08/03/2016

Gerhana

والحكمة في الكسوف تنبيه عباد الشمس والقمر على انهما مسخران مذللان ولو كانا الهين لدفعا النقص عن انفسهما ولما محى نورهما
Hikmah fenomena gerhana matahari dan bulan adalah peringatan kpd para penyembah matahari dan bulan bahwa keduanya (matahari rembulan) itu dapat ditaklukkan dan ditundukkan.
Jika matahari dan bulan adalah tuhan maka pastilah keduanya dapat menolak kekurangannya, dan cahayanya tidaklah dapat memudar pudar.
(Hasyiah Al-Bajuri 'ala Fathil Qarib Jilid I, hal 228).

Hebatnya Sholawat, Amalan Kyai Masduqie Mergosono


KH. Achmad Masduqie Mahfudz mempunyai pengalaman bagus dari tentang shalawat Nabi. Pada tahun 1956, pada waktu itu beliau masih menjadi murid SLTA di Jogjakarta. Suatu ketika beliau habis berkelahi dengan jin di sebuah masjid di Gandean, beliau kalah. Karena kalah, beliau selama tiga hari rasanya tetap ingin makan, tapi tidak bisa buang air. Di hari ke empat, tubuh beliau sudah panas sekali.  Di hari ke empat itu, beliau juga sempat pesan ke adiknya bahwa nanti kalau mati jangan dibawa pulang ke jepara dan dikubur di Jogja saja. Beliau berpesan begitu, karena beliau datang ke Jogja itu niatnya mondok.  Kalau nanti beliau wafat di Jogja dan dibawa pulang ke Jepara dan dikubur di Jepara, maka nanti hilang syahid-nya.

Ketika itu adik beliau berkata,” mari kita pergi ke kyai itu, kyai yang mas biasa ngaji di hari ahad”

Lalu beliau menerima ajakan adiknya. Pergilah beliau bersama adiknya dengan naik becak dan sampai di rumah pak kyai sudah jam satu malam. Pintu rumah kyai masih terbuka. Tapi jam segitu pak kyai sudah tidak bisa melayani tamu, karena kebisaan kyai ketika sudah lewat jam 10 malam, kyai sudah khusus ibadah kepada Allah saja. Masduqie muda-pun tertidur di rumah kyai itu. Baru saja jam 3 malam, beliau terbangun terasa mau buang air di rumah pak kyai itu. Setelah itu, puaslah beliau karena sudah bisa buang air.

Pagi hari, jam tujuh, beliau bisa ketemu dengan pak kyai. Badan beliau saat ketemu pak kyai panas sekali. Beliau berkata kepada pak kyai,” pak kyai, saya sakit”. Pak kyai hanya tersenyum. Ketika pak kyai tersenyum itu, panas beliau hilang.

Pak kyai dawuh,” mas, sampean gendeng mas”

Kok gendeng yai?”, tanya Masduqie muda

“Iya, wong bukan penyakit dokter, sampean kok bawa ke dokter, ya uang sampean habis. Pokoknya kalau sampean pengin sembuh, sampean tidak boleh pegang kitab apa saja”, jawab kyai.

Jangankan baca, pegang saja tidak boleh. Padahal pada saat itu, Masduqie muda dua bulan lagi akan mengikuti ujian akhir.

“ Yai, dua bulan lagi saya ujian, lho gimana saya kok enggak boleh pegang buku”, Masduqie muda matur kepada pak kyai.

Seketika itu pak kyai menanggapinya dengan marah-marah,” yang bikin kamu lulus itu gurumu? Apa bapakmu? Apa mbahmu?”

Pada hakikatnya Allah yai,” jawab kyai masduqie

“Lha iya gitu!” timpal pak kyai

“Lalu bagaimana syariatnya yai?” tanya Masdqie muda lagi.

“Tiap hari, kamu harus baca shalawat yang banyak” jawab kyai lagi.

Masduqie muda kembali bertanya,” banyak itu berapa yai?

Pak kyai-pun menjawab,” ya paling sedikit seribu, habis baca 1000 shalawat, minta dengan berkat shalawat yang saya baca, saya minta lulus ujian dengan nilai bagus.

Ya sudah, Masduqie muda tidak berani pegang kitab maupun buku, karena memang ingin sembuh. Paman beliau berkata marah-marah,” bagaimana kamu ini? dari jepara ke sini, kamu kok nggak belajar?” Masduqie muda tidak berani komentar apa-apa. Pokoknya karena beliau dilarang kyai untuk pegang kitab atau buku, beliau nurut saja.

Menjelang beliau ujian, pelajaran bahasa jerman, bukunya ternyata diganti oleh gurunya dengan buku yang baru. Karena masing dilarang pegang buku, maka beliau tetap taat pada kyai.
Setelah ujian, Masduqie muda dipanggil guru bahasa jerman.

Pak Guru: kamu her”
Masduqie muda: Berapa nilai saya pak?

Pak Guru: Tiga!
Masduqie muda: Iya pak. Kapan pak?

Pak Guru: Seminggu lagi 

Namun setelah seminggu, Masduqie muda tidak langsung mendatangi guru bahasa jerman, karena larangan pegang buku belum selesai.

Baru setelah selesai, Masduqie muda mendatangi pak guru.

Masduqie muda: Pak, saya minta ujian pak.
Pak Guru: Ujian apa?

Masduqie muda: Ya ujian bahasa jerman pak.
Pak Guru: Lha kamu bodoh apa?

Masduqie muda: Lho kenapa pak?
Pak Guru: Nilai delapan kok minta ujian lagi, kamu itu minta nilau berapa?

Masduqie muda: Lho, ya sudah pak, barang kali bisa nilau sepuluh.

Jadi angka 3, karena shalawat, mingkem menjadi angak 8. Setelah itulah, beliau tidak pernah meninggalkan baca shalawat. Itu satu pengalaman shalawat KH. Masduqie Mahfudz saat muda
*******************

Pengalaman shalawat beliau lagi, yakni ketika beliau harus dinas di Tarakan, Kalimantan Timur. Pada suatu hari, ada tamu jam 5 sore, dan bilang ke Kyai Masduqie,” saya disuruh oleh ibu, disuruh minta air tawar.” Kyai Masduqie mengaku bahwa saat itu beliau masih bodoh. Maka seketika itu beliau menjawab,”ya silahkan ambil saja, air tawar kan banyak itu di ledeng-ledeng itu.”

“Bukan itu pak, air tawar yang dibacakan doa-doa yang buat orang sakit itu pak”, si tamu berkata pada Kyai Masduqie. Beliaupun menjawab,” Ooo, kalau itu ya tidak bisa sekarang. Ambilnya harus besok habis sholat shubuh persis.”

Beliau menjawab begitu, karena beliau mau tanya istri beliau dulu perihal abah istri beliau yang sering nyuwuk-nyuwuk dan tanya doanya. Ternyata istri beliau tidak tau tentang doa yang dibaca abahnya di rumah. 

Padahal Kyai Masduqie sudah janji. Kebetulan, habis isya waktunya beliau harus wiridan membaca dalail, beliau menemukan hadits tentang shalawat. Inti hadits tersebut kurang lebih,” siapa yang baca shalawat sekali, Allah kasih rahmat sepuluh. Baca shalawat sepuluh, Allah kasih rahmat seratus. Baca shalawat seratus, Allah kasih rahmat seribu. Tidak ada orang yang baca shalawat seribu, kecuali Allah mengabulakn permintaanya.

Ketemulah hadits tersebut sebagai jawabnnya. Lalu belaiupun bangun malam hari, ambil air wudhu. Ambil air segelas, lalu membaca shalawat seribu kali. Allahumma shalli wa sallim ‘ala sayyidina Muhammad. Setelah beliau selesai membaca seribu shalawat, beliau berdoa,” Allahumaj’al hadzal ma’ dawa an liman syarabahu min jami’il amrodh”. Arti doa tersebut,” ya allah, jadikanlah air ini sebagai obat dari segalai penyakita bagi peminumnya”. Lalu meniumpakan ke air gelas dan baca shalawat satu kali lagi. Di pagi hari, diberikanlah air tersebut kepada orang yang memintanya tadi itu.

Setelah tiga hari, ada berita dari orang tersebut bahwa orang yang kena penyakit meminum air doa tadi itu sudah sembuh. Padahal sakitnya itu sudah empat bulan tidak sembuh. Dokternya sudah tidak sanggup menangani. Dokter telah menyarankan untuk mencari obat di luar. Lalu katanya Kyai Masduqie itu selama tiga hari mengelus-elus perutnya. Masa ngelus-ngelus perut? Padahal kan yang kena penyakit itukan perempuan. Selain itu, padahal Kyai Masduqie selama tiga hari di rumah saja. Berkat shalawat, penyakinya, sembuh.

Sejak itulah, di tempat Kalimantan timur itu, terkenal ada guru agama yang pinter nyuwuk. Ya Kyai Masduqie itu. Sampai penyakit apa saja, datang ke rumah beliau. Kalau tidak beliau bacakan shalawat, ya istri beliau mengambilkan air jeding, karena sudah dipakai untuk wudhu. Ya sembuh juga penyakitnya. Inilah pengalaman shalawat Kyai Masduqie ketika dinas di Kalimantan.

Suatu ketika, beliau harus ke Samarinda naik kapal milik pribadi Gubernur Bapak Aji Pangeran Tenggung Pranoto. Di tengah-tengah perjalanan laut, di Tanjung Makaliat kapalnya kena angin puting beliung. Maka goyang-goyanglah kapalnya. Kyai Masduqie sadar, wudhu, lalu naik ke atas kapal. Beliau ajak adzan malaikat yang penyebul angin itu. Lalu berhentilah angin tersebut. Itu pengalaman sholawat Kyai Masduqie.

Kalau ada penyakitnya aneh-aneh, datang ke Mergosono, insya Allah saya bacakan sholawat seribu kali, kalau ndak mempan sepuluh ribu kali, insya Allah qabul,” kata Kyai Masduqie saat pengajian di Majlis Riyadul Jannah.

“Berkat sholawat Nabi, sampean tahu sekarang, saya bangun pondok sampai tingkat tiga, nggak pernah minta sokongan dana masyarakat, mengeedarkan edaran, nggak pernah. Modalnya hanya sholawat saja. Uang yang datang ya ada juga, tapi nggak habis-habis. Itu berkat sholawat.” Lanjut Kyai Masduqie dalam pengajiannya.

Putra beliau Sembilan orang bisa membaca kitab semua, bisa sarjana semua. Modalnya itu adalah sholawat Nabi. Kalau putra beliau ada yang mau ujian, disamping putranya juga disuruh baca sholawat, beliau juga membacakan sholawat untuk kelancaran dan kesuksesan putranya yang mau ujian itu.
Kyai Masduqie dawuh,” berkat sholawat Nabi SAW, semua yang saya inginkan belum ada yang tidak dituruti....
oleh Allah. Belum ada permintaan yang tidak dituruti berkat sholawat Nabi itu. Semua permintaan saya terpenuhi berkat sholawat”.

Shollu ‘alan Nabi Muhammad!!!

Allahumma shalli wa sallim ‘ala sayyidina Muhammad.
______________________________

Ditulis berdasarkan pengajian KH. Achmad Masduqie Mahfudz di Majlis Riyadlul Jannah.
(mas Lut, PAC ANSOR Jombang Kota)

15 Cara Memberikan Sugesti Posisif ke Anak

Anak adalah rezeki sekaligus amanah dari Allah Tuhan Pencipta untuk kita jaga, dan untuk kita didik menjadi pribadi yang sholeh/sholehah serta taat melaksanakan perintah agama dan berakhlak baik. Nah berikut ini ada beberapa waktu dan cara memberikan sugesti posisif ke anak. Diantaranya ada 15 cara yang bisa Anda lakukan.

Di momen inilah, orang tua bisa menanamkan jangkar emosi positif bagi anak Anda, sekaligus mewaspadai agar jangan sampai malah tertanam emosi danenergi negatif yang tidak memberdayakan dan bisa menjerumuskan.

Silakan Simak dan Jangan Lupa dishare , semoga bermanfaat

1. SAAT NGANTUK.

Dimomen ini, gelombang otak anak turun dari beta ke alpha. Anak berada dalam kondisi sangat malas untuk melakukan hal lain, kecuali tidur. Ini adalah kondisi hipnosis, dan anak sangat sugestif.
Ucapkan sugesti positif dengan lembut dan penuh cinta, setengah berbisik, di dekat telinga anak Anda. Lakukan minimal 3 kali. Akhiri dengan konfirmasi ke anak. Dan, bila anak mengabaikan atau menjawabnya dengan malas-malasan, biarkan, itu tanda sugesti Anda masuk.

2. 30 MENIT PERTAMA SAAT TIDUR

Tidur lelap, yang notabene anak tidak bisa disugesti, biasanya terjadi setelah 30 menit sejak pertama tidur. Berarti di momen 30 menit pertama, anak berada dalam kondisi alpha hingga theta, yaitu kondisi rileks yang sangat sugestif. Silakan masukan sugesti positif Anda, dan jangan lupa lakukan konfirmasi ke anak.

3. SAAT BERMIMPI

Mimpi merupakan momen sugestif, ketika anak berada dalam kondisi theta. Tanda ketika anak bermimpi ada pada kelopak matanya yang bergerak seakan bola matanya berputar. Di ranah psikologi, ini disebut REM (Rapid Eye Movement).

4. SAAT MENGIGAU

Ketika tidur, sering kali anak menghadirkan fenomena mengigau. Anak berada pada gelombang theta yang sangat sugestif. Peluk anak Anda, belai dan ucapkan cinta kasih sebelum memberinya kata-kata sugestif. Ulangi dan lakukan konfirmasi dengan sangat lembut.

5. 30 MENIT SEBELUM BANGUN

Dari gelombang deltha (tidur), 30 menit lamanya kesadaran bergeser ke gelombang theta dan alpha, untuk kemudian manusia masuk ke kesadaran beta. Di momen inilah orang tua bisa menyisipkan sugesti positif dengan berbisik lembut penuh belaian.

6. SAAT FOKUS MEMBACA BUKU

Dalam momen ini anak dalam kondisi alpha. Uji dengan lembut memanggilanya. Bila ia malas, bahkan tidak menjawab atau menjawabnya dengan tanpa menoleh, itu tanda anak begitu fokus. Berikan sugesti positif tanpa perlu menyentuhnya, agar pikiran sadarnya tetap fokus ke buku. Pastikan saat Anda bicara, anak semakin fokus membaca.

7. SAAT ANAK MAIN GAME

Keasyikan main game, membuat anak sangat fokus

sehingga gerbang pikiran bawah sadarnya terbuka lebar. Coba panggil lembut untuk memastikan bahwa pikiran sadarnya tidak menghiraukan Anda. Setelah yakin, ucapkan sugesti positif tanpa perlu Anda menyentuhnya. Ulangi beberapa kali.

 8. SAAT NONTON

Kasusnya sama dengan saat main game. Pikiran anak hanya terfokus pada satu objek sehingga gerbang bawah sadarnya terbuka lebar. Biarkan anak semakin fokus, lalu masukan sugesti positif ke pikiran bawah sadarnya.

9. SAAT ASYIK MENGGAMBAR/MELUKIS/MENULIS

Dimomen seperti ini, perkuat konsentrasi dan kenyamanannya sebelum memasukkkan sugesti. Misalnya : “Diva, sayangg. Semakin kamu asyik menggambar, semakin nyaman kamu, jauh lebih nyaman dan nyaman lagi. “Lalu masukan sugesi positif Anda.

10. SAAT MELAMUN

Ketika bengong dan melamun, critical factor seseorang terbuka. Saat itulah orang tua bisa mengintervensi kesadaran anak dengan memasukan sugesti positif. Pastikan tanpa menyentuhnya agar critical factornya tetap istirahat.

11. SAAT MENGINGAT SESUATU

Proses mengingat adalah momen ketika seseorang memasuki trance ringan. Bahkan dalam hipnosis formal, mengingat bisa menjadi teknik induksi untuk memasukan orang ke kondisi trance. Ketika anak sedang mengingat sesuatu, Anda bisa memasukkan sugesti positif dengan lembut. Misalnya : “Nak, semakin kamu mengingat, semakin kamu memutuskan diri untuk mulai sekarang dan seterusnya, kamu rajin sekolah”.

12. SAAT BINGUNG

Bingung merupakan kondisi trance juga. Bingung alami terjadi, dan pada kondisi ini, gerbang bawah sadarnya terbuka. Saat gerbang bawah sadar terbuka, maka sugesti apapun bisa masuk. Termasuk sugesti positif Anda pada buah hati tercinta.

13. SAAT MENANGIS

Sel-sel air mata mampu merangsang sugestivitas manusia. Tak heran bila dalam ritual tertentu, sering digunakan asap-asapan yang memedihkan mata sehingga terjadilah trance. Dalam kondisi menangis, trance tak Cuma disebabkan oleh sel air mata, tetapi juga emosi yang fokus dan memuncak. Maka, inilah saat yang tepat bagi orangtua untuk memberi sugesti positif pada anaknya.

14. SAAT MARAH

Ini juga sama halnya dengan kondisi anak saat menangis. Emosi anak muncul. Dan saat seperti ini, sugestivitasnya tinggi. Ikuti alur marahnya, jangan dibantah, lalu masukkan sugesti positif dengan lembut.

15. SAAT SEDIH

Sedih adalah kondisi ketika anak fokus pada masalahnya. Mungkin dibarengi dengan air mata. Dalam kondisi ini, critical factor-nya lengah, dan sugesti positif bisa menerabas bebas menyentuh pikiran bawah sadarnya.

Demikian beberapa cara memberikan sugesti posisif ke anak yang dikumpulkan dari facebook Omah Tentrem Hipnoterapi Jogja, 

07/03/2016

Ruang Lingkup ASWAJA

C. Ruang Lingkup ASWAJA NU
Paham Ahlussunah Waljama’ah meliputi tiga ruang lingkup yaitu : Lingkup akidah, lbadah, dan akhlak. selanjutnya, untuk membedakan lingkup-lingkup Ahlussunnah Waljamaah tersebut dengan lingkup-lingkup lain, perlu ditegaskan dengan menyebut masing masingnya menjadi :
1. Akidah Ahlussunnah waljamaah,
2. Ibadah (fiqh) Ahlussunnah Waljamaah, dan
3. Akhlak Ahlussunnah Waljamaah.


  1.         Akidah Ahlussunnah Waljamaah
Adapun institusi akidah (kalam) yang sejalan dengan paham Ahlussunnah Waljamaah ialah institusi akidah yang dicetuskan oleh al-Asy’ari dan al-Maturidi. Meski sama persis pemikiran kalam mereka berdua, tetapi pemikirannya tetap commited terhadap petunjuk naql. Keduanya sama-sama mempergunakan akal sebatas untuk memahami naql, tidak sampai mensejajarkannya apalagi memujanya. Bahkan secara terang-terangan melalui karya-karyanya, keduanya sama-sama menolak dan menentang logika Mu’tazilah yang terlalu memuja akal dan nyaris mengabaikan petunjuk naql.
Dengan demikian, maka dalam konteks historis, paham Ahlussunnah Waljamaah adalah sebuah paham yang dalam lingkup akidah mengikuti  pemikiran kalam al Asy’ari atau al-Maturidi. Yang institusinya kemudian disebut al-Asy’ariyah atau al-Maturidiyah. Dan sebagai institusi besar, keduanya tidak luput dari tokoh-tokoh pengikut yang selain menyebarkan, juga mengembangkan pemikiran kalam yang dicetuskan oleh pendirinya.
Beberapa nama tokoh yang menyebar-kembang kan pemikiran kalam al-Asy’ari dan al-Maturidi itu, tercatat nama-nama besar seperti: Al-Baqilani, al-Juwaini (imam al-Haramain), al-Isfirayini, Abu Bakar al-Qaffal, al-Qusyairi, Fahr al-Din al-Razi, Izz al-Din’Abd al Salam, termasuk al Ghazali dan al-Bazdawi. Dan pemikiran kalam yang banyak masuk serta mewarnai umat Islam di Indonesia ialah pemikiran kalam al-Asy’ari yang telah dikembangkan oleh al-Ghazali yang lebih dikenal sebagai tokoh sufistik.
Jauh (berabad-abad) pasca tokoh-tokoh tersebut, di Indonesia dikenal pula tokoh-tokoh al-Asy’ariyah (Asya’irah) seperti: Syekh al-Sanusi, Syekh al-Syarqawi, Syekh al-Bajuri, Syekh Nawawi Banten, Syekh al-Tarabilisi, Syekh al-Fatani, dan lain-lain. Yang tidak mustahil. pemikiran kalam mereka sudah berbeda dengan pemikiran kalam al-Asy’ari sendiri atau setidak-tidaknya ada nuansa lain.

  1.         Fiqh Ahlussunnah Waljamaah
Dalam konteks historis, institusi fiqh yang sejalan dengan konteks substansial paham Ahlussunnah Waljamaah ialah empat mazhab besar dalam fiqh Islam, mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Bahwa mazhab Hanafi dianut pula oleh mu’asis (pendiri) kalam at Maturidiyah, yakni Abu Mansur al-Maturidi. Sedangkan mazhab Syafi’i dianut pula oleh muassis kalam at Asy’ariyah, yakni Abu al-Hasan al-Asyari.
Tak bisa dipungkiri, bahwasanya di antara keempat fiqh tersebut satu sama lain banyak ditemui perbedaan di sana sini. Akan tetapi, perbedaan-perbedaan itu masih berada dalam koridor ikhtilaf-rahmat (perbedaan yang membawa rahmat). Abu Hanifah yang dikenal sebagai ahl al-ra’yi (banyak menggunakan akal/logika), tidak mengklaim pendapatnya sebagai terbenar. Dan ketiga Imam yang lain pun tidak pernah menyalahkan pendapat mazhab yang lain.
Keempat Imam Mazhab tersebut sama-sama commited terhadap petunjuk al-Quran dan al-Sunnah. sama-sama berpola-pikir Taqdim al-Nas ‘ala al-’aql (mendahulukan petunjuk nas daripada logika). Dalam berijtihad, mereka tidak mengedepankan akal kecuali sebatas untuk beristimbat (menggali hukum dan al Quran dan al-Hadits), tidak sampai mensejajarkan apa lagi mengabaikan nas. Dan inilah substansi paham Ahlussunnah Waljamaah.

  1.         Akhlak Ahlussunnah Waljamaah
Adapun lingkup yang ketiga ini, paham Ahlussunnah Waljamaah mengikuti wacana akhlak (tasawuf) yang dikembangkan oleh tokoh-tokoh seperti al Ghozali, al junaid, dan tokoh-tokoh lain yang sepaham termasuk Abu Yazid al-Bustami. Pemikiran akhlak mereka ini memang tidak melembaga menjadi sebuah mazhab tersendiri sebagaimana dalam lingkup akidah (kalam) dan fiqh. Namun wacana mereka itu sejalan dengan substansi paham Ahlussunnah Waljamaah serta banyak diterima dan diakui oleh mayoritas umat Islam.
Diskursus Islam kedalam lingkup akidah, ibadah, dan akhlak ini bukan berarti pemisahan yang benar-benar terpisah. Ketiga-tiganya tetap Integral dan harus diamalkan secara bersamaan oleh setiap muslim, termasuk kaum Sunni” (kaum yang berpaham Ahlussunnah Waljamaah). Maka seorang muslim dan seorang sunni yang baik, dalam berakidah, dalam beribadah sekaligus dalam berakhlaq. Seseorang baru baik akidah dan ibadahnya saja Ia belum bisa dikatakan baik, jika akhlaknya belum baik.
Oleh karena itu, maka lingkup akhlak tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia justru teramat penting dan menjadi cerminan Ihsan dalam diri seorang muslim. Jika Iman menggambarkan akidah, dan Islam menggambarkan ibadah; maka akhlak akan menggambarkan ihsan yang sekaligus mencerminkan kesempurnaan iman dan Islam pada diri seseorang. Iman ibarat akar, dan “Islam” ibarat pohonnya; maka “Ihsan” ibarat buahnya.
Mustahil sebatang pohon akan tumbuh subur tanpa akar dan pohon yang tumbuh subur serta berakar kuatpun akan menjadi tak bermakna tanpa memberikan buah secara sempurna. Mustahil seorang muslim beribadah dengan baik tanpa didasari akidah kuat, dan akidah yang kuat serta ibadah yang baik akan menjadi tak bermakna tanpa terhiasi oleh akhlak mulia.

Idealnya, ialah berakidah kuat, beribadah dengan baik dan benar, serta berakhlak mulia. Beriman kuat, berislam dengan baik dan benar, serta berihsan sejati. Maka yang demikian inilah wujud insan kamil/(the perfect man) yang dikehendaki oleh paham Ahlussunnah waljamaah.



Sejarah Perkembangan Paham Aswaja

            6. Periode Imam Al-Ghazali-Al-Junaid
Al-Ghazali, yang bernama lengkap “Zain al-Din abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al Ghazali’ dan bergelar “Hujjah al-Islam” (pembela umat Islam), lahir di Tus (450-505 H) adalah seorang besar yang sangat populer di kalangan umat.
Popularitas al-Ghazali, memang tidak hanya di satu keilmuan belaka, melainkan di berbagai bidang dikenal sebagai tokoh penerus kalam al-asy’ariyah, fiqh Syafiiyah, filosof muslim, dan bidang-bidang lainnya, terutama di bidang Tasawuf dengan monumentalnya berjudul Ihya ‘Ulum al-Din.
Ketokohan al-Ghazali di bidang Tasawuf (akhlak) sebenarnya didahuiui oleh kemunculan seorang tokoh di bidang yang sama Imam al-junaidi al-Baghdadi (w. 910 M) yang lebih dikenal dengan “aljunaid’

Kedua tokoh ini kemudian mempermantap institusi Ahlussunnah Waljamaah, khususnya dalam lingkup tasawuf (akhlak) : setelah periode sebelumnya dalam lingkup fiqh dipelopori oleh imam Mazhab Empat (Abu Hanifah, Malik bin Anas, Muhammad bin Idris al Syafi’i, Ahmad bin Muhammad bin Hanbal); dan dalam lingkup kalam, (akidah) dipelopori oleh al-Asy’ari dan al Maturidi.

            bersambung Ruang Lingkup Aswaja

Sejarah Perkembangan Paham Aswaja

            5. Periode Imam Al-Asyari-Al Maturidi
Periode ini pada dasarnya merupakan periode institusi Ahlussunnah Waljamaah, khususnya dalam lingkup kalam (teologi). Karena semenjak kemunculan dua tokoh besar al-Asy’ari dan al-Maturidi, terasa sedemikian melembaganya nama Ahlussunnah Waljamaah.
Abu al-Hasan al-Asy’ari (260-324 H) berada di Basrah dan Abu Mansur al-Maturidi (248-333 H) berada di Khurasan yang saling berjauhan dan praktis tidak pernah berkomunikasi itu, secara kebetulan sama-sama berjuang keras menegakkan Akidah (kalam) Ahlussunnah Waljamaah dengan menolak paham Mu’tazilah yang hingga itu terus berkembang dan mendapat dukungan politis dan pihak khalifah dan daulah Abasiyah terutama khalifah al-Makmun, al-Mu’tasim, dan al-Wasiq.

Meski kemasan institusi al-Asy’ari dan al-Maturidi hanya sebatas dalam lingkup kalam, namun mengingat secara substansial paham Ahlussunnah Waljamaah sudah melekat kuat di dada mayoritas umat semenjak zaman Rasul SAW.; maka selain pemikiran kalam mereka berdua segera mendapat sambutan hangat dari berbagai pihak dan berbagai penjuru juga memperkuat institusi Ahlussunnah Waljamaah sebagai sebuah paham mazhab) mayoritas muslimin.

Sejarah Perkembangan Paham Aswaja

         4. Perlode Imam Mazhab Empat
Periode Imam Mazhab Empat pada dasarnya merupakan periode kemunculan aliran (mazhab) di bidang fiqh yang jumlahnya semua sangat banyak. Namun kemudian tinggal empat mazhab saja yang hingga kini diterima dan diakui oleh mayoritas umat Islam. Keempat mazhab itu ialah:
a.       Hanafi, dengan pendirinya/imamnya Abu Hanifah (80- 150H)
b.      Maliki, dengan imamnya Malik bin Anas (93-170 H),
c.       Syafi dengan imamnya Muhammad bin Idris al Syafi (150-204 H).
d.     Hanbali, dengan imamnya Ahmad bin Muhammad bin Hanbal (164-241 H).

Keempat Imam Mazhab tersebut adalah para penegak substansi paham Ahlussunnah Waljamaah yang sangat andal. Selain di bidang fiqh, mereka pun banyak menyinggung lingkup kalam (akidah) dan akhlak yang semuanya tetap merujuk pada Sunnah Rasul dan tariqoh para sahabat (khususnya sahabat empat), dengan senantiasa berpegang teguh kepada petunjuk al-Quran dan al-Sunnah.

Sejarah Perkembangan Paham Aswaja

           3. Periode Tabi’in.
Maksud periode tabi’in dalam hal ini ialah periode pasca kekhalifahan sahabat Ali bin Abi Talib kw. yang ditengarai oleh munculnya sekte-sekte Islam yang banyak mendapat sorotan para ulama dan ahli sejarah, seperti:
a.       Qadariyah
b.      Murji’ah; dan
c.       Jabbariyah.
Qadariyah dengan pendirinya Ma’bad aljuhani dan al-Dimasyqi, antara lain berpendapat bahwa manusia memiliki qadar (kemampuan) sendiri untuk menciptakan perbuatannya tanpa campur tangan sama sekali Tuhan.
Sedangkan pendapat yang paling menonjol dari sekte Murji’ah yang dipelopori oleh Hasan bin Bilal al Muzni, Abu Salah al-Saman, Sauban dan Dirar bin Umar, ialah menangguhkan hukuman duniawi hingga hari kiamat. Hal ini lebih dilatarbelakangi oleh sikap apatis mereka terhadap pertikaian politik semenjak masa kekhalifahan Usman bin Affan ra. Mereka enggan menyatakan bagaimana hukumnya kelompok Syi’ah, Khawarij, Mu’awiyah, ataupun kelompok Ali sendiri yang non-Syi’ah. Bagaimana hukum masing-masing semua diserahkan kepada Tuhan kelak pada hari kiamat. Tetapi kemudian pendapatnya meluas termasuk meniadakan hukum qisas, diyat atau hukuman bagi pezina, semua hukuman ditunda sampai hari kiamat dihadapan Tuhan.
Sementara itu sekte jabariyah dengan pendirinya Jaham bin Safwan, atau sering pula disebut sekte Jahamiyah, menyatakan bahwa manusia tidak memiliki qadar sama sekali. Semua perbuatan manusia diciptakan secara mutlak oleh Qadar Tuhan. Baik-buruknya perbuatan manusia, semata-mata merupakan perwujudan dari baik buruknya Qadar Tuhan. Pendapat ini bertolak belakang 180 derajat dengan pendapat sekte Qadariyah.
Tentang keempat sekte ini, sebagian ulama berpendapat hanya ada dua sekte. Yakni, sekte Qadariyah adalah nama lain dari Mu’tazilah, dan sekte Murji’ah adalah nama lain dari jabariyah atau jahamiyah. Dan pengaruhnya sangat kuat, hingga kini terus mewarnai percaturan kalam (teologis) umat Islam ialah sekte Mu’tazilah.
Nama “Mu’tazilah” hanyalah nisbat terhadap ucapan Syekh Hasan Basri tatkala mengeluarkan muridnya yang amat radikal, yakni Wasil bin Ata al-Ghazal (80-131 H). I’tazil Anna! (keluarlah dari perguruanku!). Maka Wasil ini pula yang dikenal sebagai pendiri sekte Mu’tazilah
Wasil sendiri menamakan sektenya Ahl al-Adl wa al Tauhid (golongan yang berpaham adil dan mengEsakan Tuhan), sekaligus mengindikasikan pendapat utamanya. Adil menurutnya ialah bahwa Tuhan membalas amal perbuatan manusia yang diciptakan sendiri tanpa campur tangan Qadar-Nya. Sedangkan tauhid menunutnya ialah  bahwa Tuhan Esa tanpa diembel-embeli berbagai sifat, Dia tidak memiliki sifat-sifat.
Keradikalan Mu’tazilah, meskipun kemudian sekte ini terpecah sampai 22 sekte yang berbeda; semuanya terlalu berlebihan dalam memuja kemampuan akal, nyaris mengabaikan petunjuk naqli (al-Quran dan al-Sunnah). Bahkan menyatakan bahwa al-Quran adalah makhluk (ciptaan Tuhan) dan bersifat hadits (baru). Pernyataan terakhir iniIah yang kemudian disebut oleh banyak kalangan sebagai al-Mihnah (batu ujian bagi para ulama mayoritas yang tetap berpendapat bahwa al-Qur’an adalah kalam Tuhan, bukan makhluk-Nya dan atau Qadim.

bersambung Periode Imam Mazhab Empat