16/04/2016

Fiqh Siyasah Dusturiyah alaa manhaj Ahlussunnah wal Jamaah

Ansor Jombang Kota Online:
"Terima kasih sahabat-sahabat atas partisipasi nya pada limolasan kali ini. Diskusi nya sangat dinamis, dan memunculkan reaksi beragam. Suksesi kepemimpinan dalam Islam dalam tinjauan sejarah sebagaimana disampaikan Gus Latif, mempunyai banyak contoh. Dalam berpolitik mereka mempunyai hajjah masing2. Penganut Khilafah mempunyai rujukan sendiri, begitu pula syiah juga mempunyai rujukan sendiri. Pelajaran nya adalah dalam hal menentukan pemimpin (politik) tidak boleh kaku-kakuan".Demikian disampaikan H.Muh.Masrur kepada Ansor Jombang Kota online.

Adapun yang hadir kali ini adalah pengusung Holopis, itu adalah dalam rangka kita mengenal mereka, bagaimana mereka ( bahasa Gus Latif) mengelaborasi ideologi keaswajaan dalam praktek politik mereka. Tentang masalah kesan, tergantung pada masing-masing kita. Tidak usah buru-buru dulu menentukan sikap, sambil kita tunggu pesaing holopis mendekat...."lanjutnya

Sementara itu sikap tersebut menuai penilaian audut pandang yang lain dari berbagai sudut keilmuan.
Kehadiran tim holopis akan memicu Cara pandang yang berbeda-beda.

Bagi para akademisi akan melihat dari prespektif kajian akademis sesuai literatur yg mereka miliki.
Bagi aktivis akan melihat dr nalar kritisnya.
Bagi politisi akan melihat dr prespektif kalah menang atas kepentingan kekuasaan. dan
Bagi tukang ngopi ya tetep akan terus ngopi.
(Aman Wae)

15/04/2016

Mbah Fadhol: Sebuah Legenda Pitutur

Mbah Moen sering ngendiko

" sepiro sholehe anak , tergantung sepiro sholihah ibu'e "

Syeh Abul Fadlol Senori adalah salah satu guru Mbah Moen, kisah singkat beliau

Mbah Denok bisa dibilang Ibu yang aneh, Ibu yang lebih memilih anaknya menjadi Ulama besar daripada memilih kekayaan yang sudah didepan mata.

Seorang Ibu yang bertahan dalam kemiskinan, ibu yang selalu berpuasa demi masa depan anak yang saat itu baru dikandungnya.

Hari itu beliau mencuci beras di sungai, entah karena lemah badannya yang gemetar menahan lapar, sehingga beras itu tumpah, atau karena tak sengaja tersenggol beliau yang sibuk mencuci pakaian.

Subhanallah bukan lagi berwujud beras, tetapi emas berkelipan itu sangat mengagetkan, namun hati yany senantiasa sadar akan keberadaan Allah itu segera menarik kesimpulan, bahwa dirinya sedang mengalami ujian, serta merta beliau menangis memohon ampun, bibir pucatnya berucap perlahan, hatinya bergetar, Wahai Tuhanku bukan ini yang aku pinta, emas ini bagiku bukanlah harapan, hamba hanya memohon kepadaMu jadikanlah janin dalam kandunganku ini lahir menjadi Ulama, jadikanlah ia kekasihMu dan panutan.

Mbah Denok itu adalah Ibu Mbah Abdus Syakur, seorang Ulama kuno yang mumpuni disegala bidang keilmuan.

Selanjutnya Mbah Syakur menurunkan dua orang putera dari janda Kyai Abdul Aziz yaitu Mbah Abul Fadlol senori dan Mbah Abul Khoir suwedang.

Keduanya adalah Ulama besar, Mbah Abul Fadlol terkenal sesudah wafatnya dengan berbagai kitab karangan yang menembus dunia pesantren Timur Tengah, sedangkan Mbah Abul Khoir lebih menonjol dalam bidang Tashowwuf dan Ulama Fiqih yang sangat kuat memegang priinsip di ujung zaman.

Mbah Abul Fadlol pada masa remajanya berguru kepada Mbah Hasyim Asy'ari Tebu ireng. Jangan ditanya soal apa yang telah beliau kuasai, karena semenjak kecil beliau telah suka melantunkan sya,i sya,ir yang terdapat di dalam kitab Ihya dengan hanya mendengar saja dari pengajian bapaknya.

Mbah Abul Fadlol tidak hanya mumpuni dalam bidang Ilmu Agama saja, tetapi entah dari mana ilmu itu beliau dapat, dizaman radio masih langka, beliau telah mampu membuat radio amatir, tentang ilmu kimia juga begitu, dengan caranya sendiri, beliau mampu membuat minyak wangi yang baunya tidak seperti bau minyak wangi pada umumnya, bahkan beliau telah mampu membuat syrup obat batuk yang konon sangat mujarab.

Beliau juga menguasai bahasa mandarin, konon beliau pernah bekerja di semarang sebagai kuli membuat jalan.Beliau memang tidak pernah menyukai kekayaan, setiap kerja yang dirintis laris, tiba tiba beliau tinggalkan begitu saja, dari mulai menjadi penjual tembakau, polangan, jual kain dan pekerjaan terakhirnya adalah sebagai reparasi radio dan jam tangan.

Jiwa Nasionalisme yang tinggi beliau warisi dari gurunya, yaitu Mbah Hasyim, pada setiap upacara 17 Agustus di kecamatan, beliau sempatkan dirinya pakai celana, sepatu dan ikut upacar di lapangan.Dan juga jangan tanya organisasi apa yang beliau ikuti dan istiqomahkan, NU adalah kebanggaan beliau sampai beliau diwafatkan.

Sumber cerita dari menantunya Mbah Abul Fadlol sendiri, yaitu Kyai Minanurraohman

......................

Dalam keseharian beliau sanngat sederhana dan bersahaja, saking sederhananya ketika ta'ziah dalam wafatnya KH. Zuber Sarang beliau sempat dicueki atau tidak dihormati oleh orang karena songkok hitam yang dipakai tidak lagi hitam tapi telah berubah warna menjadi merah. Baju yang di kenakan lusuh, hingga orang acuh memandangnya.
Orang-orang baru tahu kalau itu adalah Mbah Dlol yang sangat terkenal itu. Setelah tanpa sengaja mBah Maimun Zuber memergokinya di tengah jalan. Karuan saja KH. Maimun langsung menciumi tangan beliau dan menempatkannya pada tempat yang layak

..............

Sering sekali mbah maimun memuji sang guru ketika mengaji adapun dalam tausiyah-tausiyah beliau.

"Ojo isin dadi wong jowo, delok toh Mbah Fadhol Senori. ora tahu ngaji ning arab, tapi geneyo koq iso Alim ngalahno sing ning Arab. Alime koyok ngono, karangane kitab pirang-pirang."
---------------
(By copas dr Ustdz Zam).

Kisah Kehidupan

Kisah Kehidupan
Suatu hari saya bersenggolan dengan seseorang yang tidak saya kenal. “Oh, maafkan saya,” reaksi spontan saya. Ia juga berkata: “Maafkan saya juga.” Orang itu dan saya berlaku sangat sopan. Kami pun berpisah dan mengucapkan salam.

Namun cerita jadi lain, begitu sampai di rumah. Pada hari itu juga, saat saya sedang menelphone salah satu kolega terbaik saya, dengan bahasa sangat lembut dan santun untuk meraih simpati kolega saya itu, tiba2 anak lelaki saya berdiri diam-diam di belakang saya. Saat saya berbalik,
hampir saja membuatnya jatuh. "Minggir!!! Main sana, ganggu saja!!!" teriak saya dengan marah. Ia pun pergi dengan hati hancur dan merajuk.

Saat saya berbaring di tempat tidur malam itu, dengan halus, Tuhan berbisik, "Akan kusuruh malaikat menyabut nyawamu dan mengambil hidupmu sekarang, namun sebelumnya, aku akan izinkan kau melihat lorong waktu sesudah kematianmu. Sewaktu kamu berurusan dengan orang yang tidak kau kenal, etika kesopanan kamu gunakan. Tetapi dengan anak yang engkau kasihi, engkau perlakukan dengan sewenang-wenang, akan kuberi lihat setelah kematianmu hari ini, bagaimana keadaan atasanmu, kolegamu, sahabat dunia mayamu, serta keadaan keluargamu"
Lalu aku pun melihat, hari itu saat jenazahku masih diletakkan di ruang keluarga, hanya satu orang sahabat dunia mayaku yg datang, selebihnya hanya mendoakan lewat grup, bahkan jg ada yg tdk komentar apapun atas kepergianku, dan ada yg hanya menulis 3 huruf singkat, 'RIP'.
Lalu teman-temanku sekantor, hampir semua datang, sekejap melihat jenazahku, lalu mereka asik foto-foto dan mengobrol, bahkan ada yg asik membicarakan aibku sambil tersenyum-senyum. Bos yg aku hormati, hanya datang sebentar, melihat jenazahku dalam hitungan menit langsung pulang. Dan kolegaku, tidak ada satupun dari mereka yang aku lihat.
Lalu kulihat anak-anakku menangis dipangkuan istriku, yang kecil berusaha menggapai2 jenazahku meminta aku bangun, namun istriku menghalaunya. istriku pingsan berkali-kali, aku tidak pernah melihat dia sekacau itu. Lalu aku teringat betapa sering aku acuhkan panggilannya yg mengajakku mengobrol, aku selalu sibuk dengan hpku, dengan kolega2 dan teman2 dunia mayaku, lalu aku lihat anak2ku.. Sering kuhardik dan kubentak mereka saat aku sedang asik dengan ponselku, saat mereka ribut meminta ku temani. Oh Ya Allah.. Maafkan aku.

lalu aku melihat tujuh hari sejak kematianku, teman-teman sudah melupakanku, sampai detik ini aku tidak mendengar aku mendapatkan doa mereka untukku, perusahaan telah menggantiku dengan karyawan lain, teman-teman dunia maya masih sibuk dengan lelucon2 digrup, tanpa ada yg mbahasku ataupun bersedih terhadap ketiadaanku di grup mereka.
Namun, aku melihat istriku masih pucat dan menangis, airmatanya selalu menetes saat anak2ku bertanya dimana papah mereka? Aku melihat dia begitu lunglai dan pucat, kemana gairahmu istriku?
Oh Ya Allah Maafkan aku..

Hari ke 40 sejak aku tiada.
Teman FB ku lenyap secara drastis, semua memutuskan pertemanan denganku, seolah tidak ingin lagi melihat kenanganku semasa hidup, bosku, teman2 kerja, tdk ada satupun yang mengunjungiku kekuburan ataupun sekedar mengirimkan doa.
Lalu kulihat keluargaku, istriku sudah bisa tersenyum, tapi tatapannya masih kosong, anak2 masih ribut menanyakan kapan papahnya pulang, yang paling kecil yang paling kusayang, masih selalu menungguku dijendela, menantikan aku datang.

Lalu 15 tahun berlalu.
Kulihat istriku menyiapkan makanan untuk anak2ku, sudah mulai keliatan guratan tua dan lelah diwajahnya, dia tidak pernah lupa mengingatkan anak2 bahwa ini hari jumat, jangan lupa kekuburan papah, jangan lupa berdoa setiap sholat, lalu aku membaca tulisan disecarik kertas milik putriku malam itu, dia menulis.. "Seandainya saja aku punya papah, pasti tidak akan ada laki2 yang berani tidak sopan denganku, tidak akan aku lihat mamah sakit2an mencari nafkah seorang diri buat kami, oh Ya Allah.. Kenapa Kau ambil papahku, aku butuh papahku Ya Allah.." kertas itu basah, pasti karena airmatanya..
Ya Allah maafkanlah aku..

Sampai bertahun2 anak2 dan istriku pun masih terus mendoakanku setelah sholat, agar aku selalu berbahagia diakherat sana.

Lalu seketika,, aku terbangun.. Dan terjatuh dari dipan.. Oh Ya Allah Alhamdulillah.. Ternyata aku cuma bermimpi..

Pelan-pelan aku pergi ke kamar anakku dan berlutut di dekat tempat tidurnya, masih aku lihat airmata disudut matanya, kasihan sekali, terlalu kencang aku menghardik mereka..
“Anakku, papah sangat menyesal karena telah berlaku kasar padamu.“Si kecilku pun terbangun dan berkata, “Oh papah, tidak apa-apa. Aku tetap mencintaimu.”
“Anakku, aku mencintaimu juga. Aku benar-benar mencintaimu, maafkan aku anakku” Dan kupeluk anakku. Kuciumi pipi dan keningnya.
Lalu kulihat istriku tertidur, istriku yang sapaannya sering kuacuhkan, ajakannya bicara sering kali aku sengaja berpura2 tidak mendengarnya, bahkan pesan2 darinya sering aku anggap tak bermakna, maafkan aku istriku, maafkan aku.

Air mataku tak bisaku bendung lagi.
Apakah kita menyadari bahwa jika kita mati besok pagi, perusahaan di mana kita bekerja akan dengan mudahnya mencari pengganti kita dalam hitungan hari? Teman2 akan melupakan kita sebagai cerita yang sudah berakhir, beberapa masih menceritakan aib2 yang tidak sengaja kita lakukan. Teman2 dunia maya pun tak pernah membahas lagi seolah, aku tidak pernah mengisi hari2 mereka sebagai badut di grup.
Lalu aku rebahkan diri disamping istriku, ponselku masih terus bergetar, berpuluh puluh notifikasi masuk menyapaku, menggelitik untuk aku buka, tapi tidak.. tidak..

Aku matikan ponselku dan aku pejamkan mata, maaf.. Bukan kalian yang akan membawaku ke surga, bukan kalian yang akan menolongku dari api neraka, tapi ini dia.. Keluargaku..
keluarga yang jika kita tinggalkan akan merasakan kehilangan sekali

Pemuda Yang Baik menikah Dengan Pemudi Yang Baik

Pejuang Hanya Menikahi Pejuang
Najmuddin Ayyub (Gubernur Tikrit) belum menikah dalam waktu yang lama.
Saudaranya Asaduddin Syirokuh bertanya kepadanya: wahai saudaraku kenapa engkau belum menikah?

Najmuddin Ayyub: aku tidak mendapati wanita yang pantas bagiku.

Asaduddin : maukah aku lamarkan wanita untukmu?

Najmuddin: siapa?

Asaduddin: putri raja syah putri sultan muhammad bin malik syah sultan saljuki atau putri mentri raja.

Najmuddin: mereka gak cocok/pantas untukku.

Asaduddin: trus siapa yang cocok untukmu?

Najmuddin: sesungguhnya aku ingin istri sholihah yang menuntunku ke surga dan melahirkan untukku anak yang dia mendidiknya dengan bagus sampai dewasa dan menjadi penunggang kuda dan mengembalikan baitul maqdis (palestina) ke tangan muslimin.
Ini kesabaran Najmuddin.
Asaduddin tidak heran omongan saudaranya kemudian berkata: darimana engkau dapati wanita yang demikian?

Najmuddin menjawab: barangsiapa yang ikhlas niat karena Allah , Allah akan beri kepadanya.

maka disuatu hari Najmuddin duduk bersama syaikh di masjid di Tikrit berbincang bersamanya, maka datanglah wanita muda memanggil syaikh dari balik penutup, maka syaikh minta ijin kepada Najmuddin untuk berbicara kepada pemudi itu.

Najmuddin mendengar syaikh berbicara: kenapa engkau menolak pemuda yang aku kirim kerumahmu untuk melamarmu?

pemudi: wahai syaikh sebaik-baik pemuda adalah dia tadi yang tampan, punya kedudukan, akan tetapi tidak pantas untukku.

Syaikh: apa yang engkau inginkan?

Pemudi: wahai tuan Syaikh, aku ingin pemuda yang menuntunku ke surga dan melahirkan untukku anak yang menjadi penunggang kuda mengembalikan baitul maqdis (palestina) ke tangan muslimin.

Allahu Akbar kata-kata yang sama yang diucapkan Najmuddin kepada saudaranya asaduddin , menolak putri sultan dan putri mentri padahal punya kedudukan dan kecantikan.
Demikian pemudi ini menolak pemuda yang punya kedudukan dan tampan serta kaya.

Semua ini karena apa yang keduanya inginkan orang yang menuntun ke surga dan melahirkan penunggang kuda yang mengembalikan baitul maqdis ke tangan muslimin.

Maka berdirilah Najmuddin dan memanggil Syaikh , wahai Syaikh aku ingin menikahi pemudi itu.

Syaikh: pemudi ini miskin di kampung ini.

Najmuddin: pemudi ini yang aku inginkan.

Najmuddin Ayyub menikahi wanita ini yang muda dan wanita yang baik , dengan perbuatan yang ikhlas niatnya karena Allah , Allah anugerahkan kepadanya karena niatnya.

Maka wanita itu melahirkan untuk Najmuddin anak yang menjadi penunggang kuda yang mengembalikan baitul maqdis ke tangan muslimin, ketahuilah dia adalah SHOLAHUDDIN AL AYYUBI.

Inilah warisan kita dan ini yang wajib kita ajarkan kepada anak-anak kita.

14/04/2016

Pangeran Diponegoro

Kisah Pangeran Diponegoro


Untuk panjenengan yang pernah mondok, wabil khusus yang telah menjadi tokoh masyarakat
Para pejuang itu adalah seorang santri......!!!!!!
(Nukilan patriotik)
Santri pondok pesantren itu ampuh. Di tanah Jawa ini, yang paling ditakuti (penjajah) Belanda adalah santri dan tarekat (thariqah).
Ada seorang santri yang juga penganut thariqah, namanya Abdul Hamid. Ia lahir di Dusun Tegalrejo, Kecamatan Tegalrejo, Yogyakarta. Mondok pertama kali di Tegalsari, Jetis, Ponorogo kepada KH. Hasan Besari. Abdul Hamid ngaji kitab kuning kepada Kyai Taftazani Kertosuro.
Ngaji Tafsir Jalalain kepada KH. Baidlowi Bagelen yang dikebumikan di Glodegan, Bantul, Jogjakarta. Terakhir Abdul Hamid ngaji ilmu hikmah kepada KH. Nur Muhammad Ngadiwongso, Salaman, Magelang.
Di daerah eks-Karesidenan Kedu (Temanggung, Magelang, Wonosobo, Purworejo, Kebumen), nama KH. Nur Muhammad yang masyhur ada dua, yang satu KH. Nur Muhammad Ngadiwongso, Salaman, Magelang dan satunya lagi KH. Nur Muhammad Alang-alang Ombo, Pituruh, yang banyak menurunkan kyai di Purworejo.
Abdul Hamid sangat berani dalam berperang melawan penjajah Belanda selama 5 tahun, 1825-1830 M.
Abdul Hamid wafat dan dikebumikan di Makassar, dekat Pantai Losari. Abdul Hamid adalah putra Sultan Hamengkubuwono ke-III dari istri Pacitan, Jawa Timur.
Abdul Hamid patungnya memakai jubah dipasang di Alun-alun kota Magelang. Menjadi nama Kodam dan Universitas di Jawa Tengah. Terkenal dengan nama Pangeran Diponegoro.
Belanda resah menghadapi perang Diponegoro. Dalam kurun 5 tahun itu, uang kas Hindia Belanda habis, bahkan punya banyak hutang luar negeri.
Nama aslinya Abdul Hamid. Nama populernya Diponegoro.
Adapun nama lengkapnya adalah Kyai Haji (KH) Bendoro Raden Mas Abdul Hamid Ontowiryo Mustahar Herucokro Senopati Ing Alogo Sayyidin Pranotogomo Amirul Mu’minin Khalifatullah Tanah Jawi Pangeran Diponegoro Pahlawan Goa Selarong.
Maka jika Anda pergi ke Magelang dan melihat kamar Diponegoro di eks-Karesidenan Kedu, istilah sekarang di Bakorwil, ada 3 peningalan Diponegoro: al-Quran, tasbeh dan Taqrib (kitab Fath al-Qarib).
Kenapa al-Quran? Diponegoro adalah seorang Muslim. Kenapa tasbih? Diponegoro seorang ahli dzikir, dan bahkan penganut thariqah.
Habib Luthfi bin Ali bin Yahya Pekalongan mengatakan bahwa Diponegoro seorang mursyid Thariqah Qadiriyyah. Selanjutnya yang ketiga, Taqrib matan Abu Syuja’, yaitu kitab kuning yang dipakai di pesantren bermadzhab Syafi'i.
Jadi Pangeran Diponegoro bermadzhab Syafi’i. Maka, karena bermadhab Syafi’i, Diponegoro shalat Tarawih 20 rakaat, shalat Shubuh memakai doa Qunut, Jum’atan adzan dua kali, termasuk shalat Ied-nya di Masjid, bukan di Tegalan (lapangan).
Saya sangat menghormati dan menghargai orang yang berbeda madzhab dan pendapat. Akan tetapi, tolong, sejarah sampaikan apa adanya.
Jangan ditutup-tutupi bahwa Pangeran Diponegoro bermadzhab Syafi’i. Maka 3 tinggalan Pangeran Diponegoro ini tercermin dalam pondok-pondok pesantren.
Dulu ada tokoh pendidikan nasional bernama Douwes Dekker. Siapa itu Douwes Dekker? Danudirja Setiabudi.
Mereka yang belajar sejarah, semuanya kenal. (Leluhur) Douwes Dekker itu seorang Belanda yang dikirim ke Indonesia untuk merusak bangsa kita.
Namun ketika Douwes Dekker berhubungan dengan para kyai dan santri, mindset-nya berubah, yang semula ingin merusak kita justeru bergabung dengan pergerakan bangsa kita.
Bahkan kadang-kadang Douwes Dekker, semangat kebangsaannya melebihi bangsa kita sendiri.
Douwes Dekker pernah berkata dalam bukunya:
“Kalau tidak ada kyai dan pondok pesantren, maka patriotisme bangsa Indonesia sudah hancur berantakan.”
Siapa yang berbicara? Douwes Dekker, orang yang belum pernah nyantri di pondok pesantren.
Seumpanya yang berbicara saya, pasti ada yang berkomentar: "Hanya biar pondok pesantren laku."
Tapi kalau yang berbicara orang “luar”, ini temuan apa adanya, tidak dibuat-buat. Maka, kembalilah ke pesantren.
Ki Hajar Dewantara (Suwardi Suryaningrat) itu adalah santri.
Tidak hanya Diponegoro anak bangsa yang dididik para ulama menjadi tokoh bangsa.
Diantaranya, di Jogjakarta ada seorang kyai bernama Romo Kyai Sulaiman Zainudin di Kalasan Prambanan.
Punya santri banyak, salah satunya bernama Suwardi Suryaningrat.
Suwardi Suryaningrat ini kemudian oleh pemerintah diangkat menjadi Bapak Pendidikan Nasional yang terkenal dengan nama Ki Hajar Dewantara.
Jadi, Ki Hajar Dewantara itu santri, ngaji, murid seorang kyai.
Sayangnya, sejarah Ki Hajar mengaji al-Quran tidak pernah diterangkan di sekolah-sekolah, yang diterangkan hanya Ing Ngarso Sun Tulodo,
Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Itu sudah baik, namun belum komplit. Belum utuh.
Maka nantinya, untuk rekan-rekan guru, mohon diterangkan bahwa Ki Hajar Dewantara selain punya ajaran Tut Wuri Handayani, juga punya ajaran al-Quran al-Karim.
Sayyid Husein al-Mutahhar adalah cucu nabi yang patriotis.
Malah-malah, ketika Indonesia merdeka, ada sayyid warga Kauman Semarang yang mengajak bangsa kita untuk bersyukur.
Sang Sayyid tersebut menyusun lagu Syukur. Dalam pelajaran Sekolah Dasar disebutkan Habib Husein al-Mutahar yang menciptakan lagu Syukur.
Beliau adalah Pakdenya Habib Umar Muthahar SH Semarang. Jadi, yang menciptakan lagu Syukur yang kita semua hafal adalah seorang sayyid, cucu baginda Nabi Saw. Mari kita nyanyikan bersama-sama:
Dari yakinku teguh
Hati ikhlasku penuh
Akan karuniaMu
Tanah air pusaka
Indonesia merdeka
Syukur aku sembahkan
Ke hadiratMu tuhan.
Itu yang menyusun cucu Nabi, Sayyid Husein Muthahar, warga Kauman Semarang. Akhirnya oleh pemerintah waktu itu diangkat menjadi Dirjen Pemuda dan Olahraga.
Terakhir oleh pemerintah dipercaya menjadi Duta Besar di Vatikan, negara yang berpenduduk Katholik.
Di Vatikan, Habib Husein tidak larut dengan kondisi, malah justeru membangun masjid. Hebat.
Malah-malah, Habib Husein Muthahar menyusun lagu yang hampir se-Indonesia hafal semua.
Suatu ketika Habib Husein Muthahar sedang duduk, lalu mendengar adzan shalat Dzuhur.
Sampai pada kalimat hayya 'alasshalâh, terngiang suara adzan. Sampai sehabis shalat berjamaah, masih juga terngiang.
Akhirnya hatinya terdorong untuk membuat lagu yang cengkoknya mirip adzan, ada “S”nya, “A”nya, “H”nya. Kemudian pena berjalan, tertulislah:
17 Agustus tahun 45
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka Nusa dan Bangsa
Hari lahirnya Bangsa Indonesia
Merdeka
Sekali merdeka tertap merdeka
Selama hayat masih dikandung badan
Kita tetap setia, tetap setia
Mempertahankan Indonesia
Kita tetap setia, tetap setia
Membela Negara kita.
Maka peran para kyai dan para sayyid tidak sedikit dalam pembinaan patriotisme bangsa.
Jadi, Anda jangan ragu jika hendak mengirim anak-anaknya ke pondok pesantren.
Malahan, Bung Karno, ketika mau membaca teks proklamasi di Pegangsaan Timur Jakarta, minta didampingi putra kyai.
Tampillah putra seorang kyai, dari kampung Batuampar, Mayakumbung, Sumatera Barat. Siapa beliau?
H. Mohammad Hatta putra seorang kyai. Bung Hatta adalah putra Ustadz Kiai Haji Jamil, Guru Thariqah Naqsyabandiyyah Kholidiyyah.
Sayang, sejarah Bung Hatta adalah putra kyai dan putra penganut thariqah tidak pernah dijelaskan di sekolah, yang diterangkan hanya Bapak Koperasi.
Mulai sekarang, mari kita terangkan sejarah dengan utuh. Jangan sekali-kali memotong sejarah.
Jika Anda memotong sejarah, suatu saat, sejarah Anda akan dipotong oleh  Allah Swt.
Akhirnya, Bung Hatta menjadi wakil presiden pertama.
Pesan Penting Bagi Santri, Belajar dari Mbah Mahrus Aly.
Maka, jangan berkecil hati mengirim putra-putri Anda di pondok-pesantren.
Santri-santri An-Nawawi di tempat saya, saya nasehati begini:
“Kamu mondok di sini nggak usah berpikir macam-macam, yang penting ngaji dan sekolah. Tak usah berpikir besok jadi apa, yang akan menjadikan Gusti Allah."
Ketika saya dulu nyantri di Lirboyo, tak berpikir mau jadi apa, yang penting ngaji, nderes (baca al-Quran), menghafalkan nadzaman kitab dan shalat jamaah.
Ternyata saya juga jadi manusia, malahan bisa melenggang ke gedung MPR di Senayan.
Tidak usah dipikir, yang menjadikan Gusti Allah.
Tugas kita ialah melaksanakan kewajiban dari Allah Swt. Allah mewajibkan kita untuk menuntut ilmu, kita menuntut ilmu.
Jika kewajiban dari Allah sudah dilaksanakan, maka Allah yang akan menata. Jika Allah yang menata sudah pasti sip, begitu saja. Jika yang menata kita, belum tentu sip.
Perlu putra-putri Anda dalam menuntut ilmu, berpisah dengan orangtua.
KH. Mahrus Aly Lirboyo pernah dawuh:
“Nek ngaji kok nempel wongtuo, ora temu-temuo.”
(Jika mengaji masih bersama dengan orangtua, tidak akan cepat dewasa).
Maka masukkanlah ke pesantren, biar cepat dewasa pikirannya.
Itu yang ngendiko (berkata) Kyai Mahrus Ali.

HTI Bukan NU, Wahabi bukan Aswaja Annahdhiyyah

ngomong  HTI gak enek entek,eh....
Bolak-balik wes dikandani ojo sampek lali sejarah,mundak keblinger....HTI kon
ngoco disek neng  sejarah....

Jare sopo NU dan HTI iku podo....
Dimana letak kesamannya.....?

Rasa2nya selain sama-samanya Islamnya tidak ada itu unsur yg mendekatkan kesamaannya,nek didilok,
Dalam ideologi politik misal; NU sejak detik2 awal Indonesia berdiri telah menyetujui jika tujuh kata dalam ayat 1 Pancasila (yg kemudian dikenal sbg Piagam Jakarta)  itu dihapus utk mengakomodasi keinginan masyarakat Indonesia Timur karena jika tidak dihapus mereka akan melepaskan diri dari Indonesia.
Sedang Hizbut Tahrir baru resmi masuk Indonesia tahun 1979 (itu belum lagi tahun berdirinya Hizbut Tahrir yg pakai Indonesia/HTI), artinya jangankan mengetahui sisi psikologis masyarakat Indonesia yg beragam saat membahas bentuk dan dasar negara, berusaha membaca utk memahami sejarah Indonesia yg kemerdekaannya diperjuangkan bukan hanya oleh umat Islam itu saja pastilah mereka tidak sempat oleh kesibukan mereka dalam menuntut 'Tegakkan Syariah dan Khilafah Islamiyah"!
yang aneh lagi mengapa Hizbut Tahrir yg dinegara asalnya yaitu Palestina dan umumnya Timur Tengah itu ditolak  kok diterima di Indonesia malah disama-samakan dengan NU.
kita kembalikan kesejarah,
Kontribusinya apa saja terkait indonesia,apa mereka berkorban utk kemerdekaan.....?
Jare cak lutfi
Bener-bener kurang piknik+gak tau dunia dugem(dug-dug merem-merem)
(By: Aman Wae)

Siapa Kaya Siapa Miskin

SIAPA KAYA SIAPA MISKIN...????

Suatu ketika seorang ayah dari keluarga kaya raya, bermaksud memberi pelajaran,
bagaimana kehidupan orang miskin pada anaknya.

Mereka menginap beberapa hari di rumah keluarga petani yang miskin, di sebuah dusun di tepi hutan...

Dalam perjalanan pulang sang ayah bertanya pada anaknya...!!
Ayah : "Bagaimana perjalanan kita...?"
Anak : "Oh sangat menarik ayah..."
Ayah : "Kamu melihat bagaimana orang miskin hidup...?"
Anak : "Ya ayah...."
Ayah : "Jadi, apa yang dapat kamu pelajari dari perjalanan kita ini..?"
Anak : "Yang saya pelajari....,
kita memiliki satu anjing untuk menjaga rumah kita, mereka punya empat anjing untuk berburu.
Kita punya kolam renang kecil di taman, mereka punya sungai yang tiada batas…
Kita punya lampu untuk menerangi taman kita, mereka punya bintang yang bersinar di malam hari...
Kita memiliki lahan yang kecil untuk hidup, mereka hidup bersama alam...
Kita punya pembantu untuk melayani kita, tapi mereka hidup untuk melayani orang lain...
Kita punya pagar yang tinggi untuk melindungi kita, mereka punya banyak teman yang saling melindungi..."

.....Sang ayah tercengang diam mendengar jawaban anaknya...

Lalu sang anak melanjutkan...: "Terima kasih ayah, karena ayah telah menunjukkan betapa miskinnya kita..."

Bukankah ini suatu sudut pandang yang menakjubkan...?

Bersyukurlah dengan apa yang telah kita miliki dan jangan pernah risau dengan apa yang tidak kita miliki~

Gus Mus Dan Wajah Keislamannya

GUS MUS & WAJAH ISLAM

Gus Mus tidak pernah berbicara "kami umat Islam..." seakan beliau mewakili seluruh umat Islam.

Gus Mus sendiri takut apakah benar beliau muslim ? Sebab muslim artinya manusia yang secara total berserah diri kepada Tuhan, dan berserah diri mempunyai makna yg sangat dalam. Ketika seseorang berserah diri, maka ia mengemban sifat2 tuhan dalam dirinya yang berinti pada menjadikan diri berfungsi kepada manusia lain.

"Benarkah aku sudah berserah diri ? Bukankah aku masih terbungkus keinginan duniawi ? Siapakah aku mengaku2 bahwa aku seorang muslim ?"

Begitulah ciri2 manusia yang mempunyai ilmu pengetahuan, memfungsikan akal dan melemahkan nafsunya. Bukan meng-klaim, karena iblis paling handal kalau masalah mengklaim dirinya paling taat, paling hebat, paling dekat kepada Tuhan.

Tidak perlu berjenggot lebat hanya supaya mengikuti Nabi-nya, karena memang bukan budaya tempat kelahirannya. Mengikuti bersifat tauladan dan tauladan ada di sikap bukan lambang.

Tidak mudah mencari manusia seperti Gus Mus di dalam Islam, tapi sejatinya mereka banyak hanya tidak tampak. Mereka terselip diantara tembok-tembok kemunafikan menjadi penyeimbang. Mereka tidak ingin mencari kejayaan, karena sejatinya kejayaan hanya pengakuan dari manusia dan manusia adalah tempatnya fitnah. Merekalah yang menjaga negara ini supaya tetap tentram, sejuk dan selalu toleran.

Jangan pernah lagi melihat wajah Islam dari ISIS, karena ISIS hanyalah setan yg di-propagandakan. Jangan melihat Isllam dari FPI, karena Islam tidak pernah memegang pentungan. Lihatlah wajah Islam dari Gus Mus, karena sejatinya begitulah para wali bergerak, berbicara dan bersikap.

Melihat Gus Mus di mata Najwa kemarin malam, saya tersenyum. Setidaknya ada wakil yang menampakkan sesungguhnya bagaimana ketika beragama itu dengan berakal.

Sayang Gus Mus sudah berhenti merokok, mungkin saya juga akan seperti beliau jika sudah setua beliau. Tetapi saya yakin, beliau masih tetap setia dengan secangkir kopinya.

Karena kopi bukan hanya secangkir minuman. Ia adalah filosofi hidup yang dalam dimana rasa pahit dan manis disatukan dan yang abadi adalah kenikmatan.

Selamat ngopi, Gus Mus...