17/06/2016

Penerus Perjuangan NU

*FPI KE KANTOR KOMPAS.*

Info: Kamis, 16 Juni 2016, pukul 13.09 Wib, di kantor  TV Kompas Jl. Palmerah Selatan, Kel. Gelora, Kec. Tanah Abang. Jakarta Pusat, telah datang perwakilan FPI yang berjumlah kurang lebih 20 (dua puluh) orang pimpinan Munarman, SH dengan maksud dan tujuan untuk melakukan Audensi, setibanya perwakilan langsung menuju ruang Humas yang telah dipersiapkan oleh pihak Kompas.

Tuntutan : Menolak pemberitaan negatif terhadap Bulan Suci Ramadhan oleh Kompas Group dalam kasus razia warteg di Serang Banten.

Adapun nama nama Perwakilan antara lain  :
1. Ust. Munarman, SH,
2. Kh. Abdul Fatah,
3. Ust. Maman Suryadi,
4. Kh. Awid Masruri,
5. Ust. Novel,
6. Ust. Aziz,
7. Ust. Zainal Abidin,
8. Ustadzah Syarifah,
9. Ust. Tarmidzi,
10. Ust. Bahar,
11. Ust. Haikal,
12. Ust. Syahrozi,
13. Ust. Ali,
14. Sdr. Syafiq,
15. Habib Zen,     
16. dan 5 orang Laskar FPI.

Perwakilan ditemui  Widi Kristawan (Direktur Humas PT. Kompas Gramedia), Budiman.

Isi pertemuan :

*Ust. Munarman SH*

"... Sebelumnya kami ucapkan terima kasih atas penerimaannya, saya bersama Kh. Abdul Fatah, Ust. Maman Suryadi, Kh. Awid Masruri, Ust. Novel, Ust. Aziz, Ust. Zainal Abidin, Ustadzah Syarifah, Ust. Tarmidzi, Ust. Bahar, Ust. Haikal, Ust. Syahrozi, Ust. Ali, Sdr. Syafiq, dan Habib Zen.

Kedatangan kami hanya sekedar informasi, yang mereka mungkin hanya kenal keras. Sebagaimana surat kami ingin meminta penjelasan. Kenapa sih Kompas berkali kali dalam pemberitaan menyakiti umat Islam salah satu kami FPI. Kami telah mencari data 11-15 Juni 2016 mengenai rata rata pemberitaan mengenai berita Serang yang seolah olah peraturan yang melindungi umat Islam, hampir sebanyak 300-an.

Kompas memberitakan logikanya orang ibadah lebih menghormati orang yang tidak ibadah. Jika. Kompas masih mengarah kepada demikian, bisa bisa masyarakat marah.
Saya kira berlaku adillah, kita tidak meminta anda membela Islam, tidak mungkinlah. Tapi berlakukan adil. dan proporsional.

Pertama itu kami meminta penjelasan pada. hal tersebut. Yang kedua kami menghimbau agar Kompas jangan keluar batas. Jadi.sekarang tidak membahas teknik itu. sudah clear. Tapi kami meminta kebijakan redaksi politiknya.

*Widi Kristawan (Direktur Humas PT. Kompas Gramedia)*

Memang benar, kami sudah hidup di media di puluhan tahun dan mungkin sudah dasar. Tapi kami juga butuh teman, teman itu gak harus memuji tetapi perlu kritik, saran dan masukan. Kami terima kasih atas masukannya dan juga. Mudah-mudahan grafik itu sebagai efek gaung dari pemberitaan.

*Budiman (Kompas)*

Saya garis bawahi bahwa ini sebagai alarm, itulah sebagai silaturahim, kami juga perlu itu, tapi seandainya bisa memberikan. masukan langsung dari Mas Munarman. Kami tidak ada niat unsur untuk melukai. Dan kami senang dengan alarm atau peringatan dari masyarakat.

* Tri Wahyono (Kompas.com)*

Kami menyampaikan bahwa memang setiap hari menghasilkan 400 pemberitaan. Sehingga kami juga menerima atas peringatan rekan-rekan.

*Kompas TV*

dalam pemberitaan ini memang real di Serang ketika reporter kami ke lapangan dengan wartawan lainnya. Sehingga ketika kembali melaporkan berita tersebut. Lalu sesuai kaidah media kami meminta klarifikasi pihak terkait. Dan kami menerima atas peringatan dari H. Munarman dengan rekan-rekan.

*KH. Awid Marsuri*

Mudah-mudahan ini tidak terulang lagi. Tapi kalau mau dikatakan adil seharusnya ketika hari Raya Nyepi di Bali warung-warung ditutup kenapa tidak di liput tidak hanya pada saat bulan Ramadhan, ini berarti.yang kami bilang tidak adil. Dan kami merasa tersinggung. Dan akibat pemberitaaan mulai banyak perda yang akan dicabut, padahal ini Perda Syariat.

*Habib Ali*

Umat Islam itu sangat sensitif dalam puasa dan Ramadhon. Karena ini adalah salah satu rukun Islam. Dan menjadi sahnya tidak seorang umat Islam.

*Ust. Novel*

Lagi-lagi kita minta keadilan kepada media. Berkali-kali kita menjadi korban. Ketika saya pernah dipenjara akibat rekayasa Kapolda dan Gubernur. Jadi dalam pemberitaan harus secara adil dan proporsional terhadap kami FPI.

Pukul 14.03 wib, saat pertemuan berlangsung di ruang humas, hadir juga KH. Al Khathath (Sekjen FUI) dan menyampaikan :

Saya ingin mengingatkan bahwa hati hati dengan kedzaliman. Bahwa salah satunya Puasa itu wajib. Dalam perspektif agama kita harus beryukur terhadap Satpol PP atas yang dilakukannya. Kenapa kok yang di Jaman Jokowi kok malah pemberitaan membully Satpol PP yang padahal menegakan syariat agama dalam perda. Ini yang mendasari kami datang ke Kompas. Dulu FPI yang merazia dan kemudian dibully oleh media, dan sekarang FPI sudah mulai mengurangi hal tersebut dan menyerahkan ke Pemda melalui Satpol PP dan Polisi. Tapi kok malah dibully.

Pukul 14. 25 Wib. pertemuan selesai, kemudian massa meninggalkan kantor Kompas, situasi kondusif.

Demikian dilaporkan. Tks.

15/06/2016

Kisah BJ.HABIBI

Copas

*Apapun ttg Habibie, pasti menarik:*

Cerita BJ Habibie yg mengharukan ketika berkunjung ke Garuda Indonesia

Dik, anda tahu, saya ini lulus SMA tahun 1954!” beliau membuka pembicaraan dgn gaya khas penuh semangat dan memanggil semua hadirin dgn kata “Dik” kemudian secara lancar beliau melanjutkan “Presiden Soekarno, Bapak Proklamator RI, orator paling unggul, itu sebenarnya memiliki visi yg luar biasa cemerlang! Ia adalah Penyambung Lidah Rakyat! Ia tahu persis sebagai Insinyur, Indonesia dgn geografis ribuan pulau, memerlukan penguasaan Teknologi yg berwawasan nasional yakni Teknologi Maritim dan Teknologi Dirgantara.

Kala itu, tak ada ITB dan tak ada UI. Para pelajar SMA unggulan berbondong2 disekolahkan oleh Presiden Soekarno ke luar negeri utk menimba ilmu teknologi Maritim dan teknologi dirgantara. Saya adalah rombongan kedua diantara ratusan pelajar SMA yg secara khusus dikirim ke berbagai negara.

Pendidikan kami di luar negeri itu bukan pendidikan kursus kilat tapi sekolah bertahun2 sambil bekerja praktek. Sejak awal saya hanya tertarik dgn ‘How to build Commercial Aircraft’ bagi Indonesia. Jadi sebenarnya Pak Soeharto, Presiden RI kedua hanya melanjutkan saja program itu, beliau juga bukan pencetus ide penerapan ‘teknologi’ berwawasan nasional di Indonesia. Lantas kita bangun perusahaan2 strategis, ada PT PAL dan salah satunya adalah IPTN.

Sekarang Dik, anda semua lihat sendiri, N-250 itu bukan pesawat asal2an dibikin! Pesawat itu sudah terbang tanpa mengalami ‘Dutch Roll’ (istilah penerbangan utk pesawat yg ‘oleng’) berlebihan, tenologi pesawat itu sangat canggih dan dipersiapkan utk 30 tahun kedepan, diperlukan waktu 5 tahun untuk melengkapi desain awal, satu2nya pesawat turboprop di dunia yg mempergunakan teknologi ‘Fly by Wire’ bahkan sampai hari ini.

Rakyat dan negara kita ini membutuhkan itu! Pesawat itu sudah terbang lebih dari 900 jam dan selangkah lagi masuk program sertifikasi FAA. IPTN membangun khusus pabrik pesawat N250 di Amerika dan Eropa untuk pasar negara2 itu.
Namun, orang Indonesia selalu saja gemar bersikap sinis dan mengejek diri sendiri ‘apa mungkin orang Indonesia mampu bikin pesawat terbang??

Tiba2, Presiden ke 2  memutuskan agar IPTN ditutup dan begitu pula dgn industri strategis lainnya.

Dik tahu... di dunia ini hanya 3 negara yg menutup industri strategisnya, satu Jerman karena trauma dgn Nazi, lalu Cina dan Indonesia. Sekarang, semua tenaga ahli teknologi Indonesia terpaksa diusir dari negeri sendiri dan mereka bertebaran di berbagai negara, khususnya pabrik pesawat di Bazil, Canada, Amerika dan Eropa.

Hati siapa yg tidak sakit menyaksikan itu semua?
… Saya bilang ke Presiden, kasih saya uang 500 juta Dollar dan N250 akan menjadi pesawat yg terhebat yg mengalahkan ATR, Bombardier, Dornier, Embraer dll dan kita tak perlu tergantung dgn negara manapun!!.
Tapi keputusan telah diambil dan para karyawan IPTN yg berjumlah 16 ribu harus mengais rejeki di negeri orang dan gilanya lagi kita yg beli pesawat negara mereka!!...

Pak Habibie menghela nafas, dan  melanjutkan pembicaraannya….

… Hal yg sama terjadi pada prototipe pesawat jet twin engines narrow body, itu saya tunjuk Ilham sebagai Kepala Proyek N2130. Ia bukan karena anak Habibie, tapi Ilham ini memang sekolah khusus mengenai manufakturing pesawat terbang, kalau saya sebenarnya hanya ahli dalam bidang metalurgi pesawat terbang. Kalau saja N-2130 jadi diteruskan, kita semua tak perlu tergantung dari Boeing dan Airbus utk membangun jembatan udara di Indonesia.

Dik, dalam industri apapun kuncinya itu hanya satu QCD,
− Q itu Quality, Dik, anda harus buat segala sesuatunya berkualitas tinggi dan konsisten
− C itu Cost, Dik, tekan harga serendah mungkin agar mampu bersaing dengan produsen sejenis
− D itu Delivery, biasakan semua produksi dan outcome berkualitas tinggi dengan biaya paling efisien dan disampaikan tepat waktu! Itu saja!!

Pak Habibie melanjutkan penjelasan ttg QCD sbb:
..Kalau saya upamakan, Q itu nilainya 1, C nilainya juga 1 lantas D nilainya 1 pula, jika dijumlah maka menjadi 3. Tapi cara kerja QCD tidak begitu Dik, organisasi itu bekerja saling sinergi sehingga yang namanya QCD itu bisa menjadi 300 atau 3000 atau bahkan 30.000 sangat tergantung bagaimana anda semua mengerjakannya, bekerjanya harus pakai hati Dik... dengan hati”

Tiba2, pak Habibie seperti merenung sejenak mengingat-ingat sesuatu…

…Dik, saya ini memulai segala sesuatunya dari bawah, sampai saya ditunjuk menjadi Wakil Dirut perusahaan terkemuka di Jerman dan akhirnya menjadi Presiden RI, itu semua bukan kejadian tiba2. Selama 48 tahun saya tidak pernah dipisahkan dengan Ainun, ibu Ainun istri saya. Ia ikuti kemana saja saya pergi dgn penuh kasih sayang dan rasa sabar.

Dik, kalian barangkali sudah biasa hidup terpisah dgn istri, you pergi dinas dan istri di rumah, tapi tidak dgn saya. Gini ya, saya mau kasih informasi.. Saya ini baru tahu bhw ibu Ainun mengidap kanker hanya 3 hari sebelumnya, tak pernah ada tanda2 dan tak pernah ada keluhan keluar dari ibu.

Pak Habibie menghela nafas panjang dan tampak sekali ia sangat emosional serta mengalami luka hati yg mendalam, seisi ruangan hening dan turut serta larut dalam emosi kepedihan pak Habibie...

Dengan suara bergetar dan setengah terisak pak Habibie melanjutkan…

…Dik, kalian tau, 2 minggu setelah ditinggalkan ibu, suatu hari, saya pakai piyama tanpa alas kaki dan berjalan mondar-mandir di ruang keluarga sendirian sambil memanggil-manggil nama ibu… Ainun…. Ainun …….. Ainun ……..saya mencari ibu di semua sudut rumah.

Para dokter yg melihat perkembangan saya sepeninggal ibu berpendapat ‘Habibie bisa mati dalam waktu 3 bulan jika terus begini…’ mereka bilang ‘Kita (para dokter) harus tolong Habibie.

Para Dokter dari Jerman dan Indonesia berkumpul lalu saya diberinya 3 pilihan;
Pertama, saya harus dirawat, diberi obat khusus sampai saya dapat mandiri meneruskan hidup. Artinya saya ini gila dan harus dirawat di RS Jiwa!

Opsi kedua, para dokter akan mengunjungi saya di rumah, saya harus berkonsultasi terus-menerus dgn mereka dan saya harus mengkonsumsi obat khusus. Sama saja, artinya saya sudah gila dan harus diawasi terus…

Opsi ketiga, saya disuruh mereka untuk menuliskan apa saja mengenai Ainun, anggaplah saya bercerita dengan Ainun seolah ibu masih hidup.
Saya pilih opsi yang ketiga…

Dik, hari ini persis 600 hari saya ditinggal Ainun….dan hari ini persis 597 hari Garuda Indonesia menjemput dan memulangkan ibu Ainun dari Jerman ke tanah air Indonesia.

Saya tidak mau menyampaikan ucapan terima kasih melalui surat….. saya menunggu hari baik, berminggu-minggu dan berbulan-bulan untuk mencari momen yang tepat guna menyampaikan isi hati saya.

Hari ini didampingi anak saya Ilham dan keponakan saya, Adri maka saya, Habibie atas nama seluruh keluarga besar Habibie mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya, kalian, Garuda Indonesia telah mengirimkan sebuah Boeing B747-400 untuk menjemput kami di Jerman dan memulangkan ibu Ainun ke tanah air bahkan memakamkannya di Taman Makam Pahlawan. Sungguh suatu kehormatan besar bagi kami sekeluarga. Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih atas bantuan Garuda Indonesia.

Seluruh hadirin terhenyak dan tak kuasa lagi membendung air mata……

(sumber:khozanah.wordpress.com)

KETIADAAN IMAN

KETIADAAN IMAN

Seorang profesor yang Atheis berbicara dalam sebuah kelas fisika.

Profesor: "Apakah Allah menciptakan segala yang ada?"

Para mahasiswa: "Betul! Dia pencipta segalanya."

Profesor: "Jika Allah menciptakan segalanya, berarti Allah juga menciptakan kejahatan."

(Semua terdiam dan agak kesulitan menjawab hipotesis profesor itu).

Tiba-tiba suara seorang mahasiswa memecah kesunyian.

Mahasiswa: "Prof! Saya ingin bertanya. Apakah dingin itu ada?"

Profesor: "Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada."

Mahasiswa: "Prof! Dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin sebenarnya adalah ketiadaan panas.

Suhu -460 derajat Fahrenheit adalah ketiadaan panas sama sekali. Semua partikel menjadi diam. Tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut.

Kita menciptakan kata 'dingin' untuk mengungkapkan ketiadaan panas.

Selanjutnya! Apakah gelap itu ada?"

Profesor: "Tentu saja ada!"

Mahasiswa: "Anda salah lagi Prof! Gelap juga tidak ada.

Gelap adalah keadaan di mana tiada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari. Sedangkan gelap tidak bisa.

Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk mengurai cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari panjang gelombang setiap warna.

Tapi! Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur melalui berapa besar intensitas cahaya di ruangan itu.

Kata 'gelap' dipakai manusia untuk menggambarkan ketiadaan cahaya.

Jadi! Apakah kejahatan, kemaksiatan itu ada?"

Profesor mulai bimbang tapi menjawab juga: "Tentu saja ada."

Mahasiswa: "Sekali lagi anda salah Prof! Kejahatan itu tidak ada. Allah tidak menciptakan kejahatan atau kemaksiatan. Seperti dingin dan gelap juga.

Kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk menggambarkan ketiadaan Allah dalam dirinya.

Kejahatan adalah hasil dari tidak hadirnya Allah dalam hati manusia."

Profesor terpaku dan terdiam!

_Dosa terjadi karena manusia lupa menghadirkan Allah dalam hatinya.._

*Hadirkan Allah dalam hati kita setiap saat, maka akan selamatlah kita..*

Itulah _*IMAN..*_

_*SESUNGGUHNYA DOSA ITU LAHIR SAAT IMAN TIDAK HADIR DALAM HATI KITA.*_

14/06/2016

Penggalan Peristiwa Ansor Jombang Ketika NU Kembali ke Khittah

Tadarus Sejarah Ansor  #2



            Bertemu dengan sesepuh Ansor adalah peristiwa istimewa bagiku, dari beliau-beliau itu aku selalu bertanya tentang Ansor di Jombang pada masanya. Aku terkadang tidak perduli kalau dibilang cerewet dan sok ingin tahu, kenyataannya beliau-beliau itu malah bercerita dengan suka ria.
            Salah satu kesempatan yang datang adalah, ketika momen Safari Ramadhan yang diselenggarakan oleh PAC Ansor Jombang Kota, di Dusun Banjarkerep, Desa Banjardowo, Selasa, 14/6/2016.  Waktu itu acara sudah dimulai, bacaan tahlil sebagai pembuka acara pun sudah rampung. Dari jalan depan Masjid Nurul Jannah, tempat penyelanggaraan safari, datang seorang lelaki berjenggot panjang yang sudah memutih, serta mengenakan setelan kemeja dan sarung biru. H. Masrur sebagai protokol acara spontan menyapanya, dalam keadaan tangan masih memegang mikrofon. “Hai Cak Sulkhan, wah ini pendekarnya NU ini” begitu sapanya dengan nada akrab.
            Sepintas lalu H. Masrur mengenalkan bahwa Mbah Sulkhan, yang disapanya dengan panggilan Cak itu adalah senior yang menggeretnya ke Ansor. Saya suprais mendengarnya. Lalu setelah sambutan dari ta’mir dan Ketua PAC Ansor Jombang Kota, H. Masrur pun kemudian memberi waktu kepada beliau untuk juga memberikan sambutan. Dari materi yang disampaikannya, terdengar berbobot, “pasti ini bukan kader sembarangan,” pikirku.
            Setelah acara seremonial usai, kami terlibat obrolan santai. Secara kebetulan Mbah Sulkhan duduk bersebelahan denganku. “Njenengan aktif di Ansor tahun berapa?” tanyaku. Beliau menjawab tahun 1986 masuk di Cabang. Titi mangsa ini kemudian diperkuat dengan pengakuan H. Masrur yang di ajak masuk ke kepengurusan cabang oleh Mbah Sulkhan pada tahun 1986. “Saya ini termasuk anak muda yang masih nyambung dengan orang tua-tua (kader Ansor generasi tua, Pen),” Terang H. Masrur. Sejenak kemudian H. Masur melanjutkan ceritanya, “Dulu Ketua Ansornya Pak Tajul Arifin, beliau ini Sekretarisnya, lha saya bagian ngetik surat, sekaligus yang mengantarkannya.” Mmm..., pantas omongannya lumayan berbobot, batinku, wong mantan sekretaris cabang.
            “Dulu pada masa saya, Mojoagung terasa dekat,” Kata Mbah Sulkhan. Kenapa bisa demikian, karena ada teman dari Mojoagung yang mengajar di SMPN 4, yang kebetulan berada di kawasan Desa Banjardowo. Sehingga kalau ada apa-apa tinggal titip surat ke Mojoagung. Perlu diketahui bahwa Pak Tajul, Ketua Ansor Jombang terhitung sejak 1984, rumahnya di Mojoagung. Selain itu kalau dibutuhkan bertemu, naik sepedah ontel pun terasa ringan.
            Masa kepengurusan Pak Tajul inilah disebut-sebut sebagai masa baru. Setelah saya tanya, kenapa? Jawabnya, karena masa ini adalah masa transisi ketika NU mencanangkan kembali ke khittah. Memang pada muktamar NU ke-27 tahun 1984, secara resmi NU kembali ke Khittah 1926, ditandai dengan keluarnya  NU dari PPP. “Sebelum Pak Tajul juga ada kepengurusan Ansor, Ketuanya dijabat Pak Hafidz Maksum,” jelas Mbah Sulkhan.
            Peristiwa kembalinya NU ke khittah ini ternyata membawa konsekwensi yang tidak ringan, karena memunculkan dua friksi di tubuh NU, termasuk Ansor di dalamnya. Ada yang pro terhadap khittah, dan ada yang tidak setuju khittah. Yang tidak setuju khittah tetap bertahan di PPP. Akibatnya, untuk menjadi pengurus Ansor pun harus melewati pemilihan yang sangat ketat, karena di dalam Ansor Jombang sendiri juga mancul dua friksi tersebut.
“Dulu untuk menjadi wakil ketua pun harus dipilih.”
“Maksudnya?, dipilih sebagaimana memilih ketua begitu?” tanyaku penasaran.
“Iya. Jadi yang duduk di kepengurusan harian, semuanya dipilih.”
“Dulu kalau kita punya jago yang gak lolos menjadi sekretaris, kita jagokan lagi menjadi wakil ketua, ha ha ha.” H. Masrur menambahkan.
Ooo..., jadi ini yang di maksud Mbah Sulkhan dalam sambutannya tadi, bahwa Ansor selalui mengiringi perkembangan negeri ini, termasuk perkembangan politik.  Barangkali inilah takdir politik Ansor. Namun menurut beliau, walaupun kader-kader Ansor masa itu selalu berbeda cara pikir, karena berbeda orientasi politik, tapi mudah untuk ketemu dan menyatu kembali.
Saya sebenarnya masih ingin tanya lebih banyak lagi, tapi waktu kami terbatas, adzan magrib sudah berkumandang sejak beberapa menit lalu, sedangkan Mbah Sulkhan belum sempat merokok, dari dalam masjid sepertinya muadzin sudah siap-siap qomat. Walhasil, lelaki yang juga pernah menjadi Komandan Banser pada masa Kepemimpinan Gus Fad, yang menjadi pentolan pasukan berani mati waktu di berangkatkan ke Jakarta ini, menyempat-nyempatkan merokok walau sak sedotan. Hemmm, Banser memang berani mati, tapi gak berani kalau rokoknya sampai mati. Hehe.

M. Fathoni Mahsun
Kader Ansor Jombang

Safari Ramadhan, Menjalin Kedekatan dengan Masyarakat dan Pemerintah Desa


 Abi Wildan

                Safari Ramadhan bukan saja menjadi kegiatan seremonial untuk mengisi  kegiatan ramadhan, tapi lebih dari itu bisa didayagunakan menjadi kegiatan yang lebih  strategis, yaitu untuk menjalin kedekatan dengan masyarakat dan pemerintah Desa. Setidaknya itulah yang menjadi target safari ramadhan PAC Ansor Jombang Kota.
                Hal tersebut tercermin dari tamu undangan yang didatangkan. “Kami mengundang bukan saja anggota Ansor di tingkat ranting, tapi juga seluruh elemen masyarakat, mulai  pemerintah desa, pengurus NU, pengurus Muslimat, Pengurus Fatayat, Pengurus IPNU-IPPNU, sampai jama’ah masjid.” Ungkap M. Fathoni Mahsun, Ketua PAC Ansor Jombang Kota.
Kegiatan yang difokuskan pada minggu kedua bulan ramadhan tersebut rencanannya akan mengunjungi empat ranting, dengan putaran pertama diselenggarakan di Ranting Jabon pada Ahad, 12/6/2016. Berturut-turut putaran selanjutnya akan mengunjungi Ranting Banjardowo, Ranting Plosogeneng, dan Ranting Mojongapit.
Dalam melakukan safarinya, PAC Ansor Jombang Kota membidik momen buka puasa bersama, bukan momen tarawih keliling, karena momen ini biasa dilakukan oleh pengurus NU dan Pemerintah Kabupaten Jombang. Sebelum buka bersama, dilaksanakan kegiatan seremonial sebagaimana yang diperlukan.
Dalam sambutannya, Ketua PAC Ansor Jombang Kota, M. Fathoni Mahsun mengatakan bahwa kepengurusannya sudah lama ingin bersilaturahmi ke ranting-ranting, namun selama ini belum sempat terealisir, oleh karenannya momen ramadhan kali ini menjadi momen yang tepat untuk merealisasikannya. “Kami mengunjungi empat desa sesuai dengan penjuru mata angin, selatan diwakili Jabon, barat diwakili Banjardowo, utara diwakili Plosogeneng, dan timur diwakili Mojongapit,” ungkapnya.
Sementara itu, dalam kegiatan yang dibuka dengan penampilan alunan shalawat al-Banjari yang dibawakan oleh remaja setempat ini, Kepala Desa juga berkesempatan hadir. Kepala Desa yang juga mantan pengurus KNPI Jombang itu juga memberikan dorongan sepenuhnya terhadap segala kegiatan Ansor yang diselenggarakan di desanya. “Kalau Ansor tidak bisa memanfaatkan kepala Desa Jabon, ya salahnya sendiri.” Begitu Kata Eko Wahyudi, Kepala Desa Jabon.
Dalam kegiatan yang dihadiri oleh sekitar seratus undangan tersebut, Kepala Desa yang selalu mengenakan kacamata ini menekankan juga siap apabila dimintai sokongan dana. Apalagi saat ini di Jombang Dana Desa (DD) dan Aliran Dana Desa (ADD) sedang masa pencairan tahap satu. “Nanti kami juga akan minta dua orang dari Ansor untuk masuk tim jejaring kesehatan desa yang akan bekerjasama dengan RSUD Jombang,” pungkasnya.
Dalam kesempatan yang sama, ketua Tanfidziyah Ranting Jabon, H. Harley mengatakan agar Ansor turut serta secara aktif ikut menjaga tradisi ke-NU-an yang selama ini berkembang di masyarakat. “Sebab saat ini semakin berkembang pihak-pihak yang membid’ah-bid’ahkan tahlilan, diba’an, manaqiban, dan lain-lain,” terangnya.

12/06/2016

Yahudi adalah Wahabi, Wahabi adalah Yahudi

Jika orang memahami sejarah ini yang sebenarnya amat panjang.. maka ia akan berfikir bahwa ' HIJAZ YANG DULU BUKAN YANG SEKARANG, CARA PEMIMPIN YANG DULU BUKAN YANG SEKARANG'

Oleh Von Edison Alouisci

Anda mesti tahu.. mulai masa Rasulullah.. sahabat.. tabiin.. tabiun.. kekhalifahan berikutnya.. setelah sahabat.. yang namanya Makam Suhada perang Uhud (al baqi yang sering di ziarahi nabi) dan beberapa bangunan bersejarah.. TIDAK ADA YANG HANCUR bahkan dijaga dengan baik.
Begitu.. Ibnu saud jadi raja..muhammad bin abdul wahab jadi imam wahabi salafi.. maka semuanya hancur ! berganti dengan bangunan bangunan modern diatas fakta sejarah keemasan islam.. hanya dengan yel yel syirik.. bid`ah dan kafir.
jika emang berpontesi demikian kenapa tidak hancurkan saja sekalian gunung,lautan, gua gua..
macam gua hira ?? bukan kah berpotensi syirik ?? bagiku wahabi itu "hama Tikus perusak tanaman"


Lenyapnya Dzurriyah Rosul Sebagai Khalifah

Oleh Von Edison Alouisci

Dalam silsilah resmi kerajaan Saudi Arabia disebutkan, bahwa Dinasti Saudi Arabia bermula
sejak abad ke dua belas Hijriyah atau abad ke delapan belas Masehi. Ketika itu, di jantung Jazirah
Arabia, tepatnya di wilayah Najd yang secara historis sangat terkenal, lahirlah Negara Saudi yang pertama yang didirikan oleh Imam Muhammad bin Saud di “Ad- Dir’iyah”, terletak di sebelah barat laut kota Riyadh pada tahun 1175 H./1744 M., dan meliputi hampir sebagian besar wilayah Jazirah Arabia.
Negara ini mengaku memikul tanggung jawab dakwah menuju kemurnian Tauhid kepada Allah
Tabaraka wa Ta’ala, mencegah prilaku bid’ah dan khurafat, kembali kepada ajaran para Salafus Shalih dan berpegang teguh kepada dasar-dasar agama Islam yang lurus.

Periode awal Negara Saudi Arabia ini berakhir pada tahun 1233 H./1818 M.

Periode kedua dimulai ketika Imam Faisal bin Turki mendirikan Negara Saudi kedua pada tahun 1240 H./1824 M.
Periode ini berlangsung hingga tahun 1309 H/1891 M. Pada tahun 1319 H/1902 M, Raja Abdul Aziz berhasil mengembalikan kejayaan kerajaan para pendahulunya, ketika beliau merebut kembali kota Riyad yang merupakan ibukota bersejarah kerajaan ini.
Semenjak itulah Raja Abdul Aziz mulai bekerja dan membangun serta mewujudkan kesatuan sebuah wilayah terbesar dalam sejarah Arab modern, yaitu ketika berhasil mengembalikan suasana keamanan dan ketenteraman ke bagian terbesar wilayah Jazirah Arabia, serta menyatukan seluruh wilayahnya yang luas ke dalam sebuah negara modern yang kuat yang dikenal dengan nama Kerajaan Saudi Arabia.
Penyatuan dengan nama ini, yang dideklarasikan pada tahun 1351 H/1932 M, merupakan dimulainya fase baru sejarah Arab modern.
Raja Abdul Aziz Al-Saud pada saat itu menegaskan kembali komitmen para pendahulunya, raja-raja dinasti Saud, untuk selalu berpegang teguh pada prinsip-prinsip Syariah Islam, menebar keamanan dan ketenteraman ke seluruh penjuru negeri kerajaan yang sangat luas, mengamankan perjalanan haji ke Baitullah, memberikan perhatian kepada ilmu dan para ulama, dan membangun hubungan luar negeri untuk merealisasikan tujuan-tujuan solidaritas Islam dan memperkuat tali persaudaraan di antara seluruh bangsa arab dan kaum Muslimin serta sikap saling memahami dan menghormati dengan seluruh masyarakat dunia.
Di atas prinsip inilah, para putra beliau sesudahnya mengikuti jejak-langkahnya dalam memimpin
Kerajaan Saudi Arabia. Mereka adalah: Raja Saud, Raja Faisal, Raja Khalid, Raja Fahd, dan Pelayan Dua Kota Suci Raja Abdullah bin Abdul Aziz.

IBNU SAUD BERASAL DARI KELUARGA YAHUDI
Kronologi sejarah awal keluarga ibnu saud :
Di masa yang jauh sebelumnya, di Najd tahun 851 H Sekumpulan pria dari Bani Al Masalikh, yaitu trah dari Kaum Anza, yang membentuk sebuah kelompok dagang (korporasi) yang bergerak di bidang bisnis gandum dan jagung dan bahan makananan lain dari Irak, dan membawanya kembali ke Najd. Direktur korporasi ini bernama Sahmi bin Hathlool. Kelompok dagang ini melakukan aktifitas bisnis mereka sampai ke Basra, di sana mereka berjumpa dengan seorang
pedagang gandum Yahudi bernama Mordakhai bin Ibrahim bin Moshe, Ketika sedang terjadi proses tawar menawar, Si Yahudi itu bertanya kepada kafilah dagang itu. “Dari manakah anda berasal?” Mereka menjawab, ”Dari Kaum Anza, kami adalah keluarga Bani Al-Masalikh.” Setelah mendengar nama itu, orang Yahudi itu menjadi gembira, dan mengaku bahwa dirinya juga berasal dari kaum keluarga yang sama, tetapi terpaksa tinggal di Bashra, Irak. Karena persengketaan keluarga antara bapaknya dan ahli keluarga kaum Anza.
Setelah itu, Mordakhai kemudian menyuruh budaknya untuk menaikkan keranjang-keranjang
berisi gandum, kurma dan makanan lain ke atas pundak unta-unta milik kabilah itu. Hal ini adalah
sebuah ungkapan penghormatan bagi para saudagar Bani Al Masalikh itu, dan menunjukkan kegembiraannya karena berjumpa saudara tuanya di Irak. Bagi pedagang Yahudi itu, para kafilah dagang merupakan sumber pendapatan, dan relasi bisnis.
Mardakhai adalah saudagar kaya raya yang sejatinya adalah keturunan Yahudi yang bersembunyi di balik roman wajah Arab dari kabilah Al-Masalikh.
Ketika rombongan itu hendak bertolak ke Najd, saudagar Yahudi itu minta diizinkan untuk ikut
bersama mereka, kerana sudah lama dia ingin pergi ke tanah asal mereka Najd. Setelah mendengar
permintaan lelaki Yahudi itu, kafilah dagang suku Anza itu pun amat berbesar hati dan menyambutnya dengan gembira.
Pedagang Yahudi yang sedang taqiyyah alias nyamar itu tiba di Najd dengan pedati-pedatinya. Di Najd, dia mulai melancarkan aksi propaganda tentang sejatinya siapa dirinya melalui sahabat-sahabat, kolega dagang dan teman barunya dari keturunan Bani Al-Masalikh tadi. Setelah itu, disekitar Mordakhai, berkumpullah para pendukung dan penduduk Najd. Tetapi tanpa disangka, dia berhadapan dengan seorang ulama yang menentang doktrin dan fahamnya. Dialah Syaikh Shaleh Salman Abdullah Al-Tamimi, seorang ulama kharimatik dari distrik Al-Qasem. Daerah-daerah yang menjadi lokasi disseminasi dakwahnya sepanjang distrik Najd, Yaman, dan Hijaz.
Oleh karena suatu alasan tertentu, si Yahudi Mordakhai itu -yang menurunkan Keluarga Saud itu-
berpindah dari Al Qasem ke Al Ihsa. Di sana, dia merubah namanya dari Mordakhai menjadi Markhan bin Ibrahim Musa. Kemudian dia pindah dan menitip di sebuah tempat bernama Dir’iya yang berdekatan dengan Al-Qateef. Di sana, dia memaklumatkan propaganda dustanya, bahwa perisai Nabi Saw telah direbut sebagai barang rampasan oleh seorang pagan (musyrikin) pada waktu Perang Uhud antara Arab Musyrikin dan Kaum Muslimin. Katanya, “Perisai itu telah dijual oleh Arab musyrikin kepada kabilah kaum Yahudi bernama Banu Qunaiqa’ yang menyimpannya sebagai harta karun.”
Selanjutnya dia mengukuhkan lagi posisinya di kalangan Arab Badwi melalui cerita-cerita dusta yang menyatakan bagaimana Kaum Yahudi di Tanah Arab sangat berpengaruh dan berhak mendapatkan penghormatan tinggi Akhirnya, dia diberi suatu rumah untuk menetap di Dlir’iya, yang berdekatan Al- Qatef. Dia berkeinginan mengembangkan daerah ini sebagai pusat Teluk Persia. Dia kemudian mendapatkan ide untuk menjadikannya sebagai tapak atau batu loncatan guna mendirikan kerajaan Yahudi di tanah Arab. Untuk memuluskan cita-citanya itu, dia mendekati kaum Arab Badwi untuk menguatkan posisinya, kemudian secara perlahan, dia mensohorkan dirinya sebagai raja kepada mereka.
Kabilah Ajaman dan Kabilah Bani Khaled, yang merupakan penduduk asli Dlir’iya menjadi risau akan sepak terjang dan rencana busuk keturunan Yahudi itu. Mereka berencana menantang untuk berdebat dan bahkan ingin mengakhiri hidupnya. Mereka menangkap saudagar Yahudi itu dan menawannya, namun berhasil meloloskan diri.
Saudagar keturunan Yahudi bernama Mordakhai itu mencari suaka di sebuah ladang bernama Al-Malibed Gushaiba yang berdekatan dengan Al Arid, sekarang bernama Riyadh. Disana dia meminta suaka kepada pemilik kebun tersebut untuk menyembunyikan dan melindunginya. Tuan kebun itu sangat simpati lalu memberikannya tempat untuk berlindung. Tetapi tidak sampai sebulan tinggal di rumah pemilik kebun, kemudian Yahudi itu secara biadab membantai tuan pelindungnya bersama seluruh keluarganya.
Sungguh bengis, air susu dibalas dengan air aki campur tuba. Mordakhai memang pandai beralibi,
dia katakan bahwa mereka semua telah dibunuh oleh pencuri yang menggarong rumahnya. Dia juga berpura-pura bahwa dia telah membeli kebun tersebut dari tuan tanah sebelum terjadinya
pembantaian tersebut. Setelah merampas tanah tersebut, dia menamakannya Al-Dlir’iya, sebuah
nama yang sama dengan tempat darimana ia terusir dan sudah ditinggalkannya.
Keturunan Yahudi bernama Mordakhai itu dengan cepat mendirikan sebuah markas dan ajang
rendezvous bernama “Madaffa” di atas tanah yang dirampasnya itu. Di markas ini dia mengumpulkan para pendekar dan jawara propaganda (kaum munafik) yang selanjutnya mereka menjadi ujung tombak propaganda dustanya. Mereka mengatakan bahwa Mordakhai adalah Syaikh-nya orang-orang keturunan Arab yang disegani. Dia menabuh genderang perang terhadap Syaiikh Shaleh Salman Abdulla Al-Tamimi, musuh tradisinya. Akhirnya, Syeikh Shaleh Salman terbunuh di tangan anak buah Mordakhai di Masjid Al-Zalafi.
Mordakhai berhasil dan puas hati dengan aksi aksinya. Dia berhasil menjadikan Dlir’iya sebagai
pusat kekuasaannya. Di tempat ini, dia mengamalkan poligami, mengawini puluhan gadis, melahirkan banyak anak yang kemudian dia beri nama dengan nama-nama Arab.
Walhasil, kaum kerabatnya semakin bertambah dan berhasil menghegemoni daerah Dlir’iya di bawah bendera Dinasti Saud. Mereka acapkali melakukan tindak kriminal, menggalang beragam konspirasi untuk menguasai semenanjung Arab. Mereka melakukan aksi perampasan dan penggarongan tanah dan ladang penduduk setempat, membunuh setiap orang yang mencoba menentang rencana jahat mereka. Dengan beragam cara dan muslihat mereka melancarkan aksinya. Memberikan suap, memberikan iming-iming wanita dan gratifikasi uang kepada para pejabat berpengaruh di kawasan itu.
Bahkan, mereka “menutup mulut” dan “membelenggu tangan” para sejarawan yang mencoba menyingkap sejarah hitam dan merunut asal garis trah keturunan mereka kepada kabilah Rabi’a, Anza dan Al-Masalikh.
Seorang sejarawan hipokrit “si raja bohong” bernama Mohammad Amin al-Tamimi, Kepala perpustakaan Kerajaan Saudi, menulis garis silsilah keluarga Saudi dan menghubungkan silsilah
Moordakhai pada Nabi Muhammad Saw. Untuk kerja kotornya itu, dia dihadiahi uang sebesar 35 ribu pound Mesir dari Kedutaan Arab Saudi di Kairo, Mesir pada tahun 1362 H atau 1943 M yang
diserahkan secar simbolis kepada dubes Arab Saudi untuk Mesir, yang waktu itu dijabat oleh Ibrahim Al-Fadel.
Seperti yang telah disebutkan sebelum ini, keluarga Yahudi berasal dari Klan Saud (Moordakhai) mengamalkan ajaran poligami dengan mengawini ratusan wanita arab dan melahirkan banyak anak.
Hingga sekarang amalan poligami itu diteruskan praktiknya oleh anak keturunan. Poligami adalah
warisan yang harus dijaga dan diamalkan sebagaimana praktik kakek moyangnya!
Salah seorang anak Mordakhai bernama Al-Maqaran, di ‘arabkan’ dari keturunan Yahudi (Mack-Ren) dan mendapat anak bernama Mohamad dan seorang lagi bernama Saud, yang merupakan cikal bakal Dinasti Saud sekarang ini.
Dan inilah PERUBAHAN DARI SISTEM KE KHALIFAHAN KELUARGA KETURANAN NABI MENJADI KERAJAAN DINASTI YAHUDI ATAS NAMA ISLAM. DENGAN NAMA BARU "SAUDI ARABIA"


Beberapa kesaksian bahwa Keluarga Saud merupakan keturunan Yahudi:
Pada tahun 1960,”Sawt Al Arab”, sebuah stasiun TV di Kairo, Mesir dan satu stasiun TV Yaman di Sana`a telah mempublikasikan bahwa Keluarga Saudi adalah keturunan Yahudi.
Raja Faisal Al-Saud menyatakan bahwa “Kami Keluarga Saud adalah saudara Yahudi. Kami tidak
setuju dan menentang siapa saja dan para penguasa di Semenanjung Arab ini yang menunjukkan
pertentangan terhadap Yahudi. Kita mestilah hidup bersama mereka dengan kasih sayang. Negara kami (Arab Saudi) juga merupakan cikal bakal dari keturunan Yahudi dan keturunannya telah tersebar ke seluruh dunia. Ini merupakan deklarasi Raja Faisal Al-Saud bin Abdul Aziz.
Dan tidak heran Jika Mesir yang dulunya membela kekhalifahan berbalik membenci Dinasti saud dan wahabi salafi ini di ikrarkan dalam naskah al ahzar tahun 2010 bahwa dinasti saud dan paham paham wahabi adalah sebuah ancaman global Islam dan harus di tentang apapun caranya.

Intaha.