljamaah,
2. Ibadah (fiqh) Ahlussunnah Waljamaah, dan
3. Akhlak Ahlussunnah Waljamaah.


  1.         Akidah Ahlussunnah Waljamaah
Adapun institusi akidah (kalam) yang sejalan dengan paham Ahlussunnah Waljamaah ialah institusi akidah yang dicetuskan oleh al-Asy’ari dan al-Maturidi. Meski sama persis pemikiran kalam mereka berdua, tetapi pemikirannya tetap commited terhadap petunjuk naql. Keduanya sama-sama mempergunakan akal sebatas untuk memahami naql, tidak sampai mensejajarkannya apalagi memujanya. Bahkan secara terang-terangan melalui karya-karyanya, keduanya sama-sama menolak dan menentang logika Mu’tazilah yang terlalu memuja akal dan nyaris mengabaikan petunjuk naql.
Dengan demikian, maka dalam konteks historis, paham Ahlussunnah Waljamaah adalah sebuah paham yang dalam lingkup akidah mengikuti  pemikiran kalam al Asy’ari atau al-Maturidi. Yang institusinya kemudian disebut al-Asy’ariyah atau al-Maturidiyah. Dan sebagai institusi besar, keduanya tidak luput dari tokoh-tokoh pengikut yang selain menyebarkan, juga mengembangkan pemikiran kalam yang dicetuskan oleh pendirinya.
Beberapa nama tokoh yang menyebar-kembang kan pemikiran kalam al-Asy’ari dan al-Maturidi itu, tercatat nama-nama besar seperti: Al-Baqilani, al-Juwaini (imam al-Haramain), al-Isfirayini, Abu Bakar al-Qaffal, al-Qusyairi, Fahr al-Din al-Razi, Izz al-Din’Abd al Salam, termasuk al Ghazali dan al-Bazdawi. Dan pemikiran kalam yang banyak masuk serta mewarnai umat Islam di Indonesia ialah pemikiran kalam al-Asy’ari yang telah dikembangkan oleh al-Ghazali yang lebih dikenal sebagai tokoh sufistik.
Jauh (berabad-abad) pasca tokoh-tokoh tersebut, di Indonesia dikenal pula tokoh-tokoh al-Asy’ariyah (Asya’irah) seperti: Syekh al-Sanusi, Syekh al-Syarqawi, Syekh al-Bajuri, Syekh Nawawi Banten, Syekh al-Tarabilisi, Syekh al-Fatani, dan lain-lain. Yang tidak mustahil. pemikiran kalam mereka sudah berbeda dengan pemikiran kalam al-Asy’ari sendiri atau setidak-tidaknya ada nuansa lain.

  1.         Fiqh Ahlussunnah Waljamaah
Dalam konteks historis, institusi fiqh yang sejalan dengan konteks substansial paham Ahlussunnah Waljamaah ialah empat mazhab besar dalam fiqh Islam, mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Bahwa mazhab Hanafi dianut pula oleh mu’asis (pendiri) kalam at Maturidiyah, yakni Abu Mansur al-Maturidi. Sedangkan mazhab Syafi’i dianut pula oleh muassis kalam at Asy’ariyah, yakni Abu al-Hasan al-Asyari.
Tak bisa dipungkiri, bahwasanya di antara keempat fiqh tersebut satu sama lain banyak ditemui perbedaan di sana sini. Akan tetapi, perbedaan-perbedaan itu masih berada dalam koridor ikhtilaf-rahmat (perbedaan yang membawa rahmat). Abu Hanifah yang dikenal sebagai ahl al-ra’yi (banyak menggunakan akal/logika), tidak mengklaim pendapatnya sebagai terbenar. Dan ketiga Imam yang lain pun tidak pernah menyalahkan pendapat mazhab yang lain.
Keempat Imam Mazhab tersebut sama-sama commited terhadap petunjuk al-Quran dan al-Sunnah. sama-sama berpola-pikir Taqdim al-Nas ‘ala al-’aql (mendahulukan petunjuk nas daripada logika). Dalam berijtihad, mereka tidak mengedepankan akal kecuali sebatas untuk beristimbat (menggali hukum dan al Quran dan al-Hadits), tidak sampai mensejajarkan apa lagi mengabaikan nas. Dan inilah substansi paham Ahlussunnah Waljamaah.

  1.         Akhlak Ahlussunnah Waljamaah
Adapun lingkup yang ketiga ini, paham Ahlussunnah Waljamaah mengikuti wacana akhlak (tasawuf) yang dikembangkan oleh tokoh-tokoh seperti al Ghozali, al junaid, dan tokoh-tokoh lain yang sepaham termasuk Abu Yazid al-Bustami. Pemikiran akhlak mereka ini memang tidak melembaga menjadi sebuah mazhab tersendiri sebagaimana dalam lingkup akidah (kalam) dan fiqh. Namun wacana mereka itu sejalan dengan substansi paham Ahlussunnah Waljamaah serta banyak diterima dan diakui oleh mayoritas umat Islam.
Diskursus Islam kedalam lingkup akidah, ibadah, dan akhlak ini bukan berarti pemisahan yang benar-benar terpisah. Ketiga-tiganya tetap Integral dan harus diamalkan secara bersamaan oleh setiap muslim, termasuk kaum Sunni” (kaum yang berpaham Ahlussunnah Waljamaah). Maka seorang muslim dan seorang sunni yang baik, dalam berakidah, dalam beribadah sekaligus dalam berakhlaq. Seseorang baru baik akidah dan ibadahnya saja Ia belum bisa dikatakan baik, jika akhlaknya belum baik.
Oleh karena itu, maka lingkup akhlak tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia justru teramat penting dan menjadi cerminan Ihsan dalam diri seorang muslim. Jika Iman menggambarkan akidah, dan Islam menggambarkan ibadah; maka akhlak akan menggambarkan ihsan yang sekaligus mencerminkan kesempurnaan iman dan Islam pada diri seseorang. Iman ibarat akar, dan “Islam” ibarat pohonnya; maka “Ihsan” ibarat buahnya.
Mustahil sebatang pohon akan tumbuh subur tanpa akar dan pohon yang tumbuh subur serta berakar kuatpun akan menjadi tak bermakna tanpa memberikan buah secara sempurna. Mustahil seorang muslim beribadah dengan baik tanpa didasari akidah kuat, dan akidah yang kuat serta ibadah yang baik akan menjadi tak bermakna tanpa terhiasi oleh akhlak mulia.

Idealnya, ialah berakidah kuat, beribadah dengan baik dan benar, serta berakhlak mulia. Beriman kuat, berislam dengan baik dan benar, serta berihsan sejati. Maka yang demikian inilah wujud insan kamil/(the perfect man) yang dikehendaki oleh paham Ahlussunnah waljamaah.



Sejarah Perkembangan Paham Aswaja

            6. Periode Imam Al-Ghazali-Al-Junaid
Al-Ghazali, yang bernama lengkap “Zain al-Din abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al Ghazali’ dan bergelar “Hujjah al-Islam” (pembela umat Islam), lahir di Tus (450-505 H) adalah seorang besar yang sangat populer di kalangan umat.
Popularitas al-Ghazali, memang tidak hanya di satu keilmuan belaka, melainkan di berbagai bidang dikenal sebagai tokoh penerus kalam al-asy’ariyah, fiqh Syafiiyah, filosof muslim, dan bidang-bidang lainnya, terutama di bidang Tasawuf dengan monumentalnya berjudul Ihya ‘Ulum al-Din.
Ketokohan al-Ghazali di bidang Tasawuf (akhlak) sebenarnya didahuiui oleh kemunculan seorang tokoh di bidang yang sama Imam al-junaidi al-Baghdadi (w. 910 M) yang lebih dikenal dengan “aljunaid’

Kedua tokoh ini kemudian mempermantap institusi Ahlussunnah Waljamaah, khususnya dalam lingkup tasawuf (akhlak) : setelah periode sebelumnya dalam lingkup fiqh dipelopori oleh imam Mazhab Empat (Abu Hanifah, Malik bin Anas, Muhammad bin Idris al Syafi’i, Ahmad bin Muhammad bin Hanbal); dan dalam lingkup kalam, (akidah) dipelopori oleh al-Asy’ari dan al Maturidi.

            bersambung Ruang Lingkup Aswaja

Sejarah Perkembangan Paham Aswaja

            5. Periode Imam Al-Asyari-Al Maturidi
Periode ini pada dasarnya merupakan periode institusi Ahlussunnah Waljamaah, khususnya dalam lingkup kalam (teologi). Karena semenjak kemunculan dua tokoh besar al-Asy’ari dan al-Maturidi, terasa sedemikian melembaganya nama Ahlussunnah Waljamaah.
Abu al-Hasan al-Asy’ari (260-324 H) berada di Basrah dan Abu Mansur al-Maturidi (248-333 H) berada di Khurasan yang saling berjauhan dan praktis tidak pernah berkomunikasi itu, secara kebetulan sama-sama berjuang keras menegakkan Akidah (kalam) Ahlussunnah Waljamaah dengan menolak paham Mu’tazilah yang hingga itu terus berkembang dan mendapat dukungan politis dan pihak khalifah dan daulah Abasiyah terutama khalifah al-Makmun, al-Mu’tasim, dan al-Wasiq.

Meski kemasan institusi al-Asy’ari dan al-Maturidi hanya sebatas dalam lingkup kalam, namun mengingat secara substansial paham Ahlussunnah Waljamaah sudah melekat kuat di dada mayoritas umat semenjak zaman Rasul SAW.; maka selain pemikiran kalam mereka berdua segera mendapat sambutan hangat dari berbagai pihak dan berbagai penjuru juga memperkuat institusi Ahlussunnah Waljamaah sebagai sebuah paham mazhab) mayoritas muslimin.

Sejarah Perkembangan Paham Aswaja

         4. Perlode Imam Mazhab Empat
Periode Imam Mazhab Empat pada dasarnya merupakan periode kemunculan aliran (mazhab) di bidang fiqh yang jumlahnya semua sangat banyak. Namun kemudian tinggal empat mazhab saja yang hingga kini diterima dan diakui oleh mayoritas umat Islam. Keempat mazhab itu ialah:
a.       Hanafi, dengan pendirinya/imamnya Abu Hanifah (80- 150H)
b.      Maliki, dengan imamnya Malik bin Anas (93-170 H),
c.       Syafi dengan imamnya Muhammad bin Idris al Syafi (150-204 H).
d.     Hanbali, dengan imamnya Ahmad bin Muhammad bin Hanbal (164-241 H).

Keempat Imam Mazhab tersebut adalah para penegak substansi paham Ahlussunnah Waljamaah yang sangat andal. Selain di bidang fiqh, mereka pun banyak menyinggung lingkup kalam (akidah) dan akhlak yang semuanya tetap merujuk pada Sunnah Rasul dan tariqoh para sahabat (khususnya sahabat empat), dengan senantiasa berpegang teguh kepada petunjuk al-Quran dan al-Sunnah.

Sejarah Perkembangan Paham Aswaja

           3. Periode Tabi’in.
Maksud periode tabi’in dalam hal ini ialah periode pasca kekhalifahan sahabat Ali bin Abi Talib kw. yang ditengarai oleh munculnya sekte-sekte Islam yang banyak mendapat sorotan para ulama dan ahli sejarah, seperti:
a.       Qadariyah
b.      Murji’ah; dan
c.       Jabbariyah.
Qadariyah dengan pendirinya Ma’bad aljuhani dan al-Dimasyqi, antara lain berpendapat bahwa manusia memiliki qadar (kemampuan) sendiri untuk menciptakan perbuatannya tanpa campur tangan sama sekali Tuhan.
Sedangkan pendapat yang paling menonjol dari sekte Murji’ah yang dipelopori oleh Hasan bin Bilal al Muzni, Abu Salah al-Saman, Sauban dan Dirar bin Umar, ialah menangguhkan hukuman duniawi hingga hari kiamat. Hal ini lebih dilatarbelakangi oleh sikap apatis mereka terhadap pertikaian politik semenjak masa kekhalifahan Usman bin Affan ra. Mereka enggan menyatakan bagaimana hukumnya kelompok Syi’ah, Khawarij, Mu’awiyah, ataupun kelompok Ali sendiri yang non-Syi’ah. Bagaimana hukum masing-masing semua diserahkan kepada Tuhan kelak pada hari kiamat. Tetapi kemudian pendapatnya meluas termasuk meniadakan hukum qisas, diyat atau hukuman bagi pezina, semua hukuman ditunda sampai hari kiamat dihadapan Tuhan.
Sementara itu sekte jabariyah dengan pendirinya Jaham bin Safwan, atau sering pula disebut sekte Jahamiyah, menyatakan bahwa manusia tidak memiliki qadar sama sekali. Semua perbuatan manusia diciptakan secara mutlak oleh Qadar Tuhan. Baik-buruknya perbuatan manusia, semata-mata merupakan perwujudan dari baik buruknya Qadar Tuhan. Pendapat ini bertolak belakang 180 derajat dengan pendapat sekte Qadariyah.
Tentang keempat sekte ini, sebagian ulama berpendapat hanya ada dua sekte. Yakni, sekte Qadariyah adalah nama lain dari Mu’tazilah, dan sekte Murji’ah adalah nama lain dari jabariyah atau jahamiyah. Dan pengaruhnya sangat kuat, hingga kini terus mewarnai percaturan kalam (teologis) umat Islam ialah sekte Mu’tazilah.
Nama “Mu’tazilah” hanyalah nisbat terhadap ucapan Syekh Hasan Basri tatkala mengeluarkan muridnya yang amat radikal, yakni Wasil bin Ata al-Ghazal (80-131 H). I’tazil Anna! (keluarlah dari perguruanku!). Maka Wasil ini pula yang dikenal sebagai pendiri sekte Mu’tazilah
Wasil sendiri menamakan sektenya Ahl al-Adl wa al Tauhid (golongan yang berpaham adil dan mengEsakan Tuhan), sekaligus mengindikasikan pendapat utamanya. Adil menurutnya ialah bahwa Tuhan membalas amal perbuatan manusia yang diciptakan sendiri tanpa campur tangan Qadar-Nya. Sedangkan tauhid menunutnya ialah  bahwa Tuhan Esa tanpa diembel-embeli berbagai sifat, Dia tidak memiliki sifat-sifat.
Keradikalan Mu’tazilah, meskipun kemudian sekte ini terpecah sampai 22 sekte yang berbeda; semuanya terlalu berlebihan dalam memuja kemampuan akal, nyaris mengabaikan petunjuk naqli (al-Quran dan al-Sunnah). Bahkan menyatakan bahwa al-Quran adalah makhluk (ciptaan Tuhan) dan bersifat hadits (baru). Pernyataan terakhir iniIah yang kemudian disebut oleh banyak kalangan sebagai al-Mihnah (batu ujian bagi para ulama mayoritas yang tetap berpendapat bahwa al-Qur’an adalah kalam Tuhan, bukan makhluk-Nya dan atau Qadim.

bersambung Periode Imam Mazhab Empat

Sejarah Perkembangan Paham Aswaja

    2.  Periode Sahabat.
Kehidupan umat Islam pasca Rasul SAW, khususnya dibaiatnya sahabat Abu Bakar al-Siddiq ra. menjadi khalifah sampai berakhirnya masa kekhatifahan sahabat Ali bin Abi Talib kw. (karamAliahu wajhah),nyaris bernuansa lain dan mulai muncul perpecahan sebagaimana yang pernah disinyalir oleh Rasul SAW sendiri dalam beberapa haditsnya.
Sampai dengan masa kekhalifahan sahabat Umar bin Al-Khattab ra., perpecahan memang belum begitu kentara. Tetapi mulai kekhalifahan sahabat Usman bin Affan ra., fenomenanya mulai nampak jelas. Dan pada masa kekhalifahan sahabat Ali bin Abi Talib kw. Perpecahan mulai menjadi sebuah kenyataan. Dampak dan perpecahan ini, pada gilirannya menjadi sumber perbedaan paham di tengah umat Islam dalam mempedomani ajaran Islam.
Sejarah mencatat, bahwasanya sejak sahabat Abu Bakar ra. dibaiat menjadi khalifah, muncul gerakan pembangkang zakat yang menjadi sendi (rukun) Islam. Di pihak lain, muncul pula gerakan anti-Islam di bawah komando nabi-nabi palsu seperti : Musailamah al-Kazzab, Aswad al-Ansi, danTuhailah bin Khuwailid.
Meluasnya wilayah pemerintahan Islam di bawah pimpinan sahabat Umar ra., pun tak urung menimbulkan dendam terpendam dan para penguasa yang ditaklukkannya. Timbullah gerakan di bawah tanah untuk menyusupkan ajaran agama mereka ke dalam ajaran Islam dengan target untuk menghancurkan Islam dari dalam. Indikasinya sangat jelas, yakni terungkapnya kisah-kisah israiliyat di dalam beberapa disiplin keilmuan, bahkan lebih nyata lagi pada kasus pembunuhan terhadap khalifah Umar ra. sendiri.
Dalam sejarah dibuktikan bahwa pembunuh Umar ra. adalah Abu Lu’luah, Hurmuzan (keduanya asal Persia/Yahudi) dan jufainah (Nasrani). Inilah indikasi nyata adanya dendam kesumat dari pihak negara-negara yang ditaklukkan sahabat Umar ra. Dan mereka ini pastilah orang-orang non-Ahlussunnah Waljamaah!
Pada masa pemerintahan Usman ra. (23-35H), nuansa perpecahan kian meningkat dan issu nepotisme pun mulai merebak. Lidah Provokator ulung Abdullah bin Saba’ (si Yahudi yang pura-pura Islam), mulai berhasil mempengaruhi dan meracuni para elit politik. Perasaan tidak puas terhadap kepemimpinan Usman semakin menjadi-jadi, kontra politik sengaja dibesar-besarkan, dan pemberontakan demi pemberontakan terjadi di Kufah, Basrah, Mesir, dan tempat-tempat lain dengan tujuan untuk menjatuhkan kepemimpinan sahabat Usman ra.
Di sisi lain, muncul pula sebuah mazhab yang di kenal dengan “wisayah” yang tidak lain didirikan oleh provokator cerdik Abdullah bin Saba Isi mazhab itu berupa doktrin bahwa Rasul SAW ditegaskan telah berwasiat kepada Ali bin Abi Thalib ra. sebagai pengganti dalam kedudukan khalifah. Maka diserukan kepada khalayak bahwa Ali-lah yang berhak menduduki jabatan khalifah, Usman dan dua pendahulunya tidak sah, bahwa perampas hak Ali.
Mazhab Wisayah itu diperkuat lagi dengan adanya paham yang disebut “Haq Ilahi” yang sama-sama dicetuskan oleh provokator licin Abdullah bin Saba Isinya ialah menyatakan bahwa kedudukan khalifah adalah hak Tuhan, dan hak Tuhan itu jatuh kepada sahabat melalui wasiat Rasul.
Dengan demikian, praktis pada masa kepemimpmnan sahabat Usman ra. ini, golongan non Ahlussunnah Waljamaah sudah mulai berani menampakkan diri.
Apalagi pada masa kekhalifahan sahabat Ali bin Abi Talib kw. Partai-partai politik mulai bermunculan dengan latar belakang perbedaan golongan (paham) yang berbeda-beda. Partai Syi’ah yang mengklaim berada di belakang Ali ra, jelas sudah menyimpang dan petunjuk al-Quran dan al-Sunnah. Mereka pun akhirnya terpecah menjadi banyak golongan yang bertumpu pada tiga golongan besar, yakni Syi’ah aI-Ghulah, Rafidah, dan Syi’ah Zaidiyyah.
Penyimpangan yang dilakukan kaum Syi’ah dengan berbagai golongan itu, antara lain:
a.       Berani memasukkan kepercayaan Yahudi dan Nasrani serta Hindu Samani dan Majusi Mani tentang paham inkarnasi (al-khulul) dan paham reinkarnasi (al tanashukh).
b.      Mengkultuskan sahabat Ali kw, seraya mengkafirkan tiga sahabat (khalifah.) sebelumnya.
c.       Menolak pendapat ljma’ dan Qiyas, serta membolehkan kawin kontrak (mut’ah).
Selain Syi’ah. partai yang cukup besar ialah partai Khawarij. Mereka adalah orang-orang yang keluar dari golongan Ali dan menyatakan sebagai pembela Usman yang pada gilirannya berhadapan dengan Syi’ah.
Jika dirunut dari masa kepemimpinan Abu Bakar ra. sampai masa kepemimpinan Ali bin Abi Talib kw. (1140 H/632-661 M), umat Islam tidak luput dari nuansa perpecahan yang berakibat pada nuansa perbedaan paham. Namun paham-paham yang muncul dan sampai keluar dari rel Ahlussunnah Waljamaah (al-Quran dan al Hadits) pada dasarnya tidak sebanding dengan jumlah mereka yang masih berada di relnya.

bersambung ...

Tata Cara Khutbah dan Sholat Gerhana


Tanggal 9 Maret 2016 InsyaAllah akan terjadi gerhana matahari.
Ketika jamaah sudah berkumpul maka Bilal menyerukan sholat dengan membaca seruan
ASH-SHOLAATU JAAMI'AH
Lalu imam memulai sholat gerhana dg Tata cara sholat gerhana sebagai berikut..
1. Takbirotul ihrom bersama niat solat kusuf lillahi ta'ala...
2. Doa iftitah, taawudz
3. Membaca surat al fatihah dan surat lain (sunnahnya baca QS Al-Baqarah atau boleh juga baca surat pendek ) secara SIRRY
4. Ruku'
5. Bangun dari ruku'
6. Membaca surat fatihah ke 2 dan surat lain (sunnahnya baca QS Ali Imran atau boleh juga baca surat pendek ) secara SIRRY
7. Ruku' yg ke 2
8. bangun dari ruku' (itidal).
9. Sujud dua kali.
10. Melanjutkan rekaat yang ke dua
 Berdiri utk Membaca surat al-Fatihah dan dan surat lain (sunnahnya baca QS an-Nisa atau boleh juga baca surat pendek ) secara SIRRY
11. Ruku'
12. Bangun dari ruku'
13. Membaca surat fatihah lagi dan surat lain (sunnahnya baca QS Al-Ma'idah atau boleh juga baca surat pendek ) secara SIRRY
14. Ruku' lagi
15. bangun dari ruku' (i'tidal).
16. Sujud dua kali.
17. Tasyahhud akhir
18. Salam
BILAL
Setelah selesai sholat maka Bilal berdiri di depan mimbar menghadap jama’ah  kemudian mengucapkan :
يَامَعَاشِرَالْمُسْلِمِيْنَ وَزُمْرَةَالْمُؤْمِنِيْنَ رَحِمَكُمُ اللهِ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ ، وَكَبِّرُوا ، وَصَلُّوا ، وَتَصَدَّقُوا... حَتَّى يُكْشَفَ مَا بِكُمْ
اَنْصِتُوْا وَاسْمَعُوْا وَاَطِيْعُوْا رَحِمَكُمُ اللهُ, اَنْصِتُوْا وَاسْمَعُوْا وَاَطِيْعُوْا رَحِمَكُمُ اللهُ, اَنْصِتُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ
Setelah Khatib naik ke mimbar, Bilal mengucapkan doa sebagai berikut :
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلىٰ مُحَمَّدٍ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلىٰ سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ،وَاْلحَمْدُ لِلهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ قَوِّاْلاِسْلاَمَ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْاَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، وَيَسِّرْهُمْ عَلىٰ اِقَامَةِ الدِّيْنِ. رَبِّ اخْتِمْ لَنَا مِنْكَ بِالْخَيْرِ وَيَاخَيْرَالنَّاصِرِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
KHOTIB memulai berkhutbah
Dengan ketentuan:
Khutbah 2 kali (seperti khutbah jumat, baik syarat maupun rukunnya)
Tema khutbah Isi dianjurkan motifasi melakukan taubat nashuha, memperbayak istighfar, sedekah dll.
BACAAN BILAL
ketika Khatib duduk diantara dua khutbah.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىٰ اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
KHOTIB melanjutkan khutbah ke 2 sampai SELESAI...
ALHAMDULILLAAH