Showing posts with label Khutbah. Show all posts
Showing posts with label Khutbah. Show all posts

12/09/2016

KAMBING ATAU SAPI

KAMBING ATAU SAPI 
Mana yang paling bagus buat kurban, sapi atau kambing? "Para ulama berbeda pendapat soal ini," kata Gus Najib Muhammad saat khutbah idul adha di masjid jami Alfattah Nglundo utara, Candimulyo, Jombang (12/9/2016). Pengasuh Pesantren Almadinah Denanyar ini menuturkan, sebagian ulama berpendapat bahwa yang baik adalah kurban kambing. Sebagaimana Nabi Ismail yang diganti kambing. Seperti teks QS As Saffat 107. Bizibhin adzim. Zihbin berarti sembelih kambing. Ulama lain berpendapat bahwa yang diperintahkan untuk disembelih adalah unta. Sesuai teks QS Alkautsar ayat 2. Wanhar. Itu artinya sembelih unta. Dibanding kambing dan sapi, unta adalah yang paling bagus dan paling mahal. Sehingga yang diperintahkan Allah agar disembelih adalah dari yang terbaik yang kita miliki. Dari yang paling kita cintai. Guna membuktikan bahwa yang paling kita cintai hanyalah Allah semata. Makanya dalam QS Alkausar disebutkan bahwa nyembelihnya, kurbannya, dan salatnya adalah lirobbika. Untuk Allah tuhanmu. Allah tuhan kita. Hal ini cocok dengan QS Ali Imron 92. Lan tanalul birro hatta tunfiqu mimma tuhibbun. Tak akan meraih kebaikan, hingga rela memberikan dari yang terbaik yang kita miliki. Yang kita cintai. Tentu kita lebih cinta unta dibanding sapi. Lebih cinta sapi dibanding kambing. "Namun kurban kambing, masih lebih bagus daripada tidak sama sekali," tuturnya. Jika belum mampu, tidak kurban tidak apa2. Yang penting jangan benci kurban. Agar tidak masuk golongan yang disebut dalam ayat ke 3 QS Alkausar. Innasyaniaka. Orang yg benci kamu Muhammad. Juga benci ajaran2mu Muhammad. Huwal abtar. Dia putus dari rahmad Allah. Putus dari berkah Allah. Putus dari syafaat Rosulullah. Agar tidak putus, pakar tafsir Quran Pesantren Tebuireng Dr KH Mustain Syafiie saat ngaji rutin jumat legi di masjid Agung Baitul Mukminin Jombang menganjurkan kurban setiap tahun. Walaupun hanya dengan seekor kambing untuk satu keluarga. Wallahu a'lam

12/05/2016

Khutbah Jumat: Menjunjung Tinggi Wasathiyyah dalam Islam

Menjunjung Tinggi Wasathiyyah dalam Islam

Ciri Islam yang paling menonjol adalah tawassuth, ta’adul, dan tawazun. Ini adalah beberapa ungkapan yang memiliki arti yang sangat berdekatan atau bahkan sama. Tiga ungkapan tersebut bisa disatukan menjadi “wasathiyah”, yakni moderasi, adil, atau seimbang.<>

Khotbah I

الحمد لله الذى جعلنا أُمَّةً وَسَطًا و وَأمَرنَا بِالعَدْلِ وَالإحْسَانِ أشْهد أن لااله إلا الله وحده لاشريك له رب الناس وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الموصوف بأكمل صفات الأشخاص. اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين وسلم تسليما كثيرا، أما بعد.

Dalam Al-Qur’an Allah berfirman:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

“Dan demikian (pula) kami menjadikan kalian (umat Islam), umat penengah (adil dan pilihan), agar kamu menjadi saksi atas seluruh manusia dan agar Rasul (Muhammad SAW) menjadi saksi atas kamu.” (QS. Al-Baqarah;143).

Kata وَسَطًا  dalam firman Allah di atas bermakna adil atau menempatkan sesuatu pada tempatnya. Ayat tersebut memperjelas bahwa wasathiyah merupakan karakter esensial ajaran Islam. Islam menjunjung tinggi sikap “tengah-tengah” dalam pengertian adil, proporsional dan berimbang.

Dalam salah satu riwayat hadits disebutkan:

وَخَيْرُ اْلأَعْمَالِ أَوْسَطُهَا وَدِيْنُ اللهِ بَيْنَ الْقَاسِىْ وَالْغَالِىْ

“Dan sebaik-baik amal perbuatan adalah yang pertengahan, dan agama Allah itu berada di antara yang beku dan yang mendidih.”

Jamaah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah,

Wasathiyyah yang kerap diterjemahkan dengan moderasi memiliki beberapa pengertian, antara lain pertama, keadilan di antara dua kezhaliman (عَدْلٌ بين ظُلْمَيْنِ) atau kebenaran di antara dua kebatilan (حَقٌّ بَيْنَ بَاطِلَيْنِ), seperti wasathiyah antara ateisme dan politeisme. Islam ada di antara atheisme yang mengingkari adanya Tuhan dan politeisme yang memercayai adanya banyak Tuhan. Artinya, Islam tidak mengambil paham ateisme dan tidak pula paham poleteisme, melainkan paham tauhid (monotheisme), yakni paham yang memercayai Tuhan Yang Esa. Begitu juga wasathiyyah antara boros dan kikir yang menunjuk pada pengertian tidak boros dan tidak kikir. Artinya, Islam mengajarkan agar seseorang di dalam memberi nafkah tidak kikir dan tidak pula boros, melainkan ada di antara keduanya, yaitu al-karam dan al-jud. Allah berfirman;

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al-Furqan: 67)

Kedua, pemaduan antara dua hal yang berbeda/berlawanan. Misalnya, wasathiyyah antara rohani dan jasmani yang berarti bahwa Islam bukan hanya memerhatikan aspek rohani saja atau jasmani saja, melainkan memerhatikan keduanya. Islam pun merupakan agama yang menyeimbangkan antara `aql (akal) dan naql. Bagi Islam, akal dan wahyu merupakan dua hal yang sama-sama memiliki peranan penting yang sifatnya komplementer (saling mendukung antara satu sama lain). Islam pun menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat, antara individu dan masyarakat,  antara ilmu dan amal, antara ushul dan furu’, antara sarana (wasilah) dan tujuan (ghayah), antara optimis dan pesimis, dan seterusnya.

Pengertian wasathiyah yang ketiga adalah realistis (wâqi’iyyah). Islam adalah agama yang realistis, tidak selalu idealistis. Islam memunyai cita-cita tinggi dan semangat yang menggelora untuk mengaplikasikan ketentuan-ketentuan hukumnya, tapi Islam tidak menutup mata dari realitas kehidupan yang–justru–lebih banyak diwarnai hal-hal yang sangat tidak ideal. Ini tidak berarti bahwa Islam menyerah pada pada realitas yang terjadi, melainkan justru memerhatikan realitas sambil tetap berusaha untuk tercapainya idealitas.

Saat seseorang tak sanggup shalat dengan cara berdiri lantaran sakit, maka Islam memberi rukhsah (keringanan) bisa dilaksanakan dengan cara duduk. Ketika dakwah tak digubris oleh sasaran dakwah, Nabi dan ulama mencontohkan sikap menghargai proses dan tahapan, bukan cara-cara kekerasan dan pemaksaan. Inilah wasathiyah yang berarti realistis: merealisasikan idealitas sembari mempertimbangkan secara serius kondisi dan situasi yang sedang dihadapi.

Khotbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ

07/03/2016

Tata Cara Khutbah dan Sholat Gerhana


Tanggal 9 Maret 2016 InsyaAllah akan terjadi gerhana matahari.
Ketika jamaah sudah berkumpul maka Bilal menyerukan sholat dengan membaca seruan
ASH-SHOLAATU JAAMI'AH
Lalu imam memulai sholat gerhana dg Tata cara sholat gerhana sebagai berikut..
1. Takbirotul ihrom bersama niat solat kusuf lillahi ta'ala...
2. Doa iftitah, taawudz
3. Membaca surat al fatihah dan surat lain (sunnahnya baca QS Al-Baqarah atau boleh juga baca surat pendek ) secara SIRRY
4. Ruku'
5. Bangun dari ruku'
6. Membaca surat fatihah ke 2 dan surat lain (sunnahnya baca QS Ali Imran atau boleh juga baca surat pendek ) secara SIRRY
7. Ruku' yg ke 2
8. bangun dari ruku' (itidal).
9. Sujud dua kali.
10. Melanjutkan rekaat yang ke dua
 Berdiri utk Membaca surat al-Fatihah dan dan surat lain (sunnahnya baca QS an-Nisa atau boleh juga baca surat pendek ) secara SIRRY
11. Ruku'
12. Bangun dari ruku'
13. Membaca surat fatihah lagi dan surat lain (sunnahnya baca QS Al-Ma'idah atau boleh juga baca surat pendek ) secara SIRRY
14. Ruku' lagi
15. bangun dari ruku' (i'tidal).
16. Sujud dua kali.
17. Tasyahhud akhir
18. Salam
BILAL
Setelah selesai sholat maka Bilal berdiri di depan mimbar menghadap jama’ah  kemudian mengucapkan :
يَامَعَاشِرَالْمُسْلِمِيْنَ وَزُمْرَةَالْمُؤْمِنِيْنَ رَحِمَكُمُ اللهِ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ ، وَكَبِّرُوا ، وَصَلُّوا ، وَتَصَدَّقُوا... حَتَّى يُكْشَفَ مَا بِكُمْ
اَنْصِتُوْا وَاسْمَعُوْا وَاَطِيْعُوْا رَحِمَكُمُ اللهُ, اَنْصِتُوْا وَاسْمَعُوْا وَاَطِيْعُوْا رَحِمَكُمُ اللهُ, اَنْصِتُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ
Setelah Khatib naik ke mimbar, Bilal mengucapkan doa sebagai berikut :
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلىٰ مُحَمَّدٍ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلىٰ سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ،وَاْلحَمْدُ لِلهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ قَوِّاْلاِسْلاَمَ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْاَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، وَيَسِّرْهُمْ عَلىٰ اِقَامَةِ الدِّيْنِ. رَبِّ اخْتِمْ لَنَا مِنْكَ بِالْخَيْرِ وَيَاخَيْرَالنَّاصِرِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
KHOTIB memulai berkhutbah
Dengan ketentuan:
Khutbah 2 kali (seperti khutbah jumat, baik syarat maupun rukunnya)
Tema khutbah Isi dianjurkan motifasi melakukan taubat nashuha, memperbayak istighfar, sedekah dll.
BACAAN BILAL
ketika Khatib duduk diantara dua khutbah.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىٰ اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
KHOTIB melanjutkan khutbah ke 2 sampai SELESAI...
ALHAMDULILLAAH