27/08/2016

Gus Dur Vs Gus Faiz

Gus Faiz v Gus Dur 
Lihat Gus Faiz Tembelang yg setiap malam goreng krupuk, lalu paginya ditaruh warung2 kemudian berangkat ngajar ke sekolah. Itu mengingatkan cerita manten anyare Gus Dur dan Bu Sinta.. Tiap mlm ngadahi es lilin tuk ditaruh warung2 esoknya lalu ngajar Waktu khutbah di masjid Alfattah Nglundo, Candimulyo Jombang, Gus Najib Muhammad Denanyar cerita hanya ada satu hal yg membuat Allah sampai bersumpah tiga kali. Wallaili demi mlm.. Wannahari demi siang.. Wama kholaqo demi penciptaan pria wanita.. Apa yg disumpahkan? Inna sa'yakum lasatta. Sesungguhnya pekerjaanmu macam2. Khusus dagang, saat kajian Ramadan di Islamic Center Unipdu kemarin, Ketua MUI Jombang KH Cholil Dahlan menuturkn bhw diantara makna wakafa billahi syahida adalah masio gak laba, orang dagang tetap digerojok keberkahan oleh Allah..

 (Rojiful Mamduh)

MENGENAL HAJI FURODA'

 MENGENAL HAJI FURODA'
Program penyelenggaraan ibadah Haji di Indonesia secara resmi dikelola oleh Kementrian Agama Republik Indonesia (KEMENAG RI), baik haji Reguler maupun Haji Khusus Depag. Seiring sangat tingginya minat masyarakat menunaikan Ibadah Haji, daftar Antrian tunggu untuk haji Reguler sudah sampai tahun 2039 (Jawa Timur, untuk tiap provinsi berbeda tahunnya). Sedangkan untuk daftar antrian tunggu haji khusus (ONH Khusus) sudah sampai tahun 2021. Tentunya hal ini menjadi dilemma yang cukup serius bagi sebagian kalangan yang ingin melaksanakan ibadah Haji tanpa ikut antrian daftar tunggu. Pendaftaran haji khusus saat ini memang dibuka sepanjang tahun, artinya tidak ada batasnya. Bila quota di suatu tahun sudah terpenuhi akan dilanjutkan mengisi quota tahun berikutnya. Sistem Komputer Haji Terpadu atau di kenal dengan Siskohat akan memberikan nomer urut porsi kepada setiap jamaah yang mendaftar. Dari nomer porsi tersebut bisa diperkirakan kapan seorang jamaah akan dapat berangkat haji. Setiap tahun ONH Khusus secara nasional di beri jatah quota sebesar 16.000 jamaah. Namun setiap tahun biasanya pemerintah Indonesia mendapat tambahan quota dari quota negara2 lain yg tidak terpakai. Besarnya tambahan quota tidak menentu. tahun 2011 tambahan quota itu sebesar 10.000 quota. 7000 quota dibagikan kepada Haji Regular dan sisanya 3000 quota di berikan kepada Haji Khusus. Penambahan quota juga sangat dipengaruhi kondisi social & politik yang terjadi. Misalnya saja rencana perluasan masjidil haram yang mengancam situs situs sejarah seperti bangunan sisa kekhilafahan Turki Utsmani, yang pada akhirnya sangat mungkin quota ke Turki ditambah. Demikian juga dengan keberhasilan Revolusi di Mesir, kran untuk jamaah haji Mesir akan dibuka seluas luasnya. Bahkan, umroh menjadi salah satu factor penyelamat industry pariwisata di Mesir. Adapun yang baru baru ini terjadi dan kita masih meraba-raba, apa kiranya yang bakal terjadi bila rencana perluasan masjid nabawi benar benar akan mengesampingkan Raudhoh. Karena berbagai dilemma diatas, sebagian kalangan menempuh jalur berhaji sbb : Haji Khusus Non Kuota Ilegal Murni Saat Bulan Puasa, jamaah daftar menunaikan ibadah umroh dengan visa umrah yang masa berlakunya hanya 1 bulan. Saat masa berlaku visa umrah habis, jamaah tersebut sengaja tidak pulang dengan menghanguskan tiket pesawat kepulangannya. Jamaah tersebut bersembunyi di balik gunung-gunung atau di rumah koleganya yang sudah mukim di Mekkah sampai musim haji datang. Setelah ibadah hajinya terlaksana, jamaah tersebut menyerahkan diri ke pemerintah Kerajaan Arab Saudi meminta untuk di deportasi ke tanah air. Haji seperti inilah yang dimaksud Haji Sandal Jepit, Haji Ilegal, Haji Haram karena tidak punya visa Haji. Haji Khusus Non Kuota Ilegal Visa Aspal Kasus Haji yang ini nasibnya tragis, biasanya jamaah tersebut di janjikan berangkat haji tanpa antri, tapi ternyata visanya asli tapi bukan visa Haji melainkan visa kerja TKI, bisa juga visanya visa Haji tapi setelah sampai tiba di bandara Jeddah ternyata di cek oleh petugas imigrasi Saudi visanya palsu. Jamaah tersebut akan langsung dideportasi ke tanah air tanpa boleh menunaikan ibadah haji walaupun sudah sampai di Jeddah. Ada juga pihak pihak yang menjanjikan bisa memberangkatkan bahkan dengan biaya yang sangat murah tapi ujung ujungnya dana jamaah menguap dengan alas an dana sedang di investasikan. 

Haji Khusus Furoda'

Haji Khusus Non Kuota Furoda Istilah Haji khusus furoda sudah tidak asing lagi dikalangan kita. Haji furoda adalah haji yang visa Hajinya diperolah melalui Undangan dari Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia diluar kuota visa Haji yang sudah dijatahkan kepada kemenag RI. Ketika sampai di imigrasi Jeddah, saat diperiksa visa tersebut sama dengan visa hajji di seluruh dunia jadi tidak akan dipermasalahkan oleh Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia karena visa haji kan yang mengeluarkan adalah fihak Saudi, jadi tidak mungkin dipermasalahkan sendiri. Hanya saja, karena visa haji furoda ini didapat langsung dari Saudi tanpa melalui depag, maka dikhawatirkan munculnya orang orang yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan penipuan. Bila kita perhatikan kondisi social dan politik yang berkembang, bisa saja tanpa ada pemberitahuan pihak keduaan Saudi di tanah air menolak pengajuan visa ini. Karenanya bagi penyelenggara yang bertanggung jawab biasanya siap melakukan pengembalian dana yang sudah disetor. Dan bagi jamaah yang bersangkutan dianjurkan tidak melakukan syukuran sebelum kepastian berangkat diterima dengan jelas. Program Haji Khusus Furoda pada prinsipnya sama dengan haji khusus di seluruh dunia sama sekali tidak ada bedanya, visanya adalah visa haji sama dengan visa haji depag. Jadi tidak ada masalah mengenai jenis visanya. 
 Visa haji khusus furoda ini diperolah bukan dari kuota Depag melainkan langsung dari pemerintah kerajaan Saudi Arabia. Kesimpulan: Porsi haji terdiri ada 2 macam. 1. Porsi quota. 2. Porsi non quota. Porsi quota ada 2 macam: 1. Haji reguler 2. Haji plus. Visa dr Porsi non quota dinamakan visa furoda' (pribadi)/ Visa haji non quota. Haji Non quota digunakan untuk 3 hal: 1. Haji undangan kerajaan. 2. Petugas haji (kloter maupun non kloter) 3. Pekerja musiman. Walaupun dalam kenyataan di lapangan, masih saja ditemui berbagai kendala pelayanan kepada jamaah haji non kuota ini namun selama pemerintah dalam hal ini Kementerian haji belum bisa memberikan solusi yang tepat maka program Haji Khusus Furoda menjadi terobosan bagi masyarakat yang akan melaksanakan ibadah Haji ke tanah suci Mekkah tanpa harus antri bertahun-tahun khususnya bagi masyarakat yang sangat ingin segera berhaji karena factor umur, niat nazar, dan keinginan yang tidak bisa dibendung lebih lama. Wallahu a’lam. (dari berbagai sumber)

21/08/2016

WIRID PERJUANGAN

WIRID PERJUANGAN 
Saat ngaji rutinan Senin (1/8/2016), Pengasuh Pesantren Al Muhibbin Bahrul Ulum Tambakberas, KH Jamaludin Ahmad cerita wiridan Mbah Wahab. Setiap punya gagasan yang hendak disampaikan kepada Presiden Soekarno, sebelum berangkat ke Jakarta Mbah Wahab selalu mengumpulkan para santri. Mereka diminta melanggengkan wirid sebagai ihtiar batin agar gagasan yang hendak disampaikan gol. "Jadi sebelum dan selama Mbah Wahab di Jakarta, para santri terus baca ini," kata Kiai Jamal. Setelah dari Jakarta, Mbah Wahab selalu menyampaikan bahwa perjuangannya sudah berhasil. "Saat jelang Unas, yang datang ke saya minta wirid saya ijazahi ini," tutur Kiai Jamal. Bisa jadi, wirid itu pula yang dibaca Mbah Wahab saat jadi delegasi komite hijaz. Yang menyampaikan agar Raja Arab Saudi tidak menggusur makam Nabi. Dan itu berhasil. "Wiridnya diawali baca fatihah 11 kali," kata Kiai Jamal. Lalu kulhu, alfalaq, annas dan ayat kursi masing-masing tiga kali. Dilanjutkan maula ya solli wa sallim daiman abada ala habibika khoirul kholqi kullihimi (tiga kali). Lalu huwal habibulladzi turja syafaatuhu likulli haulim minal ahwalimuqtahimi (seratus kali). Balik maula ya sol (tiga kali). Lalu huwal habib (satu kali). Kemudian berdoa hajatnya..
 (Rojiful Mamduf)


KHOMER

KHOMER 
Saat khutbah Jumat di masjid agung Baitul Mukminin Jombang (19/8/2016), pakar tafsir Quran Pesantren Tebuireng Dr KH Mustain Syafiie menuturkan bahwa Islam dan muslim itu berbeda. "Pemimpin-pemimpin kita banyak yang muslim. Tapi belum tentuk kebijakan yang dihasilkan sesuai dengan Islam," tuturnya. Kenapa demikian? Kiai Mustain lantas memaparkan pandangan tokoh sufi Imam As Sya'roni terkait makna khomer dalam ayat-ayat Quran. Khomer merupakan segala hal yang memabukkan. Baik cair, padat maupun yang lain. "Dalam pandangan Imam As Sya'roni, khomer yang paling memabukkan adalah politik alias keinginan untuk berkuasa," tuturnya. "Allah dan Rosulullah jelas-jelas menyuruh menggunakan parameter keimanan dalam memilih pemimpin. Tapi karena mabuk kekuasaan, syarat keimanan itu akhirnya ditinggalkan," ujar mantan anggota DPR RI dari fraksi Demokrat ini. Namun ini tidak berarti politik itu haram. Kiai Mustain termasuk tokoh yang tidak setuju adanya nasih mansuh. "Semua ayat Quran tetap berlaku, sesuai dengan kondisi masing2," tuturnya. Di tafsir Jalalen disebutkan bahwa ittaqullaha haqqa tuqotih (taqwa tertinggi) dimansuh dengan fattaqullaha mastato'tum (takwa semampunya). "Karena ini terkait prestasi ketaqwaan, kita bisa memilih yang tertinggi atau semampunya," jelasnya. Allah sampai tiga tahap melarang khomer. Wala taqrobussolata wa antum sukaro. Jangan dekati salat saat mabuk. Wa ismuhuma akbaru minnaf ihima. Dosa khomer lebih besar dibanding manfaatnya. Innamal khomru... Rijsun min amalis syaithon. Khomer itu kotor, perbuatan setan.. Jika politik atau keinginan berkuasa itu memang memabukkan, kemungkinan kadarnya juga bisa tiga tingkatan diatas..
(Rojiful Mamduh)

18/08/2016

Menggagas Penyelamatan Aset Wakaf NU



Selama ini banyak kita jumpai aset wakaf NU yang belum terinventarisir dengan baik. Inventarisir dalam pengertian yang diakui secara hukum oleh negara, sudah berbentuk sertifikat.  Kondisi demikian akan berakibat buruk, yaitu bahwa wakaf tersebut bisa diminta kembali oleh ahli waris, lebih parahnya lagi kalau ahli warisnya ternyata tidak sama ideologinya dengan orang tuanya, maka aset wakaf tersebut bisa berpindah tangan pada golongan di luar NU.
Hal demikian terungkap dalam diskusi Rijalul Ansor “Limolasan” yang diselenggarakan oleh PAC Ansor Jombang Kota pada senin 15/8/2016. Lebih jauh Holil yang menjadi salah satu nara sumber mengatakan, selama ini umumnya warga nahdliyin sudah merasa cukup menyerahkan aset dengan melakukan ikrar wakaf di Kementerian agama, kemudian mendapat keterangan ikrar wakaf, begitu saja. “Padahal ikrar wakaf ini belum diakui secara hukum oleh negara,” ungkap pria yang juga berprofesi sebagai Notaris dan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) itu.
Yang harus dipahami, khususnya bagi kita warga nahdliyin apabila ingin mewakafkan tanah atau bangunan, bahwa proses administrasinya harus sampai tercatat di Badan Pertanahan Nasional (BPN). Hal ini dikarenakan menurut UU No. 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria, hak-hak atas tanah yang diakui diantaranya adalah; hak milik, hak guna usaha, dan hak guna bangunan. Dalam UU tersebut tidak disebutkan sama sekali tentang wakaf.
Awamnya masyarakat terhadap pengetahuan ini menyebabkan proses sertifikasi wakaf menjadi berlarut-larut. Contohnya saja yang dialami Amanulloh anggota PAC Jombang Kota. Sebagaimana yang diakuinya, kakeknya pernah melakukan wakaf berupa mushola dan sebidang sawah pada tahun 1997. Namun karena tidak kunjung selesai, pada 2004 meminta bantuan notaris. Oleh notaris tersebut dimintai uang sebesar Rp. 25.000.000,-. “Masak kita mau wakaf harus dimintai uang sebegitu besarnya,” keluhnya.
Permasalahan ini langsung dijawab oleh Holil, bahwa keistimewaan kalau sudah ada ikrar wakafnya, tidak dikenai pajak. Jadi pajak jual beli tanah sebesar 5 persen untuk pembeli, dan 5 persen untuk penjual, tidak berlaku untuk wakaf. Namun Holil mengingatkan bahwa kalau wakaf hendaknya kepada lembaga yang berbadan hukum.   Dalam hal ini lembaga yang berbadan hukum yang diakui adalah NU dan Muhammadiyah. Selain itu boleh juga pada lembaga atau yayasan yang memiliki SK Kemenkumham. Wakaf yang diberikan pada perorangan sebenarnya dibolehkan juga, tetapi tidak disarankan.
Permasalahan yang lebih luas di lapangan diungkapkan oleh Bapak Ilham, yang menjabat sebagai penyelenggara syariah di Kementrian Agama Kabupaten Jombang. Ia mengatakan sudah sering membantu menyelesaikan inventarisir aset waqaf NU. Diantaranya yang terjadi di Mojoagung, di Mojoagung ini banyak sekali aset NU yang perlu diselesaikan administrasinya. “Ada yang juga sampai akan terjadi konflik karena bermasalah.” Terang lelaki yang juga menjadi pengurus NU Jombang ini.
Selain itu, menurutnya MWC Bandar Kedungmulyo sudah terdapat 11 lokasi yang minta untuk diurus administrasi perwakafannya. Namun masalahnya mereka minta langsung legalitas, sedangkan selama ini untuk mengurus legalitas tersebut harus ke Kediri. “Beruntung di forum ini saya ketemu dengan PPAT yang bisa membantu administrasi perwakafan di lingkungan NU Jombang.”
Mengenai nadzir,  dikalangan NU yang bisa menjadi nadzir baru bisa sampai pengurus MWC NU, atau pengurus di tingkat kecamatan. Pengurus Ranting NU tidak bisa menjadi nadzir. Hal ini menjadi masalah tersendiri, karena warga  di desa-desa yang ingin wakaf ke NU dan merasa tidak dekat dengan pengurus MWC NU yang ada di kecamatan, akan merasa kesulitan. Selain itu, jika ada wakaf yang masih atas nama perorangan dalam arti belum diproses administrasinya sebagaimana mestinya, maka solusinya menjalin komunikasi. “Perlu dilakukan pendekatan kepada pihak yang bersangkutan untuk mengetahui keadaan riilnya, sudah diurus belum administrasinya, serta ada konflik tidak,” Jelas Pak Ilham.
Hal lain yang perlu diketahui masyarakat adalah prosedur pengurusan administrasi perwakafan. Setelah sudah beres di tingkatan keluarga maka wakif (orang yang mewakafkan) hendaknya melakukan ikrar wakaf. Ikrar wakaf tersebut harus dilakukan di depan Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf (PPAIW) yang berkantor di KUA. Namun sebelum ke KUA hendaknya meminta surat keterangan ke desa terlebih dahulu. Bila telah melakukan ikrar wakaf tapi tidak dihadapan PPAIW maka dianggap belum resmi dan tidak bisa mengurus ke proses selanjutnya. Ikrar wakaf yang telah didapatkan dari PPAIW  kemudian dibawa ke BPN. Proses selesai, dan wakif tinggal menunggu sertifikat keluar.
Pengurus PAC Ansor Jombang Kota yang menggagas acara ini berkomitmen sepenuhnya untuk mengawal dan memfasilitasi permasalahan wakaf ini. “Kami siap mensponsori pertemuan pihak-pihak  yang berkaitan, baik pengurus NU beserta banom-banomnya, serta pihak-pihak lainnya agar aset NU terselamatkan dan tidak jatuh sebagai hak milik pribadi.” Ungkap Gus Imdad, bendahara PAC Ansor Jombang Kota.





SUFI DAGANG

SUFI DAGANG 
Saat ngaji rutinan Rabu malam di rumas Mas Andik Nawawi (depan Bank Mega Jombang), (17/8/2016), Ustad Soleh, ketua Lembaga Bahsul Masail PCNU Jombang cerita tentang dagang dalam pandangan Islam. Nabi Muhammad SAW tidak hanya menganjurkan berdagang, namun juga mencontohkan berdagang. Sampai-sampai dikatakan bahwa sembilan dari 10 pintu rezeki adalah dari perdagangan. Rosulullah sendiri adalah contoh pedagang sukses. Diawali dengan magang berdagang ikut pamannya saat masih remaja. Ketika usia 25, usaha dagangnya sudah sangat sukses sehingga bisa memberi mas kawin unta dan perhiasan senilai Rp 1 miliar kepada Siti Khodijah.   Lalu bagaimana dagang yang baik? ’’Dagang yang baik adalah yang sama-sama enak. Penjual enak, pembeli juga enak. Saat kita jadi penjual, Nabi menganjurkan kita jadi penjual yang enakan. Saat kita jadi pembeli, Nabi menganjurkan kita jadi pembeli yang enakan,’’ tutur Ustad Soleh.   Penjual yang enakan adalah yang mengambil untung sedikit serta menerima jika pembeli mengembalikan barang yang telah dibeli namun tidak cocok.   Pembeli yang enakan adalah yang tidak keterlalun menawar harga. Dan tidak gampang mengembalikan barang yang sudah terlanjur dibeli.   ’’Nabi menyampaikan jika ada pedagang yang menghapus penyesalan pembelinya dengan membolehkan pembeli mengembalikan barang yang tidak cocok, maka kelak diakhirat, Allah akan menghapus atau membatalkan kesalahan-kesalahan pedagang tersebut,’’ jelasnya.   Sebaliknya, jika pembeli tidak mengembalikan barang yang kurang cocok karena tidak ingin membuat si penjual menyesal/gelo, maka kelak di akhirat Allah akan membatalkan kesalahan-kesalahan si pembeli tersebut.   Lalu bagaimana trik agar dagang sukses? ’’Sahabat Zubair yang juga saudagar sukses pernah ditanya  para sahabat terkait kiat suksesnya berdagang. Zubair menjawab, triknya yakni saat kulak selalu memilih barang terbaik. Dan saat menjual hanya mengambil untung sedikit,’’ paparnya.   Untung sedikit itu seberapa? ’’Tokoh sufi yang juga pedagang sukses di Bagdad, Sari Assaqoti pernah ditanya tentang sukses bisnisnya. Dia menjawab hanya mengambil untung lima persen. Seumpama   jual barang Rp 10 ribu, dia hanya ambil untung Rp 500. Karena Allah memberkahi kepada apapun yang dikehendaki,’’ jelasnya. ’’ Jadi semakin sedikit  ambil laba semakin bagus. Karena yang laku akan semakin banyak,’’ tambahnya.   Ustad Soleh memaparkan, para guru tariqah Syaziliyah mulai Imam Syadzili sangat menganjurkan dagang. ’’Jadikan tasbihmu adalah timbanganmu, jadi jangan berpangku tangan mengharapkan hadiah ataupun sedekah,’’ ungkapnya. Jamaah dimotivasi berkarya dan mengingat Allah dalam kesehariannya. Bukan hanya dalam wiridnya. ’’Dalam risalah Qusairiyah juga disebutkan. Bahwa jika ingin wusul kepada Allah, maka harus mengingat Allah dalam semua aktifitas termasuk dalam berdagang. Jangan hanya ingat Allah saat wiridan,’’ bebernya.   Sebab orang yang mengingat Allah, tidak akan maksiat kepada Allah. Nabi menyampaikan, tak ada orang yang zina,mencuri,  membunuh maupun minum khomer kecuali saat itu dia kehilangan iman. Orang yang terus ingat Allah, pasti dalam berdagang tak akan mengurangi timbangan dan tak akan merugikan pembeli. Oia, dari cerita yang saya dengar dari Mbah Bolong, mursyid syadziliyah yang sekarang yakni Gus Saladin Tulungagung, juga sangat mendorong jamaah untuk berkarya. Mengingat Allah dalam aktifitas keseharian, dalam berkarya, apalagi dalam berdagang, sudah pasti lebih sulit dibanding mengingat Allah saat sedang meriung wiridan. Sahabat Mashur ketua PC GP Ansor Lamongan cerita dia hanya ambil untung satu persen. Dan omset penjualan pulsanya sampai Rp 5 miliar. (Rojiful Mamduh)

17/08/2016

Metamorfosis Ansor Menjadi Hisbulloh

Tadarus Sejarah Ansor Jombang #4






Meskipun telah ada sejak 1934, bukan berarti eksistensi Ansor (yang ketika itu bernama Ansor Nahdlatul Ulama -ANU) selalu ada di muka bumi ini. Ansor pernah “hilang”, yaitu ketika Jepang membubarkan seluruh organisasi kemasyarakatan, organisasi kepanduan, dan organisasi kepemudaan yang ada di Indonesia. Pada September 1943 Jepang akhirnya mengizinkan NU dan Muhammadiyah hidup lagi. Namun Ansor masih tetap bobok manis sampai beberapa waktu kemudian. Tokoh-tokohnya seperti Tohir Bakri selanjutnya menyokong kepengurusan Tanfidziah PBNU.
Ketika carut-marut persoalan bangsa sudah mulai terurai, yaitu bahwa Indonesia sudah memproklamirkan kemerdekaan, serta agresi pertama dan kedua sudah berhasil dibereskan, maka pemikiran untuk membangunkan Ansor mulai muncul. Menariknya, Cak Anam dalam bukunya “Gerak Langkah Pemuda Ansor” mengungkapkan, bahwa orang pertama kali  yang melempar ide membangunkan Ansor kembali adalah Chusaini, mantan anggota Ansor yang baru saja kembali dari medan pertempuran di seputar Jombang, Mojokerto dan Tuban.
Penulis memang tidak berhasil mendapatkan informasi lebih lanjut, Chusaini yang disebut-sebut Cak Anam ini menjadi anak buah siapa ketika bertempur. Namun keberadaan Chusaini yang ikut bertempur, melemparkan ingatan saya pada Hisbulloh. Ya Hisbulloh..., sebuah organisasi kepanduan selain PETA, yang diusulkan oleh Wahid Hasyim pada Jepang, untuk mengakomodir kalangan santri. Kuat dugaan Chusaini ini juga anggota Hisbulloh.
Ansor boleh saja tidak boleh bangun oleh Jepang, tapi kaum santri yang direpresentasikan oleh Wahid Hasyim tidak kurang akal, bendera Hisbulloh dikibarkan. Hairus (2004) menulis, bahwa hampir seluruh pemuda pesantren, dan terutama sekali yang menjadi anggota ANU, bergabung ke dalam tentara Hisbulloh. Bahkan sejak zaman Jepang hingga tahun-tahun setelah kemerdekaan itu seluruh aktivitas ANU tertumpah dalam kegiatan Laskar Hisbullah. Bahkan lambang Hisbulloh yang didirikan 1943 ini mirip dengan lambang ANU.
Di Jombang gagasan pembentukan Hisbulloh ini segera diwujudkan. Pada sekitar akhir 1943 atau awal 1944, KH Mahfudz Anwar Seblak mengirimkan santri-santrinya untuk dilatih di Cibarusa Bogor, pusat penggemblengan anggota Hisbulloh, mereka itu adalah Hasyim Latif, Sa’dulloh Khumaidi, dan Maksum. Dalam tulisan Abdul Jalal (1992), sebenarnya ada 4 orang santri yang dikirimkan, tapi satu nama tidak tesebut  karena menunggu keterangan dari Khumaidi, mungkin karen lupa atau terlewat akhirnya satu nama tersebut tidak tertulis di sejarah.  
Para personel yang dikirim ke Cibarusa ini, termasuk 4 orang dari Jombang kemudian ditunjuk untuk melatih anggota Hisbulloh di daerahnya masing-masing. Mereka selanjutnya menunjuk 25 pemuda pilihan untuk dididik menjadi kader militer profesional. Tidak hanya latihan fisik, Hisbulloh Jombang juga mendapat latihan rohani yang dipimpin langsung oleh Wahid Hasyim. Mereka diajak bersama-sama untuk mengamalkan hisib rifa’i, hisib bahr, hisib nawawi dan lain-lain.
Tidak lama berselang, situasi menjadi kacau sehingga tidak dimungkinkan dilakukan latihan intensif lagi. Berita-berita di radio mengatakan bahwa pulau-pulau di sekitar Pasifik yang dikuasai Jepang satu persatu jatuh ke tangan Amerika. Demikian juga Tokyo sudah dibom oleh negeri Paman Sam tersebut. Beredar prediksi bahwa Jepang akan segera kalah. Oleh karenanya para pimpinan Nasional termasuk juga Wahid Hasyim, bertindak cepat untuk mempersiapkan kemerdekaan. Hingga akhirnya diproklamasikanlah kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.
Seiring dengan perintah Presiden Soekarno untuk membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Kyai Hasyim Asy’ari menginginkan Hisbulloh Jombang untuk segera dibentuk. Keinginan ini beliau sampaikan ke H. Affandi Jagalan, sewaktu bertemu di Masjid Jami’. Oleh H. Affandi segera ditindaklanjuti dengan mencari orang yang bisa mempelopori pembentukan Hisbulloh di Jombang. Pilihan pun kemudian jatuh ke Wahib Wahab Tambak Beras, yang notabene merupakan mantan anggota PETA berpangkat Shudancho.
Dari sini muncul cerita menarik, Wahib ketika itu dicari oleh H. Affandi beserta dengan kemenakannya yang juga mantan anggota PETA, ke Hotel Semeru. Karena biasanya dia tidur di situ, namun ternyata tidak ada. Pencarian kemudian dilanjutkan ke Hotel Lam Yang di Jl. Veteran, Wahib yang sedang tidur karuan saja terkejut, apalagi H. Affandi sampai menggebyurkan air untuk membangunkannya. “Ada apa?” katanya. “Baiknya kita pulang saja.” Saut H. Affandi. Mereka bertiga akhirnya ke Tambak Beras menemui Kyai Wahab.
Kepada Kyai Wahab, H. Affandi menyampaikan mendapat perintah dari Kyai Hasyim untuk membentuk Laskar Hisbulloh. Dan pimpinannya sudah ditunjuk yaitu Wahib. Kyai Wahab sebenarnya keberatan, soalnya kata beliau, Wahib anaknya bandel. H. Affandi tetap bersikukuh, karena untuk mengatasi kebandelannya Wahib biar diselesaikan oleh kyai Wahab sendiri. “Terserah kamu,” Jawab Kyai Wahab akhirnya.
Pada 7 Oktober 1945 diselenggarakan lah rapat penyusunan struktur Hisbulloh Jombang di rumah H. Affandi Jagalan. Sa’dulloh Khumaidi dan Hasyim Latif yang merupakan jebolah Cibarusa didapuk untuk membantu Wahib. Setelah struktur kepengurusan terbentuk, timbul kebutuhan untuk memiliki markas. Entah bagaimana caranya, akhirnya Pabrik Gula Djombang Baru dijadikan markas. Tempat ini yang kemudian digunakan untuk merekrut calon anggota baru.
Demi merektrut anggota baru, Wahib meminta untuk disebarkan undangan atau selebaran yang isinya meminta kepada seluruh pemuda Islam yang berminat berjuang membela kemerdekaan RI, diharap mendaftar sebagai anggota Laskar Hisbulloh. Selebaran ini dikirimkan ke ranting-ranting Ansor. Ya.., saat itu jalur yang digunakan untuk mengumpulkan para pemuda adalah GP. Ansor. Pemuda yang mendaftar membludak, diperkirakan sampai menyentuh angka 4000 orang.
Kita tidak akan berbicara lebih lanjut tentang peran Hisbulloh, karena ini masih panjang ceritanya. Pada kesempatan ini penulis hanya berkepentingan menyajikan titik temu antara Ansor dan Hisbulloh. Wahib Wahab sendiri akhirnya tidak hanya menjadi pimpinan Hisbulloh di Jombang tapi memimpin Hisbulloh se Karsidenan Surabaya, yang meliputi Surabaya, Gresik, Mojokerto, dan Jombang. Wilayah-wilayah tersebut sesuai dengan wilayah yang disebut Chusaini di atas. Sehingga semakin kuat dugaan, Chusaini yang menggagas kembali dibentuknya Ansor tersebut, juga anggota Hisbulloh.
Jombang, 17/ 8/2016

M. Fathoni Mahsun

Kader Ansor Jombang

ABU DUJANAH, WIRAI JUJUR

ABU DUJANAH WIRAI JUJUR  
 Saat haul ke-27 KH Shodiq Muslih, pendiri Pesantren Mambaul Huda Genukwatu Ngoro Jombang, Selasa (9/8/2016), Pengasuh Pesantren Al Muhibbin Bahrul Ulum Tambakberas KH Jamaludin Ahmad cerita seorang sahabat Nabi yang bernama Abu Dujanah.   Ia dikenal sebagi orang yang sangat dekat dengan Rasulullah SAW. Namun seiap usai jamaah Subuh, dia bergegas pulang. Tanpa wiridan dan baca doa. ’’Padahal ada doa yang wajib dibaca usai salat,’’ kata Kiai Jamal.   Diantaranya yakni Allahumma ajirni minannar. Ya Allah selamatkanlah aku dari api neraka. ’’Jika ini dibaca pagi, maka sampai sore dilindungi Allah,’’ tuturnya. Jika dibaca sore, akan terus dilindungi Allah hingga pagi.   Nah, karena tidak pernah ikut wiridan, Nabi lantas menegur. “Wahai Abu Dujanah, kenapa engkau tidak menunggu sampai dibacakannya doa?’’ Abu Dujanah cerita bahwa sebenarnya dia sangat ingin mengamini doa Rosulullah. Namun dia memiliki tetangga yang pohon kurmanya condong ke halaman rumah Abu Dujanah. Setiap malam, kurmanya banyak yang berjatuhan di halaman rumah Abu Dujanah.   Dia bergegas pulang untuk menyapu kurma-kurma itu dan memberikan kepada si tetangga pemilik pohon. Agar anaknya tidak mengambil kurma tetangga tersebut. Abu Dujanah ingin menjaga anaknya tidak kemasukan makanan haram. Walaupun setiap hari, keluarganya sangat miskin. Anak-anaknya bahkan sering menangis kelaparan.     Pernah suatu hari usai salat subuh  Abu Dujanah ikut wiridan. ’’Namun yang terjadi, ketika aku sampai di rumah, aku lihat kurma tetanggaku yang ada di halaman rumahku  telah masuk ke dalam mulut anakku. Maka segera aku ambil kurma yang sedang dikunyahnya, aku tidak mau mereka memakan yang bukan haknya. Aku katakan kepada mereka, Nak jangan kau permalukan ayahmu di akherat nanti, lantaran perbuatanmu ini, biarlah engkau mati dalam keadaan lapar, daripada engkau hidup dengan membawa barang haram di tubuhmu,’’ kata Abu Dujanah.   Mendengar itu, Nabi lantas mengajak para sahabat menemui tetangga Abu Dujanah yang memiliki pohon kurma. Ternyata, dia seorang munafik. Nabi menawar, apakah boleh satu pohon kurma itu diganti dengan 10 pohon kurma yang akarnya emas dan jamrud serta batangnya berlian di surga. Si tetangga menjawab tidak mau. Kalau mau menukar, ya tukar dengan pohon kurma di dunia.   Abu Bakar lantas unjuk bicara. ’’Aku tukar pohon kurmamu dengan 10 pohon kurma terbaikku.’’ Si tetangga itu akhirnya sepakat. Abu Bakar memberikan pohon kurma itu kepada Abu Dujanah.   Si pemilik pohon ini ternyata licik. Dia berkata pada istrinya bahwa dia kini punya 11 pohon kurma. Yakni 10 yang diberi Abu Bakar, serta satu yang didepan rumahnya. Karena pohon itu masih didepan rumahnya, maka dia akan tetap mengambil buah-buahnya.   ’’Atas izin Allah, malam itu pohon kurma tersebut pindah ke halaman rumah Abu Dujanah," jelasnya. (Rojiful Mamduh)