24/04/2016

Waspadai Kaum Munafik

MEWASPADAI GENERASI     
ABDURROHMAN BIN MULJAM

Ali bin ABi Thalib K.W gugur sebagai syahid pada waktu subuh tanggal 7 Ramadhan akibat tebasan pedang salah seorang anggota sekte Khawarij yang bernama Abdurrahman bin Muljam Al Murodi. Uniknya sang pembunuh ini melakukan aksinya sambil berkata,
“Hukum itu milik Allah, wahai Ali. Bukan milikmu dan para sahabatmu.”
Tidak berhenti sampai di situ, saat melakukan aksi bejadnya ini Ibnu Muljam juga tidak berhenti mulutnya mengulang-ulang ayat 207 surat Al Baqarah yang artinya,
“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”
Tatkala khalifah Ali bin ABi Thalib akhirnya gugur, Ibnu Muljam pun dieksekusi mati dengan cara diqishas. Proses qishasnya pun bisa membuat kita tercengang karena saat tubuhnya telah diikat untuk dipenggal kepalanya, ia masih sempat berpesan kepada algojo yang mendapat tugas melakukan eksekusi,
“Jangan penggal kepalaku sekaligus. Tapi potonglah anggota tubuhku sedikit demi sedikit hingga aku bisa menyaksikan anggota tubuhku disiksa di jalan Allah.”
Demikianlah keyakinan Ibnu Muljam yang berpendapat bahwa membunuh Ali bin Abi Thalib yang nota bene salah satu sahabat yang dijamin masuk surga, menantu (suami Sayyidah Fathimah) dan saudara sepupu Rasulullah dan ayah dari Hasan dan Husein, dua pemimpin pemuda ahli surga, sebagai tindakan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Aksi yang dilakukan oleh Ibnu Muljam ini adalah realitas pahit yang kita lihat pada kehidupan ummat Islam sekarang dimana diantara para pemuda kita terdapat kelompok yang giat melakukan provokasi untuk membunuh kaum muslimin yang tidak berdosa. Kelompok ini menggunakan intimidasi dan aksi kekerasan sebagai strategi perjuangan mereka. Merekalah yang pada raut wajahnya memancarkan hidayah dan mereka juga senantiasa membaca Al Qur’an di waktu siang dan malam. Namun sesungguhnya mereka adalah kelompok yang merugi sebab karakteristik mereka tepat sebagaimana sinyalemen yang disampaikan Rasulullah dalam sebuah hadits yang artinya,
“Akan ada para lelaki yang membaca Al Qur’an tanpa melampaui tulang selangka mereka. Mereka telah keluar dari agama laksana keluarnya anak panah dari busur.”
Kebodohan mengakibatkan mereka merasa berjuang membela kepentingan agama Islam padahal hakikatnya mereka sedang memerangi Islam dan kaum muslimin.
Ibnu Muljam sejatinya adalah figur lelaki yang shalih, zahid dan bertaqwa. Bukan lelaki bengal yang buta sama sekali terhadap ilmu agama. Di wajahnya terlihat dengan nyata jejak sujud. Ia juga hapal Al Qur’an dan sekaligus sebagai guru yang berusaha mendorong orang lain untuk menghapalkannya. ‘Umar bin Khatthab pernah menugaskannya ke Mesir demi mengabulkan permohonan ‘Amr bin ‘Ash yang memohon kepada beliau untuk mengirim ke Mesir figur yang hafal Al Qur’an untuk mengajarkannya kepada penduduk Mesir. Tatkala ‘Amr bin ‘Ash meminta,
“Wahai amirulmukminin, kirimkanlah kepadaku lelaki yang hafal Al Qur’an untuk mengajari penduduk Mesir, “
‘Umar menjawab, “Saya mengirimkan untukmu seorang lelaki bernama Abdurrahman bin Muljam, salah seorang ahli Al Qur’an yang aku prioritaskan untukmu dari pada untuk diriku sendiri. Jika ia telah datang kepadamu maka siapkan rumah untuknya untuk mengajarkan Al Qur’an kepada kaum muslimin dan muliakanlah ia...!.”
Meskipun Ibnu Muljam hafal Al Qur’an, bertaqwa dan rajin beribadah namun semua itu tidak bermanfaat baginya. Ia mati dalam kondisi su’ul khatimah, tidak membawa iman dan Islam akibat kedangkalan ilmu agama yang dimilikinya dan berafiliasi dengan sekte Khawarij yang telah meracuni para pemuda muslim sehingga melakukan aksi-aksi yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur agama Islam namun justru mengklaim semua itu dalam rangka membela ajaran Allah dan Rasulullah.
Bercermin dari figur Ibnu Muljam tentu kita tidak perlu merasa aneh jika sekarang muncul kelompok-kelompok ekstrim yang mudah memvonis kafir terhadap sesama muslim yang berbeda pandangan melakukan tindakan yang sama persis dilakukan oleh Ibnu Muljam. Mereka mengklaim berjuang menegakkan agama Allah namun faktanya justru menebar ketakutan kepada ummat Islam dan menciptakan konflik internal berdarah-darah yang membuat mustahil membangun persatuan sesama kaum muslimin.
Oleh karena itu menjadi tugas bersama para ulama dan umaro’ untuk membentengi kaum muslimin di Indonesia dari ide-ide keagamaan destruktif yang dikembangkan oleh generasi pewaris Abdurrahman bin Muljam dan untuk berusaha keras menghalangi siapapun yang ingin menjadikan Indonesia sebagai ladang subur bagi tumbuhnya kelompok -
kelompok khawarij modern yang militan namun miskin ilmu.
Wallahu A’lam.

Ngopi Disik Tipis Tipis


"KABAR GEMBIRA BAGI PENCINTA KOPI, DAN BAGI YANG TIDAK SUKA JANGAN BERLEBIHAN DALAM MENGINGKARINYA, SEBAB BAU KOPI MENARIK MALAIKAT UNTUK MEMINTAKAN AMPUNAN BAGI PEMINUM KOPI SERTA TEMPAT YANG BERBAU KOPI TIDAK DISUKAI PARA JIN"

Suatu ketika as-Sayyid Ahmad bin Ali Bahr al-Qadimi jumpa dengan Nabi Muhammad Saw. dalam keadaan terjaga. Ia berkata kepada Nabi Saw.: “Wahai Rasulullah, aku ingin mendengar hadits darimu tanpa perantara.”

Nabi Muhammad Saw. kemudian bersabda: “Aku akan memberimu 3 hadits ;

1. Selama bau biji kopi ini masih tercium aromanya di mulut seseorang, maka selama itu pula malaikat akan beristighfar (memintakan ampun) untukmu.

2. Barangsiapa yang menyimpan tasbih untuk digunakan berdzikir maka Allah akan mencatatnya sebagai orang yang banyak berdzikir, baik ia gunakan tasbihnya atau tidak.

3. Barangsiapa yang duduk bersama waliyullah yang hidup atau yang sudah wafat maka pahalanya sama saja dengan ia menyembah Allah di seluruh penjuru bumi.”

Al-Habib Abubakar bin Abdullah al-Atthas berkata: “Sesungguhnya tempat yang ditinggalkan dalam keadaan sepi atau kosong maka jin akan menempatinya. Sedangkan tempat yang biasa digunakan untuk membuat hidangan kopi maka para jin takkan bisa menempati dan mendekatinya.”

(Lihat dalam kitab Tadzir an-Nas halaman 177 dan at-Tadzkir al-Mushthafa li Aulad al-Musthafa wa Ghairahum min Man Ijtbahu Allahu Washthafa karya al-Habib Abubakar al-Atthas bin Abdullah bin Alwi bin Zain al-Habsyi halaman 117)

Hukum itu Milik Allah

MEWASPADAI GENERASI     
ABDURROHMAN BIN MULJAM

Ali bin ABi Thalib K.W gugur sebagai syahid pada waktu subuh tanggal 7 Ramadhan akibat tebasan pedang salah seorang anggota sekte Khawarij yang bernama Abdurrahman bin Muljam Al Murodi. Uniknya sang pembunuh ini melakukan aksinya sambil berkata,
“Hukum itu milik Allah, wahai Ali. Bukan milikmu dan para sahabatmu.”
Tidak berhenti sampai di situ, saat melakukan aksi bejadnya ini Ibnu Muljam juga tidak berhenti mulutnya mengulang-ulang ayat 207 surat Al Baqarah yang artinya,
“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”
Tatkala khalifah Ali bin ABi Thalib akhirnya gugur, Ibnu Muljam pun dieksekusi mati dengan cara diqishas. Proses qishasnya pun bisa membuat kita tercengang karena saat tubuhnya telah diikat untuk dipenggal kepalanya, ia masih sempat berpesan kepada algojo yang mendapat tugas melakukan eksekusi,
“Jangan penggal kepalaku sekaligus. Tapi potonglah anggota tubuhku sedikit demi sedikit hingga aku bisa menyaksikan anggota tubuhku disiksa di jalan Allah.”
Demikianlah keyakinan Ibnu Muljam yang berpendapat bahwa membunuh Ali bin Abi Thalib yang nota bene salah satu sahabat yang dijamin masuk surga, menantu (suami Sayyidah Fathimah) dan saudara sepupu Rasulullah dan ayah dari Hasan dan Husein, dua pemimpin pemuda ahli surga, sebagai tindakan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Aksi yang dilakukan oleh Ibnu Muljam ini adalah realitas pahit yang kita lihat pada kehidupan ummat Islam sekarang dimana diantara para pemuda kita terdapat kelompok yang giat melakukan provokasi untuk membunuh kaum muslimin yang tidak berdosa. Kelompok ini menggunakan intimidasi dan aksi kekerasan sebagai strategi perjuangan mereka. Merekalah yang pada raut wajahnya memancarkan hidayah dan mereka juga senantiasa membaca Al Qur’an di waktu siang dan malam. Namun sesungguhnya mereka adalah kelompok yang merugi sebab karakteristik mereka tepat sebagaimana sinyalemen yang disampaikan Rasulullah dalam sebuah hadits yang artinya,
“Akan ada para lelaki yang membaca Al Qur’an tanpa melampaui tulang selangka mereka. Mereka telah keluar dari agama laksana keluarnya anak panah dari busur.”
Kebodohan mengakibatkan mereka merasa berjuang membela kepentingan agama Islam padahal hakikatnya mereka sedang memerangi Islam dan kaum muslimin.
Ibnu Muljam sejatinya adalah figur lelaki yang shalih, zahid dan bertaqwa. Bukan lelaki bengal yang buta sama sekali terhadap ilmu agama. Di wajahnya terlihat dengan nyata jejak sujud. Ia juga hapal Al Qur’an dan sekaligus sebagai guru yang berusaha mendorong orang lain untuk menghapalkannya. ‘Umar bin Khatthab pernah menugaskannya ke Mesir demi mengabulkan permohonan ‘Amr bin ‘Ash yang memohon kepada beliau untuk mengirim ke Mesir figur yang hafal Al Qur’an untuk mengajarkannya kepada penduduk Mesir. Tatkala ‘Amr bin ‘Ash meminta,
“Wahai amirulmukminin, kirimkanlah kepadaku lelaki yang hafal Al Qur’an untuk mengajari penduduk Mesir, “
‘Umar menjawab, “Saya mengirimkan untukmu seorang lelaki bernama Abdurrahman bin Muljam, salah seorang ahli Al Qur’an yang aku prioritaskan untukmu dari pada untuk diriku sendiri. Jika ia telah datang kepadamu maka siapkan rumah untuknya untuk mengajarkan Al Qur’an kepada kaum muslimin dan muliakanlah ia...!.”
Meskipun Ibnu Muljam hafal Al Qur’an, bertaqwa dan rajin beribadah namun semua itu tidak bermanfaat baginya. Ia mati dalam kondisi su’ul khatimah, tidak membawa iman dan Islam akibat kedangkalan ilmu agama yang dimilikinya dan berafiliasi dengan sekte Khawarij yang telah meracuni para pemuda muslim sehingga melakukan aksi-aksi yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur agama Islam namun justru mengklaim semua itu dalam rangka membela ajaran Allah dan Rasulullah.
Bercermin dari figur Ibnu Muljam tentu kita tidak perlu merasa aneh jika sekarang muncul kelompok-kelompok ekstrim yang mudah memvonis kafir terhadap sesama muslim yang berbeda pandangan melakukan tindakan yang sama persis dilakukan oleh Ibnu Muljam. Mereka mengklaim berjuang menegakkan agama Allah namun faktanya justru menebar ketakutan kepada ummat Islam dan menciptakan konflik internal berdarah-darah yang membuat mustahil membangun persatuan sesama kaum muslimin.
Oleh karena itu menjadi tugas bersama para ulama dan umaro’ untuk membentengi kaum muslimin di Indonesia dari ide-ide keagamaan destruktif yang dikembangkan oleh generasi pewaris Abdurrahman bin Muljam dan untuk berusaha keras menghalangi siapapun yang ingin menjadikan Indonesia sebagai ladang subur bagi tumbuhnya kelompok -
kelompok khawarij modern yang militan namun miskin ilmu.
Wallahu A’lam.

Video DIKLATSUS BANSER HUSADA

Video DIKLATSUS BANSER HUSADA
Video Diklatsus Banser Husada

Seseorang terjatuh akibat keteledorannya tidak melihat adanya tanda belok pada sign pengendara sepeda motor, kebetulan saat ituterdapat Anggota Banser yang bertugas, Banser Husada segera memanggil bantuan Mobil Ambulance milik Banser Husada Satkoorcab Banser Jombang.
selama menunggu bantuan datang, Banser Husada memberikan pertolongan pertama gawat darurat, dalam penanagannya diketahui bahwa semua detak jantung, tekanan darah normal, terjadi patah tulang paha keluar, pemberian bantuan segera dilaksanakan dengan prosedur PPGD Banser Husada.
Ambulan datang dan korban segera dibawa ke rumah sakit guna mendapatkan penanganan lebih lanjut.

23/04/2016

SAQAR

SAQAR

Saat ngaji di Masjid Karang Pon Desa Alang-Alang Caruban Kecamatan Jogoroto, Sabtu (16/4/2016), KH Nur Habibillah cerita isro mikroj Nabi Muhammad SAW.
 
Ketika berhadapan dengan Allah, Nabi sujud tidak bangun-bangun. ’’Akhirnya, Allah menyuruh bangun  dan mengucapkan assalamu alaika ayyuhan nabiyyu warahmatullahi wabarakatuh.’’(keselamatan, rahmad dan barakoh tercurah untukmu wahai Nabi.
 
Nabi kemudian menjawab. Assalamu alaina wa ala ibadillahissolihin. Keselamatan untuk kami dan hamba-hamba yang soleh.
 
Sampai akhirnya, Allah memberi perintah agar umat manusia melaksanakan shalat lima waktu. ’’Itu berarti, kalau kita ingin selamat, dan dapat rahmat serta barokah dari Allah, harus mau shalat,’’ paparnya.
 
Shalat lima waktu, kata Gus Nur Habibillah, masing-masing punya manfaat. Dan punya mudlarat jika ditinggalkan. ’’Orang yang meninggalkan shalat subuh, maka dia tidak akan memiliki keceriaan wajah.’’
Orang yang meninggalkan shalat Dhuhur, akan kehilangan keberkahan rezeki.

Orang yang meninggalkan shalat Asar, akan kehilangan kekuatan fisik.
Orang yang meninggalkan shalat Magrib tidak akan bisa mengambil buahnya punya keturunan.
Orang yang meninggalkan shalat Isya, tidak akan beristirahat dengan tenang.
 
’’Shalat itu, akan lebih enteng kalau mau jamaah. Makanya ayo masjide diiseni. Wis mari dibangun. Mari diresmikno. Engko ndang dimbarno kosong,’’ ulasnya.
 
Gus Nur Habibillah meminta, kalau ada anak kecil ikut shalat, atau menghabiskan waktu di masjid, jangan mudah dimarahi. ’’Jamaah sing apik iku lek jumlahe arek enom luwih akeh tinimbang sing tuwek. Mergo arek cilik iku masa depane sing ngiseni masjid.

 Jamaah selawe. Arek enome 20. Wong tuweke 5. Mati lima kari, 20. Tapi lek arek enome 5, wong tuweke 20, mati 20 kari 5,’’  bebernya.
 
Orang yang tidak mau shalat, kata Gus Nur Habibillah, akan manggon neraka khusus. Namanya neraka saqor.
 
"Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqor (neraka)?"

Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin. Dan kami membicarakan hal-hal yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya. Dan kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian". (QS. Al-Mudassir 42-47)
 
Zaman Nabi, kata Gus Nur Habibillah, ada orang mati yang disholati, ternyata di kepalanya ada ular. Ular itu mau dipukul, tapi dilarang oleh Nabi.

’’Saat ditanya Nabi, ular itu bilang, dia hanya hendak menggigit mayit tersebut sampai kiamat. Karena mayit tersebut saat hidupnya tidak pernah shalat,’’ paparnya

DIKLATSUS BANSER HUSADA JOMBANG

BANSER Husada SATKOORCAB Jombang
Banser Husada

Satuan Koordinasi Cabang (Satkorcab) Barisan Ansor Serba Guna Jombang, Jawa Timur kini memiliki satu pasukan khusus di bidang kesehatan, Banser Husada. Unit Banser ini diharapkan bisa membantu masyarakat dalam bidang kesehatan.
"Sebagai pasukan, Banser harus siap membantu masyarakat, salah satunya di bidang kesehatan, saat ini kitaterus menggembleng mereka dalam berbagai pelatihan kesehatan," ujar Subandi Mashuda Komandan Satkorcab Banser Jombang, Ahad (17/4) disela pelatihan yang digelar di Stikes An-Najiah Bahrul Ulum Tambakberas Jombang.
Pelatihan, lanjut Subandi, akan digelar setiap sepekan sekali. Alasannya untuk mempermudah pasukan memahami materi yang diberikan. Pelatihan bekerja sama dengan Stikes An-Najiah Bahrul Ulum Tambakberas Jombang. "Instruktur dari Tim Kesehatan Stikes, karena pasukan butuh pemahaman dan praktik secara langsung di lapangan. Maka akan dilakukan selama 4 kali pertemuan tiap pekan sehingga semakin paham," imbuhnya.

Dikatakan Subandi, ke depan sebagai pasukan, Banser harus lebih siap menjadi penolong masyarakat. Kalau sekarang kita sudah punya Banser Bagana (Banser Tanggap Bencana, Balantas (Banser lalu Lintas) dan sekarang menyiapkan Banser Husada (Unit Banser bidang kesehatan). "Karena kita sering berada dilapangan, seperti bagaimana menolong orang kecelakaan, bagaimana kalau ada orang pingsan dikeramaian, ini yang juga diberikan kepada pasukan," imbuh Subandi menjelaskan.
Dalam pelatihan tersebut, disamping materi PPDG, Banser Husada juga mendapatkan pelatihan simulasi menangani orang kecelakaan di jalan. Mereka terlihat sigap memberikan pertolongan lengkap dengan ambulans dan membawa ke rumah sakit atau Puskesmas setempat.

Sementara itu, Ketua PC GP Ansor Jombang, Zulfikar Dawam Ikhwanto berharap pasukan Banser Husada ini bisa memberikan manfaat kepada masyarakat. "Kita terus berupaya mengabdi untuk ulama dan masyarakat, salah satunya adalah membentuk Banser Husada ini. Ini mungkin yang pertama organisasi kepemudaan yang memiliki unit pasukan bidang kesehatan," tandasnya. (M.Fathoni)

20/04/2016

Hapuskan Dengkimu, Jangan Jadi Muslim Yang Fasik

SYAREAT DAN HAKIKAT HARUS BERJALAN BERIRINGAN
[ Ini bantahan KH Nawawi Sidogiri pada pengaku hakikat tapi tidak shalat]

Selepas ashar tadi, beberapa tamu sowan ke 'dalem' Hadratussaikh KH Nawawi Abd Jalil,pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri,Pasuruan, Jawa Timur. Ditengah dialog kiai dengan salah satu tamunya, sampailah pada pembahasan tentang orang-orang yang mengaku mengamalkan hakikat tapi tidak melaksanakan shalat. kiai sempat miris jika ada masyarakat yang terjangkit cara pandang semacam ini, terlebih jika orang itu adalah alumni pondok pesantren Sidogiri.

" mereka itu berdalil  ' Aqim Ashhalata Lizikri' , sehingga menurut mereka kalau udah iling (red; ingat) Allah berarti gak usah shalat"  cerita kiai .kiai kemudian berargumen " dalam ayat itu , Aqim adalah fiil amar, perintah , perintah untuk as-shalata (red; shalat), tujuannya untuk mengingat Allah, jadi dalam ayat ini gak ada yang namanya menghilangkan shalat, justru pertama-tama yang diperintahkan adalah shalat" .

beliau juga memaparkan beberapa argumen secara aqli terkait kasus ini, kalau memang mereka benar mengapa variable nya hanya shalat saja. " ya kalau begitu gak usah makan, cukup ingat makan saja kenyang, " tutur kiai nawawi

Dalam kesempatan tersebut kiai nawawi juga memberikan nasehat bahwa yang kita lakukan didunia akan menjadi tolak ukur kita di akhirat kelak. jika di akhirat ingin masuk surga, manusia harus melakukan amal yang menjadi bekal mereka ke surga, seperti shalat, puasa, zakat. lagi-lagi tentu nasehat beliau ini nyambung dengan kasus diatas yang dengan semangat sekali beliau menjelaskannya.

sejalan dengan yang dikatakan Imam Malik rahimahullah , "Siapa yang menjalani tasawwuf tanpa dibekali pemahaman terhadap syariat, ia telah menjadi zindik. Sebaliknya, siapa yang membekali diri dengan fikih (syariat) tapi tidak menjalani tasawwuf (tidak membersihkan hati), maka menjadi fasik. Nah siapa yang menggabungkan keduanya, ia telah mencapai hakikat.

semoga tulisan ini bermanfaat, silahkan share , mudah-mudahan menjadi tembahan ilmu buat kita semua.

Tulisan Imam Malik ini membuktikan bhwa banyaknya muslim saat ini berbanding terbalik dengan kualitas keimanan yang dimilikinya,  Banyak ber KTP Islam tp sebenarnya adalah Fasik.