24/04/2016

Hukum itu Milik Allah

MEWASPADAI GENERASI     
ABDURROHMAN BIN MULJAM

Ali bin ABi Thalib K.W gugur sebagai syahid pada waktu subuh tanggal 7 Ramadhan akibat tebasan pedang salah seorang anggota sekte Khawarij yang bernama Abdurrahman bin Muljam Al Murodi. Uniknya sang pembunuh ini melakukan aksinya sambil berkata,
“Hukum itu milik Allah, wahai Ali. Bukan milikmu dan para sahabatmu.”
Tidak berhenti sampai di situ, saat melakukan aksi bejadnya ini Ibnu Muljam juga tidak berhenti mulutnya mengulang-ulang ayat 207 surat Al Baqarah yang artinya,
“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”
Tatkala khalifah Ali bin ABi Thalib akhirnya gugur, Ibnu Muljam pun dieksekusi mati dengan cara diqishas. Proses qishasnya pun bisa membuat kita tercengang karena saat tubuhnya telah diikat untuk dipenggal kepalanya, ia masih sempat berpesan kepada algojo yang mendapat tugas melakukan eksekusi,
“Jangan penggal kepalaku sekaligus. Tapi potonglah anggota tubuhku sedikit demi sedikit hingga aku bisa menyaksikan anggota tubuhku disiksa di jalan Allah.”
Demikianlah keyakinan Ibnu Muljam yang berpendapat bahwa membunuh Ali bin Abi Thalib yang nota bene salah satu sahabat yang dijamin masuk surga, menantu (suami Sayyidah Fathimah) dan saudara sepupu Rasulullah dan ayah dari Hasan dan Husein, dua pemimpin pemuda ahli surga, sebagai tindakan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Aksi yang dilakukan oleh Ibnu Muljam ini adalah realitas pahit yang kita lihat pada kehidupan ummat Islam sekarang dimana diantara para pemuda kita terdapat kelompok yang giat melakukan provokasi untuk membunuh kaum muslimin yang tidak berdosa. Kelompok ini menggunakan intimidasi dan aksi kekerasan sebagai strategi perjuangan mereka. Merekalah yang pada raut wajahnya memancarkan hidayah dan mereka juga senantiasa membaca Al Qur’an di waktu siang dan malam. Namun sesungguhnya mereka adalah kelompok yang merugi sebab karakteristik mereka tepat sebagaimana sinyalemen yang disampaikan Rasulullah dalam sebuah hadits yang artinya,
“Akan ada para lelaki yang membaca Al Qur’an tanpa melampaui tulang selangka mereka. Mereka telah keluar dari agama laksana keluarnya anak panah dari busur.”
Kebodohan mengakibatkan mereka merasa berjuang membela kepentingan agama Islam padahal hakikatnya mereka sedang memerangi Islam dan kaum muslimin.
Ibnu Muljam sejatinya adalah figur lelaki yang shalih, zahid dan bertaqwa. Bukan lelaki bengal yang buta sama sekali terhadap ilmu agama. Di wajahnya terlihat dengan nyata jejak sujud. Ia juga hapal Al Qur’an dan sekaligus sebagai guru yang berusaha mendorong orang lain untuk menghapalkannya. ‘Umar bin Khatthab pernah menugaskannya ke Mesir demi mengabulkan permohonan ‘Amr bin ‘Ash yang memohon kepada beliau untuk mengirim ke Mesir figur yang hafal Al Qur’an untuk mengajarkannya kepada penduduk Mesir. Tatkala ‘Amr bin ‘Ash meminta,
“Wahai amirulmukminin, kirimkanlah kepadaku lelaki yang hafal Al Qur’an untuk mengajari penduduk Mesir, “
‘Umar menjawab, “Saya mengirimkan untukmu seorang lelaki bernama Abdurrahman bin Muljam, salah seorang ahli Al Qur’an yang aku prioritaskan untukmu dari pada untuk diriku sendiri. Jika ia telah datang kepadamu maka siapkan rumah untuknya untuk mengajarkan Al Qur’an kepada kaum muslimin dan muliakanlah ia...!.”
Meskipun Ibnu Muljam hafal Al Qur’an, bertaqwa dan rajin beribadah namun semua itu tidak bermanfaat baginya. Ia mati dalam kondisi su’ul khatimah, tidak membawa iman dan Islam akibat kedangkalan ilmu agama yang dimilikinya dan berafiliasi dengan sekte Khawarij yang telah meracuni para pemuda muslim sehingga melakukan aksi-aksi yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur agama Islam namun justru mengklaim semua itu dalam rangka membela ajaran Allah dan Rasulullah.
Bercermin dari figur Ibnu Muljam tentu kita tidak perlu merasa aneh jika sekarang muncul kelompok-kelompok ekstrim yang mudah memvonis kafir terhadap sesama muslim yang berbeda pandangan melakukan tindakan yang sama persis dilakukan oleh Ibnu Muljam. Mereka mengklaim berjuang menegakkan agama Allah namun faktanya justru menebar ketakutan kepada ummat Islam dan menciptakan konflik internal berdarah-darah yang membuat mustahil membangun persatuan sesama kaum muslimin.
Oleh karena itu menjadi tugas bersama para ulama dan umaro’ untuk membentengi kaum muslimin di Indonesia dari ide-ide keagamaan destruktif yang dikembangkan oleh generasi pewaris Abdurrahman bin Muljam dan untuk berusaha keras menghalangi siapapun yang ingin menjadikan Indonesia sebagai ladang subur bagi tumbuhnya kelompok -
kelompok khawarij modern yang militan namun miskin ilmu.
Wallahu A’lam.

Video DIKLATSUS BANSER HUSADA

Video DIKLATSUS BANSER HUSADA
Video Diklatsus Banser Husada

Seseorang terjatuh akibat keteledorannya tidak melihat adanya tanda belok pada sign pengendara sepeda motor, kebetulan saat ituterdapat Anggota Banser yang bertugas, Banser Husada segera memanggil bantuan Mobil Ambulance milik Banser Husada Satkoorcab Banser Jombang.
selama menunggu bantuan datang, Banser Husada memberikan pertolongan pertama gawat darurat, dalam penanagannya diketahui bahwa semua detak jantung, tekanan darah normal, terjadi patah tulang paha keluar, pemberian bantuan segera dilaksanakan dengan prosedur PPGD Banser Husada.
Ambulan datang dan korban segera dibawa ke rumah sakit guna mendapatkan penanganan lebih lanjut.

23/04/2016

SAQAR

SAQAR

Saat ngaji di Masjid Karang Pon Desa Alang-Alang Caruban Kecamatan Jogoroto, Sabtu (16/4/2016), KH Nur Habibillah cerita isro mikroj Nabi Muhammad SAW.
 
Ketika berhadapan dengan Allah, Nabi sujud tidak bangun-bangun. ’’Akhirnya, Allah menyuruh bangun  dan mengucapkan assalamu alaika ayyuhan nabiyyu warahmatullahi wabarakatuh.’’(keselamatan, rahmad dan barakoh tercurah untukmu wahai Nabi.
 
Nabi kemudian menjawab. Assalamu alaina wa ala ibadillahissolihin. Keselamatan untuk kami dan hamba-hamba yang soleh.
 
Sampai akhirnya, Allah memberi perintah agar umat manusia melaksanakan shalat lima waktu. ’’Itu berarti, kalau kita ingin selamat, dan dapat rahmat serta barokah dari Allah, harus mau shalat,’’ paparnya.
 
Shalat lima waktu, kata Gus Nur Habibillah, masing-masing punya manfaat. Dan punya mudlarat jika ditinggalkan. ’’Orang yang meninggalkan shalat subuh, maka dia tidak akan memiliki keceriaan wajah.’’
Orang yang meninggalkan shalat Dhuhur, akan kehilangan keberkahan rezeki.

Orang yang meninggalkan shalat Asar, akan kehilangan kekuatan fisik.
Orang yang meninggalkan shalat Magrib tidak akan bisa mengambil buahnya punya keturunan.
Orang yang meninggalkan shalat Isya, tidak akan beristirahat dengan tenang.
 
’’Shalat itu, akan lebih enteng kalau mau jamaah. Makanya ayo masjide diiseni. Wis mari dibangun. Mari diresmikno. Engko ndang dimbarno kosong,’’ ulasnya.
 
Gus Nur Habibillah meminta, kalau ada anak kecil ikut shalat, atau menghabiskan waktu di masjid, jangan mudah dimarahi. ’’Jamaah sing apik iku lek jumlahe arek enom luwih akeh tinimbang sing tuwek. Mergo arek cilik iku masa depane sing ngiseni masjid.

 Jamaah selawe. Arek enome 20. Wong tuweke 5. Mati lima kari, 20. Tapi lek arek enome 5, wong tuweke 20, mati 20 kari 5,’’  bebernya.
 
Orang yang tidak mau shalat, kata Gus Nur Habibillah, akan manggon neraka khusus. Namanya neraka saqor.
 
"Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqor (neraka)?"

Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin. Dan kami membicarakan hal-hal yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya. Dan kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian". (QS. Al-Mudassir 42-47)
 
Zaman Nabi, kata Gus Nur Habibillah, ada orang mati yang disholati, ternyata di kepalanya ada ular. Ular itu mau dipukul, tapi dilarang oleh Nabi.

’’Saat ditanya Nabi, ular itu bilang, dia hanya hendak menggigit mayit tersebut sampai kiamat. Karena mayit tersebut saat hidupnya tidak pernah shalat,’’ paparnya

DIKLATSUS BANSER HUSADA JOMBANG

BANSER Husada SATKOORCAB Jombang
Banser Husada

Satuan Koordinasi Cabang (Satkorcab) Barisan Ansor Serba Guna Jombang, Jawa Timur kini memiliki satu pasukan khusus di bidang kesehatan, Banser Husada. Unit Banser ini diharapkan bisa membantu masyarakat dalam bidang kesehatan.
"Sebagai pasukan, Banser harus siap membantu masyarakat, salah satunya di bidang kesehatan, saat ini kitaterus menggembleng mereka dalam berbagai pelatihan kesehatan," ujar Subandi Mashuda Komandan Satkorcab Banser Jombang, Ahad (17/4) disela pelatihan yang digelar di Stikes An-Najiah Bahrul Ulum Tambakberas Jombang.
Pelatihan, lanjut Subandi, akan digelar setiap sepekan sekali. Alasannya untuk mempermudah pasukan memahami materi yang diberikan. Pelatihan bekerja sama dengan Stikes An-Najiah Bahrul Ulum Tambakberas Jombang. "Instruktur dari Tim Kesehatan Stikes, karena pasukan butuh pemahaman dan praktik secara langsung di lapangan. Maka akan dilakukan selama 4 kali pertemuan tiap pekan sehingga semakin paham," imbuhnya.

Dikatakan Subandi, ke depan sebagai pasukan, Banser harus lebih siap menjadi penolong masyarakat. Kalau sekarang kita sudah punya Banser Bagana (Banser Tanggap Bencana, Balantas (Banser lalu Lintas) dan sekarang menyiapkan Banser Husada (Unit Banser bidang kesehatan). "Karena kita sering berada dilapangan, seperti bagaimana menolong orang kecelakaan, bagaimana kalau ada orang pingsan dikeramaian, ini yang juga diberikan kepada pasukan," imbuh Subandi menjelaskan.
Dalam pelatihan tersebut, disamping materi PPDG, Banser Husada juga mendapatkan pelatihan simulasi menangani orang kecelakaan di jalan. Mereka terlihat sigap memberikan pertolongan lengkap dengan ambulans dan membawa ke rumah sakit atau Puskesmas setempat.

Sementara itu, Ketua PC GP Ansor Jombang, Zulfikar Dawam Ikhwanto berharap pasukan Banser Husada ini bisa memberikan manfaat kepada masyarakat. "Kita terus berupaya mengabdi untuk ulama dan masyarakat, salah satunya adalah membentuk Banser Husada ini. Ini mungkin yang pertama organisasi kepemudaan yang memiliki unit pasukan bidang kesehatan," tandasnya. (M.Fathoni)

20/04/2016

Hapuskan Dengkimu, Jangan Jadi Muslim Yang Fasik

SYAREAT DAN HAKIKAT HARUS BERJALAN BERIRINGAN
[ Ini bantahan KH Nawawi Sidogiri pada pengaku hakikat tapi tidak shalat]

Selepas ashar tadi, beberapa tamu sowan ke 'dalem' Hadratussaikh KH Nawawi Abd Jalil,pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri,Pasuruan, Jawa Timur. Ditengah dialog kiai dengan salah satu tamunya, sampailah pada pembahasan tentang orang-orang yang mengaku mengamalkan hakikat tapi tidak melaksanakan shalat. kiai sempat miris jika ada masyarakat yang terjangkit cara pandang semacam ini, terlebih jika orang itu adalah alumni pondok pesantren Sidogiri.

" mereka itu berdalil  ' Aqim Ashhalata Lizikri' , sehingga menurut mereka kalau udah iling (red; ingat) Allah berarti gak usah shalat"  cerita kiai .kiai kemudian berargumen " dalam ayat itu , Aqim adalah fiil amar, perintah , perintah untuk as-shalata (red; shalat), tujuannya untuk mengingat Allah, jadi dalam ayat ini gak ada yang namanya menghilangkan shalat, justru pertama-tama yang diperintahkan adalah shalat" .

beliau juga memaparkan beberapa argumen secara aqli terkait kasus ini, kalau memang mereka benar mengapa variable nya hanya shalat saja. " ya kalau begitu gak usah makan, cukup ingat makan saja kenyang, " tutur kiai nawawi

Dalam kesempatan tersebut kiai nawawi juga memberikan nasehat bahwa yang kita lakukan didunia akan menjadi tolak ukur kita di akhirat kelak. jika di akhirat ingin masuk surga, manusia harus melakukan amal yang menjadi bekal mereka ke surga, seperti shalat, puasa, zakat. lagi-lagi tentu nasehat beliau ini nyambung dengan kasus diatas yang dengan semangat sekali beliau menjelaskannya.

sejalan dengan yang dikatakan Imam Malik rahimahullah , "Siapa yang menjalani tasawwuf tanpa dibekali pemahaman terhadap syariat, ia telah menjadi zindik. Sebaliknya, siapa yang membekali diri dengan fikih (syariat) tapi tidak menjalani tasawwuf (tidak membersihkan hati), maka menjadi fasik. Nah siapa yang menggabungkan keduanya, ia telah mencapai hakikat.

semoga tulisan ini bermanfaat, silahkan share , mudah-mudahan menjadi tembahan ilmu buat kita semua.

Tulisan Imam Malik ini membuktikan bhwa banyaknya muslim saat ini berbanding terbalik dengan kualitas keimanan yang dimilikinya,  Banyak ber KTP Islam tp sebenarnya adalah Fasik.

19/04/2016

Lima Bencana

Lima Sebab Bencana yang Mengerikan
Oleh KH. Hasyim Muzhadi 


Banyak sekali bencana alam terjadi. Bencana alam itu terjadi karena beberapa sebab, sebab yang pertama karena ulah tangan manusia, gara-gara hutan dibabati jadi banjir. Di Sidoarjo tanah digali sampai keluar lumpur, itu kan gara2 tangan manusia. Kerusakan kelautan karena mencari ikan pakai bom, lalu ada lagi yang mengeruk pasir tidak teratur akhirnya longsor.
Yang kedua bencana terjadi karena rusaknya akhlak. Dulu umat Nabi Nuh ditenggelamkan karena kafir. Umat nabi Lut ditenggelamkan karena laki-laki tidak mau kawin dengan perempuan dan sebaliknya perempuan. Perilaku seperti umat Nabi Lut ini masih ada sampai sekarang jadi kelakuan yang rusak itu disebabkan hilangnya siddiq dan amanah. Implementasi amanah itu kalau dititipi harus disampaikan atau dilakukan. Nah amanah itu sendiri ada dua yakni dari Allah yang berupa syariat dan amanah dari manusia yang berupa titipan. Titipan ini apa saja? Titipan barang, aspirasi dan lain-lain
Kalau akhlak sudah tidak karuan, maka lahirlah yang ketiga yakni hilangnya nahi mungkar. Jadi kita ini diperintah Allah untuk dua hal, amar ma’ruf nahi mungkar. Amar ma’ruf itu mengajak kepada kebaikan. Nahi mungkar itu mencegah kemungkaran. Itu seolah tidak ada karena wis roto mungkar kabeh. Ketika kemungkaran tidak ada yeng menghentikan maka Allah memerintahkan mahkuknya yang lain untuk menghetikannya. Ini semua sebetulnya i’itibar bagi kita, tapi sering kali kita tidak tahu. Fa’tabiru ya ulul albab. Ulul albab itu orang yang akal dan hatinya jalan atau berfungsi. Tapi sekarang itu banyak orang yang hatinya jalan tapi akalnya tidak jalan. Sehingga dia itu tidak mengerti i’tibar atau fenomena sekarang walaupun seorang dai itu profesor. Sebab yang ketiga adalah nahi mungkar yang tidak dihentikan seperti yang dijelaskan tadi.
Yang keempat yaitu umumul balwa. Artinya ada kejahatan yang merata, tapi karena sudah rata maka dianggap bisa mergo usum. Jadi ketidak wajaran itu kalau sudah merata maka menjadi kewajaran. Ini juga menjadi sebab bencana
Sebab yang kelima adalah tidak berhentinya kejahatan manusia ketika diberikan musibah, lalu digantidengan baliyah, kalau baliyah itu tidak bisa menghentikan maka yang datang adalah tadmir yakni kehancuran yang luar biasa. Wa dammarnahum tadmira, berarti orang sekarang ini dengan banyaknya balak seperti ini, menurut sampean sudah ingat Allah apa belum? Menurut saya belum berarti bencana ini belum mengingatkan karena belum bisa mengingatkan maka secara kaidah, syariahnya jalan terus sampai orang itu sadar oleh karenanya maka kita harus sadar duluan. Wallahu A’lam Bis Shawab.
By Santri Pesma Al-Hikam Malang

17/04/2016

Kemuliaan Seorang Guru

(Diceritakan oleh seorang Alumni Darul Musthofa, Tarim, Hadhromaut, Yaman)
Selagi aku masih duduk di Daruzzahro, Guru Mulia Al Habib Umar bin Hafidz pernah berkata kepada salah satu putri beliau:

“Darul Mustofa dan Daruzzahro ini bukanlah kepunyaan kita, sekalipun ayah yang mendirikannya tetapi sejatinya adalah kepunyaan Kakek kita Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam beserta putri kecintaan beliau ibu kita Sayyidah Fatimah Azzahro Radhiyallohu ‘Anha, maka sekali-sekali kamu jangan berbuat seenaknya di dalamnya, harus tunduk dengan segala macam peraturannya, jangan memakan hak-hak tamu Azzahro sebelum mereka semua telah habis makan kecuali sisa-sisa puing makanan dari mereka. Ingat !! peran kita di sini hanya sebagai pembantu, khaddam, dan pelayan yang melayani rumah ini beserta tamu-tamunya”.

Pada suatu hari, saat jam istirahat, aku hendak pergi ke kamar kecil, tetapi aku melihat putri kecil putri bungsu Habib Umar bin Hafidz duduk seorang diri di salah satu tangga Daruzzahro sambil memegang perut, maka aku pun menghampirinya dan bertanya:
“Ada apa denganmu wahai putri mulia?“

Maka dengan polosnya ia menjawab bahwa ia dalam keadaan lapar dari tadi, sebab sebelum pergi ke sekolah tidak sempat bersarapan terlebih dahulu, khawatir terlambat ucapnya.

Spontan aku membalas ucapannya dan berujar:

“Mengapa yang mulia tidak mengambil sepotong roti di ruang makan Darruzzahro saja?”.

Ia hanya menggeleng sambil tersenyum.

“Atau pulang sebentar ke rumah mengambil sarapan?”, tawarku kembali.

Ia pun tetap membalasnya dengan gelengan.

Aku semakin keheranan: “Bukankah engkau putri guru mulia kami (Habib Umar bin Hafidz)? Pemilik Daruzzahro ini wahai yang mulia?”.

Maka ia pun menceritakan pesan sang ayah untuk putra putri dan seluruh keluarga. Mendengarnya, aku tercengang dan terkejut, ku rasakan sudut mataku mulai berembun, hatiku bergetar mendengar penuturannya. Tidak hanya sampai di situ, putri kecil guru mulia mengejutkanku dengan perkara lain. Merasa kasihan dan tak tega, aku pun merogoh saku baju dan mengambil selembar uang di dalamnya:

“Jika begitu ku mohon ambilah ini sebagai hadiah dariku, dan belilah sedikit makanan untuk mengganjal perut yang mulia”, ucapku penuh harap sambil menyodorkan selembar uang itu ke hadapannya.

Ia tersenyum ramah, mata beningnya menatapku lembut dan ia menolak halus pemberianku dengan menggeleng-gelengkan kepalanya, namun aku terus merayu dan memohon agar dia bersedia menerimanya, tetapi putri kecil guru mulia tetap bersikeras untuk tidak menerimanya dan terus mengindahkan tangannya dari tanganku, melihat usahaku tiada henti, dengan polosnya ia berkata:
“Maafkan aku saudaraku, bukannya menolak pemberianmu, dan ingin melukai perasaanmu, akan tetapi ayah mengajarkan kami untuk tidak memberatkan orang lain dan tidak berharap belas kasih manusia selain belas kasih Allah Subhanahu wa Ta’ala, simpanlah uang itu, karena engkau lebih memerlukannya ketimbang aku, lagi pula kalau ayahanda mengetahui pasti beliau tidak akan menyetujuinya”.

Tes tes… ku rasakan air mataku mulai berjatuhan di pipiku, aku memperhatikannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ku lihat kerudungnya nampak kumal, pakaiannya pun terlihat lusuh, ia hanya menggunakan keresek putih untuk alat-alat sekolahnya, kakinya penuh debu tanpa mengenakan sandal, aku terdiam terpaku tak mampu berkata sekalimat pun sampai putri guru mulia berlalu dari hadapanku sambil berlari-lari kecil dengan wajah yang tetap riang.

Aku menelan ludah susah payah, gemetar jiwaku menatap bayangnya yang perlahan menghilang dari pandanganku, hatiku bergetar hebat, pendidikan macam apa ini yang membuat anak sebelia dia memiliki hati sedemikian mulia. Sambil berderai air mata ku segerakan langkahku menuju kamar. Sesampainya di kamar ku membenamkan kepalaku di bantal dan pecah tangisku seketika, bagaimana tidak?
Jiwaku hancur lembur dihantam akhlak mulia sebegitu luhur, benar benar kami ini murid yang tak tau diri, jauh kami merantau dari negara kami hanya demi menimba ilmu serta mengambil keberkahan dari Guru Mulia beserta Sang Istri, malam-malam kami tidur dengan nyenyak, tidak pernah sedikitpun kekurangan air dan makanan, bahkan kami menganggap tempat ini seperti rumah kami sendiri, terkadang kami berbuat semaunya, makan dengan kenyang dan menggunakan kipas angin dan AC sepuasnya, tetapi guru mulia yang mendirikan tempat ini pun merasa tidak memilikinya dan tidak berlaku seenaknya.

Hatiku benar-benar serasa dicambuk rasa malu yang begitu dalam, teramat malu atas ketidaktahuan kami, atas sedikitnya perhatian dan kepedulian kami. Guru mulia beserta keluarga begitu memuliakan para pelajarnya melebihi penghormatan kami kepada beliau. Huhuhu… aku terus saja menangis.

Sampai akhirnya terdengar suara peringatan waktu istirahat segera berakhir. Aku pun menghentikan tangisanku dan menyeka air mata.

Masih dengan mata yang sembab aku bangkit berdiri dan berniat mengambil air wudhu. Saat ku lewati ruang makan Daruzzahro, sungguh ku menyaksikan pemandangan yang kembali sangat membuat hatiku miris. Ku lihat tangan mungil putri mulia memunguti beberapa pecahan roti yang tersisa dari bekas sarapan sebagian pelajar tadi pagi.

Melihatnya aku membuang pandangan karena tak sanggup menyaksikannya. Kejadian tersebut sangat membekas di hatiku sehingga aku merenungkannya selama berhari-hari. Semenjak itu aku jadi jarang ikut makan bersama dengan teman-teman lainnya, kecuali menunggu mereka telah usai semua, dan aku mulai bermujahadah melunturkan kesombongan yang ada di diriku.

Terkadang aku sengaja memakan roti yang sudah kering dan keras yang sudah ku hancurkan sebelumnya, atau memakan bekas-bekas nasi yang akan dibuang,

atau makan bersama kawan tetapi dengan suapan yang terbatas, ketika kenyang hanya 3 suap, jika memang dalam keadaan lapar hanya 9 suap, semua itu sengaja ku lakukan agar diriku yang sangat payah ini dapat merasakan kerasnya menuntut ilmu tanpa memanjakan diri sedikitpun,

terlebih-lebih setiap mengingat kejadian di atas hatiku sangat malu terhadap Sang Guru. Kami hanya seorang murid dan hanya menumpang di tempat ini, harusnya kami yang menjadi pelayan bukannya memanjakan diri terus menerus...

16/04/2016

Pendidikan Politik Kader Ansor

Pendidikan Politik Kader Ansor 


Kepemimpinan dalam Islam mempunyai sejarah yang panjang. Terhitung sejak wafatnya Nabi Muhammad SAW., umat Islam sudah mulai mencari bentuk kepemimpinannya secara mandiri. Situasi berkembang secara dinamis, sehingga kemudian melahirkan dua aliran besar kepemimpinan, yaitu aliran khilafah, dan aliran syi'ah.
Hal ini terungkap dalam diskusi tematik Rijalul Ansor PAC Jombang, pada Jum’at 15/4/2016 di Masjid Agung Jombang. Acara yang dibalut dengan tahlil dan sholawat tersebut mengambil tema bahasan fiqih siyasah dusturiyah.
Menurut Gus Latif Malik, yang menjadi salah satu nara sumber, fiqih siasyah dusturiyah adalah fiqih yang berbicara tentang konstitusi, yaitu aturan-aturan pokok yang harus dipegang dalam menjalankan politik praktis. Kedinamisan kepemimpinan Islam terekam rapi dalam sejarah, “Tidak ada sesuatu dalam Islam yang banyak menimbulkan pertumpahan darah kecuali politik perebutan kekuasaan.” Demikian ungkap pria yang juga menjabat ketua Rijalul Ansor Jombang ini.
Lebih lanjut dalam diskusi tersebut diungkapkan, bahwa ciri dari aliran khilafah, yang juga biasa disebut ahlus sunnah, adalah musyawarah. Hal ini karena kenyataannya tidak ada nas yang jelas, baik bersumber dari al-Qur’an maupun hadis, yang menyebut pengganti Nabi Muhammad SAW. Ketika Nabi wafat, sebenarnya muncul beberapa nama sebagai pengganti pimpinan umat Islam. “Namun setelah melewati berbagai perundingan, akhirnya sahabat Abu Bakar yang terpilih.” Terang Gus Latif.
Sementara itu, aliran syi’ah ciri utamanya adalah konsep imamah, bahwa pemimpin itu adalah ditentukan oleh wasiat pemimpin sebelumnya. Awal mula munculnya pemikiran syiah ini adalah berpijak pada peristiwa ketika Nabi dan rombongan sahabat pulang dari haji wada’. Ditengah perjalanan, berhenti di sebuah telaga untuk istirahat. Pada saat itu tiba-tiba Nabi bersabda, barang siapa yang menganggap saya sebagai maula (pemimpin?), maka anggaplah Ali sebagai maula, sembari tangan Nabi mengangkat tangan sahabat Ali.
Pernyataan Nabi ini di kemudian hari ketika Beliau sudah wafat, digunakan dasar oleh orang-orang yang fanatik dengan Ali, menganggap Ali adalah pengganti yang sah dari Nabi Muhammad SAW. Kontroversi pun terjadi, sebenarnya yang dimaksud Nabi tersebut, Ali sebagai pemimpin apa?. “Namun pada kenyataannya sahabat Ali sendiri baiat kepada sahabat Abu bakar sepeninggalan Nabi.” Tambah Gus Latif.
Dua aliran kepemimpinan tersebut menurut Gus Latif, mempunyai titik kompromi yaitu berpijak pada ijtihad atas nash sunnah, Karena baik ahlus sunah maupun syiah, sama-sama memakai hadis. tetapi yg membedakan adalah jika khilafah berpijak pada ijtihad atas sunnah plus konsesus /musyawaroh bersama ummat (jama'ah), sementara kelompok syi'ah ngotot dengan eklusifisme ijtihadnya yg parsial.
Pada gagasan khilafah, persatuan lah yang paling utama bagi umat Islam. Sejarah kemudian berjalan dinamis dan peradaban Islam tumbuh berkembang di seluruh dunia.  Namun sayangnya,  persatuan tersebut tidak bertahan abadi. Selepas tumbangnya khilafah Usmaniyah, kepemimpinan umat Islam terpolarisasi menjadi poros Arab dan poros Mesir.
Di akhir penjelasannya Gus Latif mengungkapkan sebuah fakta yang menarik, bahwa salah satu misi komite Hijaz yang dipimpin Kyai Wahab Hasbulloh, adalah kembali menyatukan dua poros ini. Tapi misi ini belum berhasil.  “Namun demikian keinginan tersebut tidak pernah padam. Pasca kemerdekaan,  Kyai Wahab kemudian mendorong Bung Karno untuk mengadakan Konfrensi Asia Afrika.
"Bersatunya negara bangsa-negara bangsa, maupun kerajaan-kerajaan Islam di seluruh dunia dalam bingkai union states of muslim countries, misalnya, sebenarnya adalah aplikasi paling realistis dari konsep khilafah dalam konteks zaman modern saat ini.  Dan inilah gagasan besar KH Wahab Hasbullah, ulama pesantren (NU), melalui gagasan Kongres Islam Asia-Afrika bersama Bung Karno." Pungkasnya.
Sementara itu dalam pandangan yang berbeda, Wakil Ketua DPRD Jombang Zubaidi Muhtar mengungkapkan, berkenaan dengan kepemimpinan dalam masyarakat, yang harus dipahami adalah bahwa perubahan di masyarakat tidak bersifat revolusioner, tetapi evolusioner. Oleh karenanya harus ada kesinambungan. Nilai-nilai yang sudah baik tidak perlu dihilangkan, sambil melakukan pembaharuan-pembaharuan.
Dalam kesempatan tersebut juga hadir Ketua PKB Jombang, Mas’ud Zuremi, sebagai representasi pelaku politik praktis, yang kebetulan saat ini sedang mengusung calon gubernur Jawa Timur. “Holopis kontol baris itu mempunyai sejarah panjang pada budaya kita. Lalu kita jadikan jargon, sebagai simbul kebersamaan dan kesatuan.” Demikian jelasnya.

Meskipun mengundang politisi praktis, menurut M. Fathoni Mahsun, ketua PAC Ansor Jombang, tidak ada kaitannya dengan dukung-mendukung, melainkan murni diskusi ilmiah. “Kita tidak terikat komitmen apa-apa, dan juga tidak dapat apa-apa, walau sepeser pun.” Jelasnya.