16/11/2016

TASBIH DALAM DEMO

TASBIH DALAM DEMO 
Saat ngaji nadzom kifayatul adkiya di kediaman Mas Andik Nawawi Rabu (2/11/2016), a'wan PCNU Jombang, KH Lukman Hakim Tambakberas menjelaskan makna QS Al-Ahzab 42. Sucikanlah Allah dari segala sifat yang tidak layak bagi diri-Nya sejak dini hari hingga akhir malam. ’’Maksud mensucikan Allah iki piye???’’ tanya Kiai Lukman. Beliau lantas menjawabnya sendiri. Jika anda mau mencuri, kemudian berpikir, Allah pasti tidak melihat jika aku mengambilnya. Pada saat itu, kita tidak mensucikan Allah. Karena menganggap Allah tidak maha mengetahui. Demikian pula ketika kita ingin maksiat. Kemudian kita berfikir bahwa Allah tidak sedang melihat kita. Maka pada saat itu kita tidak mensucikan Allah. Karena kita menganggap Allah tidak maha melihat. Ketika kita demo. Lalu berfikir. ’’Jika aku tidak demo, pasti Allah tak akan merubah.’’ Pada saat itu, kita sedang tidak mensucikan Allah. Karena menganggap Allah tidak maha kuasa. Ketika kita terima gaji lalu dihitung-hitung, dibandingkan dengan kebutuhan. Lalu berkata. ’’Wah, ini tidak cukup untuk satu bulan’’. Pada saat itu, kita sedang tidak mensucikan Allah. Karena kita menganggap Allah tidak mampu memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Ketika menuntut perubahan. Lalu kita membakar diri, bunuh diri. Pada saat itu kita sedang tidak mensucikan Allah. Karena berpikir Allah tidak bisa merubah jika aku tidak bunuh diri. Menganggap Allah tidak punya kekuatan. Padahal Allah maha kuat dan maha dahsyat. Kun fayakun. Yang kurang dari demo 4 November kemarin hanyalah tidak adanya aksi bakar diri. Padahal aksi bakar diri itulah yang memantik revolusi Arab spring di Tunisia dan Mesir. Namun itu menunjukkan bahwa saudara-saudara kita yang demo masih mensucikan Allah. Masih yakin dengan kebenaran janji Allah di QS As Saff ayat 13. Nasrumminallah wa fathun qorib. Pertolongan dan kemenangan dari Allah itu sangat dekat. Sangat dekat. (rojiful mamduh)

ZIKIR WAKTU MAKSIAT

ZIKIR WAKTU MAKSIAT

Saat ngaji nadzom kifayatul adkiya di kediaman Mas Andik Nawawi Rabu (2/11/2016), a'wan PCNU Jombang, KH Lukman Hakim Tambakberas menjelaskan makna QS Al-Ahzab 41. Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknya.

’’Dalam setiap situasi dan kondisi, kita harus selalu ingat Allah,’’ tuturnya.

Jika sedang melakukan ibadah atau perbuatan baik, maka zikirnya adalah dengan berdoa. Ya Allah, jadikanlah aku istiqomah dalam kebaikan ini. Dan terimalah amal ibadahku ini.

’’Jika sedang melakukan  maksiat, zikirnya adalah dengan berdoa. Ya Allah, berilah aku kekuatan untuk segera bertaubat dari maksiat ini,’’ tuturnya.

Jika sedang dapat nikmat, zikirnya adalah dengan berdoa. Ya Allah, jadikanlah aku orang yang bersyukur terhadap nikmatmu ini.

Jika sedang diuji dengan sakit, musibah atau bencana. Zikirnya adalah dengan berdoa, ya Allah berilah aku kekuatan untuk bersabar menerima ujianmu ini.

Jika kita zikir seperti itu, otomatis iman akan terus menempel. Dengan adanya iman di dada, kita tak akan pernah putus asa. Sebab putus asa, hanyalah pekerjaan orang kafir (QS Yusuf 87). (rojiful mamduh)

IMAM KOPOK

IMAM KOPOK

Saat ngaji usai salat Duha di Masjid Polres Jombang Kamis (3/11/2016), Pengasuh PP Al-Madinah Denanyar, KH Najib Muhammad, cerita tentang empat pilar tegaknya dunia. Pertama yakni ilmu ulama. ’’Ilmu itu bisa membuat kita tahu benar dan salah. Namun belum tentu bisa membuat kita berperilaku benar,’’ ujarnya. Sebab ilmu itu berdimensi dunia. Termasuk ilmu agama sekalipun. Sementara perilaku benar, berdimensi spiritualitas.

’’Makanya Nabi bersabda, barang siapa yang bertambah ilmunya, namun tidak bertambah hidayah spiritualitasnya, maka dia hanya akan semakin jauh dari Allah,’’ jelasnya.

Dulu, banyak ulama muslim yang ahli fisika, matematika dan kedokteran. Dengan semua ilmu itu, mereka makin dekat kepada Allah.

’’Ulama itu seperti bocah angon. Angon itu dibelakang kambing. Kalau didepan kambing, namanya bakul (penjual) kambing,’’ ucapnya.

Dalam salat pun, Nabi masih ngemong umat. Makanya jika kita jadi imam, Nabi minta agar memperhatikan makmum. Bacaan Quran imam dianjurkan tidak terlalu panjang. Sebab makmumnya punya hajat berbeda-beda.

Gus Najib bercerita, suatu malam, Nabi minta persetujuan jamaah untuk ngimami dengan baca surat  yang panjang yakni Al-Jumuah. ’’Nabi mau baca surat panjang izin jamaah dulu. Ini berarti sangat ngemong jamaah,’’ tuturnya.

Para sahabat menyetujui permintaan Rosul tersebut. Namun setelah fatihah, terdengar suara anak jamaah yang nangis. ’’Seketika itu Nabi mengubah bacaannya. Tidak jadi baca Al-Jumuah, tapi diganti baca Al-Kaustar yang pendek. Makanya kalau ada orang bilang salat khusyu itu tidak dengar suara sekitarnya, itu nyontoh siapa???. Itu bukan imam khusyu, tapi imam kopok,’’ ucapnya disambut tawa jamaah.

Pilar kedua yakni adilnya pemimpin. ’’Jika Allah menghendaki seseorang jadi baik, maka Allah akan menjadikan orang itu sebagai pelayan masyarakat,’’ kata Gus Najib mengutip sebuah hadist. Kiai, polisi, TNI, bupati, semuanya melayani masyarakat. ’’Surga nerakanya kiai itu ya di kiainya. Bisa jadi dia melintir dalil untuk kepentingannya sendiri,’’ ucapnya. ’’Surga nerakanya polisi ya ditugasnya sebagai polisi. Surga nerakanya TNI ya di tugasnya sebagai TNI. Surga nerakanya pejabat ya ditugasnya sebagai pejabat. Surga nerakanya orang yang kerja di pasar ya di pasar. Semua profesi itu sama. Kasta tertinggi didalam Islam hanyalah yang paling bertakwa,’’ tegasnya.

Pilar ketiga dan keempat adalah orang kaya yang dermawan dan doanya orang miskin. ’’Orang kaya itu diminta sumbangannya. Kalau orang miskin diminta doanya. Sekarang ini kan banyak orang kaya yang hanya mau nyumbang doa,’’ ucapnya kembali disambut tawa jamaah. (rojiful mamduh)

PENGARUH PERGAULAN

PENGARUH PERGAULAN
Saat ngaji dalam Jumat Bahagia PC IPNU-IPPNU Jombang di MI-MA Mambaul Ulum Kecamatan Megaluh (4/11/2016), Mbah Bolong, berpesan agar para siswa hati-hati memilih pergaulan. ’’Sampean ngomong ae lak mergo gumbul konco sing ngomong ae. Sampean gumbul konco sing meneng lak melok meneng,’’ tuturnya.

Gumbul konco yang merokok, kata Mbah Bolong, pasti tertular merokok. Gumbul konco yang gak gelem nulis, pasti aras-arasen nulis. Gumbul konco sing aras-arasen ngaji, pasti ora gelem ngaji.

’’Ojo gumbul wong sing seneng ngelakoni jelek. Agar tidak  gampang meremehkan perbuatan jelek,’’ paparnya. ’’Sampen gumbul konco sing nilai ulangane 5, pasti ora isin dapat nilai 5. Tapi kalau konco-koncone nilaine 8, sampan dapat nilai 5 pasti isin,’’ ujarnya.

Gumbul konco mabuk, pasti ikut mabuk. Gumbul konco zina, pasti ikut zino.

’’Gumbul konco apik, mangan ora bismillah mesti diingatno. Hayo.. wis moco bismillah apa belum. Kalau belum, dan baru ingat ditengah makan minum, baca bismillahnya.. Bismillahi fi awwalihi wa akhiri. Sampan moco ngunu, setan langsung muntah. Setan tidak bisa ikut makan kalau kita baca bismillah,’’ terangnya.

Teman yang baik, pasti juga mengingatkan jika kita makan tangan kiri. Sebab setan makannya tangan kiri. Nabi memerintahkan makan tangan kanan. Dan tidak boleh makan sambil berdiri.
’’Kalau koncone elek, pasti malah ngentahi.. Lapo awakmu mangan moco dungo barang.. Koyok kiai ae,’’ ucap mencontohkan.

Berteman dengan pejabat, kata Mbah Bolong, bisa menyebabkan    sombong.
Berteman dengan orang kaya, bisa menyebabkan semakin serakah dan haus dunia.
Sebaliknya, berteman dengan orang miskin akan membuat kita semakin bersyukur.
Berteman dengan kiai, ulama atau ahli ilmu, akan membuat kita semakin haus ilmu.
’’Berteman dengan ahli ibadah, kita akan semakin semangat ibadah. Sedangan banyak gumbul dengan perempuan akan membuat kita  bodoh,’’ jelasnya.

Quran sendiri memerintahkan kita berjamiyah dan berjamaah dengan orang-orang baik alias wong kang soleh kumpulono.

Hai orang-orang beriman, bertaqwalah kepad Allah,dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (QS Attaubah 119).

Sayyidina Ali bin Abi Tholib berkata:  * Bersahabatlah dengan orang yang selalu berbuat  kebajikan,niscaya engkau menjadi salah satu dari mereka,dan jauhilah teman  yang gemar berbuat jahat, niscaya engkau akan terhindar dari akibat kejahatan mereka.

’’Gumbul penjual minyak wangi, sampean ketularan wangi. Gumbul tukang las, ojo kaget kalau kepletikan geni,’’ pesan Mbah Bolong. (rojiful mamduh)

DOSA NGERASANI MELEBIHI ZINA

DOSA NGERASANI MELEBIHI ZINA 
Saat ngaji rutin Senin (31/10/2016), Pengasuh PP Al-Muhibbin Bahrul Ulum Tambakberas, KH Jamaludin Ahmad menerangkan tentang bahaya penyakit hati. ’’Semua perbuatan jelek sumbernya tiga penyakit hati. Yakni kibir, serakah dan hasud (iri dengki),’’ tuturnya. Kibir alias sombong inilah dosa pertama yang menyebabkan iblis terusir dari surga. Iblis sombong. Merasa lebih hebat dari Nabi Adam. Karena Nabi Adam diciptakan dari tanah. Iblis diciptakan dari api. Serakah inilah yang membuat Nabi Adam dan Hawa diturunkan dari surga. ’’Kuwabeh boleh di makan kecuali Buah Khuldi. Ngunu mangan buah Khuldi. Ini namanya serakah,’’ jelasnya. Iri dengki membuat kita tidak senang melihat orang lain dapat nikmat. Inilah yang menyebabkan Qobil membunuh Habil. Menggunjing atau ngerasani, bisa bersumber dari ketiga penyakit hati diatas. ’’Dosa ngerasani itu lebih besar dibanding zina ibunya sendiri tujuh puluh kali,’’ tutur Kiai Jamal. Sebab zina itu dosa haqqulloh , mudah terhapus jika pelakunya mau taubat. Tapi ngerasani itu haq adami. Dosanya tidak terhapus sekalipun taubat, jika tidak minta maaf pada orang yang dirasani. ’’Apa ada orang ngerasani yang minta maaf?’’ tanya Kiai Jamal. Filusuf Yunani yang bernama Socrates punya tiga filter untuk membentengi diri dari ngerasani. Suatu hari, ada orang datang hendak membicarakan temannya. Socrates lalu bertanya tiga hal kepada orang itu. Pertama, apakah Anda yakin, apa yang akan Anda katakan kepada saya itu benar? "Tidak. Sebenarnya saya HANYA MENDENGAR.’’ Kedua, apakah yang akan Anda katakan tentang teman saya itu sesuatu yang baik? "Tidak, ... malah sebaliknya …" Anda akan menceritakan sesuatu yang buruk tentang dia, tetapi Anda tidak yakin kalau itu hal benar...? Pertanyaan Socrates yang ketiga, apakah yang akan Anda katakan kepada saya tentang teman saya itu berguna bagi saya? "Tidak, ... agaknya sama sekali tidak berguna". Socrates lalu bicara dengan nada lebih tinggi. Bila Anda ingin menceritakan sesuatu yang belum tentu BENAR, bukan sesuatu yang BAIK, dan bahkan tidak BERGUNA, mengapa Anda harus menceritakan kepada saya...? (Rojif)

Ansor dan (Kedewasaan) Politik

Dalam sejarah perkembangannya, Ansor memulai komitmenya di dunia politik ketika diadakan Kongres VII yang diselenggarakan di Jakarta pada tahun 1967. Hasrat Ansor untuk terjun langsung di dunia politik ini dilatarbelakangi oleh kondisi yang sedang berkembang, yaitu adanya usaha mengecilkan peran Ansor dalam menumpas PKI dan menumbangkan Orde Lama. Hal demikian terungkap pada diskusi tematik yang diadakan PAC Ansor Jombang Kota, pada acara Limolasan, 15/11/2016.

Farid al-Farisi, yang menjadi pembicara dalam diskusi tersebut juga menuturkan bahwa politik adalah cara untuk mencapai sesuatu, ini adalah hal yang mutlak diperlukan dalam kehidupan sehari-hari kita. Namun, masalahnya akan lain apabila sudah bergeser pada partai politik. Perbedaan mulai muncul, bahkan tidak jarang berujung permusuhan. Oleh karenanya Ansor harus bisa mengelola permasalahan ini secara bijak.

Berkenaan dengan politik praktis, apakah kader Ansor boleh berpolitik? Pria yang biasa disapa Gus Farid ini memberikan jawaban, boleh tapi tidak wajib. Karena pada kenyataannya banyak kader Ansor yang tidak memungkinkan masuk ke politik praktis, misalkan karena sudah berkiprah sebagai PNS atau karyawan.

Namun untuk menjaga tarik menarik kepentingan, kader Ansor yang berada di partai politik yang berbeda-beda, ketika bicara tentang Ansor harus menanggalkan seragam partainya. Hal ini untuk menjaga politisasi Ansor. Akan tetapi bila dibutuhkan untuk membesarkan Ansor, maka kader-kader yang di berbagai partai politik tersebut bisa memanfaatkan jaringannya.

Diskusi tematik demikian rutin diadakan PAC Ansor Jombang Kota setiap bulan. Temanya berganti-ganti sesuai situasi yang sedang berkembang. Ketua PAC Ansor Jombang Kota, M. Fathoni Mahsun mengungkapkan, bahwa diskusi seperti ini salah satunya adalah untuk menemukan dan menggodok ide gerakan yang akan dilakukan PAC Ansor Jombang Kota. Dengan kata lain, diskusi tersebut dimaksudkan sebagai media konsolidasi.
Sehingga jangan sampai forum-forum ijtima’ yang diselenggarakan masuk katagori sebagaimana yang disampaikan Rois Syuriyah PCNU Jombang, KH. Nasir Fattah, ismun bila musamma (hanya sebutan saja tanpa makna).

Khusus mengenai tema politik, ini adalah kali keduanya dihelat dalam Limolasan. Pada tema politik sebelumnya, menuai kontroversi yang sedemikian rupa. Banyak pihak yang pro dan banyak pula yang kontra, karena yang dihadirkan ketika itu dari kalangan praktisi politik. Salah satu pihak yang paling kontra atau tidak setuju adalah Gus Farid sendiri.

Sebagaimana diakuinya dalam forum, meskipun dia adalah pelaku politik tapi tidak mau diundang atas nama partai politik. Tema Ansor dan Politik kali ini selain dimaksudkan untuk mendengarkan pemikiran-pemikiran Gus Farid, memang juga dimaksudkan untuk memperbaiki hubungan yang pernah renggang, sehingga semuanya menjadi clear.

Dengan demikian, bertemunya dua pihak yang pernah berberbeda persepsi mengenai cara Ansor menjalin hubungan dengan partai politik ini, adalah bagian dari pendewasaan politik. “Dewasa berpolitik adalah bisa membedakan kapan kita ngomong perbedaan (persepsi, red) politik, dan kapan ngomong tentang Ansor.” Tegas Bendahara PC Ansor Jombang ini. (Bi)

Limolasan November 2016

Pada Limolasan bulan 11/2016 diselenggarakan beberapa agenda
1. Diskusi tematik "kader Ansor di Dunia Politik" dg pembicara Farid al-Farisi (bendahara PC Ansor Jombang)
2. Pembagian voucher khitanan massal yang aakan diselenggarakan oleh Laziznu, Ansor, dan Polres Jombang pada 17 Desember 2016
3. Penyerahan santunan yang akan disalurkan pada yatim dan dhuafa' Ranting Jombang
4. Pemilihan pengurus UPZIS Ansor Jomkot dengan koordinator Luqman Hakim (Gus Maman)

14/11/2016

Pembentukan Pengurus Ranting Candimulyo

Ranting Ansor Candimulyo dari informasi yang kami himpun belum pernah terbentuk secara utuh, dalam artian ada pengurus dan anggotanya. Tetapi pada momen konfrensi Cabang biasanya ada orangnya.

Dengan berbagai upaya, akhirnya pengurus PAC Ansor Jombang Kota menemukan pihak yang tepat untuk diajak membentuk pengurus
ranting Ansor. Pada Ahad, 13/11/2016 di Masjid Baitus sholikhin, pengurus PAC Ansor Jombang Kota akhirnya bisa melakukan turba dan berhasil membentuk pengurus inti ranting, yaitu: Radian (ketua), Hanif (sekretaris), Riyanto (bendahara).

Yang memebanggakan, walaupun selama ini belum ada ranting Ansor, tapi kegiatan sholawat-istighosah-tahlil keliling rutin  dilakukan di Candimulyo, dimana banyak anggotanya dari kalangan pemuda. Anggota rutinan inilah yanga nantinya akan direkrut menjadi anggota Ansor.