16/11/2016

EMOH ULAMA

EMOH ULAMA

Saat ngaji rutinan Senin (31/10/2016), Pengasuh PP Al-Muhibbin Bahrul Ulum Tambakberas, KH Jamaludin Ahmad menjelaskan ciri orang yang sombong alias kibr. ’’Aun bin Abdillah  berkata kepada Fadol Alwasiti, tandane kibr adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain,’’ tuturnya.

Kiai Jamal lantas menceritakan Abu Bakar. Suatu ketika, Sahabat Abu Bakar hendak menshalati jenazah. Dia dikagetkan dengan bagian jenazah yang terlihat gerak-gerak. Abu Bakar lalu membuka bagian yang gerak-gerak itu. Ternyata itu adalah ular yang melilit tubuh jenazah.

Abu Bakar lalu mengambil senjata dan hendak membunuh ular tersebut. Namun ular itu justru berkata; ’’Kenapa engkau hendak memukulku, sementara aku disini atas perintah Allah. Aku diperintah Allah untuk menyiksa orang ini hingga kiamat.’’

Mendengar itu, Abu Bakar membatalkan niatnya. Abu Bakar lalu bertanya, apa yang menyebabkan jenazah tersebut mendapat siksa seperti itu. Ular itu menjawab, ada tiga hal penyebabnya. Pertama, tarikus solah. Semasa hidup, jenazah itu tidak mau shalat. Kedua, maniuz zakat. Orang itu tak pernah membayar zakat. Ketiga, la yasma’u kalam ulama. Seumur hidupnya, orang itu tak pernah mau mendengar nasehat ulama.                       
Rojif

MELARAT AKHIRAT

MELARAT AKHIRAT


Saat ngaji pada rutinan Rijalul Ansor di Masjid Agung Baitul Mukminin Alun-alun Jombang, Sabtu (12/11/2016), pakar tafsir Quran Pesantren Tebuireng, DR KH Mustain Syafiie, mengaku sangat senang dengan amaliah yasinan dan tahlilan yang dimiliki NU. Yasinan dan tahlilan biasa digunakan untuk mendoakan orang yang telah meninggal dunia.


’’Saya membaca dalil yang menyatakan Yasin tahlil itu  tidak sampai kepada orang mati. Saya juga membaca dalil yang menyatakan sampai.  Saya pilih ikut yang sampai sebab saya tidak yakin bisa masuk surga dengan  amal saya sendiri,’’ tuturnya.


’’Amal  apa yang akan kita andalkan untuk bisa sampai di surga? Shalat jamaah lima waktu belum bisa istiqomah? Khataman Alquran seminggu sekali belum ajeg? Qiyamul lail arang-arang? Terus opo sing diandalno?’’ tuturnya.


Apalagi infaq di jalan Allah. Apa sudah mau menyerahkan sepertiga harta seperti Sahabat Ustman bin Affan? Apalagi separo harta seperti Sahabat Umar? Apalagi seluruh harta seperti Abu Bakar? ’’Karena itu kita masih butuh kiriman-kiriman doa orang lain,’’ ujarnya.


’’Saya kasihan dengan orang yang meyakini doa orang hidup tak akan sampai kepada orang mati. Mereka ini akan miskin di akhirat. Mereka ini akan melarat di akhirat,’’ ucapnya.


’’Yok piye ora melarat? Begitu ada orang hidup kirim Yasin tahlil lil muslimin wal muslimat, mereka tak akan dapat bagian. Sama malaikat mau diberi, oleh Allah dipotong. Wong iku gak usah. Uripe biyen ora yakin doa ngene iki nyampek,’’ ucapnya.
Rojiful mamduh

GUSTI ALLAH ORA NGREKEN JOMBLO

GUSTI ALLAH ORA NGREKEN JOMBLO

Saat ngaji pada rutinan Rijalul Ansor di Masjid Agung Baitul Mukminin Alun-alun Jombang Sabtu (12/11/2016), pakar tafsir Quran Pesantren Tebuireng, DR KH Mustain Syafiie, menjelaskan perbedaan sikap Allah kepada Nabi yang diberi syariat qital dan kepada Nabi yang tidak diberi syariat qital.


’’Kepada para Nabi yang diberi syariat qital, Allah benar-benar menunjukkan kehadiran-Nya melalui pertolongan-Nya yang maha dahsyat,’’ ucapnya.

Diantara Nabi yang diberi syariat qital adalah Nabi Musa dan Nabi Muhammad SAW. ’’Nabi Musa diatas kertas jelas mustahil selamat. Maju tenggelam di lautan. Mundur dihantam oleh ribuan pasukan Fira’un. Namun apa yang terjadi? Allah hadir.  Sehingga Nabi Musa bisa selamat dengan melewati lautan yang terbelah,’’ paparnya.


Perang Badar di zaman Nabi Muhammad juga mustahil dimenangkan. ’’313 tentara muslim melawan 1000 tentara kafir. Jelas mustahil menang.  Tapi karena Allah yang memerintahkan, maka Allah hadir memberikan pertolongan sehingga bisa menang,’’  ungkapnya.


Kondisinya berbeda dengan yang dialami Nabi Yahya dan Nabi Isa. ’’Kedua Nabi ini tidak
diberi syariat qital,’’ ujarnya.


Bagaimana hasilnya? ’’Dalam tanda kutip, dakwah keduanya gagal. Nabi Yahya dibunuh sebelum menikah. Nabi Isa nyaris dibunuh, namun lebih dulu dievakuasi oleh Allah ke langit. Pertolongan Allah yang maha dahsyat tidak ditunjukkan kepada keduanya,’’ jelasnya.


’’ Nabi Yahya dan Nabi Isa ini belum sempat menikah.  Seakan-akan Allah hendak mengatakan, emoh menolong orang yang belum menikah. Makane lek gurung nikah ojo suwi-suwi,’’ tambahnya disambut tawa para kader Ansor yang hadir.
Rojiful Mamduh

ANSOR NASRUN atau ANSOR NUSRON

 ANSOR NASRUN atau ANSOR NUSRON

Saat ngaji pada rutinan Rijalul Ansor di Masjid Baitul Mukminin Alun-alun Jombang Sabtu (12/11/2016), pakar tafsir Quran Pesantren Tebuireng DR KH Mustain Syafiie  mengaku sangat cinta dengan para pemuda Ansor. ’’Awakmu iku penolong Gusti Allah, Rek. Ora main-main,’’ ucapnya.

Beliau lantas menerangkan alasan pemilihan nama Ansor.

Pertama,  merujuk kata Ansor pada QS Assaf 14. Sebelum diangkat Allah ke langit, Nabi Isa membriefing para pengikutnya. Siapa diantara mereka yang nantinya tetap setia menjadi penolong Allah. Lalu kaum Hawariyun berikrar menjadi penolong Allah. Ansorullah. ’’Itupun masih ada yang berkhianat, wakafarot toifah,’’ jelasnya. Sehingga tetap ada kemungkinan anggota Ansor yang tidak menjadi pembela Allah. ’’Sejarah mencatat, kaum Hawariyun yang setia dengan janjinya menjadi penolong Allah hanya 12,’’ tuturnya.


Kedua,  merujuk pada hijrah Nabi. ’’Siapa yang lebih mulia, Muhajirin ataukah Ansor?’’ tanya Kiai Mustain. ’’Yang disebut langsung di Alquran memang Muhajirin. Tapi jangan remehkan peran Ansor,’’ paparnya.


Menurut Kiai Mustain, persiapan hijrah Nabi sudah dilakukan sejak dua tahun sebelumnya. ’’Setidaknya ada enam nama Sahabat Ansor yang dikenal ikut melakukan persiapan. Salah satunya adalah Nusaibah binti Kaab Al-Ansori,’’ jelasnya. Dia inilah yang menciptakan syair tolaal badru. ’’Tidak mungkin tolaal badru itu diaransmen seketika itu. Pasti telah dipersiapkan sebelumnya. Jika mendadak, bagaimana bisa tahu bahwa Nabi akan melintasi min saniyyatil wada (salah satu kota di Madinah),’’ jelasnya.


Ketiga, peran Ansor pada 1966. ’’Coba gali kuburan orang-orang PKI yang dibunuh. Banyak mana antara yang mati karena ditembak dan yang digorok?’’ ucapnya. ’’Penjalin dipukulkan ayam tidak mati, tapi saat itu, ditangan anak-anak pemuda Ansor, dipukulkan PKI sekali langsung mati. Kalau tidak karena Ansorullah mana mungkin bisa seperti itu,’’ ucapnya.

Allah, kata Kiai Mustain, tidak perlu dibela. Justru kita yang butuh pembelaan Allah. ’’Allah gak perlu kamu bela. Tapi kamu perlu membela Allah, supaya Allah punya alasan membela kamu,’’ tegasnya.
Rojiful Mamduh

BODO TAPI MANFAAT

 BODO TAPI MANFAAT

Pernahkah Anda menjumpai orang yang tidak bergelar sarjana namun justru laris diundang ceramah bahkan disuruh mimpin ritual keagamaan di masyarakat?

Saat khatmil Quran di Musola Al-Ikhlas Nglundo Utara Desa Candimulyo, Jombang, Minggu (23/10/2016), Gus Abdurahman Alhafid Perak menceritakan nasehat Pengasuh PP Al-Muhibbin Bahrul Ulum Tambakberas KH Jamaludin Ahmad yang disampaikan kepadanya.

’’Mbah Jamal ngendikan, masio ilmu kita sedikit,  kalau mau mengamalkan tiga hal, maka Allah akan mengangkat derajat kita,’’ tuturnya. ’’Ketiganya yakni chalim, luman dan khusnul khuluq,’’ tambahnya.

Pertama, chalim.  Nabi Ibrahim pernah berdoa minta anak soleh. Lalu diberi Allah dengan anak yang Chalim (QS Assafat 100-101). ’’Chalim itu melebihi  sabar,’’ kata Gus Abdurahman. Alias amat sangat luar biasa sabar sekali.

Kedua, luman. Saat ngaji di Dempok  Kamis (3/11/2016), KH Latif Bajuri menjelaskan tiga ciri ahli surga. Yakni wajah yang selalu senyum, tangan yang luman dan hati yang selalu bersyukur. ’’Wong luman itu dekat dengan Allah, dekat dengan surga, dekat dengan manusia, jauh dari neraka,’’ tuturnya mengutip sebuah hadits.

Ketiga, akhlak yang baik. Ini adalah intisarinya ilmu. Buahnya ilmu ya akhlak itu. ’’Siapa yang mau berakhlak baik, mengamalkan ilmunya, maka Allah akan mengajarkan apa yang tidak diketahuinya,’’ kata  Mbah Bolong (4/11/2016) mengutip dawuh Nabi yang terdapat dalam sejumlah kitab Imam Ghozali.
Rojiful  Mamduh

HUKUM MATI MEMBELA WONG KAFIR

HUKUM MATI MEMBELA WONG KAFIR

Saat ngaji pada rutinan Rijalul Ansor di Masjid Agung Baitul Mukminin Alun-alun Jombang, Sabtu (12/11/2016), pakar tafsir Quran Pesantren Tebuireng DR KH Mustain Syafiie menyampaikan bahayanya mendukung pemimpin kafir. ’’Ada 61 ayat yang melarang memilih pemimpin kafir. Bukan hanya memilih. Mendukung saja tidak boleh,’’ tegasnya.


Beliau lantas mengungkapkan QS Ali Imron 118. Terutama pada lafad qod badatil baghdou min afwahihim (Telah nyata kebencian dari mulut mereka). Yakni kebencian yang diucapkan orang kafir terhadap orang Islam.
 ’’Bukan hanya  melalui mulut mereka, tapi juga televisi mereka, juga koran mereka, juga whatsapp mereka, juga media sosial mereka,’’ tuturnya.


Yang lebih bahaya lagi masih ada. Yakni pada lafad, wama tuhfi suduruhum akbar (dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi). ’’Allah sudah mengingatkan bahwa yang mereka simpan di hati mereka itu lebih besar lagi. Lebih berbahaya,’’ tegasnya.


Dia lantas mencontohkan di Spanyol tepatnya Cordoba. ’’Setelah 8 abad di kuasai umat Islam, ketika umat  Islam kalah, mereka hanya diberi tiga pilihan oleh orang kafir. Yakni pindah agama, pergi meninggalkan negeri, atau dibunuh.’’


Yang terbaru adalah di Bosnia tahun 1990-an. ’’Dengan alasan toleransi, awalnya umat Islam mau 
bareng-bareng bersama dengan orang kafir dalam hal apapun. Namun begitu orang kafir jadi presiden, delapan ribu umat Islam dibunuh. Wanita muslim yang hamil diperkosa sebelum disudet janinnya. Semua umat Islam tahu. Dan belum lupa akan hal ini,’’ tegasnya.


Kiai Mustain lantas mengingatkan bahwa di QS Almaidah 51 ada kalimat; wamayyatawallahum minkum fainnahu minhum (Barangsiapa diantara kamu mengambil orang kafir menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan orang kafir).

’’Seandainya Nusron mati dalam kondisi mendukung pemimpin kafir, terus matine piye? Dia boleh dikubur di makam muslim atau tidak?’’ tegas Kiai Mustain. (rojiful mamduh   )

NGELINGNO TAMU

 NGELINGNO  TAMU

Selama ini Pesantren Tebuireng sangat keras bersuara menolak pemimpin non muslim. Nah, Jumat (11/11/2016), Djarot Syaiful Hidayat, wakil gubernur yang mendampingi Ahok dalam Pilgub Jakarta silaturahmi dan ziarah ke Tebuireng.

’’Mulanya Gus Solah bermaksud tidak menemui Djarot. Tapi kan tidak elok. Masak menolak tamu,’’ kata DR KH Mustain Syafiie, jelang ngisi rutinan Rijalul Ansor di Masjid Alun-alun Jombang, Sabtu (12/11/2016).

Akhirnya, Gus Solah tetap menemui Djarot.

Tapi Gus Solah minta DR KH Mustain Syafiie  yang khutbah Jumat. Kiai Mustain dikenal sebagai pakar tafsir Quran Pesantren Tebuireng yang sangat keras menolak pemimpin non muslim.  ’’Padahal sebenarnya bukan jadwalku khutbah,’’ kata Kiai Mustain.  Hari itu Jumat Kliwon. Sementara jadwal khutban Kiai Mustain sejatinya adalah Jumat Wage.

Di khutbah itu Kiai Mustain menceritakan bahwa QS Al Maidah 51 diawali dengan khitob yang berbunyi  ya ayyuhalladzina amanu (wahai orang-orang beriman). Ayat perintah puasa QS Albaqarah 183 juga diawali khitob yang sama. Ya ayyuhalladzina amanu.

’’Jadi bagi kami umat Islam, wajibnya memilih pemimpin muslim itu seperti wajibnya ibadah-ibadah yang lain seperti puasa,’’ tegas Kiai Mustain.

Inilah potret sejuknya umat Islam. Tamu tetap diterima. Namun tidak mengubah sikap kita. Ora menyakiti. Namun pesannya menusuk ke hati. 

Seperti lirik lagu Ari Lasso yang berjudul Rahasia Perempuan.  ’’ Sentuhlah Dia Tepat Di Hatinya # Dia Kan Jadi Milikmu Selamanya’’.
(Rojif)

DIPLOMAT

DIPLOMAT


Saat seminat di Tebuireng Selasa (3/5/2016), utusan Duta Besar Arab Saudi Syaikh Dr Ibrahim Sulaiman an-Nughoimshi menuturkan bahwa mereka sedang memperbanyak kitab-kitab karangan KH Hasyim Asy’ari untuk disebarkan gratis. Sebab menurut beliau, ajaran Mbah Hasyim dengan ajaran Wahabi banyak yang sama.


Statemen ini langsung dikritik oleh KH Aziz Mashuri, pengasuh PP Al-Aziziyah Denanyar. Beliau mempertanyakan fatwa-fatwa ulama Wahabi yang berseberangan dengan NU. Contohnya.
Pertama, Wahabi menganggap para ulama sufi sesat dan boleh dibunuh.
Kedua, Wahabi melarang peringatan Maulid Nabi.
Ketiga, Wahabi melarang ziarah kubur.


Menanggapi ini,  utusan Duta Besar Arab Saudi tersebut menyatakan bahwa fatwa-fatwa tersebut bukanlah fatwa resmi Wahabi. ’’Wahabi yang sekarang tidak seperti itu,’’ ucapnya.


Buyar acara, saya tanya DR KH Mustain Syafiie. Benarkah yang disampaikan utusan Duta Besar Arab Saudi itu, bahwa ajaran Wahabi banyak yang cocok dengan ajaran Mbah Hasyim? ’’Omonge diplomat yo ngunu iku. Diplomat itu harus bisa menyesuaikan dengan tempat dimana dia ditugaskan. Kalau negara tempat dia ditugaskan makan babi, dia ya harus ikut makan babi,’’ jawab Kiai Mustain enteng.

Rojiful Mamduh