21/08/2016

KHOMER

KHOMER 
Saat khutbah Jumat di masjid agung Baitul Mukminin Jombang (19/8/2016), pakar tafsir Quran Pesantren Tebuireng Dr KH Mustain Syafiie menuturkan bahwa Islam dan muslim itu berbeda. "Pemimpin-pemimpin kita banyak yang muslim. Tapi belum tentuk kebijakan yang dihasilkan sesuai dengan Islam," tuturnya. Kenapa demikian? Kiai Mustain lantas memaparkan pandangan tokoh sufi Imam As Sya'roni terkait makna khomer dalam ayat-ayat Quran. Khomer merupakan segala hal yang memabukkan. Baik cair, padat maupun yang lain. "Dalam pandangan Imam As Sya'roni, khomer yang paling memabukkan adalah politik alias keinginan untuk berkuasa," tuturnya. "Allah dan Rosulullah jelas-jelas menyuruh menggunakan parameter keimanan dalam memilih pemimpin. Tapi karena mabuk kekuasaan, syarat keimanan itu akhirnya ditinggalkan," ujar mantan anggota DPR RI dari fraksi Demokrat ini. Namun ini tidak berarti politik itu haram. Kiai Mustain termasuk tokoh yang tidak setuju adanya nasih mansuh. "Semua ayat Quran tetap berlaku, sesuai dengan kondisi masing2," tuturnya. Di tafsir Jalalen disebutkan bahwa ittaqullaha haqqa tuqotih (taqwa tertinggi) dimansuh dengan fattaqullaha mastato'tum (takwa semampunya). "Karena ini terkait prestasi ketaqwaan, kita bisa memilih yang tertinggi atau semampunya," jelasnya. Allah sampai tiga tahap melarang khomer. Wala taqrobussolata wa antum sukaro. Jangan dekati salat saat mabuk. Wa ismuhuma akbaru minnaf ihima. Dosa khomer lebih besar dibanding manfaatnya. Innamal khomru... Rijsun min amalis syaithon. Khomer itu kotor, perbuatan setan.. Jika politik atau keinginan berkuasa itu memang memabukkan, kemungkinan kadarnya juga bisa tiga tingkatan diatas..
(Rojiful Mamduh)

18/08/2016

Menggagas Penyelamatan Aset Wakaf NU



Selama ini banyak kita jumpai aset wakaf NU yang belum terinventarisir dengan baik. Inventarisir dalam pengertian yang diakui secara hukum oleh negara, sudah berbentuk sertifikat.  Kondisi demikian akan berakibat buruk, yaitu bahwa wakaf tersebut bisa diminta kembali oleh ahli waris, lebih parahnya lagi kalau ahli warisnya ternyata tidak sama ideologinya dengan orang tuanya, maka aset wakaf tersebut bisa berpindah tangan pada golongan di luar NU.
Hal demikian terungkap dalam diskusi Rijalul Ansor “Limolasan” yang diselenggarakan oleh PAC Ansor Jombang Kota pada senin 15/8/2016. Lebih jauh Holil yang menjadi salah satu nara sumber mengatakan, selama ini umumnya warga nahdliyin sudah merasa cukup menyerahkan aset dengan melakukan ikrar wakaf di Kementerian agama, kemudian mendapat keterangan ikrar wakaf, begitu saja. “Padahal ikrar wakaf ini belum diakui secara hukum oleh negara,” ungkap pria yang juga berprofesi sebagai Notaris dan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) itu.
Yang harus dipahami, khususnya bagi kita warga nahdliyin apabila ingin mewakafkan tanah atau bangunan, bahwa proses administrasinya harus sampai tercatat di Badan Pertanahan Nasional (BPN). Hal ini dikarenakan menurut UU No. 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria, hak-hak atas tanah yang diakui diantaranya adalah; hak milik, hak guna usaha, dan hak guna bangunan. Dalam UU tersebut tidak disebutkan sama sekali tentang wakaf.
Awamnya masyarakat terhadap pengetahuan ini menyebabkan proses sertifikasi wakaf menjadi berlarut-larut. Contohnya saja yang dialami Amanulloh anggota PAC Jombang Kota. Sebagaimana yang diakuinya, kakeknya pernah melakukan wakaf berupa mushola dan sebidang sawah pada tahun 1997. Namun karena tidak kunjung selesai, pada 2004 meminta bantuan notaris. Oleh notaris tersebut dimintai uang sebesar Rp. 25.000.000,-. “Masak kita mau wakaf harus dimintai uang sebegitu besarnya,” keluhnya.
Permasalahan ini langsung dijawab oleh Holil, bahwa keistimewaan kalau sudah ada ikrar wakafnya, tidak dikenai pajak. Jadi pajak jual beli tanah sebesar 5 persen untuk pembeli, dan 5 persen untuk penjual, tidak berlaku untuk wakaf. Namun Holil mengingatkan bahwa kalau wakaf hendaknya kepada lembaga yang berbadan hukum.   Dalam hal ini lembaga yang berbadan hukum yang diakui adalah NU dan Muhammadiyah. Selain itu boleh juga pada lembaga atau yayasan yang memiliki SK Kemenkumham. Wakaf yang diberikan pada perorangan sebenarnya dibolehkan juga, tetapi tidak disarankan.
Permasalahan yang lebih luas di lapangan diungkapkan oleh Bapak Ilham, yang menjabat sebagai penyelenggara syariah di Kementrian Agama Kabupaten Jombang. Ia mengatakan sudah sering membantu menyelesaikan inventarisir aset waqaf NU. Diantaranya yang terjadi di Mojoagung, di Mojoagung ini banyak sekali aset NU yang perlu diselesaikan administrasinya. “Ada yang juga sampai akan terjadi konflik karena bermasalah.” Terang lelaki yang juga menjadi pengurus NU Jombang ini.
Selain itu, menurutnya MWC Bandar Kedungmulyo sudah terdapat 11 lokasi yang minta untuk diurus administrasi perwakafannya. Namun masalahnya mereka minta langsung legalitas, sedangkan selama ini untuk mengurus legalitas tersebut harus ke Kediri. “Beruntung di forum ini saya ketemu dengan PPAT yang bisa membantu administrasi perwakafan di lingkungan NU Jombang.”
Mengenai nadzir,  dikalangan NU yang bisa menjadi nadzir baru bisa sampai pengurus MWC NU, atau pengurus di tingkat kecamatan. Pengurus Ranting NU tidak bisa menjadi nadzir. Hal ini menjadi masalah tersendiri, karena warga  di desa-desa yang ingin wakaf ke NU dan merasa tidak dekat dengan pengurus MWC NU yang ada di kecamatan, akan merasa kesulitan. Selain itu, jika ada wakaf yang masih atas nama perorangan dalam arti belum diproses administrasinya sebagaimana mestinya, maka solusinya menjalin komunikasi. “Perlu dilakukan pendekatan kepada pihak yang bersangkutan untuk mengetahui keadaan riilnya, sudah diurus belum administrasinya, serta ada konflik tidak,” Jelas Pak Ilham.
Hal lain yang perlu diketahui masyarakat adalah prosedur pengurusan administrasi perwakafan. Setelah sudah beres di tingkatan keluarga maka wakif (orang yang mewakafkan) hendaknya melakukan ikrar wakaf. Ikrar wakaf tersebut harus dilakukan di depan Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf (PPAIW) yang berkantor di KUA. Namun sebelum ke KUA hendaknya meminta surat keterangan ke desa terlebih dahulu. Bila telah melakukan ikrar wakaf tapi tidak dihadapan PPAIW maka dianggap belum resmi dan tidak bisa mengurus ke proses selanjutnya. Ikrar wakaf yang telah didapatkan dari PPAIW  kemudian dibawa ke BPN. Proses selesai, dan wakif tinggal menunggu sertifikat keluar.
Pengurus PAC Ansor Jombang Kota yang menggagas acara ini berkomitmen sepenuhnya untuk mengawal dan memfasilitasi permasalahan wakaf ini. “Kami siap mensponsori pertemuan pihak-pihak  yang berkaitan, baik pengurus NU beserta banom-banomnya, serta pihak-pihak lainnya agar aset NU terselamatkan dan tidak jatuh sebagai hak milik pribadi.” Ungkap Gus Imdad, bendahara PAC Ansor Jombang Kota.





SUFI DAGANG

SUFI DAGANG 
Saat ngaji rutinan Rabu malam di rumas Mas Andik Nawawi (depan Bank Mega Jombang), (17/8/2016), Ustad Soleh, ketua Lembaga Bahsul Masail PCNU Jombang cerita tentang dagang dalam pandangan Islam. Nabi Muhammad SAW tidak hanya menganjurkan berdagang, namun juga mencontohkan berdagang. Sampai-sampai dikatakan bahwa sembilan dari 10 pintu rezeki adalah dari perdagangan. Rosulullah sendiri adalah contoh pedagang sukses. Diawali dengan magang berdagang ikut pamannya saat masih remaja. Ketika usia 25, usaha dagangnya sudah sangat sukses sehingga bisa memberi mas kawin unta dan perhiasan senilai Rp 1 miliar kepada Siti Khodijah.   Lalu bagaimana dagang yang baik? ’’Dagang yang baik adalah yang sama-sama enak. Penjual enak, pembeli juga enak. Saat kita jadi penjual, Nabi menganjurkan kita jadi penjual yang enakan. Saat kita jadi pembeli, Nabi menganjurkan kita jadi pembeli yang enakan,’’ tutur Ustad Soleh.   Penjual yang enakan adalah yang mengambil untung sedikit serta menerima jika pembeli mengembalikan barang yang telah dibeli namun tidak cocok.   Pembeli yang enakan adalah yang tidak keterlalun menawar harga. Dan tidak gampang mengembalikan barang yang sudah terlanjur dibeli.   ’’Nabi menyampaikan jika ada pedagang yang menghapus penyesalan pembelinya dengan membolehkan pembeli mengembalikan barang yang tidak cocok, maka kelak diakhirat, Allah akan menghapus atau membatalkan kesalahan-kesalahan pedagang tersebut,’’ jelasnya.   Sebaliknya, jika pembeli tidak mengembalikan barang yang kurang cocok karena tidak ingin membuat si penjual menyesal/gelo, maka kelak di akhirat Allah akan membatalkan kesalahan-kesalahan si pembeli tersebut.   Lalu bagaimana trik agar dagang sukses? ’’Sahabat Zubair yang juga saudagar sukses pernah ditanya  para sahabat terkait kiat suksesnya berdagang. Zubair menjawab, triknya yakni saat kulak selalu memilih barang terbaik. Dan saat menjual hanya mengambil untung sedikit,’’ paparnya.   Untung sedikit itu seberapa? ’’Tokoh sufi yang juga pedagang sukses di Bagdad, Sari Assaqoti pernah ditanya tentang sukses bisnisnya. Dia menjawab hanya mengambil untung lima persen. Seumpama   jual barang Rp 10 ribu, dia hanya ambil untung Rp 500. Karena Allah memberkahi kepada apapun yang dikehendaki,’’ jelasnya. ’’ Jadi semakin sedikit  ambil laba semakin bagus. Karena yang laku akan semakin banyak,’’ tambahnya.   Ustad Soleh memaparkan, para guru tariqah Syaziliyah mulai Imam Syadzili sangat menganjurkan dagang. ’’Jadikan tasbihmu adalah timbanganmu, jadi jangan berpangku tangan mengharapkan hadiah ataupun sedekah,’’ ungkapnya. Jamaah dimotivasi berkarya dan mengingat Allah dalam kesehariannya. Bukan hanya dalam wiridnya. ’’Dalam risalah Qusairiyah juga disebutkan. Bahwa jika ingin wusul kepada Allah, maka harus mengingat Allah dalam semua aktifitas termasuk dalam berdagang. Jangan hanya ingat Allah saat wiridan,’’ bebernya.   Sebab orang yang mengingat Allah, tidak akan maksiat kepada Allah. Nabi menyampaikan, tak ada orang yang zina,mencuri,  membunuh maupun minum khomer kecuali saat itu dia kehilangan iman. Orang yang terus ingat Allah, pasti dalam berdagang tak akan mengurangi timbangan dan tak akan merugikan pembeli. Oia, dari cerita yang saya dengar dari Mbah Bolong, mursyid syadziliyah yang sekarang yakni Gus Saladin Tulungagung, juga sangat mendorong jamaah untuk berkarya. Mengingat Allah dalam aktifitas keseharian, dalam berkarya, apalagi dalam berdagang, sudah pasti lebih sulit dibanding mengingat Allah saat sedang meriung wiridan. Sahabat Mashur ketua PC GP Ansor Lamongan cerita dia hanya ambil untung satu persen. Dan omset penjualan pulsanya sampai Rp 5 miliar. (Rojiful Mamduh)

17/08/2016

Metamorfosis Ansor Menjadi Hisbulloh

Tadarus Sejarah Ansor Jombang #4






Meskipun telah ada sejak 1934, bukan berarti eksistensi Ansor (yang ketika itu bernama Ansor Nahdlatul Ulama -ANU) selalu ada di muka bumi ini. Ansor pernah “hilang”, yaitu ketika Jepang membubarkan seluruh organisasi kemasyarakatan, organisasi kepanduan, dan organisasi kepemudaan yang ada di Indonesia. Pada September 1943 Jepang akhirnya mengizinkan NU dan Muhammadiyah hidup lagi. Namun Ansor masih tetap bobok manis sampai beberapa waktu kemudian. Tokoh-tokohnya seperti Tohir Bakri selanjutnya menyokong kepengurusan Tanfidziah PBNU.
Ketika carut-marut persoalan bangsa sudah mulai terurai, yaitu bahwa Indonesia sudah memproklamirkan kemerdekaan, serta agresi pertama dan kedua sudah berhasil dibereskan, maka pemikiran untuk membangunkan Ansor mulai muncul. Menariknya, Cak Anam dalam bukunya “Gerak Langkah Pemuda Ansor” mengungkapkan, bahwa orang pertama kali  yang melempar ide membangunkan Ansor kembali adalah Chusaini, mantan anggota Ansor yang baru saja kembali dari medan pertempuran di seputar Jombang, Mojokerto dan Tuban.
Penulis memang tidak berhasil mendapatkan informasi lebih lanjut, Chusaini yang disebut-sebut Cak Anam ini menjadi anak buah siapa ketika bertempur. Namun keberadaan Chusaini yang ikut bertempur, melemparkan ingatan saya pada Hisbulloh. Ya Hisbulloh..., sebuah organisasi kepanduan selain PETA, yang diusulkan oleh Wahid Hasyim pada Jepang, untuk mengakomodir kalangan santri. Kuat dugaan Chusaini ini juga anggota Hisbulloh.
Ansor boleh saja tidak boleh bangun oleh Jepang, tapi kaum santri yang direpresentasikan oleh Wahid Hasyim tidak kurang akal, bendera Hisbulloh dikibarkan. Hairus (2004) menulis, bahwa hampir seluruh pemuda pesantren, dan terutama sekali yang menjadi anggota ANU, bergabung ke dalam tentara Hisbulloh. Bahkan sejak zaman Jepang hingga tahun-tahun setelah kemerdekaan itu seluruh aktivitas ANU tertumpah dalam kegiatan Laskar Hisbullah. Bahkan lambang Hisbulloh yang didirikan 1943 ini mirip dengan lambang ANU.
Di Jombang gagasan pembentukan Hisbulloh ini segera diwujudkan. Pada sekitar akhir 1943 atau awal 1944, KH Mahfudz Anwar Seblak mengirimkan santri-santrinya untuk dilatih di Cibarusa Bogor, pusat penggemblengan anggota Hisbulloh, mereka itu adalah Hasyim Latif, Sa’dulloh Khumaidi, dan Maksum. Dalam tulisan Abdul Jalal (1992), sebenarnya ada 4 orang santri yang dikirimkan, tapi satu nama tidak tesebut  karena menunggu keterangan dari Khumaidi, mungkin karen lupa atau terlewat akhirnya satu nama tersebut tidak tertulis di sejarah.  
Para personel yang dikirim ke Cibarusa ini, termasuk 4 orang dari Jombang kemudian ditunjuk untuk melatih anggota Hisbulloh di daerahnya masing-masing. Mereka selanjutnya menunjuk 25 pemuda pilihan untuk dididik menjadi kader militer profesional. Tidak hanya latihan fisik, Hisbulloh Jombang juga mendapat latihan rohani yang dipimpin langsung oleh Wahid Hasyim. Mereka diajak bersama-sama untuk mengamalkan hisib rifa’i, hisib bahr, hisib nawawi dan lain-lain.
Tidak lama berselang, situasi menjadi kacau sehingga tidak dimungkinkan dilakukan latihan intensif lagi. Berita-berita di radio mengatakan bahwa pulau-pulau di sekitar Pasifik yang dikuasai Jepang satu persatu jatuh ke tangan Amerika. Demikian juga Tokyo sudah dibom oleh negeri Paman Sam tersebut. Beredar prediksi bahwa Jepang akan segera kalah. Oleh karenanya para pimpinan Nasional termasuk juga Wahid Hasyim, bertindak cepat untuk mempersiapkan kemerdekaan. Hingga akhirnya diproklamasikanlah kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.
Seiring dengan perintah Presiden Soekarno untuk membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Kyai Hasyim Asy’ari menginginkan Hisbulloh Jombang untuk segera dibentuk. Keinginan ini beliau sampaikan ke H. Affandi Jagalan, sewaktu bertemu di Masjid Jami’. Oleh H. Affandi segera ditindaklanjuti dengan mencari orang yang bisa mempelopori pembentukan Hisbulloh di Jombang. Pilihan pun kemudian jatuh ke Wahib Wahab Tambak Beras, yang notabene merupakan mantan anggota PETA berpangkat Shudancho.
Dari sini muncul cerita menarik, Wahib ketika itu dicari oleh H. Affandi beserta dengan kemenakannya yang juga mantan anggota PETA, ke Hotel Semeru. Karena biasanya dia tidur di situ, namun ternyata tidak ada. Pencarian kemudian dilanjutkan ke Hotel Lam Yang di Jl. Veteran, Wahib yang sedang tidur karuan saja terkejut, apalagi H. Affandi sampai menggebyurkan air untuk membangunkannya. “Ada apa?” katanya. “Baiknya kita pulang saja.” Saut H. Affandi. Mereka bertiga akhirnya ke Tambak Beras menemui Kyai Wahab.
Kepada Kyai Wahab, H. Affandi menyampaikan mendapat perintah dari Kyai Hasyim untuk membentuk Laskar Hisbulloh. Dan pimpinannya sudah ditunjuk yaitu Wahib. Kyai Wahab sebenarnya keberatan, soalnya kata beliau, Wahib anaknya bandel. H. Affandi tetap bersikukuh, karena untuk mengatasi kebandelannya Wahib biar diselesaikan oleh kyai Wahab sendiri. “Terserah kamu,” Jawab Kyai Wahab akhirnya.
Pada 7 Oktober 1945 diselenggarakan lah rapat penyusunan struktur Hisbulloh Jombang di rumah H. Affandi Jagalan. Sa’dulloh Khumaidi dan Hasyim Latif yang merupakan jebolah Cibarusa didapuk untuk membantu Wahib. Setelah struktur kepengurusan terbentuk, timbul kebutuhan untuk memiliki markas. Entah bagaimana caranya, akhirnya Pabrik Gula Djombang Baru dijadikan markas. Tempat ini yang kemudian digunakan untuk merekrut calon anggota baru.
Demi merektrut anggota baru, Wahib meminta untuk disebarkan undangan atau selebaran yang isinya meminta kepada seluruh pemuda Islam yang berminat berjuang membela kemerdekaan RI, diharap mendaftar sebagai anggota Laskar Hisbulloh. Selebaran ini dikirimkan ke ranting-ranting Ansor. Ya.., saat itu jalur yang digunakan untuk mengumpulkan para pemuda adalah GP. Ansor. Pemuda yang mendaftar membludak, diperkirakan sampai menyentuh angka 4000 orang.
Kita tidak akan berbicara lebih lanjut tentang peran Hisbulloh, karena ini masih panjang ceritanya. Pada kesempatan ini penulis hanya berkepentingan menyajikan titik temu antara Ansor dan Hisbulloh. Wahib Wahab sendiri akhirnya tidak hanya menjadi pimpinan Hisbulloh di Jombang tapi memimpin Hisbulloh se Karsidenan Surabaya, yang meliputi Surabaya, Gresik, Mojokerto, dan Jombang. Wilayah-wilayah tersebut sesuai dengan wilayah yang disebut Chusaini di atas. Sehingga semakin kuat dugaan, Chusaini yang menggagas kembali dibentuknya Ansor tersebut, juga anggota Hisbulloh.
Jombang, 17/ 8/2016

M. Fathoni Mahsun

Kader Ansor Jombang

ABU DUJANAH, WIRAI JUJUR

ABU DUJANAH WIRAI JUJUR  
 Saat haul ke-27 KH Shodiq Muslih, pendiri Pesantren Mambaul Huda Genukwatu Ngoro Jombang, Selasa (9/8/2016), Pengasuh Pesantren Al Muhibbin Bahrul Ulum Tambakberas KH Jamaludin Ahmad cerita seorang sahabat Nabi yang bernama Abu Dujanah.   Ia dikenal sebagi orang yang sangat dekat dengan Rasulullah SAW. Namun seiap usai jamaah Subuh, dia bergegas pulang. Tanpa wiridan dan baca doa. ’’Padahal ada doa yang wajib dibaca usai salat,’’ kata Kiai Jamal.   Diantaranya yakni Allahumma ajirni minannar. Ya Allah selamatkanlah aku dari api neraka. ’’Jika ini dibaca pagi, maka sampai sore dilindungi Allah,’’ tuturnya. Jika dibaca sore, akan terus dilindungi Allah hingga pagi.   Nah, karena tidak pernah ikut wiridan, Nabi lantas menegur. “Wahai Abu Dujanah, kenapa engkau tidak menunggu sampai dibacakannya doa?’’ Abu Dujanah cerita bahwa sebenarnya dia sangat ingin mengamini doa Rosulullah. Namun dia memiliki tetangga yang pohon kurmanya condong ke halaman rumah Abu Dujanah. Setiap malam, kurmanya banyak yang berjatuhan di halaman rumah Abu Dujanah.   Dia bergegas pulang untuk menyapu kurma-kurma itu dan memberikan kepada si tetangga pemilik pohon. Agar anaknya tidak mengambil kurma tetangga tersebut. Abu Dujanah ingin menjaga anaknya tidak kemasukan makanan haram. Walaupun setiap hari, keluarganya sangat miskin. Anak-anaknya bahkan sering menangis kelaparan.     Pernah suatu hari usai salat subuh  Abu Dujanah ikut wiridan. ’’Namun yang terjadi, ketika aku sampai di rumah, aku lihat kurma tetanggaku yang ada di halaman rumahku  telah masuk ke dalam mulut anakku. Maka segera aku ambil kurma yang sedang dikunyahnya, aku tidak mau mereka memakan yang bukan haknya. Aku katakan kepada mereka, Nak jangan kau permalukan ayahmu di akherat nanti, lantaran perbuatanmu ini, biarlah engkau mati dalam keadaan lapar, daripada engkau hidup dengan membawa barang haram di tubuhmu,’’ kata Abu Dujanah.   Mendengar itu, Nabi lantas mengajak para sahabat menemui tetangga Abu Dujanah yang memiliki pohon kurma. Ternyata, dia seorang munafik. Nabi menawar, apakah boleh satu pohon kurma itu diganti dengan 10 pohon kurma yang akarnya emas dan jamrud serta batangnya berlian di surga. Si tetangga menjawab tidak mau. Kalau mau menukar, ya tukar dengan pohon kurma di dunia.   Abu Bakar lantas unjuk bicara. ’’Aku tukar pohon kurmamu dengan 10 pohon kurma terbaikku.’’ Si tetangga itu akhirnya sepakat. Abu Bakar memberikan pohon kurma itu kepada Abu Dujanah.   Si pemilik pohon ini ternyata licik. Dia berkata pada istrinya bahwa dia kini punya 11 pohon kurma. Yakni 10 yang diberi Abu Bakar, serta satu yang didepan rumahnya. Karena pohon itu masih didepan rumahnya, maka dia akan tetap mengambil buah-buahnya.   ’’Atas izin Allah, malam itu pohon kurma tersebut pindah ke halaman rumah Abu Dujanah," jelasnya. (Rojiful Mamduh)

11/08/2016

SERIBU BIDADARI

SEWU WIDODARI
 Saat ngaji Hikam Senin (8/8/2016), pengasuh Pesantren Almuhibbin Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, KH Jamaludin Ahmad cerita bahwa kelak di surga setiap pria diberi sewu widodari yang selalu perawan. Ini juga beliau ceritakan saat kilatan kitab Hikayat Ramadan lalu. Kiai Jamal cerita, dulu, Mbah Wahab pernah dapat pertanyaan soal ini. Di masa senjanya, Mbah Wahab kehilangan penglihatan karena diabetes. Meski demikian beliau tetep ngaji kitab. Termasuk ngaji usai salat Jumat di masjid induk. Pengajian ini diikuti umum. Menantunya bertugas membacakan kitabnya. Lalu Mbah Wahab menerangkan. Suatu hari.. Peserta pengajian yang bernama Nawawi tanya. Nawawi : Mbah, apa benar nanti di surga di jatah sewu widodari. Mbah Wahab : bener Wi.. Nawawi : apa kuat Mbah? Mbah Wahab : Kalau di dunia, bojo sewu, yo gak kober celonoan Wi.. Saat itu listrik baru masuk Tambakberas.. Nanti di surga itu seperti saklar ngene iki lho Wi. Di pitek siji, lampu kabeh nyala.. Nawawi : nopo bener widodari niku perawan terus? Mbah Wahab : bener. Besok nango kali brantas Wi. Gowo watu gede. Cemplungno nang kali brantas. Kiro2 kaline mbukak opo ora Wi? Nawawi : mbukak Mbah. Mbah Wahab : enek bekase opo ora Wi? Nawawi : Mboten Mbah Mbah Wahab : nang suwargo jange widodari yo koyok ngunu Wi.. Selamat malam jumat. Dan semoga bisa hadir haul Mbah Wahab sabtu 13 Agustus 2016.

(ROJIFUL MAMDUH)



KIAI SODIQ

KIAI SODIQ  
Saat haul ke-27 KH Shodiq Muslih, pendiri Pesantren Mambaul Huda Genukwatu Ngoro Jombang, Selasa (9/8/2016), Pengasuh Pesantren Al Muhibbin Bahrul Ulum Tambakberas KH Jamaludin Ahmad menceritakan sejumlah keistimewaan Kiai Shodiq.   ’’Kiai Sodiq ini namanya, perkataannya, dan firasatnya, sama. Sodiq semua. Jarang ada orang yang nama dan perkataan serta perbuatannya sama seperti beliau,’’ tutur Kiai Jamal.   Kiai Jamal lantas menceritakan sejumlah mukasyafahnya Kiai Sodiq. Kiai Sodiq ini masih pakdenya Kiai Jamal.
 1.      Kiai Jamal pernah bertanya kepada ibunda Kiai Sodiq. ’’Bu, panjenengan kok bisa punya anak seperti Kiai Sodiq ini bagaimana?’’ kata Kiai Sodiq. Ibunda Kiai Sodiq cerita, beberapa kali punya anak laki-laki selalu lahir meninggal. Akhirnya begitu hamil lagi, sang ibu memutuskan untuk terus berpuasa sampai melahirkan. Hingga lahirlah Kiai Sodiq. ’’Agar bertahan hidup, ibunya memberi nama gudel. Jadi Kiai Sodiq ini kecilnya bernama gudel,’’ jelasnya. Anehnya, tetangga-tetangganya yang sakit selalu minta diludahi Kiai Sodiq kecil yang bernama gudel. ’’Setelah diludahi, ternyata memang sembuh,’’ paparnya. Nama gudel baru di rubah setelah nyantri ke Lirboyo. 

2.      Pada 1980, Kiai Jamal pernah diajak Kiai Sodiq ke makam Mbah Sodiqun Ngoro. Setelah dari makam, Kiai Sodiq bilang; ’’ Aku dan kamu segera berangkat haji, Mal. Cuma lebih dulu kamu.’’ Ternyata benar. Pada 1981, Kiai Jamal haji. Sementara Kiai Sodiq belum. 

3.      Pada 1982, Kiai Jamal diajak Kiai Sodiq ke makam Mbah Abdul Muhyi Pemijahan Ciamis. Setelah dari makam itu, Kiai Sodiq cerita disuruh buat makjud. Cara buatnya seperti ini. Cara merebus dan membungkusnya seperti ini. Dan lain-lain. Makjud itu laris manis. Sampai ke luar Jawa bahkan ke Malaysia. Sehingga akhirnya terkumpul uang untuk berangkat haji buat Kiai Sodiq bersama istri. Pada 1983, Kiai Sodiq akhirnya berangkat haji. ’’Setelah itu, Kiai Sodiq tidak buat makjud lagi. Karena hanya disuruh buat makjud agar bisa haji saja,’’ jelasnya.

 4.      Saat haji, dihadapan kakbah Kiai Sodiq menangis. Beliau memohon kepada Allah agar ditunjukkan  jumlah jamaah haji yang mabrur. Ternyata jumlahnya sangat sedikit. ’’Beliau ditunjukkan dengan dilemparkan segenggam nekeran. Berarti dari ribuan yang haji, yang mabrur hanya sejumlah satu genggam nekeran,’’ jelasnya. Kiai Jamal menambahkan, haji mabrur memang sulit. ’’Agar mabrur, tak boleh maksiat sama sekali. Ini sulit. Karena kadang masih melihat yang maksiat,’’ paparnya. Abi Abdillah Aljauhari, pernah diperlihatkan Allah bahwa dari 600 jamaah haji tahun itu, yang mabrur hanya enam. ’’Itu yang mabrur bi nafsih. Yang lainnya mabrur bighoirihi  yakni karena doanya para wali-wali,’’ jelasnya. 

 5.      Kiai Sodiq pernah mengajak santrinya ke makam Mbah Abdur Rohman Pagerwojo Perak. Kiai Sodiq lalu tanya kepada santrinya. Tadi ketok opo. Santrinya menjawab, saya glambyar kiai. Iyo tapi ketok opo.  Santrinya menjawab ketok atau merasa diberi minum es degan. ’’Karena di sekitar situ memang banyak yang jual es degan,’’ kata Kiai Jamal disambut tawa jamaah. Kiai Sodiq membenarkan penglihatan itu. Dan menyampaikan bahwa santri itu akan dikaruniai anak yang hapal Quran. ’’Ternyata benar.Dari enam anak santri itu, dua hapal Quran,’’ jelasnya. 

 6.      Suatu hari, usai ngaji malam selasa. Paginya usai jamaah Subuh Kiai Sodiq ngadep kearah muridnya. Kiai Sodiq tanya. Tadi ketok apa. Santrinya jawab, glambyar kiai. Iya, tapi sing ketok opo. Santrinya jawab, ketok Mbah Samsun Gayam. Kiai Sodiq membenarkan. Mbah Samsun pamit hendak mati. Tiga hari kemudian, Mbah Samsun meninggal. 

7.      Suatu hari, Kiai Sodiq nyambangi mertua santrinya yang sakit. Kiai Sodiq lalu pesan, mertuamu jangan ditinggal. Dua hari setelahnya, mertua santri itu mati.

 8.      Suatu hari, ada murid Kiai Sodiq yang tidak bisa memamah makanan. Gigit jari saja tak bisa. Karena gigi atas dan bawah tak bisa ketemu. Oleh dokter spesialis, dia divonis kanker sehingga harus operasi. Sama Kiai Sodiq, santri itu disuruh makan reumacyl satu. Lalu tidur telentang dan pahanya disuruh injak-injak anak kecil. Malam hari itu dilakukan, paginya sembuh.

 9.      Suatu hari, ibu salah satu santri datang. Dua tahun lamanya dia tak bisa tidur dan makan. Sehingga sangat kurus. Diperiksakan dokter tak ada penyakitnya. Dalam Ihya Ulumudin juz 3 disebutkan, jika sakit fisik tapi tak ditemukan penyakitnya, berarti harus dibawa ke dokter batin. Sama Kiai Sodiq, ibu itu lalu disuruh suluk di Tulungagung selama 40 hari. Setelah itu, dia sembuh. 

10.   Suatu hari, ada santri radang usus. Sama dokter, tak boleh makan pedas. Oleh Kiai Sodiq, justru disuruh beli Lombok satu kilogram. Lalu diperes dan airnya diminum. Setelah itu, dia sembuh.

 11.   Suatu ketika, ada cewek matanya terus melek satu. Jadi meski tidur, satu matanya tak bisa menutup.  ’’Ini cewek prawan, anake wong sugih. Jadinya gak payu rabi,’’  kata Kiai Jamal. Oleh Kiai Sodiq, disuruh ambil daun kecubung satu. Diremet. Lalu dikecerno matanya. Setelah itu matanya jadi normal.

12.   Suatu ketika, Kiai Jamal diajak Kiai Sodiq ke makam Mbah Abdul Mursyad di utara Pabrik Gula Mrican. Setelah dari makam, Kiai Sodiq bilang. Bahwa namanya bukan Abdul Mursyad. Tapi Abdullah Mursyad. Kiai Sodiq juga bilang, setelah diparani ini, makam itu akan ramai peziarah. ’’Sekarang, makam tersebut memang ramai peziarah," tuturnya..(Rojif)


05/08/2016

SURAT UNTUK MENDIKNAS ANYAR

Dari: Italutfiani
KEPADA: Mendiknas Anyar
Perihal: SURAT TERBUKA BUAT MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN BPK. PROF. DR.MUHAJIR EFFENDI, M.AP
_Assallamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh_ Bapak Menteri, perkenalkan nama saya Heri Santoso, S.Pd ; seorang guru dengan tugas tambahan sabagai kepala sekolah di SDN Sumberasri 04 Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar Provinsi Jawa Timur. Bapak Menteri yang saya hormati ; pertama-tama perkenankan saya mengucapkan Selamat atas pelantikan Bapak sebagai Mendikbud yang baru di Kabinet Kerja Jokowi - JK. Sungguh, bukan suatu kebetulan Bapak terpilih dan ditunjuk oleh Bpk Presiden sebagai Mendikbud, tetapi memang kapabilitas dan elektabilitas Bapak tidak bisa diragukan lagi, untuk memimpin kementerian yg "carut marut" ini. Mengapa saya katakan carut marut ? Paling tidak ada 5 indikasi yang menjadi alasan riel dari image tsb. 1. Tentang kualitas dan kuantitas SDM keguruan kita masih sangat memprihatinkan. Guru di Indonesia hampir semuanya sarjana. Bukan cuma guru PNS saja yg harus berijasah S1, GTT sekalipun HARUS S1. Nah, hal inilah yg pada gilirannya menghadirkan ironisme tak ubahnya "lelucon panggung sandiwara". Betapa tidak, semua harus sarjana tapi dulunya dg biaya sekolah sendiri2. Ini hanya terjadi di Indonesia. Sebab, jika seorang telah mengabdi sebagai PNS untuk meningkatkan pengetahuan dlm pendidikan formalnya adalah tanggung jawab pemerintah. Untuk itu Bapak Menteri harus berterima kasih pada kami semua guru yg telah berpartisipasi secara pribadi demi peningkatkan profesionalitasnya tanpa melibatkan pembiayaan dari pemerintah lewat Tugas Belajar. Keprihatinan yang lain adalah untuk menjadi GTT pun harus berijasah sarjana pula. Ini yg kurang bisa dinalar akal sehat. Mengapa demikian ? Untuk mempekerjakan tenaga sarjana TANPA DILINDUNGI OLEH SISTEM KEPEGAWAIAN YG JELAS DAN SISTEM PENGGAJIAN YG TETAP. Akibatnya, GTT di Indonesia (maaf) masih LEBIH BERHARGA ORANG UTAN DI KEBON BINATANG YG PUNYA.KEJELASAN ANGGARAN MAKAN DAN MINUMNYA SERTA UNDANG-UNDANG TENTANG PERLINDUNGANNYA. Di sisi lain, mungkin Bapak Menteri sudah lebih tahu kalau Indonesia SANGAT KEKURANGAN GURU. Dan demi terpenuhi target kurikulum, akhirnya mempekerjakan GTT. Wajar jika GTT identik dg Guru PNS meski gajinya tidak identik. Rata2 tiap bulan seorang GTT di Indonesia hanya berhonorarium sekitar Rp 100.000,- Akan tetapi mereka dg ikhlas untuk mengatakan PENGABDIAN SRBAGAI PAHLAWAN TANPA TANDA JASA. Saya tidak setuju dg sebutan TANPA TANDA JASA !! Sebab sebutan itu nenjadi konyol dan fatal. Tanpa digaji pun siap mengabdi. Ini jelas tidak sinkron dg predikat GURU PROFESIONAL. 2. Masih tentang tradisi carut marut di institusi pendidikan kita. Bapak Menteri harus bisa merentang tentang BENANG KUSUT KURIKULUM. Kita sudah terlalu kusut dg kurikulum dari waktu ke waktu yg terus bermasalah. Puncaknya di era sekarang setelah diberlakukan diberlakukan 2 (dua) jenis kurikulum KTSP dan K-13. Sungguh ironis, di dunia ini hanya terjadi di Indonesia. Untuk itu mohon Bapak Menteri segera membenahi benang kusut tsb. 3. Tentang Tunjangan Profesi Guru yg biasa disebut TPG atau TPP. Bapak Menteri tentu masih ingat awal mula lahirnya TPP karena Bapak termasuk anggota tim perumus. Ruh yg menjiwai TPP bukankah dulu UNTUK MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN pendidik. Tapi sekarang telah JAUH BERGESER yaitu sebagai variabel pengukuran kinerja guru. Ironis luar biasa. Bahkan ada yg over acting MEMBREDEL TPP hanya karena TIDAK MASUK selama 3 hari, melakukan cuti hamil, umroh dan naik haji. Sudah sangat menyimpang. Saya jadi heran, cuti hamil diatur oleh peraturan perundang-undangan kepegawaian secara sah. Akan tetapi di saat ibu guru cuti hamil kok dibredel TPP-nya ? Di saat naik haji, bahkan ijin sakit dg surat dokter dekalipun dibredel. Ini yg disebut presedent buruk dlm kementerian yg bapak pimpin., bahkan PELANGGARAN HAK ASASI. 4. Tentang tunjangan seorang kepala sekolah dasar ( SD), yg patut ditinjau kembali. Sebab besaran tunjangan tsb tdk relevan dg kinerja seorang pimpinan/direktur/manajer di lembaga satuan pendidikan yg jadi starting point pencerdasan bangsa. Itulah Bapak Menteri Surat Terbuka saya. Saya tidak ingin jadi seorang pahlawan untuk korps kami Guru Sekolah Dasar, tetapi sebagai makhluk yg punya etos dan dedikasi untuk mengabdi pd bangsa dan negara ini, adalah wajar jika membuat usulan lewat surat terbuka di twitter milik Bapak. Sekian terima kasih. SELAMAT BEKERJA. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Hormat penulis, HERI SANTOSO, S.Pd NIP. 19570926 197707 1 001