05/08/2016

Dholim

DHOLIM  
 Saat ceramah dalam kegiatan Jumat Bahagia IPNU-IPPNU di MTs Al-Hikmah Janti Jogoroto (3/6/2016), Wakil Ketua PCNU yang juga pengasuh Pesantren Al Aqobah Diwek, Jombang KH Junaidi Hidayat minta agar sekolah tak terlalu manut pemerintah. ’’Pemerintah itu tidak pernah yakin bahwa sistem yang diterapkannya sepenuhnya bagus seratus persen. Makanya sistemnya selalu berubah-ubah. Lha sistem ora bener kok dianut nemen-nemen,’’ katanya.   Dia berharap, sekolah berani mengembangkan sistemnya sendiri. Sesuai potensi dan keunggulan masing-masing. ’’Pak Makhi (kepala MTs Al Hikmah), ambil dari pemerintah sekedarnya saja.  Selebihnya berkreasi sendiri, kembangkan sesuai potensi yang dimiliki,’’ paparnya.   Jika manut pemerintah, semua anak harus pintar mata pelajaran ujian nasional seperti matematika, IPA dan bahasa Inggris. ’’Anak yang tidak menguasai itu dianggap bodoh. Padahal setiap anak punya kelebihan masing-masing,’’ jelasnya.   Jika manut itu, selamanya anak MTs akan dianggap bodoh. Karena tak mungkin bersaing dalam ketiga mata pelajaran itu. ’’Anak autis itu kan IQ nya sangat rendah. Tapi dibawah pembinaan seorang tokoh pendidikan, anak itu bisa muncul potensi terbaiknya,’’ jelasnya. Ada anak autis yang sekali lihat sudah bisa membuat sketsa semua orang yang ditemui. Ada pula anak autis yang setelah dididik mampu menghapal ribuan lagu dalam waktu singkat. ’’Dengan pendidikan yang baik, sesuai potensinya, anak autis saja bisa jadi seperti itu. Apalagi anak normal,’’ paparnya.   Selama ini, anak  menganggap sekolah seperti penjara karena mereka dipaksa menekuni hal-hal yang tidak sesuai minat, potensi dan bakatnya. ’’Buktinya, mereka senang luar biasa kalau libur. Pendidikan yang baik, mestinya membuat siswa nyaman dan krasan. Sehingga ketika keluar, anak menangis karena tak rela pisah,’’ jelasnya.   Tugas sekolah, kata Pak Jun, memfasilitasi dan mengembangkan potensi, minat dan bakat siswa tersebut. ’’Sebab dari ujung kaki sampai rambut ini punya potensi,’’ bebernya. Mulut jika ditekuni bisa jadi penceramah. Tangan jika ditekuni bisa jadi penulis. ’’Kakinya pemain sepak bola itu nilainya berapa miliar,’’ ucapnya.   Agar potensi, minat dan bakat itu berkembang, sekolah harus sering memfasilitasi siswa gelar karya. ’’Wali murid saat menyaksikan perpisahan anak TK gembira karena ada pentas anaknya. Anak juga senang karena tampil dihadapan orang tua. Giliran perpisahan SMP dan SMA, tidak lagi ceria karena tak ada unjuk kemampuan siswa,’’ ujarnya.   Pada kesempatan itu, Pak Jun juga tidak setuju sekolah melakukan seleksi penerimaan siswa baru. ’’Pilih-pilih siswa itu zolim, tidak boleh. Tujuan siswa sekolah atau mondok itu untuk belajar. Lha kalau yang bodoh tak boleh sekolah atau mondok, itu kan keliru. Kalau menolak siswa karena kapasitas tak cukup tidak apa-apa. Tapi kalau menolak siswa karena bodoh, itu zolim,’’ tandasnya.    Alhamdulillah dapat ilmu banyak dari Jumat Bahagia IPNU IPPNU Jombang. Jumat Bahagia (5/8/2016) sekarang dilaksanakan di SMA 2 Darul Ulum tepatnya di masjid Al Islah Tapen Kudu..

04/08/2016

KONFLIK

 KONFLIK 
Saat disowani Selasa (19/7/2016), salah satu pengasuh Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Gus Rozak, pesan agar tidak mudah gumun dan kaget dengan konflik yang melanda umat Islam. "Sebab Rosulullah pernah minta tiga hal kepada Allah," tutur Gus yang juga pengembang perumahan di Kauman Ngoro Jombang dan ternak ratusan ribu ayam di Kediri ini. Pertama, Nabi minta agar umatnya tidak diazab sampai habis seperti umat Nabi Nuh. Doa ini dikabulkan. Kedua, Nabi minta agar umatnya tidak ada yang mati karena kelaparan seperti saat paceklik 7th di Mesir zaman Nabi Yusuf. Doa ini dikabulkan. Ketiga, Nabi minta agar umatnya tidak didera konflik. Doa ini tidak dikabulkan. Allah memang tidak menghendaki dunia dihuni satu macam umat. QS Almaidah 48 dan QS Annahl 93. Gak ada konflik, gak asyik. Namun Allah memerintahkan untuk tidak bercerai berai. QS Ali Imron 103. Jadi walaupun tidak bisa bersatu, walaupun konflik, kalau bisa tidak usah ngelokno apalagi mengkafirkan. Sebab ketika ngelokno, pasti ada perasaan merasa lebih baik. Merasa lebih Islam. Merasa lebih baik dari yang lain, itu gaya iblis sehingga tak mau sujud pada Adam.. Wong jowo bilang: ojo alok, mergo alok iku melok. Ojo geting, mergo geting iku nyanding. Tepat yang disampaikan Mas Rijal, wasek PCNU saat refleksi setahun muktamar NU yang diadakan PAC GP Ansor Jombang kota di musola Alfalah, Rabu (3/8/2016). Dia menyampaikan kaidah dalam Asbah wan nadoir. Al amru idza ittasa'a doko. Idza doko ittasa'a. Perkara itu ketika longgar dipersempit. Ketika sempit diperlonggar. Ketika gada konflik diciptakan konflik. Ketika ada konflik didamaikan. Dalam konteks malam jumat, Ketika terlalu sempit diberi pelumas. Ketika terlalu longgar dijamuni sari rapet..
Rojif)


NGEMPET NGAPURO NGAPIKI

NGEMPET NGAPURO NGAPIKI 
 Saat mengisi pengajian Tamassaktum Minggu malam di Masjid Agung Baitul Mukminin Jombang (31/7/2016), KH Lukman Hakim berharap agar setelah Ramadan ada peningkatan ibadah dan takwa. Tanda takwa itu sendiri ada empat. Sebagaimana disebut dalam QS Ali Imron 133-134. Bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. Yaitu orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit[1], dan orang-orang yang menahan amarahnya[2] dan mema’afkan (kesalahan) orang lain[3]. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan[4].   ’’Gampangnya, ngempet, ngapuro dan ngapiki,’’ tuturnya.   Dia lantas bercerita, suatu ketika, Imam Hasan Albasri pernah dirasani orang. Lalu ada yang melaporkan hal itu kepada Imam Hasan. Imam Hasan lantas mengambil sekeranjang kurma. Kemudian menitipkannya kepada si pelapor agar diberikan kepada orang yang ngerasani. ’’Sampaikan terima kasihku kepadanya karena dia telah mengambil dosa-dosaku,’’ ucap Imam Hasan. Itulah yang disebut ngapiki. Sebab orang yang ngerasani hakikatnya mengambil dosa-dosa orang yang dirasani. Jadi mestinya harus berterimakasih.   ’’Kalau kita ngapiki, maka pasti disenengi,’’ bebernya. Nah, untuk hubungan dengan Allah, agar dekat, maka kita harus melaksanakan hal-hal yang wajib. ’’Itu untuk dekat. Tapi untuk disenengi Allah, kita harus menambah dengan amalan-amalan sunah," sarannya. Paginya, saat rutinan ahad pahing MWC NU Jombang kota di masjid Alhikmah Sengon, pengasuh PP Sunan Ampel KH Taufiqurahman Muchid pesan agar tidak meninggalkan shalat sunah rawatib minimal 10 rakaat. "Dua rakaat sebelum subuh, sebelum duhur, setelah duhur, setelah magrib dan setelah isya. Iku dilakoni ben ringan hisabe," tuturnya. Sebagai bentuk peningkatan ibadah, KH Sahal Afhami saat ngaji habis magrib di masjid Alfattah Nglundo utara Desa Candimulyo Selasa (2/8/2016) berpesan agar berupaya menangi takbirotul ihrom imam saat jamaah salat fardu. "Sebab disini banyak fadilahnya," ucapnya. Yakni diganjar seperti haji dan umroh tujuh kali. Setiap rakaat seperti ibadah satu tahun. Juga diganjar sedekah emas sebesar gunung uhud. Kemudian kelak masur surga tanpa hisab.
 (Rojif)




01/08/2016

ZAKAT TAAWUN

ZAKAT TAAWUN 
Saat ngaji dalam halal bihalal dan rutinan naharul ijtima ahad pahing MWC NU Jombang kota di Masjid Al Hikmah Desa Sengon (31/7/2016), H Rohmad Chusaini menerangkan soal sedekah. "Sedekah niku enak Bu," kata wakil rois syuriah bidang ekonomi ini. Sampai-sampai, orang yang sudah mati ingin hidup lagi hanya untuk bersedekah. Sebagaimana disebut dalam QS Almunafiqun 10. "Di akhirat nanti semua orang kepanasan. Yang bisa dipakai payung adalah apa yang disedekahkan," kata pemilik toko pakaian Egro di jl Kusuma Bangsa no 10 ini. "Semakin besar payungnya maka semakin bisa melindungi dari panas. Sebaliknya, kalau orangnya besar, tapi payungnya kecil seperti yang dipakai kemidi bedes (topeng monyet) pasti tak akan bisa melindungi," tambah pria yang mempelopori arisan taawun dan zakat taawun ini. "Untuk desa Sengon saya siapkan dua paket arisan taawun masing-masing Rp 6juta. Jika kelompoknya sudah siap, bisa matur Ust Imam Mawardi (ketua ranting NU) lalu ambil uangnya ke saya," paparnya.. Ketua MWC NU, KH Asyharun Nur menjelaskan, dari 20 ranting yang ada, semua sudah diberi zakat taawun. Tiap paket Rp 6 juta untuk satu kelompok yang anggotanya sekitar 40 orang. Dibuat list mulai yang paling miskin. Rp 6 juta itu lantas diberikan kepada 20 orang yang paling miskin @ Rp 300 ribu. Selanjutnya, 20 orang itu diwajibkan sedekah seribu per hari. Dikumpulkan tiap pertemuan. Dari 20 orang itu, 15 hari sudah terkumpul Rp 300 ribu. Ini diberikan pada anggota ke 21. Selanjutnya, orang ke 21 ini mulai ikut sedekah seribu per hari. So, 15 hari terkumpul Rp 315 ribu. Yg 300 ribu diberikn anggota ke 22, yg Rp 15 ribu disimpan.. Selanjutnya anggota ke 22 mulai ikut sedekah seribu perhari. Anggota yg sudah terima Rp 300 ribu diharuskn sedekah seribu per hari. Setelah anggota ke 40 menerima Rp 300ribu maka yang menerima kembali ke no 1. Demikian seterusnya sehingga terjadi pembiasaan sedekah seribu per hari. "Alhamdulillah semua kelompok jalan. Bahkan sudah ada yang muter beberapa kali," kata Kiai Harun.

31/07/2016

Refleksi Setahun Muktamar NU di Jombang: Dari AHWA Hingga Emper Toko



M. Fathoni Mahsun

 

Tak terasa sudah satu tahun berlalu perhelatan Muktamar NU di Jombang. Saat itu Muktamar yang diselenggarakan pada bulan syawal 1436 H atau bertepatan dengan 1-5 Agustus 2015, kesibukannya mulai terasa sejak akhir bulan puasa, dan memuncak sesaat setelah memasuki bulan syawal. Di Jombang ketika itu yang dipikirkan sudah bukan lebaran, tapi Muktamar. Saat ini hiruk pikuk seperti itu sudah tidak ada lagi, hanya kenangan yang mengendap.
Selain persiapan teknis di lapangan, jauh-jauh hari sudah beredar pemikiran yang akan digeber di waktu Muktamar, dua yang paling pokok adalah pemilihan dengan menggunakan sistem Ahlul Hal Wa al-Aqdi (AHWA) dan Islam Nusantara. Ahwa masih menyisakan polemik hingga saat ini, sedangkan Islam Nusantara menjadi gagasan yang terus berkembang.
Kita ingat bahwa pembahasan Ahwa sangat alot. Ahwa pembahasannya dilakukan di komisi organisasi, yang bertempat di Denanyar ini memunculkan perdebatan sengit, bahkan deadlock. Ketika dibawa ke forum pleno yang bertempat di alun-alun Jombang, mahluk tak bernyawa bernama Ahwa ini masih saja mengundang perdebatan yang berlarut-larut, bahkan nyaris tak ada ujung. Hingga akhirnya Rois Syuriah KH. Musthofa Bisri turun tangan.
Kyai yang mahir bersajak dan akrab dipanggil Gus Mus ini kemudian menyampaikan pidato yang menggetarkan itu “.....Mohon dengarkan saya, dengan hormat kalau perlu saya mencium kaki-kaki Anda semua agar mengikuti akhlakuk karimah, akhlak KH Hasyim Asy'ari dan pendahulu kita....”. Suasana gaduh sebagaimana diberitakan media masa ketika itu, langsung senyap, tidak ada lagi yang mendebat, tidak ada lagi yang bersitegang, yang ada malah cucuran air mata. Jika Gus Mus se-berkarisma itu, bagaimana dulu karisma Kyai Hasyim yang namanya disebut-sebut  Gus Mus itu ya....?
 Di luar urusan orang tua-tua yang penuh hiruk-pikuk demikian,  ada sekelompok anak muda yang juga menyelenggarakan “muktamar”, berjuluk Musyawarah Kaum Muda NU (KMNU). Bedanya, jika di muktamar orang tua-tua, forumnya gaduh, Musyawarah Kaum Muda NU ini berlangsung gayeng, walaupun dengan fasilitas seadanya, lesehan di atas karpet, serta beli kopi dan makan sendiri.
Peserta yang datang pun berasal dari berbagi daerah, mereka jauh-jauh hari memang sudah niat datang, bukan kebetulan mampir, dengan cara mendaftar secara online. Anak-anak muda ini juga mencoba membangun identitasnya sendiri dengan mengenakan kopyah, banyak juga yang mengenakan blangkon, serta dengan berbagai macam gayanya yang lain. Terlihat benar mereka ingin mengekspresikan Islam Nusantara. Barangkali mereka tidak saling mengenal, tapi mereka datang dengan satu pikiran “Bagaimana ber-NU di masa mendatang.”
Kyai Maimun Zubair dalam mauidhohnya mengatakan, bahwa Musyawarah KMNU ini mengingatkannya pada peristiwa di tahun 1934, saat terbentuknya Ansor Nahdlatul Oelama’ (ANO). “Dulu suasananya persis seperti ini, kalau orang tua-tua bikin tempat sendiri untuk melaksanakan acaranya, anak-anak muda ketika itu juga membuat tempat tersendiri.”
Menurut Kyai Maimun, Sebelum menjadi ANO dulu segala sesuatunya masih gabung dengan NU, tapi setelah jadi ANO, maka anak-anak muda itu membuat muktamar sendiri, sudah menjadi organisasi sendiri yang mandiri. Mbah Mun mengisyaratkan bahwa peristiwa  berkumpulnya anak-anak muda di Muktamar NU ke-33, bukan suatu kebetulan, bahwa ada hubungannya dengan peristiwa terbentuknya ANO di tahun ’34, yaitu bangkitnya generasi muda NU.
Peneguhan Islam Nusantara memang ekspresinya lebih terasa di forum anak-anak muda. Karena di forum anak-anak muda itu dibahas, bagaimana pergesekan NU dengan seni dan budaya, bagaimana pergesekan NU dengan IT dan media, sampai bagaimana NU bergesekan dengan politik dan kekuasaan. Mereka bahkan juga membuat buku khusus yang mengulas tentang Islam Nusantara.
Musyawarah KMNU senyatanya bukan satu-satunya forum ilmiyah nya anak-anak muda NU, tapi juga ada Kajian Aswaja (Kiswah). Para pembicara di forum Kiswah ini biasa disebut ustadz. Namun ketika mendengarkan paparan materinya di serambi masjid Tambak Beras, sepertinya kualitas keilmuannya sudah setaraf kyai, hanya karena usianya yang masih muda saja sehingga belum disebut kyai.
Selain itu, ada juga forum-forum bedah buku yang tersebar di empat pesantren dengan pembicara sekelas nasional dan internasional, seperti Martin Van Bruinessen, peneliti ke-Islaman asal Belanda, yang berbicara di Ponpes Al-Aziziyah Denanyar. Tidak hanya buku-buku yang di bedah di forum-forum, ada juga buku-buku dan majalah yang tidak dibedah tapi ditulis oleh kalangan NU dan dijajakan di bazar-bazar yang turut menguatkan nuansa intelektual di muktamar NU 33 tersebut. Bahkan penulis menemukan majalah yang dirilis sejak tahun 2012 oleh PP LAKPESDAM NU yang ‘sudah’ menurunkan edisi khusus tentang Islam Nusantara.
Tapi, Muktamar NU di Jombang tidak hanya tentang hal-hal besar semacam itu, namun juga terselip hal-hal unik yang luput dari pemberitaan media. Misalnya saja prihal Kyai-kyai yang “menyembunyikan diri”, mereka datang di Jombang, tapi mereka tidak mau orang tahu “persembunyiannya”. Walhasil, panitia, juga Banser yang berjaga, bahkan sampai Patwal tidak diperkenankan mengantarkan ke tempat “persembunyian” itu. Untuk menyempurnakan usaha menyembunyikan diri tersebut bahkan ada yang sampai mengganti plat nomor mobilnya,  dengan plat nomor Jombang.
Itulah kenangan Muktamar di Jombang, namun masalahnya Muktamar diselenggarakan bukan hanya untuk dikenang, tapi untuk mempersiapkan NU lima tahun ke depan. Tentang polemik Ahwa dan seputarnya, biarlah NU melakukan self healing-nya sendiri. NU mempunyai pengalaman cukup panjang untuk menyelesaikan problematikanya. Muktamar NU ke 33 ini mengindikasikan bahwa pimpinan NU di masa datang haruslah mempunyai kapasitas intelektual yang memadai.
Oh ya ada satu lagi kisah unik yang terlewat. Di luar sepengatahuan publik, pada suatu malam ada seorang kyai yang ingin mencari makan. Rumah-rumah makan yang enak-enak sudah disebut semua, tapi sang kyai tersebut malah justru menjatuhkan pilihan yang mengejutkan. Dia memilih mie goreng di emperan toko di bilangan Jalan Gus Dur. Saat malam toko-toko di jalanan tersebut memang tutup, dan jalanan pun lengang. Sehingga aktivitas ekonomi berganti menjadi jajanan kuliner.
           Tahukah Anda siapa kyai tersebut? Beliau adalah KH. Musthofa Bisri, ya..., beberapa waktu sebelum menyampaikan pidato yang menggetarkan tersebut, Gus Mus ngemper di pinggir jalan Gus Dur untuk menikmati mie goreng. Jalan itu dulunya bernama Jalan Merdeka. Ketika dirubah menjadi Jalan Gus Dur, Gus Mus pula yang diundang memberikan tausyiah. Pertanyaannya, apakah Gus Mus bisa menyampaikan pidato yang menggetarkan itu karena habis beli mie diemperan toko? Hehehe.

KECELE

 KECELEK
Saat ceramah di acara Diba Kubro Kecamatan Jogoroto yang digelar di TPQ Al Muhajirin Dusun Sumbersari Desa Sukosari Kecamatan Jogoroto, Jombang, Sabtu (23/7/2016), KH Saerozi Lamongan cerita soal tiga orang yang kecelik.   Pertama, orang ingin mulia dengan memperlihatkan kebaikan. ’’Orang yang ingin mulia dengan ngetok-ngetokno keapikane iku kecelik. Sebab keapikan iku lek diketokno ora nggarai apik. Justru nggarai elek,’’ tuturnya. Sebaliknya, keapikan kalau ditutupi, akan semakin kelihatan baik.   ’’Sampean kenalan karo wong. Sampean takoni jenenge sopo. Kok deweke jawab. Kulo almukarrom kiai haji Soleh. Yo malah diguyu. Kok ora ditambahi almarhum pisan,’’ ucapnya disambut tawa jamaah.   Pelok, isi buah mangga, kata Kiai Saerozi, jika ditanam di tanah dalam-dalam, justru akan menumbuhkan pohon dan buah. ’’Coba pelok iku delehen duwur mejo. Yo sido garing,’’ tambahnya.    ’’Makanya ada maqolah, kun ardun fi qodaminnas. Jadilah kamu bumi bagi kaki-kaki manusia,’’ tuturnya. ’’Bumi itu dibawah. Yo diinjak-injak. Yo diidoni. Tapi regane tambah suwi tambah larang. Padahal bumine ora lapo-lapo,’’ ucapnya kembali disambut ger-geran jamaah.   Makanya jika ngelakoni apik, sebaiknya disembunyikan atau ditutupi. ’’Attawadlu’u la tazidu illa rif’ah. Wong tawadlu akan semakin mulia,’’ ucapnya. ’’Orang yang berbuat baik dengan diketok-ketokno iku biasane gak eroh dalane berbuat apik. Utowo gak biasa ngelakoni apik,’’ jelasnya.   Kedua, orang yang ingin kaya dengan enggan bersedekah. ’’Bayangane duwek akeh iku lek disimpen. Iku kecelik. Duwek akeh iku lek disedekahno. Assodaqotu la tazidu illa kasron,’’ tuturnya.   Setiap malam, malaikat turun mendoakan orang-orang yang sedekah. Ya Allah, gantilah yang lebih banyak kepada orang-orang yang sedekah.   ’’Saya kemarin di Kediri ketemu MI yang setiap tahun gurune diberi motor. Saya tanya  kok iso ngunu,’’ kata Kiai Saerozi. Salah satu pengurus cerita, awalnya dia hanya beri satu motor. Lha kok rezekini tambah akeh tambah akeh. Akhire motor yang diberikan terus bertambah. ’’Kemarin yang dibagikan sudah 11 motor,’’ bebernya.   Uang, kata Kiai Saerozi, sejatinya adalah pembantu. ’’Kalau disedekahkan, uang itu hidup. Golekno pahala sing sedekah,’’ jelasnya. Misalnya uang itu dipakai mbayari guru ngaji. Maka orang yang sedekah dapat pahala ngajar ngaji tanpa susah payah ngajar ngaji. ’’Sebaliknya, kalau hanya disimpan, uang itu turu. Sampean seneng endi duwe pembantu turu karo pembantu sing kerjo?’’ ucap Kiai Saerozi.   Orang yang medit, kata Kiai Saerozi, sebenarnya luman. Sebab harta yang disimpannya, ketika meninggal, seluruhnya akan dinikmati pewarisnya.   Sebaliknya, orang yang suka sedekah, sebenarnya pelit. Karena semua yang disedekahkan, kelak akan ia nikmati sendiri di akhirat.   Ketiga, orang mengira bahwa jagoan adalah yang bisa mengalahkan semua musuh. ’’Iku kecelik. Sebab musuh sing dikalahno, duwe bolo, duwe konco, duwe keluarga. Masio kalah, koncone, bolone, keluargane pasti balas dendam. Musuhe tambah akeh,’’ tuturnya.   Menang yang sejati, kata Kiai Saerozi, adalah dengan memaafkan. ’’Al afwu la tazidu illa izzan. Memaafkan akan menambah kemenangan”.   ’’Musuh disepuro dadi bolo, dulur ora disepuro dadi musuh,’’ tegasnya. Misalnya musuhan dengan tetangga kanan rumah. Ora mau nyepuro. Maka lewat depan rumahnya pasti segan. Musuhan dengan tetangga kiri rumah. Ora mau nyepuro. Lewat di depannya pasti juga segan. ’’Akhire ngiri buntu, nganan yo buntu. Padahal asline ora buntu. Sing mbuntu atine dewe,’’ jelasnya.   Kalau punya musuh, mau ngapain juga pasti susah. ’’Mau masuk musola kok di didalamnya ada musuhe. Pasti tidak mau masuk. Ora dikipatno ngipat-ngipat dewe,’’ ucapnya disambut ger-geran jamaah.   ’’Mau naik angkot kok didalam ada musuhe. Pasti ora sido naik,’’ tambahnya.   Makanya yang paling baik adalah memaafkan. ’’Jagoan sejati iku nyepuroan,’’ paparnya.   Agar antar anak tidak ada musuhan, orang tua diminta tidak mbedak-mbedakno iki anak emas. Dan ini anak bukan emas. Tidak boleh membanding-bandingkan kelebihan anak dihadapan anak yang lain. Sebab kalau sudah tali silaturahmi putus, maka tali hubungan dengan Allah juga putus. ’’Kajio bendino kalau hubungan dengan sanak keluarga ora apik, percuma,’’ tegasnya. (Rojiful Mamduh)

28/07/2016

WIRAI

WIRAI   
Saat disowani pengurus GP Ansor Cabang Jombang Senin (18/7/2016), Rois Syuriah PCNU KH Abdul Nashir Fattah sempat cerita soal wirai. ’’Sak iki opo isik ono wong wirai? Wong pancen abot,’’ tuturnya.   Tingkatan wirai yang paling rendah, kata Kiai Nasir, adalah wirai adli. ’’Yakni manut opo ae dawuhe ulama,’’ tuturnya. Orang seperti ini, sekarang sulit dicari. Sebab sekarang ini, orang cenderung memilih ulama yang sesuai selera. ’’Gak cocok karo dawuhe ulama siji, yo ngalih golek dawuhe ulama liyo,’’ ucapnya.   Kiai Nasir cerita, Saat zaman Imam Ahmad bin Hambal. Ada wanita yang bekerja memintal benang. Nah, terkadang, wanita ini memintal dengan memanfaatkan penerangan lampu milik tetanggannya. Karena cahaya lampu si tetangga sampai di halaman rumahnya.   Perempuan ini tanya kepada Imam Ahmad bin Hambal, apakah hal itu boleh? ’’ Imam Ahmad menjawab tidak boleh. Dan perempuan itu taat. Karena memang sangat wirai,’’ kata Kiai Nasir.   Tingkatan wirai yang kedua adalah wirai muttaqi. Orang ini menjaga diri agar benar-benar hanya mengonsumsi yang halal. Kiai Nasir lantas mencontohkan Ibrahim bin Adham. Setelah menunaikan ibadah haji di Makkah dan Madinah, Ibrahim lantas melanjutkan ke Baitul Maqdis yang juga termasuk tempat sucinya umat Islam. ’’Afdolnya kita memang harus ke tiga tempat suci itu,’’ kata Kiai Nasir.   Sebelum berangkat ke Palestina, Ibrahim bin Adham membeli kurma. Ketika kurma ditimbang, ternyata ada satu kurma yang jatuh. Ibrahim menganggap yang jatuh itu sudah miliknya. Dia pun mengambil dan memakannya.   Di Baitul Maqdis, kata Kiai Nasir, ada qubbah yang manusia hanya diperbolehkan ibadah pagi sampai sore. Malam hari, tempat itu dikosongkan karena dipakai ibadah malaikat. Sejak pagi sampai sore, Ibrahim ibadah disitu. Sore hari, petugas obrak-obrak untuk mengosongkan tempat tersebut. Namun para petugas tidak melihat Ibrahim bin Adham.   Sehingga ketika pintu ditutup, Ibrahmim bin Adham masih didalamnya. Tak lama berselang, Ibrahim mendengar percakapan malaikat. Malaikat 1: Apa ini Ibrahim bin Adham yang doanya selalu menembus langit? Malaikat 2: Itu dulu. Sekarang tidak lagi. Malaikat 1: Kenapa? Malaikat 2: Karena dia makan kurma jatuh yang dianggap miliknya. Padahal itu bukan miliknya. Mendengar itu, Ibrahim bin Adham langsung pulang. Dia kembali ke rumahnya di Syria. Untuk menyiapkan bekal kembali ke Madinah. Di Madinah, dia menemui penjual kurma tempat dia dulu membeli.   Penjualnya ternyata telah ganti anaknya. Si penjual yang dulu telah meninggal dunia. Ibrahim lantas menceritakan keinginannya. Dan dia minta agar satu biji kurma itu dihalalkan. Sang anak tersebut bilang, bagianku aku halalkan. Tapi aku masih punya ibu dan saudara. Ibrahim lantas mendatangi ibu dan saudaranya untuk minta dihalalkan. ’’Setelah itu, doa Ibrahim bin Adham kembali menembus langit,’’ kata Kiai Nasir.   Cak Ghufron sempat tanya. "Wirai yang paling tinggi dos pundi Kiai?" "Sing paling tinggi wirai tasdiqi. Kasarane, seumpomo wetenge kemasukan barang sing gak halal, langsung dimuntahno. Ojo kok sing haram. Sing subhat ae gak gelem," jawab Kiai Nasir. (Rojiful Mamduh)