18/03/2016

Kisah Haji Mabrur

Kisah Haji Mabrur......
HALAL BUAT KAMI, HARAM BUAT TUAN

ulama Abu Abdurrahman Abdullah bin al-Mubarak al Hanzhali al Marwazi ulama terkenal di makkah yang menceritakan riwayat ini.

Suatu ketika, setelah selesai menjalani salah satu ritual haji, ia beristirahat dan tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi melihat dua malaikat yang turun dari langit. Ia mendengar percakapan mereka :
“Berapa banyak yang datang tahun ini?” tanya malaikat kepada malaikat lainnya.
“Tujuh ratus ribu,” jawab malaikat lainnya.
“Berapa banyak mereka yang ibadah hajinya diterima?”
“Tidak satupun”

Percakapan ini membuat Abdullah gemetar.
“Apa?” ia menangis dalam mimpinya. “Semua orang-orang ini telah datang dari belahan bumi yang jauh, dengan kesulitan yang besar dan keletihan di sepanjang perjalanan, berkelana menyusuri padang pasir yang luas, dan semua usaha mereka menjadi sia-sia?”

Sambil gemetar, ia melanjutkan mendengar cerita kedua malaikat itu.
“Namun ada seseorang, yang meskipun tidak datang menunaikan ibadah haji, tetapi ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni . Berkat dia seluruh haji mereka diterima oleh Allah.”
“Kok bisa”
“Itu Kehendak Allah”
“Siapa orang tersebut?”
“Sa’id bin Muhafah tukang sol sepatu di kota Damsyiq (damaskus sekarang)”

Mendengar ucapan itu, ulama itu langsung terbangun, Sepulang haji, ia tidak langsung pulang kerumah, tapi langsung menuju kota Damaskus, Siria.

Sampai disana ia langsung mencari tukang sol sepatu yang disebut Malaikat dalam mimpinya. Hampir semua tukang sol sepatu ditanya, apa memang ada tukang sol sepatu yang namanya Sa’id bin Muhafah.

“Ada, di tepi kota” Jawab salah seorang sol sepatu sambil menunjukkan arahnya. Sesampai disana ulama itu menemukan tukang sepatu yang berpakaian lusuh,

“Benarkah anda bernama Sa’id bin Muhafah?” tanya Ulama itu
“Betul, siapa tuan?”
“Aku Abdullah bin Mubarak”
Said pun terharu, "bapak adalah ulama terkenal, ada apa mendatangi saya?”

Sejenak Ulama itu kebingungan, dari mana ia memulai pertanyaanya, akhirnya iapun men ceritakan perihal mimpinya.

“Saya ingin tahu, adakah sesuatu yang telah anda perbuat, sehingga anda berhak mendapatkan pahala haji mabrur?”
“Wah saya sendiri tidak tahu!”
“Coba ceritakan bagaimana kehidupan anda selama ini.
Maka Sa’id bin Muhafah bercerita.
“Setiap tahun, setiap musim haji, aku selalu mendengar :
Labbaika Allahumma labbaika. Labbaika la syarika laka labbaika. Innal hamda wanni’mata laka wal mulka. laa syarika
laka.
Ya Allah, aku datang karena panggilanMu. Tiada sekutu bagiMu. Segala ni’mat dan puji adalah kepunyaanMu dan kekuasaanMu. Tiada sekutu bagiMu.

Setiap kali aku mendengar itu, aku selalu menangis
Ya allah aku rindu Mekah. Ya Allah aku rindu melihat kabah. Ijinkan aku datang…..Ijinkan aku datang ya Allah..

Oleh karena itu, sejak puluhan tahun yang lalu setiap hari saya menyisihkan uang dari hasil kerja saya, sebagai tukang sol sepatu.
Sedikit demi sedikit saya kumpulkan. Akhirnya pada tahun ini, saya punya 350 dirham, cukup untuk saya berhaji.

“Saya sudah siap berhaji”
“Tapi anda batal berangkat haji”
“Benar”
“Apa yang terjadi?”
“Istri saya hamil, dan sering ngidam. Waktu saya hendak berangkat saat itu dia ngidam berat”
“Suami ku, engkau mencium bau masakan yang nikmat ini?
“ya sayang” “Cobalah kau cari, siapa yang masak sehingga baunya nikmat begini. Mintalah sedikit untukku”

"Ustadz, sayapun mencari sumber bau masakan itu. Ternyata berasal dari gubug yang hampir runtuh. Disitu ada seorang janda dan enam anaknya.
Saya bilang padanya bahwa istri saya ingin masakan yang ia masak, meskipun sedikit. Janda itu diam saja memandang saya, sehingga saya mengulangi perkataan saya.

Akhirnya dengan perlahan ia mengatakan :
“tidak boleh tuan”
“Dijual berapapun akan saya beli”
“Makanan itu tidak dijual, tuan” katanya sambil berlinang mata.

Akhirnya saya tanya kenapa?
Sambil menangis, janda itu berkata “daging ini halal untuk kami dan haram untuk tuan” katanya.

Dalam hati saya: Bagaimana ada makanan yang halal untuk dia, tetapi haram untuk saya, padahal kita sama-sama muslim?

Karena itu saya mendesaknya lagi “Kenapa?”
“Sudah beberapa hari ini kami tidak makan. Dirumah tidak ada makanan. Hari ini kami melihat keledai mati, lalu kami ambil sebagian dagingnya untuk dimasak.

“Bagi kami daging ini adalah halal, karena andai kami tak memakannya kami akan mati kelaparan. Namun bagi Tuan, daging ini haram".

Mendengar ucapan tersebut spontan saya menangis, lalu saya pulang. Saya ceritakan kejadian itu pada istriku, diapun
menangis, kami akhirnya memasak makanan dan mendatangi rumah janda itu.

“Ini masakan untuk mu”
Uang peruntukan Haji sebesar 350 dirham pun saya berikan pada mereka.
”Pakailah uang ini untuk mu sekeluarga. Gunakan untuk usaha, agar engkau tidak kelaparan lagi”

Ya Allah……… disinilah Hajiku
Ya Allah……… disinilah Mekahku.

Mendengar cerita tersebut Abdullah bin Mubarak
tak bisa menahan air mata.

( buat yg akan naik haji .... atau yg sdh berhaji.... )

Saudaraku ..................Ingat ... 
Ada dua yang tidak kekal dalam diri manusia ! Yakni : Masa Muda dan Kekuatan Fisiknya.
Jangan Lupa ... Ada dua juga yang akan bermanfaat bagi semua orang ! Yakni : Budi Pekerti yang luhur serta Jiwa yang ikhlas memaafkan.

Perhatikan .. Ada dua pula yang akan mengangkat derajat kemulian manusia ! Yakni : Rendah hati dan suka meringankan beban hidup orang lain.
Dan ada dua yang akan menolak datangnya bencana ! Yakni : Sedekah serta menjalin hubungan silaturrahim. Semoga kita menjadi orang orang yang dimuliakan Allah swt aamiin..

17/03/2016

Pola Pikir ASWAJA

D.    POLA PIKIR ASWAJA
Nampaklah bahwa pola pikir yang diisyaratkan oleh paham Ahlussunnah Waljamaah adalah taqdim al nas dan rasional. Atau mengutamakan nas tetapi dalam memahami nas itu digunakanlah logika filsafat yang rasional.

1.      Taqdim al-Nas
Pola pikir taqdim al-Nas (mendahulukan petunjuk nas) ini terindikasikan oleh komitmen tegas Ahlussunnah Waljamaah dalam rangka purifikasi (pemurnian) ajaran Islam dari aneka upaya liberalisasi serta pemikiran bid’ah yang kian menggejala dan kompleks.
Purifikasi dimaksud tidak lain ialah menjadikan al-Quran dan al-Sunnah sebagai sumber rujukan vital dalam setiap aspek kehidupan. Yang dalam hal, ini mencakup aspek akidah, ibadah, dan aspek akhlak. Sebagaimana yang dikembangkan oleh Rasulullah SAW. dan para sahabatnya pada periode awal kelahiran Islam.
Dengan pola pikir taqdim al-Nas ini, ajaran Islam akan terhindar dari berbagai nuansa yang bersifat ekstrim. Dalam lingkup akidah, terhindar dari, pemikiran kalam liberal yang terlalu mendewa-dewakan kemampuan akal. Dalam lingkup ibadah, terlepas dari egoisme pembenaran pendapat pribadi ataupun mazhab. Dan dalam lingkup akhlak akan terhindar dari pemikiran-pemikiran mistis non Islam.
Semua aspek kehidupan, praktis akan terpayungi oleh kebenaran “mutlak”al-Quran dan al-Sunnah. Peran logika-filsafat yang menjelma dalam pemikiran kalam, tetap ternaungi oleh kebenaran “mutlak” al-Quran dan al-Sunnah. Perbedaan pendapat fiqhiyah yang memang interpretable, tetap menjadi ikhtilaf-rahmat, Pemikiran-Pemikiran tasawuf pun tetap sejalan dengan Nas. Pemikiran-pemikiran bid’ah seperti paham al ahlul dan wihdah al-wujud (inkarnasi, reinkarnasi) jelas-jelas bukan ajaran Islam; praktis akan tercounter dengan sendirinya.

2.      Rasional
Taqdim al-Nas memang menjadi komitmen pola pikir paham Ahlussunnah Waljamaah, namun secara filosofis tidak berarti menganulir atau menafikan kebenaran rasio (akal). Bahkan akal mendapat tempat yang sangat terhormat dalam paham Ahlussunnah Waljamaah, sejalan dengan penghormatan yang diberikan oleh semangat Nas itu sendiri.
Kata aqal (akal) itu sendiri dengan berbagai bentuk, banyak didengung-dengungkan dalam al-Quran, termasuk juga di dalam al-Sunnah.
Itu berarti, paham taqdim al-Nas otomatis menempatkan rasio dalam tempat yang amat terhormat. Keterhormatannya itu berarti pula memberi semangat kepada umat agar berpola pikir rasional.
Hanya saja, mengingat kemampuan akal sangat terbatas dan variatif, mustahil dapat menembus kebenaran mutlak dan hasilnya bervariasi antara akal yang satu dengan yang lain. maka secara logis pula; akal bukanlah bandingan naql (Nas). Menjadi hal yang irrasional jika sampai mensejajarkan atau membandingkan kebenaran akal dengan kebenaran naql. Sama halnya dengan membandingkan antara kemampuan manusia dengan kemampuan Tuhan.
Oleh karena itu, pola pikir yang dikembangkan dalam paham Ahlussunnah Waljamaah tidak lain ia, menempatkan rasio/akal pada tempatnya. Akal di tempatkan sebagai alat bantu untuk memahami kandungan naql. Itupun terbatas pada apa yang bisa dijangkau oleh kemampuan akal. Sehingga penggunaan ta’wil (penafsiran ayat secara metafores/majazi), dalam paham Ahlussunnah Waljamaah sangat terbatas pada ayat-ayat mutasyabihat (ayat yang maknanya mengandung perserupaan Tuhan dengan makhluk) dan ayat-ayat tertentu lainnya, dengan pana’ wil yang terbatas pula (tidak terlalu mendalam).
Dengan pola pikir yang demikian, maka paham Ahlussunnah Waljamaah justru senantiasa represetatif dalam setiap zaman, sejalan dengan representatif ajaran Islam itu sendiri sampai kapan pun dan di manapun, bahkan dalam keadaan yang bagaimana pun. Akan senantiasa aktual dan up to date.

16/03/2016

NU untuk NKRI

NU Lahir hanya untuk NKRI
"NU lahir utk Indonesia. Andai tidak ada NU mungkin Indonesia tidak ada". Seperti itulah lebih kurang kata2 yg diucapkan Menkopolhukam, Jend. TNI (Purn) Luhut Binsar Panjaitan ketika memberi pengarahan pada silaturrahim dengan ulama pesantren, Rabu, 16 Maret 2016, di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang.

Luhut yg beragama Kristen Protestan begitu mengagumi NU, terutama dalam perannya di dalam memperjuangkan & mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Mata Luhut tampak berkaca2 ketika mengucap, "Di sini tempat lahir tokoh sentral Nahdlatul Ulama, K.H. Abd. Wahab Chasbullah, seorang yang memiliki jiwa visioner. Tak terbayangkan oleh kita bagaimana mungkin pada tahun 1924 beliau sudah mampu memotret masa depan bangsa dengan menciptakan lagu cinta tanah air tersebut".

Perlu diketahui bahwa K.H. Abd. Wahab Chasbullah adalah pencipta lagu berbahasa Arab, "Hubbul Wathon", yang kalau diterjemahkan menjadi:

"Pusaka hati wahai tanah airku. Cintamu dalam imanku. Jangan halangkan nasibmu. Bangkitlah hai bangsaku.
Indonesia negeriku. Engkau panji martabatku. Siapa datang mengancammu. Kan binasa di bawah dulimu".

Luhut juga tampak manggut2 ketika mendengar K.H. Abd. Mujib Imron, S.H. M.Hum., yang biasa disapa Gus Mujib, membacakan Pernyataan Ulama Pesantren dalam menyikapi perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Luhut sangat serius ketika Gus Mujib mengatakan bahwa ulama NU sangat paham kewajiban bela negara, "Induk organisasi kami adalah PBNU. "P" artinya Pancasila. "B" Bhineka Tunggal Ika. "N" Negara Kesatuan Republik Indonesia. "U" Undang-Undang Dasar 1945".

Keseriusan Luhut mungkin karena selama ini yang beliau dengar bahwa kepanjangan dari singkatan PBNU hanyalah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

Luhut kemudian memeluk Gus Mujib saat beliau selesai membacakan pernyataan.

Semoga NU semakin jaya dan sanggup menjadi tiang penyangga bagi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Amin...

(Sulaiman)

Banser di Pesantren



Rabu, 16/03/16
JombangKeberadaan pasukan Barisan Ansor Serba Guna (Banser), untuk menjadi keamanan secara melekat belum umum terlihat di lingkungan pesantren di Jombang. Padahal kelahiran Banser mempunyai ikatan yang kuat dengan pesantren.
Keadaan demikian menjadi keresahan tersendiri bagi PAC Ansor Kecamatan Jombang. Dalam diskusi santai di Masjid Agung Jombang selasa 15/03/2016, anggota PAC Ansor Kecamatan Jombang, yang biasa disebut Ansor Jombang Kota mencuatkan bahwa seharusnya yang menjaga pesantren bukanlah Satpam atau satuan keamanan yang lain, melainkan Banser.
Jombang yang dikenal sebagai kota santri memang identik dengan keberadaan pesantren. Empat diantaranya adalah pesantren besar, dengan ribuan santri. Karena mempunyai ribuan santri, maka pesantren-pesantren tersebut membutuhkan satuan keamanan khusus. Dalam satu pesantren bisa terdapat lebih dari sepuluh personel keamanan. “Personel keamanan di pesantren-pesantren sebenarnya banyak diantaranya merupakan anggota Banser, namun kenapa ketika menjadi keamanan di pesantren memakai seragam lain?” Ungkap Fathoni Mahsun ketua PAC Ansor Jombang Kota menyayangkan.
Namun demikian, sudah ada unit pesantren di Jombang yang memulai menggunakan Banser sebagai satuan keamanannya, yaitu pesantren Urwatul Wustqo (UW). “Saya tidak tahu kalau waktu Diklatsar (diklat dasar Banser, red) di Jogoroto, utusan dari UW yang jumlahnya sekitar 45 personel itu akan dijadikan tim keamanan pesantren, kalau saya tahu maka akan saya kasih materi tambahan.” Jelas Luthfi Ridlo yang merupakan tim instruktur diklat Banser Jombang.
Penempatan Banser dimaksud berada di depan kampus UW, yang letaknya berada di tepi jalan antara Cukir-Mojowarno. Keberadaan Banser di tempat tersebut, sudah terlihat sejak tahun 2015. Mereka bertugas mengamankan lalu lintas di depan kampus, yang memang merupakan persimpangan. Keberadaan Banser kampus di tempat ini menjadi semakin menonjol, dengan dibangunnya pos  bercorak doreng khas Banser, sekitar seminggu sebelum tulisan ini diturunkan.

Sementara itu menanggapi tidak dipergunakannya Banser di pesantren besar yang notabene sebagai simbol NU, Farid AlFarisi menantu Bu Nyai Munjidah, Wakil Bupati Jombang yang lebih akrab disapa Gus Farid memberikan penjelasan, “Selama ini setiap acara di Pondok Tambak Beras kita pasti melibatkan Banser, karena saya termasuk anggota Kamtib. Namun keamanan untuk keseharian di pondok mempunyai satuan keamanan tersendiri.” Jelas lelaki yang juga menjabat Bendahara di PC Ansor Kabupaten Jombang ini. Farid juga menandaskan, bahwa untuk menggunakan Banser sebagai keamanan yang melekat di lingkungan Pondok Pesantren Tambak Beras, akan dimulai di pondok nya terlebih dahulu (al-Latifiyah II, red), dengan harapan nantinya akan diikuti pondok-pondok lainnya di lingkungan Pondok Pesantren Tambak Beras. (Ben)

Ansor Jombang Sikapi Dana Desa



Rabu, 16 /03/2016
Jombang. Pengguliran Dana Desa (DD) dan Alokasi Dana Desa (ADD) memantik reaksi banyak kalangan, termasuk Ansor Jombang. Bentuk reaksi yang ditunjukkan Ansor Jombang meliputi dua hal, yaitu membantu pemer

intah dalam pengawasan dan pemanfaatannya.
Ansor Jombang merasa perlu membantu melakukan pengawasan terhadap DD/ADD karena mengingat besarnya alokasi dana tersebut. Hal ini terungkap dalam diskusi tematik sebagai rangkaian kegiatan dzikir dan sholawat Rijalul Ansor yang diselenggarakan PAC Kecamatan Jombang, pada selasa 15/03/2016.
Menurut Maghfuri Ridwan sebagai salah satu nara sumber, apabila digabungkan dengan pemasukan yang lainnya, seperti bagi hasil pajak, pendapatan asli desa, dan bantuan khusus maka jumlahnya mencapai  lebih dari satu milyar, “Di Kecamatan Ngoro keseluruhan dana yang didapatkan sebesar 1,3 milyar per desa.” Terang Maghfuri yang juga pendamping di Kecamatan Ngoro Jombang. Jumlah tersebut tidak sama untuk masing-masing desa, disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
Dalam menggulirkan DD/ADD ini semuanya harus menggunakan acuan Peraturan Pemerintah yang dibuat untuk kepentingan tersebut. Penggunaan DD di tahun 2016 ini diprioritaskan untuk dua hal, yaitu pelaksanaan pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat desa. Dua hal ini yang kemudian dijabarkan sesuai kondisi masing-masing daerah. Di Jombang penggunaan Dana Desa diatur dalam Perbub nomor 5 tahun 2016.
Selain melakukan pengawasan, Ansor sebagai organisasi kepemudaan juga harus bisa memanfaatkan dana tersebut sesuai dengan mata anggaran yang ada. “Karena memang di rekening DD/ADD tidak ada kode yang berbunyi Ansor.” Tambah Maghfuri. Mata anggaran di ADD yang bisa dimanfaatkan Ansor antara lain alokasi untuk pemberdayaan masyarakat.
Dalam Perbub nomor 5 tersebut salah satu yang dianggarkan adalah majelis ta’lim. Ulum Sugioto nara sumber yang lain mengatakan “Bupati mempunyai kecenderungan kuat bahwa dana majlis ta’lim itu untuk NU.” Hal ini bisa dimaklumi karena organisasi  yang berpotensi memanfaatkannya, adalah organisasi yang mempunyai ranting sampai ke desa-desa.
Selain anggaran majelis ta’lim, anggaran yang berpotensi untuk bisa dimanfaatkan adalah anggaran untuk seni tradisional. “Yang bisa masuk ke seni tradisional ini diantaranya grup kesenian Banjari, Kesenian ISHARI, termasuk seni pencak silat Pagar Nusa.” Tambah Maghfuri. Menurutnya, bisa tidaknya Ansor memanfaatkan DD/ADD ini kuncinya adalah komunikasi dengan kepala desa. Sepanjang komunikasi dengan kepala desa baik, maka peluang untuk ikut memanfaatkannya juga besar.
Ditemui secara terpisah, H. Zulfikar selaku ketua PC Ansor Jombang mengatakan, telah menyiapkan tim khusus untuk melakukan pendampingan terhadap Pengurus Ansor di ranting-ranting, agar bisa memanfaatkan dana tersebut. “Kami sudah tunjuk beberapa Pengurus Cabang Ansor Jombang, untuk melakukan pendampingan ke ranting-ranting agar bisa melakukan pengawasan serta bisa memanfaatkan dana desa tersebut, termasuk jadwal dan pembagian wilayahnya.” Jelas pria yang biasa disapa Antok ini. (Ben)


Santri Masa Modern

Santri goes international

(dimuat di edisi terbaru Majalah Pesantren Tebuireng)

Bisakah santri sekarang mengikuti jejak para ulama kita mengajar dan mempublikasikan karyanya di level internasional? Ulama tempo doeloe itu luar biasa hebatnya, mereka bukan hanya sekedar belajar tapi juga mengajar di Masjidil Haram. Kiai Nawawi al-Bantani, Syekh Yasin Padangi, atau bahkan Hadratus Syekh Hasyim Asy'ari juga mengajar di Masjidil Haram di masanya, yang menunjukan kedalaman pengetahuan dan kesalehannya. Selama mengajar di Masjidil Haram, Kiai Hasyim mempunyai sejumlah murid internasional, antara lain Syaikh Sa’dullah al-Maimani (mufti India), Syaikh Umar Hamdan (ahli hadis di Mekkah), dan al-Syihab Ahmad bin Abdullah (Suriah). Kitab karya Kiai Ihsan Jampes dibaca dan dipelajari sampai ke Afrika, menembus batas-batas benua.

Bagaimana dengan para santri sekarang? Cukupkah berbangga pernah menyantri sekan tahun di pondok, atau berbangga hafal 1000 bait Alfiyah, juga hafal sejumlah kitab? Dengan kata lain, cukupkah kita menjadi konsumen semata dan tidak bergeser menjadi produsen ilmu? Dengan kata lain, ulama Indonesia harus lebih sering lagi menulis kitab dalam bahasa Arab dan/atau Bahasa Inggris agar buah pikiran santri nusantara juga dibaca dan dikaji oleh muslim di belahan dunia lainnya. Dengan menelorkan karya yang tidak hanya berupa pengulangan dari hafalan yang ada kita akan turut mewarnai sejarah pemikiran Islam di level internasional.

Bisakah? insya Allah bisa. Kiai Afifuddin Muhajir misalnya meneruskan tradisi Kiai Sahal Mahfud, Kiai Nahrawi Abdus Salam dan para masyayikh lainnya yang mengarang kitab dalam bahasa Arab. Saya yakin masih banyak kiai lainnya yang memiliki tradisi menulis yang baik. Tantangannya tentu bagaimana agar kitab karangan para Kiai sekarang itu bisa menembus dunia internasional, dalam arti dipelajari dan ditelaah bahkan kalau bisa dijadikan buku wajib untuk para pelajar, santri dan mahasiswa di dunia Islam lainnya.

Itu artinya penekanan pada hafalan harus ditambah dengan kemampuan mengarang kitab. Rasanya cukup aneh kalau ratusan santri yang dikirim belajar di Timur Tengah, begitu meraih gekar Lc buru-buru pulang dan akhirnya hanya menambah daftar penceramah atau Ustadz lokal semata. Kita tentu berharap mereka bisa melakukan lebih dari itu. Selain jangan buru-buru pulang, dan tidak puas hanya meraih Lc, kita sangat mendambakan mereka lanjut sampai meraih gekar doktor dan kemudian kalau bisa juga mengajar di universitas Islam di Timur Tengah. Tidak cuma jadi santri di al-Azhar tapi juga bisa jadi Kiai di al-Azhar!

Bersambung....

Santri Masa kini

Lanjutan....
Sejak tahun 1970-an Pemerintah telah menerapkan kurikulum nasional termasuk ke lingkungan pesantren. Ada standarisasi kurukulum. Tentu saja tujuan Pemerintah itu baik, namun secara tidak langsung telah mengikis kekhasan keilmuan masing-masing pesantren. Dulu para santri itu berkeliling belajar dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Kalau mau belajar ilmu alat ke pesantren A, kalau mau belajar ilmu Hadis ke pesantren B, dan kalau mau mendalami Fiqh belajarlah ke pesantren C, bahkan kalau mau mengolah batin dan ilmu kesaktian belajarlah ke pesantren D. Masing-masing Kiai punya kekhasan saat mendirikan pondoknya. Namun setekah semuanya hendak distandarkan, maka kita melihat lulusan pondok sejak tahun 90-an menjadi merata ilmunya dan tidak lagi punya ilmu andalan yang menonjol. Sedikit banyak ini berpengaruh pada kualitas santri, dan pada gilirannya juga berpengaruh pada kualitas para Kiai karena setelah itu merekalah yang akan meneruskan tongkat estafet menjadi Kiai.

Kalau dulu kualitas santri binaan Kiai Cholil Bangkalan itu ya sekelas Kiai Hasyim, Kiai Wahab, Kiai BIsri dan Kiai As'ad. Kualitas santri binaan Kiai Hasyim itu sekelas Kiai Idris Kamali, Kiai Abbas Buntet, Kiai Asnawi Kudus, dan lainnya. Mereka itu boleh dibilang pada masanya sekualitas alumni s3 atau program doktor studi keislaman. Di masa sekarang, dengan sistem standarisasi kurikulum madrasah di pesantren maka lulusan pesantren itu hanya dianggap sekelas lulusan madrasah Aliyah. Timpang sekali bukan? Untuk membenahi kenyataan ini maka di sejumlah pesantren didirikan Ma'had Aly sehingga jebolan pondok punya pilihan mau meneruskan kemana apalah ke IAIN/UIN, PTN atau Ma'had Aly.

Ma’had Aly merupakan salah satu bentuk usaha pelembagaan tradisi akademik pesantren yang pendiriannya dilatar belakangi oleh kebutuhan untuk meningkatkan kualitas pendidikan pesantren tingkat tinggi yang mampu melahirkan ulama, di tengah-tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini. Dengan kata lain Ma’had Ali merupakan lembaga kaderisasi ulama, sehingga di dalamnya tidak saja diajarkan ilmu-ilmu keagamaan (tafsir, hadits, fiqih dan teologi), tetapi juga ilmu-ilmu umum seperti sosiologi, antropologi dan filsafat. Sehingga alumnus Ma’had Aly dapat berpartisipasi dalam perubahan sosial di Indonesia dan dapat menjawab tantangan globalisasi. Tapi pertanyaannya tetap sama: bagaimana mempertahankan ciri khas keilmuan pesantren kalau kemudian kurikulum Ma'had Aly sama dengan kurikulum milik IAIN/UIN?

Kurikulum Ma’had Aly di Situbondo misalnya menempatkan ushul fiqh sebagai pusat konsentrasi kajian yang dinilai sangat strategis, Fiqh sebagai produk Istinbath dan ushul fiqh sebagai metedologinya diapresiasi secara integral menjadi konsenterasi kajian dan mendominasi rangkaian pembelajaran. Di sinilah dibutuhkan visi agar lulusan Ma'had Aly tidak sekedar berorientasi ijazah yang diakui pemerintah sehingga bisa menjadi pegawai negeri, tapi lebih dari itu mencetak para ulama yang mumpuni dan bisa menelorkan karya-karya bermutu yang dibaca dan dipelajari baik di tingkat nasional maupun internasional.

Kenapa dunia Islam membutuhkan kontribusi karya-karya ulama nusantara? Ini agar Islam yang diterapkan di tanah air bisa menjadi bahan diskusi bagi ulama mancanegara. Prof Martin van Bruinessen misalnya pernah mengajukan fakta yang cukup menggelitik: umat Islam di Turki, Mesir ataupun Saudi Arabia tidak mengenal dengan mendalam pemikiran brilian dari KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Padahal kebalikannya kitab karya para ulama dan cendekiawan Turki dan Mesir serta Arab Saudi dibaca dan dipelajari di tanah air. Mengapa demikian? Karena Gus Dur tidak punya waktu untuk menuliskan pemikiran beliau dalam kitab yang dibaca di Timur Tengah sana.

Ini pelajaran penting buat para santri di tanah air. Kalau pemikiran sehebat Gus Dur saja tidak menjadi bahasan di kurikulum universitas Timur Tengah, bagaimana dengan kita? Kita boleh jadi tidak sehebat Gus Dur, tapi kita bisa belajar dari hal-hal yang belum sempat dilakukan Gus Dur yaitu menulis dalam bahasa yang dibaca oleh para ulama dan cendekiawan dunia Islam. Tantangan pada masa Gus Dur tentu berbeda dengan tantangan yang dihadapi santri generasi pasca Gus Dur.

Di sinilah kita bisa berusaha untuk meneruskan apa yang telah dilakukan para ulama kita dulu dengan melahirkan karya-karya bermutu di panggung internasional. Mudah untuk dituliskan, tapi sukar untuk dilakukan, bukan?

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama
Australia-New Zealand

15/03/2016

Gay Nekat

Kaum Gay Nekat......
Gagal Nikah, Mbak Andini Pasrah

Gagal Nikah, Mbak Andini Pasrah
Jajaran Polsek Kepil, Wonosobo saat bertemu Didik Suseno dan Andini, calon pengantin sesama jenis di Desa Teges, Kecamatan Kepil, Wonosobo. Foto: Sumali Ibnu Chamid/Radar Kedu/JPG

WONOSOBO - Andini terpaksa harus menelan ludah kekecewaan yang mendalam. Keinginan warga Desa Teges, Kecamatan Kepil, Kabupaten Wonosobo itu untuk dipersunting oleh pria pujannya, Didik Suseno akhirnya kandas.

Maklum saja, Andini dan Didik memang sesama pria. Nama Andini sebenarnya adalah Andi Budi Sutrisno.

Rencana Andini dan Andi melangkah ke pelaminan pada akhir pekan lalu, digagalkan oleh jajaran Polsek Kepil, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Mau tak mau, Andini dan teman sesama prianya pun pasrah.

Simak juga: Polisi Gagalkan Rencana Pernikahan Didik dan Andini, Ternyata...

Mbak Andini, eh maaf, maksudnya Mas Andi pun tampak sedih. “Sedih sih, Mas. Namun mau bagaimana lagi,” ujarnya seperti dikutip Radar Kedu.

Akhirnya, Andini pun hanya bisa pasrah. Sebab, aturan memang tidak mengizinkan pernikahan sesama jenis. “Karena memang tidak boleh menurut undang-undang dan agama, ya saya cuma bisa pasrah,” ucap Andini.

Kapolsek Kepil AKP Surakhman mengatakan, jajarannya memang  langsung mendatangi lokasi dan menggagalkan pernikahan sejenis tersebut. Ia pun berharap kasus serupa tidak terjadi lagi di wilayahnya.

“Agar ke depan, tidak lagi terjadi kejadian seperti ini, kami mengimbau kepada masyarakat untuk senantiasa saling peduli dan saling mengingatkan satu sama lain. Jadi, ketika ada kegiatan yang bertentangan dengan hukum, dapat dicegah dan tidak menimbulkan akibat yang fatal,” jelasnya.